
Via duduk di bibir ranjang dengan mata yang masih basah, Mirza mengusap kedua pipi Via lembut.
“Maafin aku, sayang. Aku nggak bisa cegah perbuatan ibu yang nekad seperti itu.” Ucap Mirza penuh rasa bersalah.
Via diam, hatinya sakit karena semua perkataan ibu mertuanya yang sama sekali tak pernah menginginkan dirinya.
“Kenapa ibu sampai saat ini belum bisa nerima aku, Mas?” Lirih Via.
Mirza meraih pundak Via dan merengkuhnya ke dalam dada bidangnya. “Jangan terlalu dipikirkan, sayang. Kerana nyatanya kamu lah yang saat ini menjadi istriku, dan sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi satu-satunya istriku.”
Kalimat Mirza memang selalu menguatkan hati Via yang rapuh kala berhadapan dengan ibu mertuanya yang selalu pedes kalo ngomong. Itulah yang membuat Via mampu bertahan dengan Mirza sampai saat ini.
“Tapi Sofi, Mas …”
Mirza melepaskan dekapannya, memandang wajah istrinya yang sayu.
“Dengarkan aku, mulai hari ini kita harus bekerja sama dengan baik.”
Kening Via mengernyit tak memahami pekataan suaminya. “Maksud Mas?”
“Sofi dan ibu kenyataannya nggak bisa dihadapi dengan sikap keras, karena mereka akan semakin nekad. Kita akan memakai cara yang lebih halus.”
Via masih belum mengerti.
“Kita tunjukkan di depan sofi kalau kita berdua saling mencintai dan tak kan terpisahkan. Aku yakin dia lama-lama pasti nggak akan betah tinggal di sini.” Terang Mirza. “Kamu sepakat denganku kan, sayang?”
Via mengerjapkan matanya, “iya, Mas.”
Mirza tersenyum seraya menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi Via. “Itu baru istriku.”
“Maksih Mas, kamu selalu nguatin aku. Jika bukan karena kamu, mungkin aku …”
Via tak melanjutkan kalimatnya karena bibirnya sudah keburu di sambar bibir Mirza. Kontan saja Via kaget dan mencoba melepaskannya.
“Mas, ih! Kamu anarkis banget!” Via mendorong suaminya agak kesal.
Mirza hanya tersenyum, ciumannya belum begitu basah karena istriya belum siap menerima serangan dadakan yang ia lancarkan.
“Malah senyum-senyum lagi!” Via melototkan matanya makin kesal.
Mirza meraih tangan Via dan menciumnya lembut. “Inilah yang membuatku selalu jatuh cinta padamu, sayang. Kamu galak tapi ngegemesin.”
“Gombal!” Via menepis tangan Mirza seraya bangkit.
Buru-buru Mirza menarik pinggang Via sehingga ia terduduk di pangkuan Mirza. “Maksih ya, sayang. Kamu udah percaya sama aku.” Bisik Mirza. “Aku janji, akan ku tebus kesalahan bodohku walau dengan nyawaku sekali pun.”
Via melihat ada kesungguhan pada mata suaminya. Kedua mata mereka saling tatap dengan jarak begitu dekat, keduanya sama-sama bisa menilai kejujuran satu sama lain. Mata itu yang Via lihat kala Mirza meyakinkan dirinya untuk memintanya menjadi istrinya lima tahun lalu walau Bu Een menentang hubungan mereka.
Kekhusyukan meraka tiba-tiba terganggu dengan keributan yanga terdengar dari luar. Siapa lagi kalo bukan suara Bu Een. Rupanya Bu Een sedang menumpahkan kekesalannya pada Udin yang baru datang. Via dan Mirza menuju balkon kamar untuk melihat kegaduhan apa lagi yang terjadi.
“Kamu udah bosan kerja sama saya, hah?” Bu Een menunjuk muka Udin.
“Maaf, Bu. Kan udah saya bilang saya nggak denger telepon ibu karena hp saya di laci kasir.” Udin menyahut takut.
“Kanapa nggak sekalian aja hp kamu di taruh di dalem bak mandi?”
Udin hanya menunduk, Bu Een berkacak pinggang dengan dada turun naik menandakan emosinya belum usai. Mirza dan Via hanya merasa kasihan melihat si Udin yang dimarahi sampe sebegitunya. Sebenarnya mereka merasa Udin hanyalah sebagai pelampiasan kemarahan Bu Een.
“Mana kunci motornya?” Bu Een meminta kunci pada Udin.
“Ada di motor, Bu.”
“Bawa tuh, mobilnya. Awas kalo kamu ulangi lagi kayak gini, saya pecat kamu!” Ancam Bu Een lantas naik dan beralalu meninggalkan rumah Mirza.
_________
__ADS_1
“Azad, sebenarnya kakak kamu pergi kemana?” Tanya Tuan Husein pada Azad yang suah membaringkan diri hendak tidur.
“Papa kayak nggak tau Kak Sofi aja.” Sahut Azad sekenanya.
“Bukan begitu, keluarga Ramzi tadi sore menghubungi papa menanyakan Sofi.”
Azad melihat pada ayahnya yang melangkah gontai menuju sofa di kamarnya. Dia tak mungkin mengatakan pada ayahnya jika Sofi sekarang sedang berada di rumah laki-laki yang sudah menghamilinya. Menurutnya Ramzi sudah cukup baik dengan tak membuka kenyataan tentang Sofi pada keluarganya.
“Zad, Papa bertanya sama kamu.” Tegur Tuan Husein.
Azad sedikit gelagapan, ia tak mendengarkan pertanyaan Papanya.
“Ya, kenapa Pa?”
“Apa dia punya rencana berpesiar lagi?”
“Aku rasa nggak, Pa.”
“Baguslah.” Ucap Tuan Husein lega, namun tak bisa dipungkiri ada kekhawatiran dalam raut wajahnya. Bahkan lampu kamar Azad yang sudah temaram tak mampu menyembunyikan gurat kekhawatiran pada wajah yang sudah nampak tua dan letih itu.
“Kamu tau, keluarga Alatas sudah lama berhubungan baik dengan keluarga kita. Banyak sekali jasa mereka untuk membantu bisnis kita selama ini. Rumah beserta isinya ini bahkan tak kan bisa untuk menutup hutang kita jika mereka meminta kita untuk membayarnya.” Ungkap Tuan Husein.
Azad bangun menuju Sofa bludru di sudut kamarnya duduk di samping Tuan Husein.
“Apa yang papa pikirkan?”
Tuan Husein menghela napas berat. “Tidak ada.” Guma Tuan Husein.
Azad tau ayahnya berbohong. Hening memenuhi seisi ruangan, waktu hampir menunjukkan tengah malam.
“Papa sebaiknya istirahat. Aku nggak mau Papa sakit.” Ucap Azad.
Tuan Husein mengusap kumis tebal dan janggut panjangnya yang sudah memutih. “Bilang sama kakakmu sebaiknya cepat pulang.”
Tuan Husein bangkit dan kembali melangkah gontai keluar dari kamar diikuti tatapan mata Azad yang serba salah. Azad merasa ayahnya tau kalau dia menyembunyikan keberadaan Sofi.
Ping!
Aku sudah menunggu beberapa hari, namun sampai detik ini kamu belum juga membawa Sofi ke hadapanku. Apa kamu pikir aku main-main dengan ucapanku? Aku tidak mau tahu, menjelang hari pernikahan nanti Sofi harus sudah ada di kota ini. Jika tidak, keluargamu akan membayar perbuatan kakakmu yang sudah berani mempermalukan keluargaku!
“Kak Ram.” Hanya itu yang terucap mulut Azad dengan wajah yang pias.
_______
Sofi tersentak melihat jam dinding di kamar barunya yang menunjukkan pukul tujuh pagi lewat beberapa menit.
“Huh!” Sofi mendengus kesal karena bangun terlambat, semalam matanya sulit sekali dipejamkan.
Sofi ragu untuk keluar kamar. Untuk beberapa saat dia mencoba meyakinkan dirinya kalau langkahnya sudah benar, sekarang ia berada di rumah Mirza seperti yang calon ibu mertuanya inginkan dan bersiap menjalankan rencana untuk mendapatkan Mirza.
Setelah mencuci muka, Sofi ke luar kamar dan mengamati sekitar.
Untunglah masih sepi. Mirza dan Via pasti juga belum bangun. Pikir Sofi sedikit lega.
Sofi menuju ke dapur, namun ketika hampir sampai di sana ia mendengar seperti ada orang yang sedang berbincang. Sofi terus melangkahkan kakinya sampai di halaman belakang rumah Mirza yang luas.
Via dan Mirza sedang duduk di kursi panjang dekat gazebo dimana ada sebuah pohon mangga rindang dengan buah yang cukup lebat di sama, mereka tampak bahagia dan sesekali Via tertawa renyah. Di depan mereka ada dua cangkir teh.
Tawa Via reda begitu melihat Sofi sedang memperhatikannya, Mirza melihat kemana mata Via tertuju. Sofi sedikit canggung dengan tatapan mereka, bagaimanapun juga ia merasa asing diantara Mirza dan Via. Namun dia ingat tekadnya bahwa dia harus mendapatkan pengakuan Mirza untuk anak yang sedang dikandungnya. Sofi memberanikan diri melangkah menghampiri mereka dengan raut wajah dibuat setenang mungkin.
“Kalian sudah bangun rupanya.” Sapa Sofi sedikit berbasa-basi.
Via hanya melirik pada suaminya.
“Kami selalu bangun pagi.” Sahut Mirza datar.
Sofi duduk di kursi kayu depan Via dan Mirza. “Maaf, aku kesiangan.”
“Tak ada yang memintamu untuk bangun pagi atau siang, karena kamu sudah tau kan kehadiranmu sama sekali nggak diinginkan. Jadi ya, terserah kamu mau bangun jam berapa.” Sahut Mirza acuh sambil meraih cangkir tehnya.
__ADS_1
“Za, aku rasa kamu harus mulai menerima kaberadaanku disini.” Tukas Sofi pelan. “Dan bayi ini juga.” Lanjut Sofi sambil mengelus perutnya.
Mirza menyunggingkan senyum sinis setelah meneguk teh melati kesukaannya.
“Via, kamu seorang perempuan, pasti lebih mengerti dengan keadaanku.” Kali ini Sofi beralih pada Via.
“Aku ingin mengerti keadaanmu, tapi aku nggak mau kamu mengambil suamiku.” Jawab Via lugas.
Sofi terdiam, ia tau ini tak akan mudah.
Ketiganya kini tak saling bicara. Desir udara pagi menyapu anak rambut di kening Via, satu daun mangga yang menguning jatuh di dekat kaki Sofi.
“Beri aku kesempatan untuk berada diantara kalian, demi anak ini.” Ucap Sofi pelan.
Entah mengapa kalimat Sofi barusan terasa mengiris hati Via. Memang benar nuraninya sebagai seorang perempuan tentulah tak tega melihat perempuan lain menderita, apalagi sedang dalam keadaan hamil. Tapi siapkah dirinya jika harus benar-benar berbagi suami dengaan Sofi?
Mirza sadar pada perubahan air muka Via, digenggamnya erat jemari Via.
“Sayang, kamu tau kan aku sangat mencintai kamu?” Mirza menatap Via lekat lalu mencium tangan Via yang tentu saja membuat Sofi jegkel. "Aku nggak akan pernah mengijinkan ada orang kita hadir diantara kita.” Lanjut Mirza seraya merapikan anak-anak rambut dari kening Via.
“Tapi ini semua terjadi karena kesalahan kamu, Za!” Potong Sofi mulai emosi karena tak tahan melihat perlahuan Mirza pada Via.
“Iya memang, dan istriku sudah memaafkanku.” Sahut Mirza santai. “Lalu apa lagi?” Tanya Mirza seolah ingin tahu apa lagi yang akan dikatakan Sofi.
“Aku mau kamu menikahiku!”
“Maksudmu kamu mau jadi istriku?” Tanya Mirza belagak bodoh.
Sofi tau Mirza sedang menguji kesabarnnya, ia tak boleh terbawa permainan Mirza. Ditahannya amarah yang hampir meledak.
“Baik, kita lihat apakah kamu pantas menjadi calon istriku.”
Kontan saja Sofi kaget mendengar jawaban Mirza.
“Apa itu artinya kamu memberiku kesempatan?” Tanya Sofi sumringah, diliriknya Via yang hanya diam. Kini ia merasa menang dari Via karena tak mengira Mirza akan berkata seperti itu.
“Kamu jangan senang dulu. Untuk menjadi seorang istri tidaklah mudah.” Ucap Mirza membuat binar keceriaan pada mata Sofi sedikit meredup. “Kamu harus melakukan semua pekerjaan dan tanggung jawab sebagai seorang istri.”
“Tentu saja, aku pasti akan melakukannya.” Sahut Sofi yakin.
“Bagus, kalo gitu mulailah dari hari ini.”
___________
Wah, kira-kira ada yang tau nggak ya apa maksud dari kalimat Mirza itu? 🤔🤔🤔
🌹🌹🌹🌹
Halo akak-akak semuanya, maafkan autor ya telat update nih hari ini. Semoga partnya nggak mengecewakan ☺️☺️☺️❤️❤️❤️
Tetap dukung autor dengan tinggalkan like, komen, rate 5 dan vote yaa😉😉😉🤩🤩🤩
Terimaksih akak author dan akak readers semua🙏🙏🙏😍😍😍
Lu u all🤗🤗😘😘
__ADS_1