
Menarik semua kata yang sudah terlanjur meluncur begitu cepat dari bibirnya rasanya tak mungkin, Riri hanya diam mendapat tatapan tajam Bu Harni yang menuntut penjelasan. Bukan menyesal, hanya terkejut mengapa ia sampai tak memperhitungkan jika ibunya kemungkinan bisa mendengar semua luapan kata hatinya.
“Riri ibu tanya, apa semua yang kamu katakan itu benar?” ulangnya sekali lagi lantas mengedar pandang pada tiga orang di depannya bergantian.
“Tanya saja pada Mas Mirza Bu,” malah melemparkan permasalahan pada kakak ipar.
Tampak menghela napas, Riri membuat Mirza menjadi tersangka utama. “Semua yang Riri ucapkan benar Bu,” ucapnya dengan suara berat. “Tapi tidak dengan pendapat Riri yang mengaggap Danar lebih baik dari aku,” lanjut Mirza. “Hanya aku yang terbaik untuk Via, selamanya.”
Tersenyum sinis, “bisanya cuman ngomong, coba buktikan!”
“Via tidak butuh pembuktian apa-apa, dia tahu karena dia yang merasakannya,” sarkas Mirza.
“Merasakan penderitaan dihina oleh ibu mertua maksudnya? Hah, yang bener aja kamu Mas?” terkekeh seolah ada yang lucu. “Istri mana yang akan sanggup bertahan punya mertua macam Bu Een? Mau ganti seribu menantu pun aku rasa sama saja, karena Bu Een nggak rela Mas Mirza berbagi cinta dengan perempuan lain meskipun itu istri Mas Mirza sendiri.
Dalam hatinya Mirza membenarkan perkataan Riri. Dia sendiri pernah mengatakan hal serupa pada ibunya, memang kedengarannya sangat jahat karena berprasangka buruk pada ibu kandung sendiri, tapi itulah kenyataannya.
“Kalo Mas Mirza memang benar yang terbaik buat Mbak Via, tinggalkan ibu Mas Mirza itu,” tantang Riri. “demi kebahagiaan keluarga kecil Mas Mirza.” imbuhnya yang sukses membuat Mirza bungkam.
“Kenapa diam? Mas Mirza nggak bisa kan?” belum puas melihat kakak iparnya yang terpojok, Riri kembali membombardir dengan rentetan kalimat-kalimat pedasnya. “Jangan harap Mas Mirza bisa menjadi ayah yang baik buat Nala Mas, kalau membereskan Bu Een saja Mas Mirza nggak becus! Sebagai laki-laki, Mas Mirza itu nggak punya pendirian, Mas Mirza terlalu mudah didikte sama Bu Een. Daripada Mbak Via sedih berkepanjangan lebih baik semuanya diakhiri dan relakan Mbak Via bahagia sama Mas Danar.”
“Danar lagi, Danar lagi. Kenapa kamu suka sekali nyebut-nyebut nama dia?” meledak juga Mirza lama-lama. “Dia itu bukan siapa-siapa, dia nggak tau apa-apa!” Mirza sungguh tak rela nama laki-laki lain terus digaungkan di telinganya.
“Dia laki-laki yang sangat mencintai Mbak Via!”
“Jangan sok tau kamu! Sampai sekarang aku sendiri nggak yakin kalau Via dan Danar benar-benar berselingkuh!”
“Beneran selingkuh atau nggak, yang jelas Mas Danar emang beneran cinta sama Mbak Via. Aku dengar sendiri pengakuannya dan aku bukan sok tau!”
Kalimat terakhir Riri langsung membuat semuanya diam dalam keterkejutan. Terlebih lagi Via, ia tak mampu menyembunyikan kekagetannya, namun ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Drama settingannya harus berjalan sampai selesai, ia tak mungkin menanyakan kebenaran kalimat Riri karena akan tampak snagat konyol dimata Mirza.
“Jangan asal bicara kamu, Ri –“ Bu Harni ragu antara percaya dan tidak.
“Ibu pikir kenapa Mas Danar membatalkan pertunangannya denganku?” memandang ibunya dengan sorot mata sulit diartikan.
“Kamu bilang karena Danar mencintai perempuan lain kan?” masih dalam keraguan mendekat pada anak bungsunya.
“Dan perempuan itu adalah Mbak Via.”
❤️❤️❤️❤️❤️
Matahari tak terasa hangat sinarnya, angin tak terasa sejuk hembusannya, semuanya seperti bisu, kelu tak meninggalkan rasa apapun pada dua hati yang belum juga mendapatkan titik temu. Interaksi yang dibangun hanya seperlunya saja sejak kemarin sore setelah sebuah pernyataan mengejutkan dilontarkan Riri. Mirza menjalani rutinitasnya dengan pikiran seolah tak berpijak di kepala, sedangkan Via sibuk dengan tanda tanya besar di benaknya. Benarkan Danar selama ini mencintainya? Berarti semua prasangka suaminya selama ini benar adanya?
“Oek … oek ….” Geliat kecil baby Nala menyadarkan lamunan Via.
“Hai, Sayang” menyapa malaikat kecilnya yang baru saja bangun. “kamu laper ya?” mengangkatnya ke dalam pangkuan kemudian menyembulkan sumber makanan baby Nala dari dalam branya.
Baby Nala segera menyongsong dengan mulut mungilnya, ia begitu tenang menikmati ASInya. Via membelai lembut kepala malaikat mungilnya itu, pandangannya mendadak berkabut ketika ingat bayi kecilnya itu sebentar lagi akan ditinggalkan oleh ayahnya.
Tes
Butiran hangat melaju tak permisi membasahi kedua pipi, segera Via seka jejaknya. Setalah Nala selesai dengan asupan nurisnya, Via membawanya keluar kamar. Rumah tampak sepi, tak terlihat Bu Harni dan Riri yang biasanya menyibukkan dri di dapur.
-
-
-
“Dik Harni?” sepasang bola mata hitam keabuan dibuat tak percaya dengan sosok yang berdiri di depannya. “Mari masuk,” ajak sang tuan rumah ramah pada tamunya.
Mendaratkan bokongnya bersama Riri di sofa ruang tamu yang meski tak terlalu besar namun perabotnya tertata apik membuat ruangan itu terlihat cantik.
“Dik Har –“
__ADS_1
“Langsung saja Mas, aku nggak mau banyak basa basi,” potong Bu Harni dingin membuat lelaki yang pernah mengisi hatinya itu mengernyit.
“Apa ada hal penting hingga kamu datang kesini?”
“Ini soal anakmu Mas.”
“Danar?” menggumam seolah bicara pada dirinya sendiri karena langsung tau kemana arah tujuan pembicaraan sang mantan kekasih masa mudanya itu.
“Suruh dia jauhi Via. Jangan rusak rumah tangga Via karena dia sudah bersuami.” Menghunjam tajam dengan tatapan tak ingin dibantah.
“Tanpa kamu minta pun, aku sudah jauh lebih dulu melarangnya.”
Tersenyum samar, “jadi Mas Pram sudah mengetahuinya?”
Melirik iri sekilas, sejujurnya Pak Hadi tak enak hati membahasnya mengingat Riri pernah hampir masuk dalam hidup Danar.
“Jangan-jangan kamu memang sengaja Mas, memanfaatkan anakmu untuk membuat rumah tangga anakku berantakan karena kamu masih menaruh sakit hati padaku,” tuduhan Bu Harni terasa menohok Pak Hadi.
“Pikiran apa yang bersarang di kepalamu? Aku sudah pernah bilang soal itu kan? Sama sekali aku tak terpikir untuk berbuat seperti yang kamu tuduhkan itu,” bantah Pak Hadi tegas.
“Setelah dulu kalian buat Riri malu dengan pertunangannya yang dibatalkan sebelah pihak, kini kalian kembali bersekongkol untuk menghancurkan hidup anakku yang lain. Kamu dan anakmu ternyata sama saja Mas, sama-sama tak punya hati.”
“Cukup Dik, kamu tak berhak menuduh kami seperti itu.” Pak Hadi tak terima, sejak pertungangan Riri dan Danar gagal, Bu Harni pun sempat menuduhnya seperti itu dan sekarang terulang lagi. “tuduhanmu sangat tak beralasan.”
“Itu buatmu Mas, tapi buat aku semuanya jelas beralasan. Kamu sengaja menggunakan anakmu karena dendammu di masa lalu padaku belum selesai.”
“Kamu terus saja berbicara soal dendam dan sakit hati, jangan-jangan justru kamu sendiri yang dendam dan sakit hati padaku,” berucap tenang dengan senyum tipis seolah membalikkan kenyataan, “Jangan-jangan kamu yang belum selesai dengan perasaanmu di masa lalu karena kamu merasa sangat bersalah padaku, Dik.”
“Aku tak punya beban masa lalu.”
“Ya sudah, jangan kaitkan kejadian sekarang dengan kejadian puluhan tahun silam jika memang tak ada hubungannya,” ucap Pak Hadi enteng seraya menyandarkan punggungnya pada bantal sofa.
Bergeming di tempatnya, BU Harni merasa justru dirinya yang sedang dikuliti. Niat hati ingin memberikan peringatan pada sang mantan kekasih, malah dia sendiri yang nampak kesal dengan semua kalimat sindiran Paka Hadi. (yang belum tau kisah masa lalu Pak Hadi dan Bu Harni, schroll lagi ke atas ya, othor lupa babnya bab berapa).
Sebuah helaan napas seolah menjadi jawaban, Bu Harni segera bangkit tanpa mengeluarkan kata-kata lagi.
“Pak, kami pemisi dulu ya. maaf sudah mengganggu waktu istirahat Bapak.” Riri berpamitan mewakili ibunya yang sudah lebih dulu melangkah keluar.
“Iya Nak Riri, nggak papa. Terima kasih kunjungannya ya.” mengangguk dengan senyuman.
Motor Riri keluar halaman rumah pak Hadi dengan Bu Harni yang sempat melemparkan tatapan menyiratkan sesuatu yang Pak Hadi sendiri tak dapat mengartikannya.
“Aku kira ibu mau ngajakin aku ke rumah Bu Een tadi, nggak taunya malah nyamperin Pak Hadi.” Gerutu Riri yang fokus mengemudikan motornya.
“Kita ke rumah mertua Via sekarang.”
Menoleh tak percaya, “beneran Bu?”
“Hem.”
“Oke, gass ….” Menarik gasnya hingga Bu Harni hampir terjengkang ke belakang.
Motor matic Riri membelah jalanan kota yang terik di tengah hari, Riri begitu bersemangat mengantarkan ibunya ke rumah besannya. Akan ada adegan seru yang tak patut untuk ia lewatkan.
Hampir setengah jam berkendara, mereka kini sudah memasuki perbatasan kota menuju kampung melewati jalanan beraspal yang sudah tak terlalu ramai seperti jalanan kota. Deretan tiang listrik yang berjajar disepanjang jalan areal persawahan yang dilewatinya bagaikan para supporter yang memberikan dukungan pada Riri untuk semakin menggeber motornya agar lebih cepat sampai di rumah Bu Een.
Rumah itu tampak sepi, dengan toko sembakonya yang kini tak pernah buka lagi dan pelataran halaman rumah Bu Een yang berserak sampah daun-daun kering. Riri berjalan lebih dulu turun dari motornya, kebetulan sekali, tampang Jumilah keluar sebelum sempat Riri mengetuk pintu.
Memandang asing pada kedua tamunya, “maaf, cari siapa ya?”
“Bu Een ada?” Tanya Riri.
Mengangguk sambil tak melepaskan tautan matanya dari Riri dan Bu Harni yang berdiri dengan wajah tak ramah.
__ADS_1
“Bisa tolong panggilkan, bilang besannya mau ketemu.” Pinta Riri.
Jumilah segera paham, ia mengangguk lantas kembali masuk dan Riri segera megekor duduk di ruang tamu berasama Bu Harni tanpa menunggu disuruh. Tak menunggu teralalu lama ketika mendengar langkah kaki diseret mendekat, Bu Harni dan Riri segera memusatkan perhatiannya pada sosok tua yang lebih menyeramkan dari Mak Lampir betulan itu.
“Ada apa datang kesini?” mendaratkan pantatatnya dengan ekspresi tak kalah dinginnya dengan sang besan.
“Jangan pura-pura nggak tau, sudah cukup kekacauan yang kamu buat dalam rumah tangga Via dan Mirza,” sengit Bu Harni.
“Jadi kamu datang kesini untuk mengimis padaku?”
“Mengemis katamu? Cih! Sampai kapanpun aku tak akan sudi mengemis apapun darimu, memangnya kamu punya apa? Kamu bahkan tak memiliki kasih sayang dari anakmu sendiri.” Tersenyum meremehkan.
“Jaga bicaramu, Suharni!” mendelik mengeraskan rahang tuanya.
“Dan jaga sikapmu, Endang!” balas Bu Harni tak gentar.
Kedua perempuan yang tak lagi muda itu menghunus tatapan tajam seolah siap saling menerkam.
“Lihat keadaanmu sekarang, sudah sakit-sakitan saja masih juga tak sadar diri.” Mencibir memandang kondisi Bu Een. “Kenapa kamu nggak mati saja sekalian dilindas truk waktu itu!”
“Kalo kamu datang kesini cuman mau nyumpahin aku, sebaiknya kamu pergi.” Bangkit dengan berpegangan pada lengan sofa. “Aku nggak punya waktu buat ngeladenin orang macam kamu!”
“Ini peringatan terakhir,” menahan langkah Bu Een. “Kalo kamu masih saja tak tau diri memaksakan keingnanmu untuk memisahkan Via dan Mirza, kamu akan menyesal seumur hidup!”
Berbalik dengan senyum sinis. “Kamu ngancam? Kamu pikir saya takut?”
“Pertanyaanmu itu aku anggap tantangan. Baik, aku akan buktikan ucapanku.”
“Saya tidak akan menyesali apapun. Mirza adalah anak saya, saya berhak memintanya melakukan apapun, karena saya ibu kandungnya dan lebih penting dari siapaun. Camkan itu!” kembali menyeret langkahya meninggalkan ruang tamu.
Tak ingin membuang lebih banyak waktunya Bu Harni pun keluar diikuti Riri yang sejak tadi menahan jengkel.
“Cuman segitu aja, Bu? aku kira ibu bakal mengeluarkan jurus kanuragan apa gitu buat ngelawan Mak Lampir itu? ternyata cuman segitu doang. Ck, nggak seru!” berdecak kesal di belakang ibunya.
“Jangan mengotori tangan kita dengan menyentuh manusia durjana macam dia, percuma!”
“Terus, langkah ibu selanjutnya apa? Ibu bakal diem aja ngebiarin Mbak Via dan Mas Mirza pisah? Ibu cuman ngasih gertakan kayak tadi itu? nggak bakalan mempan Bu! harusnya kita gantung dengan posisi terbalik tuh nenek Lampir itu di bawah pohon jambu ini semaleman biar dia sadar tindakannya itu salah besar!” Riri menggebu-gebu tak puas dengan sikap yang diambil ibunya.
Mengerutkan dahinya memandang anak bungsunya yang memang sangat barbar. “Bukannya kamu justru dukung Mbak kamu pisah sama Mirza?”
Mendengus kasar. “Bu, siapa sih yang rela melihat rumah tangga saudaranya berantakan? Sikap kerasku pada Mas Mirza justru untuk menyadarkan Mas Mirza dari pengaruh buruk ibunya, tapi kenyataannya Mas Mirza bebal! Dia justru lebih memilih membela ibunya!”
Mencengkeram kedua pundak Riri dengan tatapan penuh makna, “kita akan buat Mirza dan ibunya menyesali perbuatan mereka.”
“Apa rencana ibu?” penasaran dengan wajah tak sabaran.
“Nant juga kamu tahu, kita pulang sekarang.” Sahut Bu Harni melempar teka-teki dalam benak Riri.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hai…. Apa kabarnya semuanya?😊
Terima kasih yang masih tetap stay di TERPAKSA SELINGKUH❤️
Tinggalkan like jangan lupa😉
Komen selau ya🤩
Votenya lagi dong …😍
***Maafkan kalau banyak typo 🙏🙏🙏
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘***
__ADS_1