TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
200 #PERTENGKARAN


__ADS_3

Hi, readers ...


Mohon maaf othor belum bisa bikin end ceritanya di bab 200 ini. Yang ngerasa terlalu muter-muter dan bosen sama jalan ceritanya boleh melipir ke pinggir yaa… tapi jan minggir-minggir amat ntar kecebur 😆😆


Kok alurnya kesannya lambat banget ya thor?


Emang iya. Lebih lambat dari jalannya siput mo lahiran. Ehe! 😅


karena tokohnya kebanyakan kali? Iya mungkin, dan othor bikin semua tokohnya punya cerita dan konflik sendiri jadi bleberan ampe tumpeh-tumpeh dah episodenya. 😝


Jadi nupel ini keknya bakal masih terus selama beberapa episode lagi kedepan. Yaa… mungkin sekitar 100, 200 atau 300 episode lagi deh, wkkkkkk🤣🤣🤣


Siap-siap yaa… pegangan yang kenceng, setelah episode 200 nanti bakal ada yang bikin ilfil.🤭 Biasanya kalo lagi nonton drama sih langsung ambil remote terus dimatiin TV nya karena kagak mau liat protagonistnya menderita, yakaaan….


Hayo ngaku ada enggak emak-emak yang kek gitu??


Kagak ada? Yeh brarti cuman othor doang yang kayak gitu 😁😁


Tapi tenang, othor udah sering bilang yekan... pasti happy ending buat semuanya. Cuman kudu muter dulu. namanya juga mau goal, ya kudu ada perjuangannya dong, biar sedep pas masuknya. Ehe! 😅


Oke dah tanpa ngecepoh lagi langsung aja ya…


MarKiJut …. Mari Kita Lanjut …..😘


❤️❤️❤️❤️❤️


Jam makan siang kantor sudah lewat beberapa menit yang lalu, Danar masih berkutat dengan tumpukan berkas di mejanya. Sekretarisnya sudah mengingatkan jadwal pertemuan dengan klien selepas jam makan siang nanti.


“Iya, aku nggak lupa kok.” Ucap Danar tanpa melihat pada sang sekretaris. “Biar aku selesaikan dulu ini sebentar, lalu aku makan siang.”


“Baiklah, kalau gitu saya permisi.” Sang sekretaris minta diri.


Danar mengangguk masih dengan tatapan tak berpindah dari ketas di depannya.


Milen yang baru kembali ke mejanya untuk mengambil ponsel yang tertinggal melihat sekretaris keluar dari ruangan Pak Bos sendirian dengan wajah agak masam.


“Cih, palingan ajakan makan siang dia ditolak sama Pak Bos. Jangan ngarep deh lo!” Gerutu Milen mencibir pada si sekretaris yang sudah menjauh.


Milen lantas mengambil ponselnya dan Iseng dia mengintip ke ruangan Danar sambil lewat hanya untuk memastikan Pak Bosnya itu masih berada di ruangannya atau tidak. Tentu saja sia-sia, ruangan yang tertutup rapat itu tak memberikannya celah untk kepo. Milen memilih lekas turun ke loby menemui Cila dan Vony yang sudah menunggunya di sana.


“Si Milen lama banget sih cuman ngambil HP doang?” Cila ngedumel.


“Jangan-jangan dia malah lagi video callan sama cowoknya yang sok ganteng itu?” Tebak Vony kesal. “Udah yok kita tinggal aja!” Vony menggeret lengan Cila.


“Eeh, bentar. Itu dia tuh dateng orangnya!” Tunjuk Cila pada Milen yang baru muncul .


Mereka bertiga pun berajak namun sebelum mencapai jauh ketiganya dibuat melongo dengan kedatangan sesesok mahluk Tuhan berpenampilan seksi dan cantik manjalita. Mereka kompak mengerem langkah dan bagai terhipnotis mengekori langkah si perempuan seksi nan cantik itu dengan tatapan mata meraka, begitu juga dengan beberapa karyawan yang lain yang kebetulan berada di lobi.


“Siapa ya dia? Kayaknya baru kali ini liat?” Vony tak bisa menahan jiwa keponya.


“Mungkin rekan bisnisnya Pak Bos.” Tebak Milen.


“Kalo rekan bisnisnya cantik gitu alamat pupus dong harapan gue?” Vony tetiba jadi insecure.


“Jadi makan siang nggak kita?” Cila ambil suara. “Kalo kalian kepo, tanya aja tuh sama dia langsung.” Cila mendongak pada si perempuan 6 cantik yang tak lain adalah Grace yang sedang berbicara dengan reseptionis.


“Berani kagak lo?” Tantang Milen pada Vony.


Vony meringis seraya menggeleng kemudian lekas menyusul langkah Cila yang sudah jauh di depan.


“Maaf, Ini jam makan siang. Silakan kebali lagi nanti untuk menemui Pak Danar setelah jam makan siang.” Ucap Mbak reseptionis pada Grace.


“Begitu ya?” Grace menarik diri, niatnya datang kan memang untuk mangajak Danar makan siang, tapi justru nggak diperbolehkan menemui. Ia segera menggapai gawainya, namun belum juga sempat menelpon seseorang, Bu Elin muncul dari lorong melihat pada Grace dengan tatapan berbinar.


“Grace?” Sapanya sedikit surprise.


“Tante Elin? Kebetulan banget, aku kesini untuk ngajak Tante dan Danar makan siang.” Balas Grace tak kalah senangnya. “Maaf tak memberi kabar dulu, aku hanya ingin buat surprise.” Imbuh Grace dengan senyum menawan.


“Tentu saja Danar pasti surprise. Cepat ke atas, temui dia.” Dukung Bu Elin.


“Tante …”


“Kalian saja.” Potong Bu Elin memberi semangat. “Tante sudah ada janji sama Om kamu. Cepat kesana, Danar masih di ruangannnya dan Tante yakin dia belum makan siang.”


Grace segera menuruti saran sang Tante, mereka berpisah saling berpeluk dan melempar senyum tentu saja membuat sang reseptionis keheranan.


“Lain kali jika dia kemari, jangan pernah menyuruhnya menunggu.” Ujar Bu Elin pada si resepsionis seolah tau apa yang sebelumnya terjadi.


“B-baik, Bu.” Jawab resepsionis agak terbata.


Suasana kantor lengang di jam makan siang, Grace sudah mencapai lantai 4. Dengan cepat dia menemukan ruangan Danar. Danar yang baru saja selesai menghempaskan semua tumpukan berkasnya mendesah ringan seolah mengusir kepenatannya selama setengah hari ini.


Ia bangkit meraih jasnya, masih cukup untuk makan siang dan shalat dzuhur. Langkah kaki Danar mencapai pintu dan tangannya hampir menggapai handelnya ketika seseorang membukanya dari luar.


Ceklek


Wajah cantik serupa bidadari kesiangan muncul di depan tampangnya dan sukses membuat danar kaget.



“Hi. Mau makan siang bersamaku?” Sapa Grace dengan senyuman dan tatapan mata yang …. Aaakh, sungguh anu…. 🤭🤭


Bukannya Danar menjawab dia malah tertegun. Apakah si babang juga terhipnostis?


“Oh, maaf aku lupa ketuk pintu tadi.” Ucap Grace karena Danar masih terpaku di depannya.


Danar memutar langkahnya, urung keluar ruangan.


“Kamu belum makan siang kan?” Grace ikut masuk.


“Belum, tapi aku nggak mau makan siang bersamamu.”


Uhuk!


Sabar, Grace. Si babang Danar sensinya belom abis-abis… Kek emak-emak lagi PMS pas tanggung bulan bojonya belum gajian. Ehe! Itu mah gue 🤭 😆😆


“Oke, kalo gitu aku tunggu disini aja, kamu boleh keluar untuk makan siang.” Grace malah duduk di sofa seolah tak peduli dengan sikap dingin Danar padanya.


“Setelah makan siang aku langsung meeting, kau jangan menungguku.” Danar berjalan menuju jendela, melemparkan pandangan ke luar.


“Kalo gitu aku tunggu kamu sampai selesai meeting.”


Danar tak menyahut, ia pura-pura tak mendengar. Harus dengan cara apalagi ia membuat Grace pergi darinya. Grace mengembangkan senyum, ia dekati pria perpaduan kutub utara dan selatan itu dengan langkah meliuk-liuk bak kucing berjalan (catwalk maksudnya 😅).


“Danar …” Usapnya lembut pada bahu Danar, perlahan tangannya turun menjamah dada sang lelaki pujaan hati yang terbungkus jas hitam itu.


SREET …


Tatapan mereka bertemu, keduanya mematung dalam kebekuan. Jemari lentik Grace bermain di dada sang mantan, Danar mundur selangkah, Grace maju mengikis jarak diatara mereka. Posisi Danar tersudut mentok pada dinding di belakangnya.



Untuk sesaat, Danar seperti tak kuasa menolak pesona sang mantan yang memang masih menyisakan setitik rasa dalam relung hatinya. Ia melirik pada jemari Grace yang merayap lembut menyentuh kancing kemejanya. Sejurus kemudian pandangan tajamnya ia arahkan pada netra Grace yang menatap sayu penuh damba.


“Berhenti, Grace!” Ucapnya tegas mencekal pergelangan tangan kanan Grace. “Apa tinggal di luar negri membuatmu kehilangan moral dan kesopananmu?”


Gluk!


Grace tercekat, ia menatap lekat irish coklat sang mantan dengan pandangan goyah seraya tak percaya dengan kalimat yang baru saja didengarnya.


“Danar, aku ….”


“Kau boleh pergi dari sini.” Danar menghempas tangan Grace dan berjalan cepat ke arah pintu untuk membukanya lebar-lebar. “Masih bagus aku mengusirmu dengan cara baik-baik.”


Grace sungguh sangat malu! Ia menyesali tindakan konyolnya. Danar ternyata masih seperti dulu, tak mudah diluluhkan. Grace segera ambil langkah seribu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia mengusap matanya yang berkabut tak ingin siapapun melihatnya menangis.


“Aarrgh…!”


Bugh!


Danar melampiaskan kekesalannya dengan meninju tembok di belakangnya. Ia menyugar rambut frustasi. Kenapa Grace harus bersikap seperti itu padanya? Kenapa dia hampir membuat Grace manangis? Grace memang sudah terlalu berani, tapi tak seharusnya ia menyakiti Grace hingga membuatnya malu seperti itu. Tapi Grace pantas mendapatkannya! Rasa malu dan sakit hati Grace belum seberapa dengan yang diterimanya beberapa tahun lalu ketika Grace menolak lamarannya di depan banyak orang.


Danar menghempaskan diri di sofanya, moodnya mendadak kacau. Monolog hatinya terus berperang antara perasaan dan egonya. Jika saja Gracce bersikap lebih sopan padanya mungkin Danar bisa memberinya celah untuk Grace memperbaiki dirinya. Ya, mungkin saja.


❤️❤️❤️❤️❤️


Sore hari yang cerah Via baru saja selesai memetik terong hasil dari kebun samping rumahnya. Pandangannya kini tertuju pada ember di dekat kran air, gegas Via mengisinya untuk menyiram tanaman sayurannya. Namun sebelum ia mengangkatnya Mirza muncul dari dalam rumah.


“Mau ngapain Sayang?” Tanya Mirza agak curiga.

__ADS_1


“Nyiram tanaman sayur Mas.”


Mirza menutup kran. “Kenapa nggak ambil selang aja? Kamu kan nggak boleh angkat berat-berat?”


“Aku udah sehat Mas.”


“No debat!” Mirza segera membawa ember yang beris air itu dan menyiramkannya pada tanaman sayuran samping rumah. “Lain kali panggil suamimu yang ganteng ini kalau mau apa-apa.” Sekali lagi Mirza mengisi ember dengan air kemudian menuntaskan acara siraman itu, ehh… menyiram sayuran maksudnya.


Via hanya memerhatikan membawa keranjang sayurnya ke teras depan.


“Sayang, cabenya itu udah merah-merah lho. Kenapa nggak dipetik sekalian?” Mirza yang sudah selesai dengan tugasnya duduk di samping sang istri.


“Aku kan ngak boleh kerja yang berat-berat?” Via pasang tampang masam.


“Hemm…, ngambek nih?” Mirza menjawil dagu si istri. “Cuman metikin cabe aja sih boleh kok.”


“Males…” Via meraih keranjangnya ke dalam pangkuan dan menghitung hasil panen terong ungunya.


Mirza tersenyum usil. “Seneng bener sih pegang-pegang terong? Pasti sambil ngayalin sesuatu deh.”


Seketika Via menyipitkan matanya, dan ….


Bugh!


“Aww..!” Mirza tak menyangka bakal digetok kepalanya pake terong. “Kok mukul sih, sayang?”


“Itu buat otak Mas yang ngeres!” Cebik Via.


“Becanda Sayang.” Mirza nyengir. “Senyum dong, jangan ngambek lagi.” Mirza mau menjawil lagi dagu Via namun Via cepat menghindar sebal.


“Ish! nggak usah pegang-pegang!” Omelnya galak.


“Aih, tambah cantik istri Mas kalo lagi ngambek.” Mirza malah menggeser posisinya lebih mepetin Via.


“Nggak usah ngeledek ya? Aku pukul lagi nih!” Via mengacungkan terong bersiap mau mukul suaminya lagi.


“Ampun, Sayang.” Mirza terkekeh seraya meraih tangan Via. “Daripada pegang terong yang ini mendingan pegangin terongnya Mas aja”


“Maaaas ……!” Via sontak memekik gemas, heran betul kenapa sang suami selalu aja kalo becanda ujung-ujungnya selalu mengarah ke nganu.


Keseruan aksi mereka terjeda ketika sebuah mobil pick up berhenti d luar pagar. Kompak mereka menoleh dan langsung berdiri menyambut ketika tau siapa yang datang.


“Ibu?” Via menghampiri Bu Harni seraya mencium punggung tangannya, Mirza segera mengekor. “Ibu kok tau sih aku lagi kangen sama Ibu?” Via menggelayut manja di lengan Bu Harni.


“Ibu kan di telpon sama Mirza tadi pagi? Katanya kamu kangen pingin makan masakan ibu.” Sahut Bu Harni lempeng.


Via melihat suaminya. “Oh…” Hanya itu yang diucapkan Via.


Mirza nyengir. “Lupa ya? Kemarin siapa yang minta dimasakin oseng kates campur teri asin?”


Gentian Via yang nyengir. “Ya udah yuk masuk, Bu.” Ajaknya kemudain.


“Eh, sebentar. Ton, tasnya….”


“Ini Bu, udah saya bawakan.” Toni yang sedari tadi berdiri di belakang Bu Harni memberikan tas Bu Harni yang nggak tau isinya apaan sampe gendut begutu.


“Ayok Ton, masuk dulu.” Ajak Via.


“Eeh, nggak usah. Biar suruh lagsung pulang aja dia, ntar kelamaan.” Sergah Bu Harni.


“Lho, kenapa emangnya? Udah nggak ada pesenan catering lagi kan?” Tanya Via heran.


Toni hanya tersenyum, nggak ngangguk nggak juga menggeleng.


“Biarin istirahat dulu lah Bu, kasihan Toni.” Bela Mirza yang paham kayaknya Toni nggak enak hati sama ibu mertuanya. “Kita ngopi dulu, Ton.” Mirza merangkul bahu Toni mengajaknya masuk.


“Dibilangin nggak usah!” Gerutu Bu Harni yang langsung mengikuti langkah Mirza dan Toni masuk ke dalam.


“Sebentar aku bikinin kopinya dulu ya. kamu harus nyobain kopi hasil racikanku.” Ucap Mirza ngeloyor ke belakang


“Selesai ngopi langsung pulang ya? jangan pake mampir-mampir dulu.” Pesan Bu Harni dengan intonasi galak. “Terus jangan lupa kamu harus jaga jarak sama Riri. Jangan ke rumah kalo saya belum pulang. Jangan ngajakin Riri jalan, jangan nerima orderan, jangan …”


“Banyak amat sih Bu pantangannya?” Sambar Via. “Biarin ajalah Toni deket sama Riri, namanya juga mereka kerja bareng kan?”


“Eeh, nggak bisa!” Elak Bu Harni. “Selama saya nggak di rumah, pokonya kamu jangan coba-coba deketin Riri. Bahaya!”


“Iya, Bu. tenang aja, Ibu nggak usah khawatir.” Toni menyahut patuh.


“Lho, kok sebentar banget sih Bu?” Rajuk Via. “Seminggu apa dua minggu gitu Bu, biar aku puas makan masakan ibu.”


“Nggak bisa, Vi. Ibu takut si Riri ntar berdua-duaan sama Toni, bisa kacau!”


Mirza muncul dengan dua cangkir kopi hitam. “Kalo gitu halalin langsung aja Ton, biar nggak dicurigain mulu sama ibu.” Timpal Mirza dengan senyum lebar.


Toni mendadak jadi kikuk, ia tersenyum menundukkan kepala. Bu Harni langsung pasang tampang juteknya.


“Ya udah, aku anterin ibu ke kamar yuk!” Ajak Via sebelum ibunya ngomel lagi.


Untung Bu Harni mau meski sebelum beranjak ia sempat melayangkan lirikan maut ala ala ibu tiri galak pada si Toni.


“Sabar ya, Ton.” Mirza menepuk pundak Toni. “Kalo kamu emang serius sama Riri, kamu harus perjuangkan cintamu.”


"Mas Mirza kok tau aku sama Riri …”


“Ya tau lah, tiap kamu mandangin si Riri mata kamu itu penuh lope-lope.” Mirza terkekeh membuat Toni makin kikuk. “Tenang aja, aku sama Via dukung kamu kok. Yok, diminum dulu kopinya.” Mirza mengangat cangkirnya dan menyesap dalam kopi hitam buatannya sendiri.


“Hem, Bu Harni orangnya keras ya, Mas? Aku sempet nggak yakin bakal bisa dapetin hati Riri.” Curhat Toni kemudian.


“Terus, sekarang udah yakin?” Mirza kayak lagi ngintrogasi.


“Iya, 90%. 10% nya nunggu restu dari Bu Harni.” Sahut Toni kali ini dengan senyum mengembang pada wajah orientalnya.


“Berarti udah jadian dong kalian?”


Toni senyum lagi. “Aku maunya langsung nikah aja.”


“Wah, keren kamu anak muda! Top!” Puji Mirza seraya mengacungkan jempol kananya.


“Mas Mirza bilang gitu kesannya Mas Mirza itu udah tua banget.” Kekeh Toni, dia terlihat lebih santai sekarang.


“Ya emang lebih tuaan aku kan daripada kamu?”


“Eh, iya maksudnya …. Kayak bapak-bapak gitu ngomongnya.” Ralat Toni.


“Ya emang aku udah bapak-bapak, kan bentar lagi udah mau punya anak. Gimana sih kamu?”


“Hehe…, iya ya?” Toni menggeruk tengkuknya sambil cengengesan, salah mulu dia ngomong.


Mirza memahami calon adik iparnya yang tiba-tiba jadi salting itu. Ia kembali mencubit cangkir kopinya. “Kalo kamu mau cepet dapet restu dari ibu, kamu harus bisa berhasil dulu dari sisi finansial.” Ucap Mirza, kemudian mencondongkan tubuhnya dekat pada Toni. “Soalnya ibu itu matre orangnya.” Suara Mirza agak berbisik takut kedegar si ibu mertua dia, hahaha ….


“Iya, aku tau Mas. Tapi aku bukan berasal dari keluarga kaya raya. Aku baru merintis bisnis catering bareng Riri.” Toni mendadak mellow.


“Nggak masalah. Setidaknya kamu bisa menunjukkan selama Riri bareng kamu, bisnis cateringnya jadi makin maju dan berkembang. Ntar lama-lama ibu pasti sadar akan keberhasilan kalian.”


Toni terdiam sebentar, ia mencerna baik-baik perkataan Mirza. Ia sepaham akan hal itu. ia yakin bisa menaklukkan calon ibu mertuanya. Berbekal dukungan dari Mirza, Toni semakin mantap untuk segera mempersunting gadis pujaannya. Menjelang maghrib akhirnya Toni pamit pulang.


Mirza membawa cangkir kotor menuju dapur, Ia melewati meja makan dan tercium aroma sedap masakan. Hemm.... rupanya ibu mertuanya itu sudah membawa bekal masakan dari rumah untuk makan malam.


Mirza kemudian melongok ke halaman belakang. Bu Harni tampak sedang memanen sayuran kebun belakang Via setelah mengambil beberapa buah pepeya muda. Mirza melihat setidaknya ada 3 buah pepaya muda yang tergeletak pasrah di atas tanah.


“Bu, ini aku bawa ke dalam ya?” Mirza menghampiri ibu Mertuanya.


“Oh, iya Za. Nanti ibu masak besok pagi.”


“Ya udah, masuk yuk Bu udah mau maghrib nih. Ajak MIrza berjalan mendahului.


“Si Toni udah pulang?”


“Udah, barusan.”


“Ibu nggak suka sama dia. Roman-romannya dia mirip si Arya, ibu nggak setuju dia dekat sama Riri. Ntar Riri hidupnya susah kalo sampe nikah sama dia.” Ujar Bu Harni terang-terangan.


“Hem, kalo mereka ternyata jodoh gimana?”


“Nggak bisa! Ibu nggak mau liat Riri hidup menderita, cukup si Tia aja yang hidupnya susah karena ngotot nikah sama Arya.” Tegas Bu Harni lantas meninggalkan Mirza.


Mirza cuman geleng-geleng kepala seraya mengelus ada. Bener-bener 11 12 ibu mertuanya itu sama ibu kandungnya. Apakah semua ibu-ibu yang punya ank gadis itu harus matre, sodara-sodara? Entahlah! Mirza mengayunkan lengakh ke kamarnya. Ia lihat Via baru saja menyalakan laptopnya.


“Udah mandi Sayang?” sapa Mirza.

__ADS_1


“Udah. Mas mandi sana, bentar lagi maghrib.” Via duduk di kursi kerjanya.


“Kamu mau ngapain, Sayang?” Mirza mendekat ikut melihat layar laptop.


“Cuman mau ngecek e mail aja, sekalian mempelajari file kerjaan Mas, takut lupa saking kelamaannya cuti.” Via mulai membuka foldernya.


Deg!


Mirza tetiba disergap perasaan bersalah. Bagaimana pun juga Via harus tau kalau dia sekarang sudah resmi resign, tapi bagaimana cara Mirza mengatakannya? Gimana kalo nanti Via nggak terima dan marah padanya? Ah, tapi ini semua kan demi kebaikannya sendiri dan calon bayinya.


“Mas? Kenapa kok malah ngeliatin aku kayak gitu?” Via tersadar merasa diperhatikan Mirza yang berdiri di sampingnya.


“Emh, ah nggak papa kok Sayang.” Mirza agak ragu, apakah ini saat yang tepat untuknya mengatakan yang sebenarnya? Cepat atau lambat Via memang harus tau.


“Mas gimana menurutmu kalo besok aku mulai masuk kerja lagi?” Via menyerongkan duduknya berhadapan dengan sang suami. “Aku udah sehat banget kok. Aku kangen kantor, aku jenuh di rumah.” Rengeknya seraya meraih kedua tangan Mirza memperlihatkan puppy eyesnya.


Miza mengehala nafas, mengambil oksigen banyak-banyak sebelum memulai rangkaian penjelasannya. “Sayang, Mas mau ngomong serius sama kamu.” Mirza membawa Via ke bibr ranjang, mereka duduk berhadapan.


“Aku janji akan lebih hati-hati Mas.” Ucap Via yang merasa suaminya akan mengkhawtirkan kandungannya jika ia besok mulai masuk kerja lagi.


“Bukan itu, tapi ….” Mirza menjeda kalimatnya.


“Tapia pa Mas?” Kejar Via karena Mirza masih diam beberapa lama.


“Sayang, maaf Mas harus melakukan ini padamu. Kemarin Mas buat surat pengunduran diri kamu dan sudah memberikannya pada Danar.” Ungkap Mirza menggenggam jemari Via.


“Apa, Mas?” Via kaget tapi masih berusaha meyakinkan dirinya kalau itu tidak benar.


“Mas membuat surat pengunduran diri kamu.” Ulang Mirza tegas.


Via melepaskan genggaman tangan suaminya. “Maksud Mas apa? Kenapa Mas berbuat seperti itu? Aku nggak pernah meminta Mas untuk melakukannya, Kan?” Intonasi Via meninggi. Ia benar-benar tak percaya suaminya melakukan itu padanya.


“Ini semua demi kebaikan kamu, dan calon anak kita Sayang.” Mirza meyakinkan.


“Kebaikan apa? Mas itu udah egois! Mas mengambil keputusan sendir tanpa bertanya dulu padaku!” Via menatap nanar.


“Kalo aku tanya dulu pasti kamu nggak akan setuju, Sayang.”


“Jelas aku nggak akan setuju! Mas udah merampas duniaku, Mas udah menghancurkan karir aku! Mas nggak memandang aku sebagai istri Mas sehingga dengan seenaknya mengambil keputusan sebelah pihak! Dimana perasaan Mas sebagia suami? Mas jahat!” Via yang biasanya tenang dan kalem kini meledak-ledak seolah tak terkendali.


Mirza tercengang mendengar semua prasangka yang istrinya lontarkan. Dia menggeleng tak habis pikir. Istrinya yang biasanya lemah lembut menjadi berlumur amarah yang tumpah ruah seperti ini. Suara tinggi Via kiranya terdengar juga sampai ke kamar Bu Harni. Ia yang baru saja hendak mengambil air wudhu, mendadak penasaran apakah gerangan yang terjadi dengan anak dan menantunya, maghrib-maghrib gini kok teriak-teriak? Batin Bu Harni penasaran.


“Ya, aku memang merampas duniamu, menghancurkan karirmu. Aku memang suami tak berperasaan dan jahat.” Ucap Mirza getir, ia sungguh tak menyengka istrinya akan menuduhnya seperti itu. “Tapi pernahkah kamu berpikir selama kamu bekerja kamu menjaga perasaan suamimu ini?” Tatapan Mirza menghunus tajam pada Via yang sudah beringsut ke ujung ranjang.


“Apa maksud Mas berkata seperti itu?”


Mirza menaikkan sebelah sudut bibirnya, melukis senyum sinis. “Via, aku laki-laki biasa yang punya rasa cemburu. Semula aku menilai kedekatanmu dengan Danar adalah sebatas hubungan antara atasan dan karyawan saja.”


“Jadi Mas cemburu pada Danar?” Sambar Via kembali dengan intonasi tinggi. “Alasan Mas itu sama sekali nggak logis! Mas memalsukan surat pengunduran diriku hanya karena cemburu sama Danar?”


“Salah satunya iya. Tapi alasan kesehatan kamu dan bayi kita adalah yang paling utama.”


“Bohong! Mas jangan menjadkan aku dan bayi ini sebagai alasan untuk membenarkan sikap egois Mas padaku!” Elak Via tak terima.


“Kamu harus terima, karena begitulah kenyataannya. Kandungan kamu itu lemah, bukankah dokter sudah mengatakannya padamu. Kenapa kamu begtu keras kepal, Via? Aku nggak mau kehilangan anak kita lagi untuk yang kedua kalinya! Kamu harusnya paham akan hal itu!” Mirza bangkit berjalan mengacak rambutnya kesal, kenapa istrinya mendadak jadi pembangkang speerti itu? apa ini juga termasuk pengaruh hormone kehamilan?


“Aku bisa jaga diri, Mas. Aku bisa mengatur diriku. Kenapa kamu terlalu berlebihan seperti itu? aku memang kelelahan kemarin. Ya, aku akui itu salahku! Tapi aku pastikan setelah ini akan baik-bak saja!” Via kekeh pada pendapatnya.


“Baik-baik saja katamu?” Mirza tersenyum smirk. “Lalu apa yang terjadi sebelum kamu colaps kemarin? Kamu sudah berkali-kali pingsan kan? Apa itu bisa kamu sebut baik-baik saja? Kamu bahkan pingsan ketika acara di Bogor, dan kamu nggak memberitahu aku? Siapa yang lebih pantas disebut egosi? Aku yang mengambil keputusan sepihak karena sangat peduli terhadap istri dan calon anakku? Atau kamu yang sangat takut kehilangan karirmu padahal sudah jelas-jelas keselamatan bayi kita dipertaruhkan?”


JLEB!


Tajam, tajam sekali rentetan kalimat yang diucapkan Mirza. Kesemuanya sukses mengoyak-ngoyak hati nurani Via. Ia bangkit perlahan menghampiri sang suami dengan mata yang memulai mengembun.


“Mas, aku sungguh tak bermaksud menyembunyikannya darimu.” Tuturnya dengan suara lebih rendah. “Aku hanya nggak mau membuatmu khawatir.” Luruh sudah butiran bening dari kedua sudut matanya.


“Tentu saja kamu merasa tak perlu mmeberitahuku, ada Danar di sampingmu yang selalu siap siaga menolongmu.” Sinis Mirza, hilang sudah panggilan Sayangnya untuk istrinya.


“Mas, jangan berkata seperti itu. aku sama Danar tak ada hubungan apa-apa.” Via meraih lengan Mirza.


“Oya? Lantas kenapa kalian bisa keluar berdua malam-malam?”


“Kamu … tau dari mana, Mas?” Via tak percaya ternyata suaminya mengetahui itu semua. Via kini sadar rupanya hal ini yang menjadikan suaminya bersikap berbeda beberapa waktu belakangan ini.


“Tak usah kamu tanya dari mana aku tau semunya. Yang jelas kamu salah karena keluar dengan laki-laki lain tanpa seijin aku suamimu!” Sahut Mirza masih dengan nada sinisnya. “Sekarang kamu harus terima keputusanku, berhenti dari pekerjaanmu!” Tegas Mirza.


Via menyeka kedua pipinya yang basah dengan punggung tangannya. “Baik aku berhenti Mas, tapi aku tak terima jika kamu menuduhku yang bukan-bukan tentang hubunganku dengan Danar. Dia hanya melakukan hal yang sewajarnya yang harus dia lakukan. Bukan hanya padaku, tapi juga mungkin pada orang lain jika mengalami kejadian sama seperti aku.” Tandas Via.


“Jangn coba-coba membela Danar di depanku!” Sarkas Mirza.


“Tapi itu kenyataannya Mas! Pikiranmu teralau jauh!” Intonasi kalimat Via kembali naik beberapa oktaf.


“Vi, aku laki-laki normal! Aku bisa membedakan mana sikap sebagai teman mana yang bukan! Dan aku lihat sendiri dengan mata kepalaku malam itu dia menggenggam tanganmu dengan pandangan penuh kekhawtiran. Apa itu bisa dikatakan hal yang wajar, hah?” Mirza pun mulai kembali tersulut emosi.


“Kamu itu cemburu buta, Mas! Kamu nggak bisa berpikir logis, dia bersikap seperti itu pasti karena panik melihat keadaanku.”


“Itu baru sekali yang aku lihat! Entah dengan kejadian-kejadian sebelumnya yang aku tak tau! Bisa jadi dia bersikap lebih dari itu karena aku tidak sedang bersamamu.”


“Mas, cukup! Jangan teruskan pikiran konyolmu itu! Danar tak seperti yang kamu pikirkan.” Sergah Via dengan tatapan tajam. “Tak pantas kamu menuduh orang yang sudah begitu baik pada kita dengan tuduhan seperti itu.”


“Terserah! Bela saja dia terus, aku nggak mau dengar apa-apa lagi tentang dia!” Mirza bersiap keluar kamar.


“Mas, tunggu!” Cegat Via. “Kenapa kamu begitu berkeras dengan prasangkamu, padahal sungguh aku tak pernah sedikit pun terbesit untuk mengkhianatimu? Aku kecewa dengan sikapmu Mas.” Ungkap Via penuh penekanan.


“Aku pun kecewa denganmu.” Balas Mirza. “Bisa-bisanya kamu membela laki-laki lain di depan suamimu sendiri. Harusnya jika pun itu tak benar, tak perlu kamu berkeras seperti itu di depanku. Aku merasa bukan sedang bicara dengan istriku.” Lirih Mirza dengan penuh kegetiran.


“Oya? Sebegitunya kah kamu padaku Mas? Hanya karena kesalah pahaman ini kamu bersikap seperti ini. Padahal sebuah kesalahan fatal yang sudah kau lakukan padaku, aku telah membukakan pintu maaf untukmu dan memberimu kesempatan.” Air mata Via kembali luruh menganak sungai. Pedih sekali hatinya dengan kata-kata tajam sang suami.


“Jangan kau ungkit lagi hal yang telah lalu.” Sarkas Mirza.


“Itu agar kau berkaca pada peristiwa yang menimpa rumah tangga kita.”


“Aku bahkan rela bersimpuh di kakimu untuk memohon maaf akan kesalahan bodohku itu.”


“Apa kamu menyesal melakukannya, Mas?”


“Tidak! Karena maafmu adalah sumber keyakiannku untuk kembali menata kembali mahligai rumah tangga kita.” Lirih MIrza bersungguh-sungguh.


“Kalau begitu kenapa kamu tak memaafkanku jika kau anggap aku bersalah dalam hal ini?”


“Kamu tak meminta maaf padaku.” Sarkas Mirza.


“Mas kamu tau, aku selalu memaafkamu untuk setiap hal yang menyakitiku sebelum kamu meminta maaf padaku.”


“Jadi kamu gengsi untuk minta maaf padaku dan mengaku bersalah?” Mirza berbalik mebuang pandangannya.


“Aku sudah mengaku bersalah. Apa kamu tak mendengarnya? Jangan gunakan pikiranmu yang kerdil untuk menyudutkan aku sebagai istrimu.”


“Apa kau bilang?" Mirza terkesiap. "Aku ini suamimu, kenapa kamu …”


Ceklek!


Pitu kamar dibuka dengan kasar. Wajah Bu Harni muncul setelahya.


“Cukup, jangan kalian lanjutkan lagi pertengakaran kalian.” Ujar Bu Harni dengan wajah menahan kejengkelan.


Mirza dan Via terkejut melihat Bu Harni muncul di ambang pintu. Ya, rupanya Bu Harni sudah menguping sejak tadi hingga ia tak tahan lagi harus segera turun tangan sebelum pertengkaran mereka melebar keman-mana.


“Vi, suami kamu benar. Kamu memang seharusnya berhenti sejak dulu dari pekerjaanmu. Ibu sudah pernah memintanya kan?” Tajam tatapan Bu Harni pada wajah Via yang masih basah.


“Aku memang sudah berhenti Bu, berkat campur tangan Mas Mirza.” Via melirik sinis pada suaminya.


“Ibu tidak mau mendengar kalian bertengkar lagi. Cepat ambil air wudhu dan shalat Maghrib. Setelah itu ibu tunggu di ruang makan untuk makan malam.” Titah Bu Harni.


Via dan Mirza bergeming. Mereka masih terdiam di tempatnya.“Kalian tunggu apa lagi? Apa nggak denger ibu ngomong tadi?” Sentak Bu harni pada anak dan menantunya.


“Baik, Bu. aku mau mandi dulu.” Mirza buka suara duluan memutar langkah menuju kamar mandi.


Bu Harni kembali menghunuskan tatapan tajamnya pada Via yang masih banjir air mata. Ia segera menunduk dan berjalan ke tepi ranjang. Bu Harni berlalu meninggalkan Via sendirian.


❤️❤️❤️❤️❤️


Naaah..... segitu dulu yaa...


Selamat hari senin semuanya ❤️


like


komen

__ADS_1


vote jika sudi 🤭


Tetap jaga kesehatan. I love you all 🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘😘


__ADS_2