
“Nggak masalah.” Jawab Sofi penuh percaya diri. “Kamu ingin aku apa? Membuatkanmu kopi, memijit pundakmu atau ...” Sofi sengaja tak melanjutkan kalimatnya.
Ia menarik ujung bibirnya membentuk senyuman kecil seraya melirik Via seolah berkata dirinya siap mengambil alih semua tugas Via sebagai seorang istri Mirza.
“Cuci semu baju kotor di kamar belakang.” Tukas Mirza.
“Apa?” Sofi setengah berteriak tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Kamu pikir aku pembantu?”
“Kamu mau jadi istriku kan?” Tantang Mirza. “Maka lakukanlah semua yang dilakukan oleh istriku.” Lanjut Mirza sambil merangkul pundak Via.
Sofi menggeleng, “kamu bener-bener keterlaluan.” Sofi mulai geram.
“Biasanya kamu ngapain sayang kalo pagi gini?” Tanya Mirza pada Via, jari tangan Mirza sengaja lebih ditekan pada pundak Via memberi isyarat agar Via ikut dalam permainan yang baru saja dimulai.
“Nggak banyak, Mas. Setelah nyuci biasanya aku bersih-bersih rumah, setelah itu aku masak.”
Mirza menjawil dagu Via. “Kamu memang istri yang rajin.”
“Itu kan memang sudah jadi kewajiban seorang istri, Mas. Mengurus rumah dan melayani suami.
“Uunch, istri sholehahku.” Mirza mencubit kedua pipi Via gemas.
Sofi hampir tak bisa menguasai dirinya, telapak tangannya mengepal kuat.
“Gimana? Kamu bisa melakukannya?” Sindir Mirza. “Aku yakin nggak. Udahlah, nggak usah repot-repot, aku yakin kamu nggak akan bisa melakukannya.”
“Aku bisa!” Sahut Sofi berdiri dengan angkuh menantang Mirza. “Aku akan melakukannya.”
“Udahlah Mas, jangan memaksanya. Nanti kalo dia kenapa-napa gimana?” Ujar Via seolah khawatir dengan kondisi Sofi.
“Itu bukan urusanku, sayang.” Mirza kekeh. “Aku udah bilang kemarin aku nggak akan bertanggungjawab dengan dirinya selama tinggal disini, karena ini kan keinginannya. Bukan aku yang minta kok. Iya kan?”
“Tapi, Mas ...”
“Udahlah, sayang. Dia yang bilang bisa melakukannya. Kamu jangan khawatir.”
“Kamu nggak usah sok peduli sam aku.” Sinis Sofi pada Via. “Kamu seneng kan dengan posisi aku seperti ini?”
“Nah, kamu dengar itu?” Ucap Mirza pada Via. “Nggak usah belain dia, sayang. Dia nggak perlu dikasihani.” Sindir Mirza.
“Aku akan nyuci, bersihin rumah lalu setelah itu masak.” Pungkas Sofi kemudian berlalu.
“Tunggu!” Panggil Mirza.
Sofi berbalik dengan malas.
“Kamu bersihkan rumah ini dari depan sampai belakang, dari lantai atas sampai bawah jangan ada debu sedikitpun yang masih nempel. Aku sama istriku mau belanja bulanan. Aku nggak mau tau begitu aku balik kamu harus udah menyelesaikan semua tugasmu.” Papar Mirza tegas.
Sofi tak menyahut, dia melanjutkan langkahnya dengan cepat. Dari gerakannya Mirza tau Sofi sangat marah.
“Apa itu nggak terlalu berlebihan, Mas? Dia kan lagi hamil.” Via menatap punggung Sofi dengan tatapan tak tega.
“Kita udah sepakat kan? Jangan pikirkan yang aneh-aneh, ya. Mainkan saja peranmu dengan baik, sayang.” Ucap Mirza yakin.
Via menurut walau hati kecilnya ada perasaan kasihan pada Sofi.
“Ayo kita pergi, nanti keburu siang.” Mirza menggandeng tangan Via.
“Aku ke kamar dulu ya, Mas. Ganti baju sekalian ambil dompet sama hp.”
“Oke, aku tunggu kamu didepan ya, sayang.”
Mirza menuju garasi, perasannya senang bukan kepalang. Sebagai permulaan, dia cukup puas bisa ngerjain Sofi. Menurut perkiraannya, Sofi nggak akan tahan jika terus menerus diperlakukan seperti itu. Paling lama seminggu dia pasti akan pergi dari rumahnya.
TIN!
Satu klakson mobil membuat Mirza mengurungkan niatnya yang mau membuka pintu garasi.
Ternyata mobil Om Jaka yang datang. Om Jaka turun dari mobil dengan penampilan yang sudah rapi.
“Mau pergi, Za?” Sapa Om Jaka.
“Iya, mau keluar sama Via. Om mau kemana udah rapi begitu?”
“Mau balik Jakarta, nggak enak lama-lama ninggalin kerjaan.”
“Oh...” Mirza cuman manggut-manggut.
Om Jaka menuju kursi di teras depan, Mirza mengikutinya. Mereka duduk berdua.
“Gimana sama istri baru lu?” Tanya Om Jaka kemudian.
“Apaan sih Om?” Mirza berkilah dengan senyum lebarnya.
“Nah, kan. Sekarang udah bisa nyengir lu, kagak tegang kayak biasanya kalo bahas si sofi.” Ledek Om Jaka.
“Ya mau gimana lagi? Dia nekad tinggal disini.”
“Ibu elu itu yang nggak beres sebenernya.”
“Tapi aku sama Via udah punya rencana kok bikin dia nggak betah tinggal disini.”
Om jaka menepuk-nepuk pundak Mirza. “Terserah elu deh kalo soal itu mah, gue cuman bisa kasih doa moga masalah elu cepet kelar.
“Makasih, Om.”
__ADS_1
Suasana hening sejenak. Om Jaka bagaimanapun juga merasa tak tenang dengan keberadaan Sofi ditengah-tengah rumah tangga Mirza dan Via. Tapi ia sendiri tak bisa berbuat banyak.
“Semua ini pasti ada hikmahnya, Za.” Om Jaka menatap Mirza sejurus. Wajahnya yang selalu kocak tiba-tiba menjadi serius. “Moga-moga rumah tangga elu bisa bertahan.”
Mirza mengangguk membalas tatapan Om Jaka yang penuh arti. “Andai saja waktu bisa diputar kembali, Om. Aku nggak akan bertindak bodoh seperti itu sehingga tak menyakiti perasan Via.” Ungkap Mirza lirih.
“Waktu nggak bisa diputar, Za. Apalagi dijilat dan diclupin.” Sahut Om Jaka masih dengan raut serius.
Kontan saja perkataan Om Jaka itu merusak suasana hati Mirza yang lagi melo.
“Ck, Om ini sekalinya diajak ngobrol serius malah becanda!" Mirza berdecak kesal.
Om Jaka malah nyengir kuda. “Makanya nggak usah berendai-andai. Elu jalani aja yanga da di depan mata.”
“Lho, ada Om Jaka?” Tegur Via yang baru muncul dari dalam. “Kok nggak diajak masuk, Mas?”
“Gue cuman mau pamitan balik ke Jakarta, Vi.” Sahut Om Jaka.
Via mencium punggung tangan Om Jaka. “Hai-hati ya, Om.”
Om Jaka mengangguk dengan senyuman.
“Omong-omong boleh nggak nih gue mau pamitan juga sama calon istri baru elu, Za?”
Mirza langsung melotot kesal, “dia lebih pantes jadi istri Om, biar Om nggak jomblo terus!” Sahut Mirza jengkel lantas segera mengajak Via pergi. “Ayo, sayang. Kita tinggalin mereka bedua sapa tau mereka berjodoh.”
Om Jaka masih dengan senyum lebarnya melangkah masuk ke dalam rumah. Mirza dan Via langsung menuju mobil dan bersiap berangkat.
Sementara itu Sofi sedang berdiri menghadap mesin cuci dengan setumpuk baju kotor disampingnya.
“Wah, cocok juga lu jadi Inem, Sof!” Celetuk Om Jaka mengagetkan Sofi.
“Mau ngapain Om Jaka kesini? Seneng ya liat aku menderita?” Sofi pasang tampang galak.
“Lho, bukannya ini yang elu mau? Berada di rumah Mirza sebagai seorang istri Mirza.” Sahut Om Jaka acuh.
Sofi menyipitkan matanya, ia sangat jengkel dengan perkataan Om Jaka. “Aku mau jadi istri, bukan jadi babu!”
Om Jaka hanya menggedikkan bahu cuek. “Anggep aja ini itung-itung latian elu sabelum jadi istri Mirza beneran. Istilah kerennya sih trining, gitu!”
Sofi tak menyahut, ia masih berdiri dengan tampang jengkel.
“Udah, nggak usah pake urat terus. Apa elu gak capek? Nikmatin aja semuanya.”
“Om bener-bener nggak punya hati, sama aja kayak Mirza.”
Om Jaka menggaruk-garuk alis kirinya. “Ya udah deh, gue balik ke Jakarta ya. Jaga diri lu sama calon bayi elu baik-baik.” Ucap Om Jaka.
“Nggak usah Om sok peduli gitu sama aku!” Ketus Sofi.
Om jaka nyengir. Dalam hatinya sebel juga, peduli salah nggak peduli salah. Dasarnya Sofi emosian orangnya, jadinya Om Jaka cuman bisa nyengir aja.
Kalo aja sofi nggak inget Om Jaka lebih tua darinya dan udah cukup baik selama ini pada dirinya, mungkin wajan dan panci yang ada di dapur udah melayang kena kepala Om Jaka.
“Gue balik, ya.” Pamit Om Jaka sekali lagi. “Ntar kalo gue kesini lagi gue bawain elu oleh-oleh daster.” Lanjut Om jaka lantas pergi sebelum Sofi bertambah marah padanya.
_________
Sementara itu selesai berbelanja keperluan bulanan di salah satu supermarket yang ada di kota kabupaten, Mirza mengajak Via makan.
“Sayang, kamu nggak laper?” Tanya Mirza sambil nyetir.
“Belum, cuman haus aja Mas.”
“Kita mapir makan dulu gimana? Mas laper nih.”
“Tadi kenapa nggak sekalin kita ke food court, Mas?”
“Mas mau mampir ke kedai itu yang itu lho. Makanannya lumayan enak juga kok. Suasanyanya juga nyaman, enakan kayaknya kalo siang-siang gini kita ngadem di sana.”
Ya ampun, pasti Mas Mirza mau ke kedai Nostalgia. Ngapain sih pake mampir ke sana? Kayak nggak ada tempat lain aja!
“Sayang, kamu mau kan?” Mirza melirik Via yang hanya diam.
“Terserah Mas aja, deh.”
Mirza tersenyum senang, tak berapa lama mereka sampai di parkiran kedai. Mirza turun dan berjalan cepat hendak membukakkan pintu untuk Via.
“Aku bisa buka pintu sendiri kok, Mas.” Ucap Via yang sudah turun lebih dulu.
Mirza lengsung melingkarkan tangannya ke pinggang Sofi.
“Selamat siang, Mas dan Mbak.” Suara tukang parkir sedikit mengejutkan mereka.
Ya mapun,tukang parkir ini lagi. Rutuk batin Via.
“Eh, ini mbak yang waktu itu kesini kan? Yang mau jemput adeknya terus lupa helmnya nggak dilepas?” Todong tukang parkir yang mengingat Via.
Mirza mengernyit heran.
“Masnya kenal sama istri saya?” Tanya Mirza.
“Kenal sih nggak. Cuman pernah ketemu aja, iya kan, Mbak? Hehe...”
“Hemm.” Sahut Via keki.
__ADS_1
“Ini tiket parkirnya, Mas.” Si tukang parkir memberikan kertas kecil pada Mirza. “Masnya sama Mbaknya bener-bener pasangan romantis ya.” Ujar si tukang parkir yang melihat Mirza merangkul pinggang Via.
Mirza tersenyum. “Makasih ya, nanti saya kasih tip lebih.” Ucap Mirza lantas segera berlalu.
Si tukang parkir girang bukan main.
Mereka mengambil tempat outdoor, Via sengaja mengajak Mirza kesana agar tak terlalu dekat dengan meja bar.
“Aku baru tau ada outdoornya. Kamu sering kesini ya, sayang?” Tanya Mirza sambil mengambil daftar menu yang disodorkan pelayan kedai.
“Sekali waktu sama Yana dan jemput Riri.”
“Oh..” Mirza melihat menu makanan. “Kamu mau makan apa, sayang?”
“Aku minum aja, belum laper, Mas.”
“Beneran? Abis ini kita mau nyuruh Sofi masak lho, aku nggak yakin makanannya nanti bisa mateng apa nggak.” Mirza melihat Via dengan tatapan tak Yakin.
“Ya udah deh, terserah Mas aja.” Sahut Via asal.
“Minumnya?”
“Terserah Mas juga.”
Mirza kembali mneneliti daftar menu.
“Aku minta tuna bakar rica dua sama mathca milk chocolatenya juga dua ya.” Ujar Mirza pada pelayan kedai yang berdiri di sampingnya.
“Boleh." Pelayan mencatat pesanan Mirza. "Tuna bakar paket ya, Mas? Itu udah plus es teh manis atau boleh juga diganti dengan air mineral.”
“Oke, terserah Masnya aja deh.” Jawab Mirza santai.
“Baik, mohon ditunggu orderannya sebentar ya, Mas. Ada yang mau ditambahkan lagi?” Tanya pelayan itu sopan.
“Kayaknya nggak deh.”
Pelayan itu pun segera pergi setelah mengangguk sopan.
Mirza mengecek ponselnya sebentar, sementara Via nampak malas duduk menekuk wajahnya.
“Kamu kenapa sih, sayang? Kok cemberut gitu?” Tanya Mirza.
“Nggak. Masa aku cemberut?” Via coba mengulas senyum karena ternyata Mirza menyadari ketidaknyamanannya di sana.
“Oya, ceritain dong tadi kok mas tukang parkirnya bisa bilang kamu kelupaan ngelepas helm itu gimana ceritanya?” Canda Mirza untuk membuat Via nggak murung lagi.
Via langsung sebal. “Ah, jangan ngomongin yang itu deh, Mas.”
“Kenapa? Kamu malu ya? Haha...” Mirza malah tertawa membuat muka Via merona merah.
“Mas ngetawain aku? Ih, rasain!” Via mencubit pinggang Mirza.
“Aww, aww....” Mirza meringis mengusap Pinggangnya. “Kok nyubit sih?”
“Ya makanya jangan ngetawain!” Via memalingkan muka sebal.
“Ciye ngambek...” Goda Mirza sambil menjawil pipi Via.
“Mas, Ih! Malu tau!” Via melotot makin kesal dibuatnya.
Mirza malah tertawa makin lebar.
Dari pintu outdoor nampak dua orang berjalan beriringan masuk dengan wajah sumringah. Langkah mereka berdua terhenti ketika melihat Via dan Mirza yang sedang bertengkar kecil diselingi tawa canda. Via yang tak sengaja melihat kedatangan mereka langsung diam.
_______________
Jeda lagi ya Kak ☺️
Kira-kira siapa dua orang yang baru masuk kedai itu ya? 🤔🤔😂😂
Ikutin terus lanjutannya ya, Kak.😉😉
Jangan lupa like, komen, rare 5 dan votenya juga.😍😍😍😍
Terima kasih akak author dan akak readers 🙏🙏🙏🌹🌹🌹🌹
Luv u all 😘😘🤗🤗❤️ ❤️
__ADS_1