
Mirza dan Via menunggu di depan ruang IGD dalam puncak kekhawatiran. Mereka tak henti meluncurkan doa-doa terbaik untuk keselamatan Bu Een yang terbaring di dalam sana. Via yang sejak dari TKP memang kondisinya sudah lemas, duduk menyandarkan kepalanya pada dinding dengan mata terpejam. Mirza di sampingnya berkali-kali mengusap kasar wajahnya seolah ingin mengusir gundah dari pikirannya. Perlahan Via menegakkan posisinya membuka mata melihat sang suami yang kusut.
“Mas …” menyentuh pundak Mirza dengan tatapan sedih.
“Sayang – “ meraih jemari Via meremasnya, kedua matanya memerah. “Kamu pulang aja ya?”
Via menggeleng. “Aku mau nungguin ibu.”
Terdengar pintu dibuka mengalihkan fokus mereka. Seorang dokter keluar, disusul brangkar yang didorong dengan langah-langkah cepat dua orang perawat menuju ruang ICU. Mirza segera bangkit memburunya.
“Gimana keadaan ibu saya, Dok?” Tanya Mirza panik menghentikan langkah sang dokter.
Dokter itu mendesah berat, dari raut wajahnya saja Mirza sudah tau kondisi ibunya pasti tak sebaik yang ia harapkan.
“Ibu Anda kami pindahkan ke ruang ICU, mari Anda ikut ke ruangan saya dulu.” Ucap dokter itu mendahului melangkah.
“Sayang, kamu tunggu disini.” Meninggalkan Via yang masih setia duuduk di kursi tunggu.
Dokter laki-laki itu usianya tidak lebih muda dari Mirza, penampilannya menegaskan bahwa ia benar-benar seorang dokter dengan jas putih, kacamata bertengger di hidung mancungnya dan garis tegas pada wajah yang cukup rupawan.
“Kecelakaan yang dialami ibu Anda sangat fatal.” Leonard nama sang dokter itu membuka penjelasan, ia dihubungi dokter Burhan untuk terjun langsung menangani Bu Een karena klinik dokter Burhan tidak bisa menangani kondisi Bu Een yang sangat parah tersebut. “Beliau mengalami cidera otak yang sangat serius, fraktur tulang lutut dan tulang selangka.” Sambung dokter Leonard menatap Mirza sejurus.
Mirza hampir tak bisa berkata-kata mendengarkan pemaparan selanjutnya. Persaannya hancur, dadanya berdenyut nyeri menegetahui kenyataan yang menimpa ibunya. Seperti apapun perlakuan ibunya selama ini terhadapnya, tetep saja wanita yang sedang terbaring tak berdaya itu adalah ibu kandungnya.
“Saat ini ibu Anda sedang mengalami masa kritis. Saya membutuhkan persetuajuan Anda sebagai pihak keluarga agar kami bisa mengambil tindakan selanjutnya, karena kemungkinan besar kami harus melakukan medically induced coma pada ibu Anda.”
“Mediccally induced coma, Dok?” Ulang Mirza ingin meyakinkan, sebagai orang dengan latar belakang pendidikan di bidang kesehatan tentunya Mirza juga paham dengan istilah tersebut, ia hanya tak mengira jika ibunya harus mendapatkan penanganan seperti itu.
“Benar. Tindakan ini dilakukan untuk menyelamatkan otak dari kerusakan yang lebih parah kerena cidera otak yang mengakibatkan peningkatan tekanan di dalam tempurung kepala. Dalam kondisi tersebut otak bisa beristirahat dan diharapkan pembengkakannya bisa berkurang.”
“Berapa lama ibu saya harus dalam kondisi seperti itu, Dok”
Dokter Leonard menghela napas, menyandarkan pungungnya pada sandaran kursi empuknya “Saya belum bisa memastikan, namun melihat kondisi ibu Anda kemungkinan besar bisa lebih dari seminggu.”
Mirza terdiam, ia mengingat kondisi mengenaskan ibunya yang terlempar jauh sampai ke kolong truk hingga penyelamatannya berlangsung dramatis. Beruntung sopir truk sigap menginjak pedal rem sehingga tubuh sang ibu tidak sampai terlindas. Adalah suatu mukjizat besar bagi ibunya bahwa nyawanya masih setia pada raganya walau kondisinya sangat parah.
“Namun kami belum bisa melakukan tindakan operasi karena kondisi ibu Anda masih sangat kritis. Saat ini tindakan medically induced coma adalah yang paling tepat.” Sambung dokter Leonard.“Apabila selama dalam masa pemantauan ibu Anda dapat melewati masa kritisnya maka kami akan melakukan operasi tempurung kepala secepatnya.”
“Lakukan yang terbaik untuk ibu saya, Dok.” Pungkas Mirza.
Dokter Leonard megangguk. “Setelah operasi tempurung kepalanya, barulah ibu Anda akan menjalani operasi untuk tulang lutut dan tulang selangka.” Imbuhnya.
Pasrah, itu yang bisa Mirza lakuakan saat ini. Tak banyak yang dapat ia perbuat selain berdoa dan megupayakan yang terbaik bagi keselamatan nyawa sang ibunda. Mirza keluar ruangan dokter dengan langkah lunglai. Sungguh tak ada firasat atau tanda-tanda baginya jika sang ibunda akan mengalami kecelakaan tragis seprti itu. Belum sampai tengah hari tiba-tiba ia mendapat kabar mengejutkan dari Via yang menangis tersedu-sedu mengatakan ibunya mengalami kecelakaan di jalan pebatasan desa.
Ah, ya Via. Kenapa dia bisa berada disana? Mirza baru sadar belum menanyakan perihal keberadaan istrinya yang sedang berada dalam TKP siang tadi. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dia hanya sibuk dengan persaan kalutnya sendiri.
“Sayang.” Mirza menghampiri Via kembali yang tengah duduk sendirian dengan mata sembab karena menangis sedari tadi.
“Mas apa kata dokter?” Via menengadah melihat raut suaminya tidak lebih baik dari sebelumnya. Dia sangat penasaran ingin mengetahui keadaan ibu mertuanya.
“Nanti Mas ceritakan. Tapi sebelumnya Mas mau tau satu hal.” Menatap intens manik sang istri. “Kenapa kamu bisa ada disana saat kejadian?”
“Mas aku minta maaf. Aku bersalah karena tak meminta ijin dulu sebelumnya sama kamu. Selepas kamu pergi kerja aku ke rumah ibu sengaja ingin menemui Sofi.”
__ADS_1
“Untuk apa?” Mirza sedikit kaget.
“Aku ingin dia tahu bahwa aku nggak akan pernah merelakan Mas Mirza menikah dengannya walau apapun yang terjadi. Aku pikir Sofi bisa mengerti dan dia akan cepat pergi dari sana agar ibu tak memperalatnya untuk memisakan kita, tapi nyatanya dia berkeras ingin tetep tinggal disana sampai melahirkan bayinya.” Papar Via panjang lebar.
“Kamu seharusnya tak perlu melakukan hal itu. Kamu tahu kan jika aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkan kamu, berarti selamanya aku akan setia padamu.” Mirza terlihat agak kesal.
“Mas, maafin aku.“ Tertunduk menyesal.
“Lantas ibu – “
“Aku nggak tau kalo ibu nggak ada di rumah, Mas. Selama aku berbincang dengan Sofi ibu nggak kelihatan. Sofi juga nggak bilang apa-apa soal ibu. Mungkin ibu sudah keluar rumah sebelum aku datang.”
Mirza mendesah berat. Ia menyugar rambutnya kasar, gurat kekhawatiran nyata terlihat dari sorot matanya.
“Mas aku mohon, kuatkan hatimu. Kita harus terus berdoa untuk keselamat ibu. Ibu pasti akan baik-baik saja.” Via meraih tangan suaminya untuk memberinya kekuatan.
“Iya, Sayang.” Lirih Mirza, merangkul istrinya.
Dari kejauhan terdengar langkah-langkah menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa, dua orang dengan raut penuh kecemasan menghampiri Mirza dan Via.
“Za, gimana keadaan emak elu?” Pertanyaan Om Jaka membuat keduanya menoleh bersamaan. “Apa dia – “
“Ibu sudah dipindahkan ke ruang ICU, Om.” Sahut Mirza.
“Vi, kamu kayaknya lelah banget.” Denaya duduk di sebelah Via memandang ibu hamil yang memang nampak pucat dan lemas itu. “Kamu udah makan?”
Via menggelang. “Aku nggak laper.”
“Dena, aku minta tolong ajak Via ke kantin rumah sakit ya.” Ucap Mirza.
“Nggak, aku mau disini aja nemani Mas Mirza.”
“Sayang, please.” Sorot mata Mirza memberi titah.
“Vi, bayi yang ada dalem perut elu juga butuh makan. Elu nggak boleh egois.” Om Jaka menimpali.
Akhirnya mau tak mau Via pergi ke kantin rumah sakit ditemani Denaya, sementara Mirza dan Om Jaka melangkah meninggalkan depan ruang IGD menuju ruang ICU.
“Suster, apa ibu saya sudah boleh dijenguk?” Tanya Mirza pada seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan ibunya.
“Maaf Pak, untuk saat ini belum. Mungkin besok pagi setelah kunjungan dokter.”
Mirza mengangguk, suster pun berlalu. Om Jaka mengajak Mirza duduk di kursi depan ruangan ICU.
“Za, gue nggak nyangka Mbakyu akan mengalami kecelakaan tragis seperti ini.” Raut Om Jaka penuh rasa simpati. Sama halnya Mirza dan Via, ia pun meski kerap mendapat perlakuan kasar dari sang Mbakyu tetap saja hatinya merasa tak tega dengan musibah yang baru saja menimpa Mbakyunya itu. “Elu yang sabar ya, kita berdoa mohon kesembuhan buat emak elu.” Menepuk pundak Mirza sebagai wujud dukungan pada sang keponakan semata wayang.
“Iya Om, makasih.” Tersenyum walau agak dipaksakan. Lantas ia menceritakan perihal keadaan ibunya seperti yang dipaparkan oleh dokter Leonard sebelumnya.
“Astaghfirullah ….” Om Jaka mendesah berat, ternyata keadaan Mbakyunya lebih parah dari yang ia bayangkan. Om Jaka sangat mengerti Mirza yang sangat terpukul, ia memberikan support penuh pada Mirza ikut menunggu Bu Een selama dalam perawat di ruang ICU.
Waktu terus merambat perlahan, matahari tenggelam digantikan cahaya bulan yang berpendar remang pada langit malam. Via diantar pulang oleh Denaya setelah Bu Harni yang dihubungi Mirza sebeumnya mengabarkan sudah tiba di rumah kontrakan Via.
Via melalui malamnya dengan gelisah, Bu Harni yang mengetahui kegundahan hati anaknya berinisiatif untuk menemani Via tidur di kamarnya namun Via menolak.
__ADS_1
“Ibu bikinin teh anget ya kalo gitu?” Tawar Bu Harni.
“Nggak usah, Bu. ibu tidur aja.” Lagi-lagi Via menolak.
“Mana bisa ibu tidur kalo kamu gelisah kayak gitu.” Bu Harni setengah kesal. “Sebaiknya istirahatkan dulu badanmu Vi. Ingat, kalo kamu nggak tenang gitu bayi kamu juga ntar ikut nggak tenang di dalem.”
Dalam hati Via membenarkan juga ucapan ibunya.
“Lagian kan ibu mertua kamu udah ada Mirza dan Jaka yang jagain, ngapain kamu pake ikut repot mikirin dia?”
“Bukanya gitu, Bu. Aku cuman kasihan sama Mas Mirza kalo sampe ibunya kenapa-napa dan aku nggak ada disisinya.” Lirih Via dengan raut sedih.
“Malah bagus kalo sampe mertua kamu itu kenapa-napa, sukurin!” Ketus Bu Harni.
“Bu! ibu kenapa sih nggak ada rasa simpati sedikit aja buat Bu Een?” Via memandang ibunya tak habis pikir.
“Kamu itu yang kenapa?” Bu Harni balas menatap tajam. “Kamu amnesia atau apa, ibu mertua kamu itu jahat banget sama kamu! Dari dulu sampe saat ini dia itu selalu aja mau misahin kamu sama Mirza! Kamu lupa dengan semua perlakuan kasarnya sama kamu? Kamu lupa gimana dia menghina keluarga kita, menghina almarhum ayah kamu?” Bu Harni jadi terpancing emosi.
Via langsung tersentil, bukan ia mau melupakan semua kisah pahit dalam perjalanan rumah tangganya bersama Mirza. Hanya saja sisi kemanusiaannya saat ini lebih dominan, ia sungguh tak tega dengan keadaan ibu mertuanya. Terlebih lagi pada suami tercintanya yang pasti sangat terpukul sekali dengan kejadian tragis ini.
"Heran, kenapa juga Tuhan kasih dia selamat dari kecelakan itu? kenapa nggak dibikin mati aja sekalian! Biar manusia jahat berkurang satu di dunia ini!”
“Cukup, Bu!” Via tak tahan mendengar gerutuan ibunya yang penuh dengan doa-doa buruk untuk sang ibu mertua.
“Kenapa? Kamu nggak terima ibu ngarepin dia mati?” Bu Harni semakin kesal. “Nanti kalo dia sampe bisa sehat lagi, kamu pasti nyesel! Manusia kayak dia nggak akan insaf dengan gampang. Kamu pegang kata-kata ibu kalo kamu nggak percaya!”
Via sungguh kecewa dengan sikap ibunya. Dia mengerti bahwa selama ini kedua wanita yang berstatus besan itu memeng tak pernah akur, tapi bukan berarti ibunya bisa semena-mena mendokan yang tidak baik untuk Bu Een.
“Bu, daripada ibu berbicara seperti itu kenapa ibu nggak mendoakan yang baik-baik saja buat ibunya Mas Mirza? Karena setiap doa baik akan memberikan kebaikan juga pada kita, Bu.” Via melunak, menatap memohon pengertian dari sang ibunda.
“Kan tadi ibu udah bilang, kalo sampe ibu mertua kamu itu sadar dari koma dan sehat lagi dia pasti kembali jahatin kamu! Jadi doa ibu sia-sia, percuma! Karena yang ada kamu malah akan semakin menderita!” Bu Harni tetap kekeh pada pendapatnya sendiri.
“Berarti dengan begitu secara nggak langusung Ibu udah mendoakan Bu Een untuk nggak bisa insaf dan bertaubat dari semua perbuatannya selama ini.”
“Bukan karena doa ibumu ini, tapi emang dasarnya mertua kamu aja yang udah jahat sejak dari lahir!”
“Bu – “
“Sudah! Ibu nggak mau debat lagi sama kamu, mendingan sekarang kamu cepet tidur!” Pungkas Bu Harni beranjak keluar dari kamar Via.
Via menghela nafas panjang, ia sungguh menyayangkan sikap ibunya. Namun dia juga tak ingin menyalahkan Bu Harni sepenuhnya, rasa sakit dan malu yang sudah tertoreh sedemikin dalam dihati sang ibunda membuat sikapnya keras seperti itu. Tapi salahkah jika dirinya mengharapkan setelah kejadian tragis ini kelak ibu mertuanya akan menyadari segala kesalahan-kesalahannya? Bersikap baik pada dirinya dan keluarganya? Juga tak akan lagi berusaha memisahkannya dari Mirza? Wallahu a’alam bishawab …
Via menata perasaannya, coba memejamkan mata setelah membaca doa sebelum tidur, mencari posisi ternyaman seraya menarik selimut sebatas pinggang dan memeluk gulingnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏
Like😊
Komen😍
Vote🤩
__ADS_1
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘