
Setelah mengunjungi kediaman Bu Harni kemarin, Bu Elin sangat bersemangat mempersiapkan acara ulah tahun perusahaan yang sekaligus dengan acara tunangan Danar dan Riri, padahal Pak Rian sudah menyarankan agar rencana pertunangan itu diadakan terpisah saja karena mereka belum mendengar langsung kesiapan dari Danar sendiri. Tapi Bu Elin kekeh, ia bahkan sengaja mengundang sekertarisnya dan asisiten pribadi suaminya ke rumah di hari libur begini untuk membantu membuat konsep acara tersebut.
“Semuanya sudah beres, Bu. Saya sudah mengirikan e mail ke event organizernya tentang rancangan konsep yang ibu inginkan.” Ucap Vincent sang asisten pribadi Pak Rian.
“Bagus, apa nggak ada yang terlewat?”
“Semuanya sesuai dengan keinginan Ibu.” Sahut sekertaris Bu Elin.
“Syukurlah, kalau ada apa-apa tolong kalian yang urus ya. Saya akan sangat sibuk beberapa hari ke depan.”
“Baik, Bu.” Jawab mereka serempak.
Setelah dirasa cukup mereka
pun pamit. Bu Elin tersenyum puas karena rencananya sebentar lagi akan terwujud.
“Ibu terlalu cepat mengambil langkah, kita belum ketemu Danar lho.” Pak Rian melirik istrinya yang bersandar santai di sofa karena punggungnya terasa pegal.
“Ayah tenang aja, Danar pasti setuju kok dengan Ibu. Anak itu nggak akan membantah.” Bu Elin yakin sekali.
“Tapi kan masih beberapa minggu lagi acaranya, Bu. Masih banyak waktu untuk membicarakannya dengan Danar, siapa tau dia punya konsep sendiri.”
“Dia nggak akan kepikiran soal itu, Yah. Buktinya sekarang aja Ibu suruh dia datang kesini malah pergi ke kedai.”
“Kalau begitu tunggu pas hari kerja, Ibu kan bisa bicarakan dengan dia di kantor?”
“Iya nanti ibu bicara sama dia.”
Pada saat yang sama di tempat berbeda, Riri nampak gelisah di kamarnya. Niatnya ingin tidur siang karena hari ini dia libur kerja malah menjadi gundah gulana tak karuan. Berapa kali Riri mengubah posisi tidurnya mencari posisi ternyaman, namun karena pikirannya tak karuan membuatnya urung tidur siang. Riri bangkit memeluk gulingnya. Kilasan peristiwa yang dialaminya dengan Danar berkelebat silih berganti dalam benaknya.
“Hhhhh…., Mas Danar emang baik banget orangnya. Tapi kenapa hatiku ragu begini?” Desah Riri membuang pandangannya ke luar jendela.
Laki-laki seperti Danar tentulah banyak yang suka, tak terkecuali dengan Riri. Ia tak menampik perasaannya sendiri, ia memang menyukai Danar, namun perasaan itu mungkin lebih condong ke rasa kagum bukan menjurus ke arah cinta. Riri ingat pertemuan pertamanya dengan Danar ketika motornya mogok sepulang dari tempat kursus. Kala itu dia mengira Danar penjahat yang mau begal motornya, ternyata Danar justru bantuin benerin motor Riri. Lalu pertemuan-pertemuan selanjutnya, saat mereka makan bakso, saat mereka selalu bertemu dalam beberapa kesempatan secara tak sengaja. Namun ia tak pernah bertemu sendirian, selalu ada Via kakaknya ketika bertemu dengan Danar, meski kakaknya itu kayaknya selalu jutek sama Danar tapi nyatanya Danar selalu bersikap baik. Terlebih lagi Danar tanpa pamrih nolongin Via waktu malam-malam harus dibawa ke klinik.
Sekali lagi Riri mendesah dalam kebimbangan. Betapa banyak jasa Danar untuk keluarganya. Danar juga yang mendukungnya untuk maju merintis bisnis kue bersama Bu Elin. Beberapa waktu belakangan ini ia dan Danar semakin intens bertemu, Danar selalu ada saat ia butuhkan. Danar bahkan lebih sigap melebihi panggilan darurat 911.
Ah ya ampun …. Kenapa hatiku jadi begini, Mas …
Kriiet ….
Pintu kamar Riri terbuka perlahan, wajah Bu Harni muncul kemudian.
“Ri, kamu lagi ngapain?” Tegur Bu Harni seraya masuk duduk di bibir ranjang mendekati putri bungsunya itu.
“Nggak lagi ngapa-ngapain, Bu.” Riri menggeser sediki posisi duduknya.
“Kamu kepikiran soal tunangan itu ya?”
Riri mengangguk tanpa berani melihat wajah ibunya.
“Apa kamu mencintai Danar?” Tanya Bu Harni yang sontak membuat Riri terkejut, tapi langsung berusaha menutupinya.
“Nggak…., nggak tau Bu.”
“Mungkin seharusnya kemarin kita nggak menyetujui rencana Bu Elin.” Lirih Bu Harni.
“Apa ibu nggak setuju kalo aku tunangan sama Mas Danar?” Riri balik nanya.
“Ibu nggak ingin jadi penghalang kebahagiaan kamu, Ri.”
“Aku tau kok kalo ibu juga sebenernya ragu sama kayak aku.” Ujar Riri kali ini menatap wajah perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu. “Apa keraguan ibu itu karena Papanya Mas Danar?”
__ADS_1
Bu Harni mengulas senyum tipis. “Ibu dan Pak Hadi sudah bicara banyak waktu itu, kami sepakat akan memberikan restu jika kalian memang ditakdirkan berjodoh.” Bu hari menutupi keraguan yang masih menyelimuti hatinya.
“Syukurlah, aku pikir ibu nggak akan setuju.” Riri lega.
“Ibu setuju, tapi kenapa kamu sendiri kelihatan ragu begitu?”
Riri mengalihkan pandangannya menekuri ubin lantai, tangannya memainkan tali bantal guling, Bu harni tau anak bungsunya itu tengah didera kebimbangan. Riri baru 20 tahun kini, usia yang masih teralu muda untuk menikah bagi kabanyakan orang, Bu harni pun mengerti, mungkin diusianya itu Riri merasa masih labil, sedangakan Danar sendiri sangat matang dan siap untuk berumah tangga, usia Danar 32 tahun sekarang, terpaut usia yang cukup jauh agaknya menjadikan Riri semakin meragu.
“Aku belum yakin dengan perasaanku sendiri, Bu.” Ucap Riri kemudian.
Bu Harni mengusap lembut punggung Riri. “Minta petunjuk sama Tuhan, semoga keputusanmu nanti tepat. Masi belum terlambat jika kamu berubah pikiran." Ucap Bu Harni mentap Riri penuh arti.
Riri hanya mengangguk. Bu Harni kemudian keluar kamar meninggakan Riri yang kembali dengan kebimbangannya sendiri. Pikirannya kini tertuju pada Danar.
Apa mas Danar juga setuju dengan rencana pertunangan ini? Kenapa dia nggak nanyain aku ya? Atau jangan-jangan dia belum tau? Tapi nggak mungkin Bu Elin berani meminta kesediaan aku dan Ibu kalo Mas Danar sendiri belum tau. Apa mas Danar menyukaiku? Dia memang sosok laki-laki yang nyaris sempurna, dia nggak pernah ngecewain aku. Tapi kenapa dia sama sekali nggak pernah menyatakan perasaannya sama aku ya? Apa semua kabaikannya itu ia tunjukkan juga ke perempuan-perumpuan lain? Berarti akunya aja dog yang kege eran selama ini? Ah, tapi nggak mungkin! Mas Danar kan bukan tipe laki-laki yang mudah mengobral kebaikan sama sembarangan perempuan.
Riri terus asyik dengan alam pikirannya sendiri hingga tak terasa kumandang adzan ashar terdengar.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sore ini sepulang kerja Via dikagetkan dengan sesosok mahluk yang sungguh sangat ingin ia hindari kemunculannya. Siapa lagi kalo bukan Bujel.
“Syelamat syore Jeng Isyana Sarasvati…” Sapa Bujel dengan tampang semanis mungkin.
Via yang penat karena bekerja seharian jadi makin sebel melihat kahadiran tetangganya yang super kepo itu sore-sore gini udah mejeng aja di depan rumahnya.
“Mau ngapain Jeng kok udah ada di sini? Sengaja baget nungguin aku pulang?” ketus Via membuka engsel gerbang rumahnya.
Bukannya malu karena emang ketahuan nungguin Via, Bujel malah cuek nyelonong mendahului yang empunya rumah. Via memarkir motornya di halaman dan mencari kunci pintu di tas kerjanya.
“Aku main boleh kan, Jeng?” Bujel sudah duduk di teras dengan tak berperasan mengabaikan Via yang kelihatan lelah banget.
“Aku mau istirahat.” Ujar Via setelah berhasil membuka pintu.
Ya ampun, ini orang nyebelin banget! Nggak tau apa kalo aku capek banget!
“Boleh kan, Jeng?” Tanya Bujel.
“Hm, ambil aja.”
“Yess, maksih ya.” Bujel menuju belakang, membuka pintu dapur untuk mencari pisau.
“Kalo udah selesai cepetan pulang! Aku mau istirahat, jangan lupa tutup lagi pintunya!” Ucap Via nyaring sengaja biar si Bujel denger.
“Iya, jeng!” Balas Bujel.
BRUUK!
Via membanting pintu kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur untuk sejenak melepas lelah. Tiap kali kedatangan Bujel dia selalu was-was, entah mengapa Via merasa Bujel sedang memata-matainya. (Padahal kan emang bener ya? Via nggak tau aja kalo Bujel itu memang agen rahasia yang dikirim ibu mertuanya yang durjana itu.)
Di halaman belakan rumah kontrakan Via, Bujel yang sudah mendapatkan dua buah pepaya bukannya langsung pulang malah sengaja berlama-lama disana. Dia tengah memutar otak bagaimana caranya untuk mendapatkan informasi apapun tentang Via karena foto hasil jepretannya tempo hari itu teryata sama sekali tak direspon oleh Bu Een. Bujel kesal karena diabaikan Bu Een, dia udah coba nelpon berkali-kali tapi malah nomer Bu Een nggak aktif. Bujel yang nggak tau kalo Bu Een lagi dilanda stres berat sampe nggak mau makan dan minum, jangankan nerima telpon, nafas pun kayaknya dia udah nggak kuat saking akutnya perasasaan iri dengki dalam hatinya terhadap Bu Harni yang baru dikunjungi keluarga kaya raya tempo hari itu.
“Udah jual berita pake kadar micin sesuai takaran masih juga nggak digubris sama si Lampir itu, kurang ajar dia! Apa dia mau memutuskan kontrak kerja sama ya? Nggak bisa begini! bisa ilang dong penyuplai sembako keluarga, aku nggak boleh nyerah. Aku harus bisa mengorek apapun tentang kehidupan pribadi Jeng Via.” Tekad Bujel sekuat baja.
Ia kini tengah duduk-duduk santai di halaman belakang, gayanya udah kayak yang punya rumah aja. Beberapa kali dia nengok ke dalam berharap Via segera keluar, padahal dia tadi udah bilang iya waktu Via menyuruhnya segera pergi kalo udah selesai. Dasar Bujel, rupanya dia asal jawab iya aja tapi nggak denger apa yang dibilang Via.
Bujel yang sudah dikuasai kepo, beranjak masuk dan menutup puntu belakang. Dia berhenti di depan kamar Via.
“Sepi.” Gumam Bujel. “Oh, mungkin lagi mandi, kan baru pulang kerja. Aku tunggu di di depan aja deh.” Bujel menuju halaman depan kemudian melihat deretan tanaman sayuran Via yang menggoda jiwa celamitannya. Beberapa buah tomat tampak menguning menggemaskan. “Wah, boleh nih sekalian diambil juga.” Tanpa pikir panjang Bujel memanen si tomat yang hanya bisa pasrah dijamah tangan penuh dosa itu.
Sementara itu di kamarnya, Via terlonjak. Ia baru saja ketiduran kurang lebih lima belas menit.
__ADS_1
“Ya ampun! Sampe ketiduran.” Via mengusap wajahnya lantas meraih ponselnya, Jam 5.25. Via bangkit berniat mandi untuk menyegarkan badannya. “Eh, tu orang udah pulang apa belum ya?” Via teringat Bujel.
Via menuju dapur, dilihatnya intu belakang sudah tertutup. Ia lega karena mengira mahluk Bujel itu sudah pulang.
Drrrt… Drrrtt…
Ponsel dalam genggamannya itu bergetar.
“Mas Mirza?” Via merona bahagia mendapati panggilan telpon dari suaminya. “Halo, Mas. Assalamualaikum.” Sapa Via seraya menghempaskan bokonnya di sofa ruang tengah.
“Halo, Wa alaikumussalam istriku sayang yang paling cantik, baik hati sedunia tiada duanya.” Balas Mirza dengan roman muka tak kalah bahagianya.
“Ih, mulai deh!” Via tersenyum dengan gombalan suaminya. “Kok tumben jam segini telpon, Mas? Lagi nggak ada sifit?”
"Mas mau kasih kabar bahagia, Sayang."
"Apa itu?"
"Mas besok pulang."
"Apa? Yang bener, Mas?" Via tak bisa menutupi rasa kaget campur bahagianya itu.
"Iya sayang, Mas pulang lebih cepat. Besok Mas tiba di Surabaya, setelah semuanya selesai Mas langsung pulang naik kereta dari sini."
"Alhamdulillah...., aku seneng banget Mas Mirza pulang." Tak terasa Via menitikkan air mata haru, rasa rindunya yang begitu membuncah membuatnya tak kuasa menahan haru.
Bujel yang sudah selesai memanen tomat tanpa permisi samar-samar mendengar orang berbincang dari dalam rumah. Bakat keponya semakin merajalela, Bujel masuk dengan langkah tanpa suara, mengintip dari tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah rumah Via.
"Jeng Via lagi ngomong sama siapa ya? Kok seneng banget kayaknya." Bujel pasang telinga baik-baik.
"Heum, Mas bisa aja." Via nampak tersipu. "Yang penting bawakan hatimu utuh untukku, aku nggak perlu oleh-oleh lainnya Mas." Lanjut Via.
"Beneran nih, cuman pingin hatinya Mas? Nggak kepingin yang lainnya?" Goda Mirza dari seberang.
"Yang lainnya apaan, Mas?"
"Heem, pura-pura nggak ngerti ya istri Mas ini."
"Ih, beneran nggak ngerti aku, Mas."
"Ya udah, nanti juga sampe rumah kamu ngerti kok, Sayang."
"Terserah Mas aja deh. Pokoknya nanti hati-hati ya, kabarin kalo udah mau nyampe, nanti aku jemput Mas di stasiun."
"Iya, Sayang." Mirza gemas dengan istrinya yang kadang polos tapi begitu ganas ketika bertempur di 'arena perang' itu. "Oh iya, kamu nggak lagi datang bulan kan, Sayang?" Tanya Mirza kemudian.
Dahi Via berkerut, "nggak, baru aja selesai. Kenapa emangnya Mas?"
"Yess! Oleh-oleh spesial untukmu segera sampai, Sayang. Kita akan habiskan malam panjang untuk menikmatinya."
"Aahhhhhh.....! Mas Mirza ......!!!" Pekik Via dengan pipi merona tak kuat menahan malu begitu sadar maksud terselubung suaminya. "Belum apa-apa kamu udah mesum .....!!"
Bujel yang khusyuk mengintip jadi ikut terlonjak kaget mendengar teriakan Via.
"Waduh! Mas Chicko ngomong apaan ya, kok Jeng Via bisa teriak begitu?" Bujel menarik diri mepet ke tembok. "Hm, bakalan jadi hot news nih. si Lampir pasti tambah nyut-nyutan kalo tau anaknya bakal segera pulang. yess, sembako gratis lagi. Emang dah, kalo rejeki mah nggak akan kemana. Nggak sia-sia aku nungguin sampe mau maghrib, hihiii..." Bujel segera pulang bersorak girang dalam hatinya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak 🙏🙏🙏🤩🤩🤩
Mohon maaf kalo banyak typo, othor usaha banget pengen up soalnya. part yang belum muncul, harap bersabar yaa 😊😊
__ADS_1
Oya, dengerin juga versi audio booknya TERPAKSA SELINGKUH ❤️ yang dibacain adik Chen Liong ya, Kak 😍😍
Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘