
Hi, readers kesayangan … ☺️
Othor baca semua komentar kalian lho ❤️
Terima kasih banyak ya, kalian penyemangatku 🙏🙏🤗🤗
Maaf kalo nggak sempat bales,tapi othor hepiii banget dapet komen yang nano-nano, semuanya seru. Othor sampe senyum-senyum sendiri bacanya 😂😂
Kakak sesama author, kalian pun sama berartinya buatku. Othor belajar banyak dari karya-karya keren kalian 🙏🙏🙏
ikan hiu ikan cucut
yuk, lanjut 😃
❤️❤️❤️❤️❤️
“Tumben pulang?” tatapan Tia lurus membidik wajah Mirza yang nampak lelah setelah Danar berlalu.
Mirza hanya tersenyum tanpa berniat menjawab, ia melangkah masuk karena tau kakak iparnya sedang tak ramah.
“Za, tunggu!”
Mirza yang hampir membuka pintu kamar mengurungkan niatnya dan memutar badannya.
“Sampai kapan kamu akan begini terus?”
Membuang napas kasar, menata pikiranya mencoba bersabar. “Mbak, aku minta maaf kalo udah ngerepotin Mbak Tia dan Mas Arya.”
“Ini bukan soal merepotkan atau tidak, tapi soal ketegasanmu sebagai seorang suami,” menatap lurus mata adik iparnya menunggu kepastian.
Meraup wajahnya kasar, melempar pandangan ke sembarang arah tak berani bersitatap dengan sang kakak ipar yang mempunyai banyak kemiripan dengan istrinya, bukan hanya dari wajah namun juga sifatnya. Tia sangat lembut hati dan penyayang namun sama halnya seperti Via, ia akan berubah drastis kalau sudah marah, segala hal pasti akan diburunya.
“Jawab, Za!” menyentak kesadaran Mirza.
“Mbak, saat ini ibuku sedang butuh perawatan, dan aku – “
“Kalo gitu tinggalkan Via,” titah Tia dengan nada dingin.
Menggeleng tegas, “nggak. Sampai kapan pun aku nggak akan meninggalkan istri dan calon anakku.”
Tersenyum sinis, “mumpung anakmu belum lahir, jangan sampai dia mengenal dan mengetahui ayahnya yang tidak punya ketegasan.”
“Mbak, aku nggak percaya Mbak Tia bisa ngomong begini,” menatap tak habis pikir. “Harusnya Mbak Tia memberikan dukungan pada Via untuk yakin tetep bersamaku,” kesabaran Mirza mulai luntur karena perempuan berhijab di depannya yang biasanya selalu berskap lembut itu tiba-tiba mengusik naluri kebapakannya.
“Untuk apa Via tetap bersama kamu kalo hatinya selalu tersakiti? Toh selamanya kamu akan lebih mementingkan ibumu yang egoisnya nggak ada habis-habisnya. Via bukan boneka yang tak punya perasaan. Kamu harusnya sadar, sikap kamu sejak ibumu sakit itu sudah tidak adil!”
“Bunda,” Arya muncul karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar bersamaan dengan Ica yang juga membuka pintu kamar Via karena mendengar bundanya berbicara dengan nada keras.Ica mengintip dari celah pintu ysng terbuka sedikit.
__ADS_1
“Ayah jangan ikut campur,” ucap Tia pada suaminya.
“Bunda yang harusnya jangan ikut campur,” mendekat pada sang istri. “Biarkan Mirza dan Via menyelesaikan masalahnya sendiri Bun,” merangkul pundak Tia namun Tia segera menepisnya.
“Ini maslah hati seorang istri Yah. Apa Ayah juga akan diam saja kalau punya adik perempuan yang tersakti karena sikap suaminya yang tidak mempunyai ketegasan?” melirik Mirza.
“Ya, Ayah akan diam saja, kecuali dia meminta bantuan Ayah.”
“Ayah bisa bilang begitu karena tak punya adik. Via itu adik Buda Yah, bertahun-tahun dia tersakiti –“
“Via juga adik Ayah,” memangkas ucapan istrinya. “Bunda kira Ayah tidak ikut memikirkan masalah Via selama ini?”
“Kalo cuman mikirin doang tapi nggak bertindak buat apa?” sarkas Tia.
“Karena Ayah tau bukan porsinya kita untuk ikut campur terlalu jauh dengan masalah mereka. Ini urusan rumah tangga, Bun. biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan dengan kepala dingin, segala masalah pasti ada jalan keluarnya.”
“Dan jalan keluarnya adalah mereka harus pisah!”
“Astaghfirullah, Bunda!” Arya sampai harus menaikkan volume suaranya demi meredam emosi istrinya.
“Memang itu kan yang diinginkan ibunya Mirza?” Sengit Tia tak mau kalah meninggikan suaranya pula membuat Ica shock melihat kedua orang tuanya ribut di depan matanya, padahal selama ini Tia dan Arya tidak pernah bertengkar di depan Ica.
“Ayah sama Bunda kenapa berantem?” wajah Ica sudah ketakutan menahan tangis yang hampir pecah.
Keduanya tak terkecuali Mirza menoleh pada Ica yang baru mereka sadari keberadaannya berdiri di balik pintu kamar yang terbuka sedikit.
“Tapi kenapa saling teriak kayak orang marah-marah?”
Menatap penuh penyesalan, “maafin Bunda ya. Ayah sama Bunda beneran nggak berantem Sayang, kami hanya berdebat kecil saja.” Mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya lantas membawanya pergi.
Arya mendengus kasar, ia pun menyesali sudah bersikap tak patut di depan putrinya. “Selesaikan masalamu, Za. Ingat, keutuhan rumah tanggamu ada ditanganmu.” Menepuk pundak Mirza lantas ikut berlalu.
“Iya, Mas.”
Masuk ke kamar tanpa menutup pintu dengan benar, dilihatnya tubuh sang istri meringkuk menghadap dinding. Tanpa Mirza tau, Via mendengar semua keributan yang baru saja usai di depan kamarnya.
Tersenyum dan mendekati bibir ranjang selesai membersihkan diri sebentar. “Sayang,” menyentuh lembut pundak Via.
Via yang memang tidak tidur segera membalikkan badan, jejak air mata masih nampak di pipinya.
“Kamu habis menangis, Sayang?” berbaing di samping Via, memiringkan tubuhnya sehingga berhadapan. “Maafkan Mas ya, Mas memang bukan suami yang baik.”
Ingin sekali menangis, namun sekuat tenaga ditahannya air mata jangan sampai luruh. “Mas suami yang sempurna untukku. Semua sifat baik laki-laki ada dalam diri Mas.” Tutur Via dengan senyuman membingkai di wajah cantiknya. Semua kesedihannya ditenggelamkan jauh-jauh ke dalam palung samuda hatinya.
“Kamu pun istri terbaik untuk Mas, Sayang.” Mengecup lembut kening Via, sorot mata Mirza penuh kelegaan. Istrinya memang sangat lembut hati, ia bersyukur akan hal itu.
“Tidak ada manusia sempurna di dunia ini, Mas” ucapan Via menarik senyum yang hampir melengkung di bibr manis Mirza.
__ADS_1
“Bukankah kamu tadi bilang Mas ini suami sempurna untukmu, Sayang?”
Mengelus pipi sang suami yang ditumbuhi brewok tipis, rambut gondrongnya diikat rapih, lesung pipi saat tersenyum, sungguh wajah rupawan yang selalu membuatnya bahagia dan nyaman kala bersamanya.
“Kamu memang suami yang sempurna untukku Mas, tapi aku bukan istri yang sempurna untumu karena aku nggak bisa meluluhkan hati ibumu hingga saat ini.”
CKIIT …
Hati Mirza seketika nyeri mendengarnya, nyeri sekali sampai ke dasar hati. Via bangkit dari posisinya, Mirza mengikuti dengan tatapan seolah tak percaya.
“Ini hanya soal waktu Sayang, Mas yakin ketika anak kita lahir nanti ibu pasti akan luluh dan menerima keluarga kecil kita secara utuh.”
Menggeleng, namun masih dengan senyuman yang lekat di bibirnya. “Jangan berangan-anagn untk sesuatu hal yang mustahil Mas.”
“Kenapa kamu bilang begitu?” sedikit tersentak. “Apa kamu merasa perubahan sikap ibu untuk menerima kamu itu mustahil? Bukankah kamu yang selalu bilang bahwa dengan kesabaran dan kasih sayang, suatu hari nanti ibu akan bisa benar-benar merestui kita? Bukankah selama ini kamu yang menanamkan semua keyakinan itu padaku? Lalu kenapa kamu sekarang bisa bilang begitu?” memberondong Via dengan pertanyaan karena mulai menangkap sinyal aneh pada diri sang istri.
“suatu hari nanti?” tersenyum getir. “Dan aku mulai yakin Mas, hari itu sepertinya tidak akan datang.”
“Sayang, apa kamu sadar apa yang kamu katakan?” meraih jemari Via seolah memintanya untuk menarik semua kata-katanya. “Kamu sudah meragukan kesetiaanku dan meragukan kuasa Tuhan.”
“Bagaimana jika aku mendapatkan keyakinan itu dari jawaban atas doa-doaku selama ini pada Tuhan, Mas?” menatap kedua mata yang senantiasa menduhkan hati itu intens.
“Nggak, aku nggak percaya.” Menggeleng kuat.
“Selama kamu tak ada di sampingku akhir-akhir ini, sejak aku mendengarkan permintaan ibu hari itu, aku mulai berpikir Mas –“
“Nggak, pikiranmu pasti salah,” potong Mirza seraya melepaskan genggamannya.
“Aku tidak hanya berpikir, tapi juga berbicara pada Tuhan. Aku yakin DIA mendengarku dan memberikan jawaban atas semua tanyaku lewat tanda-tanda yang aku dapatkan.”
“Apa yang kamu tanyakan pada Tuhan?” melirik tajam.
“Banyak, dan aku yakin kamu tahu Mas,” masih tetap mengulas senyum walau hatinya kian terasa berat untuk mengatakannya. “Jadi aku yakin, pisah adalah jalan terbaik untuk kita,” ucap Via kemudian setelah mengumpulkan segenap kekuatannya.
JENGJRENG!
Apakah yang terjadi selanjutnya sodara-sodara 🤔🤔
Tak dapat dipungkiri, othor sendiri sebenernya tak tega untuk memisahkan Mirza dan Via. 😢😢
Tapi othor tetep harus buat cerita sesuai judul dan sinopsisnya kan ya … 😂😂 (kecuali othor mau ganti judul dan sinopsisnya,wkwkwkk 😆)
walaupun banyak yang melebar karena sayang kalau konflik dari para pendukung nggak ikut digali, alhasil episode panjang kali lebar😅😅
Jangan pada kabur ya walau nanti mereka tak bersama lagi.😁😁 Ingat othor bilang, happy ending untuk Via dan Mirza😍😍
Love you all🤗🤗🤗😁😁😁
__ADS_1