
Halo Akak semuanya.... ☺️
long week end bakal usai nih, maafin othor ya telat up gegara kelayapan🙏😅
oke, jempolnya mana nih... 😃
jangan lupa like dulu🤩🤩
siap-siap yaa....
othor kasih up beberapa part yang bikin fanas dingin, ketawa dan kecewa. 😂😂
jangan benci othor yaa 😢😢
Karena ketahuilah, wahai Marimar. kehidupan dalam novel pun tak semulus jalan tol. 🙄🙄
Akan ada ujian lagi dalam kisah Via ❤️ Mirza.
_________________
Riri sampai di rumah kontrakan Via dan mendapati kakaknya itu pucat tengah meringis menahan sakit begitu Via membukakkan pintu dengan susah payah.
“Mbak, apa yang sakit?” Riri langsung memapah kakaknya menuju ruang tengah.
”Perut Mbak, Ri.” Ucap Via setelah duduk kembali di sofa.
“Mbak Via belum sarapan, ya?”
“Udah minum susu.”
“Pantesan. Tunggu sebentar, aku bikinin…”
“Mbak nggak laper.” Via menarik pergelangan tangan Riri yang hampir beranjak meninggalkannya.
“Ck, Mbak Via nih kenapa sih bandel banget?” Decak Riri kesal. “Nanti kalo asam lambungnya kumat gimana?”
“Tolong bawa Mbak ke dokter, Ri.” Rintih Via.
Deg!
Riri jadi kaget mendengar permintaan kakaknya. Ternyata sakit perut yang dirasakan Via lebih serius, bukan hanya sekedar karena belum sarapan.
“Iya, iya Mbak. Kita ke dokter sekarang ya.” Riri gusar, tapi sejurus kemudian dia dilanda kebingungan karena tak mungkin membawa kakaknya ke dokter dengan memboncengnya naik motor. “Sebentar, Mbak. Aku hubungi Mas Danar dulu ya, buat minta tolong diantar ke dokter. “Ucap Riri yang teringat Danar.
Via meremas lengan Riri seraya menggeleng. “Nggak usah, Ri….”
“Tapi kita naik apaan kita kesana , Mbak?” Riri panik karena sepertinya Via semakin kesakitan.
“Coba tolong cari nomor Firman, hubungi dia tanyakan jam praktek dokter kandungan di rumah sakit tempatnya bekerja.” Ucap Via sambil melihat pada ponselnya.
Riri mengerti, segara ia meraih Hp Via dan mencari nomor telpon Firman.
“Halo, Kak Firman ya?” Sapa Riri begitu telponnya tersambung.
“Iya..” Sahut Firman di seberang agak ragu karena nomer yang menghubunginya nomor Via tapi memanggilnya dengan sebutan Kak.
“Ini aku Riri, Kak. Adiknya Mbak Via.” Riri menjelaskan.
“Oh, iya. Gimana, ada yang bisa dibantu?”
“Maaf, mengganggu Kak. Aku mau tanya jadwal prakterk dokter kandungan hari ini, Kak. Ini Mbak Via sepertinya sakit di bagian perutnya, dan harus ke dokter sekarang.” Papar Riri.
“Dokter kandungan ya? Oh, hari ini ada mulai jam 9 tadi pagi. Tapi kayaknya udah mau selesai, soalnya sebentar lagi kan jam istirahat.” Ucap Firman.
Riri melihat pada jam dinding yang menunjukkan pukul 11. 20 siang. Benar, nyampe rumah sakit pasti sudah tutup, pikir Riri kecewa.
“Tapi nanti jam 2 ada lagi kok, Ri. Kalo mau nanti aku ambilkan nomor antriannya ya, biar nggak nunggu terlalu lama."
Mendengar perkataan Firman, Riri langsung semangat lagi.
“Boleh, Kak. Maaf ya, merepotkan.”
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Nanti kalo udah nyampe sini, hubungi aku lagi, ya?”
“Oke, makasih banyak ya Kak.”
Riri mengakhiri percakapannya sementara Via nampak terkulai di sofa.
“Mbak, sabar ya. Dokter kandungan baru buka praktek lagi jam 2 nanti. Ini kan udah mau jam istirahat. Jadi kalo kita cari dokter yang lain pun kayaknya bakal sama aja.” Ucap Riri menenangkan kakaknya.
Via hanya menaggguk samar, Riri kemudian segera ke belakang berinisiatif membuatkan bubur nasi dengan parutan wortel untuk Via.
Hampir jam 12 bubur nasi buatan Riri matang dan sudah didinginkan. Riri membawanya ke ruang tengah.
“Ya ampun, Mbak. Kok keringetan begini sih, Mbak Via.” Riri kembali panik dan menyeka keringat yang mengembun di dahi Via yang terasa dingin.
“Ri, Mbak kedinginan.” Rintih Via.
Tanpa menyahut, Riri segera mematika AC dan mengambilkan selimut dari kamar Via dan menyelimuti tubuh kakaknya itu.
“Makan ya, Mbak. Aku suapin pelan-pelan.” Riri menyurukkan sesondok bubur nasi ke dekat Via.
Perlahan Via membuka mulutnya. Di suapan ke lima Via sudah menggeleng tak mau makan lagi.
“Udah, Ri.”
Riri mengambilkan segelas air dan membantu Via duduk untuk minum.
“Pelan-pelan, Ri. Leher Mbak rasanya sakit banget.” Via memang merasakan sekitar leher dan pundaknya yang akhir-akhir ini sering terasa pegal-pegal.
“Iya, Mbak.”
Riri pun membantu Via minum dan merebahkan kembali kakaknya dengan perlahan.
“Istirahat dulu ya, Mbak. Nanti jam 1 kita berangkat. Kak Firman udah ambilin antrian buat Mbak Via kok. Kita berangka naik taxi online aja ya, Mbak?”
Via mengangguk, lantas mulai memejakan matanya menkmati rasa nyeri di perut dan tubuhnya.
______________
Sofi sedang duduk mengobrol denagn orang tuanya.
“Sebentar lagi semuanya pasti akan menjadi milik kita kembali, Pa.” Ucap Sofi yakin.
Tuan Husein hanya tersenyum membuang pandangan.
“Oya, bagaimana dengan kandunganmu, Sof?” Nyonya Husein tiba-tiba menanyakan kandungan Sofi.
Seketika Sofi terdiam. Kalau dia berbohong bahwa dirinya masih hamil itu tidak mungkin, sebab perutnya tidak akan bertambah besar.
“Sof?” Tegur Nyonya Hsein yang melihat Sofi hanya diam.
“Sebenarnya, aku … keguguran, Ma.”
Tuan dan Nyonya Husein langsung menatap Sofi.
“Keguguran?” Tanya Nyonya Husein tak percaya.
Sofi mengangguk, lalu tertunduk. Ia tak berani menatap mata kedua orang tuanya. Ia tak ingin menceritakan kalau itu perbuatan Ramzi dan mertuanya, sebab tak mau membuat orang tuanya bertambah susah pikiran.
“Mungkin itu lebih baik untukmu.” Ucap Tuan Husein parau.
Sofi mengerti maksud perkataan ayahnya, dan perlahan mengangkat wajahnya.
“Iya, Pa.”
Beberapa menit kemudian Sofi pamit pulang setelah memberikan sejumlah uang pada orang tuannya. Nyonya Husein ingin menolak pemberian Sofi, namun karena Sofi memaksa dan lagi pula mereka sekarang membutuhkan uang karena sedang berada pada titik terendah dalam kehidupan mereka, Nyonya Husein pun menerimanya.
Mobil BMW sport 320i milik Sofi melesat meninggalkan rumah kontrakan orang tuanya. Mobil yang semula ditolak Sofi sebagai hadiah pertunangannya dari Ramzi itu, kini ia bawa kemana-mana karena memang taka ada lagi mobil yang bisa ia gunakan sekarang, selain itu juga Ramzi memberikan mobil itu sebagai mahar dalam pernikahannya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Sofi mendapat sebuah ide yang dianggapnya sangat briliant. Sofi tersenyum, dan melajukan mobilnya semakin bersemangat.
Di kantor Ramzi.
__ADS_1
Beberapa staf karyawan meninggalkan kantor untuk makan siang. Ramzi sendiri yang baru saja selesai meeting sedang duduk santai di kursi kerjanya merilekskan otot-ototnya yang terasa tegang setengah hari ini. Pikirannya tiba-tiba teingat pada perataan Sofi pagi tadi.
“Tidurlah di kamar kita nanti malam.”
Ramzi tersenyum. Bayangan wajah Sofi kemudian melintas di benaknya.
Sofi yang cantik dan keras kepala sulit sekali ditaklukkan, namun kini ia berhasil mejadikannya sebagai istrinya. Meski gumpalan kekecewaan masih teronggok dalam hatinya, tapi dirinya tak menampikkan sangat menginginkan Sofi.
Perjodohan mereka sejak beberapa tahun lalu membuat Ramzi sangat bersabar menantikan Sofi siap untuk dinikahi. Ramzi sama sekali tak keberatan menunggu Sofi yang lulus kuliah dan mengejar karir, cintanya tak pernah berkurag meski ternyata Sofi tak pernah mencintainya, dan menerima perjodohan itu hanya karena tepaksa keluarga Ramzi sudah begitu banyak membantu keungan prusahaan keluarganya.
Tangan Ramzi kemudaian mengepal, matanya memanas manakala ingat penghianatan Sofi dibelakangnya. Ternyata Sofi berkencan dengan laki-laki yang bahkan dia sendiri tak tau siapa laki-laki itu dan mebuat Sofi sampai hamil. Rasa cinta yang begitu besar berubah menjad benci. Benci karena merasa dicurangi dan ia harus membalaskan rasa sakit hatinya dengan tetap menikahi Sofi dan menghilangkan janin itu. Dan sekarang Sofi sudah resmi jadi istrinya, janinnya pun sudah berhasil dilenyapkan, namun rasa gengsinya yang teramat tinggi, membuatnya enggan menyentuh Sofi, ditambah lagi dukungan dari Tuan Alatas agar meberikan Sofi pelajaran akibat ulahnya yang tak punya harga diri itu.
Tok tok tok…
Ketukan pintu mebuat pikiran Ramzi tersadar.
“Apa aku mengganggumu?” Wajah Jane dengan senyum muncul dari balik pintu.
Ramzi menghela nafas.
“Masuklah.”
“Kau kenapa? Sepertinya sedang kesal?” Jane duduk di depan Ramzi dan memperhatikan wajah Ramzi yang memang tampak kesal karena baru saja terigat kelakuan Sofi.
“Nggak papa. Aku hanya sedikit lelah saja.” Sahut Ramzi.
“Apa kau mau aku mintakan OB untuk membuatkanmu kopi?”
“ Nggak.”
“Teh, mungkin?”
“Nggak juga.”
“Gimana kalo makan siang? Kamu pasti belum makan kan? Jangan sampai kau sakit Ram, karena minggu ini kita punya banyak pertemuan penting.” Jane memperingatkan.
“Sudahlah, Jane. Kau jangan ngoceh terus, apa kamu nggak tau aku lagi capek? Daripada kamu banyak omong begitu mendingan kamu pijitin aku!” Decak Ramzi kesal.
“Pijit? Emangnya aku tukang pijit?” Jane melotot.
“Ya sudah kalo nggak mau, pergi sana! Aku mau sendirian!” Usir Ramzi.
“Heum, Tuan Ramzi Alatas apakah kalo aku memijitmu aku akan dapat tip?” Tanya Jane asal.
“Terserah kamu saja maunya apa!” Ramzi sebal.
Jane akhirnya bangkit dan mendekati kursi Ramzi.
“Kamu kayak orang lagi PMS aja, marah-marah terus.” Jane pun agak kesal.
“Hey, aku ini atasanmu! Kenapa kamu berani mengomel seperti itu padaku?” Ramzi melotot kesal. “Sudah, cepat pijit pundakku!” Ramzi menarik tangan Jane, namun karena Jane tak siap, dia limbung dan jatuh ke dalam pangkuan Ramzi.
Freeze untuk beberap detik.
Mata mereka saling tatap begitu dekat dalam diam. Tanpa di duga, Jane menyentuh wajah Ramzi dan jemari lentiknya menyusuri wajah brewok nan menggemaskan itu. jantung ke duanya berpacu lebih cepat. Jane yang selama ini diam-diam memang menyimpan hasrat terpendam pada Ramzi merasa sangat bahagia bisa sedekat ini dengan bosnya itu. meski mereka sering menghabiskan malam bersama di pub malam, namun belum pernah sekali pun Ramzi menyentuhnya secara khusus, memperlakukannya sebagai seorang perempuan. Jane menyimpan rapat-rapat perasaannya, dan saat ini ia merasa keberuntungan berpihak padanya. Ramzi bagai terhipnotis, ia baru menyadari bahwa Jane si assteten pribadinya yang kerap kali selalu siap disuruh apa saja ternyata memang cantik. Namun Ramzi tak memiliki perasaann khusus, ia tetep menganggap jane hanya asisten dan temannya.
Jane yang tak ingin menyia-nyiakan kesampatan ini, perlahan lebih mendekatkan wajahnya pada Ramzi dengan tangan kiri mulai merayap pada tengkuk Ramzi yang tiba-tiba terasa dingin. Jane memejamkan matanya seolah pasrah dan meberikan kesempatan pada Ramzi untuk berlaku apa saja padanya.
Ceklek.
“Kak Ram!”
Suara teriakan geram segera memenuhi ruangan setelah pintu ruang kerja Ramzi terbuka. Hal itu mebuat Ramzi dan jane langsung berdiri menyudahi adegan romantis yang baru setengah jalan itu.
____________
Wadaaaw.... mereka tercyduk 🤣🤣🤣
wkwkwkkk....🤭🤭🤭
like sudah?
__ADS_1
komen dong....😀😀
oke, lanjuut yuuk.... 😍😍