TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
113 #GOAL ....!


__ADS_3

Waktu terasa lambat banget buat Om Jaka yang sudah tak sabaran pingin belah duren. Meski ia sudah masuk kamar Denaya sejak lepas isya tadi, namun Denaya belum juga menyusulnya. Karena penasaran, Om Jaka mengintip apa yang sedang dilakukan Denaya dari pintu kamar yang sengaja ia buka sedikit.


Sepi, ruang tengah di depan kamar Denaya tak ada siapa-siapa, namun telinga Om Jaka mendengar seperti masih ada yang berbincang di ruang tamu. Om Jaka terlihat gemas, kenapa itu tamu nggak ada pengertiannya sih, udah malem masih aja belum pulang? Rutuk Om Jaka dalam hati.


“Mas!” Suara Bi Sulis mengagetkan Jaka. “Ngapain?” Tanya Bi Sulis yang melihat Om Jaka kepalanya cuman nongol sedikit dari balik pintu kamar Denaya.


“Eh, ngagetin aja si Bibi!” Jaka memegangi dadanya. “Itu tamunya siapa sih, kok dari tadi nggak pulang-pulang?” Om Jaka akhirnya nanya juga meski dari tadi dia nyoba sabar.


“Oh, itu teman Pak Haji dari kota dan keluarganya. Datengnya kesorean, makanya sambil ngobrol-ngobrol. Mas Jaka ada apa memangnya?”


“Suruh pulang aja gih Bi.” Ucap Om Jaka asal.


“Kenapa? Mas Jaka udah nggak sabar ya pingin nina ninu sama Mbak Dena?” Perempuan setengah baya lebih yang bantu-bantu di rumah Pak Haji Barkah itu meledek Om jaka dengan senyum jahil.


“Bukan udh nggak sabar lagi, Bi. Udah kebelet malah.” Celetuk Om Jaka.


Bi Sulis nyengir. “Tenang aja, Mas. Bentar lagi mau pulang kok tamunya. Ini saya udah bungkusin kue buat mereka.” Bi Sulis mengacungkan plastik yang dibawanya.


“Bagus deh.”


Bi Sulis lantas ke depan, dan benar saja tak lama kemudian terdengar mobil dari halaman depan berlalu. Om Jaka segera menutup pintu kamar dan menunggu Denaya di atas kasur.


“Beb? Kok belum tidur?” Tegur Denaya yang baru masuk kamar.


“Iya, nunggun kamu Han.”


“Aku mandi dulu ya? Badan rasanya lengket nih.”


“Ya udah, mandi sana Han. Nanti abis itu kita ritual bersama ya?” Om Jaka melemparkan tatapan penuh arti.


“Ritual apaan?” Denaya nyengir lantas berlalu masuk ke kamar mandi.


Hmm, bini gue nggak ngerti apa pura-pura nggak ngerti ya? Mau bikin gue makin gemes kayaknya dia. Masa sarjana S2 umur 32 tahun nggak ngerti ritual malam pengantin baru? Batin Om Jaka.


Hampir setengah jam Om Jaka menunggu dengan tak sabar sambil berulang kali melihat pada pintu kamar mandi yang juga tak kunjung terbuka.


“Ya elah, itu bini gue lagi mandi kembang atau ngapain sih? Lama bener timbang mandi doang? Apa semua anak perawan mandinya lama begitu ya? Gue susulin juga nih lama-lama.”


Om Jaka baru akan beranjak ketika Denaya keluar dari dalam kamar mandi sudah rapih dengan setelan baju tidur dan kerudungnya.


“Mau kemana, Beb?” Denaya heran.


“Mau nyusulin kamu, Han. Abisnya lama benget mandinya.” Om jaka sedikit kesal.


“Kenapa emangnya? Bebeb mau mandi juga?”


“Bukan. Kan kita mau ritual bareng.”


“Oh, Bebeb belum sholat isya? Ya udah, cepetan kalo gitu. Aku udah sholat kok.” Denaya dengan cueknya menuju meja rias.


“Han.” Om Jaka mencekal pergelangan tangan Denaya. Habis sudah rasanya kesabaranya menunggu sedari sore tadi.


“Eh, kanapa Beb? Kok ngeliatin aku kayak gitu?” Denaya risih juga ditatap Om Jaka begitu lekat.


Om Jaka tak menyahut, dia semakin mendekatkan wajahnya dengan mata nyaris tak berkedip. Denaya jadi deg-degan tak karuan.


“Buka kerudngnya, Han. Kita kan sudah sah suami istri sekarang.” Lirih Om Jaka seraya membelai pipi istrinya.


Denaya mendadak merasa sulit bernafas. Tangan Om Jaka terasa hangat mendarat di pipinya yang terasa dingin karena baru slesai mandi.


“Beb, k-kamu …”


“Buka, Han.” Pinta Om Jaka sekali lagi.

__ADS_1


Dengan mata yang juga tak leaps dari suaminya, Denaya melepaskan kerudungnya. Om Jaka melihat wajah istrinya tanpa hijab untuk pertama kalinya, benar-benar cantik. Lalu tangan Om Jaka melepaskan ikat rambut yang dipakai Denaya perlahan sehingga terurailah rambut ikal panjang Denaya.


“Cantik sekali istriku.” Bisik Om Jaka pada telinga Denaya.


Tangan kanan Om Jaka membelai lembut rambut panjang istrinya dnegan senyum manis mengukir diwajahnya. Perlahan Om Jaka mendekatkan bibirnya ke tengkuk Denaya yang terekspose sempurna.


“Beb, ak-aku …” Denaya tercekat karena tba-tiba merasa ada kenyal-kenyal meyentuh lembut lehernya.


Om Jaka yang sudah berpengalaman mengambil kedua tangan Denaya dan melingkarkan dipinggangnya.


“Beb, aku … pingin pipis.” Lirih Denaya ketika Om Jaka hampir saja mendaratkan bibirnya pada bibir Denaya.


HAH?


Kontan saja Om Jaka kaget.


“Aku pipis dulu ya?” Diana memohon, padahal dia hanya grogi saja. Bagaimana pun juga ini pengalaman pertama baginya.


“Gimana kalo aku aja yang pipis di kamu. Eeh… maksudnya, gimana kalo nanti aja pipisnya.” Om Jaka jadi salah ucap karena saking udah nggak fokusnya.


“Tapi aku udah nggak tahan, Beb.”


“Sama, Han. Aku juga udah nggak tahan.” Om Jaka kembali meraih tengkuk Denaya dengan tangan kanannya.


“Aah, beb, nanti dulu.” Elak Denaya. “Ayo kita ambil wudhu dulu.”


Om Jaka terperanjat seketika.


"Jadi kamu bukan pingin pipis beneran?"


“Aku ingin yang kita lakuakan ini atas niatan ibadah, bukan nafsu. Sempga kita nanti bisa cepat mendapatkan keturunan.”


“Kamu bener, Han. Ayok ….” Om Jaka membimbing Denaya mengambil wudhu.


“Han, jangan tegang begitu dong.” Ucap Om Jaka yang melihat Denaya sepertinya ketakutan.


“Giamna nggak tegang, kamu membuatku merinding, Beb.”


“Hah, memangnya aku hantu? Sudah sini, aku nggak bakaln menyakitimu, kita lakukan pelan-pelan ya, atau perlu aku cari tutorialnya dulu?”


“Ih, apa-apan sih?” Denaya merengut sebel.


Om jaka meraih pinggang ramping Denaya. “Jangan khawatir, aku akan mengajarimu.” Bisik Om jaka yang membuat Denaya semakin tersipu malu.


Cup!


Om Jaka mengecup lembut jemari Denaya dan meletakkannya di dadanya.


“Beb, ini dada apa lapangan bola? Lebar banget?” Tanya Denaya.


“Aduh, Han. Kamu jangan merusak suasana dong, kita udah mau romantis ini.” Sahut Om Jaka.


“Soalnya baru kali ini aku pegang dada laki-laki.”


Om Jaka tersenyum. “Kamu juga boleh kok pegang yang lain.”


Denaya melotot dan langsung mencubit dada Om Jaka telak.


“Aaaaawww!!” Om Jaka menjerit karena saking kencengnya cubitan Denaya. “Aduuuh, sakit banget, Han. Kenapa sih kamu suka sekali mencubit?”


“Habisnya kamu tadi ngomongnya aneh-aneh. Nggak sopan tau!”


Om jaka menarik nafas panjang, kembali mencoba bersabar. Dia sadar wanita yang dihadapinya ini meskipun sudah sangat matang dari usia tapi dia betul-betul wanita yang masih polos.

__ADS_1


“Honey, candaan seperti itu wajar bagi suami istri. Bukannya nggak sopan, hanya bentuk candaan kecil untuk mempererat hubungan sebagai tanda sayang.”


Denaya jadi tak enak sendiri, mendadak dia jadi malu.


“Maaf ya, Beb.” Cicitnya.


“Sudah, sekarang kamu nggak usah pegang apa-apa deh. Biar aku aja yang pegang-pegang kamu.” Goda Om jaka lagi, kali ini Denaya hanya mengulum senyum.


“Tapi hati-hati ya, Beb.”


“Iya.”


“Janji?”


“Janji, Han.”


“Aku kan belum pernah, Beb.”


“Don’t worry, honey. Serahkan pada ahlinya.” Ucap Om Jaka yakin lantas segera meraih kancing piyama Denaya untuk dilepaskan.


“Beb, tunggu.”


“Apa lagi, Honey?”


“Baca Bismillah dulu.”


“Kan tadi kita udah baca doa habis ambil wudhu.”


“Mas sih?” Denaya mengingat-ingat.


“Iya.”


“Ah, Beb. Rasanya aku udah tegang duluan belum apa-apa ini.” Aku Denaya polos.


“Itu bagus, Han. Tananya kamu sudah siap.” Om Jaka sudah membuaka semua kancing piyama Denaya.


“Sebentar Beb.” Denaya tiba-tiba mengatupkan piyamanya padahal Om Jaka sudah sangat lapar karena melihat pemandangan yang hampir sedikit lagi tersaji sempurna itu.


“Kenapa lagi Honey, bunny sweety my lovely baby bala-bala?” Om Jaka tak bisa menahan perasaannya lagi. Gemas betul dia pada istrinya itu.


“Akan lebih baik kalo kita melakukannya langsung di atas tempat tidur dengan mamakai selimut. Aku malu kalo kayak gini.”


“Oke, mari kita lakukan, Honey.” Om Jaka menurut dan masih terus mencoba bersabar.


Selimut tebal bermotif bunga lili nan halus telah direntangkan, tubuh Denaya sudah tenggelam di dalamnya. Om Jaka segera menyusul masuk, tanpa menunggu lama lagi ia menarik selimut itu sehingga menutupi seluruh tubuh keduanya.


“Tolong jangan menginteruspi lagi, Honey.” Ucap Om Jaka langsung menyerang tanpa aba-aba lagi. Denaya meresa sesak karena Om jaka membuatnya susah bernafas. Om Jaka baru melepaskannya ketika tangannya merayap ke bagian bawah dan dengan gesit melepaskan semua pakaian Denaya dan pakaiannya.


Sesi warming up terus berlanjut hingga Denaya merasa sudah tak canggung lagi, semua yang dipunyanya tak ada satu incipun yang ketinggalan dijelajahi oleh suaminya itu. Denaya benar-benar dibuat melambung. Dan dengan kemampuannya yang paling mutakhir dalam menggocek bola, Om Jaka mampu membobol gawang pertahanan Denaya hanya dengan sekali tendangan.


GOAL …..!


Kira-kira begitulah, pertarungan malam pertama mereka. Silakan fantasikan sendiri ya. Othor sampe kehabisan kata-kata. 🤪🤪


__________


Oke, cukup sekian dan terima kasih 🙏🤭


Othor mau nyari kobokan dulu, aus nih 😁😁


Jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya Kak❤️


luv u full🤗🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2