
Pagi sekali Ramzi mengabarkan kalau dia akan mengajak Sofi mengunjungi dokter kandungan dan Ramzi sudah membuat janji dengan dokter sebelumnya.
“Pergilah, Nak. Laki-laki baik seperti Nak Ram sungguh tak ada duanya.” Nyonya Husein menatap wajah Sofi di pantulan cermin meja riasnya.
Sofi tak bergeming. Wajah cantiknya tak memancarkan gairah apapun. Dunia Sofi sebentar lagi akan runtuh, dan dia belum punya rencana apa-apa untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.
Menit demi menit berlalu, Sofi masih termangu di hadapan cermin dengan sang ibu yang duduk di bibir ranjang memandangnya sendu. Nyonya Husein bukan tak mengerti kegalauan yang dirasakan Sofi, tapi ia menganggap ini adalah keharusan yang dijalankan putrinya.
“Kak, Kak Ram sudah di depan.”
Suara Azad akhirnya menyadarkan Sofi dari lamunannya yang entah. Nyonya Husein segera mengajak Sofi keluar. Ternyata Ramzi menunggu di dalam mobil, hanya sopirnya yang turun untuk membukakan pintu mobil.
Ramzi sama sekali tak mengatakan apapun selama dalam perjalaln ke rumah sakit, itu membuat Sofi jengah.
“Kenapa Kak Ram mengajakku ke dokter kandungan?” Tanya Sofi tak bisa menahan rasa penasarannya.
“Memangnya kamu pikir kenapa?” Ramzi tak melihat Sofi sama sekali.
Sia-sia Sofi bertanya, dia diacuhkan. Sofi benci keadaan yang membuatnya seperti sekarang ini.
Mobil mewah Ramzi sampai di rumah sakit, sang sopir segera membukakan pintu untuk Sofi dan Ramzi.
“Ikuti saya.” Titah Ramzi pada Sofi.
Rumah sakit itu tak terlalu besar, jumlah pasien yang berkunjung pun tak begitu banyak, tak seperti rumah saki-rumah sakit besar lainnya yang selalu ramai pasien.
Ramzi menghampiri bagian pendaftaran, setelah berbicara sebentar dengan suster, Ramzi menuju ke suatu ruangan dengan mengikuti suster yag berjalan di depannya.
“Silakan, dokter sudah menungu Anda.” Ucap suster membukakan pintu untuk Ramzi setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dokter laki-laki berwajah datar berusia sekitar 50 tahunan duduk di kursinya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan menyambut Ramzi.
“Silakan duduk.” Dokter berwajah datar itu mempersilakan.
Sofi ragu menghempaskan pantatnya. Matanya memindai seisi ruangan. Ternyata walau rumah sakit ini tak terlalu besar, peralatan di ruang dokter kandungan ini cukup lengkap.
Ceklek
Suster yang tadi masuk lagi.
“Nyonya, silakan ikut suster untuk ditensi tekanan darahnya.” Ucap dokter yang walau berusaha berbicara ramah sama sekali terdengar aneh di telinga Sofi. Walau begitu, Sofi nurut juga.
Suster muda yang memeriksa Sofi cukup ramah, itu melegakan buat Sofi. Suster mengajaknya berbincang seputar kehamilannya, namun Sofi hanya menjawab alakadarnya karena melihat Ramzi sepertinya sedang membicarakan hal yang serius dengan dokter. Ruangan itu tak terlalu besar sebenarnya, namun karena Ramzi berbicara sangat pelan, Sofi tak dapat mendengarnya dengan jelas.
Tak lama dokter itu bangkit untuk memeriksa kandungan Sofi. Hasil USG menunjukkan perkembangan janin Sofi bagus meski berat janin masih dibawah rata-rata. Sofi berpikir, dokter kandungan di kampung Bu Een jauh lebih ramah daripada dokter yang berwajah datar ini.
Ini dokter apa setan sih? Serem amat. Batin Sofi.
“Kamu tunggu diluar, aku mau bicara dulu dengan dokter.” Ucap Ramzi seperti perintah yang tak boleh dibantah.
Meski ingin menolak, tapi buat apa juga dia berlama-lama di ruangan itu. Sofi pun keluar bersamaan dengan suster.
“Jadi seperti yang sudah saya katakan di telpon. Saya mau yang terbaik, dokter.” Ujar Mirza setelah mereka hanya tinggal berdua.
Dokter menghela napas kasar.
“Masalahnya ia punya sindrom yang mungkin membahayakan.”
“Anda kan dokter, saya akan bayar berapa pun asal anda professional.”
Ramzi merogoh sesuatu dari balik jasnya.
“Silakan tulis sendiri nominalnya.” Ramzi menyodorkan selembar cek kosong.
Dokter melihat sebentar pada Ramzi, lantas mengambil cek kosong itu.
“Saya akan lakukan yang terbaik.” Sahutnya yang lantas menuliskan resep untuk Sofi.
Ramzi menarik sudut bibirnya, ia tahu ia bisa membuat dokter itu melakukan apa yang dia inginkan.
“Usia kandungannya sebenarnya sudah di atas 12 minggu. Jadi saya berikan obat yang tak terlalu keras cara kerjanya, dan ini seharusnya tak berdampak pada sindrom yang dideritanya.” Tutur dokter setelah selesai dengan resepnya.
“Saya tak mau tahu soal itu, saya bukan dokter.” Ramzi acuh.
“Tapi ada baiknya Anda tau kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.”
Perbincangan itu terus bergulir untuk beberapa menit. Sofi menunggu di kursi pasien di depan ruang dokter kandungan itu.
Ngapain sih dia di dalem? Siapa yang hamil, siapa yang konsultasi coba? Dia mau sok-sokan jadi ayah yang baik buat bayiku? Ohh, tidak semudah itu Pulgoso! Kamu bukan siapa-siapanya anakku, jadi walau sudah menikahiku pun kamu nggak akan bisa sok jadi seorang ayah!
Sofi bermonolog sambil mengelus-elus perutnya sendiri.
Tanpa Sofi sadari seseorang di ujung koridor sedang memperhatikannya dan langsung mendekati ketika yakin dengan apa yang dlihatnya.
“Sofia?” Tegur seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan Sofi dari jauh.
Sofi mengangkat wajahnya dan terkejut dengan sosok yang berdiri di depannya.
“A Arumi?” Ucap Sofi tak percaya.
“Iya, ini aku. Gimana kabar kamu?” Tanpa canggung perempuan muda nan langsing dan glowing bernama Arumi itu langsung duduk di samping Sofi.
“Baik.” Sofi mengulas senyum samar. Dirinya tak menyangka akan bertemu Arumi teman baiknya di rumah sakit ini. “Kamu gimana kabarnya?”
“Aku baik juga.”
Arumi terlihat sangat senang bertemu Sofi, namun tak begitu dengan Sofi, apalagi ketika Arumi melihat ke papan di pintu ruangan depan Sofi yang bertuliskan “dr. Wirawan, Sp.OG”.
“Kamu sedang apa di sini?” Tanya Arumi sambil melihat sekilas pada perut Sofi.
“Aku lagi menunggu seseorang.” Sofi tau Arumi mulai curiga.
“Seseorang?”
Sofi mengangguk. “Kamu sendiri sedang apa disini?” Tanya Sofi untuk membuyarkan kecurigaan Arumi.
“Oh, nganter Papa terapi.”
“Papa kamu sakit?”
__ADS_1
“Iya.”
“Saki tapa?”
“Sakit tua, hahaha…” Arumi malah tertawa, lantas cepat-cepat menutup mulutnya karena ingat dia lagi di rumah sakit. “Eh, maksudku Papa mengalami gangguan di tulang belakang dan persendiannya. Makanya Papa lagi rutin terapi sama dokter ortopedi di sini.”
“Ohh…” Sofi manggut-manggut.
“Oh iya, gimana hubunganmu sama cowok bulemu itu? Si Hudson? Apa kalian bakal beneran nikah atau masih pacar kontrak, haha…”
Sofi mencubit lengan Arumi.
“Aww! Sakit, Sof!” Arumi meringis kaget mendapat cubitan dadakan.
“Pelankan suaramu.” Sofi agak berbisik.
Arum malah tengok kiri kanan.
"Kenapa? Nggak ada yang denger juga kok.” Ucap Arumi tanpa merasa bersalah. “Jadi gimana, kontraknya masih diperpanjang atau …”
“Kami sudah berakhir.” Ungkap Sofi lirih.
“Kalian putus? Kapan? Kenapa? Kok bisa?” Rentetan pertanyaan Arumi bikin Sofi jengkel.
“Kamu nanya apa ngintrogasi sih?”
“Dua-dunya, hehe …” Arumi malah nyengir.
“Kamu nggak sayang putus sama dia? Aku lihat dia romantis banget lho, aku pikir kalian bakal serius pacaran dan berlanjut ke pernikahan.” Arumi menyelidik.
“Hubungan kami kan hanya sebatas hubungan kerja, Mi.”
Arumi malah senyum-senyum. “Hubungan kerja kok sering nginep di hotel.”
Sofi mau nyubit lengan Arumi lagi tapi Arumi keburu menghindar.
“Kamu pikir aku bocah ingusan yang polos, Sof?” Arumi memutar bola matanya.
“Mi! aku bilang pelankan suaramu!” Sofi agak melotot karena Arumi comel banget. Memang dari dulu temannya yang satu ini keponya selangit, cerewetnya juga udah kayak mulut emak-emak satu kelurahan lagi.
“Eh, tapi aku masih sempet liat postingan dia di IG lho beberapa waktu lalu, kayaknya dia lagi di Bali. Aku pikir dia sama kamu.”
“Udah deh, nggak usah bahas dia lagi. Hanson udah nyakitin aku.” Sofi kesal.
“Oh, namanya udah ganti Hanson? Bukan Hudson ya?”
Sofi hanya melengos.
“Terus kamu udah nggak pergi pesiar lagi dong sama dia?”
“Udah ah, jangan bahas dia.” Sofi malas.
“Tapi aku masih penasaran. Secara kan kalian lengket banget, sampe melanglang buana berdua, foto mesra berdua, dia royal banget lho Sof. Aku masih ingat waktu dia beliin aku tas branded pas dia baru balik dari Jerman. Duuuh, kalo aku sih sayang banget ngelepas cowok sekeren itu, mana tajir lagi.” Arumi jadi merem melek sendiri ngebayangin si Hanson.
“Udah ngehalunya?” Cibir Sofi kesal.
“Belum.” Sahut Arumi cuek. “Aku sih biar disakitin juga pasti mau balikan sama dia lagi kalo belum abis uangnya aku porotin, hahaha….” Arumi ketawa lagi.
“Emangnya kamu nggak?” Balas Arumi keki.
Ceklek
Pintu ruang dokter terbuka. Ramzi keluar dari sana dan menatap datar pada Sofi dan Arumi.
“Ayo, pergi.” Ucap Ramzi melangkah terlebih dulu tanpa menunggu Sofi.
Arumi yang melihat tampang Ramzi kontan saja langsung berhenti dari kehaluannya tentang Hanson.
“Sof, siapa dia?” Tanya Arumi dengan wajah keponya.
Sofi tak menjawab, dia buru-buru mau nyusul Ramzi namun Arumi yang lagi pinisirin bingit menarik pergelangan tangan Sofi.
“Jadi setelah putus sama cowok bule, sekarang kamu pacaran sama raja minyak? Woow, emejing banget! Kamu luar biasa, Sof!” Arumi menatap Sofi penuh kekaguman.
“Terserah kamu deh.” Pungkas Sofi tak mau dengar kata-kata Arumi lagi, lantas dia menyusul langkah Ramzi yang hampir menghilang di belokan lorong rumah sakit.
___________
Gerimis baru saja usai, Via melihat ke halaman dari teras balkon kamarnya. Udara kampung Jati Asri terasa dingin karena gerimis yang turun sejak sebelum subuh tadi. Sepi, tak ada sekumpulan burung gereja yang biasa bercicit ria di atap balko kamar seperti hari-hari biasanya.
“Sayang, kita ke dokter yuk.” Suara Mirza sedikit mengejutkan Via.
Via meneoleh, “Mas apa ibu udah plang dari klinik?”
“Udah, tadi pagi.” Sahut Mirza.
“Gimana kalo kita ke rumah ibu?”
Mirza mengambil kedua pundak Via untuk melihat wajahnya lurus. “Kamu memang istri dan menantu yang sangat baik.”
“Mas, ibu itu nenek dari calon bayi kita. Aku yakin setelah anak kita lahir, ibu pasti akan bersikap lebih baik lagi padaku.”
Mirza mengelus perut Via yang masih rata, lalu berlutut dan berbicara pada perut Via seolah bayi yang masih dalam bentuk gumpalan darah itu bisa mendengarnya.
“Sayang, kamu sehat-sehat ya di dalam. Papa yakin setelah kehadiran kamu, nenek pasti akan sangat senang dan nggak jutek lagi sama Mama.”
“Ish, Mas!” Via mundur. “Jangan bilang yang jelek-jelek sama anak kita.” Via cemberut kesal pada MIrza. “Sayang, kamu jangan dengerin ayah ya, nenek nggak pernah jutek kok sama bunda, nenek cuman udah nggak sabar aja pingin punya cucu.” Ralat Via sambil berkata pada perutnya sendiri.
“Jadi manggilnya ayah bunda nih, bukan papa mama?” Mirza bangit dan mendekat.
“Heem, apa aja sih sebenernya. Yang penting bukan abi umi.”
“Kenapa emangnya kalo abi umi?” Mirza heran.
“Ya itu kalo Mas nikah sama Sofi panggilnya nanti anaknya abi umi.” Ledek Via.
“Ohh, kamu ya …” Mirza meraih Via dalam dekapannnya dan mau nyosor bibir Via yang udah asal ngomong itu, lalu tiba-tiba ….
TIIIIN …. TIIIN …
__ADS_1
Suara klakson motor yang terdengar serak mengurungkan niatan Mirza.
“Woy, ngapain kalian? Cepetan bukain pintunya?” Tia yang melihat aksi Mirza dan Via di teras balkon langsung berteriak dari halaman depan.
“Eh, Mbak!” Via melepas pelukan Mirza. “Iya, tunggu sebentar. Aku turun.”
Via bergegas keluar kamar dissul Mirza yang keheranan kenapa kakak iparnya itu tiba-tiba nongol.
“Sayang, Mbak Tia ngapain ke sini?” Tanya Mirza sambil menuruni undakan Tangga.
Spontan Via menghentikan langkahnya, melihat suaminya.
“Mbak Tia mau gangguin kita biar kamu nggak jadi nyium aku.”
“Eh, aku serius!” Mirza penasaran.
Via tersenyum demi melihat raut suaminya yang memang sangat serius.
“Emangnya orang mau main nggak boleh?”
“Boleh kok.”
“Ya udah, terus?”
“Emm, Mbak Tia nggak bakal nginep disini tapi kan?”
“Kok kamu nanya gitu sih, Mas?”
“Ya soalnya nanti kita …”
TIIIN …. TIIN …
Suara klakson motor bebek Tia yang serak bin sember kembali terdengar dari halaman depan.
“Mbak Tia cuman mau anterin pesanan kue aku, Mas. Udah ah, pasti otak Mas mesum kan pikirannya?” Tuduh Via lantas buru-buru meninggalkan Mirza.
“Lama banget sih Vi, cuman mau bukain pintu aja?” Tia agak kesal juga. “Ini bantuin!” Pinta Tia yang kesusahan turun dari motor karena megangin wadah kue-kue ditangannya.
“Motornya diminumin obat batuk dong, Mbak. Kasian ampe serak begitu bunyi klaksonnya.” Ucap Mirza yang datang belakangan.
"Nggak obat cacing aja sekalian? Biar berubah jadi motornya Valentino Rosi?” Sahut Tia acuh.
Mirza malah nyengir, ternyata bisa juga kakak iparnya yang biasanya pendiam itu becanda.
“Ini, bantuin! Malah cengar-cengir lagi.” Tia memberikan beberapa box kue pada Mirza. “Mau buat acara apaan sih, pesen kue ampe banyak banget gini? Ngerjain orang aja kamu, Vi. Mbak sampe lembur tau, untung Mas Arya bantuin!” Tia ngedumel heran.
Via cuman senyum.
“Iya sayang, kue banyak gini buat kamu apain?” Mirza ikutan nanya.
“Kan mau nengokon ibu, Mas.” Sahut Via kalem. “Nih, aku pesen puding buah sama brownis kukus kesukaan ibu. Terus juga ada pie apel, bolu gulung sama bolu pandan juga.”
“Perasaan kamu baru bilang tadi mau jengukin ibu, sayang?” Mirza jadi heran pada istrinya.
“Semalem dia nelpon aku, Za. Untung aja masih ada persediaan stok bahan di rumah. Niat banget kan istrimu ini ngerjain aku demi bahagiain ibu mertuanya.” Tia tersenyum masam.
“Ya ampun, maksih ya sayang.” Ucap Mirza tulus.
Cup!
Satu kecupan langsung didaratkan di kening Via. Walau tangan kiri kanan Mirza kerepotan membawa kotak kue, masih sempet-sempetnya dia nyum judat Via.
“Udah deh, nggak usah sok romantis gitu. Bayar dulu nih kuenya.” Tia keki melihat kelakuan adik iparnya.
“Oh, iya. Maaf, Mbak.” Via merogoh saku dressnya. “Ini, kembaliannya ambil aja biat Ica ya Mbak.” Ucap Via memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.
“Oke, maksaih ya, Vi. Mbak mau buru-buru ke sekolah nih, udah telat mau ngajar.” Tia segera kembali pada sepeda motor bebeknya.
“Makasih ya, Mbak.” Ucap Via dan Mirza hampir berbarengan.
Speninggal Tia, Mirza pun langsung mengeluarkan mobil dari garasi untuk menuruti kemauan istri tercintanya jenguk Bu Een. Meski hatinya masih sedikit kesal akibat pertengkaran kecil semalam, namun Mirza mau juga nemuin ibunya demi Via yang selalu berbaik sangka pada ibunya. Lagipula Mirza tak menceritakan kejadian semalam pada Via.
Keadaan Bu Een yang sudah kembali vit membuatnya hari ini tetep buka toko. Udin diwanti-wanti Om Jaka agar memperhatikan Bu Een tetep harus minum obat meskipun merasa sudah baikan, sementara Om Jaka sendiri mau pergi karena ada urusan.
“Sok sibuk banget sih kamu, Jak!” Ujar Bu Een yang baru keluar rumah dan melihat Om Jaka lagi siap-siap mau berangkat.
“Emangnya kenapa, Yu? Sampean pingin gue temenin lagi? Kayak anak orok aja, kan udah ada si Udin!” Jawab Om Jaka.
“Bukan begitu, kamu kok tumben sok-sokan ada urusan segala? Emangnya mau kemana sih?” Bu Een penasarn juga.
“Mau tau aja apa ma tau banget nih?” Om Jaka malah menggoda Kakaknya sambil nyengir jahil.
“Huh! Sok penting, paling juga mau ke rumah MIiza!” Bu Een monyong sambil ngeloyor menju toko.
Om Jaka malah nyengir lebar lantas segera masuk mobil dan berlalu.
“Din, belanjaan kemarin udah selesai kamu tata semua di rak?” Tanya Bu Een pada Udin yang lagi ngelap etalase toko.
“Udah, Bu.”
Bu Een baru aja mau masuk toko ketika tiba-tiba dia melihat dua orang yang dikenalnya melintas sambil mlipir-mlipir pinggir jalan ketika melewati tokonya.
“Eh, 2R! Sini kalian!” Teriak Bu Een pada dua orang yang hampir jauh dari tokonya.
Yang dipanggil 2R langsung nengok, tapi langsung buru-buru mengambil langkah seribu demi melihat wajah galak Bu Een.
“Rokayah! Rodiyah! Jngan lari kalian, Hoy…!” Bu Een berteriak sambil berkacak pinggang menahan emosi yang tak tersampaikan.
_____________
Waduhhh, 2R mau diamuk tuh sama Bu Een, makanya buru-buru lari…🤣🤣🤣🤣
Kita jeda dulu ya, Kak…😊
Ikutin terus kelanjutannya ya, Kak.😉😉
Makasih akak reders dan akak author yang sudah setia support author.🙏🙏🙏😍😍😍
Jangan lupa tinggalkan jejajk kalian ya🤩🤩🤩
__ADS_1
Luv u all🤗🤗😘😘