TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
174 #BULE BUCIN


__ADS_3

Berlama-lama terpuruk dalam suatu ketidakberdayaan bukanlah sifat Riri. Gadis manis 22 tahun itu kini sudah berhasil mengatasi rasa sakitnya, ia tengah sibuk menekuni usaha barunya. Pesanan perdana 100 box paket nasi dan snack untuk acara pengajian rutin para ibu-ibu di kampungnya cukup membuatnya sibuk hari ini.


“Kamu musti bersyukur lho, Ri. Ini permulaan yang bagus untuk bisnis baru kamu, meski masih kecil-kecilan tapi Ibu yakin kamu pasti bisa maju.” Tutur Bu Harni yang tampak ikut sibuk menyiapkan nasi box itu.


“Iya Bu. Ini semua kan berkat ibu juga yang udah promosiin masakanku ke teman-teman pengajian Ibu.” Tangan Riri lincah mengemas aneka snack dan buah pada box yang lebih kecil.


Bu Harni tersenyum simpul. Putri bungsunya itu kini tengah merintis bisnis dari nol lagi. Walau dengan modal seadaanya, namun Bu Harni bangga pada Riri yang sudah memutuskan hubungan dengan keluarga Bu Elin. Sebaliknya Bu Harni merasa kecewa pada Tia dan Via yang masih belum memenuhi permintaannya untuk mengundurkan diri.


“Harusnya kedua kakakmu itu nuruti kata-kata Ibu.” Celutuk Bu Harni kemudian. “Si Tia itu kan bisa ikut memulai usaha kue dan makanan sama kamu, atau kayak dulu dia nerima pesenan macam-macam kue kerjain di rumah.”


Riri mendengus pelan, ini sudah kesekian kalinya ibunya membahas soal itu hingga membuat Riri jengah.


“Biarin aja lah, Bu.” Sergah Riri menatap sang ibu yang sedang kesal. “Lagipula ibu mau lihat Mbak Tia hidupnya susah lagi dan Mas Arya balik jadi tukang ojek lagi kayak dulu? Kasihan Ica juga kan? Anak itu sekarang sudah cukup senang, mau minta apa-apa udah bisa keturutan berkat Mas Arya dan Mbak Tia mengelola bisnis kue Bu Elin. Harusnya Ibu pikirkan itu.” Papar Riri.


“Iya tapi mereka nggak pikirin perasan kamu!” Balas Bu Harni.


Riri tak mau berdebat lagi. Mungkin seiring berjalannya waktu kekesalan ibunya itu lambat laun juga akan sirna. Riri bersiap dengan box yang sudah selesai dan memindahkannya sebagian ke dalam kardus. Seorang tetangga membantuya menumpuk box nasi itu dan mengikatnya dengan tali plastik. Ya, Riri bukan hanya sudah berhasil bangkit dari keterpurukannya tapi juga sudah bisa mengajak beberapa tetangga untuk turut bekerja padanya. Sebagian ada yang membuat aneka kue basah dan sebagian lagi ada yang mengolah masakan sesuai resep yang Riri berikan.


“Ri, kamu yakin kita mau bawa ini semua pakai motor?” Tanya seorang tetangga bernama Trisna.


“Iya, Tris. Nggak papa nanti beberapa kali angkut juga.” Riri mengangkat tumpukan box nasi ke depan rumah diikuti Trisna.


Setelah semuanya beres, Riri dan Trisna pergi mengantarkan nasi box itu dengan berboncengan mengendarai sepeda motor. Riri menuju rumah sang pemesan di perbatasan kampung yang cukup jauh, namun Riri tetep semangat, semua pesanan itu harus sudah sampai karena acara pengajian akan mulai ba’da ashar. Sepeda motor Riri meiuk-liuk lincah melewati jalan persawahan dan kebon jati. Terik matahari membelai mesra kulitnya yang kuning terang, seskali Riri bertanya pada Trisna apakah semua boxnya alam keadaan baik.


Jam tiga sore Riri baru selesai dengan semua pesanannya. Sepeda motor Riri memasuki halaman, ia terkejut melihat sebuah mobil sedan hitam yang ia tahu siapa pemiliknya. Dengan keringat yang masih mengembun di dahi, Riri melangkahkan kaki masuk setelah menyuruh Trisna pulang.


“Ri? Apa kabar?” Bu Elin berdiri menyambut kedatangan Riri.


Riri sempat canggung, namun melihat senyum Bu Elin hatinya luluh juga. Bu Elin memang selalu baik karena pada dasarnya dia adalah wanita yang berhati lembut dan penyanyang, namun memang tak ditakdirkan untuk menjadi bu mertuanya.


“Baik, Ibu sendri gmiana kabarnya?” Riri menyambut uluran tangan Bu Elin.


“Selalu baik.”


Riri mempersilakan Bu Elin duduk kembali dan melihat sekeliling ruangan, Bu Elin ternyata hanya duduk sendirian. Ibu kemana? Kok ada tamu bukannya ditemenin malah ditinggal sih? Oh, mungkin lagi bikin minum. Batin Riri.


“Oya, saya datang ke sini untuk memberikan ini.” Bu Elin mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas branded-nya.


Riri tak langsung menerimanya. “Apa itu, Bu?” Riri melihat amplop coklat yang isinya cukup tebal itu.


“Kamu sudah bekerja dengan sangat baik, maka anggaplah ini sebagai pesangonmu. Ya, walaupun jumblahnya tak seberapa.”


“Jangan mau, Ri!” Bu Harni tau-tau muncul ke ruang tamu. “Maaf ya Bu, jangan mentang-mentang Ibu itu orang kaya lalu bisa membeli hati putri saya dengan uang. Rasa sakit dan malu yang dia dapat tak sebanding dengan uang yang ibu kasih itu!” Ketus Bu Harni yang langsung duduk di samping Riri.


“Oh, Maaf. Saya bukan bermaksud seperti itu, Bu.” Bu Elin langsung merasa bersalah. “Saya tau, saya dan keluarga sudah mengecewakan Ibu dan keluarga, tapi ijinkan saya membalas semua jasa Riri yang sudah sangat baik dalam mengelola bisnis kue saya selama ini." Bu Elin penuh penyesalan.


Bu Harni melengos dengan muka juteknya. Bu Elin yang sempat dielu-elukanya sebagai calon besan yang baik dan kaya raya, tapi kini membuatnya sangat kecewa. Riri masih diam, ia bingung harus bagaimana.


“Emh, saya minta maaf Bu karena saya belum sempat berpamitan secara resmi pada Ibu.” Ucap Riri kemudian yang tak menemukan bahan obrolan lain karena suasana mendadak menjadi kaku.


“Emang lebih bagusnya kamu nggak usah pamitan, Ri!” Celetuk Bu Harni masih dengan wajah melengos.


Duh ibu nih apa-apaan sih? Kesel sih kesel tapi ngggak usah gitu juga dong! Lagian kirain lagi bikin minum, tau-tau malah nongol dengan tangan kosong. Omel Riri dalam hati melihat pada sang Ibu sekilas.


“Saya jadi penasaran kayak apa sih perempuan yang dipilih Danar itu, sampai-sampai dia nolak Riri?”


Deg deg!


Jantung Riri sama berdenyutnya dengan jantung Bu elin ketika mendengar celetukan Bu Harni yang terkesan sangat kesal itu. Baik Riri dan Bu Elin sama-sama berusaha mengatasi keterkejutannya sendiri. Riri tak mungkin memberitahukan siapa perempuan itu pada ibunya. Sedangkan Bu Elin juga tak ingin hubungan keluarga itu makin kacau dengan mengungkap kejujurannya.


“Ibu ngapain sih ngomongin soal itu?” Ucap Riri akhirnya.


“Ya ibu penasaran aja! Secantik apa perempuannya, kok bisa-bisanya Danar nggak mau sama kamu. Padahal dari awal kalian bertemu ibu sudah ngeliat kalian deke banget.” Bu Harni gondok banget.


Riri dan Bu Elin saling pandang, terpancar raut penyesalan yang semakin dalam dari wajah Bu Elin.


“Bu, maafin ibu saya ya.” Riri jadi tak enak hati karena sikap ketus ibunya.


“Ngapain kamu minta maaf?” Bu Harni nyamber lagi. “Kalo baru rencana sih mungkin nggak apa-apa batal, lah ini acara tunangan udah digelar di depan umum, dihadapan semua kolega bisnis, eehh… nggak taunya itu cuman sandiwara demi menyelamatkan nama baik keluarga dan perusahaan! Dimana hati nurani kalian?” Bu Harni terus menumpahkan rasa saki dan kecewanya. Kedatangan Bu Elin kiranya menjadi tempat pelampiasan yang tepat sasaran buat Bu Harni.


Bu Elin semakin tertohok dengan kata-kata calon besannya yang gagal itu, ia tak berani menyanggah. Memang benar semua adanya yang diucapkan Bu Harni.


“Untung saja semua tetangga disini belum banyak yang tau. Coba kalo saya udah sempat buat pengumuman di masjid-masjid soal pertuannan Riri, terus kemudian batal. Kan tambah malu lagi? Mau ditaroh dimana muka saya sekeluarga? Bakalan malu sama warga satu kelurahan!” Bu Harni masih belum mau menghentikan kekesalannya.


Ish! Ibu ni apa-apan lagi sih? Masa pengumuman tunangan di masjid? Dipikir sama kayak pengumuman innalillahi apa? Aduh, udah kelawatan si ibu ini. Makin nggak enak aku sama Bu Elin.


“Bu, udah ya. Jangan dibahas lagi.” Ucap Riri coba menenangkan ibunya, meski hatinya sendiri masih bergejolak, ia tau apa ang dilakuakn ibunya hanya untuk membelanya semata. “Aku sama Mas Danar emang nggak jodoh.”


Bu Harni makin ketus, dipalingkannya lagi wajahnya ke sembarang arah. Bisa-bisanya anak bontotnya itu berkata seperti itu dengan lapang hati. Ahhh, kasihan sekali kamu Ri…. Batin Bu Harni mencelos sangat kecewa.


“Ri, terima kasih ya buat semua kebaikan dan kerja keras kamu selama ini.” Bu Elin akhirnya bersuara. “Ibumu benar, uang ini tak sebanding dengan semua yang sudah kamu lakukan. Terlebih lagi perasaan yang sudah kamu tanggung. Tapi tolong terimalah ini.” Bu Elin mendorong amplop coklat besar di atas meja itu ke arah Riri.


Riri masih bergeming. Ia hanya memandangi amplop itu.


“Mungkin ini bisa menambah modal usaha baru kamu. Kamu sedang merintis usaha kan? Pasti perlu modal.”

__ADS_1


Dalam hati Riri setuju juga dengan Bu Elin. Lagipula itu kan uang halal, bukan hasil dia berbuat curang atau kejahatan.


Riri tersenyum kemudian. “Baiklah Bu, saya terima. Saya juga makasih ibu sudah perhatian dan jauh-jauh datang kemari, harusnya saya yang menemui ibu.” Dusta Riri lagi karena sebenarnya dia kan memang sudah berinat akan menemui Bu Elin namun terpaksa mengurungkannya karena mendengar percakapan Bu Elin dan Danar waktu itu.


Bu Elin mengelus pundak Riri dengan senyum simpul. “Kalau butuh bantuan apapun, jangan sungkan untuk menghubungi saya ya. Semoga bisnismu dilancarkan. Saya bangga sama kamu, Ri.” Ucap Bu Elin tulus.


Riri membalasnya dengan anggukan kepala dan senyum terukir di bibir manisnya. Tak lama Bu Elin pun pamit, dengan setengah hati Bu Harni menerima uluran tangan Bu Elin. Wajah masamnya melepas kepergian Bu Elin dari rumahnya.


“Buka Ri, berapa sih dia kasih uangnya?” Titah Bu Harni setelah mobil Bu Elin menjauh. Kepo juga ternyata dia sama isi amplopnya, hihihi….


Riri pun menuruti ucapan ibunya. Lima gepok uang ratusan ribu ia keluarkan dari dalam amplop coklat besar itu.


“Lumayan juga 50 juta. Simpan Ri, siapa tau kamu butuh uang itu suatu saat.” Saran Bu Harni kemudian ngeloyor masuk meninggalkan Riri yang masih tak mematung dengan uang di tangannya.


50 juta, tidak kah terlalu banyak untuk uang pesangon karyawan toko kue?


❤️❤️❤️❤️❤️


“Schatzi, kamu cantik banget. Aku boleh ya cium kamu?” Hanson memonyongkan bibirnya di depan wajah Arumi.


PLOK!!


Arumi memukul muka Hanson dengan buku panduan shalat yang dipegangnya.


“Aduh! Kok mukul sih?” Kaget Hanson.


“Belajar! Jangan mesum terus!” Rumi gemas sambil menunjuk buku itu.


“Biar belajarnya semangat aku harus dicium dulu, sedikit aja. Please ….” Hanson mengiba. “Sejak kita jadian, kita belum pernah ciuman kan? Malam itu kalau nggak ada Ben, pasti aku sudah bisa cium kamu.”


“Hanson, kamu apa-apaan sih ….” Rumi menunduk, ia malu mendengar Hanson yang lempeng banget itu.


“Lagipula dulu kamu yang ngejar-ngajar aku. Kamu yang nyosor terus, udah aku tolak mentah-mentah kamu tetep aja balik lagi. Sekarang aku udah bucin, kok kamu malah kayak gini sih…?” Hanson sok ngambek.


Arumi semakin tertunduk. Malu banget sumpah dia kalo inget masa itu. pake maksa mau ngolesin ramuan Mak Epot pula di pisang tanduknya si Hanson, wkwkwk….


“Schatzi.” Panggil Hanson mengangkat dagu Rumi lembut. Kedua netra mereka beradu, Hanson mendekatkan wajahnya pada Rumi yang masih membisu.


Entah aba-aba darimana, mata mereka sama-sama terpejam dengan hembusan nafas yang juga sama-sama menghangat. Rumi sungguh tak kuasa menyangkal bahwa dia juga sebenarnya menginginkan itu. debar jantungnya semakin tak karuan saat jemari Hanson membelai wajahnya, ia yakin bibir mereka sudah sangat dekat, kemudian tanpa terelakkan lagi ….


Ting tung!


Bunyi bel pintu membuyarkan kekhusukan dua sejoli itu. sontak mereka membuka mata dan menoleh ke arah pintu.


Ting tung!


Da*n! Ganggu aja! Rutuk Hanson dalam hati seraya bangkit untuk membuka pintu. Ternyata layanan cleaning service online yang datang.


“Bisa nggak sih datangnya nanti aja?” Tanya Hanson kesal pada seorang pria berpakaian clening servise itu.


“Maaf Tuan, sesuai pesanan saya datang hari ini.” Jawabnya ramah.


“Iya, tapi agak sorean aja kan bisa?” Hanson ngeyel.


“Sekali lagi maaf, Tuan. Kami sudah ada schedule harian sesuai tempat dan waktunya. Kami bisa kena punishmen jika tak sesuai jadwal, kecuali Tuan sendiri yang meng-cencelnya. Itu pun Tuan tetap harus membayar jasa kami, karena itu bukan kesalahan dai pihak kami.” Ungkap sang cleaning service panjang lebar.


Hanson berdecak kesal. “Ribet banget. Ya udah cepetan masuk!” Ia menyingkir untuk memberikan jalan. “Mulai dari belakang dulu ya! Dapur kemudian kamar mandi dan ruang makan! Kamar saya nanti saja!” Seru Hanson.


“Baik, Tuan.” Sang cleaning servise mengangguk hormat dan lekas menuju dapur.


Rumi terkikik melihat roman kesal wajah Hanson.


“Ayok kita mulai lagi.” Rumi menepuk sofa di sampingnya meminta Hanson segera duduk.


“Schatzi, kita pindah ke kamar aja ya. Disana kita lebih leluasa, aku ingin kita melakukannya sedikit lebih hot.” Ujar Hanson.


Rumi mengernyit. “Lebih hot gimana maksudnya?


“Itu yang tadi. Bukankah kamu barusan minta untuk memulainya lagi?” Hanson mulai merayapkan tangannya ke pundak Rumi dengan sorot mata yang sudah tak sabaran.


PLOK! PLOK! PLOK!


Rumi memukul tangan Hanson yang merayap nakal bertubi-tubi.


“Nehi ya! Dasar mesum!” Semprot Rumi kesal. “Gue itu maksudnya mau mulai ngajarin elo bacaan sholat lagi!”


“Aduh, Schatzi. Belajarnya kita sambung nanti aja ya. Aku sudah hafal surat Al-fatihah aja kan udah cukup.”


“Nggak!”


“Aku janji setelah ini bakalan lebih semangat.” Hanson mengangkat dua jari kanannya.


“Nehi nehi terajanah! Sekali nggak tetap nggak.” Rumi ngotot. “Lagipula nanti malam kan mau dinner sama Papa. Gimana kalo papa ngetes bacaan sholat kamu, kan kamu juga nanti yang malu? Bisa-bisa Papa nggak ngijinin gue nikah sama elo!”


“Ck, papa kamu pasti ngertiin lah. Aku kan bukan orang arab, jadi musti butuh waktu pelan-pelan buat menghafal bacaan yang asing buat aku.” Dalih hanson.

__ADS_1


“Eh, bule somplak! Itu bukan alasan ya! Mo orang arab kek mo orang eropa, cina belanda portugis inggris Prancis, nggak urusan!”


“Aku Jerman, Schatzi.” Hanson menginterupsi.


“Bodo amat!”


“Tapi tadi belum kamu sebut, Sayang.”


Rumi melotot, rasanya dia udah senewen baru beberapa hari aja jadi guru ngaji dadakan buat calon suaminya itu, ingin rasanya ia lambaikan tangan ke arah kamera.


“Pokoknya kalo elo muslim, elo harus bisa bacaan sholat titik!” Tegas Rumi. “atau jangan-jangan elo cuman main-main aja ya? Elo sengaja bilang mo jadi muslim buat nipu gue? Setelah elo dapetin mau elo, terus elo mau minggat ke negara elo, iya begitu?” Geram Rumi semakin kesal.


“No! aku serius, Schatzi. Aku benar-benar tulus, aku nggak main-main.” Hanson tiba-tiba panik.


“Buktinya tadi elo mau ngajakin gue ngamer? Elo pasti modus kan mau ngambil keperawa**n gue?”


Hanson membekal mulut Rumi makin panik. Ia nggak enak kalo sampe si clening service itu denger dan salah faham. Rumi dengan kasar melepas tangan Hanson.


“Sorry, Schatzi. I’m so sorry.” Hanson penuh penyesalan. “Oke, aku nggak akan mengulanginya.”


Rumi menghunuskan tatapan tajam. “Ini semua gara-gara elo yang kabur disuruh belajar agama sama ustadz. Jadinya begini kan, rempong!”


“Iya, aku minta maaf.” Laki-laki bule itu menunduk merasa bersalah.


“Coba kalo waktu itu elo mau nemuin ustadznya, nggak akan begini kan jadinya? Mana gue juga nggak pernah ngaji, sholat masih bolong-bolong, ehh ditambah harus ngajarin elo juga. Huh, bikin ribet elo tuh!” Rumi memalingkan muka kesal.


“Kalo gitu kita cari ustadz lain aja, kita sama-sama belajar ya.” Saran Hanson.


“Sudah terlambat. Nanti malam kamu harus bisa. Nih, belajar sendiri!” Rumi mendorong buku tuntunan shalat itu ke dada Hanson.


“Tapi aku kan nggak bisa baca huruf arab.”


“Jangan manja ya, itu kan ada tulisan latinnya!” Rumi bangkit.


“Kamu mau kemana, Schatzi?”


“Pulang! Nanti mau ke salon, dandan buat dinner biar makin cantik.”


“Wait!” Sergah Hanson. “Aku antar.”


“Terus mobil gue mau ditaroh mana?” Rumi jengah.


“Kita naik mobil kamu, nanti aku pulang naik taxi.” Usul Hanson. “Aku cuman mau memastikan kamu selamat samapi rumah.”


“Haish! Bule bucin! Ngggak usah modus lagi ya, kamu pasti mau modus lagi kan ntar di dalam mobil?” Rumi menyipitkan matanya menatap sang pacar curiga.


“Nggak, aku janji kita hanya akan melakakannya setelah menikah. Emm, soal yang tadi aku benar-benar minta maaf ya.” Hanson meraih jemari Rumidan menatapnya lembut.


Ini nih yang bikin Rumi kadang nggak bisa konsisten. Ia selalu meleleh kalo Hanson udah memperlakukannya manis begini.


“Makasih ya, tapi aku bisa pulang sendiri kok. Kamu belajar aja, biar Papa yakin kalau kamu adalah calon mantu yang baik."


cup!


Hanson mengecup jemari Rumi.


Rumi tersenyum. "Aku pegang kaya-kata kamu ya. Kita alan melakukannya setelah menikah. Dan aku akan memberikanmu banyak anak."


Hanson melepaskan genggaman tangannya dan tiba-yiba gusar karena teringat keadaannya.


"Hey, jangan sedih." Kali ini Rumi yang merayu. "Soal keadaanmu itu tak jadi soal. Selama dia madih bisa tegak, kita akan terus berusaha." Mata Rumi mengarah pada sesuatu di bagian bawah Hanson.


Hanson pias dan refleks memegangnya. Dia memang sudah jujur akan kondisinya.


"Janji sama aku, kamu nggak boleh ngarepin anaknya si Sopeh lagi. Aku nggak mau ngasuh anak dari wanita luknut itu." Rumi menegaskan.


Hanson mengangguk, rasa lega menyelimutinya. Rumi tak hanya membantunya menyembuhkan pisang kepoknya tapi juga lapang dada menerima kekurangannya.


"Makasih, Schatzi." Hanson terharu. "Maafkan ketidaksempurnaan ku sebagai laki-laki.


"Sudahlah, lagipula aku nggak mau buru-buru punya anak. Rumi menangkup pipi Hanson dengan telapak tangannya. "Aku pulang ya, jangan terlambat nanti malam.


cup!


Rumi mencuri kecupan di bibir Hanson secepat kilat lantas berlari keluar.


"Oh my gosh! Apa dia baru aja cium aku?" Hanson meraba bibirnya dengan perasaan takjub.


❤️❤️❤️❤️❤️


like


komen selalu yaa...🤩🤩


terima kasih sudah membaca 🙏

__ADS_1


maafkan jika ada typo🙏


Luv U all🤗🤗🤗😘😘😘😘


__ADS_2