
Dalam situasi seperti ini Mirza jelas tak dapat memilih satu diantara ibu atau istrinya. Dia ingin menunjukkan baktinya sebagai seorang anak juga tanggungjawabnya sebagai seorang suami. Maka ketika sang bunda tertidur karena pengaruh obat pereda nyeri, Mirza membujuk Via untuk menginap di rumah Bu Harni. Hal itu dilakukan Mirza karena tak ingin melihat istrinya terluka dan bersedih lagi akibat perbuatan ibunya.
“Mas tau kan aku udah biasa dengan semua perlakuan ibu?” Via tak langsung setuju dengan bujukan suaminya.
“Kamu juga harus tau kalau Mas nggak rela kamu terus menerus sedih dan terluka karena sikap dan perkataan ibu.” Ditatapnya manik indah sang istri intens memohon pengertian.
“Tapi menginap di rumah ibu bukan ide baik, Mas. Nanti ibu malah nanya yang aneh-aneh.” Via mengkhawatirkan prasangka Bu Harni.
“Tapi Mas juga nggak tega membiarkanmu di rumah sendirian, Sayang. Gimana kalau kamu butuh sesuatu dan terjadi apa-apa denganmu?”
Mereka terdiam, masih berkutat mencari jalan tengah sementara matahari semakin condong ke barat. Mirza bangkit untuk melongok sang bunda yang masih nampak pulas di atas tempat tidurnya. Via malah keluar meraih sapu hendak membersihkan halaman depan yang dipenuhi guguran daun kering.
“Sayang, diamlah. Jangan mengerjakan apapun.” Sergah Mirza menyusul sang istri. “Kanapa susah banget dibilangin sih?” Direbutnya sapu dari tangan sang istri.
“Aku nggak terbiasa duduk manis hanya berdiam diri Mas. Hem, apa kabarnya ya tanaman sayuran dan bunga-bungaku Mas?” Via menghempaskan diri di kursi teras. “Mereka udah beberapa hari ini nggak disiram, aku khawatir mereka layu dan mati.” Pandangan Via sendu melihat pada suaminya.
“Jangan mikirin yang jauh, Sayang. Pikirin yang deket aja dulu. Kamu juga udah beberapa hari ini nggak Mas siram.”Mirza tersenyum menggoda.
Via langsung mencebik, beruntung kali ini dia lagi nggak kepingin nyubit. Biasanya kalo sang suami udah nakal sedikit dia langsung mendaratkan cubitan mautnya.
Diam lagi, mereka sama-sama larut dalam lamunan yang entah. Desir lembut sang bayu menyapu hamparan dedaun kering, fokus mereka terahlihkan.
“Sayang, gimana kalo kamu nginep di rumah Mbak Tia aja?” Cetus Mirza kemudian.
Tentu saja itu bukan ide buruk, namun Via merasa tak enak karena takut merepotkan kakaknya.
“Kita temui Mbak Tia sekarang mumpung ibu masih tidur, gimana?” Sambung Mirza bersemangat. “Tenang aja, Mbak Tia pasti mengerti keadaan kita. Lagipula dia kan nggak secerewet ibu mertuaku.”
“Mas ngatain ibu aku cerewet?” Via melotot.
“Eh, bukan gitu Sayang. Maksud Mas…”
“Ck! Ya udah ayok berangkat sekarang!” Via bangkit dengan raut agak kesal, meski nyatanya benar tapi tetap saja ia tak terima ibunya dikatain cerewet sama suaminya sendiri. “Jam segini kayaknya Mbak Tia udah pulang dari toko kue.”
Mirza segera mengemasi pakaian Via ke dalam tas kemudian melihat sebentar ibunya yang masih terlelap. “Ayok, Sayang.” Ajaknya meraih pinggang ramping sang istri.
Mobil yang dikemudiakan Mirza melaju menuju rumah kontrakan sederhana milik Via. Rasanya sudah lama sekali Via tak berkunjung ke rumah kakaknya itu, dia kangen dengan kesederhanaan keluarga sang kakak. Tia sejak dulu tak pernak neko-neko, bersama Arya suaminya hidupnya sangat bersahaja meski sekarang perekonomian mereka sudah bisa dibilang cukup berkat mengelola toko kue milik Bu Elin. Jika pun ada perubahan paling hanya sepeda motor saja karena Arya memang sengaja membeli satu buah sepeda motor baru untuk akomadasi delivery order kuenya, selain itu tak ada yang berubah dari mereka.
Belum sempat Mirza menghentikan mobilnya secara sempurna, Ica yang tengah bermain sepeda di depan rumah sudah ramai menyambut dan heboh memanggil orang tuanya.
“Ayah, Bunda …. Cepat kesini! Ada Tante Via sama Om Mirza….! Ayah, Bunda …..!”
Arya dan Tia muncul bersamaan dengan Via dan Mirza yang turun dari mobil. Ica langsung berlari menyongsong tante kesayangannya. Lengan mungilnya melingkar posesive di pinggang Via.
“Tante kenapa lama banget baru kesini? Tante apa nggak kangen sama Ica?” berondong Ica. “Gendong, Tante….” Ia merentangkan tangannya minta digendong.
“Gendong sama Om Mirza aja ya.” Mirza segera mendahului sebelum Via mengiyakan.
“Kenapa emangnya Om?”
“Perut Tante Via ada dede bayinya, Tante Via nggak boleh angkat yang berat-berat. Ica kan udah gede, badannya udah makin berat. Kasian dong sama dede bayinya di dalam perut Tante Via?” Mirza mencoba menjelaskan.
“Kok dari wkatu itu dede bayinya nggak keluar-keluar sih, Om? Lama banget? Betah ya di dalam perut Tante Via?”
Semuanya tergelak mendengar celoteh menggemaskan Ica.
“Tante mau nginep di rumah Ica boleh nggak?” Tanya Via menjawil pipi Ica yang montok.
“Boleh dong, Tante. Boleh banget!” rambut ekor kuda ica sampai bergoyang-goyang saking ikut senangnya.
“Beneran kamu mau nginep disini, Vi?” Tanya Tia heran.
“Diajak masuk dulu kali Bun, masa Via sama Mirza suruh berdiri disini terus?” Sambar Arya mengingatkan.
“Oh, iya sampe lupa. Ayok Za, Vi, masuk.” Tia mempersilakan. “Ica sini turun Sayang, Om Mirza berat tuh.”
Ica dengan tegas menggeleng menolak ajakan bundanya. Dia malah melingkarkan lengannya di leher Mirza sembari ikut mendengarkan perbincangan para orang dewasa di ruang tamu yang sederhana itu.
“Jadi begitu ceritanya Mbak, Mas.” Pungkas Mirza setelah selesai dengan uraiannya mengenai keadaan ibunya.
“Aku sih jelas nggak keberatan kalo Via disini, Ica pasti seneng banget soalnya kalo ada Via.” Ucap Tia.
“Bener Za, daripada Via suruh nginep di rumah ibu memang lebih baik disini. Kasihan istrimu, lepas dari ibu mertua malah makin senewen sama ibunya sendiri.” Seloroh Arya.
__ADS_1
“Tuh kan, bukan aku aja Sayang. Mas Arya juga ngerasa kalo ibu emang cerewet.” Mirza menyenggol lengan Via usil, senang dia mendapatkan sekutu.
“Awas ya kalian para menantu tukang ghibah, nanti aku bilagin ibu baru tau rasa!” Cibir Tia sedangkan Mirza dan Arya malah tertawa mendengarnya.
“Om, kita jalan-jalan yuk!naik mobil baru Om itu!” tunjuk iCa pada mobil Mirza yang terparkir di depan rumahnya.
Mirza menatap Via sejenak, tak tega rasanya dia menolak ajakan Ica, namun dia juga tak mungkin meninggalkan ibunya sendirian di rumah. Gimana kalo tiba-tiba Bu Een bangun dan mencarinya?
Via menggeleng samar memberikan respon tidak setuju.
“Emh, Ica mau jalan-jalan ya?” Tanya Mirza kemudian.
“Mau Om.”
“Gimana kalo Om pijemin mobilnya aja. Ica jalan-jalan sama ayah mau?”
“Yah, kenapa emangnya?”
“Eh, kok gitu? Nggak usah, Za. Nggak usah ngeladenin Ica.” Sergah Tia. “Ica, Om Mirza sekarang nggak bisa ajakin Ica jalan-jalan soalnya harus nemenin Eyang Ndang yang lagi sakit.” Tia mengambil alih untuk menjelaskan.
“Eyang Ndang sakit apa Om? Kalo gitu Ica mau nengokin ya, boleh kan?” Mata buat Ica menyiratkan kekhawatiran. Bukan rahasia lagi meski Bu Een alias Bu Endang Bambang Gulindang benci setengah hidup pada Via dan keluarganya, namun herannya kalo sama Ica dia bisa baik hati banget. (cek kedekatan Ica dan Bu Een di bab-bab awal kalo yang belum tau ya) hal itu mungkin sedari dulu ia mengharkan ingin cepat punya cucu.
“Lain kai aja ya, Ca. Om Mirza lagi buru-buru soalnya. Ica nggak mau kan kalo sampe Eyang Ndang marahin Om Mirza?” Tia terpaksa harus menggunakan sedikit jurus menakut-nakuti.
Rona kekecewaan langsung membayang di wajah imut Ica. “Ya udah deh ….”
Mirza yang tak tega segera mengeluarkan kunci mobilnya dan memberikannya pada Ica. “Ini kunci mobil Om, besok Ica boleh jalan-jalan sepuasnya sama ayah, bunda dan tante Via ya. mobilnya Om tinggal disini. Ica nggak papa kan kalo pergi tanpa Om Mirza?” Diusapnya rambut bocah montok dalam pangkuannya itu penuh perhatian.
Ica mengangguk meski tanpa suara.
“Terus kamu pulang naik apa kalo mobil kamu ditinggal disini?” Heran Arya. “Apa aku anterin aja?”
“Iya Mas, nanati gimana kalo ibu butuh diantar kemana-mana?” Via juga khawatir.
“Kan di rumah masih ada mobil ibu, Sayang. Aku pake motor lama Mas Arya aja deh pulangnya. Boleh kan Mas?”
“Asik, yei….! Motor butut ayah dituker sama mobil barunya Om Mirza, yess….!” Belum apa-apa Ica bersorak kegirangan.
_
_
_
Malam ini dilewati Mirza dengan cukup berat, pasalnya meski Via berada di rumah Tia namun tetap saja perasaan khawatirnya tak bisa dihilangkan sepenuhnya. Dia baru berhenti berkirim pesan menanyakan tenang banyak hal pada Via ketika pesan terakhirnya tak dibalas.
“Hem, mungkin Via udah tidur.” Desah Mirza, lantas dia beralih mengirim pesan pada Tia.
Mirza
Mbak, apa Via udah tidur? Kok pesanku nggak dibalas ya?
Tia
Sebentar ya, Mbak liat dulu ke kamarnya.
Selang beberapa saat, satu pesan masuk di hp Mirza.
Tia
Udah, Za. Dia ketiduran kayaknya, hpnya masih nyala di tangannya. Barusan Mbak yang matiin.
Mirza
Oh, pantesan. Ya udah, makasih ya Mbak. Tolong jagain Via ya Mbak, maaf ngerepotin.
Tia
Tenang aja Za, ada Ica kok yang jagain istri kamu. Jadi Mbak bisa bebas berduaan sama Mas Arya, wkwkwk….
Seketika Mirza melotot, ya ampun! Bisa juga mbak Tia becandaan, disuruh jagain Via malah mau enak-enakan berduaan sama Mas Arya, dasar! kakak model apa begini? Huh! Mirza berdecak kesal sendiri mengingat nasibnya yang kini hanya tidur seorang diri di sofa ruang tengah demi menjagai sang ibu agar lebih dekat dengan kamarnya. Huuh, seandainya saja ada Via, pasti malam ini aku juga udah enak-enakan berduaan. Mana dingin banget lagi. Mirza menarik selimutnya sebatas leher lantas meringkuk mencari posisi ternyaman.
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Hari minggu yang cerah, Azad baru saja pulang jogging. Dia sedang melakukan peregangan ringan di halaman depan rumahnya ketika sebuah mobil hitam masuk menuju ke arahnya. Azad menghentikan aktifitasnya, memandang penuh penasaran siapa gerangan sang pengendara mobil yang bertamu pagi-pai begini.
“Kak Sofi?” Azad menlongo ketika melihat justru kakaknya yang turun dari mobil hitam itu.
Sofi hanya tersenyum sekilas sambil melewati adiknya.
“Kak, tunggu!” Azad mengejar. “Itu mobil siapa?” ia menjajari langkah kakaknya yang memasuki rumah.
“Mobilku.” Sofi sudah sampai di depan kamar, merogoh tasnya mencari kunci pintu kamarnya.
“Kakak menjual mobil pemberian Kak Ram?” Azad tak percaya.
Ceklek ceklek
Sofi sudah membuka pintu kamarnya. “Iya.” Sahutnya pendek.
“Tunggu sebentar, Kak.” Azad mencekal lengan kakaknya. “Kita harus bicara.”
“Azad, kakak capek.” Sofi memperlihatkan wajah letihnya.
Azad terpaksa mengalah. “Ok, Kakak istirahlah sebentar, setelah itu kita sarapan sama-sama ya.”
“Hem. Papa sama Mama kemana?”
“Mereka sedang jalan pagi. Rutinitas mereka akhir-akhir ini, aku yang menyuruhnya agar mereka tidak terlalu bosan di rumah.”
“Baguslah, mereka memang harus menikmati hari tuanya.” Sofi masuk dan langsung mengunci pintunya menandakan ia tak ingin diganggu.
Sofi merebahkan tubuhnya perlahan di atas kasurnya yang sudah lama ia tinggalkan. Harusnya kamarnya yang luas dan mewah itu memberikan kenyamanan, namun entah menagapa dimana pun dia berada hanya kehampaan yang dia rasakan. Jiwanya kosong. Seolah tak ada satu tempat pun yang meberinya kenyamanan untu bernaung. Perlahan mata bulat indah bola pingpongnya terpejam, Sofi sempat merasakan dirinya terbuai dalam alam mimpi sebelum akhirnya kesdarannya terpaksa terseret kembai pada alam nyata karena getar gawainya yang mengganggu.
Ramzi
Sofia, kau harus percaya padaku. Kembalilah padaku karena papaku akan mencelakaimu. Hanya aku yang bisa menjamin keselamatan kamu dan calon anak kita.
Sofi segera mematikan ponselnya. Pesan itu lagi! Sejak semalam Sofi menerima puluhan pesan masuk yang isinya kurang lebih sama tapi dari dua nomer yang berbeda. Dan dua-duanya mengaku Ramzi suaminya. Sofi hampir gila memikirkannya semalaman, ia merasa itu adalah sebagai bentuk teror baru dari ayah mertuanya. Dia sama sekali tak memperayai keduanya, dia tak peduli kedua nomor itu Ramzi sungguhan atau bukan, karena baginya untuk kembali pada suaminya yang sudah mencabik-cabik harga dirinya adalah suatu kemustahilan.
Tanpa Sofi ketahui salah satu dari nomor yang menghubunginya itu memnag benar nomor Ramzi. Di bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan Sofi dan bayinya, namun apalah daya Sofi sudah kepalang tak percaya lagi padanya. Orang-orang suruhan Ramzi dan Tuan Alatas saling berlomba-lomba menemukan keberadaan Sofi. Mereka selalu bisa mendapatkan nomor baru Sofi meski Sofi sudah berkali-kali ganti nomor kontak ponselnya.
Sofi bangkit menuju kamar mandi dan mengglontor sim cardnya ke dalam kloset. Frustasi, itu yang tengah dirasakannya. Ia menutup diri dari keluarganya, Sofi sama sekali belum mengetahui akan penyesalan kedua orang tuanya yang akhir-akhir ini sudah mengabaikannya. Setelah peristiwa kedatangan Ramzi ke rumah beberapa waktu yang lalu, Nyonya Husein selalu menunggu kepulangan Sofi, ia ingin mencurahinya dengan kasih sayang karena merasa sangat bersalah ternyata selama ini Sofi menaggung derita perselingkuhan suaminya sendirian.
Namun hal yang seharusnya sebentar lagi akan berlangsung manis itu justru harus tertunda karena Sofi mengira justru keberadaanya sudah semakin tak dianggap dalam keluarganya sendiri. Ia mengira kedua orang tuanya sudah melupakannya, mereka asyik berjalan-jalan pagi tanpa tau anaknya tengah menderta frustasi akan ancaman keselamatan dirinya dan bayinya.
Azad terkesiap, gegas ia keluar kamar ketika mendengar mesin mobil di luar rumah. Ia hanya melihat bagian belakang mobil kakaknya yang sudah berlalau meninggalkan halaman.
“Astaga, Kak! Kenapa kamu susah sekali untuk diajak bicara?” Azad meninju udara saking kesalnya sudah kalah start kecolangan lagi. “Apa susahnya kita duduk bersama? Kamu itu susah dibikin sendiri! Rumit dibikin sendiri! Kamu masih punya keluarga, kenapa seolah merasa asing dan sendirian? Dasar keras kepala! Kepala batu kau dari dulu!” Azad terus mengomel menumpahkan kekesalannya.
“Azad, kanapa kamu marah-marah sendiri?” Tanya Nyonya Husein yang baru sampai bersama suaminya masih mengenakan pakaian olah raga.
Azad mengusap wajahnya kasar. “Kak Sofi, Ma. Dia baru saja pulang terus pergi lagi.”
“Sofia pulang?” Nyonya Husein celingukan mencari keberadaan anaknya. “Mana dia?”
“Sudah pergi lagi, Ma!” Ulang Azad dengan kesal.
“Apa kamu nggak bilang kalo Mama merindukannya? Mama sudah menunggunya lama untuk pulang?” Nyonya Husein menggoyangkan lengan Azad.
“Dia sudah janji akan sarapan berang, tapi ternyata malah pergi lagi. Ah, tak tau lah Ma!” Azad melangkah cepat meninggalkan kedua orang tuanya yang nampak meneyesali kepergian Sofia untuk kesekian kalinya itu.
“sudahlah, Ma. Kita serahkan semuanya pada Tuhan.” Tuan Husein mengusap bahu istrinya lantas merengkuhnya untuk masuk bersamanya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Wah, sofi hobinya minggat ya…😆😆
Terima kasih sudah membaca, kasih like dan kasih komen. 🙏🙏😍😍
Yang udah vote juga, makasih banget….🙏🙏😘😘
Maafin ya kalo ada typo.🙏🙏
Sehat-sehat ya semuanya,😍🤩🤩
I love you all🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘
__ADS_1