
Hujan gerimis ditengah matahari bersinar terik siang ini, aroma tanah kering terbasuh hujan menyeruak memenuhi indra penciuman. Via menggeliat dari tidur siangnya yang nyaman, tirai jendela kamarnya melambai diterpa hembusan angin.
“Hujan?” bertanya pada diri sendiri, menggosok matanya perlahan lantas beringsut turun mendekat pada jendela.
Jam dinding menunjukkan hampir pukul 2 siang, ia terlelap selepas dzuhur dengan masih mengenakan bawahan mukenanya. Seketika benaknya teringat pada suaminya.
“Mas?” memanggil keluar kamar setelah melepas bawahan mukena berwarna putih itu. Rumah tampak sepi, ditepuknya jidat teringat Mirza pamit sebelum kumandang adzan dzuhur karena mendapat kabar dari rumah sakit.
Duduk di teras depan menikmati rinai hujan yang tiba-tiba melebat namun matahari masih pongah tak mau mengalah. Kata orang tua dulu kalo hujan campur panas matahari pertanda ada macan lagi beranak. Via senyum sendiri, sempat ia mempercayai cerita fiktif macam itu kala kecil dulu.
Fenomena langka itu sangat menarik perhatiannya, ia terpukau memandangi guyuran air yang bak ditumpahkan dari langit itu. semua tanaman dalam pekarangan rumahnya basah, genangan air tercipta berpendar-pendar ditimpa ribuan jarum air hujan yang jatuh di atasnya. Via mengelus perutnya, sedikit mendongak melihat langit yang masih sangatlah cerah.
“Mbak?” teguran suara Riri mengejutkan Via. “Lagi ngapain?”
“Riri? Sejak kapan kamu disini?” menatap sang adik heran campur kaget. “Eh, kamu kok bisa ada disini? Datang kapan?”Ralatnya.
“Waktu Mbak masih tidur tadi, Mas Mirza nelpon nyuruh aku kesini buat nemenin Mbak Via.”
Membulatkan bibir seraya mengangguk.
“Masuk yuk, ntar masuk angin Mbak.”
“Mbak lagi asyik liatin hujan nih. Jarang-jarang soalnya hujan ditengah panas gini.”
Mendekat duduk di sebelah sang kakak. “Kayaknya ini suatu pertanda deh.”
“Pertanda ada macan melahirkan?” Terkekeh diujung kalimatnya.
Menggedikkan bahu. “Pertanda baik bisa juga pertanda buruk.”
“Sok tau!” cibir Via. “Ya emang cuman ada dua kemungkinan itu.”
Riri hanya nyengir, dia ikutan ngeliatin hujan yang masih riuh menghujam bumi. Mendadak fokusnya terganggu katika merasa sedang diperhatikan Via.
“Ri, cerita deh gimana kamu bisa ketemu lagi sama Azad?” bertopang dagu memandang wajah adiknya.
“Hish! Nggak usah dibahas, aku ilfeel.” Riri melengos.
“Kok ibu bisa ngomel sih? Emang Azad nyamperin kamu ke rumah?” menarik lengan sang adik untuk kembali melihatnya.
“Mbak jangan nanya itu deh, aku ilfeel beneran!” merengut kesal.
“Mbak cuman pingin tau aja, ayolah ceritain” sedikit memaksa.
“Ck! Si Tuan Takur itu rupanya nguntit aku pulang waktu aku abis anterin temennya Om Jaka yang orang bule itu ke rumah Mas Mirza.”
“Jadi kamu punya panggilan sayang nih buat Azad? Tuan takur, bagus juga.” Via tergelak dan sukses membuat Riri ngambek, dia bangkit dengan wajah cemberut namun Via buru-buru menariknya untuk kembali duduk di sampingnya. “Jangan ngambekan dong, Mbak cuma becanda.” Tersenyum membujuk Riri.
__ADS_1
“Makanya mbak Via jangan bahas itu lagi.”
Menepuk bahu sang adik menatapnya penuh perhatian. “Ini juga sebagai ujian, apa kamu akan goyah atau tidak ketika bertemu dengan seorang pria yang lebih mapan dari Toni.”
“Ya jelas nggak lah! Ibu aja nolak mentah-mentah kok.” Sahut Riri cepat.
“Jadi kalo ibu setuju, kamu mau sama Azad?”
Mendengus kasar. “No! nehi-nehi terajanah!” Tegas Riri.
Tersenyum simpul, “good, itu baru adiknya Mbak. Perjuangkan cinta kamu.”
“Ish! dari kemarin-kemarin juga gitu keles! Aku setia hanya pada satu cinta.”
“Terus kenapa kamu bisa sampe nganterin Hanson pulang?”
“Hanson?” agak bingung.
“Temennya Om Jaka yang orang bule itu.”
“Oh, jadi namanya Hanson?” Riri baru tahu. “Entah, waktu aku ke rumah Pak Haji buat ngasih nota catering, Hanson itu udah ada disana sama Pak Haji. Terus dia minta tolong nebeng diantar pulang. Aku pikir karena dia tamunya Pak Haji ya oke aja.”
“Nggak taunya kamu malah ketemu Azad kan?” Lanjut Via.
“Hiyy! Kok balik lagi ke Azad sih?”
“Aku tu kesel sama dia sejak dari pertama ketemu Mbak. Soalnya dia adiknya pelakor.”
Terdiam, memang tak semua orang bisa melupakan kejadian yang menyakitkan pada diri mereka. Meski Riri bukan korban utama, nyatanya ia turut merasakan kesedihan hati Via kala itu. Via tak mau memaksa setiap orang untuk menjadi seperti dirinya yang dapat mengubur dalam-dalam semua kisah kelamnya. Dia paham mengapa orang-orang terdekatnya bersikap seperti itu, semuanya karena begitu sayangnya mereka pada dirinya.
“Ya udah, yuk kita masuk” bangkit mengajak Riri. “Calon keponakan kamu minta dibikinin seblak nih.” Mengusap perutnya dengan senyum lebar. “Kayaknya enak hujan-hujan gini makan seblak.”
“Huu, modus. Pake bawa-bawa alesan calon keponakan aku. Bilang aja kalo emang emaknya yang pingin?” Cibir Riri ikut bangkit.
Menggandeng lengan sang adik. “Nah, itu kamu tau.”
-
-
-
Hampir petang, dalam suasana lembab lepas hujan deras yang mengguyur siang tadi, Mirza duduk bersandar di sudut ruangan. Bu Een baru saja dipindahkan ke ruang perawat setelah dinyatakan masa kritisnya lewat pasca operasi yang keduanya beberapa hari yang lalu. Udin masuk membawakan makanan untuk Mirza.
“Makan Mas. Mas Mirza pasti belum makan kan dari siang tadi?”
“Makasih, Din. Nanti aja, aku belum laper. Aku cuman agak ngantuk.” Meregangkan otot-ototnya.
__ADS_1
“Aku cariin kopi ya?”
“Nggak usah, aku pergi sendiri aja. Nitip ibu sebentar ya?” Beranjak dari kursi.
Mirza melangkah menuju kantin rumah sakit. Lampu-lampu nampak sudah dinyalakan. Sisa hujan masih tercium segar, dedaun basah menambah syahdu suasana sore yang hampir berganti malam. Lorong rumah sakit sepi, waktu besuk memang sudah lewat sejak beberapa jam lalu. Beruntung Bu Een kini sudah pindah dari ruang ICU, jadi Mirza bisa menungginya dalam kamar perwatan Bu Een. Langkah Mirza hampir mencapai kantin ketika satu teriakan memanggilnya.
“Mas Mirza!” Udin setengah berlari menyusulnya.
Menoleh heran. “Kenapa Din kamu lari-lari gitu?”
“Ibu, Mas. Ibu – “
“Ibu kenapa?” Mendadak panik demi mendengar soal ibunya.
“Ibu udah sadar, dia nanyain Mas Mirza.”
“Ibu udah sadar?” Ulang Mirza tak percaya.
Mengangguk cepat. “Ada dokter sama suster disana.”
Tanpa menunggu lagi, Mirza segera kembali ke ruang perawatan Bu Een mengurungkan niatnya yang hendak menikmati segelas kopi.
Langkah-langkah cepat diayun MIrza, ia tak sabar melihat kondisi ibunya. Nampak dokter sedang berbicara serius dengan suster yang berdiri di sebelah bed Bu Een.
“Ibu.” Masuk langsung memburu ibunya yang masih berbaring lemah.
“Za … “ Suara lemah diiring seutas senyum tipis terbit di wajah pucat Bu Een.
❤️❤️❤️❤️❤️
Akhirnya ya, Bu Een kembali ke dunia persilatan juga… haha … 😂😂😂
Siapa nih yang udah kangen sama Bu Een? 😅😅😅
Kira-kira emak-emak yang satu itu udah sadar dari koma jadi berubah nggak ya…?🤔🤔
Terima kasih sudah membaca, mohon maaf kalau banyak typo🙏🙏🙏
Feed back buat akak othor slowly but sure🤩🤩
Like yess😍😍
Komen dong biar othor makin semangat😘😘
Vote juga😄
Love you all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1