TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
62 #KUE PELAKOR


__ADS_3

Mirza dan Via turun menjelang malam karena perut mereka terasa lapar.


“Mas, coba deh tengokin Sofi.” Via tiba-tiba teringat Sofi setelah makan malam.


“Males.”


'Kok yakaknya dari siang tadi nggak keluar kamar ya?”


“Dari mana kamu tau, sayang? Kita juga kan seharian di kamar.” Mirza tersenyum nakal.


Via berjalan menuju kamar Sofi dan Mirza buru-buru mengejar langkahnya.


“Sayang, udah deh. Dia itu sama sekali bukan urusan kita.”


Via melihat suaminya dengan pandangan tajam.


“Mas, dia itu sedang hamil. Dia juga mengidap syndrome dan siang tadi mengamuk karena melihat …” Via berhenti sebentar. “Melihat hal yang tak seharusnya dia lihat.” Lanjut Via sambil memutar bola matanya.


“Kita bisa melakukannya dimana saja kan? Ini kan rumah kita?”


Via menggeleng lantas kembali melanjutkan langkahnya. Dibukanya pelan daun pintu kamar Sofi.


“Mas!” teriak Via.


Dari nada suaranya, Mirza tau pasti ada yang nggak beres. Mirza menyusul dan melihat Sofi tergeletak di lantai namun dia mencegah Via yang hendak menghampiri Sofi.


“Biar aku hubungi Udin aja.” Mirza mencari ponselnya sementara Via hanya berdiri di tengah pintu sambil menatap tubuh Sofi.


Diperhatikannya tubuh Sofi baik-baik, Via melihat dada Sofi masih bergerak meski perlahan pertanda Sofi masih bernyawa.Dia bersyukur dalam hati.


“Udin bakal ke sini bentar lagi.” Ujar Mirza begitu Via membalikkan badan.


“Aku khawatir ada apa-apa sama dia, Mas.”


Mirza marih tangan istrinya dan menatapnya lurus. “Aku tau, sayang. Meski hatimu sudah sangat sakit, tapi kau masih peduli padanya.


“Mas, apa nggak sebaiknya kamu angkat dia dulu ke kasur atau kita bawa saja dia langsung ke klinik dokter Burhan daripada menunggu Udin yang …”


“Aku nggak mau menyentuhnya.” Potong Mirza.


Via hanya diam, suaminya terlalu berlebihan.


Beberapa menit kemudian Udin datang bersama Bu Een yang terlihat sangat panik. Mereka langsung menuju kamar Sofi. Bu Een memeriksa keadaan Sofi dan menyuruh Udin mengangkatnya ke mobil.


“Apa lagi yang kalian lakukan sama Sofi sampai dia jadi seperti itu?” Tuduh Bu Een dengan pandangan mengintimidasi pada Via dan Mirza.


“Nggak ada, dia kan memang punya penyakit. Jadi dia bebas mau pingsan kapan saja.” Sahut Mirza cuek.


“Mirza!” Bentak Bu Een. “Ibu nggak nyangka ya, sekarang hati kamu sudah berubah jadi tak berperasaan. Sepertinya seseorang udah mencuci otakmu!” Lanjut Bu Een sambil melirik tajam pada Via.


“Kayak nggak ada kerjaan lain aja otak pake dicuci?” Mirza ngeloyor.


“Mirza!”


Mirza memutar langkahnya, melihat pada Ibunya enggan.


“Apa lagi sih, Bu? Nggak usah teriak-teriak bisa kan? ini Udah malem, nggak enak kalo didenger tetangga.”


“Udah Mas, Bu, sebaknya Sofi capat di bawa ke dokter.”


“Diam kamu!” Hardik Bu Een pada Via yang coba menengahi. “Nggak usah sok baik kamu ya. Ini semua gara-gara kamu!”


“Cukup, Bu.” Sergah Mirza. “Justru Via yang minta Sofi segera ditolong, makanya aku telpon Udin. Jika bukan dia yang minta, aku nggak akan mau peduli sama wanita itu.” Ucap Mirza datar namun penuh penekanan.


Bu Een nggak bicara lagi, dia segera keluar menyusul Udin dan Sofi yang sudah berada di mobil.


__________


Azad tiba di kediaman Tuan Alatas dan langsung disambut oleh seorang pelayan yang membukakan pintu. Ia menunggu di ruang tamu keluarga Alatas yang megah dengan Arabian style sepenuhnya, dimana ada hamparan karpet sutra yang tebal dan sofa beludru yang rendah dengan bnatal-bantal besar sebagai alas duduk. Ruang tamu itu bernuansa merah dan gold sehingga membuatnya semakin terlihat mewah berbeda sekali dengan ruang tamu di rumahnya yang tak semewah itu.


Tuan Alatas nampak mengenakan thawb ( gamis putih panjang yang biasa dikenakan laki-laki Arab/Timur Tengah lainnya) menemui Azad dangan wajah sedikit heran.


“Terima kasih atas kunjunganmu, Azad.” Sambut Tuan Alatas. “Tapi seharusnya kau tak perlu datang malam-malam begini menemuiku.”


“Maaf, aku hanya punya waktu malam hari. Karena sibuk mengurus ayahku dan perusahaan.”


Tuan alatas mengulas senyum di sudut bibirnya.


“Apalagi yang kau harapkan dari perusahaan yang sudah tak bernyawa itu?”


“Perusahaan itu dibangun dari nol oleh keluarga saya. Dan saya ke sini untuk menegaskan pada Anda bahwa kami tidak akan menjual perusahaan itu.”


Seorang pelayan datang membawakan dua cangkir kopi gahwa (kopi rempah khas Arab) membuat kaliamat Azad sedikit terjeda.


“Silakan dimuum, Tuan.” Sang pelayan mempersilakan dengan sopan lantas mengundurkan diri meninggalkan ruangan.


Tuan Alatas mengambil cangkirnya.


“Mari kita minum dulu.”

__ADS_1


Azad hanya diam menatap Tuan Alatas yang menyesap kopinya perlahan.


“Aku tau Anda sudah menghubungi ayah saya, dan karena itu ayah saya sekarang berada di rumah sakit terkena serangan jantung setelah menerima telpon dari Anda.” Papar Azad.


“Benarkah?” Tanya Tuan Alatas seraya meletakkan cangkirnya kembali. “Aku benar-benar tak tahu soal itu.”


“Anda tak perlu berpura-pura, saya tau anda menginginkan kehancuran keluarga saya.” Sarkas Azad.


Tuan Alatas meyandarkan punggungnya melihat Azad dengan sorot mata bulatnya yang besar.


“Azad, aku kira kau pemuda yang sopan dan lembut hati.”


“Apapun itu jika menyangkut kehormatan keluarga saya, saya akan bersikap keras dan tegas.” Sinis Azad tak gentar sedikitpun dengan wajah garang Tuan alatas di depannya.


Tuan Alatas terkekeh kecil.


“Janagn kau bicara soal kehormatan denganku. Kau pikir aku tak tau tingkah liar kakakmu?” Balas Tuan Alatas.


Deg!


Azad kaget mendengarnya namun berusaha tetap santuy. “Apa maksud Anda?”


“Kakakmu hamil dengan laki-laki lain padahal jelas ia tahu dirinya sudah dijodohkan dengan Ramzi. Lantas dimana letak kehormatan Kakakmu itu?” Ejek Tuan Alatas.


“Maaf, Tuan. Saya ke sini untuk membicarakan soal perusahaan, bukan soal Kakak saya.” Kilah Azad gusar.


“Apa kau pikir ini tak ada hubungannya dengan kakakmu?” Tubuh Tuan Alatas condong ke depan untuk menatap Azad lebih dekat. “Jika selama ini saya belum meminta ganti dari semua dana yang sudah saya habiskan untuk perusahaan keluargamu, itu hanya karena Ramzi yang ngotot ingin mepertahankan hubungannya dengan kakakmu. Tapi jika sudah seperti ini kajadiannya, maka saya pikir tak ada gunanya lagi. Saya meminta semuanya dikembalikan sekarang juga.” Tandas Tuan Alatas.


Azad tercengang mendengarnya. Dia lalu disergap rasa khawatir yang besar, apakah Tuan Alatas juga mengatakan pada ayahnya bahwa Sofi hamil dengan laki-laki lain? Sehingga dia terkena serangan jantung kemarin? Ya, mungkin saja Tuan Alatas mengatakannya, tapi ayahnya tak ingin membahasnya.


“Apa yang kau pikirkan?” Tegur Tuan Alatas membuyarkan lamunan Azad.


“Ekhm.” Azad mendehem kecil untuk mengusir gundahnya. “Tuan, saya harus membicarakannya dulu dengan …”


Tuan Alatas mengangkat tangan kanannya menandakan ia tak mau dengar alasan apapun. Seorang pelayan yang sedari tadi berdiri tak jauh dari Tuan Alatas menghampiri begitu Tuan Alatas memberinya isyarat untuk mendekat.


“Segera ambilkan berkas pengalihan perusahaan keluarga Husein di meja kerja saya.” Perintah Tuan Alatas.


Sang pelayan mengangguk hormat dan berlalu.


“Tidak.” Ucap Azad tegas.” Saya tidak akan tanda tanga sekarang. Saya yakin perusahaan keuarga saya bisa bangkit lagi, Anda hanya perlu memberi kami sedikit waktu, Tuan.” Kali ini Azad agak memohon.


“Saya tak suka menunggu.”


“Kalau begitu saya akan biscara sendiri pada Kak Ram.”


“Untuk apa? Ramzi tak kan mau menerima kakakmu lagi.” Sinis Tuan Alatas. “Saya akan batalkan semua persiapan pernikahan, tak masalah saya harus menanggung rugi dan malu karenanya. Tentu akan banyak wanita lain yang siap menggantikan kakakmu nanti.”


“Lantas kenapa sampai saat ini kau belum juga menemukannya?”


Azad terdiam, pikirannya benar-benar kacau. Sang pelayan sudah datang membawakan berkas yang diminta Tuan Alatas. Azad memandangnya datar.


“Tolong. Beri saya waktu.” Pinta AZad lagi.


__________


Keesokan harinya, keadaan Sofi sudah membaik dan dokter Burhan sudah memperbolehkannya pulang.


“Ayo kita pulang, Bu. Aku tak sabar ingin kembali ke rumah Mirza.” Ucap Sofi sambil berusaha bangun dari bed-nya.


“Sof, apa nggak sebaiknya kamu pulang saja dulu ke rumah Ibu?” Bu Een memandang Sofi khawatir.


“Nggak. Bu. Aku nggak mau kehilangan satu kali kesempatan pun untuk mendapatkan Mirza.”


“Ibu hanya khawatir pada calon bayimu.”


“Aku nggak apa-apa kok, Bu.”


Bu Een masih tampak khawatir, terlebih lagi ia melihat keringat mulai mengembun di dahi Sofi padahal sedang berada di ruangan ber-AC.


“Sebenernya apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai bisa seperti itu?”


Sofi diam sebentar, ia tak mungkin menceritakan apa yang dilihatnya dan apa yang dirasakannya.


“Sof?”


“Nggak kenap-napa. Aku cuman mendadak pusing aja Bu.”


Bu Een tak melanjutkan rasa penasaannya, diambilnya kipas lipat andalannya dari dalam tasnya. Lantas mulai mengipasi badan Sofi.


“Kamu berkeringat, sebaiknya tunggu sehari lagi ya jangan pulang dulu.”


“Nggak, Bu. Aku udah baikan. Ibu dengar kan tadi kata dokter?” Sofi ngeyel.


“Kalau begitu kita periksa ke dokter kandungan lagi ya, ibu khawatir jika ada apa-apa dengan bayimu.” Bu Een memaksa.


Sofi mengangguk pelan.


Udin masuk ruangan dengan dua plastik kantong makanan untuk Bu Een dan Sofi karena Sofi nggak mau makan menu sarapan di klinik itu.

__ADS_1


“Wah, sejak kapan Ibu alih profesi jadi tukang sate?” Seloroh Udin yang melihat Bu Een kipas-kipasin si Sofi.


Bu Een langsung melotot.


“Mana makanannya?” Ketus Bu Een kemudian.


Udin memberikan plastik yang dibawanya.


“Bener ini bubur ayam Cirebon, kan? Bukan bubur Manado atau bubur Papua?” Tanya Bu Een.


“Bener, Bu. Sesuai permintaan ibu, saya sampe harus ke Cirebon sendiri tadi naik kereta pulang pergi.” Jawab Udin sok yakin. “Kalo harus ke Manado atau Papua mungkin nyampenya lima tahun yang akan datang Bu, karena nggak ada kereta yang kesana.” Lanjut Udin sambil nyengir.


Bu Een masih melotot galak. “Ya sudah sana pergi!”


Udin baru saja akan meninggalkan ruangan setelah disuruh pergi namun Bu Een kembali memanggilnya.


“Eh, tunggu!”


“Ya, ada apa Bu? Apa Ibu mau dibelikan sate Madura atau sate Maranggi?”


“Bukan!” Sahut Bu Een kesal. “Coba kamu tanya ke depan hari ini ada jadwal praktek dokter kandungan nggak di klinik?”


“Oh, siap Bu!” Udin memberi hormat layaknya tentara lantas keluar.


Bu Een membuka plastik makanan, di dalamnya tercium aroma bubur ayam khas Cirebon yang diwadahi dengan stereofoam lengkap dengan sendoknya. Bu Een membuka plastik kuah dan mengguyurkannya ke atas bubur yang sudah diberi toping kerupuk, ayam suwir, kacang kedelai, taburan bawang goreng dan irisan daun bawang.


“Cobain, sof. Ini enak banget.” Bu Een memberikanya pada Sofi.


Sofi menerimanya enggan. Tampak bubur yang masih mengepul hangat itu hanya dipandanginya saja.


“Kamu harus makan, biar bayimu sehat.” Tukas Bu Een yang tengah sibuk membuka bubur untuk dirinya sendiri. “Bubur khas Cirebon ini kesukaan Mirza, lho.” Lanjut Bu Een.


Mendengar kata Mirza, Sofi langsung semangat. Ia mengaduk sebentar buburnya lantas mulai menyuapkan ke dalam mulutnya. Bu Een tersenyum melihatnya.


_______


Di rumah kontrakan Tia.


“Udah lah, kita nggak usah ngurusin urusan orang lain.” Ucap Arya pada Tia yang mengajaknya ke rumah Via.


“Mas, Via itu bukan orang lain. Di adikku sendiri, adik kandungku.” Nada suara Tia sedikit ditekan. “Lagi pula kenapa kemarin Mas Arya cerita soal perempuan selingkuhannya Mirza yang tinggal di rumah Via kalo bukan karena ingin aku melabraknya?”


“Ya ampun, Tia. Kamu ini sudah kayak ibumu saja suka banget bikin rusuh di rumah orang.” Arya tak habis pikir. “Aku kan kemarin cuman mau cerita aja, ngasih tau kamu.”


“Iya tapi kan jadinya aku kepikiran terus dari kemarin, Mas.”


“Lagipula belum tentu perempuan itu tinggal di rumah Via kan? Siapa tau dia cuman main atau sekedar …”


“Mas Arya pikir dia itu ibu-ibu arisan darma wanita atau ibu-ibu pengajian? Dateng ke rumah Via cuman mau main atau silaturahmi? Dia itu pelakor, Mas! PE-LA-KOR!” Potong Tia sengit.


“Ayah sama Bunda ributin apa, sih? Pelokor pelakor gitu? Kok kayaknya Ica pernah denger ya, pelakor itu apa sih, Bun?” Tanya Ica dengan ekspresi polosnya.


Tia kaget mendengar pertanyaan Ica. Dia tak sadar kalau ada Ica di ruang tengah yang sedang asyik menggambar dan mendengar pembicaraannya dengan Arya.


“Bukan apa-apa kok, sayang.” Jawab Tia ingin menyudahi rasa keingintahuan anaknya.


“Apa pelakor itu sejenis makanan, Bun?” Ica rupanya masih penasaran.


Tia melihat pada suaminya. Arya hanya diam nggak mau bantu jawab.


“Iya, sejenis makanan.” Ucap Tia akhirnya.


“Seperti apa bentuknya, Bun? Apa seperti kue, begitu?” Anak berusia empat tahun itu rupanya masih saja penasaran sampai bikin bundanya merasa bersalah sendiri karena telah mengucapkan kata itu.


“Iya seperti kue, sayang.” Sahut Tia pelan karena tak punya pilihan lain.


“Hore, itu pasti kue baru bikinan Bunda ya? Besok bikin kue pelakor buat Ica ya, Bun.” Sorak Ica penuh harap.


DOENG!


GLEK!


Tia tak bisa berkata apa-apa lagi, sedangkan Arya memilih keluar sambil menahan tawanya yang hampir meledak.


______


Halo, akak semuanya….. ☺️☺️


Maafkan ya, satu hari kemarin nggak up karena kesibukan akhir tahun🙏🙏😂😂


Gimana cerita part ini? 😀😀Maafkan ya kalo banyak kekurangan dan typo. Author sedikit ngebut nih takut nggak keburu up lagi.😅😅


Bedewey, ada yang mau cobain kue pelakorkah? 🤣🤣🤣🤭🤭🤭


Lanjut nanti ya, akak-akak readers dan akak-akak author…🤩🤩🤩


Jangan lupa tinggalkan jejak disini berupa like, komen, rate 5 dan vote selalu ya Kak 🤩🤩🤩


Terima kasih🙏🙏❤️❤️

__ADS_1


Luv u all🤗🤗😘😘


__ADS_2