TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
251 #RASA MACAM APA INI?


__ADS_3

Jam istirahat kerja seperti biasanya Mirza selalu menyempatkan pulang ke rumah untuk makan siang bersama ibunya dan memastikan sang bunda meminum obatnya. Bu Een sedikit kaget ketika mengetahui Mirza datang, ia segera meletakkan ponselnya di atas meja dan menyapa.


“Za, ibu nggak denger suara mobil kamu?”


Mirza lurus menuju ruang makan menyiapkan makan siang, kemudian mendorong kursi roda ibunya kesana.


“Kamu nggak makan, Za?” melihat hanya ada satu piring yang disiapkan Mirza.


“Aku harus buru-buru balik lagi Bu, dokter Burhan meminta laporan pembukuan akhir bulan dan harus selesai sore ini juga,” mengambilkan minum untuk Bu Een.


“Tapi kamu nggak pulang malam kan?”


“Belum tau Bu,” meyiapkan obat yang harus diminum ibunya. “Nanti aku kabari lagi.”


“Tapi kamu pasti di apotik kan kalaupun sampai malam?”


Memandang ibunya sejurus, “ibu pikir aku mau kemana?”


“Bagus lah kalo begitu,” cuek, mulai menikmati makan siangnya.


Merasa dicurigai, Mirza justru mendapatkan ide bagus. Ia akan menyelesaikan pekerjaannya secepatnya agar bisa bertemu dengan Via. Ia tak peduli walau nanti Via akan bersikap dingin padanya. Via masih menjadi istri sahnya, walaupun di pertemuan terakhir mereka sepakat untuk tinggal terpisah dan menjalani hidup masing-masing terlebih dahulu. Mirza segera pergi setelah selesai mengurus keperluan Bu Een.


Bu Een nampak lega, ia mengambil kembali ponselnya disela-sela makannya. Senyuman terbit di wajahnya melihat layar ponsel yang memperlihatkan Via sedang berada di food court pusat perbelanjaan bersama dengan seorang laki-laki.


-


-


-


“Harusnya kamu nggak perlu repot-repot nraktir aku segala,” Via nampak nggak nyaman.


“Iya sih, harusnya kamu yang traktir aku makan. Kan aku yang udah bantuin kamu?” Danar mengaduk es dawet gula aren dan menikmati kesegarannya yang tiada tara.


Urung mengambil es pisang ijonya, melihat Danar dengan kesal. “Jadi kamu nggak ikhlas bantuin aku?”


“Ya ikhlas nggak ikhlas kalo diomelin terus,” nada Danar seperti sangat serius membuat Via salah tingkah.


“Maaf sudah merepotkan.”


“Kamu itu kenapa sih? Setahuku orang hamil kan nggak mungkin PMS, tapi dari tadi bawaannya ngomel terus?” bertanya tapi tak melihat wajah Via yang sudah nggak karu-karuan.


Via hanya mendengus pelan, yang ia inginkan sekarang adalah pergi dari hadapan Danar sesegera mungkin. Bila perlu pake ilmu menghilang. Cing!


Namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat di raih (ciyee pake pribahasa segala, othor makin nggak profesiaonal aja! Hah, ngakak so hard dibilang nggak profesional. Padahal udah jelas-jelas othor menyebut dirinya sebagai othor awut-awutan, ya aneh banget kalo bisa professional 🤣🤣🤭), eett fokus balik ke –


Pramusaji membawakan makanan. Satu paket menu nasi liwet komplit sekarang sudah tersaji di depan mereka.


“Danar, kamu yang pesen ini?” bertanya heran setelah pramu saji pergi.


“Iya, wanita hamil harus banyak makan kan?” mengambilkan untuk Via.


“Tapi nggak sebanyak ini juga kali,”


“Ini udah porsi hemat,” mengambil untuk dirinya sendiri, “apa kamu nggak suka menunya?”


“Nggak, aku suka kok,” mendadak hilang rasa kesalnya berkat nasi liwet.


“Ya udah, ayok makan.”



Berhubung perutnya juga memang sudah lapar, apalagi dengan tampilan sambal yang begitu menggoda dan wangi aroma ayam kampung beserta teman-temannya yang aduhai membuat rasa canggung menguap entah kemana. Via sangat menikmati makan siangnya.


“Ternyata gampang ya bikin kamu seneng, cuman dikasih nasi liwet doang udah nggak ngomel lagi,” Danar tersenyum seolah meledek Via yang asyik makan.



Spontan Via menghentikan kegiatannya, mereka saling pandang sesaat.


Aneh banget sih dia? Tiba-tiba sok galak, jutek, terus tau-tau baik, senyum-senyum sok manis. Apa sih maunya? Via bemonolog dalam hati.


Menyadari pemandangan wajah cantik yang tak semestinya ia nikmati, Danar segera mengalihkan pembicaraan.


“Habis ini kamu mau kemana lagi?”


“Pulang,” menyahut pendek menghabiskan makanannya.


“Aku anterin.”


“Aku bawa mobil kok.”


“Aku nggak bawa kendaraan.”


Menoleh seketika, “terus kenapa mau nganterin aku?”


“Ya pengen pulang bareng kamu aja,” lolos sudah kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Danar yang selalu menyunggingkan senyum menggemaskan, -bagi othornya wehehe ….🤭🤭


“Itu sih namanya kamu nebeng,” cibir Via.

__ADS_1


“Kamu keberatan?”


Hem, mulai deh jutek lagi. Dasar manusia setengah es batu! Batin Via ngedumel.


“Sama sekali nggak, karena kamu udah baik sama aku,” mengukir senyum yang dipaksakan, dan Danar tau itu, namun hatinya senang melihatnya. Ya Tuhan, aku nggak bisa move on …! Jerit batin Danar.


“Aku mau ke toilet dulu,” Danar bangkit tak tahan dengan gejolak batinnya sendiri. Harusnya ia nggak minta pulang bareng, sebersit sesal meloncat di hatinya.


“Aku juga,” menyusul bangkit.


“Kamu mau ikut aku ke toilet?” bertanya sok kaget padahal jelas tau jawabannya.


“Ish, dasar aneh!” wanita hamil itu sedikit menghentakkan kakiknya sebelum pergi meninggalkan mejanya.


Senyum makin lebar menghias wajah rupawan Danar. Tuhan, kenapa Engkau selalu mempertemukan aku dengannya dalam situasi yang tepat? Kenapa juga aku harus bahagia setiap kali melihatnya? Rasa macam apa ini?


“Udah ke toiletnya?” Via tau-tau udah nongol lagi membuat Danar terjaga dari angannya.


“Heem, mana kunci mobilnya? Sini, aku aja yang bawa”


Via memberikannya, mereka menuju basement tempat mobil Via berada. Danar membawa semua balenajaan Via dan memasukkannya ke dalam bagasi. Via termenung memandangi punggung Danar. Seharusnya kamu yang melakukan itu semua, Mas. Kedua mata Via tiba-tiba berkabut, sesak didadanya kembali menyeruak. Segera ia usap kedua netranya sebelum Danar melihatnya.


Seseorang laki-laki setengah baya datang menepuk bahu Danar dari belakang, “Mas Danar,” sapanya.


Danar agak surprise menoleh, “Pak Wahyu?”


Laki-laki bernama Wahyu itu mengulurkan tangannya dan Danar menyambutnya. “Apa kabar Mas? Lama sekali kita nggak ketemu.”


“Baik Pak, Pak Wahyu sendiri gimana kabarnya?”


“Selalu baik,” tersenyum lebar, “sama siapa kesini Mas?” bertanya namun kemudian matanya melihat pada Via yang berdiri tak terlalu jauh. Belum sempat Danar menjawab, Pak Wahyu sudah berucap “oh, pantas saja dulu minta resign, rupanya sudah ada yang bikin betah di rumah.”


Danar dan Via spontan kaget, Pak Wahyu jelas salah paham menurut mereka.


“Maaf ya nggak sempat datang di acara pernikahan Mas Danar,” lagi-lagi Pak Wahyu asik dengan asumsinya sendiri. “Saya tinggal di Malaysia sekarang, baru pulang seminggu lalu karena mengunjungi anak sulung saya.”


Baru saja Danar mau membuka mulut, Pak Wahyu udah ngomong lagi, “tapi tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya mendoakan semoga Mas Danar dan istri bahaga selalu ya, dan juga kelak istri Mas Danar lancar dalam persalinannya.”


?????


Danar dan Via kompakan saling pandang, mau diaminin nggak nih doanya Pak Wahyu? Begitu kira-kira pikir mereka.


Pak Wahyu baru berhenti ketika sebuah mobil mendekat ke arah mereka, “oh itu anak saya, maaf saya duluan ya Mas Danar dan Mbak –“


“Via,” Via menyahut menyambut uluran tangan Pak Wahyu sebagai tanda perpisahan.


“Kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi,” ucap Pak Wahyu sebelum pergi.


“Maaf,” ucap Danar akhirnya, “nggak seharusnya Pak Wahyu ngomog kayak tadi.”


Via hanya menggeser posisi kapalanya yang agak miring, ia enggan menyahut.


“Pak Wahyu itu pernah jadi klien ibu, dia cukup dekat dengan aku dan juga ibu kala itu,” lanjut Danar karena tak melihat Via memberikan respon yang berarti. “Tapi ya seperti yang dia bilang, kami lama nggak ketemu dan saling kontek setelah kerja samanya selesai, apalagi dia bilang sekarang udah tinggal di Malaysia, jadi dia sama sekali nggak tau tentang aku.”


Masih diam, hanya ada satu ******* pelan yang lolos dari mulut Via dan itu membuat Danar makin khawatir. Ia tau Via tak nyaman dengan semua perkataan Pak Wahyu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Sore hari menjelang pernikahan Hanson dan Rumi yang akan diselenggarakan besok pagi, Mr. Burman dan Pak Joni sudah berada di rumah Pak Haji Barkah. Mereka terlibat obrolan receh tapi sepetinya sangat mengasyikan, terbukti senyum tak lepas dari bibir Mr. Burgman.


“Baby, papa kamu sebenernya ngerti nggak sih dengan apa yang diobrolin? Dari tadi kayaknya senyam senyum terus.” Rumi berbisik pada Hanson.


“Biarin aja lah, Schatzi. Senyum itu kan ibadah?” Balas Hanson berbisik pula, papanya memang nggak ngerti sama sekali bahasa Indonesia, namun Pak Joni yang belepotan bahasa inggrisnya mencoba mengalih bahasakan apa yang mereka obrolkan. Kebetuan Mr. Burgman juga sedikit-sedikit bisa bahasa Inggris.


“Harusnya dibawahnya itu ada teks substitute bahasa Jerman nya,” Rumi masih berbisik sambil memperhatikan tiga orang tua itu berbincang di ruang tamu.


“Di bawah mana? Bawah meja?”


“Ish!” mencubit lengan Hanson gemas.


“Hoy! Kalian ngapain disini?” tegur Om Jaka yang melihat Rumi dan Hanson berdiri di balik dinding yang menjadi pembatas ruang tamu dan ruang tengah rumahnya. “Kalian lagi ngintip apa lagi nguping?”


Rumi dan Hanson cuman nyengir karena tercyduk Om Jaka.


“Rumi ngapain lu masih di rumah gue? Pulang sono lu ke rumah Mirza, calon pengantin harusnya kan dipingit kagak boleh ketemuan dulu” Om Jaka setengah mengusir.


“Kan papa aku masih disini Om?”


“Alesan aja lu, bilang aja mau deketan terus sama bule somplak ini!” Cibir Om Jaka. “Nanti papa elu gue yang anterin ke rumah Mirza. Mereka masih ngobrol tuh, bisa sampe jam 2 pagi kayaknya. Elu pulang sekarang deh mendingan, istirahat biar besok pagi fresh.”


“Tapi ini kan masih sore Om, aku belum ngantuk juga,” kilah Rumi.


“Ya elu luluran kek atau mandi-mandi susu kuda liar apa susu wewe gombel kek di sana, biar badan elu wangi dan cling di hari nikahan elu besok!” saran Om Jaka emang nyleneh banget.


“Ish, Om Jaka nih –“


“Ada apaan sih, Beb? Kok ngomel terus aku perhatiin dari tadi?” Denaya ikut nimbrung.


“Ini nih si Rumi, gue suruh pulang nggak mau. Bandel bange dia dibilangin!”

__ADS_1


“Emang kenapa dia disuruh pulang?” Denaya malah heran.


“Tuh, Mbak Dena belain aku,” cibir Rumi pada Om Jaka.


“Kok kenapa sih? Ya harus pulang dong, ada baiknya dia merawat diri mempersiapkan nikahannya besok daripada disini nemplok terus sama si bule somplak ini,” memandang Hanson dan Rumi kesal.


“Hanif, Beb. Namanya Ahmad Faza Al-Hanif,” meralat perkataan suaminya, nggak terima saudara angkatnya masih disebut dengan gelar bule somplak. “Ayah udah kasih nama dia bagus-bagus, jangan diganti seenaknya dong.”


“Lah, emang bener dia somplak kok!”


“Bebeb –“ melebarkan kedua matanya yang sontak membuat Om Jaka terdiam kicep.


“Thanks, Mbak Angel yang baik hati,” berterima kasih pada Denaya.


“Lu panggil bini gue angel lagi gue ketok kepala lu pake centong nasi nih lama-lama,” ancam Om Jaka kesal, dia sungguh nggak suka istrinya dipuji laki-laki lain.


“Udah, udah, malah ribut sih?” Denaya menengahi. “Rumi kamu mau pulang apa masih mau disini? Kalo mau pulang ayok sekalian, aku mau keluar beli popoknya baby Amara kehabisan.”


“Wah, mau shopping kita Mbak?” bersorak kegirangan.


“Nggak shopping, cuma ke mini market doang.”


“Okelah boleh, aku ikut, sekalian beli lakban.”


“Lakban buat apaan Schatzi?” heran Hanson.


“Buat merekatkan cinta kita biar makin lengket Baby,”mengerjap-ngerjapkan matanya dengan senyum dibuat-buat.


Spontan Om Jaka dan Denaya melongo dan saling pandang, hanya Hanson yang nampak tertawa bahagia.


“Emang dasar ya kalian berdua pasangan tersomplak abad ini!” Om Jaka geleng-geleng kepala lantas menuju ruang tamu bergabung dengan yang lainnya diikuti Hanson yang terlebih dulu melemparkan bertubi-tubi ciuman jauh dengan telapak tangannya pada Rumi. Denaya terkekeh geli melihat tingkah sepasang calon pengantin itu.


_


_


_


Belanjaan Via masih teronggok di ruang makan, selepas mengantar Danar siang tadi ia langsung istirahat tanpa sempat merapikan belanjaannya. Hampir setengah enam sore kini, Via bangkit untuk mandi. Sepertinya mandi air hangat akan membuat capeknya berkurang.


Selesai mandi Via keluar. Ia mengedar pandang ke seluruh penjuru rumah, sepi. Lampu-lampu ruangan pun masih belum menyala.


“Mbak?” membuka pintu kamar yang ditempati Tia, kosong. “Apa belum pulang ya mereka? Kok tumben?” ngomong sendiri kembali ke kamarnya mencari gawainya bemaksud menghubungi Tia. Ternyata satu pesan dari Tia sudah mampir terlebih dahulu di ponselnya.


Mbak Tia


Vi, Mbak pulangnyaa kayaknya agak maleman. Dimintain bantuan nih sama Riri dan ibu untuk bikin kue dan nyiapain manu makanan buat acara pernikahan anak angkatnya Haji Barkah.


Mengernyit usai membaca pesan kakaknya, “Pak Haji punya anak angkat?” menggumam heran, namun kemudian segera mengetik pesan balasan untuk Tia.


Via


Nggak papa Mbak, malahan Mbak Tia malam ini nggak usah kesini juga nggak papa kok. Hasil check kandunganku bagus, semuanya sehat. Mbak Tia jangan khawatir ya. Kasihan Ica juga kalo malem-malem dibawa kesini .


Via sungguh tak ingin membuat kakaknya khawatir, ia meyakinkan Tia semuanya akan baik-baik saja, walau tentunya suasana hatinya tak seperti yang ia katakan.


Heh …. Via menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Langit senja yang hampir pergi terbentang lewat jendela kamarnya yang masih terbuka lebar. Dari kejauhan mendung menggulung cakrawala, Via bangkit seiring tiupan angin yang menerbangkan tirai kamarnya. Tanpa dikomando, hujan satu per satu datang menyerbu. Termenung sejenak di dekat jendela. Perasaan sesak diam-diam kembali menelusup. Ah, hujan memang kadang bisa membuat perasaan menjadi romantis, melankolis dan dramatis, desah batin Via mengusir perih hatinya. Ia pejamkan kedua matanya, berusaha menahan butiran bening agar tak sampai luruh seperti hujan yang makin deras menghujam bumi.


Di kota ini sehabis hujan


Desember yang lalu


Di kota ini dalam ruangan


Berpenyejuk udara


Kau dan wangimu bersanding dengan


Riuh angin di luar


Udara mana kini yang kau hirup?


Hujan di mana kini yang kau peluk?


Di mana pun kau kini


Rindu tentangmu tak pernah pergi


(Kota by Dere)


❤️❤️❤️❤️❤️


Salam sayang buat kalian semua ❤️


Terima kasih semua supportnya dan maaf kalo banyak typo ya 🙏🙏


Boleh deh othor diomelin, othor baca semuanya kok meski belum sempat membalasnya.😃😃


relakan, ikhlaskan Via sama Danar dulu yaa ... 😂😂

__ADS_1


akak othor rercinta, slowly but sure aku mampir nanti ya 🙏🙏


I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2