
Seorang pelayan perempuan baru saja menyajikan dua gelas minuman hangat, ia segera membungkuk sopan untuk pergi setelah mempersilakan kedua tamunya menikmati minuman yang dibawanya.
Via mengusap lembut wajah Nala yang pulas dalam buaian, semetara Jumilah sedari tadi sibuk dengan rasa takjubnya yang tak habis-habis semenjak menginjakkan kaki di istana megah Tuan Alatas.
“Mbak, coba cubit pipi Njum,” ujarnya dengan pandangan mengitari ruang tamu luas tempatnya berada kini.
“Apaan sih, Jum?” Via tak menanggapi.
“Cepetan cubit pipi Njum, Mbak!” setengah memaksa seraya memasang tampangnya di depan Via.
Tanpa pikir panjang akhirnya Via mendaratkan cubitan maut pada pipi kanan Jumilah.
“Aaawh!” Jumilah memekik tertahan.
“Jum, berisik tau!” Via kesal dibuatnya.
“Beneran sakit, Mbak. Berarti Njum nggak lagi mimpi ini,” mengusap pipinya yang memerah. “Ini sih istana bukan rumah. Ruang tamunya aja luas banget, persis kayak lapangan sepak bola di kampung kita, Mbak,” berdecak kagum berdiri melihat kesana kemari sambil tak henti-henti menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“Jum, duduk. Jangan norak, ih!” Via kesal juga dengan tingkah polah si Jumilah lama-lama.
“Njum nggak kebayang, berapa jumlah pembantunya yang kerja bersih-bersih di tempat sebesar ini ya?”
Ditengah keasyikan Jumilah, langkah tegap Gerald mendekat untuk menyapa kedua tamu sang Tuan.
“Selamat sore,” sapa Gerald.
Kontan saja Jumilah melongo melihat sosok Gerald yang berdiri tepat di depannya. Laki-laki tinggi tegap berwajah sangar itu seperti membuat Jumilah terhipnotis.
“Sore,” balas Via tersenyum.
“Anda pasti Nona Via,” melihat pada Via, sementara Jumilah yang tampak terpaku diacuhkan saja oleh Gerald. “Tuan Besar memerintahkan saya mengantar Anda ke kamar tamu untuk beristirahat,” lanjut Gerald sopan.
“Abang, siapa namanya Bang? Cakep banget ….” Jumilah tak berkedip menatap wajah Gerald.
"Brewoknya bikin Njun grmes deh!"
Via menyikut lengan Jumilah pelan, “maaf, apa Mas Mirza –“
“Mirza masih bersama Tuan Besar, segera ia akan menemui Nona kalau sudah selesai,” sahut Gerald. “Mari ikut saya.”
Berjalan di depan Via dan Jumilah, Gerald mengantar sampai pintu kamar tamu. “Silakan, Nona,” membukakan pintu kamar. “Jika perlu sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi pelayan,” memberitahu dengan tangannya pesawat telepon di atas meja samping pintu.
“Terima kasih,” ucap Via dengan senyuman.
“Saya permisi kalau begitu, selamat beristirahat,” Gerald sedikit membungkkan badannya.
“Eh, Abang mau kemana? Nggak ikut masuk Bang?” celetuk Jumilah yang langsung mendapatkan kode tajam dengan kedua mata Via.
Jumilah cuman nyengir, memperhatikan kepergian Gerald sampai menghilang di ujung lorong ruangan menuruni tangga.
“Jum, jangan berisik lagi ya! Nala lagi tidur!” Via megultimatum sebelum Jumilah kembali lebay dengan aneka rasa kekagumannya.
Jumilah hanya memonyongkan bibirnya beberapa centi walau hatinya ingin kembali histeris dengan segala kemewahan interior kamar tamu tempatnya bermalam.
Apalah daya, Jumilah hanya mampu terpukau dalam hati. Jumilah lantas senyum-senyum sendiri sambil mengamati satu persatu isi kamar, ia rupanya tengah berkhayal seandainya kelak berbilan madu di kamar yang sebahus ini. Duh, dasar si Njum!
Di waktu yang sama, di ruangan pribadi Tuan Alatas.
__ADS_1
“Kamu berhutang banyak penjelasan padaku,” ucap Tuan Alatas dengan raut sedingin es balok.
Susah payah Mirza menelan salivanya, ia tahu sang Tuan Besar akan menuntut penjelasan dari fakta-kakta yang baru saja didapatkannya.
“Tuan, saya tidak bermaksud menyembunyikannya dari Anda.” Tutur Mirza pelan. “Saya hanya tidak ingin Anda mengetahui semuanya di waktu yang tidak tepat.”
“Aku tudak butuh alasan,” wajah sangar itu semakin terlihat angker dengan sorot matanya yang mengerikan.
Untuk beberapa saat Mirza berpikir dari mana ia harus mulai menceritakannya hingga membuat sang Tuan Besar tak sabaran.
“Kau tahu, jika aku mau bisa saja aku tak mengijinkanmu untuk tak bertemu dengan keluargamu,” menggeram tertahan, tangan kanannya mengepal menahan geram.
Mengangguk samar, “saya paham, Tuan.” Menarik napas untuk mengisi rongga dadanya yang terasa menyempit sebelum memualai uraian panjangnya.
Dari setiap waktu bergulir, tak sedetik pun yang luput dari pendengaran Tuan Alatas. Mirza menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Mulai dari kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan sang bunda, hingga pertemuannya dengan Sofi yang mengakibatkan hancurnya kepercayaan Via pada dirinya, dan terakhir tentang pelarian Sofi yang kemudian berhasil ditemukan oleh Azad, Ramzi, Jane, Rumi dan Hanson.
Mirza tertunduk diakhir kalimatnya, ia sempat mencuri pandang pada Tuan Alatas yang membisu dengan ekspresi tak terbaca. Pasrah akan konskuensi yang akan ia terima nanti dari sang Tuan Besar.
“Kau boleh keluar,” kalimat itu justru yang keluar dari mulut Tuan Alatas.
Sedikit mengangkat wajahnya, “Tuan …”
“Panggilkan Gerald,” sambung sang Tuan besar memalingkan pandangannya.
Mirza paham saat ini ia sedang tak diinginkan, Tuan Alatas pasti sangat kecewa padanya. Mirza keluar ruangan dengan langkah lunglai, segera setelah ia menemui Gerald, Mirza pun gegas menuju kamar tamu tempat anak dan istrinya berada sekarang.
Mematung beberapa saat di depan pintu kamar tamu, ia teringat pertemuannya dengan Via di resepsi penikahan Azad sore tadi. Betapa ia ingin menumpahkan segenap kerinduannya dengan sebuah pelukan erat dan menghujani wajah cantik sang istri dengan ciuman yang bertubi-tubi, namun apalah daya titah sang Tuan Besar memupus semuanya.
“Kita pulang sekarang, sopir akan menjemput istrimu nanti,” Tuan Besar tak ingin dibantah.
Kedua pasang mata hanya mampu saling memandang dengan tangan saling meremas sebagai isyarat kerinduan yang mendalam. Air mata Via sudah hampir luruh ketika sang Tuan Besar kembali mengultimatum.
“Pulang sekarang atau aku akan memecatmu!”
Menghempaskan napas kasar, menghimpun segenap kekuatan yang ada dalam diri, ia telah sangat siap untuk menyambut wanita yang sangat dicintainya.
Belum sempat ia mengetuk, pintu kamar sudah dibuka lebih dulu.
“Mas Mirza?” satu suara bernada surprise dengan tatapan membelalak tak percaya.
“Via dimana, Jum?” bertanya ternyata Jumilah yang membuka pintu menyambutnya.
“Ada, Mas,” menoleh ke dalam, “Mbak, Mbak Via …!”
“Jum! Kenapa sih kamu teriak-teriak terus kerjaannya?” Via keluar dari kamar mandi dengan kimononya dan rambut yang digulung handuk. Namun raut jengkelnya berubah seketika manakala melihat sosok yang berada di ambang pintu.
“Masuk Mas,” Jumilah memberi jalan.
Seperti dikomando, kedua kekasih halal yang lama terpisahkan itu saling mendekat dengan langkah perlahan.
“Mas, aku –“ Via sedikit gugup, langkahnya terhenti tepat di depan Mirza. “Aku –baru selesai mandi.”
Tersenyum, “iya, Mas tau, Sayang.” Menyentuh dagu Via lembut. Wajah mereka saling berhadapan lebih dekat.
Masih jelas guratan-guratan cinta kasih diantara raut keduanya, netra mareka saling menyelami rasa, degupan jantung sudah tak seirama.
“Ehkem!” deheman Jumilah sontak merusak momen yang baru saja tercipta antara Via dan Mirza. “Maaf, Njum permisi mau keluar dulu ya Mas, Mbak?” Jumilah nyengir karena membuat konsentrasi kemesraan keduanya terjeda. “Silakan dilanjutkan, Njum mau liat-liat pemandangan dulu hehe …” segera berlalu dan menutup pintu.
Tanpa babibu, MIrza langsung menarik tubuh Via ke dalam pelukannya. Tumpah segala rasa yang sedari sore tadi ditahannya.
“Sayang, maafkan Mas,” lirih di telinga kanan Via.
Hanya menyahut dengan membalas pelukan kian erat, bibir Via tak mampu berucap.
__ADS_1
“Maafkan Mas, Sayang … Mas bukan suami yang baik, Mas pengecut sebagai seorang laki-laki,” buliran penyesalan mengalir deras dari kedua sudut matanya, Via masih terdiam tanpa kata hingga Mirza melerai pelukannya dan menatap bening kedua netra yang juga sudah basah sedari tadi itu.
Mengusap lembut pipi sang istri, “Mas tahu, kata maaf saja tidak cukup untuk mengembalikan semua cinta dan kepercayaan kamu, Sayang. Sebagai seorang suami, Mas terlalu sering berbuat salah dan mengecewakanmu. Mas sbetul-betul menyesal, Mas memang tidak pantas lagi disebut suami bahkan ayah yang baik –“
“Mas,” menangkup wajah terkasih dengan kedua talapak tangannya, “sampai kapan pun kamu tetep akan jadi laki-laki terbaik buat kami. Buat aku, dan buat anak kita, Nala.” Melihat pada Nala yang masih pulas di atas kasur lebar nan empuk.
Perlahan Mirza mendekat ke tepi tempat tidur, ia pandangi wajah cantik bidadari kecilnya. Buliran bening kembali mengahangatkan pipi, rasa penyesalan itu semakin membuncah. Betapa ia sudah melewatkan momen-momen penting dan berharga dalam tumbuh kembang sang buah hati. Putri kecilnya itu kini tumbuh semakin cantik dan gemuk, beberapa bulan berlalu cepat sekali perubahan dalam dir baby Nala.
“Anak ayah sayang …” membelai lembut pipi chubby Nala, perlahan Mirza mendekatkan wajahnya lantas mendaratkan ciuman di kening Nala.
Haru menyelimuti hati Via, pemandangan ini sudah lama tak dilihatnya. Nala kecil memang belum mengerti akan arti hadirnya seorang ayah, namun menyaksikan buah hati bertumbuh tanpa didampingi sang ayah tentu akan menyakitkan, sebab itu Via mengucap syukur tek henti-henti karena Tuhan telah mempertemukan mereka kembali.
“Sayang, lihatlah. Putri kita sudah bertambah besar dan makin cantik,” Mirza bangkit perlahan kembali menghampiri Via.
Via hanya mengangguk samar dengan seutas senyuman, kedua netranya kembali mengembun.
“Katakan apapun yang kamu mau agar suamimu ini bisa menebus rasa bersalahnya pada kalian,” mengambil kedua tangan Via dan meremasnya erat. “Apapun yang kamu pinta Sayang, asal kamu sudi menerima kembali laki-laki pengecut ini.”
“Mas, jangan katakan itu lagi,” menatap redup. Via tahu Mirza pun sama terlukanya seperti dirinya.
“Aku pergi meninggalkan kalian tanpa sepatah kata pun, apa namanya kalau bukan seorang pengecut?”
Menggeleng tegas, “aku tahu kamu melakukannya karena kamu tidak mampu menyakiti aku dan Nala, Mas. Aku tahu besarnya cintamu pada kami, aku pun tahu besarnya sayangmu pada ibu, Mas. Kerana itu kamu tak mampu memilih, dan kamu pergi meninggalkan kami semua.”
Tertohok, betapa luasnya hati sang istri. Mirza tau ia pantas mendapatkan hukuman apapun, bahkan makian, cacian dan kata-kata kasar dari Via yang sudah sekian lama ia abaikan begitu saja. Namun kenyataannya Via justru melihat sumber masalahnya dari sudut pandang berbeda. Dengan kelembutan hati dan kebijakannya berpikir, Mirza tau tak ada seorang pun yang mampu memahami dirinya seperti Via.
“Sayang, terima kasih untuk semuanya,” mengecup erat kening Via dengan kedua mata terpejam penuh sesal yang menyesakkan, “kita mulai lagi semuanya dari awal. Kamu, aku dan Nala, kita akan bahagia hidup bertiga,” merengkuh kembali tubuh Via ke dalam dekapan.
Sesaat Via terbuai, betapa bahagianya angan-angan kehidupan yang mereka rencanakan itu. namun sesaat kemudian, Via melerai pelukan perlahan.
“Mas –“ menatap manik sang suami dalam.
“Ya, Sayang.”
“Aku mau bicara sesuatu,” memulai dengan hati-hati.
“Apa itu?” menatap penasaran. “Oh, Mas tau. Kamu pasti ingin menghabiskan malam berdua dengan Mas ya?” goda Mirza usil.
“Bukan,” menggelang.
“Nggak usah malu, Sayang. Mas sadar, sekian purnama Mas nggak ngasih nafkah batin sama kamu –“
“Mas, bukan itu!” potong Via karena pikiran Mirza mulai omes.
“Terus?”
“Ini soal ibu,” menatap lebih lekat.
“Kenapa dengan ibu?”
Meski tak sampai hati Via mengatakannya, tapi Mirza harus mengetahui semua kenyataan tentang ibunya. Lantas mengalirlah cerita memilukan tentang sang ibu mertua.
Perlahan terduduk di tepi ranjang ketika mendengar penuturan kalimat demi kalimat Via tentang keadaan Bu Een. Tragedi yang merenggut semua harta benda Bu Een sampai kondisi Bu Een yang memprihatinkan saat ini di rumah rehabilitasi mental membuat Mirza sangat terpukul.
💕💕💕💕💕
Ekhem! Ada yang seneng nggak nih Mirza baikan sama Via??
Atau malah kezeell?? 😂😂😂
Makasih banyak ya buat readers kesayangan 🥰🥰othor baca semua komen kalian kok, meski belum sempat balas tapi jujur itu sangat memotivasi othor buat lanjutin novel abal-abal ini 🙏🙏🙏
I love you all, dear 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1