
Hari ini sofi sudah diperbolehkan pulang. Meski Ramzi tak memperlihatkan perhatiannya secara langsung, tapi ia sealu memantau kabar istrinya lewat kepala pelayan.
“Baiklah, aku akan pulang lebih awal.” Ramzi menutup percakapannya dengan sang kepala pelayan melalui saluran telepon.
Ceklek.
Pintu ruangan Ramzi dibuka, wajah Jane muncul dengan senyum cerah.
“Hay, apa kita akan bersenang-senang malam ini?” Jane duduk di depan Ramzi seraya memberikan berkas-berkas yang harus ditandatangani.
“Pergilah sendiri, aku harus pulang lebih cepat.” Ucap Ramzi sambil memeriksa berkas itu.
Jane menatapnya dengan senyum mengejek.
“Apa kau mengkhawatirkan Sofi?”
“Ya, dia baru saja pulang dari rumah sakit.”
“Baguslah kalo kamu udah mulai perhatian padanya.” Sahut Jane acuh.
Ramzi tak menanggapinya, setelah selesai dengan berkasnya ia memberikannya kembai pada Jane.
“Oya, tolong atur ulang pertemuanku dengan kementrian agama lusa nanti. Aku ingin mengambil cuti.”
“Cuti?” Jane tak percaya. “Kau ini apa-apaan?”
“Iya, selama dua hari ke depan aku ingin menghabiskan waktu di rumah saja. Dan kau tolong handle semuanya.”
“Ya ampun, Ram. Ayolah, mati-matian kita mendapatkan tander dari pemerintah ini, dan sekarang ketika sudah deal kamu seenaknya saja mau mengatur ulang pertemuan kita dengan mereka. Sungguh tidak professional!” Omel Jane kesal.
“Terserah! Aku sudah bilang sama Papa, mungkin Papa bisa menggantikanku.”
Jane diam.
Ramzi bersiap.
“Tolong rapikan mejaku. Aku duluan.” Ucap Ramzi setelah melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan hampir jam 4 sore.
“Baiklah Tuan Ramzi Alatas.” Sinis Jane.
Ramzi meraih kunci mobilnya. “Terima kasih Jane. Lain kali kita pasti pergi bersenang-senang lagi.” Ucapnya dengan senyum.
“Ya, panggilah aku kapan pun kau butuh.”
Ramzi segera berlalu, dalam pikirannya sudah tak sabar ingin melihat keadaan istrinya. Dan diperjalanan ia sempatkan mampir ke toko bunga untuk membeli krisan putih. Ia ingat sedari remaja Sofi menyukai bunga krisan. nanti setelah sampai rumah ia akan meminta pelayan untuk meletakkannya di vas bunga kamar Sofi, agar Sofi tak tau kalau dirinyalah yang membelinya.
Di kediaman keluarga Alatas.
Kepala pelayan menuju kamar Sofi bersama Tuan Alatas.
“Bagaimana keadaanmu, menantu?” Sapa Tuan Alatas begitu melihat Sofi.
Sofi mengangkat wajahnya mengetahui siapa yang datang.
“Tak usah sok perhatian padaku.” Geram Sofi menatap tajam pada ayah mertuanya.
Tuan Alatas malah tersenyum.
“Ya, mungkin sebaiknya kau memang tak layak untuk diperhatikan. Dasar perempuan tak punya harga diri, masih bagus bayimu yang tak punya ayah itu mati.”
Sofi diam melihat ayah mertuanya membalas tatapan tajamnya. Pelayan semuanya menunduk, seolah tak mendengar apa yang dua orang itu sedang bicarakan. Sofi merasa sudah benar-benar hancur.
“Tinggalkan dia, jangan ada yang masuk ruangan ini tanpa seijinku.” Perintah Tuan Alatas pada pelayan lantas berjalan keluar dan diikuti semua pelayan.
Kreb!
Pintu kamar Sofi ditutup rapat.
Tangis Sofi pecah begitu dia sendirian. Rasanya ia tak punya semangat hidup lagi kini. Apalagi yang harus ia perjuangkan. Janinnya adalah satu-satunya alasan dia kuat menjalani hidup, karena ia pasti akan menikah dengan laki-laki yang dicintainya yaitu Mirza. Tapi kini bayinya telah tiada. Sofi histeris, dan berteriak seperti orang kesetanan.
"Aaaarrggh......"
PRANG!
BRUK!
BRUK!
PRANG!
Dalam sekejap kamar Sofi porak poranda. Vas buga dan hiasan dinding pecah berserakan. Tangan Sofi mengepal kuat dengan amarah membuncah di dadanya.
“Kalian harus membayar ini semua.” Geram Sofi. “Lihat saja, kalian pasti hancur ditanganku, aku bersumpah!”
PRANG!
Untuk yang terakhir kalinya Sofi melempar cermin dengan botol parfum hingga cermin itu pecah berkeping-keping.
“Kenapa kalian semua ada di sini? Bagaimana keadaan Sofi?” Tanya Ramzi yang baru sampai pada para pelayan yang berkumpul di lantai bawah.
Mereka semua menunduk, tak ada yang berani buka suara.
“Papa yang memerintahkan mereka semua untuk turun.” Suara Tuan Alatas mengejutkan Ramzi.
“Ada apa, Pa?”
“Tanyakan pada perempuan ja**ng itu!”
Tanpa banyak tanya lagi Ramzi segera menuju kamarnya di lantai atas setelah meletakkan begitu saja bunga yang dibawanya ke sembarang tempat.
Ramzi terbelalak kaget melihat keadaan kamarnya yang seperti baru saja diterjang tsunami dan gempa.
“Sofi, ada apa ini?” Pekik Ramzi.
“Bagus kau pulang!” Sofi mendekati suaminya.
PLAK!
Satu tamparan telak dihadiahkan Sofi pada pipi kanan Ramzi.
__ADS_1
Ramzi yang tak sempat menghindar merasakan panas dipipinya akibat tamparan Sofi yang sekonyong-konyong itu.
“Apa-apaan kau ini?” Geram Ramzi sambil meringkus tangan Sofi ke belakang.
Sofi meringis kesakitan.
“Jangan bersikap kurang ajar padaku!”
BRUK!
Ramzi mendorong tubuh Sofi hingga tersungkur ke lantai. Sofi segera bangkit, meski nyeri ia rasakan.
“Kau pantas mendapatkan itu! Kau dan ayahmu telah bersekongkol menghilangkan janinku, aku nggak akan tinggal diam! Dasar kalian penjahat! Belum puas menyakiti keluargaku, kini kalian mengambil satu-satunya yang berharga dari diriku!” Ucap Sofi penuh amarah sambil berusaha menyerang Ramzi kembali.
Hup!
Kali ini Ramzi lebih siap, dan mencengkeram kuat pegelangan tangan Sofi.
“Coba saja kalau kamu berani berbuat macam-macam padaku!” Ancam Ramzi dengan seringai diwajahnya dan menghempaskan tangan Sofi kasar.
Lantas ia segera keluar dan menuruni tangga. Semua rencana baiknya hancur. Kini ia harus mempertimbangkan ajakan Jane sore tadi.
___________
“Tante Via ….” Sambut Ica riang begitu melihat Tante kesayangannya datang ke rumahnya.
Ica segera berlari menyongsong Via dan melompat ke pelukan tantenya.
“Pelan-pelan sayang, perut Tante Via kan ada dedek bayinya.” Tia memperingatkan putrinya.
“Oh iya, maaf lupa.” Senyum kecil Ica mengembang. "Maaf ya, Tante.” Ucap Ica.
“Iya, sayang.”
“Om Mirza, bawa oleh-oleh apa buat Ica, Om?” Todong Ica tanpa malu-malu pada Mirza.
“Oh, iya sampe lupa.” Mirza berjalan kembali menuju motornya dan mebuka jok untuk mengambil sesuatu di bagasi joknya. “Buah anggur kesukaan Ica…” Seru Mirza.
“Yeii, maksih ya Om.” Sambut Ica riang.
Mereka kemudian masuk dan duduk di ruang tamu yang tak begitu luas itu.
“Untung Mbak Tia ada di rumah.” Ucap Via kemudian.
“Memang Mbak kan tiap hari juga ada di rumah Vi, kalo nggak ngajar.” Sahut Tia. “Oya, kalian dari mana? Kok tumben main ke sini? Dan itu … motor baru ya?” Berondong Tia seraya melihat motor yang terparkir di halaman rumahnya.
Via tersenyum, lantas bertukar pandang dengan suaminya.
“Ekhem, “Mirza berdehem.
“Eh, kenapa? Haus, Za?” Tanya Tia. “Sebentar ya, Mbak bikin minum dulu.”
“Oh, nggak. Jangan, Mbak.” Sergah Mirza. “Bukan gitu, maksudnya… aku sama Via datang kesini itu cuman mau ngasih tau kalo kami sekarang udah nggak tinggal di rumah kami lagi.”
Tia diam sejenak mencerna kalimat Mirza baik-baik.
“Maksudnya? Kalian pindah?” Tanya Tia kemudian.
“Di kota?” Tia kaget. “Kenapa memangnya? Kok kalian nggak bilang-bilang sih? Sejak kapan?”
“Baru dua hari yang lalu.”
“Tapi kenapa?” Kejar Tia penasaran. “Apa nggak sayang rumah sebesar itu dibiarkan kosong?”
Mirza menghela nafas pelan.
“Ini semua demi kebaikan bersama, Mbak. Intinya, aku dan Via sepakat untuk membangun kembali perekonomian keluarga dari nol. Mbak Tia tau kan gimana sifat ibuku? Dan bagaimana sikapnya selama ini pada Via?” Mirza melirik istrinya.
Tia memandang bergantian Via dan Mirza bergantian lalu mengangguk pelan.
“Semuanya sudah aku kasih buat ibu, aku sekarang nggak punya apa-apa. Dan dalam waktu dekat ini aku bakal pergi berlayar lagi, Via kan sedang hamil, aku mau ngerepotin Mbak Tia ya. Sesekali jenguklah Via di kota, Mbak.” Ucap Mirza memohon pengertian.
“Kamu jangan khawatir, Za. Via kan adik Mbak sendiri, nggak mungkin Mbak akan tega sama dia.”
“Maksih ya, Mbak.”
Tia mengangguk lagi. “Tapi kenapa nggak cari kontrakan yang deket sini aja sih? Biar Mbak bisa nengokin Via tiap hari?”
“Yah kalo gitu apa bedanya dengan tinggal di rumah yang lama Mbak? Ibu pasti bakalan wara wiri lagi, yang ada Via malah tambah stress.”
Via langsung menyenggol lengan suaminya dengan siku kanannya.
“Nggak separah itu lah, Mas.” Protes Via. “memangnya selama kita menikah ini, kalo kamu tinggal berlayar aku jadi stres?” Via mencebik kesal.
“Ya bukan begitu, sayang. Mas kan cuman khawatir aja.”
Mereka bertiga tertawa kecil, sementara Ica nampak sedang asyik menguliti anggur di depan TV setelah ia mencuci sendiri buah kesukaannya itu di belakang.
Tak lama kemudian terdengar suara khas motor bebek Arya memasuki halaman. Tia langsung berdiri untuk meyambut suaminya pulang.
“Udah pulang, Mas?" Sapa Tia seraya meraih tangan suaminya untuk menciumnya.
“Iya. Eh, itu motor baru kamu, Za? Tanya Arya.
“Iya, Mas.”
“Wah, hebat! Aku motor satu aja dari jaman jepang nggak ngganti-ganti, kamu udah beli lagi!” Seloroh Arya.
“Wah, panjang kalo diceritain Mas. Biar nanti Mbak Tia aja deh yang cerita.” Jawab Mirza asal. “Ya udah yuk sayang, kita pamit.” Ajak Mirza kemudian pada Via.
“Lho, mau kemana?” Tia heran.
“Iya, aku dateng kok malah pada pergi sih?” Arya ikutan heran.
“Mau ke rumah ibu, kan kami juga belum ngasih tau kalo kami pindah rumah.”
“Pindah rumah?” Gantian kini Arya yang kaget.
“Jangan nanya dulu deh, Mas. Biar nanti Mbak Tia juga yang nyeritain.” Ucap Mirza sebelum Arya bertanya macam-macam.
“Ah, kamu ini Za. Apa-apa Mbak Tia, emangnya dia tukang dongeng suruh ceritain semuanya?” Arya sedikit kesal.
__ADS_1
“Ya udah lah Mas, nggak usah gitu, ntar aku ceritain kok.” Ujar Tia.
“Ya uda sana, kalo mau ke rumah ibu mertua kamu.” Arya masih kesal.
“Hush! ibu mertua Mirza kan ibu mertua Mas Arya juga!” Protes Tia sambil melototin Arya.
“Iya, walau selama ini aku nggak pernah dianggap. Kan Mirza terus yang selalu dibangga-banggain sama ibu.” Sahut Arya malas.
“Udah deh, nggak usah kayak anak kecil, baperan kamu Mas.” Cibir Tia. “Mending makan dulu yuk, aku udah masakin sayur bening tuh sama tempe bacem.” Ajak Tia pada suaminya.
“Iya, aku laper banget nih. Mana tadi narik penumpang ape bolak balik tiga kali ke pasar bawa barang bawaan banyak nggak dikasih minum lagi.” Gerutu Arya. “Nih, hari ini Mas cuman dapet segini, besok moga-moga rejekinya lebih banyak.” Aya memberikan uang dari saku jaket kulitnya.
“Alhamdulillah, ini rejeki kita hari ini, Mas.” Ucap Tia penuh syukur.
Entah mengapa hati Via dan Mirza terenyuh melihat pemandangan di depan mereka itu.
Keluarga kakaknya itu begitu sederhana. Sejak Arya di PHK dari sebuah pabrik sparepart motor ternama di Tangerang beberapa tahun yang lalu, kehidupan kakaknya itu menjadi sangat sederhana dan apa adanya. Penghasilan Arya yang hanya sebagai tukang ojek kampung dan Tia sebagai guru honor yang gajinya tak seberapa, itupun kadang gajian kadang nggak tergantung dari dana BOS (Bantuan Oprasional Sekolah) pemerintah membuat Tia dan Arya harus putar otak untuk memenuhi semua kebutuhan hidup mereka.
“Eh, kok malah bengong.” Tia menyadarkan pandangan haru Via dan Mirza. “Kalian makan disini sekalian Yuk. Mbak masak banyak kok, Vi.” Ajak Tia.
“Makasih, deh Mbak. Takut kesorean, kita ke rumah ibu dulu aja. Nanti gampang lain kali kita makan disini.” Tolak Via.
Lantas Via dan Mirza pun pergi meninggalkan rumah Tia. Dalam perjalanan ke rumah Bu Harni, Via termenung. Apakah nasibnya nanti akan sama seperti Tia dan Arya? Hidup penuh kesederhanaan? Ah, tapi kenapa harus takut? Bukankah selama Mirza ada bersamanya, meski hidup susah pun akan diarungi bersama-sama. Lagi pula, Mbak Tia dan Mas Arya tak perlu dikasihani, karena mereka sangat hebat. Mereka gigih berjuang bersama. Tak pernah mengeluh, dan selalu bersyukur.
“Sayang…” Pamggil Mirza yang menyadari Via sedari tadi hanya diam saja.
“Heum..”
“Mas tau apa yang kamu pikirkan.” Ucap Mirza sambil meraih tangan kiri Via dan melingkarkan di pinggangnya. “Jangan sedih, kita akan bisa melewati semuanya.”
Via tak menyahut. Dia menempelkan pipinya di punggung Mirza yang lapang. Merengkuhkan pelukkannya pada suaminya. Mulutnya mungkin hanya diam, tapi hatinya berbicara, betapa ia bersyukur mempunyai suami seperti Mirza. Tak terasa air matanya meleleh. Cepet-cepet ia menyekanya sebelum sampai di rumah ibunya.
Tak lama kemudian motor NDAHO BMX Mirza memasuki halaman rumah Bu Harni tepat bersamaan dengan Bu Harni yang sedang membuka pintu rumahnya. Sepertinya ia baru saja dari pengajian, karena membawa tas dan sangat rapi.
“Assalamualaikum.” Ucap Mirza dan Via bersamaan.
“Wa alaikmsaam.” Jawab Bu harni.
Via dan Mirza lantas mencium punggung tangan Bu Harni bergantian.
“Baru pulang dari pengajian, Bu?” Tanya Via.
“Iya. Kamu sendiri dari mana? Itu motor siapa? Baru ya?” Bu Harni bertanya kepo.
“Suruh masuk dulu ngapa, Bu? Belum juga disuruh masuk udah ditanya macem-macem.” Protes Via.
Lantas ia dan Mirza mengikiti Bu Harni duduk di ruang tamu.
“Ya ibu heran aja, kayaknya itu motor masih kinclong. Kamu beli baru, Za?”
“Iya. Jawab Mirza singkat.
“Oya Riri mana, Bu?” Tanya Via setelah mereka terdiam beberapa saat. Via agak canggung mau membuka obrolan karena pertemuan terakhir dengan ibunya berakhir buruk. Bu Harni marah padanya karena Mirza memberikan semua hartanya pada Bu Een.
“Belum pulang. Paling nanti malam, karena tadi pagi katanya ada pesanan kue cukup banyak.”
“Oh, bagus lah. Udah dapat orderan banyak. Timpal Via.
“Iya, itu semua berkat Danar. Ibu nggak sabar mau Riri cepat-cepat dilamar Danar.”
Via dan Mirza saling pandang.
“Danar itu laki-laki yang cocok buat Riri. Selain kaya, ibunya Danar juga ternyata nggak sombong. Baik bener sama ibu, kalian lihat sendiri kan waktu syukuran toko kuenya Riri?”
Via mengangguk, Mirza hanya Diam.
“Orang yang bener-bener kaya tuh ya sejatinya seperti itu. Nggak sok pamer, nggak sombong, nggak songong, nggak bayak omong.” Nada bicara Bu Harni penuh sindiran.
Mirza tau kemana arah pembicaraan ibu mertuanya itu.
“Begini, Bu. Kami datang ke sini mau ngasih kabar sama ibu.” Ucap Mirza yang mulai tak sabar dengan sikap ibu mertuanya.
“Kabar apa?” Tanya Bu Harni acuh.
“Kami sekarang sudah nggak tinggal lagi di rumah yang lama. Kami mengontrak rumah di kota.”
“Apa?”
Benar saja, dugaan Via dan Mirza. Bu Harni pasti akan shock.
“Apa kalian sudah gila? Via, kamu nggak sampaikan kata-kata ibu waktu itu sama suamimu?” Bu Harni melihat Via dengan jengkel.
“Ini sudah keputusan kami, Bu.” Sahut Via.
“Keputusan apa? Kalian itu nggak pikir panjang. Benar-benar nggak medengarkan saran ibu sebagai orang tua!”
“Ini semua demi kebaikan bersama, Bu.” Timpal Mirza.
“Kebaikan ibumu! Bukan kebaikan bersama!" Potong Bu Harni dengan kejengkelan yang semakin menjadi-jadi. "Dengar ya, Mirza. Selama kamu belum kembali menjadi kaya raya seperti dulu, jangan harap kamu mendapat perhatian ibu lagi sebagai menantu kesayang!” Ucap Bu harni berapi-api.
“Nggak masalah, Bu. Menantu kesayangan atau bukan, saya tetap suami Via. Dan saya akan bertanggung hawab penuh atas diri Via, lahir batinnya Via selama Via masih ridho menjadi istri saya.” Tandas Mirza
“Omong kosong!” Bantah Bu Harni. “Kalian akan menyesal dengan jalan yang sudah kalian pilih. Jika sampai Via menderita gara-gara keputusan bodohmu itu, ibu akan minta dia buat ninggalin kamu. Ingat itu baik-baik!”
“Bu! Jangan bicara seperti itu.” Sergah Via. “Selama kami saling mencintai, kami nggak akan hidup menderita. Aku yakin Mas Mirza pasti akan menjadi suami dan ayah yang baik buat aku dan calon anakku.” Via memebelai perutnya sendiri.
“Jangan Cuma ngomong, buktikan!” Ketus Bu Harni sambil bangkit meraih tasnya dan berlalu begitu saja.
Via dan Mirza pulang dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Perjalanan ke kota kurang lebih 40 menit lamanya hanya dilalui mereka dengan diam. Langit sore itu nampak tak seindah biasanya. Senja muram terhalang awan mendung yang tiba-tiba datang. Sepoi angin sore pun terasa kelu, kebahagian mungkin sedang tak berpihak sore itu pada mereka, namun dalam hati Via dan Mirza yakin mereka akan bisa melalui ujian hidup ini selama mereka saling menguatkan satu sama lain.
_________
Eaaaa.... selesai juga 2 bab akhirnyaaa 😍😍😍
Makasih akak yang selalu support Via❤️Mirza🙏🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa....🤩🤩🤩
Luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1