TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
134 #KE-GAP


__ADS_3

Waktu terus berjalan, masa trining Danar dianggap lulus oleh Bu Elin. Danar sekarang berkantor di gedung yang sama dengan Bu Elin, hanya terpisah lantai saja, Danar berada di lantai empat bersama beberapa staf  bawahannya termasuk Via. Meski Danar jarang nongol disana karena kesibukannya sebagai manager hotel yang mengharuskannya lebih sering berada di hotel keluarganya, namun itu tak ayal membuat Via was-was juga. Via masih ingat pesan Denaya ketika berkunjung ke rumahnya tempo hari.


“Kamu harus perbanyak istighfar, Vi. Tundukkan pandanganmu, cowok kayak Danar pasti dapat dengan mudah meluluhkan hati setiap perempuan, termasuk perempuan bersuami. Apalagi kamu bakalan sering sama dia.” Denaya terlihat bersungguh-sungguh saat itu.


“Apa kamu juga termasuk , Dena?”


“Hush! Aku kan suaminya stand bay, kalo kamu kan lagi LDR an!


Via hanya tersenyum menanggapinya meski dalam hatinya membenarkan juga perkataan Denaya itu.


“Via kita makan, yuk!” Ajak Milen teman kerja Via ketika jam makan siang.


“Duluan aja deh.” Sahut Via yang masih beres-beres.


“Kamu nggak makan siang?”


“Belum laper.” Via tersenyum lebar.


“Ya udah, aku duluan ya kalo gitu.” Milen pun pergi bersama beberapa karyawan lain.


Sebenarnya bukan karena belum lapar tapi Via sengaja ingin menelpon Mirza karena dari kemarin Mirza bilang belum bisa menelpon atau pun menerima panggilan telepon karena ada beberapa awak kapal yang tiba-tiba terserang demam secara tiba-tiba sehingga membuatnya bersama tim medis yang lain begitu sibuk di medical center Delta Cruise.


Pada nada tunggu yang ke lima Mirza baru mnerima panggilan telpon Via.


“Assalamualaikum, Halo sayang.” Sapa Mirza manis seperti biasa.


“Wa alaikumussalam, Mas. Ngganggu nggak nih aku telpon?”


“Nggak dong, kebetulan Mas juga baru masuk kamar nih buat istirahat.”


“Oh..., terus gimana keadaannya semua pasien Mas?”


“Aman, alhamdulillah semuanya sudah membaik, sayang.”


“Syukur deh.”


“Oya sayang, ini kan jam makan siang di sana. Kamu udah makan belum?”


“Belum, nanti aja Mas. Kan aku mau telpon Mas dulu.”


“Ciyee... kangen ya?” Goda Mirza. “Video call dong, Mas pingin liat istri Mas yang cantik.”


“Nanti aja ah, kalo di rumah nggak enak kalo diliatin karyawan lain.” Tolak Via.


“Ya udah nanti video call nya pas di kamar mandi ya sayang?”


“Hah, ngapain? Ada-ada aja deh!” Lonjak Via nggak habis pikir dengan suaminya.


“Mas kan kangen pingin liat punya Mas yang ada sama kamu, sayang. Cuman pingin liat aja, Hehe...” Suara Mirza terdengar nakal.


“Mas mesum ih! Jorok!” Omel Via kesal, namun kemudain ia buru-buru menutup mulutnya dengan tengannya sendiri sambil tengok kanan kiri takut barangkali ada yang dengerin obrolannya dengan Mirza di telepon. Tapi untunglah ruangan sudah sepenuhnya sepi.


“Liat dikit aja masa nggak boleh? Kan punya Mas itu yang dititipin sama kamu sayang.”


“Mas udah deh, iseng banget ih. Nggak ada bahan obrolan lain apa?” Via menggerutu semkain kesal.


Mirza malah terkekeh di seberang, suka banget dia godain Via.


“Oya sayang, Mas lupa mau nanya sesuatu sama kamu.” Mirza teringat sesuatu.


“Nanya apa? Jangan yang vulgar ya!” Ketus Via.


“Nggak. Kamu udah beli test pack kan? Gimana hasilnya?”


Via mendesah. “Aku baru aja selesai haid Mas beberapa hari yang lalu.”


“Yaah ...” Suara Mirza terdengar kecewa. “Tapi nggak apa-apa sayang, tunggu Mas pulang kita akan joss lagi ya?” Lanjut Mirza kembali bersemangat.

__ADS_1


“Heum, terserah Mas aja deh.”


“Kok gitu sih?”


“Ya habisnya yang ada di pikiran Mas gituan mulu ih! Tanyain kerjaanku kek atau apa? Kan aku juga pingin diperhatiin dalam hal lain.” Via merengut, Meski Mirza nggak bisa melihat wajahnya tapi Mirza bisa merasakan raut sbel istrinya.


“Iya deh, kerjaan kamu gimana sayang? Lancar kan?”


“Ish, basi ah. Nunggu diingetin dulu baru nanya!” Decak Via kesal.


Sekali lagi Mirza terbahak, ia suka sekali membuat Via kesal.


“Udah ah, jangan ketawa terus. aku tutup nih telponnya.” Ancam Via.


“Iya deh, maaf ya.” Ucap Mirza. “Oya sayang, katanya kamu kerja bareng Danar ya? Kalian satu kantor?” Tanya Mirza begitu reda dari tawanya.


Glek!


Kok Mas Mirza bisa tau sih aku kerja sama Danar? Perasaan aku belum bilang deh. Seingatku waktu itu aku cuman bilang kalo aku kerja di kantornya Bu Elin. Via membatin.


“Iya, kenapa emangnya Mas?” Sahut Via berusaha bersikap biasa aja.


“Bagus lah, Mas jadi nggak khawatir.”


Eeh, kok bisa-bisanya Mas Mirza bilang begitu? Aku justru yang jadi khawatir Mas! Haduuuh, ni orang bininya kerja bareng laki-laki lain kok malah seneng sih? Gerutu Via dalam hati.


“Om Jaka bilang Danar bos kamu ya?”


Oh, jadi Om Jaka yang cerita ke Mas Mirza? Pantesan aja Mas Mirza tau!


“Heum, gitu deh Mas. Aku juga nggak tau kalo sama Bu Elin bakalan disuruh jadi stafnya Danar, Mas.”  Tutur Via seolah mau mengklarifikasi kalau itu semua memang bukanlah unsur kesengajaan.


“Ya nggak papa, sayang. Nanti Mas bilangin Danar deh biar nggak galak-galak sama kamu, nggak usah ngatur-ngatur.”


“Eh, kok gitu sih? Nggak usah, Mas. Malu-maluin aja ah!” Via agak panik juga takut Mirza nelpon Danar beneran.


“Iya, Mas. Makasih ya udah ngasih semangat. Mas juga di sana hati-hati, jaga kesehatan.”


“Iya, sayang. I love you. Mmmuachh...”


“Love you more, mmmmuachhh...”


Keduanya tertawa lantas mengakhiri percakapan.Via segera meneruskan membereskan mejanya sambil bersiap keluar untuk makan siang.


Kriiet...


Terdengar pintu terbuka, Via menoleh. Danar keluar dari ruang kerjanya.


Hah? Jadi dari tadi dia ada di dalem? Kok bisa? Perasaan pagi tadi dia pergi ke hotel deh. Haduh, jangan-jangan dia tadi denger obrolanku sama Mas Mirza!


Via sibuk sendiri dengan pkirannya karena tau-tau melihat Danar nongol dari ruang kerjanya, padahal seingatnya Danar pagi tadi bilang mau ke hotel.


“Hai, Vi. Kamu kok nggak makan siang?” Sapa Danar yang melewati meja Via.


“Eum eh iya, ini juga aku mau pergi makan kok.” Sahut Via agak gugup.


“Ya udah, yok bareng.”


Whatt? Kok malah ngajakin bareng sih?


“Eh, nggak usah. Duluan aja, aku mau ke mushola dulu.”


“Sama, aku juga.”


Ish, kok main nyama-nyamain aja sih?


“Ayok!” Danar memberi kode dengan matanya lantas berjalan mendahului Via.

__ADS_1


Di mushola kantor Via sengaja nggak ikut sholat berjamaah, ia ingin selesai sholat lebih dulu ketika melihat Danar masuk dalam shaf  untuk sahlat dzuhur dengan para jamaah lain.


Selesai salam dan mengucap doa, Via bergegas meninggalkan mushola kantor dengan perasan lega karena melihat Danar masih berada dalam shafnya. Via pun menuju rumah makan di dekat kantor yang meyediakan menu prasmanan. Sesampainya di sana ternyata masih cukup ramai padahal jam makan siang sudah dari tadi, rupanya para karyawan sengaja memilih berlama-lama disana sambil ngadem.


“Kayaknya kursi yang di sebelah sana kosong tuh.” Ucap satu suara yang sudah berdiri di balakang Via.


Ya ampun! Kok bisa sih dia nyampe sini? Bukannya tadi masih di mushola?


“Hey, kamu mau berdiri disitu aja, terus nggak dapet kursi buat makan?” Danar melihat pada Via yang masih terpaku.


Meski agak kesal Via akhirnya mengikuti juga langkah Danar yang menuju kursi di pojok ruangan. Dengan agak canggung Via duduk berhadapan dan mulai makan. Via dan Danar makan tanpa saling bicara. Diam-diam Via merasa seperti ada yang memperhatikannya. Benar saja, ketika ia melihat ke sebelah kanan, selang beberapa meja dari tempatnya dan Danar makan, ia melihat Milen dan teman kerjanya yang lain nampak sedang berbisik sambil melihat ke arahnya.


Haish! Ngapain sih mereka malah ngeliatin aku? Pasti mereka pada ngomongin aku deh!


“Vi?” Tegur Danar.


“Eh, iya, kenapa?” Via sampe salah fokus gegera Milen.


“Aku bilang habis ini kita liat resort ya?” Ulang Danar yang sudah selesai makan.


“Lihat resort? Sama aku?” Tanya Via bego.


“Iya, kenapa? Kamu nggak bisa?” Tanya Danar seperti menohok hati Via. “Om Jaka dan Denaya juga ke sana. Jangan lupa, mereka sekarang pemodal dari bisnis yang sedang kita jalankan.”


Via hanya mengangguk samar, kemudian bangkit hendak menuju toilet.


“Kamu duluan aja, aku mau ke toilet dulu.” Ucap Via lantas segera pergi. Sebenarya Via sengaja berkata seperti itu karena nggak mau pulang barengan Danar ke kantor. Setelah di rasa Danar juga sudah pergi, Via keluar dari toilet, namun langkahnya dicegat seseorang.


“Hem, rupanya sengaja ada yang sok mau tebar pesona.” Ucap Milen seraya melirik Voni dan Cila di sampingnya.


Via mengacuhkan perkataan Milen, ia memilih mengambil jalan lain namun Cila menghalanginya.”Tadi siapa yang bilangnya nggak mau makan siang, Len?” Nyinyir Cila melirik Milen.


“Ada tuh, orang yang sok caper sama anaknya ibu bos.” Sahut Milen menatap Via dengan senyum miring.


“Huh, masih baru kerja berapa hari aja udah sok kecentilan kamu sama anaknya ibu bos!” Voni sedikit mendorong bahu Via.


“Ngomong apaan sih kalian?” Sahut Via yang dari tadi coba tetap tenang.


“Nggak usah sok pura-pura nggak tau deh! Kamu sengaja kan nggak mau makan bareng kita biar diajakin makan sama Pak Danar?” Sinis Milen.


“Kalo iya kenapa emangnya?” Tantang Via, ia menatap ketiganya bergantian. Kesal banget dia dikatain semena-mena sperti itu. Meraka pikir meraka itu siapa bisa ngebully dirinya kayak anak ingusan!


“Wah! Ternayata tebakan kita bener, Len. Dia emang sengaja caper! Dasar centi!” Ejek Cila.


“Berhenti ngurusin urusan orang ya! Kalian nggak usah sok tau!” Sengit Via.


“Siapa yang sok tau? Emang bener kan kamu caper sama Pak Danar? Kamu sengaja kan nggak mau makan barengan kita-kita biar diajakin bareng sama Pak Danar?”


“Apa kalian keberatan kalo Via makan bareng saya?” Ucap Danar yang tiba-tiba muncul.


Ketiga cewek itu langsung mingkem seraya menunduk malu ketahuan mojokin Via. Semntara Via sendiri meski agak kaget juga karena mengira Danar udah kembali ke kantor bersikap biasa aja.


“Saya peringatkan, jangan suka ikut campur urusan orang kalo masih mau kerja di tempat saya!” Kalimat Danar penuh penekanan.”Ayok, Vi! Kita sudah ditunggu relasi.” Ucap Danar berjalan mendahului Via.


Tanpa banyak kata Via segera mengekor meninggalkan Milen dan teman-temannya yang masih menunduk. Via yakin setelah ini Milen cs pasti bakalan lebih nyinyir lagi sama dia. Tapi dia memilih untuk tak peduli. Karena itu mungkin sudah menjadi resiko seorang wanita pekerja yang ditaksir oleh anak bos seperti dalam cerita sebuah novel, wkwkwkkk 🤭🤭


❤️❤️❤️❤️❤️


Maafkan atas up yang terlambat ya readers 🙏🙏🙏


Semoga jangan bosan untuk selalu support othor😊😊😊


luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


 


 

__ADS_1


__ADS_2