
JLEDER!!
Serta merta Mirza berjalan mendekati ibunya dan melemparkan tatapan bengisnya dengan mata yang nyalang terbakar amarah.
“Jika itu yang ibu inginkan, maka ibu harus bersiap kehilangan aku sebagai satu-satunya anak ibu!” Tandas Mirza kemudian berjalan cepat keluar rumah tak menghiraukan panggilan Bu Een.
“Za, tunggu! Kamu berani berkata seperti itu pada ibumu sendiri? Kamu ngancam ibu? Mirza!”
Mirza terus berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman.
“Sofi ini sedang hamil anakmu! Kamu harus menikahinya, kamu jangan lari dari tanggung jawab!”
Bu Een terus meraung sementara Mirza sudah masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan rentetan pertanyaan pada beberapa pasang mata yang menyaksikan sendiri adegan dramatis baruasan.
“Apa aku nggak salah denger? Mas Mirza menghamili perempuan lain?” Muka kepo seorang pembeli di toko Bu Een mencari kebenaran.
“Aku juga tadi dengernya gitu kok! Sofi apa ya namanya?” Sahut seorang ibu lagi.
“Iya bener! Disuruh tanggung jawab! Wah, kok bisa gitu ya? Padahal kan Mirza udah punya istri!” Timpal ibu lainnya.
“Bakalan jadi reme nih!”
Para bu ibu itu kompak manggut-manggut tanpa menyadari ada seorang yang berdiri melihat mereka dengan berang.
“Heh! Ngapain pada ngerumpi di sini? Sana, bubar!” Hardik Om Jaka yang mengetahui tiga orang emak-emak sedang kasuk kusuk di dekat rumah.
“Eh, Mas Jaka, emangnya bener ya Mirza hamilin perempuan lain?” Tanya salah seorang dari mereka tanpa tadeng aling-aling.
“Emangnya penting buat situ? Dasar emak-emak berjiwa ghibah! Sono bubar! Bubar!” Usir Om Jaka sekali lagi.
“Yee, orang cuman nanya kok malah nyolot! Berarti bener kan?” Si Emak tadi ngeyel masih juga nanyain Om Jaka.
“Kalo situ pada pengen tau banget benar apa kagak, nanti malem nonton aja di berita prakiraan cuaca!” Sahut Om Jaka kesal lantas masuk membanting pintu rumah membuat tiga emak-emak itu terlonjak kaget lantas membubarkan diri.
Bu Een tengah memapah Sofi menuju kamar Mirza dan membantunya berbaring di atas kasur. Om Jaka lega dia nggak kebagian ngangkat Sofi lagi, kalo aja sekali lagi disuruh ngangkat Sofi mungkin dia bakalan pindah profesi jadi tukang kuli angkut atau kuli panggul aja di pelabuhan. Bukannya apa-apa, Om Jaka gedek juga tiap kalo Sofi lemas pasti Om Jaka yang disuruh ngangkat, tapi untung kemarin ada si Udin.
“Eh, Jak.” Panggil Bu Een yang melihat Om Jaka di ambang pintu kamar Mirza. “Kita bawa Sofi ke dokter aja apa ya?”
“Nggak usah, Bu. Aku nggak papa kok.” Sahut Sofi dengan suara lemah.
__ADS_1
“Ibu khawatir terjadi apa-apa sama bayi kamu, Sof.” Bu Een memperlihatkan raut wajah cemas.
“Aku kan baru pulang dari rumah sakit, Bu. Aku nggak mau di rawat lagi.”
“Kalo gitu Ibu panggil dokte Burhan aja, biar dia periksa keadaan kamu.” Putus Bu Een lalu mencari ponselnya.
Dokter Buhan memang sudah kenal baik dengan Bu Een. Bu Een tak sungkan memintanya untuk datang ke rumah mengecek keadaan Sofi. Dokter Burhan bisa dibilang dokter terbaik dan satu-satunya dokter yang punya klinik cukup besar di sana. Om Jaka hanya memperhatikan Bu Een, setelah yakin bantuannya tak diperlukan, dia masuk kamar untuk rebahan sekedar melepas ketegangan di urat-urat syarafnya.
Tak sampai setengah jam dokter Burhan datang dan langsung memeriksa keadaan Sofi.
“Gimana, Dok? Apa calon mantu saya ini baik-baik saja?” Tanya Bu Een begitu dokter Burhan melepas stetoskopnya.
Dokter Burhan sempat terkejut mendengar kata ‘calon mantu’ dari Bu Een, tapi langsung menyembunyikannya sebab dia sadar kapasitasnya sebagai dokter bukan untk kepo urusan pribadi pasiennya.
“Baik-baik saja kok, Bu. Hanya memang tekanan darahnya rendah, tapi nggak apa-apa saya akan beri vitamin.” Sahut dokter Burhan sambil menuliskan resep obat.
“Kalau bayinya gimana, Dok?” Tanya Bu Een lagi.
Dokter Burhan menghentikan aktifitas menulisnya dan mengangkat wajahnya melihat Bu Een kali ini dengan keheranan yang tak sempat disembunyikannya.
“Jadi calon menantu Ibu Endang sedang hamil?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari dokter Burhan.
Bukannya apa-apa, dokter Burhan juga kenal betul dengan Mirza. Karena dulu setelah lulus sekolah keperawatan, Mirza pernah bekerja di kliniknya sebelum pindah bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah dan kemudian berhasil bekerja di kapal pesiar Delta Cruise sebagai tenaga medis juga. Dokter Burhan kenal dengan Via dan cukup tau perjalanan awal cinta mereka, jadi wajar saja dia kaget mendengar Bu Een menyebut perempuan muda yang sedang dalam penanganannya itu sebagai calon menantu Bu Een dan sedang berbadan dua, lantas bagaimana dengan Via? Pikir dokter Burhan.
Jadi perempuan calon istri Mirza ini namanya Sofi? Batin dokter Burhan.
“Betul, Dok. Usia kehamilan saya sekitar 12 minggu.” Timpal Sofi.
Dokter Burhan melepas kacamatanya.
“Kalau begitu, sebaiknya besok pagi datanglah ke klinik. Alangkah lebih baiknya jika dikonsultasikan dengan dokter kandungan langsung.” Terang dokter Burhan.
“Apakah sindrom yang diderita calon mantu saya ini berpengaruh pada kehamilannya, Dok?” Kejar Bu Een lagi.
Kening dokter dokter Burhan berkerut. Rupanya Bu Een banyak sekali menyimpan kejutan untuknya. Belum hilang herannya pada calon istri Mirza yang tengah hamil, sakarang ditambah lagi dia mengidap sindrom.
“Sindrom?” Dokter Burhan heran.
Bu Een melihat pada Sofi seolah menyuruhnya untuk mengatakan pada dokter Burhan.
“Saya mengidap sindrom fibromyalgia, Dok.” Ucap Sofi.
Dokter Burhan manggut-manggut. “Fibromyalgia.” Ujarnya pelan.
__ADS_1
“Betul, apa berbahaya bagi calon bayinya, Dok?” Bu Een tak sabaran.
“Sepanjang pengetahuan saya, sindrom ini tidak terlalu berbahaya jika diderita oleh orang dalam keadaan normal, karena masih bisa dikendalikan dengan rutin berolah raga, menjalani pola hidup sehat dan cukup istirahat.” Papar dokter Burhan. “Namun jika ini dialami oleh ibu hamil maka tentu saja bisa jadi lebih mengkhawatirkan. Karena ganguan yang dideritanya akan mudah sekali muncul jika si pengidap mengalami tingkat stres yang berlebihan yang mungkin dipicu akibat banyak pikiran dan kurang tidur.” Imbuh dokter Burhan.
“Akhir-akhir ini saya memang sering sekali mengalami sakit berlebihan di area kepala, tengkuk sampai pundak Dok.” Desah Sofi lemah.
“Tapi penyakit ini ada obatnya kan, Dok?” Bu Een penasaran sekali.
“Ini bukan penyakit, Bu. Ini sindrom. Fibromyalgia ini bisa diderita oleh siapa saja. Tetapi memang kebanyakan menyerang wanita dengan tingkat stres yang tinggi dan setahu saya memang tidak ada obatnya. Mungin bisa dikendalikan dengan menjalani hal yang saya sebutkan tadi.” Terang dokter Burhan lagi.
Bu Een memandang Sofi dengan tatapan iba, Sofi coba mengulas senyum dan itu membuat hati Bu Een semakin simpatik pada Sofi.
“Baiklah, Bu. Kalau dirasa cukup, saya pamit dulu.” Ucap dokter Burhan sambil memberikan resep yang sudah ditulisnya.
“Terima kasih, Dok. Saya antar dokter ke luar.” Sahut Bu Een menerima resep itu lantas beranjak mengikuti dokter Burhan.
Sofi bangkit melongok ke luar kamar melihat Bu Een dan dokter Burhan yang sudah menjauh.
“Harusnya aku sudah jadi aktris peraih Oscar Award dengan bakat acting-ku yang sangat memukau barusan. Atau paling tidak jadi artis langganan FTV lah, hahaha. Sofia, kamu memang keren dan sangat berbakat.” Sofi memuji dirinya sendiri seraya tertawa bangga lalu cepat-cepat kembali berbaring di atas kasur begitu terdengar suara pintu depan di tutup oleh Bu Een.
_____________
Halo readers, maaf ya part kali ini lebih pendek dari biasanya. Jadwal author lagi rada padat merayap nih hari minggu gini 😅😅😅 semoga nggak mengecewakan ya ☺️
Buat akak-akak sayang yang mau tau lebih detail tentang sindrom fobromyalgia bisa dibaca di bab 19 disitu ada penjelasnnya ya kak, according google, hehe… atau juga bisa langsung googling sendiri biar makin puas penjelasannya. Maaf ya jika pemahaman author yang terbatas untuk sindrom ini 🙏🙏☺️☺️
Love you all dear ❤️❤️❤️🤗🤗🤗😘😘😘
Terima kasih like, komen, rate 5 dan votenya ya. Author pasti selalu semangat berkat support akak-akak semua 🌹🌹🌹🌹❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1