
Matahari belum mencapai puncaknya, namun hari terasa sangat panas bagi Mirza. Ketegangan yang baru saja dialaminya membuat hatinya ikut memanas. Berkali-kali ia mendengus kasar membuang kesal seraya melemparkan pandangan keluar jendela mobil yang sengaja ia buka lebar-lebar. Hamparan sawah yang dilewatinya baru saja selesai dipanen, sejauh mata memandang hanya ada tumpukan jerami kering. Perhatiannya mendadak teralihkan pada benda pipih yang bergetar dalam saku celananya.
“Dokter Burhan.” Gumam Mirza. Meski agak ragu digeser juga warna hijau pada layar gawainya. “Halo, Dok. Assalamualaikum.”
“Wa alaikumussalam.” Suara berat dokter Burhan dari seberang. “Sibuk, Za?”
“Emh, nggak juga.”
“Bisa ke klinik hari ini? Ada yang mau saya bicarakan.”
“Ok, sebentar lagi saya kesana Dok. Ini udah di jalan dari rumah ibu.”
“Wah, kebetulan. Saya tunggu ya.”
Mungkin dengan mengunjungi dokter Burhan akan membuat sedikit kesalnya berkurang, perasaan kecewanya sedikit demi sedikit bisa terurai dan menghilang, yang jelas Mirza tak ingin pulang menemui istrinya dalam keadaan emosi masih dalam dada. Mobil Mirza kini sudah memasuki area parkir klinik dokter Burhan yang cukup luas. Gegas ia menuju ruangan sang dokter.
“Masuk.” Ucap dokter Burhan ketika Mirza mengetuk pintu ruangannya.
“Apa lagi nggak ada pasien, Dok?” Mirza mengehempaskan pantat di kursi depan meja dokter.
“Hari ini saya hanya buka praktek sore saja.” Melepas kacamatanya dan memandang Mirza dengan senyuman teduh. “Apa kamu sudah bicarakan dengan istrimu soal tawaran saya kemarin?”
“Sudah, Dok. Maaf saya belum memberitahu. Via setuju saya kembali kerja disini, cuma-“ diam sejenak takut mengecewakan sang dokter. “Via kurang setuju kalo saya menangani pasien.”
“Ok, kamu bisa di apotik milai besok.” Menyandarkan punggung pada sandaran kursi empuknya dengan santai.
“Besok?”
Dokter Burhan mengangguk. “Iya. Kenapa, keberatan? Bukankah lebih cepat justru lebih baik?”
“Iya, benar Dok.”
“Bagus. Di apotik sudah ada dua orang. Satu apoteker, satu staf biasa. Kamu bisa membantu untuk bagian pelayanan check kesehatan apabila ada yang memerlukan. Ya .., paling hanya sekedar tes gula darah atau mengukur tekanan darah.” Dokter Burhan menjelaskan. “Dan satu lagi, saya percayakan pengelolaan apotik sama kamu. Pokoknya segala tanggungjawab apotik saya serahkan sama kamu, untuk stok obat dan kebutuhan lainnya.” Imbuh dokter Burhan.
“Saya, Dok?” Sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan karena heran. “Kan sudah ada apotekernya?”
“Dia khusus untuk meracik resep obat dari saya, pengadaan bahan-bahannya kamu yang mengelola. Jadi nanti kamu yang akan mendata semua kebutuhan obat yang ada. Saya tahu kamu sangat bisa diandalkan. Senang bekerjasama denganmu lagi, Za. Selamat datang dan selamat bergabung kembali ya di klinik saya.” Dokter Burhan mengulurkan tangan.
Terdiam sesaat, ternyata semudah itu mendapatkan pekerjaan? Mirza masih tak percaya, setelah berbulan-bulan menganggur belum sempat mencari kerja kemana pun, baru kemarin ditawari dan besok sudah langsung masuk. Cepat sekali bukan? Disaat para sarjana berceceran disepanjang tahun peradaban dan sebagian besar sulit mencari pekerjaan, Mirza dengan cukup mudah mendapatkannya. Ah, ini pasti berkat bantuan doa dari istri shalihah.
Mirza menjabat tangan dokter Burhan lantas segara pamit setelah dirasa cukup penjelasan bekal memulai pekerjaan barunya esok hari.
Perasaannya kini sudah membaik, setidaknya akan ada kabar bagus untuk ia sampaikan pada istrinya. Mirza melewati alun-alun kecamatan yang lumayan banyak penjual kaki lima disana. Sejenak ia berpikir untuk memebelikan Via sesuatu, istrinya itu pasti senang jka dibawakan oleh-oleh. Pilihan Mirza jatuh pada penjual aneka sup buah dan juice. Mirza memarkir mobilnya tak jauh dari sana, ternyata sudah ada beberapa orang yang mengantri mengitari gerobak si penjual sup buah.
Waktu menunjukkan tepat tengah hari, cuaca terik semakin terasa. Mirza menyeka jidatnya yang mulai mengembun. Mengantri sebentar lagi tak apalah demi istri tercinta. Agaknya si mamang penjual sup buah ini sedang menjadi idola dikala cuaca panas seperti ini, terbukti setelah Mirza masih ada beberapa orang lagi yang datang mengntri. Namun keberuntungan sedang tak berpihak pada Mirza, tepat satu orang lagi hampir gilirannya, sup buah yang diingankannya ternyata habis. Begitu juga dengan sup alpukat, juice sirsak, juice alupkat, juice semangka dan semua buah-buah favorit Via habis tak bersisa entah bagaimana ceritanya, yang jelas Mirza kayak orang baru di PHP in, udah lama nunggu jebule zonk!
“Mirza?” Tegur seseorang yang baru datang dengan agak surprise.
“Eh, Dena?” Mirza tak kalah surprisenya. “Mau beli sup buah ya?”
“He em. Tapi aku udah pesen kok, tinggal ambil aja.” Sahut Denaya. “Kamu mau beli juga?”
“Iya, tapi kehabisan.” Raut kecewa Mirza sama dengan beberapa orang yang ngeloyor membubarkan diri dari sana.
“Sebentar ya.” Denaya menuju mamang penjual sup buah untuk mengambil pesannanya dan segera kembali setelah membayarnya. “Aku punya sup alpukat sama juice strowberry. Kamu mau yang mana?” Tawar Denaya membuka plastik pesanannya, dia membeli cukup banyak kayaknya.
“Eh, nggak usah. Itu kan punya kamu.”
“Nggak papa, ambil aja. Kamu pasti mau beliin buat Via kan?” Denaya langsung tau.
“Iya sih. Tapi Via nggak suka juice strawberry.”
“Kalo gitu ini aja, sup alpukat. Enak lho, Via pasti suka.” Via menyerahkan satu pada Mirza. “Terus kamu mau juice atau …”
“Nggak usah, satu aja.” Tolak Mirza.
“Beneran? Ntar kamu ngiler lho ngeliatin Via makan sup alpukatnya.” Kelakar Denaya.
“Nggak lah, ngeliatin dia makan aja aku udah ikut kenyang kok.”
Mereka tertawa sebentar, satu notif pesan masuk dari ponsel Mirza. Ia segera melihatnya. Itu dari Via yang menanyakan apa dia masih lama pulangnya. Mirza segera mengetik pesan balasan singkat.
“Oya, kamu sama siapa Dena?” Tanya Mirza setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
“Sama Om kamu tuh.” Mendongak pada mobil yang terparkir di seberang jalan.
“Hem, ya udah deh salam aja buat Om Jaka ya. makasih lho ini sup alpukatnya.” Mirza nggak mau nemuin Omnya, soalnya moodnya dia lagi kurang bagus. Nggak heran kan, bawaannya pasti selalu ribut kayak kucing sama gukguk kalo mereka ketemu.
“Kamu nggak mau nyapa Om kamu dulu?” Nah kan, Denaya nanyain.
“Lain kali aja deh, lagi buru-buru. Barusan Via nyuruh aku cepet pulang.”
“Oke, salam juga ya buat Via.”
Mereka berpisah, Mirza cepat-cepat menuju mobilnya sebelum Omnya melihatnya.
“Lama banget sih, Han?” Om Jaka terbangun dari posisinya yang agak mengantuk begitu Denaya membuka pintu mobil. “Ngantri ya? kan udah pesen sebelumnya?”
“Tadi ketemu Mirza.”
“Mirza? Mana dia?” Om Jaka menurunkan kaca jendela di sampingnya, celingukan mencari sang keponakan yang udah ngacir duluan.
“Udah balik, buru-buru katanya.”
“Tumben dia nggak nanyain Omnya yang cakep ini?” Kembali menaikkan kaca jendela mobilnya.
“Titip salam katanya.” Menyedot juice strawberry dan sedikit meringis karena rasanya yang cukup asam, Denaya memesan agar tak menambahkan gula ke dalam juicenya.
“Kok sup alpukatnya cuman satu sih, Han?” Menilik isi plastik dalam pangkuan istrinya. “Suamimu nggak dibeliin?”
“Tadi aku kasihin Mirza satu, Beb.”
“Kamu kasihin Mirza? Kok bisa? Kamu ada main ya sama dia? Bisa-bisanya kamu kasihin ke dia padahal suamimu aja kepingin? Tega kamu, Han!” Om Jaka dalam mode kesal.
“Ish, jangan ngaco kamu Bokir! Nuduh orang sembarangan!” Balas Denaya tak kalah kesalnya. “Tadi itu Mirza mau beli buat Via tapi kehabisan, makanya aku kasihin satu buat Mirza. Lagian kamu bisa-bisanya ngaco gitu nuduh aku ada apa-apa sama Mirza, aneh banget!” Kembali menyedot juice strowberrynya.
“Ya kali, kalian kan dulunya sempet mau dijodohin.”
“Itu mah maunya Mbakyu kamu aja, Bokir! Udah ah cepetan jalan, ntar Amara keburu nangis!”
“Iya deh, maafin aku ya Katemiku. Cuma becanda kok.” Menjawil dagu Denaya denagn mengulas senuyum lebar.
-
__ADS_1
-
-
“Aih, Mas tau aja deh aku lagi kepingin alpukat.” Via menerima oleh-oleh dari suaminya dengan pandangan berbinar.
“Itu Denaya yang ngasih, tadi Mas nggak sengaja ketemu dia di tukang sup buah, Sayang.”
“Oya?”
“Iya, pas giliran Mas mau beli ternyata habis. Untungnya Denaya beli banyak, jadi dikasihin satu deh buat kamu.”
“Hem, harus bilang makasih nih sama Dena.” Meraih ponsel di sampingnya.
“Dimakan aja dulu, Sayang. Mas mau shalat dzuhur dulu ya.” Mengacak sayang rambut sang istri lantas menuju kamar.
Via pun segera melahapnya setelah mengetik pesan singkat ucapan terima kasih pada Denaya.
Kombinasi es serut, buah alpukat, susu dan taburan keju parut membuat Via merasakan kesegaran gurih manis yang hakiki sampai ia lupa tak menyisakannya untuk sang suami.
“Yah, habis Mas.” Ucapnya ketika Mirza muncul usai shalat dzuhur.
“Nggak papa Sayang, itu kan emang buat kamu.” Menghemaskan diri di samping sang istri. “Oya, Mas dari rumah ibu tadi mampir ke klinik dokter Burhan. Besok Mas udah masuk kerja lho.”
“Wah, bagus dong?” Tersenyum senang. “Tapi di apotik kan?” Menatap penuh selidik.
“Iya, Sayang.” Merangkul pundak sang istri. “Mas malah diminta mengelola semua kebutuhan apotik klinik dokter Burhan.”
“Mas beruntung banget, dokter Burhan sudah percaya sepenuhnya sama Mas.”
“Iya, Sayang.” Menyandarkan kepalanya pada pundak sang istri.
“Terus ke rumah ibu tadi ada apa, Mas? Apa ibu minta ditemani berobat?”
Deg!
Ini yang dikhawatirkan Mirza. Via akan menanyakan perihal itu padanya. Haruskah ia jawab dengan jujur? Atau Via lebih baik tidak usah tau? Sepertinya Sofi tak akan lama tinggal di rumah ibunya sebab dia sudah mengancam tak akan lagi menginjakkan kaki disana jika Sofi tak segera pergi. Ibunya pasti menuruti kata-katanya. Tapi bukankah dirinya sudah berjanji akan selalu terbuka dan saling berterus terang dengan Via soal apapun? Belajar dari pengalaman kejadian Via dengan Danar yang sempat memicu salah paham, seharusnya sih memang begitu.
“Mas? Kok malah diem sih?” Beringsut sehingga Mirza menegakkan posisinya.
“Sayang,” Mirza menghadap istrinya meraih jemarinya dalam genggaman. “Mas mau bilang sesuatu, tapi berjanjilah jangan salah paham dan tak perlu khawatir ya.”
“Ada apa sih memangnya? Apa ada sesuatu yang buruk menimpa ibu, Mas?” Begitulah Via, masih saja mengkhawatirkan ibu mertuanya yang sudah jelas-jelas membencinya.
“Bukan.” Mirza menggeleng.
“Lantas?”
Diam sejenak memastikan istrinya tak akan lepas beranjak dari sampingnya. “Sofi ada di rumah ibu.”
“S-Sofi?” Ulang Via dengan rasa kaget yang berusaha ditutupinya.
“Iya, sayang.”
“Kenapa dia datang Mas? Apa dia … “
“Dia sekarang sedang mengandung anak dari suaminya dan mengatakan suaminya sangat jahat, dia membutuhkan tempat perlindungan sampai melahirkan bayinya kelak.” Papar Mirza tak ingin istrinya salah paham. “Tapi aku sama sekali tak mempercayainya.”
Raut kekhawatiran jelas sekali terpancar dari wajah Via. Ia sadar setiap rumah tangga pasti akan mengalami ujiannya sendiri, tapi haruskah ia menghadapi ujian rumah tangga dengan permasalahan dan orang yang sama?
“Sayang-“ mengusap lembut pipi sang istri dengan tatapan teduh meyakinkan. “Jangan pikirkan itu, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama. Apalagi kamu sekarang sedang mengandung buah dari cinta kita berdua.” Menjatuhkan tatapan pada perut sang istri kemudian membungkuk untuk menciumnya. “Mas berjanji akan setia bersama kalian. Kamu percaya sama Mas kan?”
Via mengangguk samar, ia percaya dengan kesungguhan suaminya namun juga tak kuasa menampik bahwa ada setitik kekhawatiran yang mengganggu hatinya.
“Makasih, Sayang.” Merengkuh Via kedalam pelukannya dan menciumi pucuk kepalanya, sesaat mereka larut dalam perasaannya masing-masing.
❤️❤️❤️❤️❤️
Waktu terus berputar silih berganti dari hari ke hari, Mirza menjalani rutinitasnya dengan pekerjaan barunya. Via mengisi waktu dengan mencurahkan perhatiannya pada aneka tanaman sayur dan bunga-bunganya yang tak terlalu banyak di sekitaran rumah. Jika jenuh melanda, ia akan video call dengan Yana, atau mengundang Yanti ke rumah bersama Gio.
Via dan Mirza terlihat seperti sepasang suami istri pada umumnya, dimana sang suami pulang kerja sore hari dan disambut oleh senyum bahagia sang istri. Terus begitu dari hari ke hari, semuanya berjalan dengan normal. Sampai pada suatu sore, sebuah pesan dari ibunya meminta Mirza untuk datang ke rumah. Mirza tak langsung membalas pesan itu, ia berpikir apa mungkin Sofi masih ada di rumah ibunya.
“Za, aku duluan ya.” Tepukan Niko pada bahunya menyadarkan Mirza dari benaknya. “Jangan lupa daftar obat yang aku kasih tadi siang ya.” Pesan Niko sebelum pergi.
Mirza hanya tersenyum seraya mengangkat jempol kanannya.
Bip!
Satu pesan masuk lagi.
Ibu
Za, tolong cepat kesini.
Dengan memantapkan hati setelah merapal doa-doa ia pergi menuju rumah Bu Een. Mungkin ada baiknya Mirza juga harus membaca doa tolak bala jika hendak berkunjung kesana.
Waktu semakin sore saat Mirza hampir sampai di rumah Bu Een. Sengaja ia berhenti tepat di belokan sebelum ke arah rumah ibunya. Hanya untuk sekedar memastikan karena tak ingin kembali terjerat siasat busuk yang kemungkinan telah direncanakan Sofi dan ibunya, Mirza menelepon sang ibu.
Sampai nada sambung berakhir sendiri, panggilannya tak juga kunjung diterima. Mirza semakin yakin, jika ia tak perlu kesana. Tepat saat ia hendak kembali melajukan mobilnya, ponselnya bordering.
“Ibu.” Ucap Mirza langsung menerimanya. “Halo, Bu.”
Hening, tak ada jawaban dari seberang.
Mirza mengernyit. “Bu?”
Masih hening tak ada sahutan.
“Halo, Bu.” Sekali lagi Mirza mencoba dengan menaikkan intonasi suaranya.
“Ha-halo, Za.”
Deg!
“Kamu?” Sengit Mirza.
“Jangan ditutup dulu, Za!” Sergah Sofi.
“Apa kamu yang sengaja ngirim pesan pake HP ibu? Atau ibu yang nyuruh kamu, iya? Jawab!” Mirza berteriak.
“B-bukan. Dengar dulu, Za.” Pinta Sofi memelas.
__ADS_1
“Aku nggak mau dengar apapun!”
“Mirza, ibu kamu sakit!”
Terdiam sebentar untuk meyakinkan. “Sakit?”
“I-ya. kamu bisa kesini kan?” agak ragu Sofi bertanya.
Diam lagi, Mirza paling tidak bisa melihat ibunya sakit dan menderita Sebenci apapun dia terhadap wanita tua yang selalu berkata pedas pada istrinya itu, namun ia teteplah ibu kandungnya yang telah mengandung dan membesarkannya. Tapi apakah benar ibunya sekarang sedang sakit? Bukankah keadaanya sudah baik-baik saja? Bukannya tak mungkin kan ini hanay akal-akalannya saja?
“Za, kamu bisa kesini kan?” Ulang Sofi penuh permohonan.
Mirza tersadar dari pikirannya. “Nggak. Aku nggak bisa kesana.” Putusnya.
“Tapi, Za. Ibu kamu sakit, dari tadi terus terusan nyebut ama kamu. Aku mohon, kamu kesini ya …”
“Untuk apa aku kesana? Kan udah ada kamu? Bukankah ibu lebih memilih kamu dari pada aku?” Sarkas Mirza.
Sofi kini terdiam di seberang.
“Selama masih ada kamu di rumah ibu, aku nggak akan menginjakkan kakiku kesana. Ingat itu baik-baik!”
KLIK
Mirza segera mengakhiri sambungan sepihak. Ia cengkeram kemudinya dan membuang nafas kasar. Ia tepis semua prasangka buruk tentang bunya. Mirza yakin ibunya baik-baik saja, ia tidak sakit. Ia justru sedang merencanakan satu siasat busuk lagi untuk dirinya dan juga Via. Ia segera berputar haluan, melajukan kembali mobilnya menuju jalan pulang, beruntung ia belum sempat benar-benar masuk ke halaman rumah ibunya.
Di rumah Bu Een, Sofi nampak merasa bersalah karena tak berhasil membujuk Mirza datang menemui ibunya.
“Anak itu benar-benar sudah berani menyepelekanku!” Geram Bu Een.
Sofi hanya diam, ia merasa gagal meski sudah berbuat semampunya. Mirza terlampau membencinya. Bu Een memutar otak untuk mencari cara lain agar Mirza mau datang menemuinya.
“Besok antar saya ke kota. Saya mau belanja keperluan toko, saya mau buka toko lagi. Kamu mau kan bantu saya ngurus toko?”
Sofi kaget namun langsung berusaha menutupinya. “Ngurus toko?” Gumamnya tak yakin.
“Iya, toko sembako saya. Nanti kamu bantu-bantu di toko.”
Ya ampun! Kayak nggak ada kerjaan lain aja. Ini nenek-nenek kenapa nggak mau diem aja sih? Makan tidur makan tidur kan enak? Pake segala mau buka toko sembako lagi, ngerepotin aja!
“Sof?” Tegur Bu Een.
“Eh, iya Bu?” Sofi agak tergagap.
“Masakin saya mie rebus, pake telor setengah mateng, pake cabe rawit dipotong-potong sama pake sawi tapi jangan sama batangnya.”
Sofi melongo.
“Kamu dengar saya ngomong nggak?” Ketus Bu Een dengan wajah juteknya.
“Emh, iya denger Bu.”
“Ya udah, cepetan bikinin sana!” Titah Bu Een. “Jangan lupa setelah masak dapurnya dibersihkan lagi. Saya nggak mau liat perkakas kotor!”
Agak berat Sofi melangkah ke dapur. Seumur hidupnya belum pernah melayani orang lain. Hidup bak ratu sedari baru lahir, mau apa tinggal tunjuk, nggak pake lama semua pelayan datang silih berganti membawakan apa yang diinginkannya. Namaun sekarang keadaannya berbeda, tangan halus mulusnya agaknya harus mulai terbiasa dengan segala perabotan dapur.
“Ok, survive Sofia!” Gumam Sofi menyemangati dirinya sendiri.
Sepuluh menit berkutat di dapur, semangkuk mie rebus spesial sudah siap dihidangkan.
“Ini Bu.” Sofi meletakkannya di meja.
Bu Een melotot demi melihat hasil karya Sofi. “Ini mie apa bubur, Sofi?” Menahan kesal dengan dada turun naik.
“Maaf, mie-nya memang agak over cook, tapi rasanya enak kok, Bu. tadi aku udah cicipin sedikit.” Kilah Sofi berusaha meyakinkan. “Kalo gitu aku ke kamar dulu, mau mandi udah sore.” Buru-buru Sofi melarikan diri sebelum Bu Een melayangkan protesnya kembali.
Aroma mie rebusnya memang wangi, namun ketika melihat penampakannya yang sungguh diluar ekspektasi pasti akan bergidik ngeri. Tekstur mie yang terlalu kematengan ditambah telor yang morat-marit, daun sawi yang tak dipotong serta cabe rawit yang dibiarkan bergeluntungan begitu saja membuat selera makan Bu Een meredup. Namun karena sudah terlalu lapar dia terima juga.
“Anak itu apa nggak pernah diajari cara masak mie rebus?” Bu Een mulai ngedumel sambil mengaduk mie dalam mangkuknya. “Mentang-mentang saya bilang sawinya jangan pake batangnya, daunnya pun nggak dipotongnya, cabenya juga. Ah, payah baner dia!” Bu Een mulai menyuapkan mie rebus ke dalam mulutnya.
KRES KRES …
Bu Een menghentikan proses memamah biaknya ketika giginya mengunyah sesuatu yang agak keras. Sesuatu menggelitik indra pengecapnya, segera ia lepeh makanan dari mulutnya. Benar saja, kulit telor barusan ikut masuk dan terkunyah mentah-mentah. Dengan mengumpulkan segenap kekuatan ilmu kanuragannya ia keluarkan jurus teriakan mautnya yang menggelegar.
“Sofi ……!”
Sayang sekali, Sofi sudah mengunci pintu kamar rapat-rapat dan tengah asyik menikmati segarnya guyuran air shower sambil mendendangkan lagu favoritnya dari iPhone yang disimpannya di atas wadah sabun.
🎶 I'm unstoppable
I'm a Porsche with no brakes
I'm invincible
Yeah, I win every single game
I'm so powerful
I don't need batteries to play
I'm so confident
Yeah, I'm unstoppable today
Unstoppable today
Unstoppable today
Unstoppable today
I'm unstoppable today ...🎶
(note: potongan lyric Unstoppable by Sia)
❤️❤️❤️❤️❤️
Selamat malam, selamat tidur semuanya….😊
Semoga nggak mimpiin Mbok Een yaa…😆
Maaf othor kemaleman up susulannya nih 🙏🙏 Biaasalah, remfong 😅
Salam sayang buat kalian semua😍😍
__ADS_1
Ayok, omelin othor lagi, hehehe…😂
I love u all 🤗🤗🤗😘😘😘