
Hari ini Om Jaka akan ke Jakarta untuk mengurus bisnisnya yang sudah lama ditinggalkan. Om jaka berencana akan pindah seutuhnya ke kampung demi menuruti kemauan sang Istri. Denaya nggak mau tinggal jauh-jauhan sama Om Jaka.
“Kamu itu jangan melarang suamimu Dena. Kalau di Jakarta suamimu lebih nyaman bekerja yang tidak apa-apa.” Pak Haji Barkah menasehati Denaya.
“Soal ini kami sudah pernah membicarakannya sebelum kami menikah, Yah. Iya kab, Beb?” Sahut Denaya seraya melihat pada suaminya.
“Betul, Yah. Dan saya sama sekali nggak keberatan menurutinya.” Sambung Om Jaka. “Apapun yang membuatmu bahagia aku akan melakukannya, Honey.” Om Jaka membalas tatapan istrinya dengan berlope-lope.
“Ahh, dasar pengantin tua! Panggilan kalian bikin kuping ayah jadi geli. Beb, Honey …. Ya ampun…!” Pak Haji Barkah terkekeh sendiri demi mendengar panggilan kesayangan anak dan menantunya.
Denaya yang sadar kalo keceplosan langsung menutup mulutnya dengan muka masam. “Tuh kan, apa ku bilang?” Kesal Dena pada Om Jaka.
“Lho, nggak papa kan, Yah? Biar pun kami udah nggak ABG lagi tapi kami berhak untuk romantis.” Om Jaka membela diri.
“Ya memang nggak apa-apa. Itu bagus kok, lanjutkan.” Ujar Pak Haji setelah rada dari tawanya. “Ya sudah, sebaiknya kalian siap-siap kalau mau pergi hari ini nanti keburu siang. Ayah masuk dulu mau siap-siap ke toko juga.” Haji Barkah bangkit. “Beb, Honey …? Hah, ada-ada saja … “ Pak haji masih menggerutu sambil senyum-senyum sendiri menuju kamarnya.
Denaya dan Om Jaka segera bersiap. Mereka mungkin akan menginap untuk beberapa hari di rumah Om Jaka di Jakarta karena cukup banyak urusan yang harus Om Jaka selesaikan sebelum benar-benar pindah meninggalkan bisnisnya. Mobil Om Jaka melaju meninggalkan kampung, sepanjang perjalanan Denaya sangat antusias untuk mengetahuai kehidupan suaminya sebelum menikah dengannya.
“Nanti lagi ceritanya ya, Han. Perjalanan masih jauh lho, sebaiknya kamu tidur aja istirahat.” Ucap Om Jaka sambil fokus nyetir.
“Ish, kamu Beb. Aku kan cuman mau denger cerita kamu tentang bisnis propertimu itu. siapa tahu kita bisa memulainya lagi di kota kabupaten. Peluangnya cukup besar lho.” Denaya masih bersemangat.
“Iya, kita lihat nanti ya. Sekarang aku harus memastikan kalau modal yang aku tanam bisa aku tarik keseluruhan atau nggak. Baru setelah itu kita merintis bisnis baru lagi.” Sahut Om Jaka tanpa menoleh.
“Kenapa harus repot-repot. Aku punya cukup uang tabungan kok Beb, kita bisa pakai itu untuk modal awal.”
Om jaka melirik Denaya. “Ah, aku nggak mau Han. Nanti dikira aku nikah cuman mau manfaatin kamu aja. Diem-diem banyak lho yang merhatiin hubungan kita. Apalagi Mbakyuku sendiri, kamu tahu kan gimana mulutnya kalo udah berkomentar? Mercon segrobak juga kalah brisiknya sama dia!”
Denaya malah tersenyum. “Aku percaya kok sama kamu, Beb. Kamu tulus sama aku. Jadi nggak usah peduliin komentar orang-orang ya?” Denaya menempelkan telapak tangannya peda pipi Om Jaka dengan tatapan sendu menyejukkan.
Om Jaka kayak kestrum gitu mendapat perlakuan manis dari istrinya yang cantik.
“Han, bisa nggak sih nggak usah pegang-pegang? Aku lagi nyetir nih, ntar kalo aku tegang bahaya lho.” Ucap Om Jaka dengan perasaan aneh.
Denaya segera melepas tangannya. ”Hah? Apanya yang tegang, Beb?” Tanya Denaya dengan polosnya.
“Anuku itu! dia sensitive banget.” Sahut Om Jaka pelan sambil melihat ke arah sesuatu diantara kedua pahanya yang terbungkus celana jeans navy.
Kontan saja Denaya langsung melotot dan menampol pipi suaminya kesal. “Ih, kamu tuh ya Beb! Mesum terus!”
“Aduh!” Om Jaka mengaduh. “Tadi manis-manis, sakarang kok ditampol sih?”
“Habisnya pikiran kamu nggak jauh-jauh dari situ!” Denaya kesel beneran.
Om Jaka tersenyum sambil meraih tangan kanan istrinya. “ Hehe…, maafin deh. Abisnya pikiranku selalu liar kalo deket sama kamu, Han.”
“Awas ya kalo lagi-lagi!” Ancam Denaya. “Aku cuman takut kamu keceplosan kalo di depan banyak orang Beb. Kan aku malu nanti?” Bibir Denaya mengerucut.
“Iya, iya. Maafin sekali lagi ya. Aku nggak bakal bahas yang tegang-tegang lagi deh. Kita lanjutin nanti malam aja ya.” Om Jaka melihat istrinya sambil memainkan kedua alisnya turun naik.
_____________
“Jadi kamu beneran kencan sama Hanson?” Jane terbelalak tak percaya.
“Iya lah. Memangnya kamu pikir aku becanda?” Sahut Arumi sedikit sombong. “Bukan itu saja, dia membelikanku banyak barang-barang dan kami bermalam di Pulau Pari.”
“Apa? Jadi kamu sudah tidur dengannya?” Kalimat itu meluncur bengitu saja dari mulut Jane yang tak mengira dengan ulah nekad saudaranya itu.
Arumi mengangguk sambil tersenyum.
Jane menduga Arumi itu betul-betul sudah gila! Dia rela menyerahkan kegadisannya demi obsesinya dengan pria bule yang sudah berapa kali gonta ganti pasangan itu. Jane seperti kehabisan kata untuk memaki Arumi, dia melempar pandangannya ke arah aneka tanaman di taman belakang rumah Arumi yang cukup asri. Pikirannya tak karuan, Arumi sungguh nekad! Baru sekali jalan sama Hanson langsung gercep begitu. Jane membayangkan dirinya yang beberapa kali menghabiskan malam dengan Ramzi namun tak pernah sedikitpun terbesit untuk melakukan hal yang seperti Arumi lakukan. Dan peristiwa tempo hari itu di ruang kerja Ramzi murni kebodohannya, dia harusnya tak coba-coba melakukannya. Beruntung Sofi datang mengagagalkannya, kalau tidak dia mungkin sekarang sudah menyesal. Aih, kok tiba-tiba dia jadi merasa beruntung sudah dilabrak sama Sofi?
__ADS_1
Jane mendengus kasar.
“Kenapa kamu?” Arumi memperhatikan raut wajah Jane.
“Nggak papa. Moga aja amu nggak nyesel ya nanti. Hanson sepertinya bukan pria baik-baik lho.”
Arumi malah terkekeh. Dia merasa lucu dengan perkataan Jane. Tapi dibalik tawanya Arumi sebenarnya kecewa setengah mampus kerena malam itu di Pulau Pari dia sama sekali tak berhasil membangunkan pisang raja milik Hanson walau pun sudah mencoba dengan berbagai cara sampai subuh menjelang. Hah, konyol sekali bukan? Tapi Arumi berusaha menutupinya di depan Jane dan bersikap seolah dia sudah benar-benar melakukannya dengan Hanson.
“Oke, sekarang mana alamatnya Sofi? Hanson mau ke sini bentar lagi.” Ujar Arumi kemudian.
“Memangnya kamu mau nemuin Sofi hari ini juga?”
“Ya terserah aku dong kapan aja. Bisa hari ini, bisa besok, bisa juga taun depan.” Sahut Arumi asal. “Aku mau bikin Hanson makin lengket dulu sama aku.” Lanjut Arumi dengan cekikikan.
Jane lantas mengetik alamat rumah Ramzi dan mengirimkannya lewat pesan pada Arumi. “Itu udah aku kirim di WhatsApp.”
Arumi memeriksanya. “Oke, Maksih ya. Kamu memang saudara yang bisa diandalkan.” Arumi menjawil pipi Jane dengan seringai senyumnya yang terlihat menyebalkan bagi Jane.
Jane sama sekali tak senang dengan tingkah gadis bodoh yang ngaku jadi sauaranya itu.
“Non, ada tamu nyari Non Rumi.” Pembantu Arumi menghampiri memberitahukan.
“Oh, iya.” Arumi bangkit. “Itu pasti Hanson, aku tinggal dulu ya. Kalo kamu masih mau disini juga nggak papa kok.” Ucap Arumi Pada Jane.
Jane melengos membuang muka kesal.
“Eh Bi, tunggu!” Panggil Arumi pada si bibi. “Tolong buatin segelas minuman dingin lagi buat dia. Kasihan, kayaknya hatinya lagi kebakaran.” Perintah Arumi sambil melirik Jane dengan senyum mengejek lantas segera melenggang menemui tamunya.
“Cih! Menyebalkan! Liat saja, Sofi pasti bakalan jambak mulut kamu kalo kamu berani sama dia!”
__________________
Via baru saja selesai dengan kegiatannya bercocok tanam di halaman depan rumah kontrakannya. Selesai membersihkan diri, ia memandangi pot dan polybag yang sudah terisi bibit berbagai macam sayuran dengan perasaan puas. Masih ada beberapa polybag lagi yang masih kosong karena kehabisan tanah untuk mengisinya. Via duduk santai sambil menikmati teh melati kesukaannya. Rasanya ia tak sabar melihat biji-bijian itu tumbuh dan ia akan menceritakannya pada Mirza tentang hobi barunya ini. Suaminya itu pasti senang mendengarnya. Via tersenyum sendiri membayangkan wajah ganteng suaminya.
Suara klakson motor membuyarkan khayalan Via tentang suami gantengnya. Via melihat siapa yang datang, lantas tersenyum lebar begitu melihat siapa yang datang.
“Tante Via ….!” Seorang anak kecil perempuan cantik yang tak lain adalah Ica langsung menghambur ke pelukan Via begitu turun dari motor.
Via surprise mendapat kunjungan yang tiba-tiba dari keluarga kecil kakaknya.
“Mbak Via dan Mas Arya kok nggak ngasih kabar dulu sih mau kesini?” Ucap Via setelah menyalami kakak dan kakak iparnya.
“Namanya juga mau ngasih kejutan, Vi.” Sahut Arya dengan senyuman.
“Mumpung Masmu lagi nggak sibuk.” Timpal Tia.
Via segera mengajak mereka masuk sambil menggendong Ica yang otomatis lengket padanya karena merasa sangat kangen.
“Mbakmu sampe repot-repot masak buat kamu lho.” Ujar Arya begitu mereka berkumpul di ruang tamu.
“Wah! Tau aja emang Mbakku yang baik hati ini kalo aku lagi laper.” Via tersenyum lebar.
“Sebentar ya, Mbak siapin dulu. Nanti kita makan siang sama-sama.” Tia langsung menuju dapur mencari piring dan teman-temannya.
“Mas mau lihat-lihat rumah kontarkan kamu dulu ya. Boleh kan?” Arya bengkit keluar lagi. “Wah, luas juga ya Vi? Pasti mahal ini kontraknya ya?” Arya memandang sekeliling rumah kontrakan Via yang halamannya cukup luas dan rumahnya bagus tak seperti rumah kontrakannya di kampung yang minimalis alias kecil mungil.
Via hanya tersenyum sambil mengekor kakak iparnya.
“Kenapa kamu nggak ambil KPR aja sekalian?”
“Mas Mirzanya nggak mau, Mas.”
__ADS_1
Arya melihat pot dan polybag yang baru saja ditanami Via.
“Wah, kamu nanem apa ini, Vi?
“Iseng aja nanem sayuran, daripada bête di rumah nggak ada suami.”
Arya manggut-manggut.
“Tante, ayo main sama Ica!” Ica menarik tangan Via mengajaknya bermain.
“Makanannya udah siap. Ayo kita makan dulu!” Seru Tia dari dalam.
“Tuh! Dipanggil Bunda suruh makan. Ayo kita makan dulu. Nanti abis itu baru main.” Ucap Via.
Ica merengek tak mau menuruti tantenya. “Main dulu, Tan. Baru makan.”
“Ica, ayo makan dulu.” Tia datang memperingatkan.
“Tapi, Bun …”
“Ica kalo nakal ayah ajak pulang nih. Inget tadi janjinya apa waktu mau berangkat?” Arya turut memperingatkan putrinya yang sudah berani membantah itu. “Ica nggak akan nakal kan?”
Ica mengangguk sambil cemberut. Dan akhirnya dengan bersungut-sungut Ica nurut juga masuk ke dalam dengan digandeng ayahnya. Via dan Tia tersenyum melihat tingkah bocah perempuan itu.
Sebuah sepeda motor berhenti di luar pagar rumah Via. Pengendaranya urung turun karena mengamati di dalam sepertinya lagi ada tamu.
“Kayaknya mendingan aku nggak kasihin deh titipin Papa ini. Kalo Via tau, bisa-bisa dia nggak mau dateng mengunjungi Papa lagi.” Gumam si pengendara motor yang tak lain adalah Danar.
Danar memang diamanatkan oleh Pak Hadi untuk membawa sekarung tanah kompos ke rumah Via kerena kemarin Via dan Yanti hanya membawa sedikit. Pak Hadi naggak tau perasaan anaknya sendiri pada Via, makanya dia enteng aja nyuruh Danar. Sebaliknya, Danar malah khawatir kalau Via tau Pak Hadi itu ayahnya, dia mungkin nggak akan lagi berkunjung ke rumahnya. Maka Danar memutuskan untuk membawa saja tanah kompos itu ke kedai. Entah mau dipake buat apa nanti disana. Mungkin bisa jadi campuran ramuan resep kopi baru 😝🤭
“Eh, Mas Danar ganteng. Bawa apaan tuh?” Tiba-tiba seseorang yang selalu datang pada momen yang tak tepat tanpa diundang itu mencolek bahu Danar dari belakang sambil melihat karung yang teronggok di motor Danar.
Danar sampe kaget dibuatnya.
“Biasa aja dong Mas, liatnya. Iya aku tahu, aku ini sedemikian cantik, menarik dan mempesona dimatamu.” Ucap si pencolek bahu Danar dengan mengedip-ngedipkan mata genit, siapa lagi kalo bukan Bujel.
Danar tak menanggapi, dia kembali menstarter motornya.
“Eh, mau kemana Mas ganteng? Kok buru-buru amat?” Bujel menghalangi Danar dengan badannya yang bohay.
“Permisi, Bu. Saya lagi buru-buru.” Tukas Danar datar.
“Aih, buru-buru mau ke KUA ya? Udah nggak sabar aja mau daftarin nama kita berdua disana…” Bujel malah cekikikan sendiri membuat Danar makin ilfeel.
“Sabar dong, Mas ganteng." Bujel kembali nyolek bahu Danar. "Bedewey on the baswey, itu bawa apaan sih? Kok kayaknya berat isinya? Tapi lebih berat menanggung rinduku padamu deh, kayaknya….” Bujel cekekikin lagi.
Haduh! Apes, apes …. Kenapa jadi ketemu sama ini orang sih! Danar merutukki dirinya.
“Ini beras, Bu. Mau saya bagi-bagiin buat jatah sembako fakir miskin.” Danar akhirnya gemas juga asal jawab.
“Oooh…. Beras….?” Bibir merah Bukel membulat sok eksotis. “Kalo hatinya Mas Danar mau dibagi-bagiin nggak? Bagi dong buat saya ….” Bujel kembali menggoda.
“Maaf ya, Bu. Saya lagi buru-buru.” Danar memutar gasnya membuat Bujel terlonjak kaget sehingga langsung minggir karena takut ketabrak.
Tak buang waktu, Danar langsung tancap gas meningalkan Bujel yang termehek-mehek sendiri.
_____________
Nah... segitu dulu ya Kak ☺️
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉😉
__ADS_1
Luv u all 🤗🤗😘😘