
Pagi ini cerah sekali, Om Jaka dan Denaya akan kembali menyelesaikan persiapan akad nikah karena tak mau merepotkan Haji Barkah. Mereka akan ke kota untuk memesan aneka kue dan catering pada Riri sebab berkat promosi Via Om Jaka tau dengan bisnis baru adik Via itu. Tapi sebelum mereka ke kota, Om Jaka mampir dulu ke rumah Bu Een untuk mengambil barangnya yang tertinggal.
Bu Een dan Udin nampaknya sedang bersiap mau pergi karena mereka sudah sangat rapi.
“Mau kemana sampean, Yu?” Sapa Om Jaka pada Kakaknya begitu turun dari mobil diikuti Denaya.
“Mau belanja.” Sahut Bu Een singkat tapi matanya menatap pada Denaya.
“Assalamualaikum, Bu Endang. Gimana kabarnya?” Sapa Denaya seraya menyalami calon kakak iparnya itu.
“Baik.” Jawab Bu Een sedikit canggung karena ia agaknya sedikit kaget demi melihat penampilan Denaya sekarang yang berhijab. “Nak Dena sekarang berhijab?” Pertanyaan itu lolos juga dari mulut Bu Een.
“Iya dong, kan sudah mau jadi istrinya Jaka Sutrisna.” Malah Om Jaka yang menyahut jumawa.
Bu Een langsung mencibir. “Kok mau sih sama dia? Sudah duda, tengil pula kelakuannya! Kayak nggak ada laki-laki lain aja!”
Denaya hanya tersenyum.
“Yang duda itu justru yang lebih berpangalaman. Iya, kan Honey?” Om jaka melirik genit pada calon istrinya membuat Bu Een makin bertambah masam.
“Udah nggak usah keganjenan! kamu ke sini mau ngapain, cuma mau pamer?” Tanya Bu Een jengkel.
“Oh iya, sampe lupa! Gue mau mabil barang-barang gue. Sebentar ya, Honey.” Om Jaka segera masuk meninggalkan Denaya dengan Bu Een.
Tak berapa lama Om jaka muncul kembali dengan tas jinjingnya.
“Din, cepet kunci pintunya. Kita pergi sekarang!” perintah Bu Een pada Udin yang masih sedang mengelap body mobil.
“Iya, Bu!”
“Buru-buru amat sih Yu? Mana ada tamu nggak disuruh masuk dulu lagi.” Sindir Om jaka.
“Tamu tak diundang!” Gereget Bu Een.
Om Jaka malah tersenyum lebar, suka banget dia bikin mbakyunya itu jengkel dan ngomel-ngomel.
“Eh tapi sampean diundang lho ke akad nikah kita, Yu.” Ucap Om Jaka kemudian. “Akad nikahnya di masjid Al-Mubarok hari Sabtu nanti. Anggap saja ini undangan resmi ya Yu.”
“Hari Sabtu?” Tanya Bu Een kaget.
“Biasa aja kali, Yu. Nggak usah melotot kaget gitu. Natar biji mata sampean copot kan malah repot!” Kelakar Om Jaka.
“Kok cepet banget sih?”
“Lebih cepat lebih baik.” Sahut Om jaka.
“Iya, Bu. Yang penting sah dulu. Resepsinya bebarapa buan lagi.” Timpal Denaya.
Bu Een menatap Om jaka dan Denaya berganti-ganti.
“Dia nggak hamil duluan kan Jaka?”
“Astaghfirullah! Astaga!” Ucap Denaya dan Om Jaka hampir berbarengan.
“Pikiran sampean itu emang selalu jelek ya, Yu!” Om jaka sedikit kesal.
“Ya habisnya nikah kok dadakan? Udah gitu cuman akadnya aja, resepsinya nanti, wajar kan kalo saya curuga? Kesannya buru-buru banget.” Bu Een membela diri. “Atau jangan-jangan kamu nggak punya modal ya Jaka mau nikahin Denaya? Makanya nggak pake resepsi. Hem, cuman mau numpang hidup enak kan kamu sama Pak Haji Barkah?” Cerocos Bu Een sambil dengan bibir miring kiri miring kanan gaya nyinyirnya seperti biasa.
“Teserah sampean deh, Yu! Orang itu kalo isi kepalanya nggak jauh-jauh dari soal duit, ya gini ini.” Om Jaka akhirnya memilih menanggapi santai omongan mabkyunya itu. “ Wes, angel, angel…” Om jaka menggeleng sambil melihat pada Bu Een tak habis pikir lantas mengajak Denaya segera pergi.
________
Mirza sedang berkemas karena sore ini akan ke Jakarta utuk medical chek up yang ke dua, tak ingin merepotkan istrinya, dia mengemas sendiri segala keperluan ke dalam tas ranselnya.
“Eh, Mas. Udah lagi beberes ya.” Via menatap suminya dari atas kasurnya dengan mata masih sedikit mengantuk.
“Iya, kan Mas mau pergi nanti sore.”
__ADS_1
Via beringsut ke bibir ranang. “Sini aku bantuin, Mas.”
“Nggak usah, sayang. Ini udah selesai kok.” Mirza menarik risleting tas ranselnya.
Via bergelayut manja pada lengan Mirza. “Mas aku laper.”
“Oh iya, Mas lupa belum masak buat makan siang kita!” Mirza menepok jidatnya sendiri. “Kamu mau dimasakin apa sayang?”
“Aku mau makan yang seger-seger.”
Mirza menatap wajah istrinya yang lagi glendotan di lengan kirinya itu. "Apa?"
“Aku mau rujak buah, Mas.”
“Rujak buah?” Mirza kaget campur heran. “Nanti kamu sakit perut lagi kayak kemarin, sayang.”
“Pokoknya mau rujak buah, Mas.” Rengek Via.
“Jangan, sayang. Kalo perut kamu sakit lagi gimana? Mas kan mau pergi, nanti siapa yang jagain kamu?” Mirza khawatir sekali.
“Ish, Mas. Ini permintaan dedek bayi lho.” Ucap Via seraya melihat pada perut ratanya. “Kayaknya enak siang-siang gini makan rujak buah, Mas.”
Mirza cuman geleng-geleng kepala. “Baru bangun tidur langsung minta rujak buah, ada-ada aja deh.”
“Ih, Mas nggak boleh ngomel. Ini permintaan dedek bayi, Tau!” Via merengut kesal.
“Iya, iya. Mas tau!” Mirza ngalah aja daripada makin ribet urusanya. “Sebentar, Mas pesan pake go food aja ya.” Mirza meraih hpnya di atas meja rias Via.
“Jangan pake go food lah, Mas Mirza sendiri yang beliin.” Rengek Via lagi.
“Sama aja, sayang. Kan yang penting judunya rujak buah?”
“Beda, Mas. Nanti beda rasanya kalo dibeliin sama suami sendiri sama dibeliin orang lain.” Kilah Via.
Mirza coba bersabar. Emang bener ya kata orang tua, menghadapi wanita ngidam hamil muda itu butuh kesabaran ekstra.
Lagi galau-galaunya, tiba tiba ponsel di tangan Mirza bergetar. Itu panggilan dari Om Jaka.
“Eh, kenapa suara lu lemes banget gitu?” Tanya Om Jaka curiga. “Dimana lu sekarang?”
“Di rumah, kenapa?”
“Elu sakit apa gimana? Kayak orang belon makan seminggu, kagak bersemangat gitu?”
“Om Jaka mau ngapain sih telpon? Cuman mau ngata-ngatain aku?” Mirza mulai kesal.
“Kagak lah. Gue mau mampir ke rumah elu nih ama Denaya, barusan dari toko kuenya Riri pesen buat acara akad nanti.”
“Oh, ya udah tinggal kesini aja.” Ucap Mirza.
“Oke, gue meluncur…”
“Eh, tunggu Om!” Seru Mirza begitu ingat sesuatu.
“Apaan?”
Mirza melihat pada Via. “Sayang, kalo Om Jaka yang beliin nggak papa kan?” Tanya Mirza dengan tatapan memohon. “Kan dia bukan orang lain, dia Om kesayang kita bersama.” Mirza mengembangkan senyumnya seolah merayu Via untuk luluh.
“Mas nggak mau beliin ya?” Via cemberut.
“Bukan gitu sayang. Om Jaka mau kesini, kan sekalian aja.” Ucap Mirza takut Via ngambek.
“Ya udah deh iya.”
“Hoy, ada apaan?” Teriak Om Jaka dari seberang karena dicuekin.
“Om, aku minta tolong ya, sekalian beliin rujak buah buat Via bisa kan, Om?” Tanya Mirza.
__ADS_1
“Rujak buah? Bini elu lagi ngidam rujak buah nih ceritanya?”
“Iya gitu deh. Bisa kan, Om? Sekalian jalannya gitu, hehe….”
“Oke deh, apa sih yang ngggak buat kalian. Ini demi calon cucu gue juga. Ehh…, calon cucu, ya ampun…! Tua amat gue ini ya, padahal baru juga mau kawin!” Seperti biasa Om jaka ngomel sendiri kalo menyebut cucu. Hal itu membuat Denaya yang disampingnya terkekeh melihat tingkah calon suaminya itu.
“Maksih ya Om.” Ucap Mirza.
“Eh, tunggu Mas.” Sergah Via tiba-tiba.
“Apa, ada lagi yang mau dibeli sayang?”
“Sini aku mau ngomong sama Om Jaka.” Via mengambil alih telepon.
Mirza lantas memberikan ponselnya.
“Om, kalo bisa buahnya jangan dipotong tipis-tipis kayak di rujak buah biasanya ya?” Pinta Via.
“Masudnya?” Om jaka tak mengerti.
“Aku maunya bahnya itu dipotng dadu, terus isinya cuman mangga muda, jambu air sama bengkoang. Jangan terlalu pedes ya, Om. Cabenya satu aja.”
“Oh gitu?” Om jaka nampaknya mengerti di seberang.
“Iya, jangan lupa ya Om buahnya dipotong dadu.” Tegas Via.
“Iya Vi, iya. Om paham kok.”
“Ukurannya harus sama ya, Om. 1x1,5 centi meter.”
“APA?” Om Jaka kaget demi mendengar kalimat terakhir Via itu. “Eh, Romlah! Timbang buah mau dimakan aja masa harus ada ukrannya segala?! Rempong dong mamamng yang jual buahnya? Aneh-aneh aja deh lu, Romlah!” Oceh Om jaka sebel.
“Jadi Om Jaka nggak mau nih?” Tedngar Via mulai sensi.
“Ya mau, tapi agak usah sedetai gitu ah, potong dadu itu aja kan cukup.”
“Ya lebih-lebih dikit boleh kok, Om. Nggak persis 1x 1,5 cm juga.”
Mirza hanya bisa menlongo mendengar istrinya sedang benegosiasi dengan Omnya itu, sementara Denaya nampak menutup mulutnya menahan tawanya agar nggka meledak.
“Lagian kalo dadu itu ukura sisinya sama, Romlah ….! Itu ukuran luas paresegi panjang kali!” Om Jaka menahan kesal di seberang.
“Terserah Om jaka deh, pokoknya begitu kira-kira ukurannya ya? Mangga, jambu air sama bengkoang dipotong kayak gitu semua dengan ukuran yang sama. Terus gulanya juga jangan pake gula merah ya, Om. Aku mau pake gula aren buar anisnya enak.”
“Ya amuuuun! Gini amat ya, orang mau punya cucu?” Om jaka mulai frustasi.
“Ok, Om. Makksih ya.” Ucap Via santai.
KLIK!
Via mengakhiri percakapan dan melangkah santai keluar kamar. Dalm hati Mirza senang buakan main karena bukan dia tadi yang beli rujak buahnya sendiri.
“Rasain lu, Om!” Kekeh Mirza pelan menertawakan nasib Omnya yang sekarang pasti lagi sters dengan permintaan Via.
_____
Jiaaaahhh, Om Jaka dikerjain lagi tuuuh🤭🤭
Semangat ya Om, demi calon cucu..😂😂😂
Hi, Kak....☺️☺️☺️
Jempolnya mana nih...? Kasih like jangan lupa yaa...😉😉😉
komen dan rate 5 selalu🤩🤩🤩
Vote seikhlasnya🤣🤣
__ADS_1
Terima kasih supportnya akak...🙏🙏🙏❤️❤️
luv u all 🤗🤗🤗🤭🤭🤭