
“Olive….!” Pekik satu suara dari sudut kedai menghentikan langkah Via.
JENGJENG!
Serta merta Via melihat ke si pemilik suara cempreng itu.
“Yana?” Gumam Via dengan ekspresi keget.
Yana yang duduk sendirian melihat kedatangan Via dan Danar dengan tatapan penuh selidik, sementara Danar cuek ngeloyor ke pantry membiarkan Via mengambil duduk bersama Yana.
“Kalian pulang bareng?” Tanya Yana sambil memperhatikan raut wajah Via yang mencoba bersikap biasa saja walau tadi sempat kaget.
Via mengangguk.
“Boncengan? Naik motor?” Kali ini Yana melihat pada pakaian Via yang agak basah.
Via mengangguk lagi.
“Motor kamu dikemanain?”
“Kempes.” Sahut Via singkat.
Yana memajukan wajahnya seolah ingin lebih detail melihat ekspresi datar sahabatnya itu. “Beneran?”
“Iya, kenapa emangnya?” Via merasa mulai diintimidasi.
Yana kembali ke posisinya semula dengan melipat kedua tangan di dada. “Heran aja, waktu aku ajakan keluar jam pulang sore tadi katanya kamu capek, mau istirahat lah, badan sakit semua lah. Eeh kok tau-tau nongol di sini, sama Danar pula.” Cerocos Yana kesal.
Via mendengus kasar. “Terserah kamu deh, mau percaya apa nggak. Aku males mau cerita juga kalo kamu punya asumsi sendiri.”
“Oke, fix! Kamu emang nyebelin!” Yana melengos membuang pandangannya ke sembarang arah.
Via pun tak mau ambil pusing, kebiasaan Yana emang gitu, ngambekan kayak anak TK.
Tak lama kemudian Danar datang dengan dua cangkir coklat panas, ia menarik kursi di samping Via dan memberikan secangkir coklat panas untuk Via.
“Buat kamu, biar agak angetan.” Ucap Danar.
“Makasih ya.”
Yana melirik pada mereka dengan pandangan menukik. “Akrab banget kalian?”
Via dan Danar saling pandang sejenak.
“Kita kan partner kerja.” Sahut Danar cuek.
Via tak menanggapi, dia asyik menyeruput coklat panas perlahan dengan sendok yang disediakan.
“Ini Mas, pesenannya.” Ari datang membawakan sepiring otak-otak bakar saus madu dengan taburan wijen di atasnya. Aroma dan penampilannya sungguh menggoda.
Danar meletakkan di depan Via. “Buat kamu, tadi siang kamu kayaknya nggak makan ya?”
Reflek Via meneoleh. Kok dia tau kalo siang tadi aku cuman jajan cilok di dekat kantor ya? Apa dia nguntitin aku ya?
“Ekhem!” Suara deheman Yana yang dibuat-buat kontan mengagetkan Via. “Partner kerja kamu perhatian banget sih, Vi?”
“Kamu ini kenapa sih, Yan?” Danar malah senyum ke arah Yana yang terang-terangan pasang tampang kesal. “Dari tadi keliatannya jutek banget?"
“Nggak usah diledenin, dia lagi PMS!” Ucap Via yang terang saja bikin Yana makin kesal.
Danar nyengir, dia pun mulai menikmati coklat panasnya. “Cobain otak-otak bakarnya, enak lho.” Danar mendorong piring agak dekat ke arah Via. “Atau kamu mau makan berat? Ari ada menu baru juga kok.”
Vai tersenyum. “Nggak usah, ini aja.” Diambilnya sepotong otak-otak bakar yang berlumur saus madu itu dan disuapkan ke dalam mulutnya dengan garpu.
“Via aja nih yang ditawarin?” Celetuk Yana keki.
“Oh iya, makanan kamu mana? Belum pesen ya?” Tanya Danar yang baru sadar kalo di depan Yana memang belum ada makanan, hanya ada secangkir matcha latte yang isinya tinggal setengah.
“Telat nawarinnya!” Yana membuang muka.
Danar dan Via mengulum senyum.
“Ya udah nih cobain otak-otak bakarnya, enak banget lho.” Via menaruh garpunya di depan Yana.
Yana yang emang sebenernya udah ngiler dari tadi langsung menyambarnya dan mulai menyuapkan satu per satu ke dalam mulutnya.
“Sekarang udah nggak ngambek lagi kan?” Ledek Via.
Yana nyengir.
“Kayaknya orang kalo lagi PMS nafsu makannya banyak ya?” Seloroh Danar.
“Eh, iya maaf.” Yana langsung berhenti. “Aku khilaf, Vi.”
“Udah, nggak papa. Habisin aja. Yang penting kamu udah nggak ngambek lagi.” Via senyum geli melihat tingkah Yana.
“Aku bikinin lagi ya.” Danar berdiri.
“Nggak usah!” Via spontan menarik tangan Danar seolah nggak memperbolehkan dia beranjak dari sampingnya.
“Eh, biarin Vi. Keluarin semua cemilan dan menu barunya, aku juga laper belum makan tau!” Ucap Yana tak tau malu. “Tapi kamu yang traktir, ya? Hehehe ….” Yana cengengesan melihat Danar.
Danar seperti biasa, hanya tersenyum, kemudian meninggalkan mereka menuju pantry.
“Suut! Malu-maluin aja kamu, Yan!” Omel Via agak berbisik.
“Biarin!” Yana cuek sambil kembali melahap sisa otak-otak di piringnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sabtu paginya Via bangun dalam keadaan lebih fresh. Namun begitu dia memilih untuk bermalas-malas menonton kartun Sponge Bob. Kangen juga dia sama Ica kalo liat kartun itu. biasanya Ica selalu nonton Sponge Bob kalo nginep di rumahnya.
Kkriiet…
__ADS_1
Pintu kamar samping terbuka. Wajah Yana muncur dari sana. Ya, semalam si Yana nginep di rumah Via setelah Via merayunya untuk mengantarnya pulang karena nggak mau pulang bareng Danar.
“Udah bangun kamu, Vi?” Tanya Yana dengan langkah agak diseret mendekati Via. “Sarapannya mana?” Tanyanya seraya menghempaskan bokong disamping Via.
“Huh! Nggak tau diri banget sih kamu, Yan? Baru bangun langsung nanya sarapan!” Omel Via. “Bikin sendiri sana! Aku juga belum sarapan.”
Yana melangkah gontai ke ruang makan, ia memeriksa isi kulkas.
“Ini kulkas isinya sayuran semua, Vi! Mau jualan sayur apa?” Yana setengah berteriak.
Itu sayuran pemberian Pak Hadi tempo Hari masih tersisa banyak karena Via baru memasaknya sedikit.
“Ikan, telor, atau mie instan ada nggak?” Teriak Yana lagi.
“Nggak ada! Adanya cuman roti tawar!” Balas Via agak berteriak juga.
Tak lama Yana muncul dengan dua tangkup roti tawar selai kacang.
“Nih!” Yana mengasongkan satu pada Via dan menggigit satu lagi miliknya.
“Thanks.” Via pun menikmati roti selai bikinan Yana sambil mencet-mencet remot mencari tayangan yang bagus karena Sponge Bob lagi jeda iklan.
“Eh, Vi. Kita masak yuk. Aku kangen deh pingin masakan kamu.” Ujar Yana disela-sela mengunyahnya.
“Males, Yan. Agendaku hari ini cuman pingin bermalas-malasan. Lagian aku nggak punya stok bahan makanan, adanya cuman sayuran itu.” Sahut Via.
“Gampang, nanti aku yang belanja sekalian pulang dulu mau mandi dan ganti baju. Ok?” Yana menjawil dagu Via jahil.
Ting tong!
Bel berbunyi, Via dan Yana saling pandang.
"Bukain sana!" Titah Via, Yana pun menurut beranjak ke depan untuk membuka pintu.
"Selamat pagi, Mbak. Ini pesenannya." Sapa seorang Mas ojek online.
"Pesenan?" Tanya Yana melongo bingung.
"Iya. Buat Mbak Livia. Bener kan disini rumahnya?"
Yana mengangguk, ia menerima juga walau masih keder. Setelah si Mas itu pergi Yana membawa makanannya masuk.
"Vi, kamu yang pesen semua makanan ini?" Tanya Yana.
Via malah lebih bingung lagi, ia menggeleng seraya melihat isi bungkusan demi bungkusan yang dibawa Yana. Wangi aromanya tercium nyata membuat Yana tak bisa menahan diri.
"Bodo amat lah, yang penting makan dulu. Soal siapa yang pesen kita pikirin nanti." Ucap Yana dengan senyum lebar.
❤️❤️❤️❤️❤️
Matahari mulai merangkak naik, namun sepasang insan yang semalam bergelut dalam pertempuran panas itu masih asyik bergelung di balik selimut.
Tok tok tok…
Tok tok tok …
Terdengar ketukan pintu sekali lagi.
Ramzi malah mengetatkan dekapannya pada tubuh Sofi yang berbaring di sampingnya sehingga membuat Sofi membuka matanya.
“Kak, sepertinya ada yang mengetuk pintu.” Ucap Sofi.
“Biarkan saja. Aku masih mau melukin kamu.” Sahut Ramzi tanpa berniat sedikitpun untuk bangun.
Ting!
Satu notifikasi pesan masuk di ponsel Ramzi yang tergeletak di atas nakas. Tangan kanan Sofi meraihnya dan tak sengaja melihat jam yang tertera di sana.
“Astaga! Kak, ini sudah hampir jam 9 pagi!” Kaget Sofi.
“Biarin aja, kenapa memangnya? Ini kan week end.” Ramzi enggan membuka matanya, tangan kirinya malah menelusup ke balik selimut mencari sesuatu yang semalam sangat dinikmatinya.
“Ish! Kak, singkirkan tanganmu!” Sofi memukul tangan Ramzi yang merayap di atas melon besarnya. “Papamu memintamu segera turun!” Sofi memberikan ponsel Ramzi yang berisi pesan dari Tuan Alatas.
Ramzi mengerjapkan matanya dan membaca pesan itu dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih.
“Hem, ganggu aja!” Gerutunya seraya melemparkan ponsel itu ke sembarang tempat setelah mengubahnya dalam mode getar padahal niatnya mode silent. Dan ia pun bergegas merangkak ke atas tubuh Sofi.
“Kak, kamu mau ngapain?” Sofi kaget dengan tingkah suaminya.
“Mau push up! Biar ngantuknya ilang!”
“Apa kau gila?” Sofi mendorong tubuh suaminya. “Papamu menunggu di runag kerjamu! Cepat mandi dan temui dia!”
“Ayolah istriku, sebentar saja. Semalam aku tumbang sebelum melakukan serangan balasan, dan aku akan melakukannya pagi ini sekalian olah raga.” Tampang Ramzi mupeng banget dengan tatapan mengiba.
Drrrt …. Drrrrt….
Ponsel Ramzi bergetar di sudut kasur, namun ia mengacuhkannya.
Drrrt …. Drrrrt…
Dengan kesal, Ramzi mearihnya. Itu telpon dari kepala pelayan.
“Ada apa? Bilang sama Papa, sebentar lagi aku akan turun!” Jawab Ramzi jengkel karena panggilan masuk itu sudah mengganggunya.
“Maafkan saya, Tuan. Saya hanya mau bertanya, apakah Tuan Ram dan Nyonya Sofi mau makan pagi sekarang atau nanti?” kepala pelayan bertanya dengan agak takut.
“Nanti saja!”
“Baiklah. Oya, apa Tuan Ram sedang tak enak badan? Apa Tuan mau saya bawakan makan pagi Anda ke kamar atau …”
“Nggak usah banyak tanya! Nanti saya pecat kamu!” Hardik Ramzi yang kemudian langsung mengakhiri obrolan sepihak.
__ADS_1
Sofi yang melihat raut kesal suaminya langsung punya inisiatif jitu. Waktu itu ia tak sempat melancarkan aksi lanjutannya karena ada ayah mertuanya di ruang kerja Ramzi, maka hari ini dia berniat akan melanjutkan aksinya dengan memanfaatkan kesempatan yang ada.
“Kak, tidak usah marah-marah begitu.” Sofi mengelus jambang suaminya dengan melempar tatapan mesra seolah bener-benar penuh cinta kasih yang ia pancarkan dari tatapan matanya, padahal itu semua hanya dusta belaka!
Ramzi malah menyorot tajam.
“Cepat mandi dan temuai Papamu. Setelah kalian selesai aku akan menyusulmu kesana.” Ucap Sofi dengan senyuman. “Kita akan melanjutkannya di runag pribadimu disana, seperti waktu itu.” Bisik Sofi yang tentu saja membuat Ramzi langsung bersemangat.
“Kamu janji?”
“Heum.” Angguk Sofi.
“Oke, aku mandi sekarang.” Ramzi bangkit dan segera masuk kamar mandi.
Sofi memendangi pintu kamar mandi yang sudah tertutup dengan senyum miring di wajahnya.
“Dasar brewok mesum!”
❤️❤️❤️❤️❤️
“Hai, selamat pagi!” Sapa Arumi riang dengan sebuket bunga di tangannya.
Hanson melihat bunga yang dibawa Arumi dengan dahi mengernyit.
“Ini buat kamu.” Arumi memberikan bunga itu pada Hanson lantas menyeruak masuk ke dalam apartemen Hanson seperti biasanya duduk dengan santai di atas Sofa dan membuka makanan yang dibawanya.
“Rumi, tolong jelaskan apa maksud dari semua ini?” Hanson berdiri di dekat Arumi.
“Duduk dulu.” Arumi menarik tangan Hanson duduk di sampingnya.
“Aku mau tanya sama kamu. Apa maksud kamu setiap hari bawain aku makanan? Dan sekarang pake bawa bunga segala?” Hanson mengulang pertanyaannya.
“Makan dulu, cobain deh. Ini enak lho …” Arumi mau menyuapkan makanan ke mulut Hanson namun Hanson mendorong tangan Arumi.
“Kamu punya maksud tertentu kan?” Hanson menatap tajam.
Glek!
“Maksud …. Tertentu gimana?”
“Nggak usah pua-pura bodoh! Kamu pasti merencanakan sesuatu kan? Setiap hari kamu bawakan aku makanan, terus nggak lama setelah aku makan makanan dari kamu aku pasti ngantuk dan tertidur pulas. Paginya aku bangun, kamu udah nggak ada. Dan aku mendapati pisangku dalam keadaan lengket!” Cerocos Hanson dengan emosi.
“Apa? Pisang kamu lengket?” Arumi pura-pura kaget. “Mana, coba aku lihat!”
“Arumi!” Hanson mundur Karena Arumi nekad mau mendekat untuk melihat pisang miliknya.
“Eh, itu mungkin saja karena kamu mimpi yang agak vulgar ketika kamu tidur, atau ….”
“Itu semua pasti ulah kamu kan?” Potong Hanson.
“Ulah aku apaan? Aku nggak ngapa-ngapain kok.” Aurmi mengelak.
“Cuma kamu yang bisa nekad seperti ini! Aku tahu, kamu yang terobsesi sama pisang aku biar bisa bangun lagi kan? Aku nggak suka Arumi, aku nggak suka kamu terlalu mencampuri urusan pribadiku! Aku bilang aku bisa menyelesaikannya sendiri! Kamu jangan ikut campur!” Hanson berteriak dengan galak, wajah bulenya sampai memerah kayak kepiting rebus saking emosinya.
Arumi tertunduk. Ia agak ngeri juga ngeliat Hanson murka seperti itu, walau hatinya nggak ciut sepenuhnya karena dia nggak mudah diintimidasi tapi dia acting takut saja biar Hanson nggak semakin ngamuk.
Hari perama setelah dia bawakan kebab untuk Hanson, besoknya dia datang lagi dengan membawakan makanan lain, begitu juga dengan hari ketiga dan keempat berturut-turut. Lalu kemarin Arumi memasak pasta di apartemen Hanson, mereka makan berdua. Arumi tentu saja menyiapkan piring khusus untuk Hanson tanpa Hanson sadari. Arumi melancarkan rencananya setelah Hanson tertidur pulas akibat obat tidur dengan dosis tinggi yang dicampurkan ke dalam makanannya. Dan hari ini rencananya Arumi akan mengajak Hanson keluar setelah Hanson makan makanan yang dibawanya. Arumi berniat akan melakukan aksinya di rumahnya saja agar Hanson tak curiga, namun apa mau dikata, Hanson keburu mencium aksinya.
“Katakan, Arumi! Itu semua benar kan? Kamu merencanakan sesuatu padaku, kan?” Desak Hanson.
“Emh, aku …” Arumi menganggkat wajahnya perlahan. “Aku ….”
“Kamu nggak bisa jawab kerena semua itu benar! Iya? Astaga! Aku nggak ngerti apa isi kepala kamu, kenapa kamu senekad ini! Aku benci kamu, aku nggak mau liat kamu lagi, Rumi. Silakan kamu pergi!”Hanson menunjuk pintu keluar.
“Hanson, aku…”
“Pergi kataku! Kita nggak usah ketemu lagi!”
“Kamu tega sama aku, hik… hik .. hik …” Arumi acting nangis.
“Dan bawa ini!” Hanson melemparkan buket bunga pada Arumi. “Ich brauche das alles nicht! Alles, was Sie tun, ist nur ein Stück!" (Aku nggak butuh itu semua! Kebaikan yang kamu lakukan semuanya hanya sandiwara!)
Arumi bangkit dengan air mata buaya yang berlinangan.
“Aku cuman pingin kamu sembuh, apa aku salah?” Tanya Arumi parau disela-sela isak tangisnya.
“Salah! Salah banget! Kamu tau setiap aku bangun pisangku selalu cenat-cenut! Aku nggak nyaman, setiap pagi aku merasakan itu! Dan itu semua gara-gara kamu!"
“Apa kamu bilang? Pisang kamu cenat cenut?“ Mata arumi terbelalak. “Itu tandanya ramuannya sudah mulai bereaksi. Hanson, aku berhasil. Kamu akan sembuh. Sini aku olesin lagi!" Arumi malah terpekik kegirangan.
“Nggak! Aku nggak mau! Kamu nggak ngerasin! Aku tersiksa menahannya.”
“Aku akan memeriksanya!” Arumi dengan kenekatannya berusaha mendekat lagi.
“Menyingkir dari hadapanku! Apa kamu nggak ngerti aku bicara! Aku nggak mau! Cepat pergi!”
“Hanson, dengar dulu. Tinggal dua hari lagi, ramuannya akan habis. Dan nanti pasti kamu bisa sembuh.” Bujuk Arumi pantang menyerah.
“Aku nggak peduli! Rasanya sakit, cenat-cenut, ngilu dan gatal! Kamu nggak merasakannya! Ini nggak benar, aku sedang terapy medis, pasti semuanya kacau gara-gara kamu! Kamu membuatku menderita seperti in!” Hanson semakin kacau, dia mengacak rambutnya frustasi. “Sekarang cepat pergi! Pergi kataku…!” Hanson menyeret Arumi kelar dari apartemannya.
BRAAK!
Hanson membanting pintu dan menguncinya. Tak dipedulikannya Arumi yang terus menggedor-gedur pintunya. Hanson lebih memilih masuk kamar dan mengunci diri. Arumi baru berhenti ketika tetangga apartemen Hanson keluar dan menegurnya. Apa mau dikata, Arumi pulang dnegan langkah gontai.
❤️❤️❤️❤️❤️
Yaaah….. gitu deh…. 😅😅😅
Kita lanjut lagi nanti ya.🤩🤩🤩
Terima kasih sudah setia membaca dan selalu dukung othor.🙏🙏🙏🌹🌹🌹
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1