
Romlah baru saja pamit pulang setelah menyerahkan kunci toko dan mendapatkan bayarannya untuk hari ini. Matahari masi terlalu terang untuk dikatakan sore, tapi begitulah Romlah. Dia selalu datang dan pulang tepat waktu, kalau sudah menunjukkan pukul 4 sore maka dia kan segera pulang melanjutkan tugasnya sebagai seorang istri untuk suaminya di rumah.
Sofi melangkah masuk kamar, rencananya sore ini dia kan menjenguk Bu Een namun ia merasa badannya kurang fit. Pinggangnya mulai terasa nyeri, mungkin hal itu dikarenakan usia kandungannya yang semakin bertambah. Meluruskan kedua kaki dengan punggung bersandar pada head board ranjangnya, Sofi berdesis memijat perlahan pinggang sebelah kanannya. Ia tiba-tiba teringat selama tinggal di rumah Bu Een belum pernah sekali pun periksa kandungan.
“Hem, baiklah. Kalo gitu besok kita akan ke dokter kandungan, mama mau liat kamu di dalam sana.” Tersenyum tipis mengelus lembut perutnya. “Sekalian kita jenguk si nenek lampir ya.”
Sofi agak terkejut di akhir kalimatnya karena tiba-tiba ia merasakan pergerakan yang begitu intens di dalam perutnya, seperti sebuah tendangan dari kaki kecil yang digerakan beberapa kali.
“Awh! Kenapa, Nak?” Merasakan ngilu dengan sensasi yang menyenangkan. “Kamu nggak suka ya dengan sebutan nenek lampir?” Terkikik geli mengusap-ngusap perutnya kembali. “Ok, kalo gitu kita ganti panggilannya jadi nenek gayung. Gimana, kamu suka?” Menatap pada perutnya yang terbungkus dress navy motif puzzle.
Aman, tak ada pergerakan dari dalam perutnya. Sofi bangkit bermaksud akan menjalankan ritual bersih-bersih badannya yang sudah terasa lengket, namun tiba-tiba ia merasakan kembali perutnya seperti ada gerakan siku yang coba menghantam dinding perutnya.
“Kanapa lagi kamu Nak, hm?” Duduk di tepi ranjang melihat ada sedikit yang menonjol di permukaan perutnya. Keras, setelah dirabanya. “Kamu juga nggak suka dengan sebutan nenek gayung?”
Aneh, tonjolan yang seperti bentuk siku imut itu bergerak perlahan dan perut Sofi kembali ke bentuknya semula. “Yah, kita panggil saja dia Bu Een, oke?” Bangkit dengan seutas senyum, namun langkahnya terhenti karena teringat sesuatu. Pandangannya tertuju pada dompet branded di atas nakas.
Mendesah berat setelah mendapati isi dompetnya hanya menyisakan beberapa lembar uang saja. Sofi bukan tipe orang yang bisa berhemat. Selama tinggal di rumah Bu Een ia terlalu boros hanya demi bisa diijikan tinggal disana, ia rela membayar sewa yang hampir sama dengan sewa kamar di hotel kelas suit. Kini dia tengah dilanda kebimbangan. Semua kartu debet dan kreditnya sudah tak ada yang bisa digunakan.
Meraih ponselnya yang sudah lama dinon aktifkan. Menimbang sebentar, dengan perasaan berat setelah memantapkan hati ia mengaktifkan kembali ponselnya. Satu nama yang ia yakini bisa membantunya kini.
Nut nut nut
Nada sambung beberapa kali.
“Halo?” Sapa suara yang sudah cukup lama tak didengarnya.
“Azad, ini Kakak.” Balas Sofi agak ragu.
Diam sejenak, mungkin Azad sedang berusaha meyakinkan dirinya karena Sofi menghubunginya dengan nomor baru lagi.
“Azad, kenapa diam?” Tegur Sofi. “Aku butuh bantuanmu.”
Dengusan nafas kasar diseberang, “katakan dulu, dimana Kak Sofi sekarang?”
Giliran Sofi yang terdiam. Ia masih belum mau mengatakan pada siapapun tentang keberadaannya.
“Ok, kalo Kak Sofi nggak mau bilang nggak papa. Tapi maaf, aku nggak bisa bantu apa-apa.”
“Azad, kamu tega sama aku dan calon keponakanmu?” Sofi tau Azad tak akan pernah bisa menolak jika ia sudah mengeluarkan jurus andalannya. “Kami benar-benar membutuhkan bantuanmu.” Lanjutnya memohon.
“Apa yang bisa ku bantu?” Nada Azda dingin.
__ADS_1
“Aku butuh uang.”
“Berapa?”
“Tak banyak, 100 juta saja.”
“Apa?” Schock sudah pasti, itu yang kini mendera Azad. Dengan entengnya sang kakak meminta uang 100 juta, dan dia bilang itu nggak banyak. Azad sungguh tak habis pikir.
“Azad, kamu bisa kan?” Memelas penuh pengharapan. “Aku mungkin sebentar lagi akan melahirkan, dan aku sangat butuh uang.”
Hati siapa yang tega mendengarkan keluhan saudaranya yang sedang kesusahan? Meski Azad kerap kali tak sejalan dengan pola pikir kakaknya, namun tentu dia tak akan sampai hati membiarkan sang kakak melahirkan anaknya dalam keadaan kekurangan kelak.
“Aku jemput Kakak sekarang.” Azad coba membujuk masih dengan nada dingin.
“Belum waktunya.”
“Kalo gitu aku nggak bisa kasih uangnya.” Sedikit memberikan ancaman.
“Baik, kalo kamu mau lihat keponakanmu nggak selamat lahir ke dunia.” Sofi malah mengancam balik.
Azad meremas rambutnya sendiri, selalu saja begini! Kakaknya selalu saja bisa mempedayanya!
Sofi tampak berfikir. Lantas melintaslah nama Romlah di benaknya. Ya, dia akan minta tolong Romah. Masa sih romlah nggak punya rekening bank? Kalo nggak, mungkin suaminya punya. Atau saudaranya, atau siapa saja yang bisa dimintai tolong, tak masalah jika Sofi harus memberinya imbalan.Toh bagi orang kampung uang ratusan ribu saja sudah terbilang banyak.
“Besok pagi Kakak hubungi lagi kemana kamu harus kirim uangnya.” Putus Sofi.
“Hem.”
“Sampaikan salamku untuk papa dan mama.”
“Nggak usah sok peduli, mereka lebih baik tak tau keberadaanmu.”
KLIK!
Azad mengakhiri sambungan sepihak tanpa sempat Sofi mengucapkan terima kasih. Sofi tau jika sudah begitu pertanda Azad sedang kesal. Tapi itu tak akan lama, Azad bukan tipe laki-laki pemarah, terlebih lagi pada kakaknya.
-
-
-
__ADS_1
“Tuan, saya mendapatkan kabar keberadaan Nyonya Sof – “ Gerald yang semula bersemangat meyongsong Tuannya yang baru pulang dari kantor tak melanjutkan kalimatnya mengingat ia sudah dilarang tak boleh lagi menyebut Sofi dengan panggilan Nyonya.
Tuan Alatas mengernyit. “Maksudmu keberadaan si ja**ng?”
“Betul, Tuan. Orang-orang suruhan Tuan berhasil mendapatkan informasi dimana dia berada karena wanita itu baru saja menggunakan ponselnya kembali.” Gerald menatap pada layar ponselnya yang masih menyala berisi pesan dari orang suruhan Tuannya.
“Segera perintahkan mereka untuk mengamankannya.” Titah Tuan Alatas.
“Baik, Tuan.”
“Jangan sampai menimbulkan kecurigaan, Ram tak boleh Tau.” Tegasnya lantas melanjutkan langkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ternyata tanpa sepengetahuan ayahnya, Ramzi yang juga menggunakan beberapa orang kepercayaannya untuk mencari jejak Sofi berhasil mendapatkan informasi yang serupa dari mereka. Perasaannya sungguh bahagia, ia lega mengetahui istri dan calon anaknya sudah ditemukan keberadaannya. Ia harus segera menemuinya sendiri sebelum ayahnya mendahuluinya. Namun sebersit rasa khawatir mampir di benaknya, ia belum pernah ke tempat yang disebutkan oleh orang suruhannya itu.
“Ah, aku nggak bisa kesana sendirian. Mungkin saja papa juga mendapatkan informasi yang sama tentang Sofia, dan aku nggak akan bisa menghadapi orang-orang suruhan Papa sendirian.” Gumam Ramzi. Dia berpikir keras bagaimana kelak menghadapi para orang suruhan papanya sehingga bisa membawa Sofi dengan selamat.
“Ya, Azad!” Cetusnya beberapa saat kemudian. “Aku harus mengajaknya. Dia juga pasti akan senang bisa bertemu dengan Sofia.”
❤️❤️❤️❤️❤️
Halo, gais….
Sejenak kita biarin dulu Bu Een yang lagi boboan di ranjang empuk ruang ICU ya 😊😊
Kita balik ke Sofi. Kita bikin dia ketemu dulu sama Ramzi.🤩
Azad juga bakalan ikutan nih. Heem, kira-kira siapa lagi ya yang bakal ikutan ke kampung Suka Tresna nyusulin Sofi?😀🤔🤔
Ada yang mau ikut nggak nih? Mmpung besok libur, hehe….😅😅
Kita lanjut besok lagi ya😍
Terima kasih sudah membaca, mohon maaf jika ada typo 🙏🙏
Like😇
Komen😁
Vote😉
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1