
Makan malam berlangsung dengan suasana canggung yang kentara. Via hanya menjawab seperlunya saja ketika Bu Harni menanyakan sesuatu, demikian juga Mirza. Dua orang yang baru saja bersitegang itu agaknya belum ada yang mau mengalah untuk memulai itikad baik lebih dulu menyudahi kesalahpahaman diantara mereka. Selesai makan Via segera menuju kamar sedangkan Mirza pergi ke luar rumah dengan motornya. Via tak ingin ambil pusing suaminya itu mau kemana, ia masih sangat kesal.
Sama-sama keras kepala! Batin Bu Harni yang melihat tingkah anak dan menantunya itu saling menjaga jarak.
Selepas shalat isya Bu Harni membuatkan segelas susu untuk Via. Ia tak bisa hanya berdiam diri saja melihat keduanya terus perang dingin seperti itu, apalagi Bu Harni merasa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mirza cemburu pada Danar. Ia mengingat-ingat segala hal kebaikan yang pernah anak dari mantan kekasihnya itu lakukan pada Via. Satu pun tak terlewat, Danar memang anak muda yang baik. Sangat baik! Tidak hanya baik pada Via tapi juga pada Riri, itulah yang menyebabkan dirinya sempat sangat ingin menjadikan Danar menantu karena saking baiknya pada Riri. Tapi jika begini ceritanya, Bu Harni tak bisa menampik sepercik kecurigaan yang tiba-tiba muncul dalam hati kecilnya.
Apa mungkin perempuan yang dicintai Danar selama ini itu Via? Ah, tapi nggak mungkin! Mereka kan hanya sebatas hubungan kerja? Tapi kenapa Riri juga tak mau bilang siapa perempuan yang dicintai Danar yang menyebabkan Danar menolak pertunangannya dengan Riri? Dan sepertinya Via tak menyadari persaan Danar padanya. Wajar saja Mirza cemburu karena Danar terlalu perhatian pada Via. Batin Bu Harni terus menerka-nerka akan sebuah fakta yang sangat ingin ia ketahui.
Lamunan Bu Harni terhenti ketika melihat Mirza datang, sepertinya dia habis membeli sesuatu karena pergi hanya sebentar. Mirza melewati begitu saja ibu mertuanya tanpa kata. Ia menuju teras belakang rumah. Bu harni pun tak ingin menggangu menantunya, ia segera menuju kamar Via.
To tok tok
Ceklek
Bu Harni membuka pintu kamar Via setelah terlebih dulu mengetuknya. Nampak Via sedikit kaget, ia tengah asyik dengan gawainya sambil rebahan di atas kasurnya.
“Udah shalat isya, Vi?” Bu Harni berbasa-basi.
“Belum.” Sahutnya tanpa melihat pada Bu Harni.
“Ibu bikinkan susu hamil, diminum ya?” Bu Harni meletakkan gelas susu di atas nakas.
“Maksaih ya Bu.” Ucap Via lagi-lagi tanpa beralih dari layar benda pipih dalam genggamannya.
Bu Harni duduk di tepi ranjang. “Vi, ada yang ingin ibu tanyakan.” Ujarnya berhati-hati.
“Soal apa Bu?” Mau tak mau Via menyisihkan gawainya demi melihat raut keseriusan pada wajah sang ibu.
“Apa benar kamu tidak mempunyai hubungan khusus dengan Danar selama ini?”
Sontak Via terperanjat, ia bangkit duduk mengahadap ibunya. “Ibu juga menuduhku dan mencurigaiku sama seperti Mas Mirza?” Tanya Via dengan nada penuh penekanan.
“Ibu cuman nanya, Vi. Kamu nggak usah marah begitu dong.” Bu Harni menenangkan.
“Aku nggak marah, tapi pertanyaan ibu itu seolah menyangkaku yang bukan-bukan.” Via melengos membuang pandangan.
Bu Harni meraih kedua pundak Via untuk menghadapnya. “Dengarkan Ibu, Vi. Kamu bisa saja merasa tak punya perasaan apapun dengan Danar, tapi Danar?”
“Ck! ibu sama saja dengan Mas Mirza, tidak menuduhku tapi menuduh Danar.” Potong Via.
“Dengarkan dulu, ibu belum selesai bicara.” Bu Harni agak kesal. “Ibu dengar semua pertengkaran kalian sore tadi, menurut ibu apa yang dikatakan suamimu itu benar semua. Sedikitpun tak ada yang salah, bahkan jika pun dia terlalu egois seperti yang kamu katakan, itu pun benar. Dia cemburu juga benar. Karena Mirza itu suamimu, dan seorang suami tak kan pernah rela jika istrinya diperhatikan berlebihan oleh pria lain. Dia melakuakn semuanya demi kebaikan kamu dan calon anak kalian, calon cucu ibu.” Tutur Bu Harni panjang lebar seraya mengusap perut Via.
Via terdiam. Ia memang tak menampik jika suaminya adalah suami yang paling baik, pengetian dan penyanyang terlepas dari sebuah kesalahan fatal yang pernah ia lakukan di masa yang telah lalu. Namun hatinya juga masih tak terima dengan sikap dan pikiran suaminya yang menurutnya terlalu berlebihan itu.
“Satu lagi, Vi.” Ucap Bu Harni kemudian. “Jangan pernah mengungkit kesalahan suamimu di masa lalu.” Tegas Bu Harni seperti bisa membaca isi kepala Via saat ini. “Dia sudah meminta maaf dan sudah memperbaiki semuanya.”
Via mendesah kasar. “Ibu terlalu membela Mas Mirza.” Kalimat itu meluncur begitu saja.
“Apa ibu tak membelamu habis-habisan ketika Mirza dulu menyakitimu?” Sahut Bu Harni dengan intosnasi yang meninggi karena kesal anaknya seolah tak mau dinasehati. “Ibu selalu berpihak pada siapa yang benar, dan kali ini memang suamimu yang benar!” Tegas Bu Harni.
Via baru saja mau buka mulut ingin meneyla namun Bu Harni lebih dulu menyuruhnya diam. “Jangan membantah lagi! ibu tak mau melihat kamu dan Mirza bertengkar, kalian harus segera baikan!” Bu Harni mengultimatum. “Sekarang minum susunya dan setelah itu shalat isya, kemudian temui suamimu ajak dia bicara dari hati ke hati.” Titah Bu Hari kemudian keluar kamar meninggalkan Via yang beringsut meraih gelas susunya.
Di teras belakang Mirza duduk sendirian, pandangannya menatap langit malam yang tak berbintang. Perlahan ia hembuskan kepulan asap putih ke udara. Ya, Mirza sedang merokok. Hal yang tak pernah dilakukannya kecuali sedang dalam mood yang sangat tidak bagus. Sebatang rokok putih diantara bibirnya menyisakan puntung kecil.
PLUK
Ia melemparkan begitu saja puntung kecil ke bawah pohon kates. Diliriknya jam pada layar ponselnya. Pukul 07.40 malam. Masih terlalu sore untuk naik ke peraduan meski udara cukup dingin malam ini. Diraihnya kotak rokoknya, Mirza mengambil sebatang lagi. Pandangannya masih sama, menerawang pada langin malam yang sunyi, sesunyi dan sesepi suasana hatinya saat ini. Aih, Mas Mirza lagi galau!
Tap tap tap ….
Langkah pelan nyaris tanpa suara mendekat ke pintu belakang yang terbuka. Via melongok keluar, sang suami tengah menghisap dalam rokok putihnya. Saking khusyuknya Mirza tak menyadari kemunculan istrinya yang tengah memperhatikan dari dekat pintu. Kepulan asap panjang tecipta, lebih banyak dan terus mengepul ke udara seolah membawa semua resah sang penikmat nikotinnya malam ini.
Via benci rokok, dan suaminya tau hal itu. Namun dirinya juga tau jika sang suami sudah menjamah benda bernikotin itu tandanya dia sedang merasa kacau. Terakhir kali Via ingat Mirza merokok saat suaminya itu tengah terlibat masalah pelik dengan Sofi. Ya perempuan cantik yang sukses mengoyak-ngoyak kepercaan hatinya pada sang suami.
Kayaknya Mas Mirza juga nggak mau ngomong sama aku. Dia pilih ngerokok disini dari pada menyelesaikan kesalahpahaman. Ya sudah lah, aku juga males kalo gitu! Via memutar langkah dengan batin ngedumel egois. Ia kembali ke kamar dan merebahkan diri saraya menarik selimutnya menghadap dinding.
Mirza melangkah menuju dapur hendak membuat kopi. Merokok tanpa ditemani segelas kopi memang kurang klop. Baru saja Mirza hendak meraih gelas, Bu Harni keluar kamar.
“Za? Mau ngapain?” Tegur Bu Harni.
“Mau buat kopi, Bu.”
“Biar ibu yang buatkan.” Bu Harni mengambil gelas mendahului.
Mirza diam saja memperhatikan ibu mertuanya, ia duduk menunggu kopinya selesai.
“Makasih, Bu.” Ucap Mirza begitu Bu Harni menyodorkan kopi hitam favoritnya.
“Za, ibu minta kamu memaafkan Via ya.” Ucap Bu Harni yang melihat Mirza akan beranjak.
Mirza mengulas senyum tipis. “Aku sudah memaafkannya kok, Bu.”
Bu Harni mengangguk, namun ia masih memiliki ganjalan dalam hatinya jika belum melihat mereka berbaikan. “Ibu tadi udah bicara sama Via, ibu ingin kalian segera baikan.”
__ADS_1
“Ibu tenang saja, kami bukan anak kecil lagi.”
“Justru anak kecil itu lebih bagus sikapnya jika mereka selesai bertengkar.” Sanggah Bu Harni.
Mirza mengernyit.
“Anak kecil itu rata-rata akan cepat berbaikan dan melupakan kekesalanya jika mereka habis bertengkar dengan temannya. Mereka langsung bisa main bareng lagi. Beda dengan orang dewasa, kadang terlalu pake hati dan kebanyakan mikir.” Tutur Bu Harni menjelaskan.
Mirza menghela nafas, ia sangat mengerti maksud ibu mertuanya. “Nanti aku temui Via, Bu. makasih kopinya ya.” Mirza melangkah kembali menuju halaman belakang.
Bu Harni masuk ke kamarnya dengan perasaan lega, ia pikir Via dan Mirza pasti akan berbaikan malam ini.
Di halaman belakang Mirza kembali mengeluarkan sebatang rokok putihnya. Kepulan asap kembali mengepul ke udara, kali ini ia mencipta bulatan-bulatan menyerupai gelang kecil yang keluar dari mulutnya. Kumpulan asap itu kemudian buyar ambyar tertiup angin semilir. Mirza menyesap beberapa kali kopi hitamnya dengan penuh kenikmatan.
“Ya, baiklah. Aku yang akan memulai mengajaknya bicara.” Desah Mirza kemudian melemparkan puntung kecil rokonya kembali ke bawah pohon kates.
Ia beranjak dengan membawa kopi yang masih tersisa setengahnya dan meninggalkannya di ruang tengah.
Ceklek
Mirza membuka pintu kamar, pandangannya langsung tertuju pada istrinya yang tengah berbaring dengan posisi membelakanginya. Agak ragu Mirza mendekat dan duduk di tepi ranjang.
Via yang sebenarnya belum tidur seketika memejamkan matanya berpura-pura sudah tidur.
“Kamu udah tidur, Vi?” Tanya Mirza.
Ish, ngapain dia tanya-tanya? Kalo aku belum tidur emang mau ngapain? Via ngedumel dalam hati.
Mirza berigsut mendekat. “Via?” Mirza menyentuh pundak Via namun Via diam saja seolah benar-benar tertidur dan tak mendengar panggilan suaminya.
Tuh kan, dia manggil aku Via? Padahal biasanya manggil sayang? Berarti dia masih marah sama aku! Lagian tadi aku mau ngomong dia asyik sendiri ngerokok di belakang, sekarang malah kesini.” Batin Via terus menggerutu kesal.
Menyadari tak ada pergerakan dari istrinya, Mirza pun beranjak.
Ya sudahlah, dia mungkin udah tidur. Atau memang masih benar-benar malas ngomong sama aku. Lagian kan harusnya dia yang datengin aku duluan, orang dia yang salah kok. Monolog batin Mirza sambil memandangi punggung istrinya.
Mirza melangkah keluar kamar kembali pada kopi hitamnya yang setia menunggunya di ruangan tengah.
Jan di contoh ya buibu kelakuan si Via, hehe…. Orang mau diajak baikan malah ngumpet dibalik selimut.😂😂
❤️❤️❤️❤️❤️
Bu Elin baru saja selesai dengan sarapannya ketika Grace muncul di ruang makan. Wanita cantik itu segera mengembangkan senyum manisnya ketika Bu Elin menyapanya.
“Hi, Grace. Tumben pagi-pagi kesini?”
“Nggak kok, ayo duduk sarapan dulu.” Bu Elin mempersilakan.
“Makasih, Tante. Tapi aku udah sarapan.”
Bu Elin menautkan kedua pagkal alisnya. “Beneran?”
Grace mengangguk, ia tak mungkin menolak tawaran sang tante dengan alasan lagi diet.
“Ya sudah kalo gitu kita ke taman belakang aja yuk, biar enak ngobrolnya.” Ajak Bu Elin. Mereka menuju taman belakang rumah Bu Elin yang asri.
“Tante ke kantor jam berapa?” tanya Grace setelah mereka sampai di gazebo dekat kolam renang. Ia khawatir tantenya akan terlambat berangkat.
“Hari ini Tante nggak ke kantor. Urusan perusahaan kan udah sepenuhnya dihandle Danar, jadi tente hanya sesekali saja ke sana.”
Grace mengngguk mengerti.
“Jadi ada apa kemu kesini? Apa ada hal penting?” Tanya Bu Elin lagsung.
“Aku … kemarin menemui Danar untuk mengajaknya makan siang.” Ucap Grace agak ragu.
“Iya Tante tau. Kan kita ketemu di loby kemarin?” Bu Elin mengingatkan.
“Iya, Tante… maksudku… aku membuatnya marah.” Grace menggigit bibir bawahnya merasa menyesal dengan kejadian kemarin siang.
“Danar marah sama kamu?” Bu Elin heran. “Kenapa?”
Dengan berat hati Grace pun menceritakan semuanya, Bu Elin mengerti dan dapat menilai dari sudut yang obyektif. Ia paham bagaimana sifat keduanya. Danar yang cenderung tenang namun bisa jadi sangat menyeramkan ketika terusik dan Grace yang to the point dan easy going.
“Aku benar-benera menyesal, Tante.” Grace tertunduk. “Dan sangat malu sekali.”
Bu Elin tau keponakannya itu bukan sedang acting, bagaimana pun juga ia adalah gadis yang baik meski ayahnya Grace yang tak lain adik kandung Bu Elin adalah orang yang arogan dan ambisius. Beruntung Grace tak mewarisi sifat ayahnya.
“Tante, apa yang harus aku lakukan? Aku sudah salah langkah.” Grace mengangkat wajahnya yang sendu.
“Kamu harus minta maaf.”
“Apa Danar mau memaafkanku?” Grace ragu. “Dulu dia tak pernah bersikap acuh dan dingin seperti itu, aku bahkan tak pernah melihatnya marah. Tapi sekarang Danar sudah banyak berubah.” Grace mengeluh seolah putus asa,
__ADS_1
“Kamu yang membuatnya menjadi seperti itu.”
JLEB!
Grace tertohok. Benar yang dikatakan tantenya, Danar berubah drastis pasti karena sangat marah dan kecewa padanya.
“Tapi aku menolaknya bukan karena aku mengkhianatinya dengan laki-laki lain, Tante.” Lirih Grace seolah ingin membela diri meski dia tau dirinya memang sangat bersalah.
Bu Elin menghela nafas, sebenarnya dia tak ingin ikut campur urusan meraka. Namun jika Bu Elin tak mendukung Grace, ia khawatir Danar tak kan bisa selamanya move on dari Via. Maka dari itu ketika ia tahu kabar kepulangan keponakannya dari Australia itu ia langsung punya ide untuk kembali membuat hubungan mereka dekat karena penghalang diatara mereka sudah tiada. Ya, ayah Grace yang tak merestui putrinya bertunangan dengan Danar telah meninggal akibat penyakit komplikasi yang di deritanya. Kini Grace dan ibunya kembali menetap tinggal di Indonesia.
“Katakan itu pada Danar. Itu tugasmu untuk meyakinkannya.” Pungkas Bu Elin.
Grace tak menyahut. Setelah peristiwa kemarin, hatinya tak sepenuhnya yakin Danar akan mau kembali padanya. Sesaat mereka saling diam. Grace sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Bu Elin tengah memperhatikan Bi Narih yang sedang membersihkan kolam renang. Beberapa daun kering nampak terjatuh dan mengapung di permukaan air kolam yang berwarna biru jernih. Bi Narih nampak asyik dengan galah panjang yang dipegangnya sambil mendendangkan lagu ndangdut kesukaannya tak menyadari sang majikan memperhatikannya.
“Tante.” Panggil Grace menarik paksa perhatian Bu Elin. “Apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Tentu, apa itu?”
Grace menatap wajah sang tante serius. “Apa perempuan yang dimaksud tante cinta salah alamatnya Danar adalah Via?”
Bu Elin jelas tak bisa mengelak, matanya sudah terkunci. “Darimana kamu bisa tahu?”
“Itu berarti benar. Iya kan?” Tuntut Grace tak menjawab pertanyaan tantenya.
Bu Elin mendesah ringan. “Ya, Via orangnya.”
Tatapan Grace ikut pada Bi Narih yang baru saja berpindah ke ujung kolam renang.
“Grace, dari mana kamu tau soal itu?” Bu Elin ternyata masih menunggu jawaban Grace.
Grece menoleh, “Aku melihatnya sendiri, Tante. Tatapan Danar ketika bersama Via sama ketika bersamaku diwaktu dulu.” Ungkap Grace yang sebenarnya enggan mengakui hal itu karena tak rela perempuan lain menggantikan posisinya dihati Danar.
Mereka kembali terdiam. Bu Elin paham betul bagaimana suasana hati Grace saat ini. Ia membiarkan saja keponakannya kini berselimut mendung di wajahnya.
“Nyonya maaf, saya lupa menawari Non Grace minum.” Bi Narih menghampiri dengan senyum lebarnya membuat Grace sedikit terkejut.
“Grace kamu mau minum apa?” Tawar Bu Elin.
“Nggak usah Tante, aku udah mau pergi kok.” Tolak Gace halus.
“Secangkir teh mungkin?”
“Maksih Tante, lain kali aja deh.” Grace kembali menolak.
Bi narih akhirnya pergi karena sang tamu ternyata memang sedang tak haus.
“Tante, apa Via tau kalo Daar mempunyai perasaan padanya?” Grace memulai lagi.
“Nggak, Via nggak tau.”
“Kalo gitu biar aku yang kasih tau.”
“Untuk apa? Via nggak akan percaya. Malahan mungkin Danar akan semakin menjauh darimu kalo tahu kamu memberitahu Via.”
Grace kembali terdiam untuk mencerna kata-kata Bu Elin.
“Nggak usah melibatkan Via, dia sudah sangat bahagia dengan suaminya. Tante khawatir itu justru akan menggangu ketentraman rumah tangganya. Ini murni kesalahan Danar yang tak bisa mengendalikan persaannya. Lebih baik kamu fokus saja pada usahamu untuk kembali mendapatkan hati Danar.” Papar Bu Elin panjang lebar.
Grace mengangguk samar, agaknya dia mengerti dengan alasan Bu Elin. Sedikit harapan kembali terbit di hatinya, cinta Danar tak kan terbalas oleh Via. Grace pamit ketika matahari perlahan naik dan sinarnya berpendar memantul pada permukaan kolam.
“Perjuangkan Danar, jika kamu benar-benar masih mencintainya.” Pesan Bu Elin dengan merengkuh bahu keponakannya.
“Pasti, Tante.” Balas Grace yakin.
❤️❤️❤️❤️❤️
Ayo ayo … Danar kira-kira mau balikan lagi nggak ya sama Grace…?
🤔🤔🤔
Dan Via… sama Mirza kok masih kucing kucingan begitu ya…?😂😂
Yang kesel sama Via, tahan dulu 😄
Sebentar lagi ya... di Next chapter Via dan Mirza bakal baikan kok. 🤩🤩
Othor cukupkan sampe sini dulu ya.😊😊
Mohon dimaafkan kalo banyak typo 🙏🙏🙏
likeeeeee jan lupa
komeeeeeen selalu
__ADS_1
voteeeeee jika sudi 🤭
sehat sehat ya semuanya, I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘