
Semenjak ada Jumilah yang merawat Bu Een, Mirza jarang sekali pulang ke rumah. Ia lebih sering bermalam di tempatnya bekerja. Apotik dokter Burhan, sebuah bangunan berlantai dua bersebelahan dengan bangunan klinik memang terdapat kamar tidur di lantai atasnya. Mirza menghabiskan malam-malam sepinya di sana, ia enggan pulang ke rumah karena pikirannya akan tiba-tiba konslet jika bertemu dengan sang ibu dengan segudang ocehan-ocehannya.
“Za?” satu teguran sedikit mengejutkan Mirza yang tengah berada di depan layar laptop. “Jadi elu ngekos disini rupanya?” mendorong pintu kamar untuk membukanya lebih lebar.
“Om tau dari mana aku disini?” meninggalkan laptopnya menuju sofa di pojok ruangan.
“Tau dari google,” sahut Om Jaka menghempaskan bokongnya di samping sang keponakan.
Mengambil bungkus rokok di atas meja, “pinter juga google bisa tau keberadaanku,” membakar rokok putih diantara celah jari telujuknya, asapnya mengepul ke atas.
“Google kan emang serba tau,”
“Ada keperluan apa Om Jaka nyariin aku?”
“Kagak usah GR lu, gue tadi iseng aja nanya sama temen elu di bawah pas lagi beli obat buat Ayah.”
“Emang apotiknya belum tutup ya?” menghisap dalam rokoknya.
“Udah, tapi gue maksa nyuruh temen elu buka lagi.”
“Dasar tukang maksa!”
“Daripada elu tukang lari dari masalah!” Balas Om Jaka. “Harusnya elu kelarin masalah dengan bini elu, bukannya malah ngumpet disini,” menepuk pundak Mirza.
“Apanya lagi yang mau dikelarin? Via memang maunya begitu.” Menyandarkan punggungnya, tubuhnya sedikit merosot malas, tatapannya lurus pada langit-langit kamar.
“Elu percaya bini elu selinguh sama si Danar?” menatap Mirza yang hanya kemudian hanya menjawab dengan mengedikkan bahu.
“Kalo aku nggak percaya apa terus Via membatalkan keinginannya untuk pisah sama aku?” menoleh pada Om Jaka.
“Yang pingin kalian pisah kan emak elu, bukan Via?”
Menarik sudut bibirnya ke atas, “sama aja,” nyatanya mereka sama-sama menginginkan aku jadi duda.”
“Payah lu”
Mirza cuek, kembali menghisap rokoknya. Ruangan berukuran kira-kira 5x6 meter itu kini sudah dipenuhi aroma nikotin sepenuhya.
Om Jaka sebenarnya `tak tega dengan keadaan sang keponakan, andai saja ia tak ingat dengan ancaman Denaya yang akan membiarkannya merana selama 40 hari 40 malam tidur di luar kamar jika memebeberkan drama settingan perselingkuhan antara Via dan Danar, Om Jaka pasti sudah menceritakan kebenaran tentang hubungan mereka. Namun atas nama kepatuhan terhadap sang istri, Om Jaka memilih diam, meski hatinya kasihan pada Mirza.
Alhasil mereka hanya saling tenggelam dalam benak masing-masing sampai Mirza mematikan puntung rokoknya ke dalam asbak keramik di depannya.
“Pulang sana Om, aku mau istirahat.”
“Lu ngusir gue?”
“Iya,” bangkit dan melangkah untuk men-shut down laptopnya yang masih menyala.
“Dasar keponakan nggak ada ahlak lu!”
“Katanya tadi disuruh cari obat buat Pak Haji? Ya buruan balik, ntar ditungguin lho.”
“Bilang aja lu kagak suka gue disini,” bangkit dengan sebal, besok gue mampir lagi.” Pergi meninggalkan Mirza.
Tak menanggapi sang paman, Mirza meraih gawainya di samping laptop yang dalam mode silent. Sempat ragu menatap nomor sang istri, hati kecilnya ingin sekali menelpon sekedar menanyakan kabar. Namun berkaca pada hari-hari yang telah lewat, Via tak pernah mau menerima telpon darinya dan tak juga membalas pesannya sejak pertengkaran di malam hujan lebat itu.
Mirza mendesah berat, kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa letih. Perlahan kedua matanya mulai terkatup, diantara lelah batin dan jiwanya, Mirza menyongsong alam mimpinya.
Di tempat lain, dalam keremangan lampu tidur, Via merasakan mulas pada perutnya. Nyeri itu hilang, beberapa saat kemudian terasa kembali. Sempat khawatir akan keadaan dirinya, apakah ini waktunya melahirkan? Via mengingat HPL-nya yang masih dua minggu lagi. Mungkin ini kontraksi palsu, pikir Via. Ia pun mencoba mengistirahatkan dirinya, namun ketika hampir tengah malam mulas itu kembali datang.
“Ssshh,” menahan nyeri pada perut bagian bawahnya, Via bangkit perlahan. Berjalan mengitari kamar dengan langkah pelannya, ia pernah membaca sebuah artikel tentang persiapan persalinan bahwa semakin banyak bergerak semakin cepat proses pembukaan pada mulut rahimnya. Dengan berpegangan pada dinding ia menuju kamar Tia, diketuknya perlahan daun pintu disertai panggilan pelan. Setelah menunggu beberapa saat, muka bantal Tia muncul dari balik pintu.
“Ada apa, Vi?” bertanya heran melihat wajah adiknya seperti meringis menahan sakit.
__ADS_1
“Perutku mules, Mbak.”
“Kamu mau melahirkan?” Pekik Tia tertahan, “Ya ampun, ayok kita ke rumah sakit. Ini pasti udah waktunya,”seketika rasa kantuk sirna dari wajah Tia, dia segera mencari hijabnya. “Tapi Mas Arya kan nggak ada, gimana kita ke rumah sakitnya?” mendadak bingung.
“Ssssh, emph ….” Rasa sakit semakin meremas Rahim Via.
“Sabar Vi, sabar ya. aku telpon Mas Arya dulu," berlari masuk kamar mencari ponselnya.
Dengan menahan mulasnya Via mendudukan diri di ruang tengah, mulas itu kini mulai reda.
“Ponselnya nggak aktif. Aduh, gimana ini ya?” muncul dengan wajah panik. “Apa kita naik ojek aja? Atau kamu masih bisa nyetir mobil? Ah, nggak, nggak. Itu terlalu berbaya,” membantah idenya sendiri.
“Aku udah nggak mules lagi kok Mbak,” berujar dengan wajah letihnya.
“Beneran?” duduk di samping Via dengan sedikit lega.
“Tapi aku harus tetep hubungi Mas Arya, takut nanti kamu mules lagi Ica nggak ada yang jagain disini,” coba mendial nomor telpon Arya kembali namun tetap jawaban Mbak operator yang didapatinya. “Hish! Mas Arya pasti lupa ngecass HPnya,” gemas pada sifat suaminya yang pelupa. “Oh iya, Riri!” teringat pada adik bungsunya.
Secepat kilat mencari nomor ponsel Riri dan segera menghubunginya.
“Halo … “suara serak Riri menyapa.
“Ri, kamu udah tidur?”
“Emh, siapa nih?” mata Riri belum sepenuhnya melek, ia terbangun karena getar ponselnya tepat di sebelah bantalnya.
“Ini Mbak Tia. Kamu bisa kesini sekarang kan, Via mau melahirkan.”
“Apa?” mata yang semula bagaikan rekat oleh lem tikus seketika terbelalak demi mendengar kabar yang disampaikan sang kakak sulung. “Mbak Via mau ngelahirin?”
“Iya, kamu cepetan kesini sekarang bisa kan?”
“Bisa, bisa Mbak. Sebentar ya, aku bangunin ibu dulu,” meloncat dari ranjang untuk memburu hendel pintu, namun kemudian teringat sesuatu. “Astaga! Jam segini aku mana berani ke kota naik motor Mbak?” menepuk jidanya sendiri begitu sadar ini sudah hampir tengah malam.
“Oh iya, iya. Ya udah, aku hubungi Toni dulu ya Mbak, bye!” Riri segera memutuskan sambungan.
Diliriknya Via yang nampak terpejam menyandarkan kepalanya di sofa, Tia lega. Lantas dia berinisiatif menyiapkan segala keperluan melahirkan untuk Via. Belum sampai sepuluh menit, Tia kembali mendengar Via merintih kesakitan.
“Aaawh…, Mbak ….!”
Berlari keluar kamar Via, “iya Vi, Mbak disini. Kamu mules lagi ya?”
Mengangguk dengan menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
“Sabar ya, Riri sama Toni sebentar lagi kesini.”
“Sssshhh, awwwh …..” merintih memejamkan matanya membuat Tia ikut merasakan mulas.
Segera merogoh ponsel dalam saku dasternya. “Ri, udah nyampe mana?”
“Masih di rumah Mbak, Toni baru mau kesini.”
“Ya ampun, lama banget sih? Ini Via udah mules lagi. Kalo sampe ngelahirin di rumah gimana coba? Mbak nggak ngerti harus gimana, khawatir banget ini. Mana Mas Arya lagi nggak tidur disini lagi. Kamu suruh Toni cepetan dong!” terus mengomel karena panik.
“Ini juga udah aku suruh cepet Mbak …”
“Tia, emang Mirza kemana? Dia ada di rumah kan?” Bu Harni tau-tau nyerobot HP Riri.
Tia terdiam, nggak tau mau jawab apa. Ibunya memang belum diberi tau saol kemelut rumah tangga yang dihadapi Via.
“Tia?” Tegur Bu Harni lebih keras.
“Emh, Mirza –, dia belum pulang Bu.”
__ADS_1
“Jam segini dia belum pulang? Emang dia lagi kerja atau apa?” terdengar kesal.
“Ya udah, aku coba hubungi Mirza lagi ya Bu. tadi belum nyambung.”
KLIK!
Tia buru-buru mengakhiri sambungan sebelum ibunya bertanya lebih banyak lagi. Tia terdiam dalam kebingungan, apakah dia harus mengabari Mirza atau tidak? Tia memang tidak pro dengan adik iparnya yang dinilai labil itu, namun jika ia tak mengabarinya tentu saja dia akan disalahkan. Bagaimana pun juga kan Via dan Mirza masih terikat hubungan pernikahan.
Dengan berat hati Tia coba menghubungi Mirza. beberapa saat menunggu hanya terdengar nada sambung. Tia tak tau Mirza sudah terelelap dengan ponsel dalam mode silent di atas mejanya. Tak putus asa,Tia mencoba mengubungi sekali lagi, namun baru di nada sambung kedua Via sudah kembali meringis kesakitan dengan meremas lengan Tia.
“Aaawhhh, Mbak ….!” Rintih Via menahan mulas yang kembali menyerangnya. “Emmmph, perut aku Mbak ….”
“Sabar ya, kamu istighfar. Perbanyak menyebut asma Allah, Astaghfirullahaladziim …” Tia membimbng Via dengan mengelus kepala sang adik coba memberinya kekuatan. Tia coba mentransfer pikiran positif meski dirinya sebenarnya juga diliputi kepanikan yang semakin meraja, namun ia berusaha tetap tenang di depan Via.
Kenapa saat genting seperti ini semua orang susah dihubungi sih? Membatin kesal.
Tuwiwiw
Ponsel Tia berbunyi, segera ia menyambarnya dari atas meja.
“Ya, Ri? Nyampe mana?”
“Mbak, Toni lagi jalan kesini tapi ban motornya bocor, jadi –“
“Astaghfirulllah…., ada-ada aja sih?” pangakas Tia semakin gemas dnegan keadaan.
“Mirza gimana, Tia? Dia udah bisa dihubungi?” Bu Harni kembali menyerobot.
“B-belum, Bu,” sahut Tia agak tergagap.
“Ya ampun! Gimana sih itu anak? Udah tau istrinya hamil besar, malah tengah malam begini belum pulang! Jangan-jangan dia lagi nina boboin si tua bangka Endang Surendang!”
“Mbak, coba hubungi Om Jaka atau Mas Danar!” Riri merebut ponselnya untuk mengehentikan ibunya yang mualai mengomel.
“Oh, iya Ri. Ya udah, Mbak coba hubungi mereka dulu ya.”
“Aaawwwh, ssshh ….”
“Vi, sabar ya … kamu pasti kuat,” jemari Tia mencari nomor Om Jaka dengan cepat. “Ah, ngggak. Kalo Om Jaka pasti kelamaan nayampe sini, Via udah nggak tahan kayaknya,” mengurungkan niatnya, lantas mencari nomor Danar.
Danar yang baru saja bersiap akan menutup kedainya cukup terkejut kenapa Tia menghubunginya tengah malam begini.
“Halo, Mbak.”
“Danar, kamu dimana? Kamu bisa ke rumah Via sekarang nggak? Mbak minta tolong aterin Via ke rumah sakit ya? Via mau ngelahirin nih, Mas Arya kebetulan lagi nggak disini. Kamu bisa kan kesini sekarang?” renteten pertanyaan itu diucapakan Tia hanya dalam satu kali tarikan napas.
Loading beberapa saat, karena kalimat Tia itu meluncur sangat cepat bagaian roket.
❤️
❤️❤️❤️❤️
Cuss …. Mas Danar buruan anterin Via ya…😊😊
Terima kasih sudah sabar menunggu kelanjutannya ya readers,🙏🙏
Like 😘
Komen❤️
Dan vote mingguannya boleh kasihin othor awut-awutan ini biar tambah semangat ya…😍😍
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1