
Like dulu Kak, takut lupa 🤭🤭
up 2 episode lho .... 😍😍
_____
Kesibukam mulai terlihat hari itu di kediaman Haji Barkah. Pak Haji dengan usia kepala 7 yang masih enerjik itu nampak sedang bebicara pada 2 orang karyawan tokonya dengan wajah yang sangat serius ketika Om Jaka muncul dari dalam rumah.
“Jaka, sini.” Panggil Haji Barkah begitu melihat Om Jaka.
“Ya, Pak Haji.” Sahut Om Jaka mendekat.
“Kau sudah mengurus dokumen untuk pernikahan?”
“Sudah beres, Pak Haji.”
“Bagus, kalau begitu pergilah untuk fitting baju dengan Dena. Tono akan mengurus ijin di masjid untuk akad nikah kalian dan Rojak akan menghendel toko selama Dena sibuk dengan kamu mempersiapkan semuanya.” Papar Haji Barjah menyebut dua orang anak buahnya itu.
“Baik, kalau begitu kami pergi sekarang Pak Haji.” Ucap Om Jaka.
Pak Haji mengangguk. Om Jaka baru saja akan ke dalam mencari Denaya ketika Denaya muncul di teras rumah dengan secangkir kopi hitam untuk calon suaminya itu.
“Ayo kita pergi sekarang.”
“Kemana, Mas?” Tanya Denaya bingung.
“Pak Haji menyuruh kita untuk fitting baju.”
“Ih, Mas Jaka ini udah dibilangin jangan panggil ayah dengan sebutan Pak Haji juga.” Dena merungut agak kesal. “Panggil saja ayah, karena ayah kan akan jadi ayah Mas Jaka juga.”
Om Jaka malah cengengesan.
“Gue belum terbiasa.” Ucapnya sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
“Tuh kan, gue lagi. Jangan pakai gue ah, aku nggak suka Mas., Itu terkesan …., emmm apa ya…” Denaya memilih kata yang pas untuk menggambarkan perasaannya.
“Baikah, gue ehh.. aku paham maksud kamu, sayang.”
Pipi Denaya merona merah begitu dipanggil sayang.
“Mas jangan panggil sayang ah, aku geli mendengarnya.” Denaya senyum malu.
“Itu bagus, romantis kan?”
Denaya menggeleng. “Kita bukan pasangan ABG lagi Mas.”
“Mirza juga bukan ABG tapi panggil sayang sama istrinya.” Ungkap Om Jaka nggak mau kalah.
“Pokoknya nggak, aku malu.” Denaya menunduk.
“Oke, bagaimana dengan darling, baby, cintaku, my love, honey, bunny atau sweety, sweet heart?”
“Ah udah deh terserah Mas Jaka aja.” Kekeh Denaya akhirnya menyerah. “Ini kopinya diminum dulu tapi.” Lanjutnya memberikan cangkir kopi yang sedari tadi dipegangnya.
Om ajaka menerimanya dengan senyuman lantas langsung menyeruputnya.
“Hemm…, ini enak sekali, Honey.” Om Jaka memuji kopi buatan calon istrinya.
Denaya langsung melotot mendengar dirinya dipanggil honey.
“Kenapa? Itu kedengeran bagus kan?” Om Jaka nyengir. “Mulai sekarang kamu harus terbiasa.” Om Jaka memainkan kedua alisnya turun naik membuat Denaya terkekeh kecil sambil menutup mulutnya dnegan telapak tangan kanannya.
Tanpa mereka sadari, tingkah mereka itu ternyata diperhatikan tiga pasang mata yang tak begitu jauh dari mereka.
“Mereka serasi sekali ya, Pak Haji.” Puji Tono yang melihat Om Jaka dan Denaya saling padang dengan senyuman yang merekah.
“Alhamdulillah.” Pak Haji beucap syukur lantas kembali bericara dengan dua nak buahnya itu.
Om Jaka dan Denaya pun masuk ke dalam.
“Sebentar ya, Mas. Aku ganti baju dulu.” Ucap Denaya.
__ADS_1
“Nggak usah lah, kamu cantik pakai baju apa aja kok, Han.” Celetuk Om Jaka.
“Ih, nggak mau. Udah, Mas Jaka tunggu disini dulu.”
“Eh, sebentar Han.” Cegah Om Jaka. “Gimana kalo kamu jangan panggil aku Mas.”
“Lalu musti panggil apa? Akang? Abang atau …”
“Bebeb.”
“Apa?” Denaya melotot. “Janga yang aneh-aneh lah Mas. Kita bukan anak ABG lagi ku bilang.” Denaya kesal.
“Ya udah, kalo gitu pergi aja fitting baju sendiri.” Om jaka ngeloyor cuek duduk di kursi tamu dengan santai sambil menikmati kembali kopi hitamnya.
Denaya mengehela napas tak habis pikir dengan ucapan calon suaminya itu.
Ia memang baru dalam hitungan hari mengenal Jaka Sutrisna calon suamninya itu, tapi ia tahu pilihan ayahnya tak mungkin salah. Meski status calon suaminya itu duda, tapi entah mengapa Denaya merasa sangat nyaman dan hatinya langsung sreg dengan sifat Om Jaka yang dewasa dan kadang menggemaskan seperti barusan. Terlebih lagi setelah ia melewati beberapa malam dalam shalat istikharahnya untuk meminta petunjuk menerima atau menolak usulan ayahnya dan ternyata hasilnya sama, ia yakin Jaka adalah pilihan yang tepat. Maka Denaya yang memang sudah bukan Abg lagi, usianya 32 tahun sekarang, bersungguh-sungguh dalam hatinya akan menerima segala baik buruk calon suaminya itu.
“Baiklah, bebeb ..” Lirih Dnaya agak ragu.
Om jaka langsung mengalihkan perhatiannya, memandang Denaya lalu senyum lebarnya mengembang sempurna.
“Oh, manis banget kedengarannya.”
Denaya hanya tertawa kecil lantas segera menuju kamarnya untuk ganti baju.
__________
“Hey, halo tetangga baru?” Sapa suara seorang ibu pada Livia yang sedang membersihkan halaman depan.
Via menoleh pada sumber suara, dan tersenyum agak ragu.
“Oh halo, Bu.”
Yang dipanggil Bu itu lantas mendekat dan memperkenalkan diri.
“Kenalkan, saya Jelita Manjawati. Rumah saya di pojokan gang ini.” Bu Jelita Manjawati itu mengulurkan tangannya dengan senyum membingkai bibirnya yang berwarna merah membara.
“Jangan panggil Bu, panggil Jeng saja.” Protes Bu ehh Jeng Jelita Manjawati.
“Baiklah, Jeng.” Ucap Via.
“Oya, kalau ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan saya ya, Jeng Via.”
Via mendadak jadi merasa aneh dipanggil Jeng, tapi karena tak ingin menyinggung ia hanya mengagguk sambil tersenyum.
“Wah, ini motornya baru ya?” Mata Jeng Jelita Manjawati berbinar melihat motor yang baru dibeli Mirza kemarin.
Belum sempat Via menjawab, si Jeng Jelita Manjawati itu nyamperin itu motor dan mengelus-elus body motor dengan perasaan mupeng.
“Wow, ini motor keluaran terbaru NDAHO BMX yang limited edition itu ya? Kok bisa sih kamu Jeng dapet motor ini? Padahal saya udah indent dari dua bulan yang lalu belum dapet-dapet lho. Rencanaya saya juga mau beli tiga. Satu buat anak saya sekolah, satu buat saudara saya, sama satu lagi buat saya kalo mau pergi-peri yang deket-dekat sini aja. Kan kalo pake mobil agak ribet ya, kurang praktis.” Oceh si Jeng Jelita Manjawati itu.
Via jadi makin keder menanggapi tetangga barunya itu. Kok ada ya mahluk kayak Jelita Mnjawati itu? Pikir Via aneh sendiri.
“Baru dua hari pindah udah beli motor aja. Emang suami kamu kerja dimana Jeng? Kalo suami aku mah kerja di pengeboran minyak lepas pantai gitu, jadi wajar kan kalo mau beli motor tiga biji, gajinya dia banyak soalnya, nggak kehitungan. Udah gitu pake dolar pula. Sampe nggak bisa dihutung pake kalkulator jeng kalo dikurskan dengan rupiah, haha…” Jeng Jelita Manjawati itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan jari-jarinya yang dipenuhi cincin-cincin segede biji kelereng. Sengaja banget kan, dia mau pamerin cincinya yang berjejer itu??
Tapi lantas tawa Jeng Jelita Manjawati terhenti manakala melihat kedatangan Yanti.
“Halo, Vi.” Sapa Yanti menghampiri.
"Eh, Yan. Mau kemana?" Balas Via.
“Sengaja mau ke sini. ini aku bawain sup kacang merah. Bagus lho buat ibu hamil.” Yanti menyodorkan wadah tupperber pada Via.
“Makasih ya, pake repot-repot segala, Yan.”
“Ah, nggak. Kebetulan aja kok, tadi pagi Mas Firman minta dibikinin sop kacang merah soalnya.
"E-ekhm.” Deheman yang dibuat-buat oleh Jeng Jelita Manjawati mau tak mau menyita perhatian Via dan Yanti.
“Kalo bikin sup tuh yang rada elit begitu lho. Kayak saya dong, sup jamur shitake, sup iga sapi.” Nyinyir Jeng Jelita Mnjawati, haduh ribet amat ya. Kepanjangan nih, othor singkat aja ya sebut nama dia Jeng Jeli gitu.🤣
__ADS_1
Kontan saja Yanti menatap Jeli kesal.
“Kenapa? Belum pernah kan, masak jamur shitake? Ya lah mehong harganya, haha…” Jeli kembali tertawa sambil belagak menutup mulutnya sok elegan padahal niat banget meperlihatkan jejeran cincinnya yang berjejer di jari jemari tangannya yang montok itu.
Yanti makin kesal dengan perempuan 40 tahunan yang semok montok simolokotok itu.
“Tenang aja, nanti saya bikinin buat Jeng Via dan Jeng Yanti deh kalo suami saya pulang dari lepas pantai. Soalnya dia juga suka banget sama sup jamur shitake.”
“Nggak usah, makasih. Saya mau bikin sup sendiri.” Sahut Yanti sebal.
“Oya? Mau bikin sup jamur shitake?” Jeli tak percaya.
“Bukan, sup buntut kuda!”
Sontak saja Jeli memelototkan matanya.
“Hah! Mana ada? Sup buntut kuda!”
“Terserah saya dong, saya yang bikin sup, kenapa situ yang heran?” Kesal Yanti.
Jeli langsung ngiyem, tapi dasarnya dia suka caper lantas mulai lagi dengan ocehannya.
“Eh, apa tadi, Jeng Via lagi hamil ya? Duuh, kasihan kalo pergi-pergi naik motor, capek dan panas Jeng. Pake mobil saya aja ya. Ada tuh di garasi nganggur terus kalo suami saya nggak ada. Pake aja Jeng, nggak usah bayar. Kita kan tetangga.” Jeli mulai lagi.
“Makasih tawarannya, tapi saya lebih suka naik motor.” Tolak Via halus.
“Ye, Jeng Via ini gimana sih? Saya kan peratian. Kasian dedek bayinya, nanti kecapekan, naik motor kan bisa terguncang-guncang. Apalagi kayaknya masih hamil muda, rawan lho Jeng. Udah, pake aja mobil saya. Ada 4 tuh, silakan pilih aja mau yang mana.” Jeli sedikit memaksa. “Eh, tapi yang di rumah cuman tinggal satu sih. Yang lainnya dipinjem sodara, sama yang duanya dititipkan ke orang tua dan mertua saya. Habisnya gimana, nggak muat di garasi rumah.”
“Udah, ngocehnya?” Yanti nggak tahan dengan Jeli yang semakin menjadi-jadi.
“Eh, kok kamu sewot sih, Jeng? Saya kan cuman berniat baik.” Jeli nggak terima.
“Niat baik apa pamer?” Sinis Yanti.
"Ye, siapa yang pamer?" Elak Jeli.
"Ya situ, siapa lagi?"
"Enak aja! Situ sensi amat jadi orang!"
"Situ norak! Sok gaya!"
“Wah ada apa ini rame banget ibu-ibu?” Tanya Mirza yang baru mencul karena mendengar keributan kecil di depan rumahnya.
“Wow! Chico Jerico!” Seru Jeli begitu melihat tampang Mirza muncul ditengah mereka. “Mas Chico kamu ngontrak rumah di sini? Kenapa nggak ngontrak dihatiku aja?” Tanpa malu si Jeli langsung menghampiri Mirza.
“Eh, ada apa ini?” Mirza malah jadi bingung, tiba-tiba disamperin ibu-ibu bohay dengan gaya sok kenal.
“Hoy, Julita! Dia ini suaminya Via jangen macem-macem ya!” Sentak Yanti jengkel.
“Apa? Jadi Mas ganteng, eh Mas Chico ini suaminya Jeng Via?” Jeli kaget tak percaya.
“Namanya Mirza, bukan Chico!” Sela Yanti masih dengan kejengkelannya. “Udah, pulang sana kamu Julita, jangan ganggu rumah tangga orang!” Usir Yanti.
“Hey, nama aku Jelita, bukan Julita ya! Jelita Manjalita.” Ralat si Jeli pada Yanti. “Ingat namaku baik-baik ya Mas Chico ganteng!” Lanjut si Jeli sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
______________
Aiiishhh..... ada-ada aja ya kelakuan tetangga baru?🤣🤣
Siapa yang penasaran sama visualnya Mirza?
untuk sementara bayangin Chico Jerico dulu deh yaaa... 😂😂
yuuk ahh lanjut lagi, hari ini up 2 bab lho 😍
Kalo belum nongol berarti masih nyangkut di review 😅😅
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Kak 😉😉
luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1