TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
268 #LELAKI PENGGANTI


__ADS_3

Hi, reders tersayang dan sahabat author tercinta ❤❤


Terima kasih udah sekian purnama setia nungguin kelanjutan kisah Via Mirza. Othor minta maaf banget ya udah menghilang tanpa pesan. Ada banyak hal yang tak bisa othor jelaskan disini. Namun percayalah, othor selalu menantikan saat untuk kembali bisa menulis lagi. Dan akhirnya kesempatan itu datang juga sekarang. Semoga kalian belum pada lupa ya sama jalan ceritanya 😊


Terima kasih juga buat semuanya yang sudah sangat khawatir sama othor awut-awutan ini. Kalian udah doain dan support othor sampai sejauh ini. Othor terharu, campur seneng campur deg-degan waktu ngintipin komen-komen kalian di bab terakhir. Bahkan sampe ada yang bela-belain stalking fb othor lho, nanyain kelanjutan novel ini (siapa ya yang kemarin inbok othor, ada disini kan orangnya? Hayoo ngaku 😂 big thanks for you, dear 🙏😘). Pokoknya terima kasih tak terhingga buat kalian semua. Maafkan othor yang belum bisa kasih yang terbaik dan bikin kalian semua kecewa 🙏🙏🙏


Bismillah, othor lanjutkan kisah Via Mirza kembali (*k**arena othor menghilang dari peredaran kurang lebih sudah 3 bulan, kita lanjut novel ini lompat ke waktu 3 bulan setelah Mirza pergi meninggalkan Via ya* 😄).


The last but not the least, buat kalian yang masih stay favorit di novel ini; you’re the best 🥰🥰


Love you all as always🤗🤗😘😘😘


💕💕💕


Time leaps, 3 bulan setelah Mirza pergi dari rumah.


Langkah-langkah tergesa diayun menyusuri lorong rumah sakit, jam berkunjung sebenarnya sudah habis, namun bukan Bu Harni dan Riri namanya kalau tak bisa mengalahkan benteng pertahanan pak satpam rumah sakit dengan kecerewetannya yang diatas rata-rata.


“Ayok, Ri cepetan!” menarik tangan anak gadisnya yang berjalan agak tertinggal dibelakang.


“Di sebelah sana Bu ruangannya,” Riri menunjuk ruang khusus perawatan untuk anak-anak.


Bu Harni lebih cepat lagi berjalan membuat Riri semakin terseok-seok mengejarnya.


Kriet …


Pintu ruang perawatan dibuka perlahan, Via segera menoleh. Senyum berpendar di wajah letihnya ketika mendapati siapa yang datang. “Ibu, Riri.”


“Gimana keadaan cucu ibu?” gegas mendekat pada baby Nala. Netra tua itu mengembun melihat wajah polos sang cucu Kesayangannya yang terlelap. Diusapnya pucuk kepala Nala penuh kasih, hampir saja menangis mendapati sang cucu mungilnya berbaring tak berdaya di atas bed ruang perawatan dengan jarum infus di tangan kanannya.


“Sudah membaik, Bu”


“Kenapa Nala bisa sampe step sih, Mbak? Emangnya mbak Via nggak tau kalo dia demam? Udah gitu mbak Via nggak ngabarin aku sama ibu lagi Nala di bawa ke rumah sakit,” Riri tak tahan untuk tidak mengomel.


“Bukannya gitu, Ri. Kemarin demamnya Nala udah turun, tapi malemnya ternyata naik lagi, Mbak panik makanya nggak kepikiran kasih tau kamu sama ibu karena Nala udah kejang-kejang,” raut penyesalan membayang di wajah cantik Via.


“Terus Mbak bawa Nala ke sini sama siapa?”


“Danar,” sahut Via lirih seraya sedikit menundukkan wajahnya.


“Mas Danar like a super hero as always” terdengar menggerutu membuat Via tak enak hati. “Untung ada Mas Danar”


Bu Harni menghentikan kegiatanya dari mengusap-usap kepala sang cucu kesayangan, pandangannya beralih pada Via kini. “Vi, ibu mau bicara sama kamu.”


Tertegun dengan ekspresi wajah sang ibu yang serius.


“Kita keluar sebentar,” mengajak Via keluar ruangan. “Ri, kamu jagain Nala dulu ya.”


Berdua mereka duduk di bangku pajang depan ruang perawatan anak. Waktu hampir mencapai tengah hari, suasana sepi karena memang bukan jam berkunjung, hanya terlihat beberapa suster yang sesekali melintas di lorong rumah sakit.


“Vi, apa tidak sebaiknya kamu sama Danar menikah saja?” Ungkapan Bu Harni yang tiba-tiba tanpa tadeng aling-aling itu sontak membuat Via kaget. “Ibu rasa kalian memang ditakdirkan untuk bersama,” sambung bu Harni sebelum Via berusaha menyangkal pendapat ibunya. “Coba kamu pikir, siapa yang selama ini selalu ada buat kamu dan Nala?”


“Bu, aku –“


“Jangan mengharapkan Mirza lagi,” pangkas Bu Harni. “Dia tidak layak kamu tunggu. Danar lebih baik dari Mirza, ibu merestui kalian.”


“Aku dan Mas Mirza belum resmi bercerai, Bu” agak menaikkan intonasinya, tak percaya sang ibu menyudutkannya dalam posisi sulit seperti sekarang ini. “Jangan bahas soal ini lagi Bu, aku mohon,” beranjak dari duduknya namun Bu Harni segera meraih pergelangan tangan Via.


“Tapi Nala butuh sosok ayah,” menekankan kata ayah diujung kalimatnya. “Dia akan tumbuh semakin besar, suatu hari nanti dia akan bertanya dimana ayahnya.”


“Aku bisa menjadi ayah buat Nala, Bu. aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah buatnya, aku bisa menjadi apa saja yang Nala inginkan, Nala tidak butuh siapa-siapa, dia hanya butuh aku!” melepaskan tangannya dari cekalan sang bunda, gegas masuk kembali ke ruang perawatan dengan wajah memerah. Rasa kecewa memenuhi rongga dada Via, tak habis pikir dengan semua perkataan ibunya.


Dibelainya lembut pipi putri mungil kesayangan, perih hatinya ketika mengingat sang suami tak berada disisi menemani. Saat seperti ini Via merasa seperti sendirian meski ia tau banyak yang perhatian padanya dan juga Nala, namun sosok Mirza tentulah tak dapat tergantikan.


“Mba –“ menyentuk pelan lengan sang kakak, membuat Via lekas mengusap genangan air di kedua pelupuk mata indahnya. “Mbak Via udah makan belum? Aku masakin makanan buat Mbak Via.”


Menggeleng pelan, “nanti aja, Mbak belum laper” pandangannnya tak beranjak dari wajah cantik Nala yang masih terlelap.


Dari raut sendu sang kakak, Riri tahu pasti terjadi sesuatu. Meninggalkan ruang perawatan untuk mencari ibunya. “Ibu bicara apa sama Mbak Via?” duduk di samping sang bunda yang masih setia di bangku panjang depan ruang perawatan.


“Ibu bicara yang seharusnya seorang ibu katakan pada anaknya”


Mengernyit, “apa itu?” penasaran walau Bu Harni tampak enggan menjelaskan. “Ibu nggak bicara yang aneh-aneh kan sama Mbak Via?”


“Ibu bilang Nala butuh seorang ayah”


Kedua mata Riri membola, “Nala udah punya ayah, aku yakin kalo Mas Mirza tau anaknya sakit dia pasti dateng”


“Mirza bukan ayah yang baik buat Nala, dia pergi seperti pengecut. Dia sudah nggak peduli sama anak dan istrinya, Nala nggak butuh ayah macam Mirza,” mengungkapkan kedongkolan yang ditahannya.


Menatap heran sang bunda, “lalu ayah yang baik buat Nala itu siapa menurut ibu?” melipat kedua tangan di dada tak mengalihkan tatapan sedikitpun menuntut penjelasan.


“Danar”


Mendengus kasar, “Udah aku kira, Mas Danar”


“Kenapa memangnya? Dia baik dan perhatian selama ini pada Via dan Nala. Dia yang selalu ada saat Via butuh bantuan, bahkan sejak Nala belum ada.”


“Rupanya ibu pengen banget besanan sama mantan,” ngedumel pelan.


“Ibu hanya ingin Via dan Nala mendapatkan yang terbaik,” Bu Harni membela diri.


“Bukannya ibu nggak suka ya kalo keluarga kita deket-deket sama keluarga Pak Hadi?” meyipitkan kedua matanya.


“Ibu kan udah bilang, ibu hanya ingin yang terbaik buat Via dan Nala,” tegas Bu Harni sekali lagi. “Nggak ada alasan lain.”


“Tapi kenapa harus Mas Danar? Kan masih banyak laki-laki lain?”


“Karena yang lain belum tentu baik seperti Danar,” sahut Bu Harni cepat. “Kenapa kamu kayak keberatan gitu? Kamu cemburu kalau kakakmu menikah sama Danar?” gantian Bu Harni yang menatap Riri penasaran.


“Cemburu? Nggak lah, Toni udah the best buat aku!” Tegas Riri lantas pergi meninggalkan ibunya.


💕💕💕


Kediaman keluarga Husein semakin hangat sejak kehadiran baby Arfan ditengah mereka. Bayi laki-laki Ramzi dan Sofi itu telah berhasil mencuri hati semua orang sejak pertama kedatangannya beberapa yang bulan lalu.


Tampak Tuan Husein tengah menimang sang cucu kesayangan di halaman belakang kediamannya yang luas. Laki-laki tua itu selalu merasa bersemangat jika bersama baby Arfan, kesehatan Tuan Husein sangat baik, sepanjang hari ia tak akan melewatkan waktu untuk bermain dengan sang cucu.

__ADS_1


“Pa, ajak Arfan masuk udah sore. Anginnya mulai dingin,” Nyonya Husein muncul dengan secangkir teh yang diletakkan di atas meja.


“Kau menyuruhku membawa cucuku masuk tapi kenapa malah bawa tehnya kesini?” sedikit memberengut kesal yang dibuat-buat.


Menggeleng dengan senyum tipis lantas memanggil suster Inez. “Suster, tolong bawa Arfan masuk ya, mungkin dia haus.”


“Dia terlihat baik-baik saja, dia tidak rewel seperti sedang kehausan,” Tuan Husein memperhatikan wajah mungil baby Arfan yang tampak tenang dalam buaiannya.


“Pa,” menajamkan sedikit pandangannya pada sang suami yang tampak enggan melepaskan cucunya.


“Ya baiklah, sepertinya kau ingin berduaan denganku,” terpaksa mengalah dengan menyerahkan baby Arfan pada suster Inez yang tersenyum simpul melihat tingkah sepasang kakek nenek itu.


“Jadi kenapa sore-sore begini kau ingin berdua saja dengan aku, hm?” meraih pundak sang istri untuk duduk bersamanya. “Semuanya baik-baik saja kan? Sofia, Ramzi, mereka terlihat sangat harmonis setelah ada Arfan.”


“Ya,” mengangguk dengan senyuman.


“Lantas?” menatap penuh heran sehabis menyesap tehnya yang masih mengepul.


“Azad.”


Mengerutkan kening, “kenapa dengan dia?”


“Dia tampak kacau sejak kembali dari kampung.”


Mengangguk, “kau sudah penah mengatakannya.”


“Tapi akhir-akhir ini terlihat lebih parah,” menyerongkan posisi duduknya lebih dekat dengan sang suami. “Papa tidak tanya padanya kenapa seperti itu?” mengulas wajah khawatir.


“Sepanjang dia menyelesaikan pekerjaannya di kantor dengan baik, tak ada masalah,” mencubit cangkir untuk kembali menyesap tehnya.


“Itu karena ada Ramzi yang membantunya,” berdecak sedikit kesal.


“Sudahlah, dia sudah sangat dewasa. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri,” mengusap punggung tangan sang istri. “Kalau dia memerlukan bantuan kita, dia pasti akan mengatakannya.”


“Papa tidak mengerti, seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya berada dalam masalah.”


Baru saja Tuan Husein hendak membuka mulutnya untuk bicara, Azad muncul dari dalam dengan pakaian rapi.


“Pa, Ma, aku pergi dulu,” pamit Azad.


“Kamu mau kemana? Makanlah dulu, lepas maghrib makan malam akan segera siap,” bangkit menghampiri sang putra kesayangan.


“Aku –“ melihat pada sang papa yang sedang memegang cangkir tehnya. “Mau menemui klien,” lanjutnya agak ragu.


“Jam segini?” kening Nyonya Husein berkerut.


“He em, kami sudah buat janji,” membetulkan letak jam tangannya, menghindari tatapan sang mama.


“Ini hari libur kan?” Nyonya Husein melihat pada suaminya.


“Kliennya hanya ada waktu di hari ini,” coba meloloskan diri dari keheranan sang mama, lantas gegas mencium punggung kedua orang tuanya.


Nyonya Husein mengantar Azad sampai ke ruang tengah tepat bersamaan dengan Ramzi yang menuruni tangga bersama Sofi.


“Ram, apa kau juga mau pergi?” melihat pada Ramzi yang juga sudah berpakaian rapi.


“Iya, aku ada janji dengan seseorang,” melepaskan tangannya dari pinggang ramping Sofi.


Mengangguk, “sebentar lagi masuk waktu maghrib, singgahlah dulu nanti di masjid untuk shalat,” pesan Nyonya Husein.


Meraih kunci mobil dari tangan sang kakak ipar lantas melangkah lebih dulu sebelum sang mama melanjutkan keherananannya. Nyonya Husein menatap punggung Azad sampai menghilang ditelan pintu ruangan.


“Sayang, aku pergi dulu ya,” mengecup sigkat kening Sofi.


Mengangguk, “hati-hati ya.”


“Baik,”


“Kak –“ panggil Sofi membuat Ramzi urung melangkah.


“Ya?”


“Apa kau akan mampir mengunjungi papamu?”


Menggeleng samar.


“Tapi Gerald bilang –“


“Sudah ya, kita bicarakan ini lagi nanti,” pangkas Ramzi. “Aku tak mau membuat Azad menunggu di luar terlalu lama.”


“Kamu percya mereka akan bertemu klien?” menggandeng lengan Sofi mengajaknya duduk di ruang tengah setelah Ramzi berlalu.


“Iya, kenapa Ma?” menatap heran sang mama.


“Nggak papa,“ menggeleng membuat Sofi semakin heran. “Oya, omong-omong tadi kamu bilang apa soal papa mertuamu?” coba mengalihkan topik pembicaraan.


Menghela napas seraya menyandarkan punggungnya di sofa, “Papanya Kak Ram sakit.”


“Sakit?”


“Ya, kena serangan jantung dan baru pulang dari rumah sakit.”


Mengusap pundak Sofi perlahan, “apa kau tak ingin membawa Arfan menemui kakeknya?”


“Aku sudah meminta Kak Ram menjenguknya sejak masih di rumah sakit.”


“Kenapa tidak kamu saja yang mengunjunginya?”


“Aku –belum siap,” menunduk dalam seraya meremas jemarinya sendiri.


💕💕💕


Pagi ini keadaan baby Nala sudah jauh lebih baik, dokter yang baru saja memeriksanya mengatakan Nala sudah boleh pulang. Via segera keluar ruangan menuju bagian administrasi.


Langkah Via riang menyusuri lorong rumah sakit, beberapa ekor kupu-kupu cantik terbang mengitari bunga soka di sepanjang taman rumah sakit seolah turut merayakan hari suka cita Via pagi ini. Rasa syukur tak henti-henti dipanjatkannya, tiada yang lebih melegakan bagi seorang ibu ketika melihat buah hatinya sehat kembali.


“Vi?” Sapa Firman yang kebetulan melintas.

__ADS_1


“Hai, Man. Masuk pagi ya?” membalas dengan senyuman.


“Iya, gimana keadaan Nala?” mendekati Via.


“Alhamdulilah udah sehat, udah boleh pulang kok sebentar lagi.”


“Syukurlah, nanti aku sama Yanti ke rumah ya.”


“Oke, jangan lupa ajak Gio juga.”


Mengacungan jempol kanannya, “Gio pasti kangen banget dua hari nggak main sama Nala.”


“Bisa aja kamu, masa anak sekecil Gio udah ngerti rasa kangen?” tertawa ringan mendengarnya.


“Dih, ya ngarti lah. Mereka kan hampir tiap hari main bereng, pasti Gio ngerasa kehilangan, cuman emang Gio belum lancar ngomong aja makanya dia nggak nanyain Nala.”


Semakin terkekeh dengan ucapan Firman.


“O iya, kamu udah kabarin Mirza kalo Nala sakit?”


Seketika tawa Via reda, wajah cerianya sekejap berubah datar. Firman segera menyadari kesalahannya.


"Emh, eh Vi maaf. Aku nggak bermaksud -" Firman serba salah, tak seharusnya dia menyinggung soal Mirza. Yanti toh sudah menceritakan semuanya yang terjadi antara Via dan Mirza secara gamblang.


"Nggak papa," berusaha mengulas senyum.


"Ya udah, tadi kamu mau kemana? aku mau kesana dulu ya ngecek pasien," pergi adalah pilihan yang tepat buat Firman.


mengangguk lantas melanjutkan langkahnya ke bagian administrasi.


Memang tidak salah jika Firman atau siapa pun menanyakan soal Mirza, namun hal itu menggores perih di hati Via. 3 bulan lamanya Mirza pergi tanpa mengirimkan kabar apapun, dia menghilang seperti di telan bumi tak seorang pun tau. Pasrah adalah jalan terbaik, barangkali Tuhan telah menghendaki takdir ini untuknya meski sesekali nuraninya menjerit memanggil-manggil sang suami berharap dia kembali untuk memulai lagi semuanya dari awal.


"Silakan Bu, ini total biaya yang harus dibayar, " suara suster sedikit menyentakkan lamunan Vi.


"Oh iya Sus, sebentar, " mengambil dompet untuk melunasi biaya perawatan baby Nala.


Setelah selesai, gegas ia kembali ke ruang perawatan. Langkah Via terhenti di ambang pintu ketika melihat Bu Harni tengah mengobrol dengan seseorang.


"Udah beres, Vi?" tanya Bu Harni yang mengetahui Via hanya berdiri mematung.


Mengangguk kecil.


"Ya udah, ayok kita pulang. Nak Danar tolong tasnya ya," ucap Bu Harni memberi isyarat pada Danar yang sepertinya menyadari keterkejutan Via.


"Baik, Bu."


"Biar aku aja," cegah Via meraih tas yang berisi perlengkapan baby Nala.


SREEK


tangan Via dan Danar bersentuhan, freeze beberapa detik. Bu Harni tersenyum melihat adegan di depannya, namun buru-buru ia mengalihkan pandangan pura-pura tak melihat.


"Aku aja ya, kamu gendong Nala," ucap Danar segera menjinjing tas berwarna pink dengan motif karakter Masya and the bear itu.


tanpa menjawab Via segera meraih baby Nala dari bednya. Bu Harni berjalan di belakang sengaja membiarkan Via dan Danar lebih dulu.


Sepanjang perjalanan pulang Via tak mengeluarkan sepatah katapun, dia bahkan duduk di jok tengah sehingga mau tak mau Bu Harni duduk di jok depan samping Danar. Hati Via kesal dengan ulah ibunya. Pasti ibunya yang menghubungi Danar untuk menjemput, kalo nggak mana mungkin Danar tau hari ini Nala sudah boleh pulang.


sreet...


mobil Danar berhenti di depan rumah Via. Dengan sigap Danar membukakan pintu untuk Via dan tak melupakan tas baby Nala. Mereka jalan beriringan memasuki halaman. Demi apapun, mereka sungguh terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


"Masya Allah, mereka kok kelihatan serasi sekali ya?" gumam Tia yang sudah menunggu kepulangan sang keponakan di teras rumah Via.


"Hush! Bunda nih ngomong apa sih?" Arya mendelik pada istrinya, "Via masih punya suami, ingat itu Bun," lanjutnya berbisik.


"Halo Nala sayang, selamat datang kembali di rumah ya... " sambut Tia meraih baby Nala dari gendongan Via tak mempedulikan suaminya.


"Ayo Nak Danar masuk, ibu buatin minum ya," ajak Bu Harni.


"Makasih Bu, tapi aku harus balik lagi ke kedai," tolak Danar halus.


"Kok buru-buru?" Bu Harni kecewa.


"Iya, soalnya ada dua karyawan yang nggak masuk. Jadi agak kewalahan gitu," tersenyum seolah meminta maklum.


"Ya udah, tapi lain kali musti mampir ya."


Hanya mengangguk samar saraya melihat pada Via, "Vi, aku pamit ya. Mas Arya, Mbak Tia." Bergantian melihat Arya dan Tia yang dijawab anggukan kepala oleh keduanya.


"Makasih ya, maaf selalu ngerepotin," lirih Via sungguh tak enak hati.


"Never mind, aku seneng kalo bisa bantuin kamu."


mendengar jawaban Danar justru hati Bu Harni yang berbunga-bunga, hampir saja dia melonjak kegirangan kalo nggak ingat umur. Mereka semua masuk rumah setelah mobil Danar berlalu.


"Kamu dengar kan tadi, Vi? Danar seneng kalo bisa bantuin kamu," menghentikan Via yang hendak menuju kamar menyusul baby Nala yang masuk lebih dulu bersama Tia.


Memutar langkah malas, "udah ya Bu, jangan bahas Danar lagi, please."


"Kamu itu aneh, nggak mau ibu jodohin sama Danar tapi kamu kayak ngasih harapan sama dia."


"Maksud ibu?" menatap sang bunda jengah, "aku nggak pernah ngasih harapan apa-apa sama dia."


"Kamu minta Danar anterin Nala ke rumah sakit malem-malem, apa itu nggak sama kayak ngasih harapan? Secara nggak sadar kamu udah nunjukin kalo kamu itu butuh dia, butuh Danar untuk menggantikan Mirza,"


"Astaghfirullah, Bu. Itu nggak seperti yang ibu pikirkan," beristighfar coba bersabar. "Kemarin yang nelpon Danar itu Firman, bukan aku. Aku minta tolong Firman tapi dia pas ada sift malam, makanya Firman nyuruh Danar buat anterin aku sama Nala, karena kondisi Nala udah kejang-kejang," ungkap Via berharap ibunya tak menduga yang aneh-aneh lagi.


"Tapi kenyataannya tetap Danar yang selalu ada buat kamu kan? Buat Nala juga, jadi kamu nggak usah mengelak lagi, buka hatimu untuk Danar dan luka hatimu karena Mirza pasti akan sembuh. Danar adalah lelaki pengganti yang tepat buat kamu," agak melunak diakhir kalimatnya dengan sorot mata dibuat selembut mungkin untuk meluluhkan Via.


Memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyit nyeri, "terserah ibu mau bilang apa," memilih segera masuk kamar enggan melanjutkan perdebatan dengan ibunya yang selalu punya seribu satu macam jurus untuk mewujudkan keinginannya.


💕💕💕


Sampe sini dulu ya, dear...


Maaf kalo kurang greng, masih pemanasan setelah 3 bulan mati suri 🤭🤭 butuh perjuangan ekstra untuk bisa nulis lagi 😅

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya, vote juga bila berkenan 🙏🥰


I love you all as always 😘😘


__ADS_2