TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
97 #SIASAT SOFI


__ADS_3

Hari ini sofi bertekad untuk bangkit. Rasa sakit dan hancurnya ia kesampingkan demi rencananya untuk membalas semua perlakuan Ramzi dan Tuan Alatas. Dipolesnya riasan tipis pada wajah cantiknya lantas segera keluar untuk bergabung di meja makan. Namun langkah Sofi terhenti sebelum sampai di sana karean ia melihat tak ada siapaun di ruangan itu.


Seorang pelayan nampak membawa baki menuju kamar di lantai tiga.


“Tunggu.” Cegat Sofi pada pelayan. “Kemana para penghuni rumah ini? Dan itu untuk siapa?” Tanya Sofi menunjuk baki yang dibawa pelayan dengan dagunya.


“Tuan Ram meminta sarapan di kamar pribadinya, dan Tuan besar sudah pergi dari tadi.” Ujar sang pelayan.


Kamar pribadi? Jadi ia punya kamar lain selain kamar denganku? Pantas saja dia jarang masuk ke kamarku, aku pikir dia tidur di kamar tamu. -Oceh Sofi dalam hati.


“Oke, aku ikut denganmu.” Ucap Sofi.


Pelayan tak berani membantah, ia hanya mengangguk lantas berjalan menuju lift di sisi ruang makan keluarga.


Sofi sempat melihat seikat Krisan putih di dekat guci besar sebelum menuju lift, dan ia mengambilnya setangkai kemudian segera mengikuti pelayan yang berjalan di depannya memasuki lift.


Ting!


Begitu pintu lift  terbuka, matanya langsung tertuju ada satu-satunya kamar yang ada di sana. 


Hem, pantas saja dia betah disini. Gumam Sofi dalam hati yang melihat lantai tiga rumah suaminya yang luas itu hampir setengahnya area terbuka. Kolam renang, dengan gazebo di kedua sisinya, taman bunga, arena olah raga yang cukup lengkap.


Jika saja ia tak sedang tergesa mengikuti pelayan, ingin rasanya ia mengeksplore seisi lantai tiga itu.


Tok tok tok


Sang pelayan mengetuk pintu, lantas segera masuk tanpa menunggu jawaban, Sofi segera mengekor di belakangnya.


“Saya letakkan sarapan Tuan Ram di sini, Nyonya. Tuan Ram sedang mandi.” Ucap pelayan sambil meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja makan dengan dua kursi di dekat balkon kamar.


Sepertinya pelayan itu sudah Ramzi hubungi sebelumnya, sampai dia tahu betul Ramzi lagi ngapain. Sofi terus menggumam dalam hati.


“Saya permisi, Nonya.” Pamit pelayan itu mengangguk sopan dan menutup kembali pintu kamar meninggalkan Sofi yang kini asyik memindai seisi ruangan Ramzi dengan mata indahnya.


Beberapa menit berlalu, Ramzi belum juga keluar dari kamar mandinya.


"Dia itu mandi atau berendam sih? Kayak anak perawan aja mandinya lama bener! Kalo nggak demi modus, aku nggak sudi nunggin dia kayak gini!” Decak Sofi kesal.


Sofi baru saja akan bangkit ketika terdengar bunyi ponsel Ramzi dari atas nakas. Karena penasaran, Sofi menghampirinya. Tupanya video call dari Jane.


Setelah yakin sepertinya Ramzi tak mendengar panggilan itu, Sofi menjawab video call itu.


“Halo, Jane.” Sapa Sofi santai.


“Sofi?” Jane sedikit kaget.


“Iya, ada perlu dengan Kak Ram?” Tanya Sofi masih dengan nada santai.


“Eum, ya … sedikit.” Sahut Jane ragu.


“Sebentar ya, dia masih di kamar mandi.”


Jane tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Jam segini baru mandi? Apa dia baru bnagun? pikir Jane dalam hati, dan wajahnya itu snagat terhat jelas seperti orang kebingungan, apalagi Jane juga melihat rambut Sofi yang masih agak basah.


“Kau kenapa?” Tanya Sofi menyadarkan Jane yang seperti bengong.


“Ah, nggak papa.” Kilah Jane. “Oke, nanti saja aku hubungi lagi. Bye.”


Jane mengakhiri video callnya. Sofi pun meletakkan kembali ponsel Ramzi di atas nakas.


Lama-lama jenuh juga sofi menunggu Ramzi. Ia sampai penasaran ritual mandi seperti apa yang dilakukan Ramzi sampai berpuluh-puluh menit belum selesai juga. Karena tak sabaran, Sofi pun berniat menghampiri kamar mandi Ramzi di pojok ruangan.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka ketika Sofi tepat berada di depan pintu itu.


“Kau? Siapa yang mengijinkanmu masuk ke sini?” Tanya Ramzi dengan nada jengkel.

__ADS_1


Sofi yang tak siap langsung galagapan, terlebih lagi ia melihata Ramzi hanya mengenakan handuk sebatas perutnya hingga seluruh bagian dadanya yang lebat bak hutan belantara itu terekspose sempurna di depan mata Sofi.


“Aku, aku … hanya mau mengantarkan sarapan untukmu.” Sofi tegagap sambil melihat ke arah meja makan.


“Memangnya kau jadi pelayan disini?” Sinis Ramzi.


“Bukan begitu, aku juga mau bilang makasih.”


Ramzi memicingkan matanya, menatap Sofi penuh selidik.


Waras nggak sih nih orang? Kemarin ngamuk-ngamuk pake nggampar muka gue, sekarang mau bilang makasih. Benar kata papa, kayaknya dia mengalami ganguan jiwa setelah kehilangan bayinya. Ramzi bermonolog dalam hati.


“Makasih Kak Ram, untuk bunga Krisan ini. Kau masih ingat rupanya dengan bunga favoritku.” Ucap Sofi dengan senyuman sambil memperlihatkan setangkai Krisan putih yang sedari tadi dipegangnya.


“Yakin banget kamu bunga itu buat kamu?” Sinis Rmazi lagi sambil berjalan cuek menuju walk in closet.


Sofi langsung tercekat.


Benar juga, kok aku ke ge er an banget ya? Ah, bodo amat! Udah kepalang tanggung, drama ini harus berjalan mulus. Masa iya dia beliin bunga itu buat si tua Bangka Alatas atau buat pelayan cewek di rumah ini, kan nggak mungkin?


“Kalo udah nggak ada perlu lagi, silakan keluar!” Ucap Ramzi dengan tatapan tajam mengagetkan lamunan Sofi.


“Aku mau temani Kak Ram sarapan.” Tukas Sofi pantang menyerah.


“Sejak kapan kau mau makan sepiring berdua denganku?”


“Sejak hari ini.” Sahut Sofi pelan.


Tap tap tap


Sofi mendekati Ramzi dengan langkah gemulai. Ramzi memandang istrinya dengan tatapan awas. Agaknya dia perlu pasang kuda-kuda takut Sofi nggampar dia lagi tanpa permisi kayak kemarin.


Namun yang terjadi ternyata justru Sofi menyentuh lengan Ramzi.


“Kak Ram, maafkan sikapku selama ini. Aku sadar aku bodoh dan bersalah padamu.” Ucap Sofi pelan sambil mengunci tatapan tajam Ramzi padanya.


Lama mereka saling mematung. Sofi yakin, laki-laki di depannya itu pasti dapat ia buai dengan acting dadakannya. Sedangkan Ramzi masih berusaha mencari kesungguhan dari ucapan wanita di hadapannya itu. Tak ingin gegebah, ia tak merespon berlebihan perkataan istrinya itu.


Setetes air jatuh dari rambut Ramzi yang basah mengenai tangan Sofi.


“Ijinkan aku memperbaiki semuanya semua dari awal, mulai sekarang.” Lanjut Sofi lirih.


Deg!


Jantung Ramzi berdegup kencang. Akankah rumah tangga yang selama ini ia impikan bersama wanita pujaan hatinya itu akan benar-benar berjalan bahagia?


“Kak, tolong maafkan aku.” Desak Sofi karena tak ada respon apa-pa dari Ramzi. “Kau mau kan memaafkan aku dan memberikanku kesempatan?” Imbuh Sofi seraya tangannya merayap menjamah semak belukar di dada suaminya dan memainkan rumput-rumput liar disana membuat Ramzi jadi makin deg-deg ser.


Ramzi mengela nafas panjang.


“Ya.” Hanya itu yang diucapkan Ramzi, kemudian segera berlalu untuk memilih pakainnya.


Sofi tersenyum puas dan menuju meja makan.


_________


“Sayang, kamu kenapa?” Tanya Mirza yang tiba-tiba melihat Via meringkuk di sofa depan TV sambil memegangi perutnya.


“Nggak tau nih, Mas. Perutku kok sakit ya?” Via meringis. “Kayaknya gara-gara makan ayam geprek deh.” Via terus memegangi perutnya.


“Makan ayam gepreknya kapan, sakitnya kapan?” Heran Mirza


“Aduduh… Mas, sakit …” Via meringis lagi.


“Sini Mas olesin kayu putih.” Mirza menyentuh pundak istinya.


“Aw! Sakit Mas, jangan kenceng-kenceng megangnya.”


“Lho yang sakit kan perut? Masa pundak yang dipegang ikut sakit juga?” Mirza heran lagi.

__ADS_1


“Iya, badanku juga pada sakit nih, Mas.” Rintih Via.


“Pasti karena kemarin kecapekan deh. Mas pijitin ya.”


“Nggak mau, pada sakit rasanya Mas semua badanku.”


“Terus giman dong?” Mirza bingung. “Kita ke dokter aja, sayang.”


“Ah, nggak. Aku takut makin tambah sakit nanti di jalan.”


“Sekalian USG sayang, dari waktu itu kita belum USG lho.”


Via mengeleng kuat.


“Apa kamu ingin ke belakang? Mas anterin ya?”


Via menggeleng lagi.


Mirza jadi makin bingung, lantas dia berinisiatif mengisi botol kaca dengan air panas. Mirza segera ke dapur menuang air dari termos ke dalam botol kaca dan melapisinya dengan lap bersih.


“Sayang coba tempelkan ini di perutmu.” Ucap Mirza menghampiri istrinya.


Via berubah posisi melihat suaminya. “Apa itu, Mas?”


“Air hangat. Coba lah, siapa tau bisa mengurangi rasa sakit di perutmu.” Mirza menempelkan botol kaca yang sudah di lapis lap bersih itu ke perut Via. “Luruskan kakimu sayang.”


Via menuruti perkataan suaminya.


“Sebelah sini, Mas.” Tunjuk Via pada peut bawah bagian kanan.”


Mirza menggeser botol itu.


“Sebelah sini juga, Mas.” Tunjuk Via pada bagian kiri perutnya.


Mirza menempelkan botol itu berganti-ganti dari sisi kiri ke kanan perut Via.


“Gimana rasanya, sekarang?”


Via mengangguk “Anget, Mas. Enakan.”


“Kamu pegangin sendiri, sayang. Mas pijit kaki kamu ya, biar ngga kamu nggak kecapekan.”


“Jang kenceng-kenceng Mas.”


Mirza mengangguk, ia mulai memijit pelan  betis mulus Via hingga ke telapak kakinya. Selesai dengan kaki satu, lalu berpindah ke kaki satunya. Rasanya nyaman sekali, Via sampai terpejam menikmati pijatan lembut suaminya.


Mirza tersenyum melihat Via yang sepertinya sudah pulas.


_______


Eaaaa.....siapa yang mau dipijit juga? 😂😂🤭🤭


langsung nyambung ke bab berikutnya yuk Kak ☺️☺️


like dulu yaaa...


tinggalkan komen juga....


rate 5 selalu kaan....


vote juga dong....


Othor seneng banget deh kalo bacain komen-komen akak readers dan akak othor juga. apalagi kalo divote 😂


Makin semangat deh 😍😍😍


Luv u all 🤗🤗😘😘


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2