
Matahari pagi belum terlalu tinggi, cicit burung gereja yang biasa ramai di atap balkon kamar Via juga masih sepi. Via keluar kamar menuruni tangga selepas mandi dan aroma wangi masakan menyambutnya.
Via yang penasaran lantas menuju dapur.
"Pagi, sayang." Sapa Mirza.
"Masak apa, Mas?"
"Nasi goreng sea food." Sahut Mirza seraya tersenyum.
Tak berapa lama nasi goreng bikinan Mirza telah siap di meja makan, tak lupa secangkir teh melati turut menemani.
"Makanlah, sayang. Aku masakin spesial buat kamu." Mirza mengambilkan nasi goreng untuk Via.
Via menerimanya hanya dengan senyum tipis. Tak ada kata yang diucapkan Via, dia hanya mengunyah nasi goreng buatan suaminya. Mirza diam-diam mencuri pandang padanya. Bagaimana pun juga Via pasti masih merasa canggung setelah kejadian kemarin, oleh sebab itu Mirza berusaha dengan berbagai cara merebut kembali perhatian Via.
"Em, sayang, gimana kalo habis sarapan kita ke pantai?" Usul Mirza.
Via tak menyahut. Mirza merasa perlu semakin meyakinkan Via.
“Kalo bukan hari libur gini kan nggak terlalu rame. Aku ingin menghabiskan waktu sama kamu hari ini di sana.” Mirza melihat Via dengan tatapan memohon.
“Nggak tau ya, Mas. Aku kayaknya hari ini nggak mau kemana-mana.” Via menyahut pelan.
Kecewa yang di rasakan Mirza sudah pasti, namun dia tak ingin terlalu memaksa. Kata maaf untuknya mungkin telah Via berikan, tapi untuk mengharapkan Via bersikap seperti biasanya mungkin sedikit butuh waktu.
Mirza ingat betapa semalam Via sama sekali tak merespon sentuhan demi sentuhan yang ia berikan. Bibir Via mengatup saat Mirza menciumnya. Begitu pun saat ia memeluknya, Via menghindar perlahan dan tidur dengan posisi membelakangi Mirza. Via berubah dingin di peraduan. Mirza tak tau hati Via yang masih begitu pedih, air mata Via meleleh perlahan tanpa Mirza ketahui. Via belum bisa menerima bahwa suaminya pernah bercinta dengan wanita lain. Via tak ingin disentuh semalam.
“Oke, nggak papa. Kita habiskan waktu di rumah aja.” Ucap Mirza coba mengerti.
Selesai makan Via membereskan piring dan membawanya ke wastafel cuci piring.
“Biar aku aja, sayang.” Sergah Mirza mengambil sabun cair pencuci piring.
“Udah lah, Mas. Ini tugas aku.” Nada kalimat Via sedikit ditekan dengan mata melihat tajam pada Mirza.
Mirza mengangguk pasrah lantas mengambil cangkir teh Via membawanya ke halaman belakang.
“Sayang, aku tunggu di gazebo ya.” Ucap Mirza sambil memperlihatkan cangkir yang di bawanya.
Via hanya melihat sekilas tanpa menyahut lantas perhatiannya kembali pada piring-piring yang sedang dicucinya.
Lima menit, sepuluh menit, hingga hampir lima belas menit Via tak kunjung muncul di gazebo belakang. Mirza menjulurkan lehernya mencoba melihat dapur yang nampak dari tempatnya duduknya, sepi. Teh melati Via sudah benar-benar dingin.
Mirza menuju dapur, lengang nggak ada siapa-siapa. Mirza naik ke kamarnya, namun Via pun nggak di sana. Mirza coba ke halaman depan, ternyata benar Via sedang memegang selang air menyiram tanaman dan bunga-bunga.
Mirza mendekat. “Sayang, aku nungguin di belakang, nggak taunya kamu di sini.”
“Aku kan nggak bilang kalo aku mau ke sana.” Sahut Via datar tanpa melihat pada Mirza yang berdiri di sampingnya.
GLEK!
_______________
“Bu Een, tokonya nggak buka?” Tanya seorang tetangga pada Bu Een yang lagi ngeluarin motor dari garasinya.
“Eh, Nggak. Hari ini tutup dulu, soalnya saya mau ada perlu.”
“Yah, gimana dong? Saya mau beli telor nih buat lauk sarapan suami saya yang mau berangkat kerja.” Si ibu rada nyesel.
“Nanti agak siangan paling bukanya.” Ujar Bu Een.
“Orang sarapannya sekarang masa suruh nunggu siang, gimana sih Bu?” Gerutu si Ibu sambil lalu.
“Ye, yang mau sarapan suaminya situ kok ngomelnya ke saya? Ya terserah saya dong, mau buka siang apa pagi. Toko toko saya, kok situ yang repot!” Bu Een terus ngedumel hingga Jaka datang.
“Yu! Ya ampun! Sampean belum siap?” Seru Om Jaka yang melihat kakaknya masih berdaster ria. “Katanya suruh pagi-pagi?”
“Iya, sebentar. Ini tinggal ganti baju aja kok. Aku kan sibuk bikinin kamu sarapan, bersih-bersih, ini barusan ngeluarin motor.” Papar Bu Een.
__ADS_1
“Ya udah cepetan sana ganti baju!” Perintah Om Jaka.
“Iya, iya.”
Bu Een masuk ke dalam. Om Jaka duduk di depan toko menyalakan sebatang rokok sambil menunggu sang kakak, namun sampai sebatang rokok ditangannya hampir usai, Bu Een tak juga muncul. Om Jaka membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya dengan sepatunya. Om Jaka mulai tak sabaran dan menuju rumah.
“Yu, cepetan ngapa!” Panggil Om Jaka dari pintu depan.
Bu Een datang dengan langkah tergesa sambil merapikan hijab lebarnya.
“Buset! Sampean ngapain pake kerudung lebar bener, Yu? Tumben amat?” Om Jaka heran demi melihat penampilan kakaknya .
“Diem kamu, nggak usah banyak omong!"
“Jangan bilang kalo sampean mau sekalian pedekate sama Haji Barkah ya?!” Selidik Om Jaka dengan senyum misterius.
Sontak Bu Een melotot mendengar tuduhan Om Jaka. “Sembarangan! Aku kan cuman menghormati Pak Haji aja.”
Om Jaka mencibir.
“Tapi kelihatan pantes kan aku, Jak?” Bu Een memutar-mutar dirinya di depan kaca jendela rumahnya yang lebar.
“Hemm…”
“Kok Cuma Hemmm?”
“Ya lagian sampean itu lho Yu, dandan lama bener kaya anak perawan mau ketemu gebetan. Gue rasa sih nggak mungkin kalo niatan sampean cuman mau ngormatin Pak Haji sampe segitunya.”
“Dibilang nggak usah banyak omong!”
“Gue tau Haji Barkah duda tua kaya raya. Toko matrialnya dimana-mana, sawahnya luas, mobilnya banyak, udah gitu nggak punya anak lagi. Gue rasa nggak mungkin kalo sampean nggak punya niatan terselubung.” Ucap Om Jaka cuek.
“Ih,mulut kamu itu jahat banget ya Jak, kayak mulutnya nitizen!” Sahut Bu Een kesal sambil mengunci pintu rumahnya.
“Eh, nitizen ngomongnya nggak pake mulut, Yu. Tapi pake jari dan jempol tangan digoyang.” Sahut Om Jaka asal.
“Masa Bodo! Lagian kata sapa Haji Barkah nggak punya anak? Dia punya anak perempuan satu, tau!” Ujar Bu Een .
Bu Een kali ini cuek menuju motornya lantas membuka jok motor dan memasukkan tasnya ke dalam sana.
“Bawa apaan itu Yu?” Tanya Om Jaka.
“Duit buat bayar pelunasan mobilnya.” Sahut Bu Een lirih takut ada yang denger.
Om Jaka yang penasaran membuka tas Bu Een dan melihat ada amplop coklat besar di sana. “Buset! Ini isinya duit semua?” Tanya Om Jaka sambil memegang amplop coklat yang teba dan berat itu.
“Nggak, campur daun singkong!"
Om Jaka nyengir seraya menutup jok motor.
“Berapa sampean beli mobil bekasnya Haji Barkah, yu?” Tanya Om Jaka kemudian.
“Nggak usah kepo deh kamu, Jak.” Bu Een sebel juga Om Jaka nanya mulu dari tadi kayak polisi.
Om Jaka malah nyengir lagi. “Berapa pun kayaknya nggak jadi masalah ya Yu, yang penting sekalian dapetin hatinya gebetan, haha ….”
Bu Een langsung melotot, kali ini dengan tampang lebih galak.
Bukannya takut, Om Jaka malah tambah ngeledek. “Nggak usah melotot gitu ah, ntar biji matanya keluar, gimana? Udah cepetan naik, gue boncengin sampe ke rumah gebetan.”
Mereka akhirnya melaju dengan motor menuju rumah Pak Haji Barkah untuk mengambil mobil yang tempo hari sudah diberi uang DP oleh Bu Een.
Sebenarnya apa yang diucapkan Om Jaka nggak sepenuhnya keliru sih, dulu Bu Een memang pernah punya niatan ingin menjodohkan Mirza dengan putri semata wayang Pak Haji Barkah yang kaya raya itu agar dia pun bisa ketularan makin kaya dan sawahnya makin luas. Nanum apalah daya Mirza lebih memilih Via. Dan sekarang setelah beberapa tahun berlalu, Bu Een tau istri Pak Haji sudah meninggal , Bu Een merasa punya peluang untuk bisa menjadi nyonya Barkah sehingga niatannya yang dulu tak terwujud kini siapa tahu bisa kesampean.
____________
Di salah satu ruang perawatan rumah sakit kota, Sofi nampak membuka matanya perlahan. Dia merasa baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
“Za?” Panggil Sofi.
__ADS_1
Udin yang tidur meringkuk di sofa samar-samar seperti mendengar suara seseorang.
“Mirza!” Panggil Sofi pada Udin mengira Mirza yang ada di sana.
Udin menoleh dan lekas terbangun melihat Sofi yang sedang melihat ke arahnya.
“Kamu siapa?” Tanya Sofi kaget, karena ternyata malah tampang si Udin yang nongol bukan Mirza seperti yang diharapkannya.
“Saya …”
“Kamu siapa? Ngapain kamu di sini? Mirza di mana?” Tanya Sofi sedikit berteriak.
“Sabar, sabar dulu, Mbak.” Udin berusaha mendekat menenangkan Sofi.
“Jangan deket-deket!” Hardik Sofi. “Kamu kenapa bisa ada di sini? Kamu siapa?” Tanya Sofi lagi.
“Saya Udin, Mbak. Saya disuruh Om Jaka buat jagain disini.”
Sofi heran. “Terus Om Jakanya mana?” Jangan bilang kalo dia balik ke Jakarta.”
“Nggak, nanti Om Jaka ke sini kok. Sekarang masih di rumah Bu Een.” Udin menjelaskan agar Sofi nggak khawatir.
“Bu Een?”
“iya, Ibunya Mas Mirza.”
“Mirza mana? Dia ada di sini kan? Dia yang antar aku ke sini kan? Cepetan panggil dia!”
Udin malah jadi bingung, ini cewek kok ngebet banget dari tadi nanyain Mirza mulu. Udah jelas-jelas dia yang nungguin di rumah sakit semalaman.
“Kenapa diem? Cepetan kamu panggil Mirza.” Perintah Sofi lagi.
“Mbak, yang bawa Mbak ke sini itu Om Jaka sama saya. Mas Mirza dari kemarin sore nggak dateng ke sini, dia ada di rumah sama Mbak Via.” Jelas Udin perlahan.
Mendengar kata Via disebut, Sofi mulai merasakan gemuruh di dadanya. Pikirannya langsung teringat kejadian kemarin di rumah Mirza.
“Aku harus ketemu Mirza!” Sofi berusaha turun dari ranjangnya.
“E eh, jangan Mbak!Nanti dulu ya, saya panggil suster dulu. Apa Mbak sudah boleh pulang apa belum.” Udin mencoba menyabarkan Sofi. “Tunggu di sini ya, Mbak. Jangan kemana-mana, saya akan kembali setelah pesan-pesan berikut.” Udin keluar padahal harusnya dia nggak perlu repot-repot keluar tinggal pencet tombol panggilan aja nanti suster ngesot pasti datang, tapi dasar si Udin saking khawatirnya sama Sofi sampe nggak kepikiran.
Setelah manggil suter ngesot, Udin coba menghubungi Om Jaka namun sampai beberapa kali panggilan tak juga Om Jaka menerimanya. Udin mulai diselimuti rasa takut. Udin akhirnya memilih kembali ke kamar perawatan Sofi.
“Ibu Sofia keadannya sudah pulih kok, Pak. Hari ini sudah boleh pulang.” Ucap suster setelah selesai mengecek keadaan Sofi. “Tapi tunggu visit dokter dulu ya sebentar lagi, sama sekalian silakan diurus administrasinya dulu.” Pungkas suster lantas minta diri keluar ruangan.
Udin termenung.
Gimana ini, siapa yang nanti bayar biaya rumah sakitnya? Om Jaka kemana sih, katanya pagi-pagi mau kesini? Ini malah belum nongol. Masa aku harus nombokin bayar perawatan cewek ini? Kenal juga nggak, kalo dia mau jadi pacarku sih nggak papa, sukur-sukur jadi istri, hehe. Rela deh aku bongkar celengan ayam jago juga kalo dapet calon istri cantiknya kaya begini mah.
Udin terus bermonolog dalam hati antara perasaan bingung dan harapan-harapan halunya. Sementara diam-diam Sofi memperhatikan Udin pemuda kampung yang bertampang polos dan lempeng itu.
“Kamu kenapa diem aja? Nggak usah takut, aku bisa bayar sendiri biaya rumah sakit ini.” Ucap sofi seolah mengerti isi hati Udin yang lagi galau.
Udin langsung melihat pada Sofi. “Oh, syukurlah.” Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Udin.
“Tapi ada satu syarat yang harus kamu setujui.” Sofi menatap tajam pada Udin.
“Apa itu, Mbak?”
_____________
_____ bersambung ☺️
maaf ya Kak kalo banyak typo 🙏🙏🙏
Othor buru buru nih nulisnya 🤭🤭
Tapi tetep jangan lupa dukungannya ya kak...
like, komen, rate dan vote 🙏🙏❤️❤️
__ADS_1
Luv U 😍😍😘😘😘😘