
Tepat jam dua dini hari, waker diatas nakas berbunyi. Belakangan ini sejak rumah tangganya berada di ujung tanduk, Mirza memang selalu menyempatkan diri bermunajat disepertiga malam. Selesai membersihkan diri, ia bentangkan sajadah panjangnya dan lekas menunaikan rakaat demi rakaat hingga hampir satu jam lamanya. Dalam keheningan ia merasa sangat dekat dengan Rabbnya, pintanya tak terlalu bayak, ia memohon dipersatukan kembali dengan istrinya dan dibukakan pintu hati ibunya agar memberikan restu untuk rumah tangganya yang sebentar lagi akan dikarunia seorang malaikat kecil.
Bagaikan dituntun oleh sebuah dorongan yang kuat, dipenghujung doanya ketika mengingat calon buah hatinya usai mengucap aamiin, Mirza meraih ponselnya. Padahal biasanya dia akan menghabiskan waktu membaca Al-Quran hingga waktu subuh datang. Mirza memang berubah jadi lebih rajin ibadah akhir-akhir ini. Begitulah, terkadang manusia memang harus diberi ujian terlebih dahulu supaya kembali mengingat Rabbnya.
Menggerutu tak jelas kerena ponselnya mati, ia segera mengisi daya batrai ponselnya. Dirapikan kembali sajadah dan Al Quran ke dalam lemari, ia baringkan tubuhnya sambil mengaktifkan kembali ponselnya dengan kabel yang masih terhubung .
“Astaghfirullah,” beristigfar ketika mendapati beberapa kali panggilan tak terjawab dari Tia dan Danar. Bahkan sampai 23x missed call dari Danar. Kekagetannya tak sampai disitu, Mirza sampai terbangun saking kagetnya ketika membaca pesan singkat Danar.
Za, datang ke Rumah Sakit Bersalin Kasih Bunda sekarang. Via akan melahirkan.
“Via akan melahirkan?” kaget campur heran juga bahagia. “Istriku akan melahirkan? Anakku sebentar lagi akan lahir? Ya Alah, benarkah ini?” terus bertanya-tanya sendiri sambil mondar mandir nggak jelas. Ketika kesadarannya telah terkumpul, Mirza segera meraih kunci motornya dan pergi menembus dinginnya udara dini hari dan melupakan jaketnya.
Di depan ruangan bersalin, Riri masih dengan wajah juteknya baru selesai ngomelin Danar.
“Kamu itu nggak sopan tau Yang, bicara begitu sama Mas Danar.” Toni menegur halus kekasihnya.
“Biarin aja. Lagian Mas Danar ngotot banget pingin nyariin Mas Mirza. kalo dia mau nyari, ya cari aja sendiri nggak usah ngajak-ngajak kita.”
Danar diam saja, ia berdiri bersandar pada pilar mengahdap taman.
“Mas Danar, maafin Riri ya,” ucap Toni tak enak hati.
Hanya mengulas senyum tipis. Sejujurnya ia diam bukan karena tersinggung dengan perkataan Riri, tapi karena memikirkan Via di dalam sana. Via pasti sangat mengharapkan kehadiran Mirza.
"Toni," panggil Bu Harni yang muncul dari balik pintu. "Minta tolong pesankan teh anget ke kantin ya."
"Tadi kan ibu bawa termos air panas?" sahut Riri.
"Termosnya doang kalo nggak ada isinya buat apa?" Bu Harni bertanya balik.
menepuk jidatnya sendiri, "jadi ibu bawa termos kosong?"
"Udah, nggak usah dibahas. cepetan cariin teh anget, kakak kamu pingin minum yang anget-anget biar tenaganya kuat kalo ngejan." Titah Bu Harni lantas kembali ke dalam.
"Biar aku aja yang carikan," Danar menawarkan diri.
"Nggak usah, biar Toni aja Mas," sergah Riri.
"Sama kamu yok, Yang." tersenyum manis mengajak kekasihnya turut serta.
"Kan tadi kamu yang disuruh sama ibu?"
"Kamu mau berduaan sama Mas Danar ya?" Berbisik pada telinga Riri menahan kesal.
"Jangan mulai lagi deh, ntar aku panggilin suster ngesot nih," ancam Riri berbisik pula.
"Yang, aku takut."
"Dasar laki-laki penakut!"
"Sereeemm...." Toni membayangkan wajah pucat dan rambut acak-acakan si suster yang dilihatya beberapa jam yang lalu.
"Aku anterin," ucap Danar yang sedari tadi mendengar kasak kusuk sepasang kekasih itu.
"Oh, syukurlah. Mas Danar memang baik," puji Toni lega karena ada yang menemaninya.
Riri memilih masuk menemani Via dan ibunya, walaupun sudah diperingatkan oleh suster hanya satu orang yang boleh menunggu, tapi dia nggak peduli. baginya sangat menyeramkan duduk sendirian di depan ruang bersalin dalam suasana rumah sakit yang dingin dan sepi.
“Bu, gimana keadaan Mbak Via?” Riri mendekat pada kakaknya yang nampak sedang menahan sakit.
“Belum nambah pembukaannya, Ri.”
“Ouhhh, shhhh ….” Berteriak tertahan memiringkan tubuhnya ke kiri.
“Yang mana yang sakit Mbak?” Riri mengusap-usap perut Via.
Menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus merintih dan sesekali mengucap istighfar. Bu Harni yang berdiri di samping kanan meniupi kepala Via, mungkin maksudnya untuk membuat Via nggak kepanasan atau merasa lebih tenang. Padahal kan ruangannya ber-AC.
“Bu, sakit banget Bu … “ kembali merintih dengan mata terpejam, kedua kakinya bergerak tak karuan. “Shhhh ….”
“Sabar, Nak. Sabar …” Bu Harni berusaha menguatkan.
“Ini mulasnya lebih dari yang tadi, Bu. lebih sakit …” *******-***** panggulnya yang juga tersa ikut panas nyeri tak karuan.
Riri jadi tak tega meihat kakaknya, dia jadi membayangkan dirinya sendiri, apakah nanti dia akan seperti itu jika melahirkan? Seperti apa sakitnya kira-kira?
“Aaaaawhhh …” Via menjerit membuat Riri kaget.
“Ri, Toni kok lama banget sih?” Bu Harni jadi panik nanyain Toni, ia berharap teh hangat bisa membuat Via lebih tenang.
“Nggak tau, Bu. mungkin kantinnya udah tutup jadi cari di luar.”
“Coba kamu cari sana, susulin dia suruh cepetan. Kasihan Via nih.”
Riri malah bengong. Nyusulin Toni? Nggak banget!
“Kok malah bengong?” menepuk pudak Riri. “Cepetan sana,”
“Hem, Toni perginya sama Mas Danar kok Bu. paling bentar lagi nyampe,”
“Ya kalo gitu telpon dia atau gimana, tanyain kenapa lama banget?”
“Awwwwh…, Bu sakit banget Bu ….” Suara Via kembali membuat Riri terjingkat kaget.
“Iya Nak, sabar ya. sabar …”
Riri beringsut keluar seraya merogoh ponsel dalam tas slempangnya.
Ceklek.
Tepat ia hampir mencapai pintu, Toni dan Danar muncul di depannya.
Fyuuh, sukurlah … guamam Riri dalam hati.
“Ton, kita di luar aja.” Menarik tangan Toni keluar bersamanya.
“Kenapa sih, Yang?”
“Aku nggak tega ngeliat Mbak Via kesakitan,” mereka duduk bersebelahan di bangku depan ruangan. “Kenapa tadi lama banget?”
“Ibu kantinnya kehabisan air panas, nungguin airnya masak dulu makanya lama.”
“Huh, tau gitu sekalian tadi pesenin pop mie,” merengut.
“Tadi nggak bilang?”
“Baru mau telpon, kamu udah keburu dateng.” Memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. “Nungguin Mbak Via aku jadi laper nih.” Memegangi perutnya yang keroncongan.
“Ya udah kita cari makanan yok!”
“Ke kantin?” menatap tak yakin.
“Ke toilet aja gimana?”
“Hish!”
“Awwh!”
Toni meringis mendapat cubitan kecil di lengannya.
“Kok nyubit sih Yang?”
“aku laper, Ton …”
“Ya ayok makanya kita ke kantin.”
“Kamu nggak takut? Kalo ketemu suster ngesot lagi gimana?” rona khawatir bercampur takut.
“Demi kamu aku berani kok,”
__ADS_1
Meski tak terlalu yakin dengan keberanian kekasihnya, Riri akhirnya pergi juga berdua dengan Toni ke kantin rumah sakit. Mereka mengikuti penunjuk arah menuju kantin, dari arah lain terlihat Mirza baru sampai dengan langkah tergesa bertanya pada suster jaga.
Tilulilut tilulilut tilulilut …
Ponsel Bu Harni berbunyi. Suaranya yang nyaring membuat Bu Harni menghentikan aktifiasnya yang sedang membantu Via minum tehnya.
Tilulilut tilulilut tilulilut …
Ponsel dengan ring tone jadul itu kembali beteriak, Bu Harni jengah sendiri dengan suara ponselnya. Siapa sih yang telpon jam segini? Rutuk batinnya.
“Nak Danar,” panggilnya pada Danar yang sedari tadi duduk di sofa, “bisa minta tolong bantuin Via minum tehnya?”
Meski agak ragu untuk bilang iya, namun Danar menggerakkan juga kakinya ke samping bed Via menggantikan posisi Bu Harni. Sementara Bu Harni sendiri mengaduk-aduk tasnya di atas meja mencari si ponsel bawel yang menunggu dieksekusi.
“Halo, Tia. Ada apa sih? Telpon terus?” jawab Bu Harni pada Tia sedikit kesal setelah berhasil menemukan hengpongnya. Ia melangkah keluar karena tak ingin Via terganggu oleh percakapannya.
Menggenggam gelas teh yang terasa hangat dengan sendok yang terasong di depan mulut Via, Danar merasakan debaran tak karuan di dalam dadanya. Harusnya dia tadi meminta sedotan untuk minum Via agar tak terjadi momen sperti ini. Entahlah,
Rasa hangat dan aroma teh kesukaannya memang membuat Via sedikit lebih relax, seolah sehati dengan bundanya, sang jabang bayi yang masih betah meringkuk dalam rahim itu pun kini anteng tak banyak bergerak dan tak membuat nyeri yang berarti.
Menggeleng pelan, “udah,” ucap Via lemah.
“Kamu bahkan belum meminum setengahnya,” menyendokan kembali teh hangat.
Terdiam menatap wajah Danar yang datar. Danar pun tak menghindarinya, ia tau apa yang dipikirkan Via. Ingin rasanya ia daratkan belaiannya pada pucuk kepal wanita di depannya itu, mengusapnya penuh kasih sayang untuk menenangkannya.
Kenapa harus Danar yang melakukannya? Monolog batin Via.
“Minum lagi ya?” suara Danar membuat Via memutuskan tautan matanya lantas membuka mulut untuk menyesap tehnya lagi.
Momen itu ternyata disaksikan oleh sepasang mata yang baru saja sampai di depan ruangan. Lewat pintu yang sedikit terbuka, ia melihat pemandangan yang sungguh tak ingin disaksikannya. Darahnya berdesir, hatinya berdenyut ngilu. Pantaskan jika ia marah menyaksikan semua itu?
“Makasih ya,” ucap Via kemudian.
“Jangan bilang makasih dulu kalau belum habis,” menyodorkan gelas, “Ini udah nggak terlalu panas, habisin ya.”
“Aku udah kenyang.”
“Ini kan cuman teh anget, bukan makanan.”
“Jangan maksa dong.”
“Ayolah, biar kamu ada tenaga. Cepet habisin,” sedikit memaksa.
“Kamu mau bikin aku –“ tak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba si jabang bayi kembali menggeliat, “Aaawhh ….”
“Vi –“ Segera meletakkan gelas di atas nakas, dan membantu Via kembali berbaring.
“Sayang,” ucap satu suara yang dibawa oleh sepasang kaki melangkah dengan cepat.
Danar menoleh, laki-laki di sampingnya melihatnya tak ramah.
“Syukurlah kamu datang,” ucap Danar.
“Biar aku yang melakukannya,” menggantikan posisi Danar.
“Mas …?”
“Iya, ini Mas Sayang,” berhambur menciumi pucuk kepala istrinya dengan kedua netra berkaca-kaca. “Yang mana yang sakit, Sayang?” memegangi perut buncit istrinya.
“Mas, anak kita –aww, sssh … “
“Iya, anak kita akan segera lahir Sayang.” meraih jemari Via dan menciuminya, “Maafin Mas ya. Maafin Mas, Sayang.” Terus menggumamkan kata-kata maaf dengan tatapan penuh penyesalan.
“Auuuh, Mas ….” Kembali dibuat kesakitan karena pergerakan sang jabang bayi semakin intens.
Danar yang bagai terhipnotis menyaksikan adegan mengharukan suami istri di depannya itu segera berinisiatif memanggil suster. Meski lega karena Mirza sudah datang, namun ia tak menampik ada perasaan yang seolah tak rela membiarkan Via bersama Mirza.
“Danar, mau kemana? Kok Via ditinggal?” Bu Harni yang baru selesai menerima telpon bertanya heran.
“Di dalam ada Mirza kok Bu, aku mau panggil suster. Via mulas lagi.” Segera melanjutkan langkahnya sementara Bu Harni masuk dan segera memberondong Mirza dengan pertanyaan.
“Aduuuu! Aaaawh …..” Via berteriak seraya meremas lengan Mirza. “Mas …., Sssh ….”
“Iya Sayang, Mas disini.”
“Sakiiiit ….”
“Sabar Sayang, kamu pasti kuat.”
“Awhhhh, sakiiit bangeeeet Mas …..” kembali meremas lengan Mirza seolah mendapat tempat untuk melampaiskan rasa sakitnya.
“Iya Sayang, Mas tau. Kamu harus sabar, demi anak kita. Berjuanglah ….”
“Suster!” Bu Harni lega melihat suster muncul. “Anak saya mulasnya sudah sering banget Sus.
Suster segera mengukur durasi mulas si ibu muda yang terus menerus berteriak kesakitan itu.
“Sebentar saya panggil dokter dulu,” suster keluar lagi.
“Sus! Yah, kok maah pergi lagi sih? Ini anak saya gimana urusannya?” Bu Harni manggilin susuter dari ambang pintu.
“Ibu, jangan berisik dong! Aku lagi mules nih… Aaawh ….!” Via sempet-sempetnya ngomelin Bu Harni, padahal sebelumnya anteng-anteng aja.
Bu Harni kontan menutup mulutnya.
“Aduuuduuuh …..Awwwwh… sssh … sssh….”
“Istighfar Nak, istigfar ….” Bu Harni kembali mengingatkan.
“Astagfirullahaladziim, Astaghfirullah –aaaawhh …..! Mas …., sakiiiit…..” Via melengking lebih keras.
“Iya sayang,” sedikit membungkuk karena lengan bajunya tertarik oleh Via.
“Sakiiiit, Mas …..!” Menjambak rambut Mirza sebagai pelampiasan selanjunya. “Aduuuuh, hossh … hossh…. Hsss, ssssh ….. sakiiit ….”
“Iya, Mas tau kamu sakit Sayang,” mencoba menenangkan, tapi rambutku juga sakit kamu jambakin kayak gini Sayang, lanjut Mirza tapi hanya dalam hati.
“Aduuuuh …., Mas … pijitin kaki aku, sakit ….. “
Mendapatkan kesempatan melepaskan diri, “yang mana Sayang? Ini?” memijat betis kanan Via.
“Bukan yang itu! turun lagi!”
“Yang ini Sayang?” beralih ke telapak kaki.
“Bukan!”
“Yang ini?” memijat pergelangan kaki.
“Heem, iya.” Mengangguk “Huuuh, sakiiit …., jangan keras-keras!”
“Iya Sayang, maaf.” Memijit lebih pelan.
“Lebih kenceng lagi Mas, nggak kerasa!” sedikit menaikkan nada suaranya. “Aduuuuh, aaaawhhh …..!”
“Kenapa lagi Sayang?” Mirza kaget takut pijatannya terlalu kenceng.
“Jangan marah-marah dong Mas? Kalo nggak mau mijit ya udah!” menarik kakinya lantas memiringkan posisinya membelakangi Mirza masih sambil meringis kesakitan.
“Sayang, siapa yang marah? Mas nggak marah.” Mirza kembali meraih kaki kanan istrinya untuk memberinya pijatan.
“Nggak usah pijit lagi,” masih dalam mode ngambek.
“Mas minta maaf Sayang. Mas nggak bermaksud –“
“AAAAWWWWWWHHHH!”teriakan yang kembali melengking memutus kalimat Mirza bertepatan dengan dokter yang muncul bersama dua orang asistennya.
“Dokter, anak saya –“ Bu Harni segera menyongsong.
__ADS_1
“Baik, saya periksa dulu ya Bu” dokter segera memakai sarung tangan yang diberikan suster dan mengolesinya dengan gel.
“Permisi, silakan tunggu di luar dulu.” Ucap dokter sebelum memulai aktifitasnya.
“Tapi saya ingin mendampingi anak saya, Dok.”
“Ibu Livia, apakah –“
“Saya mau didampingi suami saya, Dok.” Sahut Via seolah tau arah pertanyaan dokter padanya.
“Baik, tolong panggilkan suaminya Ibu Livia.” Ucap Dokter pada suster.
“Saya suaminya, Dok” Ujar Mirza menghentikan langkah suster.
Dokter dan kedua suster melihat pada Mirza dengan tatapan tak percaya.
“Anda –“
“Iya, saya suaminya. Suami dari Nyonya Livia Hasan.” Tegas Mirza meyakinkan semua mata yang memandangnya seolah bertanya. Sumpeh lu? Jangan becanda lu?
“Iya, dia suami anak saya.” Ucapan Bu Harni meyakinkan yang langsung diangguki oleh sang dokter.
Setelah Bu Harni keluar, doket pun menjalankan tugasnya.
“Pembukaan 9. Suster siapkan perlengkapannya.” Titah dokter.
“Baik, Dok.”
“Silakan mendampingi di sebelah sini, Pak.” Memberikan tempat tepat di samping sebelah kanan Via untuk Mirza.
“Mas, aku takut,” terlihat penuh kekhawatiran sembari mencengkeram lengan kokoh suaminya.
“Tenanglah Sayang, ada Mas disini.”
“Aduuuuh, dokter …!” mengaduh pada dokter yang sedang menggulung sarung tangannya untuk menggantinya dengan yang baru. “Aaaaawh, sakiiit …..”
“Sabar ya Bu, sebentar lagi. Jangan ngejan dulu.” Dokter terlihat sangat santai memakai masker dan penutup kepala.
“Ssssssh…. aaaawhhh…. Mas ….” *******-***** lengan Mirza dengan lebih kuat. “Mas aku nggak tahan lagi, rasanya ….. Aaaaarghhhhh!”
PYOH!
Sesuatu seolah jebol dari kedua pangkal paha Via.
“Dokter ….!” Via panik.
Dokter malah tersenyum, menyingkap penutup paha Via. “Ketubannya sudah pecah, Bu.”
“Aaaaahhhhh, sakiiit ….. Mas….!” Menarik tengkuk Mirza kemudian meremas rambut gondrongnya tanpa ampun. “Sakit banget Mas ….!”
Sekarang sudah boleh mengejan, ikuti instruksi saya ya Bu.” dokter yang sudah selesai memakai sarung tangan bersiap memberikan aba-aba.
mengangguk dengan masih mengerang, tangan kanan kukuh bertengger pada rambut suaminya.
“Tarik napas, hembuskan pelan-pelan dan dorong ….” Dokter memberikan contoh.
Via mengikuti arahan, “Hump…, fyuuuh ….. aaarhhh…”
“Pelan-pelan Bu, sabar. Yang tenang ….”
“Sakiiiit Mas …..! Aaaawhhh …. “
“Ayok kita coba lagi. Tarik nafas ….”
“Huhhhhh….hoahhhh ….”
“Iya, dorong pelan-pelan ….”
“Fyuuh… hoos… hoos …” peluh mulai bercucuran dari pelipis Via.
“Tarik nafas lagi Bu, hembuskan dan dorong pelan-pelan.” Dokter dengan sabar memberikan arahan.
“Hhhhhhhmp …. Huuuuhh…. Oaaahhh …..”
“Panggulnya jangan diangkat ya Bu, ayok semangat ….” Dokter terus menyemangati.
Via menggeleng, ia kepayahan merasa habis daya.
“Capek Mas …” lirihnya, gengegamannya pada rabut Mirza melemah.
“Sayang kamu harus kuat, kamu pasti bisa.” Mirza memberikan semangat.
“Oke, kita mulai lagi ya Bu. tarik nafas -“
“Hhhhhhpf … huuuuh … ahhh ….” Kembali menggeleng.
“Sayang –“
“Sakiiit, Mas …. Aaaargggh…..”
“Sayang Mas mohon, ayo berusaha lagi. Kamu pasti bisa, demi anak kita.
“Huuuuuumpf …. “
“Iya, terus Sayang,” menggenggam kuat tangan Via. “I love you Sayang, I love You Sayangku …. Mas cinta banget sama kamu, berjuanglah ….” Menyorot dengan mata mengembun penuh cinta menyuntikkan semangat agar sang istri tak berhenti berjuang.
“Mas …..” mambalas tatapan itu dengan peluh yang sudah membanjiri wajah dan tubuhnya. “Hhhhhh… woooahh .. hhhm … hhhhuuuuuh … hhuhhh….” Kembali melanjutkan perjuangan
“Iya Sayang, terus …
“Bagus Ibu, ayo dorong lebih kuat lagi … “dokter sudah bersiap karena sudah melihat kepala yang hampir mencapi pintu dunia. “Kapalanya sudah terlihat Bu, ayok dorong lagi …”
“Hhhhhh…. Huuuuuf…. Hhuuuh … uuooohhh ….”
“I love you Sayang, I love you, I love you, I love you so much ……”
“Huuuuuhhhhh ... Aaaargggh ….!”
“Oekk … oeeke …. Oeeek …..”
Tangisan lantang seorang bayi mungil tanpa dosa menggema sampai ke luar kamar, Via terkulai lemas.
“Sayang, anak kita sudah lahir.” Memeluk sang istri tak dapat menahan laju air mata haru yang deras mengalir, diciuminya pucuk kepala dan wajah istrinya sambil mengucap syukur dan kata-kata penuh cinta. “Kamu hebat Sayang. Kamu perempuan yang tangguh, ibu yang luar biasa. Terima kasih Sayang, terima kasih telah melahirkan buah cinta kita dengan selamat. I love you so much.”
Via tersenyum samar dengan derai air mata kebahagiaan membasahi kedua pipinya. Meski ia pun tak kalah bersyukur dan bahagianya dengan kelahiran sang buah hati, namun tenaganya yang baru saja terkuras habis membuatnya hanya mampu menyunggigkan senyum tipis.
“Alhamdulillah … “ ucapan syukur juga terlisan penuh kelegaan dari semua yang berjaga di luar kamar bersalin, tak terkecuali Riri dan Toni yang belum lama sampai dan langsug mendengar tangis sang keponakan yang baru saja resmi menjadi penghuni alam dunia. Rasa syukur juga menyelimuti Danar. Ia ikut bahagia karena Via dan bayinya selamat.
Tak lama berselang, kumandang adzan subuh pun ikut menyambut kelahiran buah cinta Mirza dan Via yang kini sudah diletakkan di atas dada Via untuk IMD. Mirza tersenyum melihat bayi mungil itu bergerak mencari put*ng susu ibunya. Via sangat takjub dengan pemandangan di atas tubuhnya. Andai ada kata yang lebih dari kata syukur, ia akan terus menggumamkannya karena begitu sangat bahagia atas karunia Tuhan yang menjadikannya seorang ibu hingga membuatnya merasa sempurna sebagai seorang perempuan.
“Sayang lihatlah, dia sangat cantik sama seperti kamu,” berbisik lembut mengusap kepala Via memperhatikan gerakan –gerakan kecil bayi mungilnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Halo, semuanya
Maafkan othor ya baru up lagi.🙏🙏🙏 Flu melanda nih, beberapa hari bawaanya lemes, capek banget. pinginnya cepet-cepet tidur kalo udah lepas isya.😔😔
Makasih banget buat yang masih setia menunggu kelanjutannya. Othor nggak tau mau nulis apa lagi deh tuh, maafin kalo agak berantakan ya. yang jelas udah lega kan Via udah ngelahirin dan Mas MIrza dateng buat dampingin 😇😇😇
Jangan lupa tinggalkan like 😘
Komen biar othor langsung sehat wal afiat, hehe …😍😍😍
Vote jug masihh ditunggu lho☺️
☺️
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1