
Ting tung!
Berpikir sejenak, siapa yang datang?
Ting tung!
Bel pintu terdengar lagi membuat Jumilah segera bangkit.
βWait! Njum's coming β¦β sahut Jumilah ketika hampir mencapai pintu.
Ceklek,
Pintu ruang tamu dibuka. Kedua mata Jumilah terbelalak sempurna mendapati sosok yang berdiri di teras rumah Via. Bibirnya hampir tak bisa bekata-kata demi melihat mahluk yang nyata-nyata kini beraada tepat di hadapannya.
"Kamu?!" sang tamu pun sama kagetnya ketika melihat tampang Jumilah nongol di depannya. "Ngapain kamu disini?" pertanyaannya membuat Jumilah tersadar dari bengongnya.
"Eh, situ yang ngapain kesini-sini?" balas Jumilah ketus.
"Mana Via?" hendak menerobos masuk namun pagar pertahanan Jumilah sangatlah kokoh.
"Enak aja main nyelonong masuk, ucap salam dulu kek!"
"Minggir!" sengaja menabrak bahu Jumilah namun Jumilah tetap kekeh.
"Saya bilang minggir! Ini rumah anak saya, jangan kurang ngajar kamu ya!" masih berusaha menyingkirkan Jumilah dari hadapannya.
"Emangnya siapa anak situ? Disini cuman ada Mbak Via sama Inces Nala!"
"Jum? Ada apa?" Via muncul tergesa karena mendengar keributan. "Ibu?" tak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat sang ibu mertua ternyata ada di sana.
"Mana Mirza?" todong Bu Een tanpa basa basi.
"Masuk dulu, Bu," mempersilakan masuk.
"Mirza mana?" ulang Bu Een dengan intonasi lebih tinggi. "Kamu sembunyikan Mirza dimana?"
"Hey, nenek peot! Situ tadi maksa pengen masuk, disuruh masuk malah nyolot!" Jumilah jengkel dengan tingkah Bu Een.
"Jum," Via memberi isyarat dengan matanya agar Jumilah masuk.
"Oke, tapi kalo butuh bantuan teriak aja ya Mbak. Njum smack down nih si Lampir!" terpaksa nurut sambil melemparkan tatapan sengit pada Bu Een.
"Saya nggak mau banyak basa basi, cepet bilang dimana Mirza sekarang?" masih dalam mode galak.
Mengulas senyuman, "bukannya Ibu yang seharusnya lebih tau dari aku? Kan selama ini Ibu yang selalu ngatur Mas Mirza?"
"Jangan pura-pura kamu, pasti kamu sebenarnya tau Mirza ada dimana. Kamu sengaja sembunyikan dia dari saya biar saya nggak mengganggu kalian lagi," hampir hilang kesabarannya menghadapi Via yang begitu tenang.
"Jadi Ibu sadar kalau selama ini Ibu sudah mengganggu hubungan aku sama Mas Mirza?"
Gluk!
__ADS_1
Bu Een tertohok dengan pertanyaan Via. Terdiam karena salah ucapannya sendiri.
"Lagian Mas Mirza itu bukan barang atau anak kecil Bu, yang kalau disembunyikan dia diem aja," sambung Via.
"Bisa jadi kamu mengancam Mirza... "
"Aku bukan Ibu yang suka ngancem-ngancem Mas Mirza," pangkas Via. "Mas Mirza juga punya perasaan, punya hati nurani. Dia pergi karena nggak mau menyakiti hati Ibu dengan memilih tetap bersama aku."
"Nggak mau menyakiti saya, kamu bilang?" menyahut getir. "Dengan pergi begitu saja justru dia sudah sangat menyakiti hati saya. Dan itu pasti kamu yang suruh!"
Tetap berusaha sabar, senyum kembali disunggingkan di bibir manisnya hingga membuat Bu Een makin jengkel.
"Kamu senang kan Mirza sudah pergi? Kamu merasa menang dari saya? Puas kamu sekarang? Dasar perempuan licik!" Menumpahkan semua kejengkelannya dengan suara melengking.
"Kenapa aku harus senang? Dan kenapa aku harus merasa menang dari Ibu? Ini bukan perlombaan, Bu. Aku juga sama kehilangannya seperti ibu, sama sakitnya seperti Ibu. Ibu pikir aku bahagia? Nggak, sama sekali aku nggak bahagia dengan semua ini," tercekat diakhir kalimatnya, menahan segala rasa pedihnya yang kembali menyeruak ke permukaan hati.
Bu Een terdiam, dari kata-kata Via yang didengarnya ia nampak mulai yakin Via tidak berbohong. Namun itu hanya berlangsung beberapa detik, hatinya yang sudah terlanjur dipenuhi dengan prasangka buruk kembali menolak kenyataan.
"Pandai sekali kamu berbohong," sinis Bu Een. "Saya nggak percaya sama muka kamu yang sok tidak berdosa itu. Pasti kamu yang menyembunyikan Mirza! Saya akan cari dia sampa dapat!"
"Mau cari dimana? Mau menggeledah rumah ini, silakan kalo ibu nggak percaya."
Menerobos masuk dengan langkah cepat, memeriksa semua ruangan seraya berteriak memanggil sang anak. "Mirza! Kamu dimana, Nak? Ini ibu." Kamar mandi sampai dapur pun tak luput dari geledahannya. "Mirza! Mirza!"
Kembali ke ruangan depan dan membuka kamar yang terlewat.
BRAK!
"Mirza!"
"Hoy, Lampir! Kira-kira dong kalo masuk kamar orang!" Bentak Jumilah yang juga kaget dengan kelakuan Bu Een.
Via segera masuk untuk menenangkan sang anak, mengangkatnya dalam gendongan.
"Mbak, kita lapor keamanan komplek aja biar si Lampir ini diciduk sekalian!" Jumilah jengkel bukan main. "Bener-bener nggak ada ahlak nih nenek-nenek! Aku mau panggil satpam!" Jumilah keluar kamar, gegas ia berlari namun langkahnya terhenti ketika bertemu Riri yang baru masuk halaman.
"Mbak Jum, kenapa lari-lari?" Riri menghentikan motornya.
"Eh, Mbak Riri kok balik lagi?" Malah bertanya heran.
"HP aku ketinggalan."
"Oh... Ya udah, Njum mau panggil keamanan dulu."
"Eeeh, Mbak Jum tunggu!" Segara turun dan mencegat Jumilah. "Mau ngapain kok panggil keamanan segala?"
"Ada biang keributan di dalem, Mbak! Njum harus panggil satpam demi menjaga keamanan Mbak Via dan Inces Nala."
Sempat semakin heran dengan pernyataan Jumilah, namun setelah menyadari sepeda motor siapa tang terparkir di dekat teras, Riri segera paham.
"Hem, biar aku yang beresin! Ayok Mbak Jum, kita tumpas biang onar bersama-sama!" Menggeret lengan Jumilah segera masuk.
__ADS_1
"Itu dia Nenek Lampir peot biang keributannya Mbak!" Jumilah menunjuk pada Bu Een yang habis mengobral-abrik seisi kamar Via.
Via hanya duduk di bibir ranjang mendekap Nala yang kini sudah reda dari tangisnya.
"Heh, Bu Endang! Ngapain ngeberantakin kamar kakak aku? Kayak lagi razia narkoba aja segala lemari digeledah?" Melihat seisi lemari dan laci-laci meja terbuka lebar.
Bu Een cuek pura-pura tak mendengar.
"Apa Ibu sudah puas?" Ucap Via melihat ibu mertuanya yang ngos-ngosan menata napasnya karena jengkel campur capek. "Ibu nggak akan menemukan bukti apapun, karena aku sama sekali nggak tau tentang keberadaan Mirza."
"Sebaiknya Bu Een cepetan pergi, ini sudah masuk pasal perusakan nih. aku bisa lapor polisi," Riri menakut-nakuti.
"Jangan ikut campur kamu anak bau kencur!" Hardik Bu Een. "Saya bebas melakukan apa saja disini, ini semua barang-barang anak saya, kakak kamu yang licik ini bahkan nggak membawa selembar baju pun waktu nikah sama anak saya!" Lanjut Bu Een dengan sombongnya.
"Keterlaluan nih nenek-nenek, Menghina aja kerjanya. Keluarga kami memang bukan orang kaya, tapi bukan berarti Anda bisa merendahkan kami dengan seenaknya. Mbak Jum ayok kita seret keluar si Lampir ini!" Riri yang tersulut emosi mengajak Jumilah menggeret Bu Een namun dengan sekali hentakan, entah dapat kekuatan darimana Bu Een berhasil menghempaskan keduanya.
"Lepas! Saya nggak sudi kalian pegang-pegang! Akan saya acak-acak seisi rumah ini sampe kamu bilang dimana Mirza berada!" Ancam Bu Een pada Via semakin menjadi.
"Wah, Lampir kerasukan setan nih kayaknya. Ayok Mbak kita yang waras pergi aja, daripada ketularan gila sama dia!" Jumilah mengajak Via keluar kamar.
"Berhenti! Saya belum selesai!" Pekik Bu Een geram.
"Bisa nggak sih nggak usah teriak-tetiak di rumah kakak aku?!" Balas Riri beteriak juga. dia sudah kehilangan sabar dan sopannya jika menghadapi mahkuk yang bernama Bu Een. "Oya, aku lupa kasih tau sesuatu. Asal Bu Endang tau ya, rumah ini beserta semua kendaraan sudah atas nama Mbak Via, Mas Mirza ternyata kebih cerdas, dia tak ingin kecolongan lagi sama ibunya."
Ucapan Riri tak hanya membuat Bu Een kaget, tapi Via juga yang tak mengetahuinya sempat merasa terkejut.
"Satu lagi, beserta 20 hektar empang, dan 30 hektar ladang garam di daerah pesisir sudah Mas Mirza berikan atas nama Mbak Via." Imbuh Riri dengan mantap.
Lidah terasa kelu, dada berdegup makin kencang. Pil pahit kembali ditelannya, rasa benci kembali menjadi-jadi pada sang menantu. Bu Een sungguh tak rela, mengapa ia sampai tak tau dengan semua itu.
"Kamu bohong?" Lirih Bu Een dengan suara bergetar, matanya memanas. Dirinya merasa dikhianati oleh sang anak tercinta.
"Kalo nggak percaya, tanya aja sama Om Jaka. Semua surat-suratnya Om Jaka yang simpan," tersenyum pongah merasa puas membuat Bu Een kini perlahan mencari tempat untuk menyandarkan tubuhnya yang semaki bergetar.
"Anda kenapa Bu Endang? shock ya?" Ejek Riri. "Silakan nikmati keterkejutan Anda sepuasnya!" Lanjut Riri lantas mengajak Via keluar.
Sedang dalam mode sangat hancur dan tak berdaya, ponsel dalam tasnya berdering beberapa kali. Dalam keenganan dia menjawab panggilan gawainya.
"Halo,"
"Bu, Bu Een dimana? Cepat pulang Bu, ada musibah!" Ucap suara seseorang dati seberang dengan terburu.
Belum sempat bertanya musibah apa yang dimaksud, panggilan segera diakkhiri secara sepihak membuat Bu Een penasaran dibuatnya. Dengan sisa tenaga yang ada gegas ia bangkit dan keluar dari kamar Via.
"Hoy, Bu mau kemana buru-buru amat?" seru Riri sengaja kembali meledek Bu Een yang berjalan cepat dengan wajah merah padam.
πππππ
Waduh, Bu Een kenapa ya kira-kira pergi buru-buru gitu? Apa dia kebelet pipis ya π€π€
Selalu like dan komen ya, dear... π₯°π₯°
__ADS_1
mohon maaf kalo bantak typoππ
I love all π€π€π€πππ