
Arumi sudah mendapatkan hampir semua yang dia inginkan, tinggal satu lagi yaitu menikmati senja di pantai.
“Ayo kita pergi sekarang.” Ajak Arumi sambil menenteng belanjaannya.
“Kamu yakin mau ke pantai? Ini kan masih siang?” Hanson menatap tak percaya.
“Udah, nggak usah banyak omong. Hari ini kau milikku pokoknya.” Arumi mengedipkan sebelah matanya genit lantas gelendotan di lengan Hanson.
Mobil yang mereka naiki keluar dari pusat perbelanjaan menuju ke Pelabuhan Kaliadem di Muara Angke. Sepanjang perjalanan Arumi terus bersolek, merapikan make up yang mulai luntur karena keringat, Hanson sesekali melirik dengan ekor matanya.
Beruntung hari ini akhir pekan, kapal yang menuju ke pantai impian Arumi akan beberapa kali datang berlabuh.
“Jadi ini pantainya?” Hanson mengedarkan pandangan ke pelabuhan.
“Bukan, kita masih harus naik kapal lagi menuju kesana sekitar 2 jam.”
“What?” Mata Hanson membulat sempurna.
Arumi tak menanggapi kekagetan Hanson, dia lekas menuju loket untuk mengantri membeli tiket penyebrangan. Tak lama kemudian kapal yang mereka tunggu datang. Arumi segera menarik pacar seharinya itu untuk segera masuk kapal dan bergabung dengan para penupang lain.
Setelah perjalanan 2 jam dengan kapal ferry tradisional, Arumi dan Hanson tiba di pulau Pari hampir jam setengah 5 sore.
“Ini dia ….” Seru Arumi begitu menjejekkan kaki di Pantai Perawan Pula Pari. “Gimana, indah kan?” Arumi tersenyum sumringah.
Hanson memperlihatkan ekspresi yang tak berarti.
“Not bad.” Gumamnya.
“Ayok, jalan!” Arumi kembali menggandeng lengan Hanson.
Pasir Pantai Perawan berwara putih dan air lautnya berwarna biru kehijauan. Arumi sangat menikmati sore itu, bersama Hanson ia menyusuri pantai dengan berjalan telanjang kaki sementara sepatu yang dipakainya entah dilempar kemana bersamaan dengan punya Hanson.
Gampang beli lagi. Kan ada Hanson ini! Begitu pikir Arumi praktis. Kapan lagi kan jalan-jalan sama horang kaya?
Sepanjang pantai mereka bergandengan tangan persis kayak orang mau nyebrang, ehh… persis kayak orang pacaran beneran maksudnya. Pantai perawan memiliki garis pantai yang sangat panjang sampai ke ujung barat pulau. Disekitaran pantai disediakan banyak resto-resto dan gazbo untuk para wisatawan.
“Kita istirahat di sana, yok!” Arumi menunjuk satu gazebo tak jauh dari mereka.
Mereka berdua pun duduk melepas lelah di sana. Angin pantai memainkan anak rambut Arumi.
“Kau senang?” Tanya Hanson seraya merapikan anak rambut Arumi yang tentu saja membuat Arumi shock. Bukan kenapa-kenapa, pasalnya sedari pagi Hanson terkesan cuek, wajar jika Arumi kaget dan untuk sesaat dia melongo melihat perlakuan manis pria tampan disampingnya itu.
“Emh, belum.” Sahut Arumi setelah bisa menguasai dirinya. “Aku masih ingin melihat sunset di sebelah sana.” Arumi menunjuk ke ujung pantai sebelah barat.
“Tapi itu kan masih jauh? Memangnya kita nggak akan ketinggalan kapal kalau pulangnya kesorean?”
Arumi malah nyengir. “Siapa bilang kita akan pulang?”
“Maksudmu kita menginap?” Hanson melotot. “Katamu kamu hanya ingin aku temani sehaian? Kenapa jadi nginap?”
Arumi nyengir semakin lebar. “Ya sana pulang aja kalo nggak mau nginep! Memangnya kamu mau berenang sampe ke pelabuhan Muara Angke?”
“Kau menjebakku!” Kesal Hanson.
Arumi malah terkikik. “Daripada kamu ngomel, mendingan beliin es kelapa, aku haus. Sekalian sama cemilan juga ya.”
Karena Hanson juga haus, dia menuju ke penjual es kelapa muda yang tak jauh dari gazebo.
“Dasar bule cap tokek! Mau aja dikadalin!” Arumi kembali cekikikan, lantas merebahkan tubuhnya di gazebo, meregangkan sejenak otot-ototnya yang tersa pegal sambil menikmati sejenak deburan ombak yang tak begitu kencang disertai sepoi angin pantai yang memanjakan.
“Ini es kelapamu!” Ucap Hanson dengan wajah jutek mengangetkan Arumi yang hampir terpejam.
“Cemilannya mana?” Arrumi bangkit menerima sebuah kelapa besar yang disodorkan Hanson.
“Nanti diantar.”
Meraka menikmati es kelapa yang dingin menyejukkan hingga ke kerongkongan. Suasana semakin sore, langit sebelah barat mulai menampakkan warna merah keemasan, beberapa pengunjung sudah tak seberapa ramai, mungkin hanya tinggal mereka yang sengaja datang untuk menginap saja. Beberapa saat kemudian seeorang mengantarkan sosis bakar pesanan Hanson.
“Ini pesanan sosis Anda, Tuan.”
“Terima kasih.”
Arumi mencium wangi aroma sosis bakar itu dan mengambilnya satu, sementara Hanson terlihat tak berminat sedikit pun. Pandangannya lurus ke laut lepas nun jauh entah kemana.
“Kamu yakin tak ingin menginap bersamaku?” Arumi membuka obrolan lagi.
Hanson tak menjawab, dia masih memandangi lautan.
“Oke, kalau gitu kita tidur berlainan kamar. Aku tak akan mengganggumu, kecuali …” Arumi sengaja tak melanjutkan kalimatnya menunggu reaksi Hanson.
Hanson menoleh. “Kecuali apa?”
“Kecuali …” Arumi masih tak mau melanjutkan kalimatnya, dia malah memasukkan sosis bakar yang lumayan besar itu ke dalam mulutnya dengan gaya yang dipikirnya sangat menggoda namun langsung membuat Hanson eneg.
__ADS_1
“Menjijikkan!” Ucap Hanson.
“Apa katamu?” Arumi sontak kaget dan tak jadi makan sosisnya. “Dasar bule tidak waras! Seorang perempuan rela menyerahkan dirinya padamu kau bilang menjijikkan? Memangnya selama ini kau manusia suci? Kau bahkan sudah tidur dengan sembarangan wanita yang tak terhitung lagi jumlahnya. Dan sekarang kau menolakku dengan mengatakakan itu menjijikkan? Dasar sakit jiwa!” Arumi meradang seketika.
Hanson tak menyangka Arumi akan semarah ini. Hanson melampiaskannya dnegan meninju tiang gazebo membuat gazebo itu bergetar.
“Aku sudah bilang, mintalah apa saja dariku asal jangan memintaku untuk tidur denganmu karena aku sudah tak bisa melakukannya lagi.” Ungkp Hanson lantas menundukkan kepalanya.
“Kenapa? Kamu sudah tak tertarik dengan perempuan atau sudah benar-benar tobat?”
“Aku mengalami gangguan fungsi seksual.” Lirih Hanson lantas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Maksudmu, burungmu sudah tak bisa berdiri?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arumi saking kagetnya. “Tapi, tapi … kenapa? Aku lihat kamu laki-aki normal yang sangat perkasa. Aku yakin siapapun yang melihatmu pasti berpikir kau sangat jantan.” Arumi tak percaya dan sibuk dengan keherannanya sendiri.
Hanson mendengus kasar, matanya kembali menjelajah lautan.
“Beberapa bulan yang lalu aku kecelakaan dan mengalami cidera di tulang belakang sehingga mengakibatkan gangguan pada syaraf dan itu menyebabkanku tak bisa lagi menjadi laki-laki normal.” Tutur Hanson dengan nada sedih.
“Bagaimana bisa cidera tulang belakang nyambungnya ke burung yang tak mampu lagi berdiri?” Arumi menggumam sendiri seolah dia masih menyangka bahwa Hanson hanya sedang menghindar darinya saja.
“Nyatanya bisa. Dan kondisiku diperparah dengan kebiasaanku merokok dan minum minuman berakohol selama ini.”
“How poor I am.” Rintih Arumi nelangsa sendiri.
“Hey, seharusnya aku yang bilang begitu. “Kenapa jadi kamu yang sedih?” Hanson kesal.
“Entahlah. Aku kecewa kau sudah tak jantan lagi.” Ungkap Arumi terang-terangan.
“Kau benar. Pacarku saja meninggakanku tanpa belas kasih. Padahal dulu kami bisa melakukannya sehari sampai tiga kali, persis orang minum obat saja, sekaran untuk berdiri pun susah. Aku benar-benar payah! Tak berguna!” Ratap Hanson menunduk semakin dalam.
Hening beberapa saat. Matahari sudah semakin tenggelam. Arumi memalingkan wajahnya, terbesit rasa iba tiba-tiba dalam hatinya.
“Kau harus berobat.” Ucap Arumi kemudian.
“Ya, aku sedang rutin teraphy. Aku ingin kembali menjadi normal dan punya keturunan, aku ingin menjadi laki-laki baik.”
“Kau becanda? Secepat ini kau mau bertobat?” Ledek Arumi.
“Aku ingin balikan sama Sofi.”
“Apa? Kenapa harus Sofi? Kamu nggak liat ada aku segede gini disini? Sofi itu sudah menikah! Kau mau dicincang sama raja minyak?” Arumi kembali emosi kerana mendengar penuturan Hanson.
“Katamu Sofi pernah hamil? Aku yakin dia hamil anakku, karena aku sempat melakukannya dengan Sofi untuk memuaskan kejengkelanku.”
FLASHBACK
“Aku nggak bisa kesana sekarang, aku sedang ada urusan.” Ucap Hanson.
“Apa kau tega? Pacarmu mabuk, bung!”
“Hubungan kami sudah berakhir. Kalau kau mau, dia buat kamu saja!”
KLIK!
Hanson memutuskan sambungan sepihak.
Laki-laki yang bernama Ludwig itu mendekati meja Sofi. Sofi memicingkan mata menatap Ludwig yang mendaratkan bokong di kursi samping Sofi.
“Ada apa kau kemari, baj****an? Kemana perempuan la**rmu itu, hah?” Tanya Sofi diantara ambang kewarasannya. Rupanya alcohol membuatnya mengira Ludwig itu Hanson.
PLOK!
Sofi menggaplok pipi Ludwig cukup keras sehingga membuat Ludwig sedikit kaget.
“Kenapa kau diam saja, bo**h?” Sofi kini cengengesan sendiri.
“Sofia …”
“Psssst!” Sofi mengacungkan telunjuk kanannya. “Jangan sebut namaku dengan mulutmu yang kotor itu. Pergi sana!” Usir Sofi lantas dia kembali meraih slokinya dan berteriak memanggil pelayang karena minumannya habis.
“Sofia, jangan minum lagi.” Ludwig benar-benar khawatir.
“Diam! Apa pedulimu? Jangan sok perhatian!” Hardik Sofi.
“Kau sudah terlalu banyak minum. Sudahlah, ayo aku antar kamu ke kamarmu.”
Sofi menepis tangan Ludwig kasar. “Mau apa kau ke kamarku? Apa kau mau mengajakku berc***a? Cih! Aku tak sudi!”
“Bukan, mana mungkin. Ah, kau itu sudah tidak waras!” Ludwig kesal juga lama-lama. Menghadapi orang mabuk memang membutuhkan kesabaran ekstra.
Sofi bangkit dan berjalan sempoyongan hendak menuju maja bartender, namun tiba-tiba dia terjatuh karena tak bisa menjaga keseimbangan langkahnya.
BRUUK!
“Astaga, Sofia!” Ludwig segera menghampiri. “Kau ini merepotkan saja!” Ludwig hendak membantu Sofi berdiri namun Sofi menolaknya sambil terus meracau tidak jelas hingga membuat Ludwig kewalahan ditambah lagi beberapa pasang mata menatap mereka.
__ADS_1
“Hanson, cepatlah kemari! Sofia membuatku kewalahan, dia mabuk di bar dan tak mau aku ajak pulang. Sepertinya dia hanya mengingatmu.” Ludwig mulai menelpon Hanson lagi.
“Apa maksudmu?”
“Sudahlah, cepatlah kemari. Kau lihat saja sendiri mantanmu ini. Aku tak tanggungjawab jika ada seseorang yang menggarapnya, aku hanya ingin membantunya saja.” Ucap Ludwig lantas segera menutup telponnya.
Hanson mengkhawatirkan kata-kata Ludwig juga karena walau bagaimana pun Sofi pernah menjadi kekasihnya. Dia tak kan tega jika ada seorang laki-laki menggarapnya serampangan dalam keadaan mabuk.
“Bawa dia!” Ludwig menunjuk Sofi yang sudah tertidur di lantai dengan mulut masih saja terus menggumam tak jelas.
Hanson mengangkat tubuh Sofi, namun diluar dugaan Sofi malah berontak.
“Lepaskan aku! Lepaskan! Aku tak sudi kau jamah, dasar baji***n! Laki-laki id**t!” kata-kata kotor terus berhamburan dari mulut Sofi.
Hanson tak peduli, ia membawa Sofi di pundak kirinya persis kayak orang manggul karung beras. Tangan Sofi memukul-mukul punggung Hanson sambil terus memaki. Meski tak terlalu sakit tapi Hanson cukup kewalahan juga karena Sofi terus saja berontak dan berisik. Hanson membawa Sofi kamarnya dan melemparkan tubuh Sofi di atas kasur, setelah itu barulah Sofi diam.
“Maki aku lagi! ayo maki aku lagi, dasar perempuan keras kepala! Kau sudah aku bebaskan untuk hidup sesukamu kenapa malah mencari masalah, hah?” Hanson meluapkan amarahnya yang sedari tadi ditahannya.
Tapi dasar Sofi lagi mabuk, dia tak meningindahkan kata-kata Hanson. Matanya terpejam dengan mulut menyunggingkan senyum sinis.
“Baiklah, aku akan memberikan apa yang kau inginkan tadi siang.” Hanson menyeringai lantas segera melucuti pakaian Sofi.
Tanpa persiapan, tanpa, rencana, dan tentu saja kali ini tanpa pengaman, Hanson “melahap” Sofi malam itu untuk melampiaskan kejengkelannya. Setelah selesai ia memakaikan pakaian Sofi lagi dan langsung menghubungi Ludwig lagi untuk mengantarkan Sofi ke kamarnya dengan alasan dia harus kembali pada kesibukannya, padahal dia akan kembali pada perempuan eksotis berdada penuh yang hampir tumpah yang ia tinggalkan sebentar.
Ludwig itulah laki-laki yang dilihat Mirza malam itu ketika dia melewati kamar Sofi yang dicurigai Mirza sebagai laki-laki yang dekat dengan Sofi selain Hanson pacarnya. Wajar jika Mirza berkeras tak mau mengakui janin yang dikandung Sofi sebagai anaknya karena dia melihat Ludwig keluar dari kamar Sofi malam-malam. Padahal Ludwig hanya mengantarka Sfi saja.
FLASHBACK OFF
“Kau gila!” Pekik Arumi dengan mata membola.
“Ya, memang.” Sahut Hanson dengan senyum getir. “Dan aku menyesalinya. Aku sungguh ingin menanyakan anak yang dikandung Sofi itu.”
“Sudah terlambat. Suaminya sudah memusnahkannya.”
“Aku harus tetap meminta penjelasan darinya.”
“Buat apa? Yang ada kau malah di lempar sampe nyangkut di pucuk monas sama si raja minyak itu.”
“Sofia harus tau kalo itu anakku.”
“Kau nggak percaya kalau anakmu itu sudah tidak ada? Pelayan yang menunggu Sofi sendiri yang mengatakannya padaku.” Arumi terus mencoba meyakinkan.
“Sofia itu mengidap sindrom fibromyalgia yang membuatnya gampang lelah dan sakit disekujur tubuhnya. Jadi mungkin yang kau lihat tempo hari itu Sofia sedang menjalani perawatan karena sindromnya.”
“Kamu masih nggak percaya? Dasar bule oon!” Arumi gemas.
“Sindrom itu juga yang membuatku memutuskannya. Aku pikir dia tak akan lagi bisa memuaskanku karena sering mengeluhkan keadaannya itu. makanya aku putusin dia gitu aja. Kalo aku tau keadaanku akan begini, aku nggak akan membuangnya. Tuhan telah menghukumku sekarang.” Hanson murung lagi.
“Sudah ku bilang jangan tobat terlalu cepat.” Decak Arumi.
“Apa kau mau mengantarku ketemu Sofia?” Hanson tak menghiraukan sindiran Arumi.
“Entahlah, tergantung seberapa kau bisa memuaskanku malam ini.” Sahut Arumi cuek.
“Kau sungguh ingin melakukannya?” Hanson melirik Arumi.
“Kenapa memangnya?”
“Aku pikir kau perempuan baik-baik.” Cibir Hanson.
“Aku akan membuatmu mampu melakukannya. Ayo kita pesan penginapan sekarang.”
“Benar-benar perempuan aneh yang menjijikkan.” Hanson bangkit seraya mengulurkan tangannya.
Arumi menyambutnya dengan senyum lebar lantas melingkarkan tangannya di pinggang Hanson.
“Aku akan berusaha, tapi kalo nggak berhasil ya sudah kita tidur saja kelonan sampe pagi.” Ucap Arumi santai.
“Ich gehore dir heute Abend. Aku milikmu malam ini.” Ucap Hanson merangkul pundak Arumi.
“Kayak judul lagu.” Gumam Arumi.
Senja sudah berganti malam, matahari sudah pulang kandang sedari tadi. Angin pantai menerpa wajah keduanya yang kembali menyusuri pantai mencari penginapan terdekat.
__________
Skip aja ya malamnya si Arumi dan Hanson 😁😁😁
Jangan pada penasaran ya sama pisangnya Hanson yang mampu berdiri apa kagak? 😆😆🤭🤭🤭
Nggak usah heran juga sama Arumi, dia emang rada somplak juga. Cuek, nekad bin sakarepe dewek! Wkkwwkk🤣🤣🤣🤣
Oke, kita intipin malam pertamanya Om Jaka sama Denaya besok yaa 😉😉😉
Eits, tinggalkan jejak dulu disini ya akak-akak kece semuanya….🤩🤩🤩
__ADS_1
Terima kasih🙏🙏😍😍
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘😘