
Bu harni keuar kamar agak tergesa membuat Mirza yang sedang di ruang tengah merasa heran. Bu Harni terus berjalan keluar sambil berbicara di telpon.
“Kamu nggak lagi ngerjain ibu kan, Ri?” Tanya Bu Harni pada Riri yang menelponnya.
Karena penasaran Mirza mengikuti langkah sang ibu mertua. Tak lama mobil pick up yang dikemudikan Toni berhenti di depan rumah Mirza.
“Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin kalo nanti malam acaranya? Tau gitu kan ibu nginepnya bisa nanti.” Ucap Bu Harni agak kesal pada Riri yang berjalan bersama Toni.
“Aku juga baru tau subuh tadi Bu kalo acara syukurannya Bu lurah dimajuin malam nanti, karena Bu Lurah sendiri yang ke rumah pulang dari mushola sehabis shalat subuh.” Jawab Riri.
“Memangnya kamu nggak bisa handle sendiri masaknya? Kan ada tetangga yang biasa bantuin?” Bu Harni heran.
“Kalo ada yang bantuin nggak bakal aku jemput ibu kesini. Si Ijah lagi pergi ke rumah mertuanya, Mbak Marni lagi sakit, Susi malah pergi jalan-jalan sama keluarganya.” Tutur Riri.
“Kenapa sih mereka pada nggak bisa diandelin?” Bu Harni kesal.
“Ya bukan begitu Bu, mereka kan taunya pesanan catering Bu lurah itu minggu depan, makanya mereka udah punya acara sendiri-sendiri.” Terang Riri.
“Ya sudah, tunggu sebentar. Ibu kemas-kemas dulu kalo gitu.” Ujar BU Harni.
“Eeh, tunggu dulu… ini sebenernya ada apa? Ibu mau pulang?” Mirza yang sedari tadi hanya mendengarkan tak kuasa untuk bertanya. “Kamu kesini mau jemput ibu, Ri?” kali ini ia berpindah pada Riri.
“Iya, ibu harus pulang sekarang, Za. Kasihan Riri nggak ada yang bantuin nyiapin catering buat acaranya Bu Lurah nanti malam.” Sahut Bu Harni.
“Kan ada Toni, Bu?” Mirza tersenyum melihat pada Toni yang langsung jadi salting.
“Ah, kamu ini! Sudah ibu bilang mereka nggak boleh berduaan!” Bu Harni negeloyor masuk untuk mengambil tasnya.
“Masuk dulu Ri, Ton.” Ajak Mirza.
“Nggak usah Mas, disini aja.” Toni duduk di kursi teras sedangkan Riri masuk diikuti Mirza.
“Mbak Via mana, Mas?” Tanya Riri.
“Ada di kamar.” Mirza membuka pintu kamarnya, sontak Via melihat ke arahnya. “Ada Riri nyari kamu nih.” Ucap Mirza lantas langsung pergi.
Via bangkit melihat adiknya sudah berdiri di depan kamar. “Ri, sama siapa ke sini?”
“Sama Toni Mbak, mau jemput ibu.”
“Jemput ibu? Ibu udah mau pulang sekarang? Kenapa buru-buru? Padahal baru nginap satu malam?” Via memberondong keheranan.
“Mendadak aku ada pesenan catering dari Bu Lurah, Mbak.”
“Ck, kan kemarin ibu udah bilang sama Toni jangan terima orderan selama ibu nggak ada?” dengus Via sebal.
“Ini juga harusnya minggu depan Mbak, tapi mendadak Bu Lurah majuin acara syukurannya jadi nanti malam.” Terang Riri. “Oya, gimana kondisi Mbak Via? Sehat?” Tanya Riri menggandeng lengan sang kakak menuju sofa ruang tamu. “Calon keponakanku ini sehat-sehat juga kan?” Riri mengusap perut Via, mereka duduk bersebelahan.
“Alhamdulillah kami sehat Kok.”
“Maaf ya Mbak, aku sama ibu nggak sempet jenguk ke rumah sakit kemarin. Sibuk banget mempersiapkan pesanannya si Udin. Pak Haji Barkah ternyata mengundang banyak orang di acara nikahannya Udin.” Ucap Riri dengan nada menyesal .
“Iya, nggak papa. Berarti kamu cair dong dapet banyak untung Pak Haji Barkah order prasmanan sama kamu?”
“Alhamdulillah Mbak, lumayan lah buat nambahin tabungan persiapan nikah.” Sahut Riri dengan senyuman namun lantas menutup mulutnya ketika melihat ibunya datang.
“Vi, ibu pulang dulu ya?”Pamit Bu Harni pada Via. “Ibu udah masakin oseng katesnya buat kamu tuh di meja makan.”
“Makasih ya Bu, harusnya ibu lebih lama lagi nginepnya.” Via meraih punggung tangan Bu Harni dan menciumnya.
“Lain kali ibu nginep lagi.”
“Janji lho?” Via memamerkan kelingking kanannya persis anak kecil yang hendak membuat janji dengan kawan sebayanya.
“Alah kamu ini.” Bu Harni menepuk pelan pipi Via. “Sudah ah ibu pulang sekarang, mana Mirza tadi?" Bu Harni celingukan mencari menantu kesayangannya.
Via menuju dapur menghampiri sang suami yang tengah memasak air panas dengan dua gelas kopi belum diseduh didekatnya.
“Ibu mau pulang tuh.” Ucap Via lantas segera pergi lagi tak mau berlama-lama disana.
Mirza menoleh. Kan? Dia manggil aku nggak pake sebutan Mas atau apa? Kentara banget kalo masih marah sama aku. Mirza membatin.
Rasain! Kamu juga tadi manggil aku nggak ada embel-embel Sayang tau apa kek kayak biasanya. Emang enak digituin? Batin Via juga ngedumel seolah tau isi hati sang suami yang tengah mengekornya menuju teras depan dimana Bu Harni sudah siap hendak lepas landas.
“Hati-hati ya, Bu. kabari aja kalo mau nginep, nanti biar aku yang jemput.” Pesan Mirza setelah mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan takdzim.
Bu Harni mengangguk. “Vi, kamu juga hati-hati ya. jaga kandungan kamu dengan baik. Makan yang banyak, abisin tuh oseng katesnya biar kamu sama calon bayi kamu ini sehat kalo banyak makannya.” Bu Harni mengusap perut Via sebelum pergi.
Via membalas dengan senyuman. Bu Harni pun benar-benar pulang, ia sama sekali tak tahu jika anak dan menantunya itu belum berbaikan.
Via dan Mirza melambaikan tangan bersamaan lantas segera masuk. Via bergegas ke meja makan karena penasaran dengan hasil masakan sang ibu, sedangkan Mirza melanjutkan niatnya membuat kopi. Ia menyimpan satu gelas yang lainnya karena ternyata Toni udah pulang duluan sebelum kopinya jadi.
“Wuah… kayaknya enak bener ini.” Gumam Via dengan binar penuh kebahagiaan melihat sepiring oseng kates teri di depan matanya.
Ia pun lantas mengambil sepiring nasi hangat dan mulai makan dengan lahapnya.
Mirza hanya memperhatikan tanpa kata meski hatinya pingin banget ikut duduk bergabung di meja makan dan nyobain masakan ibu mertuanya itu. namun Mirza memilih membawa gelas kopinya ke ruang tengah dan menonton TV. Via pun cuek saja, asyik dengan menu yang telah diidam-idamkannya selama ini. Ia hampir menghabiskan makanannya, padahal hari belum terlalu siang dan Via juga sudah sarapan sepiring nasi goreng seafood buatan sang ibu pagi tadi. Yah, namanya juga bumil yakan? Maklumin aja kalo nafsu makannya berlipat-lipat… 😂😂(othornya aja yang bukan bumil kalo makan oseng kates /pepaya muda suka khilaf lupa kiri kanan)😁🤭🤭
Selesai makan Via masih ngemil pancake yang juga buatan sang ibu. Ia sengaja membawanya masuk ke kamar beberapa sebagai bekal cemilan agar tak perlu keluar masuk kamar karena dia masih dalam rangka kucing-kucingan sama Mirza.
Ting tung ting tung
Terdengar bunyi bel pintu ketika Via baru saja masuk kamar. Mirza yang tengah nikmat menyesap kopinya cuek saja mengira Via yang akan membukanya karena jarak kamar ke pintu tamu lebih dekat daripada ruang tengah. Sedangkan Via pun sama, ia berpikir Mirza yang akan membuka pintu karena dia udah kadung masuk kamar.
Ting tung ting tung
Suara bel berbunyi lagi.
Masih tak ada yang beranjak untuk membuka pintu.
Ting tung ting tung
Ting tung ting ting
Bunyi bel terdengar lebih memaksa, Via berdecak kesal di kamar. "ish, kenapa sih cuman bukain pintu doang males banget tuh orang?"
Mirza juga demikian, dia ngedumel sebal. “Ya ampun! Nggak tau orang uudah pewe, nggak mau banget nongol bentar buat bukain pintu!"
Keduanya terlihat sama-sama beranjak ke ruang tamu dengan raut kesal, namun ketika pandangan mereka bertemu, mereka sama-sama mengurungkan niat dan akan kembali ke tempat semula.
Ting tung ting tung ting tung ting tung tuuuung….
Bel yang menjerit bertubi-tubi tak ayal membuat keduanya kembali menuju ruang tamu secara bersamaan dan membuka handle pintu dengan tangan saling bersentuhan.
Ceklek
Pintu terbuka dan mereka spontan melepaskan tangan.
“Vi…, Za …. Maafin ya aku gangguin kalian.” Wajah panik Yanti muncul di depan pintu dengan Gio dalam gendongan dan menyandang tas Gio di bahu kanannya.
“Yanti, ada apa?” Tanya mereka hampir bersamaan dengan keheraan.
“Aku boleh nitip Gio ya? barusan aku dapat kabar pengasuhnya Gio kecelakaan waktu pulang dari pasar, sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Aku nggak mungkin bawa Gio ikut bersamaku. Bisa kan aku nitip dia sama kalian?” Tutur Yanti penuh permohonan.
“Bisa bisa.” Sahut Via tanpa pikir dua kali.
“Iya, kami bakal jagain Gio, jangan khawatir.” Timpal MIrza menyetujui.
“Gio sayang sini ikut Tante Via.” Via mengulurkan tangan hendak meraih Gio.
“Eeh jangan, biar aku aja yang gendong. Kamu kan nggak boleh angkat yang berat-berat dulu.” Sergah Mirza lantas segera mengambil Gio, bocah laki-laki lucu yang memang sudah sangat akrab dengan Mirza itu langsung mau tanpa penolakan.
Huh, sok perhatian! Tadi aja nyuekin aku habis-habisan! Batin Via kesal.
“Gio anak pinter, sama Om Mirza yang ganteng dulu ya. sekarang kita main di dalam yuk.” Mirza langsung mengajak Gio ke ruang tengah diikuti Via dan Yanti.
“Oya, ini perlengkapan Gio Vi.” Yanti meletakkan tas Gio yang berisi susu formula, popok dan baju ganti Gio. “Mudah-mudahan aku nggak lama ya, disana udah ada Mas Firman kok.”
“Ya udah cepetan pergi, soal Gio nggak usah khawatir.” Ucap Via.
__ADS_1
“Iya, kami pasti menjaganya dengan baik.” Sambung Mirza.
“Makasih ya Za, Vi. Aku pergi dulu kalo gitu. Bye Gio, jangan nakal ya Nak.” Yanti mencium kedua pipi tembem Gio lantas segera pergi.
Tak lama sepeninggal Yanti, Gio yang semuala asyik bermain dengan Mirza di atas karpet tiba-tiba rewel dan merengek.
“Kenapa Gio? Mau minta gendong ya?” Tanya Mirza langsung mengangkat Gio ke dalam gendongannya. Namun Gio masih terus merengek.
“Tututu….. huuu… tututu….” Rengek Gio mulai menangis.
“Apa sayang? Gio mau apa Nak?” Via yang semula hanya memperhatikan jadi ikut merasa khawatir karena Gio terus rewel.
“Tutututu….. tutu….” Bocah kecil yang baru bisa belajar bicara itu terus mengucapkan kata-kata yang tak dapat dimengerti oleh Via dan Mirza.
“Gio mau mainan ya? Coba kita lihat di tas Gio ada mainan nggak ya?” Mirza memegang Gio dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengobrak-abrik tas Gio.
“Sini biar aku yang cariin.” Via ikut mencari namun nihil. Rupanya Yanti lupa membawakan mainan Gio. Karena biasanya bocah sekecil Gio pasti punya mainan kesayangan yang selalu dibawa kemana saja.
“Oh, atau popoknya dia penuh ya?” Ucap Mirza yag masih berusaha menenangkan Gio.
“Coba kita periksa Mas.” Usul Via.
Mirza segera membaringkan Gio di atas karpet depan TV dan melihat isi diaper Gio. “Nggak kok, popoknya masih kering, Sayang.” Ucap Mirza lantas kembali merapikan popok Gio.
“Terus kenapa dong? Apa jangan-janagn Gio ngantuk ya Mas?” Via melihat jam dinding, demikian juga Mirza yang reflek mengikuti pandangan Via.
Hampir pukul 11 siang. “Mungkin ini waktunya Gio tidur siang Mas.”
“Iya, mungkin juga, Sayang. Gio ngantuk ya?” Tanya Mirza pada Gio yang mengusap-ngusap mukanya sendiri dengan tangan mungilnya.
“Biar aku buatkan susunya.” Via meraih botol susu Gio.
“Biar Mas aja, Sayang.” Sergah Mirza seraya mengambil botol dan kaleng susu formula dari tangan Via lantas segera ke belakang membuatkan susu formula untuk Gio.
“Gio sayang, tunggu sebentar ya…? kamu ngantuk ya Nak..? cup.. cup …” Via coba menghibur Gio namun Gio malah kembali merengek.
“Eeehek…eheek… tutu…. Tututu….” Rengekan Gio semakin menjadi, serta merta Via megangkat Gio ke dalam kendongannya. “Huhuuuuu… huuu… tututu….”
“Iya iya sayang, bentar ya….” Via menepuk-nepuk punggung Gio lembut. “Tutu ya? Tutu susu ya maksud Gio?” Via tetiba seolah bisa menerjemahkan bahasa Gio. Sebentar ya, Om Mirza lagi bikin tutunya.” Via membawa Gio ke kamarnya dan meletakkan Gio di atas kasur.
“Sayang! Kok kamu bawa Gio kesini sih?” Mirza muncul dengan wajah kaget. “Kan tadi Mas udah bilang kamu jangan angkat yang berat-berat?”
“Habisnya Gio nangis Mas.”
“Tututu….” Gio menunjuk botol susu yang dibawa Mirza.
“Iya sayang, tutu ya? Mas sini botol susunya.” Via mengambil botol susu sudah terisi penuh itu dari tangan Mirza dan memberikannya pada Gio yang langsung menyambutnya dengan suka cita.
Gio terlihat sangat menikmatai susunya, rupanya memang benar dia haus. Via tersenyum berbaring di sebelah kiri Gio memiringkan posisinya sambil mengusap-usap kepala Gio lembut. Mirza lega melihat Gio sudah tenang, ia pun mengambil posisi yang sama seperti Via di sebelah kanan Gio. Untuk sesaat pandangannya tertuju pada batita lucu yang tampak sudah mulai mengantuk itu, kemudian tatapannya beralih pada sang istri yang masih mengusap-usap kepala Gio penuh kasih
SREET
Via tiba-tiba memergoki suaminya tengah memandanginya. Mereka saling bersitatap untuk sesaat, namun kemudian Via mengalihkan pandangannya kembali pada wajah Gio yang kini nampak sudah tertidur, botol susunya pun sudah kosong dan Via meletakkannya di atas dekat bantal.
“Gio udah tidur Sayang. Rupanya dia tadi benar-benar mengantuk.” Lirih Mirza.
“He em.” Via mengangguk. Dalam hatinya ada getar-getar kecil mencubit-cubit hatinya lembut ketika Mirza kembali memanggilnya dengan sebutan Sayang. Nampaknya dia tak sadar sudah sejak tadi ia dan Mirza saling menyebut dengan panggilan Mas dan Sayang.
“Sayang …” Tangan kanan Mirza menjangkau kepala Via, mengusapnya lembut dengan pandangan redup.
Via masih tak berani menatap suaminya, ia terus pura-pura sibuk dengan Gio. Perlahan Mirza bangkit dan beralih mendekap Via dari belakang.
Dugdug dugdug…
Jantung Via terasa bertalu lebih kencang kala tubuh kekar suaminya mendekapnya hangat. “Sayang maafin Mas ya ….” Bisik Mirza dengan bibir menempel di telinga kiri Via membuat darah Via berdesir manja. Tak dapat dipungkiri, Via memang merindukan saat-saa seperti ini bersama suaminya, padahal baru satu malam mereka tak saling menyentuh. Diantara rasa gengsi dan ego yang kembali muncul, Via merasakan kebahagiaan dengan perlakuan lembut suaminya.
“Sayang, kamu mau kan maafin Mas?” Mirza menarik lembut bahu Via untuk mengahadapnya. Mereka kembali saling tatap. “Kenapa diam aja? Kamu masih marah sama Mas, hm?”
Via diam bukan berarti masih marah, ia hanya merasa terlalau bahagia karena suaminya akhirnya mau juga mengajaknya bicara. Via berpikir Mirza juga pasti menekan ego dan gengsinya mati-matian untuk memulai menegur duluan.
Sebenarnya semalaman keduanya terus kepikiran tentang pertengakaran diantara mereka . Via dan Mirza coba berpikir dari sisi yang berbeda, bagaimana jika Via berada di posisi Mirza dan begitu juga sebaliknya. Mereka berusaha mengintrospeksi diri karena mereka juga sesungguhnya tak ingin membiarkan masalah itu berlarut-larut. Esoknya meski mereka saling ngedumel dalam hati kembali menyalahkan satu sama lain namun keduanya sama-sama saling menunggu waktu yang pas untuk memulai obrolan, dan siang ini tiba-tiba Tuhan mengirimkan Gio ke rumah sehingga berhasil menghapus suasana canggung diantara mereka.
“Nggak, justru aku yang egois Mas. Aku mengabaikan kesehatan calon anak kita.” Via menundukkan pandangan.
Via menyiapkan lengannya untuk bantalan kepala Via. Via pun kini berhadapan sangat dekat denga suaminya. “Mas janji, setelah anak kita lahir nanti kamu boleh kembali bekerja, Sayang. Mas nggak akan menghalangi lagi kamu untuk berkarir, kamu mau kerja apa saja boleh. Bahkan Mas akan membantumu jika kamu kesulitan mencari pekerjaan nanti.”
Hati Via menghangat seketika, sedari dulu ia tahu laki-laki yang kini menjadi saminya adalah laki-laki yang sangat baik, sabar, tulus dan penyayang. Via sungguh merasa sangat berdosa karena telah berani membantahnya. Tanpa permisi butiran bening merembes dari kedua sudut matanya.
“Sayang, jangan menangis lagi. Maafkan Mas yang sudah menyakitimu.” Ucap Mirza penuh penyesaln seraya mengusap pipi basah istrinya.
Via menggelang kemudian membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya. “Aku yang salah Mas, aku yang salah.” Isak Via. “ Sebagai istri aku jauh dari kata shalihah, aku berdosa padamu. Maafin aku ya Mas.” Via makin sesenggukan, bahunya sampai berguncang-guncang menahan tangis.
“Ssssuuut…., jangan nangis lagi ya. nanti Gio bangun.” Perlahan Mirza melerai pelukan istrinya. “Kita sama-sama memperbaiki diri ya. ke depanya kita harus lebih saling terbuka satu sama lain.
Via mengangguk, ia mendapati tatapan pancaran penuh kasih dari kedua netra sang suami, Via tak kuasa dengan semua itu. Hatinya teramat mega dan bersyukur, ia lantas kembali menubruk dada kekar suaminya. Gio sampai menggeliat kaget karena gerakan Via yang tiba-tiba.
“Sayang, Gio nanti bangun.” Mirza kembali berbisik. “Lepasin dulu ya.”
“Nggak mau, aku mau melukin Mas terus.” Via menggeleng masih tak mau melepaskan pelukan.
“Kita geseran yuk, Pelukannya agak ke pinggir aja biar Gio nggak kesempitan.” Bujuk Mirza.
Akhirnya Via mau juga. Ia bangkit perlahan seraya meraih botol susu Gio meletakkannya di atas nakas. “Gio lahap sekali ya minum susunya Mas? Rupanya dari tadi dia merengek tutututu itu minta susu lho Mas.” Ucap Via duduk di tepi ranjang.
“Oya? Kok kamu tau Sayang?”
“Buktinya begitu dikasih susu dia langsung diem dan tertidur pulas.”
“Iya, kamu pinter Sayang.” Puji Mirza. “Mas juga mau minta susu, kalo dikasih pasti Mas juga langsung lahap.” Lanjut Mirza dengan senyum menggoda.
“Ih, maksud Mas apa?” Via melotot.
Mirza merangsek mepetin Via. “Mas mau, boleh?”
“M-mau apa?” Via tiba-tiba tergagap dan menunduk malu.
“Mau susu dan lain-lainnya.” Mirza mengangkat dagu Via lembut. “Sayang mau kan?”
Via spontan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Mas ini kan masih siang.” Ucapnya tertahan.
Mirza membuka tangan Via. “Kalo gitu nanti malam boleh?”
“Hmm, liat nanti.” Via tiba-tiba salting. Bagaimanapun juga meski mereka sudah sangat sering melakuannya namun kesan canggung setelah petengkaran sengit tetep saja terasa buat Via sebagai seorang istri. Bebeda dengan Mirza, laki-laki cenderug mudah lupa.
“Atau kalo kamu mau latihan bisa kita coba sekarang Sayang.”
“Latihan apa Mas?” Heran Via.
“Latihan kalo kita udah punya baby terus kebelet pengen nganu. Kita harus pintar-pintar menggunakan kesempatan saat baby kita tidur, Sayang.” Terang Mirza blak-blakan.
“Ish, Mas nih sempet-sempetnya mikir ke arah sana.” Via gemes dengan pikiran suaminya.
Mirza menarik lembut pinggang Via, tanpa bertanya lagi ia meraih tengkuk sang istri agar tak ada penolakan. Via yang sebenarnya juga ingin namun malu mengakui, nampak tak lagi menghindar. Dia malah memejamkan matanya dan mulai menikmati bibir Mirza yang mendarat mulus dibibirnya, untuk beberapa saat mereka saling berpagut, kemudian Via mendorong perlahan suaminya dengan nafas sedikit terengah.
“Mas, janga disini, takut Gio kebangun nanti.”
“Oke, kita lanjutkan di kamar sebelah ya.” Tanpa menunggu jawaban Via, Mirza langsung menggendong tubuh Via ala bridal style. Dengan langkah hati-hati tak menimbulkan bunyi, mereka menuju kamar sebelah.
NGEKNGOK
Sensor aja ya, silakan berfantasi sendiri. Hihihi….
😁😁😁
❤️❤️❤️❤️❤️
Suasana sore yang mendung persis suasana hati Danar saat ini. Sejak kejadian dengan Grace di katornya, Danar merasa tak nayaman pada dirinya sendiri. Ada rasa bersalah pada Grace tapi juga marah. Ia yang memang terkesan cool di kantor jadi semakin terlihat angker akhir-akhir ini di depan semua karyawannya. Sampai-sampai Milen dan Vony mengira perubahan drastis si Bos karena pengunduran diri Via yang baru mereka tau beberapa hari yang lalu. Danar yang mendengar selentingan itu memilih tak peduli.
Hari ini dia pulang lebih awal, dia ingin bermalam di kedai kopinya. Namun sebelum kesana Danar mampir dulu ke rumah untuk mengambil baju ganti. Motor Danar yang baru memasuki halaman rumahnya mendadak berhenti karena melihat sebuah mobil terparkir di sana. Ia tau itu mobil siapa. Danar baru saja akan putar balik ketika suara Pak Hadi memanggilnya.
“Danar! Kamu sudah pulang?” Seru Pak Hadi yang baru keluar rumah bersama seorang perempuan muda.
__ADS_1
Grace? Ada apa dia kemari? Dia pasti punya tujuan tertetu menemuai papa. Batin Danar menatap dingin Gace.
Grace terlihat salah tingkah, ia tak mengira Danar akan pulang kerja lebih awal, pasalnya ini masih jam 3 sore.
“Cepat masuk, Grace sudah menunggumu dari tadi.” Ucap pak hadi yang sontak membuat wajah Grace memerah karena malu. Terang saja malu, dia kan tadi sudah pamit hendak pulang, kenapa tiba-tiba Pak Hadi bilang begitu?
Mau tak mau Danar pun memarkir motornya, dengan terpaksa dia masuk.
“Gantilah pakaianmu dulu.” Titah Pak Hadi.
Alih-alih menurut, Danar malah langsung duduk di sofa ruang tamu dengan menekuk wajahnya. Pak Hadi segera sadar diri.
“Grace, Om tinggal ke belakang ya, mau ngelanjutin nyiangin rumput di kebon.” Ujar Pak Hadi minta diri.
“Eh, i-iya Om. Silakan.” Sahut Grace terbata.
Danar mendengus kasar. “Jadi ada kepentingan apa kamu datang kesini?” Tanya Danar tanpa basa basi.
Grace berusaha menata perasaannya. Ia mengesampingkan rasa malunya. "Aku mau minta maaf soal kemarin.” Gumam Grace.
“Sebenarnya kamu tipe wanita seperti apa? Aku seperti tak lagi mengenalmu. Kamu gemar sekali membuat kesalahn lalu meminta maaf dengan mudahnya, seolah yang kamu perbuat itu hal yang sepele.”
JLEB NGOEK!
Untuk kesekian kalinya hati Grace bak tertusuk sebilah bambu runcing, pedih namun tak kunjung mati-mati juga.
“Danar, aku sama sekali tak bermaksud kurang ajar. Aku hanya ….”
“Cukup!” Sergah Danar dengan tatapan menyeramkan. “JIka aku memaafkanmu apa kamu akan berhenti mengahrapkanku kembali padamu?”
Sontak Grace menggeleng dengan wajah sayu. “Nggak, Danar. Aku nggak akan berhenti sampai bisa mendapatkanmu kembali.”
“Kasihan banget kamu ya.” Danar tersenyum sinis. “Jauh-jauh pulang ke Indonesia hanya untuk mengejarku, kayak di luar negri nggak ada laki-laki lain yang lebih kaya dari aku aja.”
“Danar, kenapa kamu bilang begitu? Aku meninggalkanmu dulu bukan karena laki-laki lain.” Grace terlihat shock, ia tak menyangka Danar akan berkata seperti itu. “Aku bersumpah, aku nggak pernah mengkhianatimu.”
“Simpan saja sumpahmu, aku nggak butuh!”
“Tapi kamu harus tau, aku nggak pernah mengkhianatimu!” Tegas Grace.
“Aku nggak peduli! Itu semua sudah tak penting lagi buatku!” Danar mulai emosi.
Kedua netra Grace memanas, sekuat tenaga ia menahan agar buliran bening tak tumpah membasahi pipinya. “Aku sudah menceritakan semuanya pada papamu alasan mengapa aku dulu menolak lamaranmu dan pergi meninggalkanmu ke luar negri.”
“Apa kamu pikir aku juga mau tau? Nggak, sama sekali nggak!” Sanggah Danar seraya bangkit.
“Danar tunggu!” Grace menahan lengan Danar. “Aku menolak lamaranmu karena papaku nggak setuju. Dia nggak merestui hubungan kita, aku nggak mungkin mengabaikan papaku karena kita menikah pasti perlu restu darinya.”
“Lepaskan, Grace.” Danar melihat tangan Grace yang memegangi lengannya dengan kuat.
“Nggak, aku nggak akan melepasnya sebelum kamu mengetahui kebenarannya.”
“Aku sudah tau!” Sahut Danar dengan senyum getir.
“Kamu sudah tau?” Grace menatap tak yakin.
“Sehari setelah penolakan itu, aku kembali ke rumahmu dan mendengar semua perkataan papamu tentangku.”
Grace menggeleng samar, ia rasa hal itu ak mungkin, mengapa ia sampai tak tau Danar kembali ke rumahnya keesokan harinya.
“Mulanya aku ingin memastikan apa benar kamu menolak lamaranku padahal kita sudah sangat lama bersama. Kita bahkan menghabiskan waktu kanak-kanak dan masa sekolah kita bersama. Aku sungguh merasa gila kau menolakkau padahal sudah tau aku akan melamarmu.” Ingatan Danar melayang ke bebrapa tahun silam.
“Tapi papaku menolak keras ketika aku menceritakan niatmu sebelum kamu datang ke rumah melamarku.” Grace membela diri.
“Tentu papamu menolak, karena dia hanya menganggapku tak lebih dari anak pungut dari adiknya.” Sinis Danar. “Baginya aku tak lebih dari seorang anak preman yang akan menghalanginya mendapatkan semua harta kekayaan ibu kan? Papamu tak terima ketika mengetahui aku akan mendapatkan 50 % harta kekayaan ibu dan ayah jika mereka telah tiada, sedangkan dia hanya akan mendapatkan sisanya setelah 30%nya disumbangkan untuk amal. Lucu sekali, belum juga ayah dan ibu meninggal, tapi papamu sudah ribut sola warisan duluan.” Danar malah terkekeh, seolah ia baru saja mendengar hal yang lucu.
Grace terperangah, ia tak menyangka Danar sudah mengetahui semuanya.
“Pada akhirnya malah papamu yang meninggal duluan, kasihan sekali ya.” Pungkas Danar, ia melepaskan tangannya karena pegangan Grace sudah mengendor. “Padahal kalau dia mau bersabar, dengan kamu menikah denganku otomatis dia pun akan mendapatkan harta bagian dari ibu lebih banyak melalui kamu. Iya kan?”
Grace terdiam, ia tak menyangkal jika papapnya memang orang yang sangat ambisius, segala keinginannya pantang untuk ditolak.
“Lalu sekarang, setelah papamu tak ada. Kau kembali padaku. Kalau harta yang jadi tujuanmu, ambil saja semuanya, aku tak membutuhkannya!”
“Nggak, bukan karena itu Danar. Aku benar-benar masih mencintaimu.”
“Cih! Simpan bualanmu itu! aku tak mau mendengarnya!”
“Tapi Papamu dan Tante Elin mendukung agar kita kembali berasama.” Grace menatap penuh permohonan.
“Kalau aku tetap menolak, kamu mau apa?” Tantang Danar.
“Aku akan tetap megejarmu.”
“Terserah! Lama-lama juga pasti kamu akan lelah dan kamu akan merasakan begitulah rasanya dicampakkan ketika kita sudah menaruh harapan besar pada seseoarang!”
“Jadi kamu emlaku6akn ini untuk membalasku?”
“Mungkin! Tapi kamu janagn GR duluan, perasaanku padamu sudah hilang sepenuhnya.”
“Apa karena Via?”
Deg!
Lagi-lagi Grace mengungkit soal Via. Grace paham betul dengan perubahan raut wajah mantan kekasihnya itu ketika disinggung soal Via.
“Jangan bawa-bawa orang lain! Semuanya sudah berubah karena kesalahanmu sendiri.” Ketus Danar.
“Jangan mengelak lagi Danar. Sampai kapan kamu akan menuruti akalmu yang sudah tak waras itu, Via sudah bersuami dan tak kan mungkin meninggalkannya. Harusnya kau tau itu!”
“Cukup! Jika kamu datang kesini hanya untuk membahas Via, kamu boleh pergi dari sini! Pergi…!” Usir Danar tapi tak berani melihat wajah Grace, mungkin ia takut kembali menyakiti hati Grace.
“Aku kesini bukan untuk itu, tapi untuk meyakinkanmu kalau aku sungguh-sungguh menyesali kesalahnku dan ingin kembali padamu.” Tegas Grace pebuh kesungguhan, ia raih tangan Danar. Namun Danar segera menepisnya.
“Kamu datang pada saat yang tak tepat.”
“Kalau begitu aku akan menunggu sampai waktu yang tepat.”
“Nggak akan, karena semuanya sudah terlambat.” Putus Danar lantas berlalu begitu saja tak menghiraukan Grace yang terus memanggilnya.
“Danar…, Danar…!” Grace mengejar sampai ke pintu kamar Danar yang sudah tertutup rapat. “Danar, tunggu dulu. Kamu harus mendengarkan aku. Danar ….” Grace terus memanggil manggil penuh permohonan.
Pak Hadi yang mendengar suara Grace dari halaman belakang segera menghampiri. Ia melihat Grace sudah duduk bersimpuh di depan pintu kamar Danar. Dengan segera Pak Hadi meraih gawainya.
“Herlina, cepat suruh keponakanmu pergi dari rumahku.” Ucap Pak Hadi dengan penuh penekanan.
Bu Elin tertegun di ujung telepon. “Apa Grace ke rumahmu, Mas?” Tanyanya kemudian.
“Dia bahkan sedang mengemis belas kasih anakku. Cepatlah, aku tak mau lagi berurusan dengan keluargamu, tak pantas rasanya jika orang terhormat seperti Grace mengemis cinta pada anak dari seorang preman jalanan.” Nada suara Pak Hadi terdengar satir.
“Ah, Mas … kamu terlalu berlebihan. Grace tak seperti papanya. Dia bersungguh-sungguh ….”
“Aku atau kamu yang akan menyuruhnya pergi??” Tantang Pak Hadi dengan nada penuh penekanan. “Jika kau mau aku yang melakukannya, aku jamin dia akan terluka seumur hidupnya, karena preman sepertiku tak tau aturan jika sudah marah.”
“Baiklah Mas. Aku akan menelpon Grace sekarang.” Putus Bu Elin, ia sungguh memahami perasaan Pak Hadi yang dul kerap dicaci maki oleh Papanya Grace.
Matahari semakin bergeser ke barat. Danar baru keluar kamar ketika mendengar suara mesin mobil pergi meninggalkan halaman rumahnya. Ia kini bisa berbapas sedikit lega. Sejenak ia berpikir akan apa yang akan dia lakuakn untuk pergi menghindari Grace selamanya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Eaaa….. segitu dulu ya sayangku semuanya….
Fegel fegel nih tangan jari dan pundak, yang penting Mirza dan Via sekarang udah baikan kan?
Yuk ah jempol nya mana…..?
Komennya jangan lupa….
Vote boleh… heheh….
Jaga kesehatan semuanya ya… I love you all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1