TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
121 #KERJA SAMA


__ADS_3

Sudah beberapa hari Danar tak datang ke kedai. Ia hanya berpesan pada Ari bahwa sedang ada urusan penting . Ari tak tau kalau Danar sedang dipersiapkan untuk belajar menjadi seorang manager di hotel milik Rian Permadi.


Rian Permadi yang tak lain merupakan ayah angkatnya Danar adalah seorang pengusaha, ia juga sempat mencalonkan diri sebagai anggota DPRD kabupaten namun tak berhasil. Entahlah, Danar juga bingung kenapa ayah angkatnya itu tertarik pada dunia politik padahal sepanjang pengetahuannya, Ayah Rian itu selalu menghindari hal-hal yang berkaitan dengan politik, ya meskipun pekerjaannya sebagai pengusaha kerap bersinggungan dengan kepentingan politik beberapa pejabat daerah. Terlebih lagi ayah angkatnya itu kini sedang membangun resort di kawasan pantai Tirta Maya yang menjadi obyek wisata andalan kota kabupaten, maka sudah barang tentu ayahnya sering bersinggungan dengan para pejabat daerah terkait untuk mengurus perijinan dan lain-lain.


“Masuk.” Perintah Ayah Rian ketika Danar mengetuk pintu ruang kerjanya di rumah yang agak terbuka. “Duduklah.” Lanjut Ayah Rian.


Danar duduk dengan wajah datar, ayah angkatnya masih serius membaca dokumen ditangannya membuat Danar tak sabaran.



“Kenapa wajahmu tegang begitu?” Ayah Rian menatap anak angkatnya sejurus.


Danar menjawab dengan helaan nafas.


“Oh, aku tahu. Pasti wajahmu begitu karena kamu baru potong rambut ya?” Ayah Rian tersenyum seperti meledek Danar. “Fresh look!” Puji Ayah Rian yang tentu saja membuat Danar makin datar. “Gimana training harimu sebagai calon manager dengan Pak Narto?”


“Biasa saja.” Sahut Danar pendek.


Ayah Rian menutup dokumennya dan bangkit menuju samping Danar kemudian menepuk-nepuk pundak Danar. “Berjuanglah anak muda, sudah waktunya kamu berubah.” Ucap Ayah Rian lalu melangkah ke sofa di ruang kerjanya.


Danar mengikutinya. “Ayah pikir aku satria baja hitam bisa berubah dengan cepat?” Sungut Danar duduk di sebelah ayah angkatnya.


“Terserah apa katamu.” Ayah Rian cuek lantas membuka laptopnya dan menunjukkan resort yang sedang dibangunnya pada Danar.


“Kau lihatlah, pengerjaannya sebentar lagi akan selesai. Dan aku ingin kau yang mengelola dan bertanggung jawab penuh pada bisnis ini.”



Danar hanya menatap layar laptop ayahnya dengan pandangan tak begitu tertarik.


“Akhir bulan ini segera dibangun arena bermain dan pusat perbelanjaan di belakang resort. Mungkin pengerjaannya akan memakan waktu beberapa lama. Tapi kita sudah bisa memasarkan resort ini, tak masalah fasilitasnya belum begitu lengkap. Ayah percaya dengan kemampuanmu.” Ayah Rian melirik Danar yag diam tanpa ekspresi.


“Bagaimana kalau dibangun kedai kopi juga di dalamnya?” Celetuk Danar.


Ayah Rian menyungingkan senyum kecil. “Setelah finishing, akan aku minta strategi pemasaran yang kamu rencanakan.” Sahut Ayah Rian sungguh tak nyambung dengan pertanyaan Danar.


Ayah Rian bangkit dan merapikan jasnya. “Aku ada janji dengan wakil walikota. Bersiaplah, kamu juga ikut.” Titah Ayah Rian yang langsung keluar ruangan tanpa menunggu persetujuan Danar.


Danar tentu saja tak bisa potes, ia hanya mendengus gusar. Sungguh idealisme dan kebebasannya bagaikan dikuliti jika begini. Dia sama sekali tak tertarik dengan dunia bisnis seperti ini, namun tiba-tiba orang tua angkatnya menceburkannya secara paksa untuk terjun ke dalamnya. Mengurus satu kedai kopi saja sudah cukup membahagiakan baginya, itulah bisnisnya meskipun kecil tapi menyenangkan. Ia tak ingin bisnis besar, bikin pusing kepala saja!


Tapi di sisi lain Danar menyadari, mungkin sudah waktunya ia membalas jasa orangtua angkatnya. Mereka sungguh tak puya siapaun untuk diandalkan karena memang tak punya anak kandung. Harta melimpah ruah, jabatan terhormat tenyata belum lengkap tanpa seorang anak. Danar terenyuh, Bu Elin dan Ayah Rian begitu mengasihinya sedari ia kecil hingga sudah sedewasa ini, jadi memang nggak salah kalau mereka meminta Danar untuk mengurus semuanya.


“Mas Danar, sudah ditunggu Bapak di depan.” Bi Narih pembantu Bu Elin masuk ruang kerja tanpa Danar sadari karena dia sibuk dengan kegalauannya sendiri. “Ini jasnya, Mas.” Bi Narih menyerahkan jas yang masih tergantung.


“Jas? Untuk apa, Bi?” Danar heran.


“Kata Bapak, Mas Danar suruh pakai jas itu” Jawab Bi Narih polos lantas permisi keluar.


Danar merasa udah kayak Om-Om perut buncit saja tetiba diminta berpakain formil begini, padahal dengan kemaja saja menurutnya sudah pantas. Ah, tapi protes pun percuma. Maka dipakainya juga jas yang diberikan Bi Narih itu.



Danar melihat penampilan dirinya di cermin besar ruang tengah yang dilewatinya.


"Ya ampun! Aneh banget penampilanku ini! Semoga bisa tahan sampe acara selesai." Gumam Danar lantas segera menemui Ayah Rian yang sudah menunggunya.


_________


Hari beranak sore, Via baru saja menyelesaikan cuciannya. Tak ada sang suami membuat dia lebih santai, termasuk dalam hal mencuci pakaian. Via hanya mencuci pakaian dua kali seminggu, juga untuk urusan memasak, ia bisa seenak hatinya sendiri. Namun sore ini Via lagi kepingin gulai ikan kakap. Maka setelah menjemur baju di teras belakang, Via memeriksa kulkasnya yang sudah terisi penuh karena kemarin belanja sama Tia.


Dengan cekatan Via membersihkan ikan kakap segar itu. Lantas ia meyiapkan aneka bumbu yang diperlukan, tak lupa pula menambahkan potongan kacang panjang sebagai pelengkap dan potongan tomat. Aroma harum bumbu sudah tercium.


BLUKUTUK BLUKUTUK …


Bunyi pesan masuk di ponsel Via. Via segera membukanya, ternyata itu dari Yanti. Yanti mengabarkan kalau dia dan Gio sudah pulang tadi pagi, bukan main senangnya Via karena merasa punya teman lagi, terlebih lagi dengan Gio, dia kangen banget dengan bocah kecil yang menggemaskan itu. Via segera mengetik pesan balasan untuk Yanti.


Sini, Yan. Aku lagi masak gulai ikan kakap. Kita makan bareng ya di rumahku. Jangan lupa ajak Gio. Aku kangen banget sama dia.


Send!


Via tersenyum. Lantas kembali melongok masakannya. Via mengaduknya sebentar kemudian menambahkan potongan tomat dan mematikan kompor.


“Wuih, mantul….” Via memuji hasil masakannya dendiri lalu memeriksa nasi yang sudah dimasaknya dalam rice cooker.


Tok tok tok …


Terdengar suara pintu belakang diketuk. Via menajamkan pendengarannya.


“Kayak ada yang ketuk pintu? Jangan-jangan si Yanti? Tapi kok cepet amat datengnya?” Via heran sendiri.


Tok tok tok …


Terdengar suara ketukan pintu belakang sekali lagi.


“Iya, sebentar …!” Seru Via. “Heran deh, kenapa si Yanti lewat pintu belakang sih?” Gerutu Via sambil menuju pintu belakang.


Ceklek.


“Yan, kamu kok ….”


“Halo, Jeng …..” Belum sempat Via melanjutkan kalimatnya tampang Bujel nongol dari balik pintu dengan senyum lebar.


“Ha? Aku kira …”

__ADS_1


“Jeng, aku mau minta pepaya. Boleh nggak?” Bujel langsung minta tanpa tadeng aling-aling. “Aku tau kalo di belakang rumah kamu ada pohon pepaya, makanya aku mau minta.” Bujel melihat pada dua pohon papaya di halaman belakang rumah Via.


“Boleh, ambil aja sendiri.”


“Makasih ya, Jeng. Kamu baik banget deh!” Bujeng menowel pipi Via.


Via jadi keget.


“Aku lagi pingin bikin rujak buah. Kayaknya aku lagi ngidam nih. Kebetulan aku intipin pohon pepayamu kemarin ada yang mangkel. Pasti enak banget dicocol sama sambel rujak.” Bujel merem melek sendiri membayangkan rujak buatannya.


Via cuman senyum tipis.


Si bujel berati suka intipin pekarang rumah orang! Huh, dasar Bujel! Nggak ada kerjaan lain apa? Eh, Tunggu, apa tadi dia bilang? Ngidam? Lha, dia hamil maksudnya? Tapi hamil ama sapa, kan lakinya nggak ada?


“Eh, Jeng! Ngapa bengong? Pinjam pisaunya, mana?” Bujel menyadarkan pikiran Via yang sibuk menerka-nerka dengan siapa tetangganya itu hamil.


“Oh, pisau ya? Sebentar.” Via mengambil pisau dapur di atas rak lantas memberikannya pada Bujel.


Si bujel dengan posturnya yang lumayan tinggi dengan sekali tebas berhasil mengambil satu papaya mangkel yang kekuningan.


“Wow! Gede juga, lumayan. Seukuran punya aku nih kayaknya.” Gumam Bujel sambil menyamakan ukuran itu buah pepaya dengan buah anu miliknya.


Via yang melihat kelakuan Bujel dari tengah pintu cuman nyengir. Dasar Bujel!


“Etapi, ini mah panjang. Kayak punya wewe gombel!” Bujel terkikik sendiri tak meyadari kalo ada Via yang memperhatikannya. “Punyaku kan masih bulat dan kencang.” Cibirnya pede pada dirinya sendiri.


“Woy, Bujel! Cepetan! Udah belum? Mau aku tutup nih, pintunya!” Panggil Via yang melihat Bujel masih asyik nyama-nyamain buah yang dipegangnya sama buah yang menempel pada dirinya sendiri.


“Eh, iya ,,, iya…!” Bujel lekas menghampiri Via. “Kok kamu ikutan manggil aku Bujel sih, Jeng?” Protes Bujel sebal. “Pasti ketularan si Yanti deh!”


“E – Ekhem!” Si Yanti yang tau-tau udah di belakang Bujel berdehem mengagetkan. “Apa bawa-bawa aku segala?” Sengit Yanti.


“Eh! Kamu tau-tau kok nongol aja sih?” Bujel malah heran yang nggak tau dengan kedatangan Yanti.


“Pantesan aja dari tadi aku ketok-ketok pintu depan nggak dibuka-bukain, Vi. Rupanya ada si rempong Bujel dimari.” Yanti melirik Bujel. “Ya udah gih sana kalo udah selesai, dicariin sama tumpukan baju kotor tuh!” Sinis Yanti pada Bujel.


“Ish! Aku juga ogah lama-ama di sini liat tampang situ!” Balas Bujel jutek.


Yanti lantas masuk lewat pintu belakang dan lekas menutup pintu.


GUBRAK!


“Sadis, amat sih kamu Yan?” Ucap Via tak habis pikir.


“Biarin! Kalo nggak digituin, dia nggak bakalan pergi.” Sahut Yanti cuek lantas melangkah mendahului Via.


“Eh, Gio mana?” Tanya Via yang baru sadar Yanti datang cuman sendiri.


“O iya, sebentar. Gulainya malah belum aku ambil.” Via kembali ke dapur untuk mengangakat masakannya ke dalam mangkuk dan menyajikannya di atas meja makan.



“Woow! Enak banget ini kayaknya, Vi. Benar-benar menggoda iman! Berat badan langsung naik nih kalo kamu sering-sering ngundang aku makan enak kayak gini.” Komentar Yanti sambil mengambilkan dua piring nasi langsung dari rice cooker.


Via hanya tersenyum.


Tak berapa lama setelah nasi tak terlalu panas, mereka langsung mulai acara makan bersama. Yanti tak berhenti memuji masakan Via.


Sementara itu Bujel yang udah keluar halaman rumah Via melihat sebuah mobil hitam melaju lambat ke arahnya. Bujel yang mula-mula tak peduli langsung menghentikan langkahnya ketika mobil itu berhenti tak jauh darinya.


Seorang lelaki muda bertampang limited edition turun dan menghampiri Bujel yang menatap heran pada si lelaki limited edition itu.


“Permisi, Bu…”


“Bu, Bu! Panggil saya Jeng!” Bujel langsung nyamber keki membuat si lelaki limited edition itu salting sendiri.


“Eh, iya maaf. Permisi, Jeng. Mau numpang tanya.”


“Tanya apaan? Jangan yang susah-susah ya, saya lagi males mikir! Otak saya udah berat nih banyak yang dipikirin. Dari mulai mikir cicilan rumah, cicilan motor, cicilan, mobil, cicilan bank, ampe cicilan panci!” Cerocos Bujel.


Lalaki muda limited edition itu cuman melongo mendengarnya. Sejenak dia merasa aneh bin ajaib karena orang yang dia tanya malah buka rahasia dapurnya sendiri.


“Eh, buruan! Mau nanya apaan? Malah bengong!” Omel Bujel.


“Oh, eh iya, maaf… anu, itu … Mau nanya apa ya aku tadi?”


“Udin …!!” Teriakan nyaring keluar dari seorang wanita yang turun dari mobil dan menghampiri lelaki muda limited edition yang tak lain adalah si Udin itu dengan wajah jengkel. “Lagi nagapain sih kamu? Cuma disuruh nanya alamat aja lama bener dari tadi!” Semprot wanita itu yang tak lain adalah Bu Endang alias Bu Een.


“Eh, Iya Bu. Ini juga lagi nanya.” Sahut Udin gelagapan.


Bujel yang merasa belum pernah melihat Bu Een sebelumnya langsung memandangi penampilan Bu Een dari atas sampai bawah, dari bawah balik lagi ke atas.


Kalung Emas panjang nyaris nyampe puser dengan liontin besar berkilaun, cincin di hampir semua jari dengan batu permata sebesar biji kelereng, ditambah lagi gelang emas di kiri dan kanan tangan Bu Een yang gedenya nyaris menyamai rantai burung garuda membuat Bujel terheran-heran.


Busyet! Ini mahluk dari planet mana sih? Perhiasan satu toko dipake semua! Batin Bujel sambil tak henti matanya terus memindai penampilan Bu Een.


Huh! Sok kaya nih orang! Palingan juga imitasi semua perhiasannya! Cibir Bujel dalam hati namun bibir sempet menjengit ke atas membuat senyuman meremehkan.


“Heh, ngapa kamu senyum kayak gitu?” Gertak Bu Een yang tak suka dengan tatapan Bujel yang merendahkannya.


Bujel ampe kaget dibentak begitu. “Eh, kenapa emangnya? Biasa aja kok! Situ sensi amat sih!” Elak Bujel tak mau kalah.


“Yang sopan ya kalo bicara sama orang tua! Mau saya jambak mulut kamu, hah?” Bu Een melotot sambil geregetan meremas tangannya sendiri.

__ADS_1


Bujel reflek memegangi bibirnya. “Ih, galak amat! Kenal juga kagak!” Gerutunya.


“Din, buruan! Udah kamu tanya belum alamat rumahnya Mirza sama si ikan buntal ini!” Bu Een melirik sinis pada Bujel.


“Apa? Ikan buntal?” Seketika Bujel melotot tak terima. “Body aku semok, bohay bahenol gini dibilangin kayak ikan buntal! Sembarangan aja! Dasar nenek tua, mahluk jadi-jadian dari planet Pluto!” Balas Bujel geram.


Bu Een sontak mau bales labrak namun Bujel keburu ngomong lagi.


“Eh, apa tadi? Alamat rumahnya Mas Mirza?” Raut Bujel berubah antusias banget. “Ada apa emangnya Ibu tua nenek moyang para alien ini nyariin gebetan aku yang paling ganteng sejagat raya Mas Mirza alias Mas Chico Jeriko pujaan hatiku?” Tangan kiri Bujel berkacak pinggang, sementar tangan kanannya sibuk memegang pepaya mangkel dengan tampang penasaran bin kepo karena marasa mengenal Mirza.


Mendengar pengakuan Bujel yang semena-mena tiada terkira itu sontak saja darah Bu Een mendidih naik sampe ke ubun-ubun.


“Heh, ikan buntal! Lancang ya mulut kamu, sembarangan aja ngaku-ngaku anak saya gebetan kamu! Nggak sudi saya, Cih!” Ejek Bu Een dengan wajah bengis.


“Apa? Anak?” Biji mata Bujel ampe mau loncat keluar saking kagetnya. “Oh, tidak! Jangan harap saya mempercayai omonganmu, wahai Lampir! Mana mungkin nenek Lampir tua begini bisa punya anak cakep, tamvan dan keren bin macho kayak Babang Mirza?!” Cibir Bujel.


Bu Een habis kesabaran, seandainya dia beneran pegang tongkat saktinya Mak Lampir udah dia kutuk tuh si Bujel jadi batu ginjal saking esssmossinya dia mendengar ejekan Bujel yang bertubi-tubi.


“Sabar, Bu. Sabar …” Udin yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan unfaedah itu langsung menenangkan majikannya yang hampir meledak. “Mendingan kita tanya orang lain aja. Kayaknya si ibu ini nggak waras deh, baru keluar dari rumah sakit jiwa dia!”


“Hey, ikan sapu-sapu! Kamu bilang apa tadi?” Bujel melotot pada Udin kali ini.


Namun Udin enggan menanggapi, dia malah mengajak Bu Een balik badan meninggalkan Bujel yang kemudian berubah pikiran.


“Tunggu! Saya tau rumahnya Mas Chico Jerico, ehh .. Mas Mirza!” Panggil Bujel nyaring.


Bu Een dan Udin menghentikan langkahnya. Bujel mendekat.


“Aku tetengganya. Mas Mirza pindah belum lama kan sama istrinya? Sekarang dia udah pergi berlayar katanya, istrinya cuman tinggal sendiri di rumah.” Cerocos Bujel coba untuk mengambil hati Bu Een.


Bu Een menyipitkan matanya, menatap Bujel lurus.


“Yang cat kuning gading itu rumahnya.” Tunjuk Bujel pada rumah Mirza. “Istrinya ada di dalam kok tadi. Barusan saya dari sana abis minta buah pepaya ini.” Terang Bujel tanpa diminta.


Bu Een berjalan beberapa langkah, mengamati rumah Mirza, Bujel mengekor Bu Een.


“Tadi ada si Yanti tetangga ujung gang sana. Dia resek banget orangnya. Tapi kayaknya Jeng Isyana ehh.. Jeng Via temen baik sama si Yanti resek itu. mereka sering keman-mana bereng.” Bujel terus ngoceh karena mulai yakin kalo wanita tua yang dia sebut nenek moyang para alien itu adalah ibu kandungnya Mirza.


Rumah kayak gitu aja, sombong! Liat aja, akan aku buat kamu nggak betah tinggal disini, lalu kamu balik ke rumah ibu kamu yang norak itu, terus minta pisah sama Mirza! Batin Bu Een dengan senyum sinis.


“Kamu mau kerja sama dengan saya?” Bu Een berbalik kembali menatap Bujel.


“Kerja sama?” Bujel agak kaget. “Maksudnya?”


“Awasi semua gerak gerik perempuan itu!”


“Perempuan yang mana?” Bujel heran. “Oh, Jeng Via maksudnya?” Lanjut Bujel setelah beberapa detik. “Kok gitu sih? Kenapa emangnya?”


“Nggak usah banyak tanya! Kamu mau nggak kerja sama dengan saya untuk mengawasi dia. Laporkan sama saya apapun yang kamu lihat!”


Bujel kemudian tersenyum. “Tapi nggak gratis.”


“Din! Ambilkan tas saya!” Perintah Bu Een.


Udin segera menuju mobil dan kembali dengan tas cangklong Bu Een. Bu Een membuka dompetnya, Bujel sempat melirik kepo isi dompet tebal Bu Een.


Wuih! Orang kaya beneran ternyata si Lampir ini. Batin Bu Bujel.


“Ini imbalan kamu.” Bu Een memberikan selembar uang ratusan ribu dan sebuah kartu nama bertuliskan toko sembako miliknya. “Dan hubungi nomor saya yang ada disitu kalau ada informas berarti.”


Bujel memandangi kartu nama dan uang pemberian Bu Een berganti-ganti.


Hem, juragan sembako rupanya si nenek moyang alien ini. Bisa aku manfaatin nih. Batin Bujel lagi.


“Ekhem.” Bujel berdehem dibuat-buat. “Kalo cuman selebar sih kayaknya buat beli pulsa aja kurang.”


Bu Een melotot kesal. “Dasar mata duitan!” Sengit Bu Een seraya memberikan selembar uang ratusan ribu lagi.


“Kalo dua lembar palingan cuman cukup buat isi kuota yang …”


“Nih! Selembar lagi!” Potong Bu Een menambahi selembar uang ratusan ribu lagi. “Itu udah harga pas! Tapi awas, kalo sampe informasi kamu nggak valid, saya bakal minta ganti rugi 10x lipat dari uang itu!” Ancam Bu Een. Lantas segera balik badan tak mau mendengarkan protes Bujel.


Bujel cuman bisa ngedumel, tapi lantas senyumnya mengembang.


“Bodo amat! Yang penting sekarang aku dapet uang, urusan mah belakangan!” Bujel berkipas-kipas ria dengan 3 lembar uang ratusan ribu lalu melangkah riang menuju rumahnya.


______________


Ciye…. Bujel sama Bu Een kolaborasi tuh….😁😁😁


Duet mereka pantes ya dijuluki duo racun, wkwkwk…🤣🤣🤣


Atau ada yang punya sebutan lain buat mereka?🤔🤔😆😆😆


Oke deh, akak reader terkasih dan akak othor tersayang terima kasih atas apresiasinya ya.🙏🙏🙏😍😍


Semoga tak bosan mengikuti kisah Via ❤️Mirza…🤩🤩


Tungguin up selanjutnya ya,😊😊


Jangan lupa tinggalkan jejak selalu😉😉😉


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2