TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
86 #BERBENAH


__ADS_3

Menjelang sore Om Jaka baru pulang dengan wajah tak secerah biasanya. Udin yang mengamati dari jendela toko yang mengarah ke halaman rumah Bu Een langsung membatin bahwa Om Jaka juga sedang mengalami masalah serius dalam hidupnya.


Udin heran. Kenapa semua orang di rumah majikannya pada berat-berat banget sih hidupnya? Siang tadi ia melihat Via menangis, lalu Mirza, Bu Een dan sekarang Om Jaka.


Huft!


Udin mendengus kasar, ia berpikir rasanya ogah jadi orang kaya kalo hidupnya ruwet begitu. Masih mendingan dia yang cuman jadi rakyat jelata, masalah terbesar dalam hidupnya palingan kalo dia diancam potong gaji gegara bikin jengkel majikannya.


Aih, tapi kemudian Udin ingat permintaan terakhir almarhumah ibunya sebelum meninggal yang memintanya untuk segera menikah tahun ini juga agar tak lagi sendiri dan ada yang mengurusnya, karena kini Udin tinggal sebatang kara.


Udin mendengus sekali lagi. Siapa yang mau menikah dengan pemuda kampung nan miskin macam dirinya? Yang gajinya tak seberapa dan waktunya habis buat mengabdi pada majikannya. Udin bertopang dagu memikirkan nasibnya sendiri.


Lagi asyik-asyiknya ngelamun, Om Jaka dateng ngagetin si Udin.


“Din, gue minta rokok kretek dong!”


“Apa, Om? Korek?” Tanya Udin linglung.


“Rokok kretek!” Ulang Om Jaka lebih keras.


Udin langsung ngeh dan segera bangkit mengambilkan rokok kretek favorit Om Jaka.


“Nih, kembaliannya ambil buat elu!” Om Jaka memberikan selembar uang berwarna biru pada Udin.


“Wah, maksih banyak ya Om.” Ucap Udin kegirangan.


“Iya. Udah, jangan bengong mulu lu, ntar mati kayak ayamnya Rokayah baru tau rasa lu!”


“Eh, kok Om Jaka tau kalo Bi Rokayah ayamnya mati?” Udin heran.


“Iye, pan tadi baru diumumin di masjid. Elu nggak denger apa?”


Udin melongo sambil menggeleng bego.


“Huh, itu telinga apa cantelan panci? Apa-apa nggak denger, kebanyakan bengong sih lu!”


Om Jaka berlalu dengan menyisakan kebingungan di raut wajah Udin.


Sebelum masuk kamar, Om Jaka menuju dapur untuk membuat secangkir kopi hitam dan melewati Bu Een yang lagi duduk sendirian di ruang tengah. Mereka hanya saling pandang sekilas, Om Jaka tak berminat menegur. Setelah selesai bikin kopi pun Om Jaka lewat begitu saja dan langsung masuk kamar. Bukan karena Om Jaka gedek sama Mbakyunya lantaran si 2R, tapi Om Jaka lagi males aja.


Om Jaka membuka lebar-lebar jendela kamarnya, dihirupnya aroma kopi hitamnya yang wangi yang langsung membuat sel-sel syarafnya rilex. Sebatang rokok kretek diselipkan diantara dua bibirnya, lantas langsung disambut dengan nyala api dari korek yang menghasilkan kepulan asap putih menyeruak ke seisi kamar.


Om jaka menyandarkan punggungnya pada kursi rotan, kakinya diselonjorkan pada meja kayu tepat di depan jendela. Beberapa kali Om Jaka menghisap rokok kreteknya setelah menyesap kopi hitamnya, pikirannya melayang ke suatu tempat.


“Ya ampun, kok gue jadi kayak ABG gini sih ya?” Gumam Om Jaka pada dirinya sendiri.


Matanya memandang pada pohon belimbing wuluh yang lebat buahnya yang tepat berada di depan jendela kamar. Iseng, Om Jaka menghitung buah belimbing yang bergelayut manja di batang paling bawah.


Ceklek


Lagi asyik menghitung, pintu kamar Om Jaka dibuka.


Wajah Bu Een nongol dari balik pintu.


“Jak, kamu lagi ngapain?” Tanya Bu Een.


“Nonton dangdutan.” Sahut Om Jaka asal tanpa menoleh.


Bu Een langsung keki, ia tahu Om Jaka menghadap lurus ke luar jendela memperhatikan pohon belimbing wuluh.


“Jak, aku mau cerita.” Ucap Bu Een lirih.


Om Jaka mau tak mau balik badan juga.


“Mau cerita apaan? Jangan yang berat-berat ya, gue juga lagi pusing nih.”


“Kamu pusing kenapa emangnya?”


“Ntar aja deh gue ceritanya. Sampean aja yang cerita duluan, Yu.” Perintah Om Jaka.


Bu Een diam sebentar, ia harus memulai darimana ceritanya. Jika ia jujur cerita dari awal, Om Jaka pasti menyalahkannya.


“Jadi mau cerita kagak?” Tanya Om Jaka yang melihat Bu Een masih diam.


“Menurut kamu gimana ya Jak, Mirza tiba-tiba mau ngasihin semua hartanya atas nama saya?” Ucap Bu Een agak ragu.


“Semuanya?”


“Iya, termasuk mobil dan motor yang dia punya. Surat-suratnya bahkan udah dia kasih tadi siang.”


“Wah, selamat ya Yu. Sampean jadi makin kaya dong kalo gitu.” Ujar Om Jaka santai.


“Kok kamu ngomongnya gitu?” Bu Een sama sekali tak menduka dengan jawaban Om jaka.


“Terus? Gue harus bilang apa?” Om Jaka balik nanya. “Kan emang bener, sampean jadi makin kaya sekarang? Sawah, kebon jati, rumah kontrakan Mirza di kota semuanya bakal jadi milik sampean. Seneng kan sampean?”


Bu Een tertohok dengan perkataan Om Jaka.

__ADS_1


“Kamu nyindir aku, Jak?” Bu Een tersinggung.


“Lho, sampean merasa tersinggung memangnya, Yu?” lagi-lagi Om Jaka malah balik nanya.


“Jak, saya ini cerita sama kamu karena minta pendapat ya, bukan mau dengerin nyinyiranmu itu.” Bu Een mulai kesal.


Om Jaka yang sudah tau tabiat Bu Een malah tersenyum lebar melihat kakaknya itu nampak jengkel.


“Sampean itu aneh, sampean pikir gue percaya dengan cerita sampean itu? Mirza itu nggak mungkin tiba-tiba bisa ngasih semua hartanya atas nama sampean kalo bukan karena sampean yang membuat lantaran.”


JLEB!


Hati Bu Een seperti baru saja terkena ujung tombak beracun mendengar penuturan Om Jaka yang lugas dan 100% benar itu.


“Kamu nuduh saya, Jak?” Bu Een masih membela diri dan merasa sok tak berdosa.


“Nggak.” Sahut Om Jaka satai. “Sampean aja kali yang ngerasa. Kalo yang tadi gue omongin nggak bener, ya udah dong, nggak usah baper!” Lanjut Om Jaka cuek.


“Huh! Sia-sia saya curhat sama kamu, nggak ada gunanya!” Omel Bu Een lantas keluar kamar dengan membanting pintu.


BRAAK!


“Dih, lagian curhat kok sama gue? Curhat sama mamah Dedeh sana!” Balas Om Jaka sebal.


Om jaka lantas kembali pada keasyikannya memandangi pohon belimbing wuluh yang lebat itu.


“Nah kan, lupa. Sampe mana tadi gue ngitungnya?” Om Jaka sibuk mencari buah yang sudah ia hitung dari kejauhan itu.


_____________


Keesokan harinya


Sesuai janji, Mirza langsung menemui Yana di kantornya dan mengutarakan maksud keinginannya.


Karena Yana yang kepo itu ingin tahu kronologis alasan mengapa Mirza sampai mengambil keputusan seperti itu, maka mereka menuju kedai kecil di sebelah kantor Yana. Mirza pikir tak apa menceritakan semuanya pada Yana, toh Yana bukan orang lain bagi kehidupannya dan Via. Yana sudah bersahabat denagn Via sejak masih SMA, dan lebih dari itu Yana bisa dipercaya. Maka mengalirlah cerita Mirza siang itu.


“Aku turut prihatin ya dengan masalah kalian. Langkah kamu ini sangat berani, Popaye. Aku yakin, Olive istri sholehah, dia akan menerima kamu apa adanya.” Ucap Yana tulus.


“Makasih, Yan. Jadi kapan kira-kira semuanya bisa beres?”


“Secepatnya. Nanti aku antar kamu ketemu sama notarisnya langsung ya, sekarang dia masih keluar.”


“Oh, Oke.” Mirza mengangguk. “Gimana kalo kita makan siang dulu? Ini udah jam makan siang kan?”


“Iya, boleh. Tapi aku mau kita makan di kedai Nostalgia.” Pinta Yana.


Yana cuman senyam senyum.


“Kamu sih, nggak ngajak Olive sekalian. Kita kan bisa makan siang bertiga.”


“Dia lagi ke rumah ibunya, udah aku ajak tapi nggak mau.” Jelas Mirza.


“Tumben, dia nggak kangen apa ya sama aku?”


“Kamu kenapa lama nggak main? Mentang-mentang udah punya tunangan. Nggak diijinin ya sama Khusni?” Selidik Mirza.


“Nggak kok, dia mah bebas terserah aku. Lagian kan dia masih di Bandung.”


“Oo …”


“Ntar deh, kalo pas dia pulang kita main ya.”


“Oke. Ya udah yuk, ntar jam makan siang kamu habis lagi. “ Ajak Mirza bangkit duluan dan diikuti Yana.


Mereka menuju kedai Nostalgia dengan mobil Mirza.


Sesampainya di kedai, Danar yang baru keluar dari pantry melihat kedatangan Yana dan Mirza.


Deg!


Ngapain Mirza berdua sama Yana? Kok nggak sama Via? Via dimana ya? Mereka ngapain cuman berduaan?


“Mas, minggir dong.” Suara Ari mengagetkan Mirza yang berdiri di depan pintu pantry menghalangi jalannya.


Danar langsung bergeser tapi masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Danar!” Panggil Mirza seraya melambaikan tangan begitu melihat Danar.


Mau tak mau Danar tersenyum dan menghampiri mereka.


“Hai, kok tumben cuman berdua aja?” Sapa Danar ramah seperti biasanya.


“Iya nih, si Popaye mau nraktir aku makan katanya, hehe..” Ucap Yana sambil nyengir.


Danar menarik kursi di dekat Yana.


“Wah, lagi ulang tahun apa gimana nih ceritanya?” Danar sok kepo.

__ADS_1


“Nggak kok, tadi kebutulan aku ada urusan di kantornya Yana, karena udah jam makan siang ya udah aku ajakin makan sekalian.” Terang Mirza.


“Oh, gitu.” Danar tersenyum.


Sukur deh, aku kira si Mirza ini mau main belakang sama Yana. Awas aja kalo dia berani nyakitin Via, aku nggak akan tinggal diam ngeliat Via disakiti. Eh, apa-apaan aku ini? Kok jadi mikirin istri orang lagi? Astaga! Danar sibuk bermonolog dalam hati.


“Jadi ada menu baru apa nih?” Tanya Yana.


“Apa ya?" Danar mengingat-ingat sejenak. "Sebentar aku ambil daftar menunya dulu ya, aku juga lupa.” Danar garuk-garuk kepala salting sendiri akibat salah sangka pada Mirza.


Di rumah Bu Harni


Via baru saja selesai menceritakan semua masalah yang terjadi dengan rumah tangganya dan berniat tinggal untuk sementara di rumah ibunya dengan Mirza.


“Nggak, ibu nggak setuju kalo Mirza mengambil jalan seperti itu. Kalian harus tetap tinggal di rumah itu, jangan pergi kemana-mana.” Bantah Bu Harni tegas.


“Tapi itu sudah jadi keputusan Mas Mirza, Bu.”


“Suamimu itu terlalu lembek, mau aja dia nurutin kemauan ibunya. Kamu kan istrinya, harusnya kamu lebih bisa mengambil kendali hatinya Mirza, Vi.”


“Bu, ibu sadar nggak sih dengan yang barusan ibu bilang?” Via kaget demi mendengar perkataan ibunya.


“Kenapa memangnya?”


“Kalo begitu, itu sama saja dengan kita membenarkan semua tuduhan yang ibunya mas Mirza alamatkan pada kita, Bu.”


“Ya memang seperti itu kenyataannya. Ibu merestui kamu dengan Mirza karena Mirza orang kaya, dia punya segalanya. Kamu pikir kalu Mirza itu kere, miskin kayak si Arya, ibu bakal mau ngijinin kamu nikah sama dia? Nggak lah, sama Tia aja ibu nyesel kenapa biarin dia nikah sama Arya. Kalo tau begini, nggak akan ibu kasih restu buat Tia dan Arya.” Ucap Bu Harni lantang.


“Astaghfirullah, Ibu.” Via nggak habis pikir. “Tega sekali ibu bilang begitu.”


“Memangnya orang tua mana yang mau melihat anaknya hidup menderita, Vi? Nggak ada!”


“Iya, tapi jalan pikiran ibu itu salah.”


“Nggak, Justru jalan pikiran kalian yang salah. Menganggap bisa hidup hanya dengan cinta. Huh! Apaan? Memangnya kalo perut lapar bisa langsung kenyang cuma karena cinta?” Bu Harni mencibir kesal.


“Serius banget sih ini kayaknya?” Riri datang membawa teko berisi teh hangat. “Berat nih kayaknya tema obrolan ibu sama Mbak Via.”


“Kamu juga!” Kali ini Bu Harni berujar pada Riri. “Kalo si Danar itu mau serius sama kamu, sebaiknya Kalian cepat nikah saja. Ibu nggak mau kalian jadi omongan tetangga.”


“Lho, kok aku sih?” Riri heran dateng-dateng langsung diomelin. “Lagian siapa yang mau nikah sama Mas Danar? Ibu ini suka ngawur!”


“Hey, masih bagus ya ada laki-laki yang mau sama kamu yang tengil dan manja begitu? Danar kan katanya anak orang kaya, ya udah cepetan kamu minta dilamar sebelum dia berubah pikiran.”


“Ya ampun ibu, bener-bener deh!” Riri kesal.


“Moga aja si Danar itu nanti jalan pikirannya nggak kaya Mirza. Sia-sia ibu bangga-banggain dia sebagai suami idaman kalo ujung-ujungnya kayak gini, semua hartanya dia kasih cuma-cuma ke ibunya. Terus kamu dapat apa dong, Vi? Dapat apa?” Apalagi kamu sedang hamil, anak kalian nanti mau dikasih makan apa kalo suamimu itu nggak punya apa-apa?” Bu Harni seperti kesetanan, dia kalut denga pikirannya sendiri.


“Ternyata ibu dan Bu Een sama saja, pikirannya nggak jauh-jauh dari harta.” Ucap Via llirih, hatinya sakit mendengar semua yang diucapkan oleh ibunya sendiri.


“Tapi ini semua demi kebaikan masa depan kamu, Vi.” Bu Harni kekeh. “Memangnya kamu pikir kenapa ibu sampe mati-matian dukung kamu buat balikan dan maafin Mirza meskipun udah hamilin perempaun lain kalo bukan karena hartanya? Kamu pikir, setelah berpisah sama Mirza bisa dapetin laki-laki yang lebih kaya dari dia? Sadar, Vi. Sadar! Jadi orang jangan polos-polos amat.” Bu Harni terus mengintimidasi pikiran Via.


“Bu, udah dong. Ibu janga terlalu ikut campur urusan rumah tangganya Mbak Va dan Mas Mirza.” Riri coba menengahi karena melihat kakaknya yang mulai menitikkan air mata.


“Diam kamu! Ibu bilang begini agar mata kakakmu itu terbuka. Pokoknya ibu nggak mau tau ya, Vi. Kamu harus bujukin suami kamu buat batalin rencananya. Kalo nggak, kamu bakal nyesel karena udah nikah sama Mirza.” Ancam Bu Harni serius.


Via melihat ibunya dengan matanya yang basah. Bu harni yang sudah kadung emosi tak sedikitpun melunakkan pandangannya.


“Aku kecewa sama ibu. Bener-bener kecewa, Bu. Dan aku merasa sia-sia telah mebela harga diri ibu di depan Bu Een yang sudah merendahkan keluarga kita.” Ucap Via dengan suara tertahan karena tak kuasa mengungkapkan semua rasa sakit di hatinya.


Lalu Via berjalan cepat masuk kamarnya yang sekarang sudah menjadi kamar Riri. Ia menumpahkan semua tangisnya di sana. Mengapa tak ada orang yang mengerti dengan keadaannya. Via merasa sangat hancur, bahkan lebih hancur rasanya daripada ketika dihianati Mirza. Walau begitu bersalahnya Mirza, ia tetap berada di pihak Via. Namun kini, ibu kandungnya sendiri telah menyudutkannya sedemikian rupa. Via didera berbagai macam perasaan yang berkecemuk dalam hatinya. Antara marah, sedih, kecewa dan takut. Dia butuh seseorang untuk membuatnya yakin bahwa hidupnya akan baik-baik saja setelah ini. Dan orang itu adalah suaminya sendiri.


______________


Hai akak….. 😍😍😍


Masih setia kan ngikutin Via ❤️ Mirza?☺️☺️


Ternyata Bu Harni begitu ya, Kak…. 😢😢


Eh, Danar mulai mucul lagi nih tipis-tipi dulu ya tapi😂😂


Duuuh, Om Jaka lagi kenapa tu? 🤔🤔🤔


Kok tumben bisa galau begitu ya, wkwkwk🤣🤣


Penasaran? 🤩🤩🤩


Tungguin kelanjutannya ya, Kak….😉😉


Like dan komennya dulu dong kak…😀😀


Rate 5 dan votenya juga boleh banget…😇😇😇


Makasih akak semuanya…🙏🙏🙏🌹🌹🌹


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2