TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
171 #FAKTA MENYAKITKAN


__ADS_3

Dua hari ini Ramzi terbaring di ruang ICU. Keadaannya masih belum sadar, ia mengalami gegar otak akibat kecelakaan kemarin. Tuan Alatas sengaja tak memberitahukan keadaan putranya pada Sofi, dan Sofi pun agaknya memang tak terlalu peduli pada suaminya. Dia tak berusaha mencari tahu kemana perginya sang suami dua hari tak pulang ke rumah, karena baginya memang lebih baik Ramzi tak ada sehingga ia bisa lebih leluasa melakukan apapun di istana megah suaminya itu.


Sofi keluar dari kolam renang meraih kimononya yang tersampir di kursi.


“Nyonya.” Panggil Gerald mengagetkan Sofi.


Seketika Sofi menoleh dan memasang raut tak suka. Ia tak tau si kepala pelayan itu muncul dari mana dan sejak kapan berada di sana.


“Tuan besar meminta Anda menemuinya sekarang.” Lanjut Gerald sedikit menundukkan pandangannya, ia cepat menyadari tatapan marah sang nyonya.


“Ada perlu apa dia memanggilku?” Sofi duduk menyilangkan kaki seraya meraih jus jeruknya.


“Maaf, saya hanya menjalankan perintah saja. Sebaiknya Nyonya segera menemui Tuan besar .”


“Aku akan kesana setengah jam lagi.” Sofi cuek merebahkan badannya pada kursi santai di tepi kolam setelah menikmati jusnya.


Sang kepala pelayan balik badan dan segera melapor pada sang Taun besar.


“Dasar Jala**! Dia pikir dia siapa, sok berkuasa di rumah ini?” Geram Tuan Alatas setelah mendapatkan laporan sang kepala pelayan.


Sang tuan besar berjalan cepat menemui Sofi yang tampak santai bermandikan sinar matahari pagi. Gayanya memang sudah mencerminkan sang Nyonya besar sungguhan. Dia menoleh kaget dan memcing menatap ayah mertua yang datang menyapanya dengan tampang galak.


“Hai Jala**! Sudah cukup kau berleha-leha di rumah ini!”


Sofi menegakkan badannya. “Kenapa kau keberatan? Ini rumah suamiku, aku berhak berbuat apa saja, karena aku adalah nyonya di rumah ini.” Sedikitpun Sofi tak gentar pada sang ayah mertua.


Tuan Alatas tersenyum sinis. “Aku tak yakin setelah kau melihat ini kau masih berani berkata lancang lagi.” Tuan Alatas memberi isyarat pada kepala pelayan untuk memperlihatkan video rekaman CCTV pada Sofi.


Gerald meyodorkan ponselnya, Seketika kedua netra Sofi terbelalak, ia tak percaya melihat dirinya ada dalam video itu sedang mengacak-acak ruang kerja Ramzi. Namun bukan Sofi namanya kalau dia tak berusaha menyembunyikan ketakutannya.


“Kau mau mengancamku dengan rekaman CCTV ini? Memangnya apa yang aku lakukan disana? Kau terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.”


“Aku tidak mau berdebat. Kau punya waktu sampai besok untuk mengembalikan surat dan sertifikat perusahaan Ramzi yang kau ambil, jika tidak ....” Tuan Alatas menjeda kalimatnya, ditatapnya raut sang menantu yang berdiri tegak menantangnya. “Bersiaplah mendekam di penjara.”


Tuan Alatas segera meninggalkan Sofi yang diliputi perasaan cemas. Kini ia baru ingat akan suamiya, diraihnya gawai untuk menghubungi Ramzi. Namun sampai beberapa kali, panggilan tak juga kunjung diangkat. Sofi tak tau ponsel suaminya diamankan oleh sang ayah mertua.


“Kak Ram, kau dimana sih? Kamu harus membantuku!”


Sementara itu Ramzi masih terbaring lemah di ruang ICU. Dua orang pelayan siaga menjaganya di sana. Semua informasi tentang dirinya ditutup rapat. Setiap satu jam sekali, dua orang pelayan itu melaporkan kondisi Ramzi, Tuan Alatas tak mau memancing kecurigaan siapapun akan keadaan Ramzi, sebab selain itu akan berdampak pada perusahaannya juga mungkin akan memicu tindakan tak terduga dari sang menantu.


Hari berganti, Sofi masih belum tau akan mengambil langkah apa. Baginya tak mungkin menyerahkan surat-surat perusahaan yang sudah susah payah didapatkannya itu pada Tuan Alatas begitu saja. Namun jika pun ia memberikannya dengan mengajukan sebuah syarat, dirinya juga tak yakin sang ayah mertua akan setuju. Maka cepat-cepat ia keluar dari kamar ketika matahari belum sempurna menampakkan diri. Ia mengendarai mobilnya dengan berbagai pikiran belseliweran di kepalanya. Sofi menuju kediaman orang tuanya.


“Nak, tumben kau kemari pagi-pagi sekali?” Sambut Nyonya Husein pada sang putri yang tak biasa-biasanya mengunjunginya sepagi itu.


“Iya Ma, entahlah mungkin ini keinginan dari calon cucu Mama. Tetiba saja aku ingin berkunjung ke sini.” Dusta Sofi seraya mengelus perutnya.


Nyonya Husein tersenyum, lekas ia menggandeng lengan anaknya masuk untuk menemuai Tuan Husein yang sedang sedikit berolah raga di taman belakang rumah yang cukup luas.


“Papa, coba lihat siapa yang datang?” Nyonya Husein sumringah.


“Sofia, kau datang sendiri? Kemana suamimu?” Tuan Husein mendekat.


“Emh, dia sedang keluar kota mengurus bisnisnya.” Sofi kembali berdusta. “Oya, kalau Papa dan mama nggak keberatan aku mau bermalam disini untuk beberapa hari. Aku kesepian ditinggal Kak Ram.”


“Tentu saja tidak. Kamu ini bicara apa, ini juga kan rumah kamu.” Nyonya Husein mengusap pundak anaknya lembut. “Bukankah kamu yang sudah mengahdiahkan rumah mewah ini untuk kami, Nak? Kamu tentu boleh tinggal disini sesuka hatimu.”


Sofi mengangguk, hatinya lega kedua orang tuanya tak menaruh curiga sedikitpun padanya.


“Ayo kita sarapan dulu, kau pasti belum sarapan kan?” Ajak Nyonya Husein kemudian memanggil pelayan untuk segera menyiapkan menu sarapan spesial.


❤️❤️❤️❤️


Bu Elin manatap lurus wajah Danar yang duduk di hadapannya. Tangan kanan Bu Elin memainkan ballpoint yang dipegangnya sembari menunggu penjelasan sang anak angkat kebanggannya itu. namun sepertinya Danar tak berniat mengatakan apapun, baginya semuanya sudah sangat gamblang.


“Danar.” Tegur Bu Elin memajukan posisinya. “Bagaimana kalau kamu membujuk Riri sekali lagi?”


“Kenapa bukan Ibu aja yang bujuk dia? Aku udah nggak ada urusan apa-apa.” Jawab Danar dingin.


“Tapi kamu harus bantu Ibu, Danar. Ibu nggak mau kehilangan orang berbakat seperti Riri. Dia sangat bisa diandalkan.” Bu Elin penuh pengharapan.


“Ibu yang bersalah dalam hal ini, ibu juga yang harus menyelesaikannya.” Danar buru-buru bangkit. “Lagipula aku pikir langkah Riri sudah tepat. Dia mundur karena nggak mau lagi dimanfaatkan sama Ibu.”


“Dimanfaatkan gimana maksud kamu?” Bu Elin ikut bangkit menyusul Danar.


Danar menghela nafas jengah. “Udahlah Bu, jangan ngomongin masalah Riri lagi. Aku capek. Yang jelas sekarang ibu udah tau kan kalo Riri ngundurin diri? Tugasku buat nyampein pesan ke ibu udah selesai."


“Danar, tunggu!” Bu Elin menghentikan langkah Danar. “Nggak bisa kah kamu coba jalani dulu pertunangan ini?”


“Bu, cukup. Aku mohon, jangan lagi memaksakan keadaan.” Danar agak menaikkan nada suaranya. “Aku nggak mencintai Riri.” Lanjutnya.


Keduanya saling diam. Perasaan sesal karena sudah berkata agak kasar pada sang ibu menelusup ke dalam relung hati Danar. Ingin rasanya Danar pergi saja, namun kakinya berat menuju pintu yang hanya tinggal selangkah lagi karena melihat raut sendu sang ibunda.


Sementara itu di luar ruangan, langkah-langkah kaki mendekat menuju ruang Bu Elin. Langkah kaki itu terhenti tepat di depan pintu karena mendengar suara orang berbincang di dalam ruangan.

__ADS_1


“Bu, maafkan aku.” Danar meraih tangan ibunya. “Aku nggak bermaksud …”


Bu Elin buru-buru mengusap pundak Danar sambil mengangguk. Ia berusaha menerima kenyataan dan meyakinkan sang putra kalau dia tak apa-apa.


“Ibu janji nggak akan bahas masalah ini lagi.” Bu Elin coba mengulas senyum.


“Makasih Bu.”


“Tapi kamu juga harus janji kamu harus buka hatimu, Danar. Jangan mengharapkan sesuatu yang bukan milikmu.”


“Aku sedang berusaha, Bu.


“Jika kamu benar-benar tulus mencitainya, kamu nggak akan sampai hati memisahkannya dari suaminya.” Bu Elin menatap lembut kedua mata Danar.


“Ibu jangan khawatir, aku nggak akan berbuat serendah itu karena aku benar-benar mencintai Via.”


JLEDER!


Seseorang yang berdiri di luar ruangan baru saja merasa seperti tersambar petir di siang bolong setelah mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Danar.


“Vi-a ….” Ucapnya gemetar, lantas coba menajamkan pendengaran dengan lebih mendekatkan diri ke arah pintu.


Bu Elin tersenyum. “Ibu percaya sama kamu. Masih banyak gadis single di luaran yang lebih pantas untuk kamu. Jadi jangan pernah menjadi perusak hubungan orang karena Via juga sangat bahagia dengan suaminya.” Bu Elin kembali megusap pundak anaknya.


Danar mengangguk. Sementara seseorang di luar ruangan itu segera pergi mencari tempat yang aman setelah ia yakin tak salah degar akan kebenaran informasi yang baru saja didapatkannya.


Kriet …


Sura pintu terbuka, Danar keluar ruangan Bu Elin. Seseorang yang sedang bersembunyi itu lega karena ia berhasil menyingkir dari dekat pintu sebelum aksinya ketahuan walau kini perasaannya sangat kacau. Kedua kakinya seolah tak mampu lagi menopang beban tubuhnya. Ia terduduk di balik dinding, wajahnya pias karena sangat shock dengan kenyataan akan takdir cintanya.


“Jadi ternyata wanita yang dicintai Mas Danar itu …” Seakan tak sanggup melanjutkan kalimatnya sendiri, ia menunduk lemas seiring butiran Kristal bening yang menetes membasahi pipinya. Ia bahkan sudah tak sanggup lagi melanjutkan niatnya menemui Bu Elin menyampaikan perihal pengunduran dirinya.


❤️❤️❤️❤️❤️


lain lagi di toko kue Tia dan Arya. Bu Harni yang baru saja sampai di depan toko tampak sedang meminta para pembeli untuk tak jadi membeli kue. Tia dan Arya yang melihat gelagat mencurigakan Bu Harni dari dalam langsung keluar.


“Bu, ibu ngapain? Kok kayaknya tadi ada yang mau masuk beli kue pada nggak jadi? Emangnya ibu ngomong apa sama mereka?” Tia menegur ibunya dengan rasa penasaran.


“Oh, iya. Tia, Arya dengerin ya. Mulai sekarang kalian jangan lagi kerja dan ikutan bisnis kuenya Bu Elin!” Ucap Bu Harni pada anak dan menantunya.


“Kok gitu?”


“Iya, kenapa emangnya Bu?”


“Tunggu, tunggu Bu. Ini sebenarnya ada apa? Ibu harus jelasin ke aku sama Mas Arya masalanya apa?” Tia masih tak mengerti maksud perkataan ibunya.


“Ini semua karena Riri gagal menikah sama Danar!” Sahut Bu Harni kesal.


“Oohh….” Tia dan Arya manggut-manggut tanda sudah paham akar permasalahnnya.


“Kok malah Oh sih? Kalian juga harus dukung ibu dong, tutup toko kue ini! Sekarang juga!” Bu Harni berkacak pinggang.


“Bu, nggak bisa gitu dong. Kita kan bisa bicarain ini baik-baik.” Arya coba menenangkan sang ibu mertua.


“Baik-baik gimana? Heh, Arya! Jangan karena kamu sekarang udah enak nggak jadi tukang ojek lagi terus kamu mau tutup mata ya, tega sama Riri adik ipar kamu nelangsa menerima keputusan sepihak ini? Dimana kepedulianmu sebagai Kakak ipar, hah?” Bu Harni malah menca-mencak pada Arya.


“Bu, sabar Bu …. Ibu jangan begini dong.” Tia turut menenangkan. “Kita bicara di dalam yuk, nggak enak kalo ada yang denger.” Tia menggandeng lengan ibunya.


“Ibu nggak mau masuk toko ini!” Bu Harni menepis Tia kasar. “Kalian apa nggak kasihan sama Riri? Susah payah dia membuka hati buat Danar untuk menerima pertunangannya, tapi setelah ia bisa membuka hati, Danar malah seenaknya membatalkannya. Dan dengan dalih menjaga nama baik keluarga, Danar dan Ibunya tega memaksa Riri buat berandiwara di depan semua orang untuk berpura-pura tunangan padahal mereka semua sama sekali tak menginginkan Riri.” Bu Harni akhirnya meluapkan kejengkelannya.


Tia dan Arya yang baru mengetahiu detail masalahnya mencoba tetap tenang menyikapi masalah ini, mereka tau Riri pasti sangat terluka dan sangat dirugikan, namun mereka juga tak mau gegebah karena bisa mengakibatkan kehilangan sumber penghasilan. Perekonomian keluarga mereka membaik setelah bekerja sama dengan Bu Elin membuka toko kue di kota kecamatan, lantas bagaimana jadinya kalu mereka tiba-tiba harus menutup toko kue mereka?


“Kenapa kalian masih diam? Ayo cepat tutup tokonya!” Bu Harni menunjuk pintu toko dengan wajah galak.


“Iya Bu, iya … tapi kita juga harus bicara dulu sama Bu Elin.”


“Nggak perlu! Ibu bilang tutup ya tutup!”


“Selamat sore. Ada apa ini Mbak Har, Tia, Arya, kok kayaknya seru banget?” Sapa Om Jaka yang baru datang bersama Denaya.


Mereka kompak menoleh. “Eh, Dik Jaka?” Sahut BU Harni.


“Iya Mbak Har, ini saya dateng kesini mau cari kue nih. Istri saya lagi ngidam pingin kue … kue apa namanya, Han?” Om Jaka melihat Denaya di sampingnya.


“Kue buto ijo.”


“Nah, iya itu!”


“Maaf ya Dik Jaka, tokonya udah tutup.” Ujar Bu Harni.


“Tutup? Orang masih buka gitu kok, Mbak?” Om Jaka bingung.


“Maksudnya tokonya tutup, udah nggak jualan lagi. Alias gulung tikar!”

__ADS_1


Om Jaka dan Denaya saling pandang, mereka tampak masih kebingungan dengan perkataan Bu Harni. Pasalnya mereka melihat beberapa kue masih terpajang di etalase toko, gimana bisa dibilang gulung tikar?


“Dik Jaka sama Dik Dena cari toko kue lain aja, disini kuenya udah nggak boleh dijual lagi.”


“Kenapa emangnya, Bu? Itu kan tapi masih banyak kuenya? Saya borong semuanya deh, kan sayang kalo mau tutup tapi stok kuenya masih banyak.” Ucap Denaya.


“Eh, jangan Dik. Itu kuenya udah kadaluarsa semua.” Ceplos Bu harni, dia kekeh banget nggak mau ngejualin kuenya.


“Masa sih. Bu? Bukannya kue di tokonya Mbak Tia ini selalu baru ya?” Deenaya tak yakin, ia lantas mendekati etalase. “Itu kayaknya masih enak kok, Bu.”


“Aduh, jangan Dik. Nanti bisa sakit perut lho, kan sayang bayinya bisa keracunan nanti.” BU Harni kekeh.


Denaya pasang tampang kecewa, meski ia ragu dengan kalimat Bu Harni, tapi dia nggak bisa maksa. “Beb, gimana dong? Aku kan pingin banget kue buto ijo?” Rajuk Dena pada Om Jaka.


“Ya udah kita cari di tempat lain aja, Han.” Bujuk Om Jaka.


“Tapi dede bayinya maunya kue buatan Mbak Tia.” Denaya mengelus perutnya.


“Emh, Mbak Dena nggak papa kok kalo mau nanti aku bikinin kuenya.” Tia yang nggak tegaan akhirnya nyeletuk juga.


“Beneran Mbak?” Denaya berbinar senang.


“Iya, besok nanti saya bikinin dan langsung diantar ke rumah Mbak Dena.”


“Yaah … kok besok sih? Tapi aku maunya sekarang.” Denaya kecewa lagi.


“Udahlah Han, Tia kan bisanya besok, jangan maksa ah.” Hibur Om Jaka. “Gimana kalo ganti sama ijo yang lainnya aja? Misalnya pisang ijo atau kolor ijo …?”


Denaya nggak menyahut, dia diam dengan wajah cemberut. Om Jaka menyadari merubahan mood istrinya, dia cepat-cepat pamit sementara Bu Harni kembali memaksa Tia dan Arya untuk segera menutup toko.


“Beb, nanti babynya ngeces lho ini keinginannya nggak diturutin” Lirih Dena masih dalam mood ngambek.


“Mitos itu, Han.” Om jaka menggamit lengan Denaya menuju mobil mereka yang terparkir di seberang jalan.


“Ish, kamu kok nggak percayaan sih orangnya?” Denaya menghentakkan kakinya.


“Eeee iya iya… aku percaya kok, Han…, percaya….” Buru-buru Om jaka meralat pendapatnya takut istrinya makin ngambek. “Ya udah biar nggak ngeces, gimana kalo ngidamnya hari ini diganti dulu ya? Kamu mau apa? Mau kemah di gurun pasir atau snorkling di laut arafuru, atau …”


“Iiiishhh!!!” Denaya memelintir cubitan maut di pinggang Om Jaka.


Hampir saja Om Jaka menjerit jika saja sedang tak di tempat umum. Om Jaka hanya mengusap-usap pinggangnya sambil meringis menahan sakit.


“Ya udah, aku ganti ngidamnya. Tapi besok janji beliin kue buto ijo ya.” Ucap Denaya kemudian.


“Hmm, iya Han.” Om Jaka masih kesakitan.


“Aku pingin makan manisan belimbing wuluh.”


“Apa?” Kontan Om jaka kaget. “Belimbing wuluh kan asem banget, Han? Lagian mana ada manisan belimbing wuluh?”


“Ya bikin lah, Beb.”


“Bikin?” Om Jaka melongo.


“Iya, kita bikin sendiri. Kamu yang cari belimbingnya ya? Nanti kita bikin sama-sama di rumah.” Denaya tersenyum lebar.


“Tapi Han …”


“Nggak ada tapi-tapi!” tegas Denaya tak mau didebat. “Nggak mau kan anaknya ngeces, ilernya kemana-mana nanti pas udah lahir gegara ngidamnya nggak keturutan?”


Om Jaka terdiam. Gini amat ya punya istri lagi ngidam?


“Udah cus Beb, cari belimbingnya yok! Di rumah Bu Een kan ada pohonnya.”


“Han, mendingan gue disuruh masuk kandang macan apa buaya deh daripada dateng kesana buat minta buah belimbing wuluh.” Ujar Om Jaka lesu.


“Lho kenapa? Ini demi anak kita lho, Beb …”


Om Jaka serba salah, namun ia tak punya pilihan. Lekas ia menjalankan mobilnya walau hatinya terus ngedumel.


Tau kayak gini sih gue nggak nawarin Denaya lagi. Mendingan gue pilih anak gue ileran aja dah! Males banget gue harus ketemu itu orang! Ntar nyampe sana pasti mencak-mencak lagi tu nenek gayung! Hadeeh, nasib … nasib….


❤️❤️❤️❤️❤️


Hai Kak, othor awut-awutan telat lagi dah ah ini up nya 🙏🙏


Abis ngitung sisa THR-an, maklumin yak… wkwkwk…. 🤭🤭🤭


Terima kasih buat yang selaku setia dukung karya othor dan nunggun kelanjutannya. 🙏🙏


Kalian semua luar biasa.😘😘


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2