TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
84 #MENJENGUK


__ADS_3

Bu Een melangkah kesal ke singgasananya di balik meja kasir, Udin yang melihat raut jengkel majikannya tak berani bertanya macam-macam. Dalam pikirannya pastilah Bi Rokayah dan Bi Rodiyah itu sudah berulah sehingga membuat murka Bu Een. Namun begitu Udin mencoba melihat ke jalanan apakah 2R itu sudah benar-benar pergi, ternyata benar tak ada siapa-siapa.


Mobil Mirza melaju pelan memasuki halaman rumah Bu Een dari arah lain. Mirza dan Via turun dengan membawa aneka kue kesukaan Bu Een.


“Din, Ibu ada di dalam?” Tanya Mirza pada Udin.


Udin hanya menunjuk dengan jempol kanannya ke dalam toko. Mirza pun melangkahkan kaki ke toko diikuti Via.


“Bu, ibu udah sehat? Kok tokonya udah buka?” Tegur Mirza yang melihat ibunya sandaran di kursi singgasananya dengan wajah acakadut.


“Tadi sih udah, sekarang sakit lagi. Sakit mangkel!” Sahut Bu Een dengan kesal yang tak bisa disembunyikannya.


“Kok sakit mangkel?” Mirza heran.


“Iya, gara-gara Om kamu yang somplak itu!”


Mirza hanya mengehela napas tak mau bertanya lebih jauh demi melihat ekspresi wajah ibunya yang nggak karu-karuan, ia bertukar pandang dengan Via.


“Ya udah, ini ada kue kesukaan ibu. Kita makan sama-sama di dalem yuk, Bu.” Ajak Mirza.


Meski dengan cemberut, Bu Een mau juga masuk. Mereka duduk di ruang tengah.


“Lho, puding buahnya mana Mas?” Tanya Via yang tak mendapati puding diantara kue yang dibawanya.


“Oh, paling ketinggalan di mobil. Biar aku aja yang ambilin, sayang.” Mirza segera keluar.


Tinggallah Via berdua dengan Bu Een yang masih dengan sisa kejengkelannya.


“Aku ambilin piring dulu ya, Bu?” Baru saja Via akan beranjak ke dapur untuk mengambil piring namun perkataan Bu Een menahannya.


“Nggak usah, saya belum mau makan kuenya.”


Via mengurungkan niatnya, lantas kembali duduk.


“Kamu beneran hamil?” Tanya Bu Een tajam tanpa tadeng aling-aling.


Via tak langsung menjawab. Semalam ibu mertuanya sudah menanyakan hal itu, kenapa sekarang masih juga masih menanyakan hal yang sama? Apa segitu nggak yakinnya ibu mertuanya itu pada dirinya hingga harus menanyakan tentang kehamilan itu sampai berulang kali?


“Kenapa diam? Pasti ini cuman akal-akalan kamu aja kan biar Mirza nggak jadi nikahin Sofi?”


WHAAT??


Sofi ternganga mendengar tuduhan semena-mena dari sang ibu mertua. Tega nian ibu mertuanya itu melontarkan sangkaan yang tak berperasaan seperti itu.


“Maksud ibu, aku berbohong?” Lirih Via dengan mata tak percaya.


“Bisa saja, kan?” Desak Bu Een dengan sudut bibir atas mengukir senyum sinis. “Kamu selama ini terus mempengaruhi Mirza agar tak menghiraukan Sofi dan juga membantah perintah saya yang jelas-jelas ibu kandungnya.”


“Bu, aku nggak pernah mempengaruhi Mas Mirza sama sekali.”


“Nggak usah membela diri! Kamu itu sok manis di depan Mirza, padahal dibelakang punya niat terselubung.”


Via tercekat mendengar semua perkataan sang ibu mertua, ternyata seburuk itu dirinya di mata ibu mertuanya selaman ini.


“Harusnya kamu tau diri ketika suamimu bisa membuat perempuan lain hamil sedangkan denganmmu yang sudah bertahun-tahun menikah masih juga belum hamil. Dan sekarang tiba-tiba kamu ngaku-ngaku ikutan hamil.”

__ADS_1


“Aku nggak memaksa ibu untuk mempercayai kehamilanku.” Ucap Via dengan rasa sakit yang tertahan.


“Karena saya memang nggak mau mempercayainya! Kamu harusnya menyerah dari awal, dari sejak saya menentang hubungan kalian dulu. Bukannya terus merayu Mirza untuk membangkang pada ibunya sendiri. Dasar wanita matre, mata duitan!”


Seketika Via terbelalak dengan tuduhan bertubi-tubi yang dialamatkan pada dirinya. Rasa sakitnya tak terperi, mulut jahat ibu mertuanya telah menorehkan luka sayatan yang begitu dalam pada hatinya, Via masih menahan diri untuk tak emosi meski air mata sudah menggenang di kedua pelupuk natranya.


“Jangan kamu pikir saya nggak bisa mencium akal busukmu, saya selama ini diam bukan berarti menyerah. Saya tau akan ada saatnya untuk memisahkan kamu dari Mirza, dan inilah saatnya yang tepat. Kamu nggak akan bisa lagi mengahalangi saya.”


“Jadi ibu menginginkan aku pisah sama Mas Mirza?” Pertanyaan Via lolos begitu saja demi mendengar pengakuan sang ibu mertua.


“Iya! Kamu kaget? Jangan mimpi kamu mendapatkan harta Mirza ya, selama saya masih ada kamu nggak akan dapat apa-apa! Saya tau isi kepala kamu, niat kamu nikah sam Mirza dari awal memang karena menginginkan hartanya kan? Perempuan dari keluarga pas-pasan kayak kamu apalagi tujuannya menikah dengan laki-laki kaya jika bukan harta tujuannya?” Bu Een menyeringai puas melihat Via yang sudah tak bisa lagi menahan air matanya.


“Ibu dan anak sama saja. Sama-sama mata duitan!" Lanjut Bu Een. "Ibumu juga dulu nikah sama bapakmu karena mengira bapakmu itu banyak uangnya daripada pacarnya yang preman stasiun. Hah, nyatanya bapakmu cuman pegaiwai sipil rendahan yang gajinya tak seberapa! Kasihan sekali nasib ibumu yang matre itu, dia terobsesi jadi orang kaya, sampai-sampai memanfaatkan anaknya demi mewujudkan obsesinya itu.”


“Cuku, Bu!” Ucap Via dengan wajah ditegakkan dan mata yang diberanikan menatap kepongahan sang ibu mertua. “Ibu boleh menuduh dan menghina aku seperti apapun, sesuka ibu. Tapi jangan hina orang tuaku!”


“Kenapa memangnya? Memang begitu kok kenyatannya?” Bu Een melihat Via kali ini dengan pandangan meremehkan. “Bapakmu itu gajinya bahkan nggak lebih besar dari gaji harian Mirza kerja di kapal pesiar, dia cuman pegawai sipil pangkat rendahan, sampai tua dan pensiun pun tak juga naik pangkat sampai ibumu gelap mata memanfaatkanmu untuk menguras harta Mirza.”


“Ibu sudah keterlaluan. Jangan bawa-bawa ayah yang sudah tenang di alamnya. Dan seperti apapun keadaan ayah semasa hidupnya, dia adalah orang yang baik dan bertanggung jawab.” Via sudah tak bisa menahan diri lagi, matanya memanas, tubuhnya bergetar. “Dan satu lagi, ibuku sama sekali nggak pernah memanfaatkan aku karena tahu aku dan Mas Mirza saling mencintai.”


“Cinta harta kan?" Cibir Bu Een sengit. "Ya iya lah, wong keluargamu itu cuman punya sawah dua petak, sedangkan saya kaya raya, paling kaya di kampung ini! Sebaiknya kamu cepat menyingkir dari hidup Mirza, dasar anak janda sawah dua petak! Pingin hidup enak dengan hanya menadahkan tangan pada Mirza, bener-bener nggak modal! ”


Tak ada kata-kata lagi yang dapat diucapkan Via, dia langsung berlari keluar dengan berurai air mata sementar Bu Een tersenyum puas karena telah berhasil mengatakan hal-hal yang menyakitkan pada menantunya.


Mirza yang sedang ngobrol dengan Udin terkejut melihat istrinya keluar rumah sambil menangis. Mirza rupanya sengaja tak segera masuk setelah mengambil puding karena ingin membarkan Via dan ibunya ngobrol dulu, tapi nggak taunya malah terjadi hal yang tak pernah terpikirkan olehnya. Mirza segera menghampiri Via.


“Sayang, kamu kenapa?” Tanya Mirza penuh kekhawatiran.


“Aku mau pulang.” Ucap Via disela isaknya.


“Iya, tapi kenapa kamu menangis?”


“Din, antar aku pulang sekarang.” Ucap Via pada Udin yang melongo melihat Via menangis.


“Emh …” Udin gelagapan keder.


“Cepeten anterin aku, Din!” Via memaksa.


“Tunggu dulu, sayang.” Mirza coba menengankan Via. “Kita pulang sama-sama ya.”


“Aku nggak mau pulang sama kamu!” Hardik Via penuh amarah.


Maklumin ya, soalnya Via udah kadung emosi karena Bu Een tadi, sampe Mirza yang nggak tau apa-apa kena semprot juga.


Untuk menghidari perdebatan, Mirza memberikan kunci mobilnya pada Udin. Sedangkan dia sendiri masuk untuk menemui ibunya yang sedang duduk bersantai ria seperti tak pernah terjadi apa-apa.


“Bu, apa yang ibu katakana sama Via? Kenapa Via menangis?” Todong Mirza langsung pada ibunya.


“Apa maksudmu? Ibu nggak bilang apa-apa sama istrimu.” Jawab Bu Een tanpa dosa.


“Nggak mungkin kalo ibu nggak ngomong apa-apa tapi Via nangis keluar dari sini.” Mirza sangsi dengan pengakuan ibunya.


“Kamu itu kenapa sih, Za? Nggak percayaan banget sama ibu?” Suara Bu Een meninggi.


“Ibu yang kenapa" Balas Mirza. "Kenapa ibu bikin Via nangis? Apa salah Via sama ibu? Via itu baik dan perhatian sama ibu. Dia masih mau jengukin ibu meski semalam ibu sempat sinis sama dia, dan sekarang ibu bikin ulah lagi. Ibu pasti nyakitin Via, kan?”

__ADS_1


“Via, Via, Via terus yang kamu peduliin! Kamu nggak peduliin ibu? Ibu ini ibu kandungmu, Za! Ibu yang udah ngelahirin dan membesarkan kamu, sedangkan dia cuman istri kamu! Kewajiban kamu untuk patuh pada ibu jauh lebih utama daripada ke istri kamu!” Ucap Bu Een sambil semangat menggerak-gerakkan tangannya mirip orang lagi berdeklamasi.


Bu Een coba menggunakan posisi dirinya sebagai seorang ibu untuk melemahkan hati Mirza.


“Aku tahu, Bu. Memangnya kurang patuh apa selama ini sama ibu? Sayang aku pada ibu nggak berkurang dari dulu sampai sekarang. Ibu selalu jadi proritas utama buat aku." Kalimat demi kalimat Mirza penuh penekanan menandakan kesungguhan hatinya yang tak main-main.


"Dan beruntungnya Via istri yang baik, dia nggak pernah mempermasalahkan itu. Tapi apa? Ibu justru terus-terusan nyakitin Via, ibu nggak pernah menerima Via sepenuhnya, aku tau itu Bu. Aku tahu, tapi aku diam karena Via yang terus meyakinkan aku bahwa ibu suatu hari pasti bisa menerima dia.” Mirza tak bisa mengendalikan perasaannya, dia habis akal untuk berkata apa lagi pada ibunya.


Bu Een diam, entah memikirkan perkataan Mirza atau sibuk dengan pikirannya sendiri untuk mengambil ancang-ancang apa selanjutnya.


“Kalau ibu begini terus, ibu sudah menjadi duri dalam pernikahanku.” Lirih Mirza.


“Tega kamu bilang begitu sama ibu, Za.” Bu Een memandang putranya dengan mimik wajah dibuat sesendu mungkin. “Ibu hanya ingin melindungimu dari istrimu dan keluarganya yang akan merongrong hartamu, itu saja.”


“Jadi ini soal harta?” Sinis MIrza.


“Iya, apalagi memangnya? Dia dan keluarganya pasti mengincar hartamu, lihat saja kelakuan …”


“Cukup, Bu. Jangan diperpanjang lagi. Jika memang semua ini karena kekhawatiran ibu soal harta, mulai saat ini aku serahkan semua yang aku punya pada ibu. Semua surat-surat tanah, rumah, mobil dan semuanya punya ibu sekarang. Dan ibu akan lihat apakah Via masih tetap setia bersamaku atau tidak setelah aku tak punya apa-apa.” Tandas Mirza lantas segera melangkah pergi.


“Tunggu, Za!” Bu Een mengejar langkah Mirza.


“Apa lagi, Bu?”


“Ibu tak bermaksud begitu. Ibu hanya …”


“Sudah, Bu. Jangan bicara lagi, aku mohon.” Pinta Mirza masih berusaha sabar. “Aku lelah dengan semua ini. Aku ingin hidup bahagia dengan Via, dan sebentar lagi dengan anak kami yang akan lahir. Aku akan memulainya dengan Via dari awal tanpa apa-apa.”


Bu Een seketika disergap rasa bersalah, sungguh bukan ini akhir yang dia inginkan. Putranya akan benar-benar tak peduli lagi padanya, dan mungkin akan meninggalkannya karena lebih memilih hidup dengan istrinya. Bu Een galau, hatinya kacau. Kenapa semuanya jadi runyam tak seperti yang ia harapkan.


“Janga pergi dulu, Za. Temani ibu makan kue dulu.” Akhirnya permintaan konyol itu yang keluar dari mulut Bu Een.


Mirza sama sekali tak menjawab, ia berpaling dan mempercepat langkahnya keluar rumah meninggalkan ibunya yang terduduk lemas kambali pada sofa ruang tengah merutuki kebodohanya sendiri.


Mirza segera menyambar kunci motor di meja kasir dan pergi menyusul Via pulang.


_____________


Hai, akak semua ….☺️☺️☺️ Maaf ya upnya pendek kali ini😂


Ngeburu waktu nih 😅😅


Gimana, udah pada emosi belum sama Bu Een? Hehe…😁😁🤭🤭


Tungguin bab selanjutnya ya..😉😉


Kira-kira Mirza beneran nggak ya bakal ngasihin semua hartanya ke ibunya?🤔🤔🤔


Terus, Bu Een beneran nyesel dan minta maaf nggak yaa…🙄🙄


Eh iya, besok Sofi sama Ramzi mau nikahan lho…😂😂😂


Ada yang mau dateng nggak nih kodangan ke nikahannya Sofi sama raja minyak, wkwkwk…🤣🤣🤣🤣


Maksih ya akak readers tercinta dan akak author tersayang udah support Via ❤️ Mirza sampai sejauh ini 🙏🙏🙏

__ADS_1


Jangn lupa tinggalkan jejak kalian ya…🤩🤩🤩


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2