TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
189 #MENJENGUK BAYI


__ADS_3

Mendung bergelayut manja di langit pagi ini, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Tuan Husein melihat wajah sembab istrinya yang masih terlelap, sejak Sofi pergi Nyonya Husein tak hentinya mengis, ia bahkan sudah kehilanga nafsu makan beberapa hari ini. Sarapannya tak disentuh sama sekali. Berbeda dengan Tuan Husein yang sudah pasrah akan nasib sang putri beserta calon cucu yang ada dalam kandungan Sofi. Tuan Husein menyadari tak ada gunanya meratapi semuanya.


“Siapkan mobil.” Perintah Tuan Husein pada sopirnya.


“Apakah Tuan akan mengunjungi perusahaan?” Tanya sang sopir sedikit heran karena Tuannya itu sudah lama sekali tak pernah keluar rumah.


“Kita akan menemui seseorang.”


Sang sopir segera mengerti, ia pun menjalankan perintah Tuannya. Sesaat kemudian Tuan Husein sudah dalam perjalanan menuju kantor Tuan Alatas. Dia masuk dengan wajah tenang, namun sayang receptionist mengatakan bahwa untuk menemuinya, Tuan Husein harus membuat janji terlebih dahulu. Perkataan sang resepsionis itu langsung membuat Tuan Husein membanting tas yang ditentengnya ke atas meja si receptionist.


BRUUK!


“Katakan padanya, besannya ingin bertemu!” Titah Tuan Husein tajam.


Sontak saja si receptionist tadi kaget tak berani membantah, diangkatnya gagang gawai dengan sedikit gemetar untuk menghubungi sekertaris Tuan Alatas. Setelah berbicara sebentar, ia pun mempersilakan.


“Apa kabar, Besan?” Tuan Alatas berdiri dari singgasananya menyambut Tuan Alatas yang masuk diantar sang sekertaris.


“Tidak usah terlalu formal.” Tuan Husein datar saja menerima jabatan dan peluk hangat besannya.


“Lucy, cancel semua jadwalku pagi ini.” Perintah Tuan Alatas pada sang sekratris yang langsung mengangguk keluar ruangan. “Mari, Besan …” Tuan Alatas mengajak Tuan Husein duduk di sofa.


“Aku tak lama, hanya ingin memberikan ini.” Ia membuka tasnya dan memberikan semua dokumen di dalamnya.


“Apa ini?” Tuan Alatas mengernyit.


“Tak usah pura-pura tidak tau, kau bisa membacanya kan?” Tuan Husein menyandarkan punggungnya dan mengatur nafas.


“Aku hanya tak percaya akan mendapatkannya semudah ini.” Tuan Alatas mengulas senyum, senyum meremehkan lebih tepanya. “Lalu apa yang kau harapkan dengan memberikan semua ini padaku?”


“Tidak ada. Aku tidak ingin mengambil yang bukan milikku.”


“Kasihan sekali putrimu, dia sudah bersusah payah mengambilnya dari Ram dan sekarang kau menyerahkannya begitu saja padaku.” Nada suara Tuan Alatas seperti mengejek. “Apa putrimu tau tindakanmu ini?”


“Sudah aku bilang, aku tak mau mengambil apa yang bukan hakku.” Tuan Husein berdiri. “Aku pamit.”


“Tunggu, Besan.” Tuan Alats ikut berdiri. “Mengenai surat perjanjian itu, aku harap aku bisa segera menerimanya.”


“Soal itu aku serahkan sepenuhnya pada putriku.”


“Apa kau tak akan memberinya saran? Yah, kau tahu Ram adalah laki-laki normal yang mungkin butuh seorang pengganti. Dia tak bisa terus menjalani hidupnya dengan orang yang tak bisa membuatnya bahagia. Anakmu juga pasti akan lebih bahagia jika berpisah dengan Ram.”


Tuan Husein menatap tajam mendengar penuturan besannya. “Sudah terlalu banyak kesalahnku pada Sofi, dan aku tak mau ikut campur lagi.”


“Baiklah, kalau begitu aku yang akan bertindak.”


“Itu berarti sama saja secara terang-terangan kau mengakui akan memisahkan Ram dan Sofi?”


“Memang begitu seharusnya kan?” Tuan Alatas menyeringai.


“Kau memang rubah licik! Setelah kau dapatkan yang kau inginkan, kau campakkan putriku. Dulu siapa yang sangat berambisi menjodohkan anak-anak kita? Kau gunakan perjodohan untuk mengambil keuntungan dari perusahaanku, aku menyesal pernah mengenalmu, Alatas!” Tuan Husein segera pergi meninggalkan ruangan. Ia berusaha mengendalikan emosinya tak mau meladeni lagi besannya, lebi tepatnya akan mejadi mantan besan.


_


_


“Papa! Papa dari mana saja?” Sambut Nyonya Husein ketika suaminya pulang dalam keadaan muram. “Apa Papa baik-baik saja?” Nyonya Husen menggandeng lengan suaminya menuju ruang keluarga.


“Kenapa kau mengkhawatirkanku? Bukannya justru kau yang terlihat lebih lemah gara-gara anak kesayanganmu yang tak kujung pulang itu?” Tuan Husein malanjutkan langkahnya ke kamar tak mau singgah terlebih dulu di ruang tengah.


Nyonya Husein terdiam, dalam hatinya membenarkan pekataan sang suami. Ia memang sangat kacau sejak Sofi pergi, ia mengabaikan suaminya yang jelas-jelas kesehatnnya lemah dan sangat butuh perhatian. Segara ia susul suaminya yang sudah menghilang ke dalam kamar utama.


“Pa, maafkan aku. Aku ….”


“Sdahlah, aku paham bagaimana persaan seorang ibu.” Ucap Tuan Husein memotong kalimat istrinya yang belum selesai. “Aku juga minta maaf terlalu sensitif.” Ia mengusap lembut bahu istrinya.


Nyonya Husein tersenyum. “Tapi Papa belum bilang dari mana tadi pergi dengan sopir?”


“Papa menemui Alatas untuk menyerahkan surat-surat penting perusahaan Ram yang Sofi curi.”


“Papa baru saja menemui Alatas?” Kaget Nyonya Husein. “Tapi, tapi … bukankah surat itu ….”


“Papa mengambilnya dari brangkas Azad tanpa sepengetahuannya. Papa mendengar pembicaran kalian saat itu. Papa tak ingin anak-anak kita mengambil sesuatu yang bukan miliknya.” Nada suara Tuan Husein menjadi berat. “Papa bersalah pada Sofia karena telah memaksanya menikah dengan Ram.” Suara Tuan Husein tercekat.


Kedua netra Sepasang suami istri itu mengembun saling menatap lekat. Tak ada lagi yang terucap dari mereka, keduanya melangkah ke sisi ranjang. Nyonya Husein menggenggam erat tangan suaminya untuk menguatkan.


Tik!


Butiran benih tersa hangat jatuh menyentuh punggung tangan Nyonya Husein, ia menatap suaminya penuh kasih. Baru kali ini ia lihat suaminya menitikkan air mata setelah sekian lama entah kapan terakhir kali lelaki yang sudah membina rumah tangga bersamanya selama 30 tahun itu menangis.


“Tak ada seorang anak pun bersalah kecuali kesalahan orang tuanya mengasuhnya.” Lirih Tuan Husein. Hatinya perih akan nasib sang putri yang sebentar lagi akan diceraikan. Keduanya bertangisan dalam diam. Jika saja semuanya bisa diulang kembali, Tuan Husein tentu tidak akan menerima rencana perjodohan Alatas yang menyebabkan semuanya ini terjadi.


Suasana pagi menjelang siang itu bertambah muram. Mendung semakin tebal, angin dingin bertiup menyibakkan hordeng kamar. Perlahan gerimis mulai turu di luar. Alam pun seakan turut dalam kesedihhhan kedua orang tua yang tak berdaya dalam penyesalan itu.


Di tempat yang berbeda, Sofi melangkah malas menuju jendela kamar. Diusapnya perutnya yang membuncit dengan pandangan kosong ke luar jendela. Rinai hujan membasahi ranting Akasia yang tumbuh di halaman samping hotel melati tempatnya menginap. Sesekali ia mendesah seolah membuang penat dalam pikirannya.


NGOOOK … NGOOOK …..


Ponselnya berbunyi di atas bantal, Sofi menoleh sdikit kaget pasalnya dari semalam ia lupa menon aktifkan kembali hpnya.


“Azad?” Gumam Sofi.


Antara kegalauannya untuk menerima atau menolak penggilan Azad, jarinya menyentuh layar ponselnya yang otomatis membuat panggilan tersebut.


“Kakak?” Panggil Azad membuat Sofi menempelkan benda pipik itu pada telinga kanannya. “Kak baik-baik saja Kan? Kakak sekarang dimana? Kenapa ponselmu baru aktif?” Azad bertanya dengan tak sabaran.


“Kamu tak perlu khawatir.” Ucap Sofi lemah.


“Kak, sekarang ada dimana? Aku akan minta orang untuk melacak keberadaanmu kalau kau nggak mau bilang.” Azad gusar diseberang.


“Aku mau sendiri, Zad. Tolong jangan ganggu aku.”


“Tunggu, Kak!” Azad takut Sofi memutuskan sambungannya. “Berjanjilah Kakak tidak akan berbuat nekad.” Pinta Azad serius.

__ADS_1


“Kau tak perlu khawatir.” Sahut Sofi.


“Hubungi aku kalau ada apa-apa, Kak. Papa dan Mama ….”


Nut … nut … nut .. nut ….


Sambungan terputus membuat Azad di seberang hanya bisa mendesah. Sofi sempat mengerimkan foto-foto Ramzi bersama Jane pada azad sebelum kembali mematikan ponselnya.


“Jane, kau betul-betul tak bisa dipercaya.” Geram Azad setelah melihat semua foto yang dikirimkan Sofi.


❤️❤️❤️❤️❤️


Hari ini cerah tak seperti kemarin, Via mengisi paginya dengan menyibukkan diri bersama tanaman sayuran yang sudah beberapa lama tak dijamahnya. Cukup banyak cabai, tomat, kembang kol dan broloki ia panen dari kebun kecil di samping rumah. Setelah selesai memanen, Via pun membersihkan rumput-rumput liar disekitar polybag tanaman sayurnya. Terdengar senandung riang dari bibir indahnya. Tak jelas dia nyanyi lagu apa, tapi sepertinya Via sendiri cukup menikmati senandung yang nggak jelasnya itu.


kini dia bergeser ke kebun belakang rumah. Tanaman cabai setan, cabai dhemit dan cabai gondorowo pun nampak sudah banyak yang menguning disana. Via hanya membiarkannya saja tak memetiknya karena sudah cukup banyak cabai yang didapat. Sekawana burung pipit hinggap di pohon mangga milik tetangga yang dahannya menerobos masuk ke pekarangan belakang rumah kontrakan Via. Mereka berkicau riang berlompatan menambah cerah suasana pagi.


“Sayang, masih lama nggak selesainya?” Suara Mirza dari ambang pintu belakang membuat Via menoleh.


“Kenapa emangnya, Mas?” Via malah balik nanya heran.


“Kita kan mau nengokin bayinya Denaya. Kamu lupa ya?”


“Ya ampun!” Via menepok jidatnya. “Iya beneran aku lupa, Mas. Ya udah aku siap-siap sebentar ya.” Via melangkah masuk dan menaroh wadah sayurannya begitu saja.


Mirza segera mengambil dan memasukkan sayuran itu ke dalam kulkas setelah mengunci pintu beakang.


“Ayok, Mas!” Tak berapa lama Via keluar kamar. “Kita mampir ke baby shop dulu tapi ya?”


Cup!



“As you wish, Madam.” Sahut Mirza setelah mencuri kecupan kecil di pipi mulus istrinya.


Mereka kini sudah dalam mobil yang melaju pelan meninggalkan rumah, hal itu tentu tak lepas dari pantauan sang paparazzi amatir, siapalagi kalo bukan Bujel.


“Hem, kayaknya mereka mau week end-an tuh.” Senyum Bujel marang miring sembari mengetik pesan melapor pada sang Nyonya.


Mirza dan Via sudah lepas dari batas kota, mobil mereka melaju membelah jalan kampung namun mulus tanpa lubang itu. Agaknya pembangunan infrastruktur disana berjalan dengan baik. Bukan hanya itu saluran irigasi pun lancar dan bersih membuat sawah-sawah teraliri air dengan merata. Pemandangan hijau di kiri kanan jalan sungguh menyejukkan mata. Musim tanam padi baru saja usai, dan para petani akan menunggu dengan sabar selama 3 sampai 4 bulan untuk memanen sawah mereka.


“Sayang, kamu kok ngelmaun?” Tegur Mirza yang pada Via termenung melihat ke sisi jendela.


“ah, nggak Mas. Cuman kangen aja pingin hidup di desa lagi. Adem, sejuk dan nyaman.”


“Apa kamu mau kita pindah ke kampung lagi, Sayang?”


“Nggak kok, aku kan sekarang kerja Mas. Repot kalo harus bolak balik kota.”


“Tenang aja, kan ada suamimu ini yang akan siaga antar jemput setiap hari.” Mirza tersenyum memainkan alisnya.


“Hem, Mas tuh kayak nggak ada kerjaan lain aja!” Cebik Via.


“Emang nggak ada. Aku kan pengangguran, hehe….” MIrza nyengir kuda. “Atau gimana kalo kamu resign terus kita pindah rumah ke dekat emapng? Kita kelola empang aja, disana juga kampungnya nyaman kok. Aku yakin kamu pasti betah, Sayang.”


“Yah, padahal Mas mau ajak kamu liat empang Sayang. Pas banget kalo kita kesana, minggu depan waktunya panen ikan bandeng.”


“Ya gimana dong, aku nggak bisa ikut?” Via nampak kecewa.


“Nggak usah sedih, Sayang. Mas akan suruh semua ikan bandeng disana nungguin kamu kok, panennya diundur aja minggu depannya lagi.”


“Eh, mana bisa? Mas bisa kena marah Pak Haji Barkah lho. Kan empang-empang itu belum resmi jadi milik Mas?”


“Pasti bisa lah. Apa sih yang nggak buat kamu.” Miirza menjawil dagu Via dengan senyum menggoda.


Kewuan mereka behenti seiring mobil yang dikemudiakn Mirza memasuki halaman rumah Haji Barkah yang luasnya mungkin hampir sama dengan lapangan upacara bendera. (luasnya segimana yak?) pokoknya luas banget deh kalo dibandingin sama lapangan catur sih. Apalagi dibandingin sama lapangan halma atau ular tangga, jauh lebih luas ribuan kali lipat.🙄🙄


“Hai, Via, Mirza? Masuk, masuk …” Belum sempat Via dan MIrza menapakkan kaki ke teras rumah, Denaya sudah menyapa mereka. “Bebeb! Keponakan tersayang kamu datang nih ….!” Panggil Denaya pada suaminya.


“Maaf ya, Dena. Kami baru sempat nengok kamu.” Ucap Via setelah bercipika cipiki dengan Denaya sementara MIrza yang kerepotan membawa aneka barang-barang perlengkapan bayi hanya tersneyum menanggapi.


“Nggak papa, Vi. Kan kamu sendiri juga harus banyak istirahat.” Denaya menggandeng Via masuk.


“Eh, Dena ini aku nggak ada yang bantuin apa? Si Om Jaka kemana sih?” Tanya Mirza yang menenteng semua barang barang bawaannya di kiri kanan tanagnnya bergerantulan.


“Oh, iya. Maaf ya, Za. Aduh, si Bebeb kemana sih? Dipanggilin dari tadi juga. Bebeb…..!” Denaya sekali lagi berseru memanggil suami tercintanya.


“Iya, Han …. Iya….!” Om Jaka datang dengan popok bayi ditangannya. “Kenapa mai hani bani switi?”


“Itu bantuin MIrza bawain barang-barangnya dong.” Sungut Denaya.


“Itu semua buat anak gue kan?” Tanya Om Jaka pada Mirza.


“Bukan! Buat anak tetangga!” Mirza keki. “Ya iya lah ini buat anak Om. ngapain juga aku pake repot-repot bawa perlengkapan bayi segini banyaknya kalo bukan buat anaknya Om Jaka!” Omel Mirrza kesal.


“Ya udah lu taroh aja dimana kek! Ntar juga gue angkut!”


“Taroh aja diamna? Di dapur?”


“Diman lah terserah elu! Di pojokan kek apa dimana suka suka elua ja pokonya!”


“Pojokan mana? Pojokan pos ronda?”


“Pojokan rumah Bu Endang!”


“Haish, jauhnya?”


Om Jaka ngeloyor cuek nggak mau ngeladenin lagi si keponakan yang ngeyelan itu. Denaya dan Via yang sudah terbiasa dengan keributan yang diciptakan suami-suami mereka lebih memilih diam duduk manis di sofa ruang tamu. Mirza yang keki dicuekin segera mengekor langkah Omnya menuju kamar setelah meletakkan begitu saja barang-arang yang dibawanya.


“Eh, elu mau ngapain ikutan amsuk-masuk kamar gue?” Kaget Om Jaka yang mendapati MIrza sudah berdiri di belakangnya.


“Cuman mau liat bayinya aja kok.” Mirza melongok pada bayi mungil yang sedang terlelap itu. “Om, kok bayinya tidur aja sih? Suruh bangun dong, bilangin ada kakak sepupunya yang ganteng datang mnjenguk.”


“Berisik lu! Dia baru aja tidur abis pup, ini baru gue mau pakein popok.” Sahut Om Jaka agak berbisik.

__ADS_1


“Jiah, Om sekarang nyambi jadi baby sitter?” Mirza nyaris tergelak kemudian menutup mulutnya sendiri ketika si bayi mungil itu nampak menggerakkan kepalanya mungkin karena kaget.


“Eh, songong! Elu juga ntar bakalan ngerasain kalo udah jadi bapak!” Sahut Om Jaka kesal.


Oek… oek… oek …. Si bayi mungil menangis.


“Hayo lo Om, bayinya nagis kan?”


“Elu sih, berisik mulu!”


“Kenapa sayang? Anak mama yang cantik kanapa nangis?” Denaya masuk kamar begitu mendengar tangisan bayi mungilnya.


“Mirza tuh Han gangguin aja!” Om Jaka mengadu.


Denaya segera mengangkat bayinya ke dalam gendongan. “Beb, ini dari tadi popoknya belum dipakein?” Tanya Denaya yang maraba bagian bawah putri mungilnya tak memakai popok.


“Belum Han, baru aja tadi mau ….”


“Haish, dasar lelet bener. Cuman pakein popok aja dari tadi belum juga!” Gerutu Denaya.


“Elu sih Za, ganguin mulu. Gue diomelin kan sama bini gue.”


“Kok aku sih, Om? Tadi kan aku cuman nanya kenapa bayinya tidur mulu?”


“Hem, Mas Mirza sama Om Jaka kayaknya lanjut berantemnya di luar aja deh. Kasihan dede bayinya tuh.” Via yang sedari tadi hanay berdiri memberi saran.


“ya, bener. Sana gih!” Usir Denaya mendorong suaminya perlahan.


Om Jaka garuk-garuk kepala melangkah keluar kamar diikuti MIrza. Bayi dalam gendongan Deanya kini sudah terlelap kembali.


“Dena, aku boleh nggak gendong?” Tanya Via dengan raut penuh kebahagiaan memandang malaikat kecil dalam buaian Denaya.


Boleh dong.”


“Oke, aku cuci tangan dulu ya.” Via segera menuju watafel memberishkan tangannya. “Masya Allah, cantik sekali putri mama Dena ini ya.” Ucap Via takjub keika bayi mungil itu sudah ada dalam gendongannya berbalut selimut lembut bermotif hello kity.


“Sebentar lagi kamu juga akan merasakan kebahagiaan menimang buah hati, Vi.” Sahut DEnaya dengan tulus.


“Aamiin. Semoga aku juga lancar ya persalinannya kelak.” Via mengelus pipi lembut bayi mungil itu kemudian larut dalam kebahagiaannya.


Sementara itu Om Jaka dan Mirza nampak sudah duduk di gazebo belakan sambil menikmati kopi hitam mereka yang baru saja disajikan Bi Sum.


“Jadi elu abis ini mau mampir ke tempat emak elu nih?” Tanya Om Jaka.


“Rencananya sih gitu Om. Aku mau ngasih tau acara syukuran 4 bulannya kandungan Via sama ibu.” Mirza mencubit cangkirnya kemudian menyesap kopinya perlahan.


“Saran gue sih Via kagak usah ikut kesana.”


“Kenapa emangnya? Justru Via sendiri yang mau ketemu ibu.”


“Kagak usah. Elu nurut deh apa kata gue.” Gantian kini Om Jaka yang menyesap kopinya dengan gaya merem melek persis iklan kopi kapal selam di tipi-tipi itu.


“Iya, tapi kenapa Om? Via bilang kalo cuman diomelin sih dia udah kebal, udah biasa. Dia mau jenguk ibu sekalian katanya.”


Om jaka mengehal nafas panjang. Lalu mulailah ia bercerita tentang kejadian di acara syukuran kelahiran anaknya beberapa hari yang lalu dimana Bu Een membuat huru hara yang berakhir mempermalukan dirinya sendiri itu.


“Heh…, Ibu memang selalu begitu.” Dengus Mirza. “Atau apa aku nggak usah ngabarin ibu aja seklaian ya Om? Daripada dinyinyirin nanti?”


“Saran gue sih, elu tetep kasih tau aja emak elu itu. datang apa kagak sih ya terserah dia. Soal nyinyir kan emang udah watak dia dari dulu. Gue aja heran dulu enyak gue ngidam apa ya sampe punya anak yang tabiatnya selalu bikin orang ngelus dada kayak gitu?”


“Ngidam petasan renceng kali Om.”


“Wah, parah lu! Dosa tau ngatain emak sendiri kayak gitu!” Om jaka geleng-geleng kepala.


“Ye, kan Om jaka yang mulai? Aku cman nimpalin!”


“Tapi kagak pake nagatain juga kali!”


“Halah, kayak Om Jak nggak pernah aja!”


Keributan diatara mereka hampir saja tak terelakan lagi jika Bi Sum nggak segera datang dengan tergopoh-gopoh.


“Ada apa, Bi?” Tanya Om Jaka penasaran.


“Anu …itu, Mas. Di luar ada tamu.” Sahut BI Sum agak gelagapan.


“Tamu siapa?”


“Walah, saya nggak kenal Mas. yang jelas dia nyari Mas Jaka, katanya penting banget.”


“Siapa sih?” Om Jaka bangkit dengan rasa heran, Mirza segera mengekor dibelakang Omnya menuju ruang depan.


Om Jaka sedikit kaget mendapati tamunya tengah berdiri menunggunya.


“Elu?”


❤️❤️❤️❤️❤️


Eaaa, siapakah tamunya Om Jaka?


a. Pak RT


b. Pak RW


c. Pak lurah


d. Kang delivery popok bayi


Terima kasih sudah membaca ya Kak. Mohon maaf jika banyak typo dan kesalahan.🙏🙏🙏🙏🙏


Jangan lupa selalu kasih jempol dan komen😍😍😍😍😍


I love you pokokmen!🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2