TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
78 #MONCOR (PART 1)


__ADS_3

“Bu, beli telor dong, seperempat aja.” Ucap salah seorang pembeli di toko Bu Een yang bernama Jubedah.


“Dikit amal belinya Jubedah?” Sahut Bu Een sambil menimbang telor.


“Sebenernya mau sih beli banyak 2 kilo sekalian, tapi ngutang ya Bu? Hehe… “ Si Bu Jubedah nyengir kuda.


“Enak aja! Di toko sembako saya dilarang hutang mengutang, cash and carry, tau!” Bibir Bu Een monyong. “Nih, telornya!” Bu Een ngasihin telornya Bu Jubadah, ehh telor ayam yang dibeli Bu Jubedah maksudnya. Bu Jubedah kan nggak bertelor ya?


Wkwkwk…😂😂🤭🤭


“Nih uangnya, Bu. Kembaliannya minta mie goreng aja.”


“Ya elah, Jubedah, Jubedah … apa nggak kriting ususnya anak kamu tiap hari makanannya mie terus?” Gerutu Bu Een sambil mengambilkan mie goreng yang diminta Bu Jubedah.


“Nggak usah banyak komen deh, Bu. Kalo duit saya banyak, maunya juga saya ngasih makan yang enak-enak buat anak saya. Diutangin tokonya aja nggak boleh, pake sok komen peduliin usus anak saya segala…” Bu Jubedah balas menggerutu sambil ngeloyor pergi setelah mendapatkan semua belanjaannya.


“Huh, dasar Jubedah! Dikasih tau malah ngomel!” Seru Bu Een, lantas ia kembali pada kursi singgasananya di balik meja kasir.


Bu Een mengeluarkan kipas lipat andalannya karena merasa gerah, lalu tiba-tiba…


“Aduduh…, kok perutku mules gini ya?” Bu Een meringis. “Mana nggak ada yang jaga toko lagi. Ahh, aku tinggal bentar nggak papa kali, kalo ada yang beli pasti nungguin nanti.”


Bu Een ngacir ke kamar mandi di rumahnya yang terletak bersebelahn dengan tokonya.


Setelah kurang lebih lima menit berada dalam kamar mandi Bu Een keluar dan segera kembali ke toko.


“Kayaknya harus pake minyak kayu putih deh, biar nggak mules gini.” Bu Een mencari minyak kayu putih CAP TANG di rak dekat laci kasir dan lekas mengoleskan ke seluruh perutnya.


“Bu!” Panggil seseorang membuat Bu Een terkejut karena lagi serius dengan perutnya.


“Ya ampun, Jubedah! Ngagetin aja!” Semprot Bu Een. “Ada apa lagi?”


“Beli saosnya yang sasetan 2.” Ucap Bu Jubedah sambil memeberikan selembar uang bergamrah Kapiten Patimuura bawa parang.


“Tuh, ambil aja disitu!” Tunjuk Bu Een pada rak paling pojok.


Bu Een menyandarkan punggungnya pada singgasananya yang empuk setelah Jubedah berlalu.


“Kok tiba-toba bisa mules gini ya? Udah dikeluarin masih aja melilit nih perut.” Bu Een memegangi perutnya sambil sesekali meringis menahan usus-ususnya kambali bergejolak.


“Aduuuuh, kok mules lagi sih ini? Adududuh…. Nggak tahan….” Bu Een buru-buru ngacir lagi menuju rumahnya.


Kali ini semedinya di dalam WC lebih lama dari yang pertama, karena gejolak dalam perutnya sedemikian merajalelanya hingga salah seorang pembeli di toko kebingungan karena tak mendapati siapa-siapa di sana.


“Ini orangnya pada kemana sih? Bu, Bu Een…? Din…, Udin …!” Panggil pembeli yang ternyata si Saprol.


(Masih inget nggak sama Saprol, gais…? Itu lho tukang ojek temennya Arya yang biasa mangkal di pangkalan ojek 😅😅).


Si Saprol melongok ke rumah induk.


“Bu …! Bu Een …! Din, Udin ….!” Panggil Saprol lebih keras.


Masih tak ada yang nongol karena Bu Een baru saja menuntaskan semua hajatnya dan tersenyum lega keluar dari tempat semedinya.


“Aaah, lega…, kayaknya kali ini udah abis semua deh.” Ucap Bu Een.


“Bu Een…! Udin …!” Terdengar sekali lagi teriakan Saprol dari depan.


“Iya, iya …. Sebentar!” Sahut Bu Een berteriak juga.


Lalu ia berjalan cepat menuju toko dan mendapati Saprol di sana.


“Eh, kamu Prol?”


“Dari mana aja sih, Bu? Dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut!” Saprol sedikit kesal.


“Dari dalamm goa, disana nggak ada sinyal, makanya nggak nyaut!” Sahut Bu Een asal. “Ada apaan?”


“Beli rokok dong.”


“Rokok apa? Jangan beli ketengan ya, sorry dorry morry disini nggak terima pembeli eceran!”


“Saya juga nggak level beli eceran.” Saprol nggak mau kalah. “Nih, saya beli rokok kretek JI RO LOE dua bungkus!” Saprol memberikan selembar uang bergambar Bapak Soekarno-Hatta.


“Waah, banyak duit kamu, Prol?” Bu Een sedikit kaget juga menerima uang dari saprol lantas mengambilkan rokok JI RO LOE yang diminta Saprol.


“Saprol gitu loh!” Sahut Saprol sedikit sombong.


“Eh, tunggu! Itu duit bukan dapet ngambil dari laci kasir saya, kan?” Bu Een menatap Saprol tiba-tiba.


“Enak aja! Sembarangan aja Bu Een ini kalo ngomong! Ya nggak lah, itu murni hasil keringat saya, hasil ngojek!” Saprol sewot dituduh semena-mena begitu.


“Ya siapa tau tadi pas saya di dalem kamu obok-obok laci meja kasir terus nagambil uangnya.”


“Astaga naga! Ati-ati Bu, itu bisa jadi fitnah kalo sampe didenger orang dan salah pengertian. Biar cuman jadi tukang ojek tapi saya juga tau yang mana halal yang mana haram! Lagian kalo saya mau, kenapa cuman ngambil uang seratus ribu? Kenapa nggak saya ambil semua uang di laci sampean terus saya jarah semua barang-barang disini?” Saprol bener-benar emosi .


“Ya kan saya cuman nanya, kenapa kamu jadi sewot gitu? Kalo nggak ngelakuin ya udah, jangan marah-marah dong!” Ucap Bu Een santai.


“Itu bukan nanya Bu, tapi nuduh!” Saprol jengkel bukan main. “Udah, siniin duitnya, saya nggak jadi beli disini! Males!” Saprol mau ngambil uang yang masih dipegang Bu Een.


Bu Een dengan cepat menghindar. “Eh, nggak bisa dong! Barang yang sudah dibeli disini, nggak bisa dikembalikan lagi!” Tegas Bu Een lalu mengambilkan sejumlah uang dari lacinya. “Nih, kembaliannya!”


Dengan muka masih kesal Saprol pergi meninggalkan toko.


“Huh, dasar orang aneh! Ditanya malah marah-marah!” gerutu Bu Een, ia nggak sadar kalo emang dia yang salah.


Bu Een mengulang lagi aktifitasnya berkipas-kipas asmara dengan kipas lipat kesayangnnya sambil bersantai di kursi singgasananya, ia baru saja akan menyelonjorkan kakinya ketika dua orang ibu-ibu masuk ke tokonya.


“Waduh, lagi santai nih, Bu?” Tegur salah seorang dari mereka.


“Eh, iya. Darimana kalian Rokayah, Rodiyah? Kok tumben bareng-berengan siang-siang begini?” Sahut Bu Een.


“Habis show, Bu! Kitakan 2R, hehehe…. “Sahut Si Rodiyah.

__ADS_1


“Ha?” Show apaan?” Bu Een heran.


“Nggak deng, habis nongky-nongky di pos ronda. Kita kan ibu-ibu PKK alias Perempuan Kurang Kerjaan.” Timapal Rokayah sambil tersenyum lebar.


“Pasti abis ghibah ya? Dasar emang bener-bener PKK kalian!” Cibir Bu Een.


“Eeh, tapi ghibah itu mengasyikkan lho Bu. Tau nggak sampean Bu, kalo semua tanah sawah di perbatasan desa milik Haji Barkah itu mau dihibahkan pada calon mantunya?” Rokayah memulai dengan mimik wajah ala-ala VENNY BROSS.


“Apa? Calon mantu?” Bu Een kontan terkejut. “Maksudnya anak semata wayangnya Haji Barkah mau nikah begitu?”


“Iya! Tapi calonnya masih belum tau siapa, masih rahasia gitu!”


Lalu, bla.. bla ..bla… bla… mereka bertiga asyik berghibah ria, sampe si Rokayah sama Rodiyah lupa dengan maksudnya yang mau belanja.


Sementara itu di rumah Mirza, Om Jaka pamitan mau ke rumah Bu Een.


“Nanti balik lagi kesini kan, Om?” Tanya Via.


“Liat nanti aja deh. Kalo mau tidur sana ya nggak papa kan? Lagian gue nggak enak kalo disini, ntar ganggu kalian lagi.” Ucap Om Jaka sambil nyengir.


“Kirain Om nggak mau mampir ke tempat ibu.” Timpal Mirza.


“Wah, bisa dipecat gue jadi adekya Za, kalo emak elu tau gue pulang kampung nggak maen ke rumahnya.”


Bu Harni dan Riri turun membawa tas pakaian mereka.


“Lho, ibu sama Riri mau kemana?” Mirza heran.


“Ya pulang lah, masa mau nginep terus di sini?” Sahut Bu Harni. “Jangan lupa besok senin Via ajakin ke dokter kandungan, Za.” Pesan Bu Harni.


“Iya, Bu.”


“Mbak Har, kalo mau bareng sama saya juga nggak papa, ayok saya anterin pulangnya sekalian.” Tawar Om Jaka.


“Wah, nggak usah Dik Jaka. Saya pulang sama Riri aja.”


“Nggak papa Bu, sama Om Jaka aja. Biar naik mobil, hehe…” Riri cengengesan.


“Kamu ini! Pasti kamu mau keluyuran kan kalo nggak pulang bareng Ibu?” Bu Harni mencium gelagat anak bungsunya.


Riri cuman nyengir. Lantas mereka bertiga pun pamit pada Via dan Mirza.


Kembali ke toko Bu Een,


“Jadi begitu Bu ceritanya.” Pungkas Rokayah setelah selesai dengan ceritanya.


“Beruntung banget ya yang bakal jadi mantunya haji Barkah itu.” Lirih Bu Een.


Diam-diam Bu Een merasa kecewa karena dulu nggak berhasil menjodohkan Mirza dengan Denaya putri semata wayangnya Haji Barkah sang tuan tanah yang sawah dan toko matrialnya dimana-mana itu.


“Oya, sape lupa! Kita mau belanja lho Bu!” Rodiyah menepok jidatnya sendiri. “Ini daftar belanjaan saya, Bu!” Rodiyah menyodorkan secarik kertas pada Bu Een.


“Iya, saya juga mau belanja bulanan nih.” Timpal Rokayah.


“Pada ambil sendiri aja deh ya, si Udin lagi belanja ke kota jadi hari ini saya nggak ada yang bantuin. Ntar kalo udah pada selesai bawa ke sini.” Ucap Bu Een sambil memberikan dua keranjang belanja pada Rokayah dan Rodiyah.


Bu Een kembali duduk, ia masih penasaran sama cerita si 2R tentang calon mantu haji Barkah itu.


Hemm, coba aja kalo Mirza bisa nikah sama Denaya, pasti bakal jadi tuan tanah juga, kan warisannya pasti jatuh pada Denaya semua. Betul-betul bakal kaya raya si Mirza. Ck, tapi sayang. Si Mirza malah lebih milih nikah sama anak si janda pas-pasan yang cuman punya sawah dua petak itu. Huh!


Bu Een terus menggerutu dalam hati menyesali usahanya yang dulu gagal menjodohkan Mirza dengan Denaya hingga ia kembali mersakan perutnya melilit.


“Adeeeh…” Bu Een meringis seraya memegangi perutnya yang kayak lagi dikruwes-kruwes itu. “Ya ampun, kayaknya harus dibuang lagi nih. Kok nggak abis-abis ya dari tadi?” Gumam Bu Een sambil meringis menahan sakit di perutnya. “Hoy, 2R! kalian masih lama nggak belanjanya?” Seru Bu Een pada Rokayah dan Rodiyah.


“Bentar dong, Bu!” Sahut Rodiyah.


Mereka sama sekali tak menyadari perubahan raut wajah Bu Een yang nggak karu-karuan karena menahan sesuatu yang ingin menerobos keluar lewat jalan belakang.


Si Rodiyah sama si Rokayah itu malah lagi asyik diskusi soal harga kecap mana yang lebih murah antara yang botolan sama yang rencengan.


“Rokayah! Rodiyah! Cepetan dong, kalian milih apaan sih, dari tadi kok lama amat?” Bu Een nggak sabaran, keringat mulai mengembun di jidatnya karena menahan mules.


“Sebentar lagi, Bu.” Sahut Rokayah tanpa menoleh.


Tiiiiit ….


Bunyi angin tertahan yang merdu mendayu lolos juga lewat jalan belakang Bu Een bersama sesuatu yang hangat yang ia rasakan pada bagian anunya. (Duuh, map ya kalo autor rada jorok.. 🤭🤭)


Bunyi itu memang tak terdengar oleh Rokayah dan Rodiyah akeran Bu Een sedemian rupa sudah menahannya agar tak terdengar terlalu membahana, tapi bunyi tertahan itu menimbulkan aroma yang sungguh menyengat di hidung 2R.


“Ih, bau apaan ini? Rodiyah yang menciumnya lebih dulu reflek menutup hidungnya.


“Ih, iya! Busuk banget baunya. Kayak bau ****** gorilla.” Timpal Rokayah.


“Ngaco! Ini bau comberan kayaknya!”


“Masa sih?” Rodiyah malah mengendus-endus mencari dari mana sumber aroma menyengat itu berasal. “Bukan ah. Selokan baru aja di kuras sama warga kan minggu lalu?” Lanjut Rodiyah yakin.


“Terus bau apaan dong?”


Bu Een udah nggak karuan perasannya, nggak mungkin juga dia ngaku itu adalah aroma pewangi ruangan gratis darinya. Bu Een berpikir cepat, ia harus segera ke belakang sebelum rasa hangat pada bagian anunya itu melebar kemana-mana.


“Saya tinggal ke dalem sebentar ya kalo kalian masih lama.” Ucap Bu Een terburu-buru.


“Eh Bu, mau kemana? Saya mau beli gula sama beras dong?” Seru satu orang ibu yang baru dateng.


“Ambil aja sendiri!” Bu Een lari terbirit-birit karena sesuatu itu benar-benar sudah sampai di pintu gerbang kemerdekaan untuk kembali menerobos keluar.


2R dan seorang ibu yang baru dateng itu sampe terheran-heran dengan tingkah Bu Een.


Tak lama berselang mobil Om Jaka tampak memasuki halaman rumah Bu Een. Om Jaka segera turun dan menuju toko untuk menyapa kakak tercintanya.


“Wah, ada Mas Jaka?” Ucap Bu Rodiyah dengan senyum manisnya.

__ADS_1


“Baru dateng dari Jakarta, Mas? Tambah keren aja sekarang lho.” Timpal Rokayah dengan senyum tak kalah manisnya.


“Eh, ibu-ibu. Selamat siang semuanya.” Sapa Om Jaka ramah. “Lho, Mbakyu Een kemana ibu-ibu?” Tanya Om Jaka yang tak mendapati kakaknya di toko.


“Tadi lari ngacir ke rumah, orang saya mau beli malah dicuekin!” Jawab si ibu yang baru dateng tadi yang tak diketahui namanya, sebut saja MAWAR. 😂🤭


“Iya, kita-kita belanjaannya gimana nih? Tadi disuruh cepet-cepet, sekarang malah ditinggalin.” Gerutu Rodiyah.


“Eeh tapi, Mas Jaka datang bau gotnya ilang lho, jadi bau harum sekarang.” Rokayah kali ini mengendus wangi parfum Om Jaka, cuping hidungnya sampe kembang kempis mirip ikan ****** kalo lagi minta kawin. “Beneran, harum mewangi semerbak tiada tara, ini aroma laki-laki ganteng dari Jakarta.” Rokayah senyam senyum kecentilan sambil matanya mengerjap-ngerjap manja pada Om Jaka.


“Ah, Bu Rokayah ini bisa aja.” Om Jaka nyengir.


“Eh, beneran lho Mas Jaka.” Rokayah mesam mesem nggak jelas. “Coba aja kalo saya janda, pas deh sama Mas Jaka yang duda. Iya kan, Mas?”


Rokayah keliatan usaha banget.


Om jaka sampe keder dibuatnya, sementara yang lain malah ikut mesam mesem juga.


“Ya udah, ibu-ibu ini tadi mau belanja apa ya?” Tanyq Om Jaka akhirnya karena nggak enak dimodusin sama Rokayah.


“Ini, kami udah selesai tinggal ngitung aja kok.” Rodiyah memperlihatkan keranjang belanjaannya.


“Saya juga uda selesai. Mas Jaka aja yang ngitung, ini udah lama banget Bu Een nggak balik-balik, saya mau angkat jemuran soalnya.”


“Saya juga mau masak nih.” Timpal si ibu Mawar. “Beli berasnya dong Mas Jaka 2 koli aja, sama gulanya setengah kilo. Berapa?”


“Wah, saya nggak tau harganya Bu, nunggu Yu Een aja ya bentar lagi.”


“Yah, kalamaan Mas. Anak saya kelaperan, dia udah nggak makan sejak dua hari yang lalu. Cepetan dong Mas!”


“Waduh! Ambil sendiri aja deh kalo gitu.” Ucap Om Jaka.


“Teus kita gimana ini, Mas?” Tanya Rodiyah. “Berapa nih semuanya?”


Om Jaka garuk-garuk kaki, ehh... garuk-garuk ketek saking bingungnya🤭


“Bawa aja dulu deh!”


“Terus bayarnya?” Rokayah sama Rodiyah kompakan nanya.


“Bayarnya nanti aja. Kan saya nggak tau harganya?”


“Hah? Beneran?” Si Ibu Mawar yang lagi nimbang beras melotot. “Kalo gitu berasnya 10 kilo deh, gulanya 2 kilo, sama nambah mie rebus, mie goreng, telor, garem, odol, sabun …”


“Kalo gitu saya juga mau belanja lagi lah.” Rodiyah nggak mau kalah. “Minyak sayur, minyak nyong nyong, minyak rem, minyak butbut….”


“Saya juga kalo gitu!” Rokayah ikutan juga. “Susu coklat, susu putih, susu kuda liar, susu beruang, susu janda kembang, ehhh….”


“Ambil-ambil sendiri deh, Bu. Saya pusing!” Om Jaka nyerah.


Akhirnya tiga emak-emak itu kalap memborong belanjaan. Kapan lagi? Mumpung boleh ngutang! Pikir mereka.


Dan setelah selesai mereka pun pergi, tak lupa berterimakasih pada Om Jaka.


Om Jaka menarik napas lega.


“Jak?” Tegur Bu Een agak mengagetkan Om Jaka.


“Eh, Yu? Dari mana aja sampean?”


“Kamu kok ada di sini? Dateng kapan?” Bu Een malah balik nanya karena heran demi melihat kehadiran adiknya.


“Barusan aja. Sampean dari mana tadi? Ibu-ibu yang belaja sampe nungguin lama."


“Dari dalem. Terus ibu-ibunya mana sekarang?” Bu Een celingukan.


“Udah pada pulanga lah, sampean kelamaan.”


“Emang udah pada selesai belanjanya?”


“Udah.”


“Bagus deh, makasih ya udah bantuin jaga toko.”


“Iya, sama-sama.”


“Ini gegera si Udin lama banget disuruh belanja aja.” Gerutu Bu Een sambil berjalan menuju meja kasir. “Wah, banyak juga ya mereka belanja, sampe mau ludes dagangan saya.” Ucap Bu Een yang melihat rak dagangannya berkurang isinya.


“Lumayan.”


Bu Een membuka laci mejanya. “Terus duitnya mana? Kok nggak ada di sini?”


“Ya belum pada bayar lah, orang gue nggak tau harganya.” Sahut Om Jaka santai.


Sekonyong-konyong mata Bu Een langsung membelalak.


“JAKAAAAAAA ……!!!!”


______________


Hahahaaa…… kayaknya Bu Een udah jatuh semaput tuh Kak 🤣🤣🤣


Wkwkwkk… 🤭🤭🤭


Yuk lanjut lagi kak, ☺️


Kita ikutin Sofi yang lagi otw pulang.😂😂


Etapiiiii..... like dan komen dulu dong di bab ini akak ….😉😉😉🤩🤩


Rate 5 dan vote juga boleh banget…😍😍


Udah…??❤️❤️

__ADS_1


Yuuk, cuusss next kalo gitu…😀😀


Makasih ya, luv u all🙏🙏🤗🤗😘😘


__ADS_2