
Arumi sudah tak bisa menahan diri lagi, ia harus segera menemui Hanson dan menumpahkan semua kejengkelannya. Bagaimana tidak, setelah kedatangan Hanson tempo hari yang menyatakan keseriusannya ingin segera meminang Rumi, sampai detik ini Hanson belum lagi menampakkan jidatnya. Eh, ralat. Datang sekali ya, waktu mau diajak Rumi belajar agama pada salah satu ustadz top ibu kota langganan para artis, tapi waktu itu nggak jadi karena Jane datang merengek mau curhat.
Hari ini untuk kesekian kalinya, Pak Joni alias papanya Rumi kembali menanyakan sejauh mana perkembangan Hanson belajar agama.
“Papa nggak usah nanya terus ih, aku kan kesel jadinya!” Rumi menyahut ketus sambil menenteng tasnya.
“Emang apa salahnya? Orang cuman nanya kok!” Pak Joni menyahut santai. “Bacaan sholat udah bisa semua kan si bule itu?”
“Tau ah!” Rumi ngeloyor makin kesal.
“Eh, kamu mau kemana? Siang nanti papa jadwal terapy lho, Rumi!” Pak Joni agak berteriak karena Rumi cuek aja. Pak Joni geleng-geleng kepala dengan kelakuan anaknya. “Heh, pasti dia sama si bule itu lagi berantem. Biasa, penyakitnya orang mau nikah, ada saja cobaannya. Untungnya masih ada yang mau sama tuh anak!” Pak Joni terkekeh sendiri sambil bangkit perlahan menuju kamarnya.
Rumi sudah berada di jalanan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, beberapa menit kemudian dia tiba di sebuah café dan segera menemui seseorang yang sudah menunggunya.
“Dateng juga lo, gue kira nggak jadi.” Ben menyapa Rumi.
“Cepet bilang kemana aja temen lo si bule somplak itu akhir-akhir ini susah dihubungin?” Rumi bertanya tak sabaran.
“Selow dong, duduk dulu kek minum-minum.”
“Gue nggak punya waktu.”
Ben tersenyum. “Tapi elo udah transfer uangnya ke rekening gue kan?” Tanya Ben tanpa malu-malu.
“lo cek aja!”
“Gue cuman mau mastiin aja kok.” Ben mengambil minumnya sementara Rumi hanya berdiri dengan tak sabar. “Lo yakin mau tau apa yang sebenernya terjadi sama pacar elo itu?”
“Ck! Elo nggak usah banyak basa-basi deh. Semalem kan kita udah sepakat, begitu gue transfer duitnya elo bakal segera kasih tau.” Rumi semakin kesal.
“Ya gue nggak tega aja kalo elo sampe tau kenyataan yang terjadi sama cowok elo itu.” Ben masih juga muter-muter.
“Udah deh, cepetan!” Paksa Rumi gusar. “Atau elo sengaja cuman mau bilang kalo duitnya kurang, iya? Dasar tukang peras! Mata duitan!” Maki Rumi.
“Eh bukan, bukan gitu….” Ben akhirnya menceritakan kenyataan yang diketahuinya tentang Hanson, karena Hanson sempat curhat padanya tentang rencananya yang akan mendatangai kediaman Sofi.
“Elo nggak lagi ngarang cerita kan?” Tanya Rumi dengan wajah memanas.
“Sumpah! Gue jujur. Buat apa jug gue bohong.”
“Kurang ajar! Jadi begitu yang dia lakuain di belakan gue.” Rumi mengepalkan tangannya geram. Ia sungguh tak menyangka ternyata Hanson yang dikiranya benar-benar serius padanya masih menyimpan rasa pada Sofi, sampe rela datengin rumahnya segala, tanpa sepengetahuannya lagi.
“Elo sabar ya, Hanson mungkin cuman mau …”
“Sekarang dia dimana?” Potong Rumi dengan rahang mengeras.
“Di apartemennya, semalem gue anter kesana pulang dari pub dalam keadaan mabuk.”
“Apa?” Rumi tergaket-keget. “Mabuk? Kurang ajar! Gue harus bikin perhitungan sama dia!” Rumi lagsung balik badan dan pergi dengan langkah-langkah lebar.
“Waduh! Bakalan pecah perang nuklir nih!” Ben memandang kepergian Rumi. “Ah tapi bodo amat lah, yang penting gue udah dapet uangnya!” Senyum lebar Ben mengembang sempurna.
Jarak tempuh dari café ke apartemen Hanson hampir satu jam dalam waktu normal. Rumi mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Didukung jalanan yang lancar, Rumi sampai di sana hanya dalam 30 menit saja. Kini Rumi sudah tepat berdiri di depan pintu apartemen Hanson.
Bel ia bunyikan beberapa kali, ditambah gedoran pintu yang keras. Rasanya ia pingin menjebol saja pintu itu karena beberapa menit menunggu masih juga belum ada tanda-tanda kehidupan di dalam.
Dok … dok ..dok.. dok …!
Rumi menggedor lagi pintu lebih keras. Ia tak peduli kalo sape tetengga apartemen Hanson pun keluar karena berisik, baginya sekarang ia ingin segera menumpahkan semua kejengkelannya dengan sesegera mungkin.
Ceklek …
Wajah bule Hanson muncul dengan agak kaget, tampangnya khas orang baru bangun tidur.
__ADS_1
“Rumi?”
Rumi segera mendorong tubuh Hanson kasar dan membanting pintu.
BLAM!
“Rumi, mein leibe whats wrong?” Tanya Hanson yang melihat wajah wanita di hadapannya sangat angker dan menatapnya dengan sangat lapar.
Bug! Bug! Bug!
Rumi melemparkan pukulan bertubi-tubi dengan tasnya di wajah Hanson. Hanson yang tak siap dengan serangan dadakan seperti itu berusaha menghalangi dengan kedua tangannya meskipun memang sia-sia. Hanson akhirnya memilih menghindar ke sisi sofa.
“Calm down! Tanang, ada apa?” Hanson berusaha menenangkan kemarahan Rumi masih sambil pasang kewaspadaan.
“Masih berani lo nanya ada apa? Dasar bule kaparat!”
PRANG!
Rumi meraih vas dan melemparkannya ke tembok belakang Hanson berdiri. Otak Hanson yang belum sepenuhnya on, dipaksa menerka-nerka akan apa yang sebenarnya terjadi.
“Ok, honey. Kita duduk, kita bicarakan baik-baik.” Ucap Hanson kemudian.
“Nggak ada bicara baik-baik! Gue udah nggak mau denger apa-apa lagi dari mulut buaya elo!” Rumi mau ngambil satu figura dan melemparkannya lagi.
“Stop it! Mein liebe, please… aku mungkin ada salah, aku minta maaf. Tapi jangan seperti ini.”
“Mngkin ada salah katamu? Bukan mungkin, tapi pasti! Dan kesalahanmu itu fatal!”
PRANG!
Lolos sudah figura bergambar foto Hnason pun pecah menghantam lantai menjadi sasaran amukan Rumi.
“Elo berani mendatangi Sofi di belankang gue! Apa maksud lo, hah? elo juga nggak membalas pesan gue, elo mau minggat dan menghindar dari keputusan yang elo buat sendiri ke gue? Dimana otak elo? Elo udah janji sama papa kalo elo mau nikahin gue, bahkan elo rela pindah agama segala. Tapi nyatanya elo masih ngarepin si Sofi! Dan elo nggak ngerasa bersalah! Dasar bule sinting!” Rumi meluapkan semua isi hatinya dengan menggebu-gebu.
“Kaget lo gue bisa tahu semua kebusukan elo, hah?” Sinis Rumi yang melihat raut kaget Hanson. “Nggak perlu lo pikirin dari mana gue bisa tau. Semua itu nggak penting karena mulai saat ini kita putus!”
“Putus?” Ulang Hanson penuh keterkejutan tak percaya.
“Iya. End! Elo nggak usah dateng lagi ke kehidupan gue, kita udah selesai. Nggak akan ada pernikahan, elo sekarang bebas.”
“No, kamu salah paham.” Hanson mendekat.
Rumi dengan cepat menghindar. “Jangan deket-deket, gue nggak sudi sama elo! Pergi sana, kejar cinta elo! Kejar si Sofi, itu kan yang elo mau! Elo cuman memermainkan gue aja.”
“Nggak, kamu salah paham, Mein Leibe.” Hanson masih terus berusaha.
“Gue bilang jangan deket-deket! Gue ngak mau disentuh sama elo! Pergi lo. Pergi…!” Teriak Rumi mulai menangis karena sesungguhnya hatinya juga sangat sakit mengucapkan semua kata-kata itu, ia sebenarnya sungguh tak ingin semuanya berakhir seperti ini.
“Mein Leibe, schatzi … kamu….”
“Pergi …! Kamu nggak denger? Gue bilang pergi! Huhuhu ….” Rumi menangis tersedu-sedu. “Pergi dari sini. Gue nggak mau liat muka elo lagi….”
“Tapi schatzi …”
“Nggak ada tapi tapi, pergi….!” Rumi menunjuk ke arah pintu.
“Schatzi tapi ini kan apertemen aku.”
JRENG!
Rumi keget campur bingung dan campur malu yang pasti. Saking seriusnya emosi sampe nggak sadar kalo dia udah ngusir tuan rumah.
“Kalo gitu gue aja yang pergi. Gue nggak akan nemuin elo lagi, dan elo juga jangan nemuin gue lagi. Bye!” Rumi berjalan cepat ke arah pintu namun buru-buru Hanson mencegatnya.
__ADS_1
“No, jangan pergi dulu schatzi. Kita harus bicara.” Hanson menatap penuh harap sambil meraih tangan Rumi.
“Jangan pegang-pegang!” Rumi mengibaskan tangan Hanson. “Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kita sudah selsai. Semuanya sudah jelas!”
“Nggak, kamu salah paham Schatzi.” Hanson berusaha meyakinkan. “Aku mendatangi Sofi bukan karena masih mengharapkannya, tapi karena …” Hanson tak berani melanjutkan kalimatnya. Tak mungkin ia menceritakannya pada Rumi sekarang, waktunya belum pas.
“Karena apa? Karena elo masih mencintainya kan?” Tantang Rumi dengan pandangan sengit. Hanson masih diam. “Akui saja! Elo masih belum bisa move on kan dari dia?”
“Nggak, bukan begitu. Sungguh, aku hanya mencintai kamu, Schatzi. Kita akan tetap menikah. Kamu nggak boleh pergi dari kehidupanku. Aku benar-benar mencintaimu, Schatzi.”
“Elo apan sih dari tadi Schatzi Schatzi mulu? Gue Rumi, bukan Schatzi! Lagian siapa Schatzi? Gebetan baru elo?” Sengit Rumi.
“Schatzi itu sayang, kekasih. Sama seperti Mein liebe, honey ….”
“Bohong! Pasti elo juga jalan sama cewek lain kan? Sampe saat ini buktinya elo belum nunjukin langkah nyata keseriusan dari niat elo! Elo munafik! Elo ngaku serius di depan papa tapi diem-diem elo mau lari dari janji yang elo buat sendiri.”
“Aku nggak bohong, Schatzi.”
“Stop! berhenti manggil gue kayak gitu, gue nggak suka.”
“Oke, Honey …”
“Cih! Nggak sudi gue dipangil honey!”
“Lalu kamu mau dipanggil apa, Sayangku?”
“Jangan panggil apapun, karena kita udah end! Putus! Kamu denger? Kita PU-TUS!” Tegas Rumi lantas berjalan cepat menuju pintu, membukanya dan bergegas pergi dengan membawa kehancuran yang teramat sangat.
Hanson terduduk di sofa dengan perasaan tak kalah hancurnya. baru saja ia kehilangan cintanya. Hanson merutuki kebodohannya sendiri, harusnya ini semua tak perlu terjadi jika saja dia tak mengambil langkah keliru dengan menemui Sofi.
🎶 Schatzi kembali ...
Schatzi jangan pergi
Aku banyak membuatmu sedih
Maafkan aku
Aku nggak akan bisa hidup tanpamu
Dan aku nggak mau … 🎶
🎵Schatzi kembali....
Schatzi jangan pergi
Beri aku kesempatan sekali lagi
Akan aku buktikan semuanya pasti
Semuanya resmi …🎵
❤️❤️❤️❤️❤️
Eaa…. Slanker mana suaranya….? 😂😂😂
Up nya pendek maafin ya Kak🙏🙏
Maaf juga kalo ada typo dan kesalahan penerjemahan.🙏🙏
Terima kasih sudah membaca. Like dan komen selalu ya🤩🤩🤩
Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1