TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
243 #BIMBANG


__ADS_3

Hari-hari berlalu, dan Mirza masih pada pendiriannya. Ia tak mungkin meninggalkan ibunya dan tak ingin kehilangan istrinya. Kedua hal itu bukan pilihan untuknya, Mirza yakin bisa mempertahankan keduanya tanpa ia tahu ada hati yang semakin terluka dalam karenanya,Via. Dalam doa-doanya disepertiga malam, air matanya selalu tak terbendung. Bukan air mata penyesalan atas keputusannya menerima seorang Mirza Mahendra sebagai suami delapan tahun silam, namun air mata kesedihan karena merasa gagal sebagai seorang menantu yang tak bisa meluluhkan hati ibu mertua meski sudah sekian lama usia pernikahan telah terlewati.


Bangkit dari tubuhnya yang terasa pegal dan ngilu karena kerap ketiduran di atas sajadah lepas shalat tahajud, berdesis pelan merasakan kepala yang agak pening. Gegas mengambil wudhu karena suara iqomah dari masjid kompleks sudah terdengar. Selesai dengan dengan 2 rakaat dan doa subuhnya, Via masuk bergelung dalam selimut dan memeluk Ica sang keponakan yang tidur di kamarnya. Mereka nyenyak sampai matahari merangkak naik dan Tia yang melihat keduanya sangat pulas tak berniat membangunkan.


Di tempat yang berbeda, kala terang sudah memenuhi semesta. Mirza bersiap akan mengantar Bu Een kontrol ke rumah sakit. Ia sengaja ijin masuk kerja agak telat demi menemani sang ibu.


“Ibu hanya ketemu dengan dokter Leonard kan, bukan dokter ortopedi?” Tanya Bu Een sebelum mereka berangkat.


Mirza mengangguk. Sejak ia disibukkan merawat sang ibu, Mirza jadi irit sekali bicara. Bukan dia tak senang melakukan baktinya pada sang bunda, namun hanya kerena ingin menghindari perdebatan jika terlalu banyak berucap. Dan Bu Een sebenarnya sadar akan perubahan sikap Mirza itu, namun pura-pura tidak tau.


“Ingat, Za. Ibu nggak mau dioperasi sebelum kamu mengabulkan permintaan ibu.”


Tak menjawab, Mirza segera melajukan mobilnya keluar halaman. Perjalanan menuju rumah sakit pun tanpa kata, jika pun Bu Een bertanya, Mirza hanya menjawab iya dan tidak.


Kita lihat, sampai kapan kamu mampu bertahan seperti ini. Monolog hati Bu Een.


Mobil Mirza berhenti di parkiran, ia membantu ibunya turun dan membawanya dengan kursi roda. Tak lama menunggu karena sudah mendaftar lewat telpon, Mirza dan Bu Een masuk menemui dokter Leonard.


“Kondisi ibu kemajuannya sangat pesat.” Ucap dokter Leonard setelah selesai memeriksa Bu Een.


Mirza dan ibunya kini tengah duduk di depan meja kerja sang dokter.


“Tapi kenapa kepala saya kadang terasa nyeri, Dok?” Tanya Bu Een.


Dokter Leonard tersenyum. “Itu wajar Bu, dikarenakan bekas operasi yang belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu saya sangat sarankan agar ibu banyak istirahat dan jangan berpikir yang terlalu berat.”


“Hm,memang sedang ada yang menggangu pikiran saya akhir-akhir ini” menggumam sambil melirik ke arah Mirza.


Dokter Leonard menuliskan resep obat. “Nah ini resepnya, Za. Tolong parhatikan agar ibu kamu minum obatnya secara teratur ya,” memberikan resep yang sudah selesai ditulisnya.


Mengangguk dengan senyum tipis, “terima kasih, Dok.”


“Semoga lekas pulih ya, Bu” ucap dokter Leonard sebelum mereka keluar ruangan.


Mirza mendorong kursi roda ibunya menuju apotik untuk menebus obat.


“Ibu nunggu di mobil aja, Za. Rasanya badan ibu capek sekali,” keluh Bu Een.


“Ya, Bu” menyahut pendek seraya memutar haluan menuju parkiran.


Selesai dengan ibunya, Mirza gegas kembali ke apotik. Sempat mengantri hampir sepuluh menit akhirnya Mirza mendapatkan juga obat untuk ibunya. Namun langkahnya ragu ketika hendak menuju mobil. Diayunnya kaki menuju ruang praktek dokter ortopedi.


“Jam prakteknya lima menit lagi, tapi dokter Vivery belum datang. Silakan mendaftar saja dulu,” ucap suster ketika Mirza menanyakan tentang dokter ortopedi yang akan menangani operasi ibunya.


Mirza mengangguk. Baru saja dia mendaratkan pantat di kursi tunggu, ia melihat dari kejauhan dokter Vivery berjalan mendekat. Gegas ia bangkit dan menghampiri sang dokter.


“Dokter, maaf” ucapnya mengehentikan langkah kaki dokter Vivery yang usianya tak terpaut jauh dengannya, ia dokter muda yang cukup tampan.


“Ya, ada yang bisa dibantu?” dokter laki-laki berwajah oriental itu memandang Mirza.


“Saya Mirza, ibu saya Bu Endang dijadwalkan akan menjalani operasi tulang selangka minggu ini dengan dokter.”


“Oh ya, saya ingat” tersenyum setelah mengingat wajah Mirza. “Bagaimana, kondisi ibu Anda sekarang? Saya sudah melihat hasil rekam medisnya dari dokter Leonard.”


Menghela napas perlahan. “ Ibu saya baik, Dok. Tapi maaf, bisakah saya minta waktunya sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan dengan dokter?”


Melihat sekeliling, pasiennya tidak terlalu banyak pagi ini. Baru ada 3 orang yang tampak menunggu di depan ruangan. “Mari ke ruangan saya,” putusnya.


“Dokter, apakah ada kemungkinan terburuk jika ibu saya tidak menjalani operasi?” Mirza to the point tak ingin banyak basa-basi.


Bersandar pada kursinya dan menatap Mirza sejurus. “Kenapa Anda bertanya seperti itu?”


“Ibu saya belum bersedia menjalani operasi, Dok.”


“Berdasarkan hasil rontgen, memang kecil kemungkinan kondisi tulang selangka ibu Anda akan kembali pada posisinya yang semula jika tidak dilakuakn operasi. Itu dikarenakan bentuk patahannya yang saling tumpang tindih. Resikonya mungkin saja kecacatan permanen, mengingat kondisi tulang pada orang seusia ibu Anda kepadatannya juga sudah menurun.”


Terdiam menyimak penjelasan dokter. Kecacatan permanen? Membatin resah.

__ADS_1


“Apa tidak bisa dipulihkan dengan fisioterapi, Dok?”


Membetulkan posisi duduknya. “Tentu saja bisa. Hanya saja fisioterapi akan lebih efektif jika dilakukan pasca operasi.”


“Itu artinya ibu saya tetap ada kemungkinan untuk pulih meskipun tidak melakukan operasi kan, Dok?” Kejar Mirza antusias.


Menghela napas sejenak. “Kemungkinan tentu saja selalu ada. Tapi seperti yang saya bilang diawal, kemungkinan itu kecil karena kondisi cidera tulang selangka ibu Anda sangat serius.”


“Berapa lama waktu yang dibutuhkan ibu saya mejalani fisioterapi agar bisa pulih, Dok?” masih terus mengejar dengan penasaran.


“Saya tidak bisa memprediksikan, karena saya belum pernah menemui kasus seperti itu sebelumnya” menatap Mirza dengan raut datar. “Maksud saya, saya belum pernah mejumpai orang yang dalam keadaan cidera tulang sangat serius tidak mau menjalani operasi dan sembuh hanya dengan fisioterapi,” imbuh dokter Vivery karena Mirza masih tertegun. Ia tidak tau bahwa laki-laki di depannya itu tengah bimbang akan suatu keputusan.


“Saya mengerti, ibu Ada mungkin saat ini belum siap melakukan operasi dikarenakan beberapa waktu yang lalu sudah dua kali masuk ruang operasi. Mungkin beliau masih trauma,” ucap dokter Vivery yang melihat Mirza masih diam. “Tidak perlu tergesa-gesa, setidaknya kalian masih punya waktu sampai akhir bulan ini. Karena kebetulan lusa juga saya karus berangkat ke Singapura menghadiri seminar selama beberapa hari.”


Mirza mengangguk. “Baik Dok, terima kasih waktunya.”


“Sama-sama, saya harap ibu Anda bisa bersedia untuk segera melakukan operasi.”


Tersenyum, hanya itu balasan Mirza. Benaknya kini makin dipenuhi dengan kebimbangan. Dia tak mungkin membiarkan ibunya cacat, namun ia juga jelas tidak akan mampu meninggalkan istri dan calon buah hatinya. Mungkin ia harus mencari kesempatan yang baik untuk membujuk ibunya mau menjalankan fisioterapi.


“Za, kenapa lama amat?” Tanya Bu Een ketika Mirza sampai mobil.


“Antri, Bu.”


-


-


-


Tia dan Arya sudah pergi ke toko, Via hanya berdua bersama Ica di rumah.


“Tante, Ica main di belakang ya?”


“Iya Sayang, jangn main yang bahaya ya.”


“Nggak kok, cuman main boneka.” Ica menunjukkan boneka beruang kesayangannya. “Apa Tante mau ikut?”


Ditempelkannya telapak tangan mungilnya di atas dahi Via, “Tante nggak demam kok” ucap Ica.


“Tante emang nggak demam, tapi agak pusing aja Sayang” menjawab dengan lemas.


“Ya udah Tante boboan aja, Ica telpon Bunda ya biar beliin obat pulang dari toko nanti.”


Tersenyum mendapat perhatian yang begitu manis dari sang keponakan. “Nggak usah Sayang, nanti juga sembuh kok.”


“Ya udah deh, kalo gitu Ica ke halaman belakang ya?”


Menanggguk lemah, Ica keluar kamar dengan wajah ceria menenteng si Teddy bear di tangan kirinya. Via tau keponakannya itu dapat dipercaya, ia tak akan bermain hal yang membahayakan dirinya. Perlahan mata Via mengatup seiring kepalanya yang terasa berat.


Hari beranjak siang, di luar pagar seseorang mengentikan motornya. Mendesah kecewa karena mendapati pintu pagar rumah Via yang terkunci. Beberapa saat ia menunggu untuk mengamati keadaan rumah Via yang sepi sampai sebuah sepeda motor yang melintas berhenti di dekatnya.


“Chelsi?” sapa satu sura cukup megejutkan Chelsi yang masih berdiri di depan pintu pagar rumah Via.


“Eh, Mas Danar?”


“Kamu lagi ngapain?” melihat agak heran pada Chelsi.


“Aku mau anteri ini buat Mbak Via. Tapi kayaknya di rumah lagi nggak ada orang deh.”


Ikut melihat rumah Via yang memang tampak sepi.


“Mas Danar kok bisa ada disini sih?” wajah polos Chelsi telihat keheranan.


“Kan rumah aku emang deket sini.”


Chelsi membulatkan bibirnya.

__ADS_1


“Eh, kamu bawa apa itu?” menatap bungkusan plastik yang dbawa Chelsi.


“Kebab. Waktu itu aku pernah janji sama Mbak Via kalo aku bakalan main kesini dan kasih kebab gratis buat dia.”


“Kebab gratis?” mengernyit. “Kamu jualan?”


“Iya, outletku deket kok. Pasti Mas Danar belum tau ya?” tersenyum penuh percaya diri. “Ari sering kok mampir, bahkan beberapa kali minta delivery order.”


“Oya?”


“Heem.”


“Ya udah, itu buat aku aja.” Menunjuk bungkusan di tangan Chelsi.


“Eh, nggak boleh. Ini khusus untuk Mbak Via, lagipula aku udah janji sama Mbak Via. Janji adalah hutang, Mas.”


“Tapi kan Via nggak ada? Aku ganti deh. Daripada mubadzir.” Tersenyum menawarkan pesona yang sungguh menawan.


Sejenak terpaku sempat terpukau dengan senyuman manis itu. “Emh, bukan gitu Mas. Aku – nggak minta diganti kok, cuman ini kan –“


“Ok, kalo nggak mau diganti gimana kalo barter aja? Aku traktir kamu minum?”


“Eh, bukan gitu maksudku. Ya udah ini buat Mas Danar aja deh.” Memberikan bungkusannya.


“Aku terima,” tersenyum lagi. “Kalo gitu mampir ke kedaiku yuk.”


“Lain kali aja Mas, aku kan lagi jualan?”


“Emang nggak ada yang jagain outlet kamu?”


“Ya ada kakak sama kakak iparku sih” menggumam ragu.


“Ya udah. Kan aku juga punya janji mau buatin matcha latte ice buat kamu?” Sedikit memaksa.


Mengernyit, “Eum, tapi –“


“Janji adalah hutang, kan?”


Mendengus pelan. “Ya udah deh, tapi aku juga punya syarat.”


“Penawaran macam apa ini?” nyengir sambil menggaruk pelipisnya yang nggak gatal.


“Nanti sore anterin kebabnya buat Mbak Via ya? pasti nanti sore Mbak Via udah di rumah.”


“Kok kamu jadi nyuruh-nyuruh aku sih?” berdecak pura-pura kesal.


“Kalo nggak mau ya udah.”


“Ok, aku mau.


“Yess.” Bersorak gembira lantas segera nangkring di atas motor tuanya yang selalu setia mengantarnya kemana-mana.


❤️❤️❤️❤️❤️


readers, jempolnya dong pliss .... masa udah baca nggak mau kasih like 😆😆😆


udah kasih like masa nggak mau komen?? 😁😁


othornya ngelunjak yaaak??😂😂


gak papa deh, kan emang butuh dukungan 😊😊


nggak minta vote, karena sepertinya masih belum berkenan. it's ok, bedewey tanpa mengurangi rasa sayangku TERIMA KASIH yang udah sudi kasih votenya yaa ❤️❤️


jangan kabur dulu yaa, Mas Danar otw mo nyamperin Mbak Via tuh 😃


akankah TERPAKSA SELINGKUH beneran??

__ADS_1


hmm, pahit memang selama beberapa part ke depan. tapi sekali lagi othor mau bilang pasti HAPPY ENDING 😍😍 Cuman harus muter ke Monas dulu terus belok ke lobang buaya baru deh nyampe tujuan 😅😅


Love you all, gais 🤗🤗😘😘😘


__ADS_2