
Langit masih gelap namun udara pagi sudah tercium segar menyejukkan memenuhi rongga paru-paru Via yang baru saja membuka lebar-lebar pintu belakang rumahnya. Lepas subuh ini Via akan kembali pada rutinitasnya sebagai IRT. Hampir seminggu meninggalkan rumah membuat banyak PR yang harus dikarjakan.
“Sayang, ternyata kamu disini?” Mirza memeluk Via dari belakang. “Ngapain, hm?” mencium leher Via yang jenjang.
“Lagi mau beberes Mas.”
“Biar Mas aja. Kamu cukup duduk manis ya.”
Via berbalik mengalungkan kedua lengannya pada leher sang suami. “Halaman depan belakang kotor semua, rumah berantakan, cucuian baju numpuk, masa aku enak-enakan duduk manis sementara Mas bersih-bersih sendirian?” Sungut Via.
“Sudah, serahkan saja pada suamimu yang ganteng rupawan dan baik hati ini, ok?” Mirza membawa istrinya duduk di kursi makan sementara dia mulai memasak air. “Tunggu disitu Nyoya ratu, dua gelas teh melati akan segera tersaji untuk mengawali pagi kita yang indah ini.”
Via tersenyum menerima perlakuan manis suaminya. Betapa beruntungnya dia mempunyai suami seperti Mirza, rupawan dan cekatan dalam banyak hal. Tidak hanya untuk urusan ranjang, tapi dalam semua pekerjaan rumah, dia tak segan mengerjakannya meski seorang laki-laki. Hal itu pastilah berkat didikan kedua orang tuanya yang membiasakannya gemar membantu pekerjaan rumah sejak Mirza kecil. Ternyata meski ibu mertuanya galak bin cerewet naudzubilah tapi dia pandai mendidik anak.
“Hey, kok maah bengong?” Menowel ujung hidung Via setelah meletakkan teh melati.
“Ah, makasih ya Mas.”
“Omong-omong, kamu mau dimasakin apa untuk sarapan, Sayang?”
“Apa ya?” Via balik tanya sambil berpikir. “Eh, aku lupa Mas kemarin dibawain bolu sarang semut sama Mbak Tia.” Beranjak bangkit bermaksud mengambil bolu di dalam kamar.
“Bolunya ada disini, Sayang.” Mirza membuka tudung saji, ternyata semalam dia sudah menyimpannya di sana.
“Pasti cocok banget buat teman minum teh ya Mas?”
“Iya. Tunggu ya, Mas ambil pisau dulu.” Beranjak mengambil pisau dan mulai memotong bolu sarang semut lalu meletakkanya di atas piring.
Mereka menikmati sarapan yang masih sangat kepagian itu.
“Oya Sayang, Mas mau ngomong sesuatu.” Mirza teringat pertemuannya dengan dokter Burhan.
“Soal apa, Mas?” Meraih cangkir dan menyesap teh melati kesukaannya.
“Kemarin waktu Mas anter ibu ke klinik, Mas ditawari kerja disana sama dokter Burhan.”
Via memasukkan potongan terakhir bolunya. “Bagus itu, aku setuju Mas.”
“Beneran?”
Via mengangguk seraya mencomot sepotong kue lagi. “Asalkan Mas nggak menangani pasien perempuan.”
“Ha? Mana bisa? Masa Mas harus nolak kalo pasiennya perempuan?” Mirza menatap tak habis pikir. Namun sejurus kemudian ia sadar, istrinya hanya terlalu khawatir dengan kejadian buruk yang pernah menimpa rumah tangga mereka beberapa waktu lalu. Kisah kelam Mirza dan Sofi agaknya masih membekas di ingtan Via. “Sayang …” Mirza meraih jemari sang istri.
“Nggak usah memohon Mas, aku tau isi hatimu.” Ucap Via yang membuat suaminya urung melanjutkan kalimatnya. “Aku pun menurutimu untuk resign dari pekerjaanku, semuanya demi kebaikan rumah tangga kita kan?” Kata-kata Via penuh penekanan.
Mirza mengangguk membenarkan. “Kalau kerja di apotik, boleh?”
“Nah, itu baru oke.” Jawab Via tanpa pikir dua kali.
“Makasih, Sayang.” Diciumnya jemari sang istri. “Semua yang terjadi dalam rumah tangga kita selama ini harus membuat kita makin terbuka dalam hal apapun. Mas senang kamu mengkhawatirkan tentang pekerjaan suamimu ini, karena Mas juga bekerja sebagai wujud tanggungjawab untuk memenuhi nafkah lahirmu, Sayang. Jadi nggak mungkin Mas melakukan pekerjaan yang akan menyakiti hatimu sebagai seorang istri.”
“So sweet….” Via mengedip-ngedipkan kedua matanya.
“Mas sedang bicara serius, kenapa kau malah meledek?” Ditariknya tubuh sang istri ke dalam pelukan. “Omong-omong, ini masih teralu pagi untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Udaranya juga masih dingin banget, Sayang.”
Via mendongak “Terus?”
“Gimana kalo kita olah raga pagi dulu biar tubuh kita hangat?”
“Heem, boleh Mas. Aku juga berpikir seperti itu. Aku malah ingin ambil kelas olah raga untuk wanita hamil.”
“Bukan olah raga seperti itu yang Mas maksud.” Mencubit gemas pucuk hidung Via. “Yang ringan saja tapi bisa bikin berkeringat, Sayang.”
“Jogging? Atau senam?” Memandang dengan tatapan polos.
“Dua-duanya juga boleh, Sayang. Tapi di atas kasur.” Tersenyum penuh arti membalas tatapan sang istri yang terheran-heran. “Please, jangan menolak Sayang.” Memulai aksi dengan tangan kanan merayap pada squishi favoritnya.
“Perasaan sejak aku hamil kenapa Mas sering banget ngajakin olah raga ya?” Agak ragu Via bertanya tapi tak menyingkirkan tangan suaminya dari squishinya.
“Mungkin ini bawaan orok, Sayang.” Sahut Mirza dengan tatapan redup. “Mau kan? Kita olah raga sampai matahari menampakkan dirinya, setelah itu baru kita mandi dan mulai bersih-bersih rumah.”
Via hanya diam, ia membiarkan suaminya mendaratkan kecupan demi kecupan kecil pada wajahnya yang menghangat menerima sapuan bibir sang suami. Mirza anggap itu sebagai lampu hijau. Tanpa babibu, digendongnya ala bridal style tubuh sang istri menuju kamar.
TIIIIIT
SENSOR
❤️❤️❤️❤️❤️
Matahari beranjak perlahan, hangat sinarnya menggantikan dinginnya udara lembab di pertengahan tahun. Kesibukan sudar tercipta di rumah kecil sederhana sejak pagi buta.
Tia memeriksa barang yang akan dibawanya sementara Ica sudah menunggu dengan tak sabaran. Anak itu sudah beberapa kali melongok ke luar rumah untuk memastikan kedatangan tantenya.
“Bun, Tante Riri kok lama banget sih?” Sungut Ica.
“Sebentar lagi, Sayang.”
“Dari tadi sebentar lagi sebentar lagi terus? Tapi nggak dateng-dateng juga?” Ica mengerucutkan bibirnya.
“Anak Ayah kanapa cemberut?” Arya muncul duduk di samping Ica.
“Biasa, dia kalo tau mau pergi selalu nggak sabaran.” Tia mondar mandir untuk merapikan riasannya setelah selesai mengecek aneka kue yang akan dibawa ke rumah Bu Elin.
TIN …. TIIIN….
Kalakson mobil membuat Ica terlonjak kegirangan.
“Tante Riri ….” Berlari ke halaman untuk menyongsong tantenya yang turun dari mobil pick up bersama Toni. “Halo, Om Kiyut ….” Sapa Ica pada Toni yang terlihat sangat fresh.
Riri tergelak mendengar sapaan keponakannya pada Toni. “Apa? Om Kiyut?” Riri tak percaya Ica kenapa demen banget ngasih nama-nama julukan buat orang lain sesuka hatinya.
“Yee, emang Om Toni kiyut. Iya kan, Ica?” Cibir Toni lantas beralih pada gadis kecil di depannya yang menatapnya penuh damba.
“Om, gendong!” Merentangkan tangan memasang mimik wajah manja. “Aku mau duduk di samping Om Kiyut. Biar Bunda sama Tante Riri naik di belakang aja.”
“Apa? Dasar bocah kecil tak berperasaan!” Riri pura-pura pasang tampang kesal. “Kamu suruh Tantemu yag manis lucu imut dan menggemaskan ini naik di belakang? Emangnya Tante sama Bundamu kambing?”
Ica cuek, dia asyik dalam gendongan Toni, merasa menang banyak karena Toni tertawa melihat wajah kesal Riri.
Huuh! Kecil-kecil udah suka sabotase! Nggak sama Danar nggak sama Toni, kelakuannya sama aja begitu! Omel Riri dalam hati.
“Mbak, anakmu tuh ngeselin!” Riri mengadu pada Tia yang muncul denagn barang bawaan dibantu Arya. “Masa aku sama Mbak Tia suruh naik di bak belakang, sementara dia enak-enakan berduaan duduk di depan sama Toni?”
Tia dan Arya hanya tersenyum. Mereka sudah terbiasa dengan pertengkaran-pertengkaran kecil antara Riri dan Ica. Berbeda jika dengan Via, Ica selalu bersikap manis dan penurut.
“Ya udah ayok, kita berangkat sekarang.” Tia menjinjing satu rantang susun melangkah mendahului diikuti arya yang membawa barang lainnya dan meletakkannya di bak belakang.
__ADS_1
“Mas, kami pergi dulu ya. Mas Arya nggak papa kan jaga toko sendirian?” Tanya Riri pada kakak iparnya.
“Santai aja, nggak papa kok. Nitip salam buat Bu Elin ya?”
Riri mengacungkan jempol kanannya.
“Dadah Ayah….” Ica melambaikan tangan riang.
“Jangan nakal ya anak ayah.”
Ica mengangguk. “Ayok Om, kita masuk. Biar Tante sama bunda duduk di belakang.” Ucap Ica pada Toni.
“Ica nggak kasihan sama tente Riri dan Bunda? Kalo mereka masuk angin gimana?” Toni coba membujuk bocah kecil dalam gendongannya.
“Kasihan sih. Ya udah deh, duduk depan aja.” Ica luluh juga. “Tapi nggak boleh deket-deket sama Om Kiyut ya? cuman aku yang bole deketan sama Om Kiyut.”
“Kalo gitu Ica duduknya pangku sama tante Riri.” Saran Tia. “Kalo Ica nggak mau dipangku nanti nggak muat dong?”
Ica tampak berpikir sebentar. “Kenapa harus tante Riri yang duduk deket sama Om Kiyut? Bunda kan bisa?”
Riri memutar bola mata jengah, ia sudah tak mau lagi ngeladenin bocah kecil itu.
“Karena tante Riri mau nikah sama Om Kiyut, jadi mereka harus deketan duduknya.” Timpal Arya yang sontak membuat Riri dan Toni saling melempar pandangan kemudian sama-sama tertunduk malu-malu.
“Oh gitu? Ya udah deh iya, Ica mau duduk pangku sama tante Riri.” Ica beralih merentangkan tangannya pada sang tante.
“Ngapain tangannya begitu? Mau terbang?” Cebik Riri keki pada sang keponakan.
“Gendong tante Riri …”
“Dasar bocah manja.” Omel Riri seraya menyambut uluran tangan keponakannya.
“Jangan ngomel-ngomel dong, anggap aja ini latihan kalo kita udah punya anak nanti.” Ucap Toni agak berbisik.
Sontak Riri melototkan matanya, Toni malah tersenyum merasa puas mengerjai gadisnya yang super jutek itu.
“Ekhem!” Sengaja Arya berdehem. “Keburu siang lho …”
Mereka berempat pun akhirnya berangkat menuju rumah Bu Elin. Perjalanan terasa ramai kerena Ica yang tak henti berceloteh membuat suasana hangat.
Di lain tempat, kedua insan yang baru saja selesai melakukan olah raga pagi masih saling berpeluk dalam keadaan tubuh yang masih polos di balik balutan selimut.
“Terima kasih, Sayang.” Mirza mencium pucuk kepala istrinya.
“Makasih juga, Mas.” Via tak beranjak dari dada bidang sang suami. Setelah pergelutannya barusan entah mengapa dia merasa enggan untuk cepat-cepat beranjak dari tempat tidurnya, padahal biasanya Via paling gesit untuk membersihkan diri setiap kali selesai pergumulan panas mereka.
“Capek banget ya, sayang?” akhirnya Mirza juga merasa heran dengan sikap yang tak biasanya dari istrinya itu.
“He em.” Via malah semakin mengeratkan pelukannya. “Tunggu sebentar lagi ya. Mas jangan pergi kemana-mana, aku masih ingin dipeluk seperti ini.” Lirih Via seolah suaminya itu mau pergi.
“Mas nggak kemana-mana Sayang.”
“Janji? Mas nggak akan pergi ninggalin aku?” Tanya Via sedikit mendongak mencari kesungguhan dari sorot mata sang suami.
“Iya, Mas janji. Emangnya Mas mau pergi kemana?”
Via kembali menenggelamkan wajahnya pada pelukan hangat sang suami. “Nggak tau, aku ngerasa Mas kayaknya mau pergi ninggalin aku.” Cicit Via.
Mirza tak menanggapinya, ia usap lembut rambut halus hitam panjang istrinya. mungkin efek kelelahan Via jadi baper begini. Tak lama terdengar dengkuran halus dari perempuan yang berada dalam dekapannya. Via tertidur, Mirza tersenyum namun tak berani menggeser posisinya seidkitpun khawatir mengusik lelap sang istri.
Semenatar itu Riri dan rombongan sudah sampai di kediaman Bu Elin, mereka disambut ramah oleh Bi Narih yang langsung mengajak mereka menemui Bu Elin yang berada di teras belakang yang mengahadap taman bunga-bunga dan aneka tanaman hias tempat favorit Bu Elin.
“Apa kamu sengaja tak mengabari karena mau ngasih surprise?” Sambut Bu Elin memberikan pelukan hangat pada Riri.
Bu Elin beralih pada Tia dan Ica dan juga memberikan pelukan hangatnya pada mereka. Kemudian manik matanya digiring pada sesosok pemuda tampan yang sedari tadi hanya berdiri sambil ikut tersenyum.
“Ini …?” Bu Elin melihat pada Riri dan Tia seolah minta diperkenalkan siapa gerangan pemuda tampan itu.
“Itu namanya Om Kiyut, sebentar lagi akan menikah sama tante Riri.” Ceplos Ica yang seperti tau maksud tatapan mata Bu Elin.
“Maksudnya calon suami?” Ulang Bu Elin seperti kurang yakin.
“Emh, kami hanya … “
“Baru saling pendekatan, Bu. Insaya Allah segera menikah dalam waktu dekat ini. Mohon doanya.” Potong Toni lugas.
“Oh, pasti. Pasti saya doakan, semoga kalian cepat menikah dan bahagia selalu ya.” Bu Elin mengurai senyum. “Beruntung sekali kamu …”
“Toni, nama saya Antoni, Bu.” Toni meperkenalkan diri dengan sangat yakin.
“Yah, Toni. Kamu beruntung sekali mendapatkan calon istri seperti Riri.” Bu Elin beralih menatap Riri, hatinya masih ada rasa sedikit tak rela tak berhasil menjadikan Riri sebagai calon menantunya. “Riri ini gadis yang sangat baik, dia juga siswa saya yang sangat berbakat ketika masih kursus di tempat saya. Pokoknya dia the best.” Puji Bu Elin meraih tangan Riri dengan pandangan berbinar bahagia, karena sudah cukup lama ia tak berjumpa dan saling mengobrol akrab seperti ini sejak pertunangan Riri dan Danar berakhir begitu saja.
“Ibu terlalu berlebihan, hidung saya sampai kembang kempis karena ke GR an ini.” Ucap Riri yang memang merasa GR dengan pujian Bu Elin.
Semuanya sontak tergelak mendengarnya, keceriaan mereka bertambah ketika Bi Narih membawakan minuman dingin dan aneka kue dan jajanan yang sengaja dibawa Ta dan Riri.
“Ini semua Mbak Tia dan Mbak Riri lho yang bawa, Bu.” Tukas Bi Narih setelah mempersilakan mereka menikmati suguhan yang tersaji kemudian undur diri.
“Ah, kamu ini sella5u repot-repot lho, Tia.” Bu Elin merasa tak enak hati. “Kemarin kamu bawakan madumongso dan muffin banyak banget, lalu sekarang juga kue yang kamu bawa tak kalah banyaknya. Bisa gagal program diet saya.” Kelakar Bu Elin disambut derai tawa semuanya.
“Untung Danar ke toko saya, Bu. jadi saya tau kalau Ibu habis sakit.” Ucap Tia. “Oya, Mas Arya nitip salam buat Ibu.”
“Wa alaikumsalam. Maksaih lho, saya merasa sangat tersanjung ini dengan perhatian kalian yang luar biasa ini.” Bu Elin menyeka ujung matanya yang tampak berair karean sedari tadi penuh canda tawa. “Oya, Via kemana? Kok nggak ikut?”
“Emh, Mbak Via ibu mertuanya juga lagi sakit, Bu.” Sahut Riri yang sudah tau cerita tetang BU Een dari Tia.
“Oh, kasihan. Sakit apa ibunya Mirza?” Bu Elin nampak bersimpati, namun Riri yakin seandainya saja Bu Elin tau seperti apa aslinya Bu Een pasti nggak akan merasa sesimpatik itu. Nggak sebel aja udah mendingan banget.
“Sakit tua, Bu. biasa lah namanya juga orang udah lanjut usia.” Jawab Riri asal kena, ogah banget dia bahas Bu Een banyak-banyak. Beruntung Bu Elin juga langsung manggut-manggut.
“Eh, ayo diminum lho.” Bu Elin mengambil gelasnya mempersilakan tamunya menikmati minuman dingin yang sudah disajikan Bi Narih. “Ica sayang, kenapa diem aja Nak? Ica mau es krim nggak?” tawar Bu Elin yang melihat Ica sepertinya hanya cemeberut karena mulai bosan.
Ica menggeleng, tumben dia nolak es krim. Wajahnya emang bête banget.
“Ica, kita jalan-jalan ke sana yuk!” Ajak Toni yang menegrti raut bosan pada wajah lucu calon keponakannya itu.
Ica pun langsung mengangguk semangat. Tepat bersamaan dengan Toni dan Ica yang beranjak, Grace datang dengan wajah setengah heran.
“Tante? Ternayta sedang ada tamu ya? pantesan di dalem sepi banget tadi.” Ucap Grace yang membuat Bu Elin agak surprise.
“Eh, Grace. Dari mana?” Sambut Bu Elin.
“Dari rumah sengaja mau kesini, Tante.”
“Oh iya kenalin, ini Riri.” Bu Elin memperkenalkan Riri pada Grace. “Dan ini Tia kakaknya.”
Grace menyambut uluran tangan Riri dan Tia namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Kenapa Mbak, kok ngeliatin aku sampe segitunya?” Ceplos Riri yang menyadari tatapan mata Grace tak sewajarya seperti sedang menelisik setiap jengkal yang ada pada dirinya.
“Ah, nggak. Nggak papa kok.” Kilah Grace berusaha menutupi perasaannya yang terang saja merasa sangat jauh berbeda dengan Riri.
__ADS_1
Jadi ini Riri gadis yang sempat bertunangan dengan Danar? Masih bau kencur dan sok polos! Menang aku kemana-mana. Pantes aja Danar nolak pertunangannya mentah-mentah. Dia emang nggak pantes bersanding dengan Danar.
“Grace?” Tegur Bu Elin membuyarkan monolog batin Grace.
“Emh, eh iya Tante?” Grace agak tergagap.
“Ada keperluan apa kamu datang kesini?” Bu Elin mengulang pertanyaannya.
“Ah, nggak nanti aja. Sepertinya Tante lagi asyik dan waktunya juga kurang tepat.”
“Oh, begitu ya? ya sudah. Tapi apa hal penting, Grace?” Bu Elin agak penasaran juga.
“Sedikit.” Grace mengulas senyum. “Ya udah, silakan dilanjut tante. Aku pamit dulu, lain kali aku kesini lagi.” Grace minta diri, sekali lagi dia sempat melemparkan tatapan yang tersirat meremehkan pada Riri sebelum pergi.
Riri hanya acuh, dengan cueknya dia meraih rantang yang sedari tadi berada di dekatnya. “Oya Bu, ini Mbak Tia masakin sup ikan kakap merah lho.”
“Astaghfirullah, Mbak sampe lupa Ri. Saking keasyikan ngobrol.” Tia jadi kaget sendiri teringat dengan makanan yang dibawanya. “Semoga suka ya Bu, maaf soalnya saya nggak tau masakan favorit ibu.” Ucap Tia.
“Wah, sup kakapnya kayaknya enak banget ini.” Bu Elin melihat rantang yang sudah dibuka Riri dena6gn pandangan berbinar.
“Ibu mau makan sekarang? Biar aku siapin ya?” Riri berinisiatif.
“Nanti aja, Ri. Saya udah sarapan, itu buat makan siang aja.”
Mereka bertiga pun kemudian larut dalam obrolan seru sambil menikmati aneka kue dan cemilan.
Kembali ke kediaman Mirza dan Via,
Mata Mirza yang ikut terpejam sontak kaget karena bunyi ponselnya di atas nakas. Walau sudah hati-hati, nayataya pergerakannya mengusik Via yang juga tengah lelap sedari tadi.
“Siapa Mas?” Tanya Via dengan suara serak beralih posisi agak menjauh dari suaminya.
“Ibu, sayang.” Ucap Mirza setelah melihat nama ibunya pada layar gawainya. “hem, ada apa ya pagi-pagi udah nelpon?”
“Angkat aja, siapa tau penting Mas.”
Mirza menggeser warna hujau di layar ponselnya. “Halo Bu. Assalamualaikum.”
“ (…………………….) “
“Bisa. Tapi nanti ya Bu agak siangan. Soalnya ini aku masih repot.” Sahut MIrza sambil melihat pada istrinya yang tiduran masih dengan mepngenakan selimut sebatas dada.
“ (…………………………) “
“Ya aku masih ada sedikit kerjaan sama Via.” Masih menatap wajah sang istri.
“ ( ……………………………) “
“Iya, nanti aku pasti kesana. Tunggu sebentar lagi, aku belum mandi.”
“ (……………………….) “
“Kenapa emangnya Bu, kok kayaknya buru-buru banget? Apa ibu mau belanja keperluan toko hari ini?”
“ (………) “
“Terus, kalo bukan mau belanja mau apa kok buru-buru harus kesana sekarang?”
“ ( ………………….) “
“Iya, iya Bu. aku kesana. Ok!”
Mirza mengakhiri sambungan dengan agak kesal, heran banget kenapa ibunya kok maksa banget nyuruh dia ke rumahnya.
“Apa kata ibu, Mas?” Tanya Via yang melihat raut kesal suaminya.
Mirza menggeser posisinya, kembali memeluk tubuh polos sang istri di balik selimut motif bunga lili. “Nggak tau deh, ibu nyuruh aku ke rumah Sayang.”
“Tuuuh kan, katanya Mas nggak mau kemana-mana?” Roman sedih segera menghias wajah Via.
“Iya, Mas juga nggak tau kalo ibu bakala nelpon Sayang.” Mirza merasa agak menyesal. “Kalo kamu keberatan, Mas bisa kok perginya nanti aja agak siang atau sore atau malem.”
“Jangan, Mas. Nanati ibu marah lagi. Ya udah pergi aja, aku nggak papa kok.” Kedua netra Via tiba-tiba menghangat.
“Sayang, jangan nangis dong.” Mengangkat dagu istrinya yang tertunduk.
“Nggak Mas. Ini air matanya keluar sendiri kok. Aku nggak mau nangis, beneran.”
Mirza menyeka lembut genangan air mata dikedua netra indah sang istri. “Mas janji cuman sebentar. Kalo udah selesai nanti Mas cepat pulang.”
Via mengangguk namun tak berani membalas tatapan sang suami. Hatinya tiba-tiba jadi mellow kayak mau ditinggal jauh aja sama sang suami. Mirza yang melihat raut sendu wajah Via jad tak tega. Perlahan dikecupnya lembut kening Via lalu turun ke hidung, kedua pipi dan bibirnya yang basah.
“Emh, Mas …” Via mendorong pelan dada sang suami. “Udah, pergi sana.”
“Mana bisa Mas pergi kalo kamu sedih begini?” Mirza benar-benar tak tega. Entahlah, dia pun seolah merasa berat meninggalkan Via.“Tunggu sebentar, Mas juga masih ingin melukin kamu, Sayang.” Menyapukan bibir pada ceruk leher Via.
“Ini bukan peluk namanya, Mas.” Lirih Via yang merasakan sesutu di bawah sana yang menempel pada pahanya seperti bergerak-gerak. “Mas, sebaiknya kita cepat mandi.”
“Kita?” Mirza mengurungkan niatnya yang hampir menyapu ke bagian squishi favoritnya.
“Heem.”
“Itu artinya kita mandi bareng?”
Via mengangguk.
“Yess! Ayok sayang, kita lanjutkan di kamar mandi.”
“Jangan. Disini aja cepetan.” Via menarik leher suaminya dan memulai satu pergulatan lagi dengan sisa tenaga yang masih ada.
Tak butuh waktu lama, babak kedua itu cepat selesai. Keduanya sama-sama melempar senyum. Mirza segera menggendong sang istri menuju kamar mandi. Di bawah guyuran air shower, Via menatap manik sang suami lekat.
“Mas, janji ya pergi ke rumah ibu nggak akan lama? Kalo udah selesai cepat pulang.” Ucap Via meminta kesungguhan.
“Iya. Mas janji Sayang.”
Rutinitas mandi bersama pun tak terlalau lama, 20 menit mereka sudah keluar. Setelah Mirza membantu mengeringkan rambut Via dengan hair dryer ia segera memesankan makanan lewat aplikasi online karena tak mau memebiarkan istri dan calon anaknya kelaparan sepeninggalnya pergi nanti.
“Mas bikinin susu ya, setelah minum susu kamu nggak boleh ngapa-ngapain. Tunggu sampe Mas pulang kalo mau mau bersih-bersih rumah, oke?” Papar Mirza panjang lebar.
“Siap, Mas Mirza suamiku sayang.”
Setelah memastikan Via menghabiskan susu hamilnya dan pesanan makanan onlinenya datang, Miza segera pergi menuju rumah sang ibu. Sepanjang dalam perjalanan benaknya tak heni-hentinya menerka ada apakah gerangan ibundanya sedemikian memaksanya untuk segera ke rumahnya saat ini juga.
Tiga puluh menit kemudian Mirza sampai di kampung Suka Tresna, mobilnya berbelok memasuki halaman rumah ibunya. Benaknya yang sedari tadi dipenuhi tanya kini semakin disergap rasa penasaran manakala melihat sebuah mobil juga sudah terparkir di halamanan rumah ibunya. Agak ragu Mirza turun dan melangkah menuju pintu rumah yang sudah terbuka. Samar-samar dia mendengar seperti ada suara orang mengobrol di dalam.
Deg deg
❤️❤️❤️❤️❤️
Kelanjutannya besok lagi ya Kakak…😊😊
__ADS_1
Salam sayang huat kalian semua.🙏🙏
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘