
"Cobain lho jeng, rambutannya enak." Bujel mengambilkan satu untuk Via.
Via membukanya dan memakan buah itu.
"Beneran kan manis kayak aku?" Celetuk Bujel, Via hanya tersenyum.
Sementara Via dan Bujel asyik makan rambutan, Yanti terus memantau dan pasang kuda-kuda jikalau Bujel akan membuat ulah, namun sampai beberapa menit sepertinya belum juga ada tanda-tanda mencurigakan hingga Yanti memutuskan untuk pulang karena Gio mulai rewel dan bosan bermain.
“Kok buru-buru sih Jeng? Nggak makan rambutan dulu?” Bujel berbasa-basi.
“Nggak doyan!” Ketus Yanti. “Aku pulang dulu ya Vi, udah sore nih, hati-hati, dia pasti modus sama kamu.” Bisik Yanti lantas mendorong sepeda Gio keluar halaman rumah Via.
Sepeninggal Yanti, Via melanjutkan aktifitasnya membersihkan tanaman dan mengambil beberapa kembang kol yang sudah siap panen untuk diberikannya pada Bujel.
“Ini buat aku, Jeng? Makasih ya.” Bujel menerimanya dengan senyum lebar.
“Iya, kan udah baik ngasih aku rambutan.”
Bujel yakin inilah saat yang tepat untuk memulai misi rahasianya dari Bu Een.
FLASHBACK ON
Setelah Om Jaka dan Via pulang, Bu Een yang geregetan nggak percaya menantunya udah jadi wanita karier langsung menghubungi intelnya, siapa lagi kalo bukan Bujel.
“Halo! Ada apa tumben nelpon-nelpon?” Bujel menyambut dengan jutek.
“Heh, ikan buntal! Nggak usah keGRan ya kamu, kalo nggak penting-penting amat saya juga males nelponin kamu!” Balas Bu Een nggak kalah juteknya. “Saya punya tugas rahasia, cari informasi soal kerjaan Via!”
“Kerjaan Jeng Via? Bujel heran. “Maksudnya aku harus ngintipin Jeng Via ngapain aja di rumah tiap hari gitu?”
“Bukan gitu, dasar ikan buntal! Si Via itu sekarang udah kerja, katanya dia bekerja di PT Adhikarya. Nah kamu cari tau tuh apapun itu tentang Via dan kerjaannya.”
“Wah wah …, rada berat nih misi kali ini Nyonya.” Mendadak Bujel mengganti panggilan untuk Bu Een, yang biasanya Mak Lampir menjadi Nyonya. “Pastinya aku kan butuh ….”
“Udah nggak usah banyak cingcong kamu!” Potong Bu Een. “Saya ngerti maksud kamu. Tenang aja, saya bakal kasih komisi lebih kalo info yang kamu dapatkan itu valid dan memuaskan.”
“Woo, siap! Tenang aja, Nyah. Agen rahasia Jelita Manjalita siap beraksi.” Sahut Bujel mantap. “Tapi, ya … untuk sekedar diketahui Nyonya aja nih. Beras di rumah saya sudah hampir habis, sabun, odol, minyak sama bumbu dapur juga sudah menipis. Jadi ya … mohon pengertiannya dari Nyonya lah, hehe …”
“Kamu mau ngerampok saya?” Bu Een tampak kesal di ujung telponnya.
“Eh, bukan gitu, Nyah. Itu sih kalo nyonya mau dapat info yang memuaskan, kalo nggak ya udah. Aku sih nggak maksa.” Bujel sok nggak butuh.
“Dasar tukang palak!” Bu Een geregetan. “Oke, nanti saya kirim beras sama sembako ke rumah kamu. Tapi ingat, informasinya harus valid!”
“Beneran, Nyah? Wah, makasih banyak ya, Nyonya memang juragan sembako yang paling top sedunia! Saya pasti nggak bakal mengecewakan deh. “ puji Bujel dengan girang.
FLASHBACK OFF
“Oya Jeng, gimana kerjaan barunya? Pasti seneng banget ya udah jadi wanita karier sekarang?”
Via agak surprise juga, dari mana Bujel tau dirinya sekarang udah kerja. “Tau dari mana Jeng aku udah kerja?”
“Apa sih yang nggak aku tau dari semua penghuni komplek ini?” Bujel percaya diri sekali, padahal dia juga baru tau dari Bu Een karena beberapa waktu belakangan ini memeng jarang banget melintas depan rumah Via.
“Heum, ya cukup menyenangkan.” Via menanggapi dengan tak terlalu excited.
“Bedewey, masih butuh karyawan nggak Jeng kantormu? Aku juga mau dong ikut kerja di sana, sapa tau butuh jasa tukang rumpi, ya kan? Biar kantor kagak sepi dan karyawannya kagak pada stress gitu, hehe …”
Via mengernyit, ada-ada aja Bujel. Nggak kebayang, kalo beneran kantor Bu Elin buka lowongan buat karyawan yang punya keahlian rupa-rupa rumpi kayak Bujel, makin banyak aja tuh anggota gank Milen cs.
“ Ya kalo nggak ada, jadi tukang bersih-bersih juga nggak papa deh. Bersih-bersih makanan maksudnya, hehehe …” Bujel nyengir lagi sambil kembali menguliti rambutan dan melahapnya isinya.
Perasaan tadi Bujel bilang itu rambutan buat Via ya? Kenapa jadi dia yang lebih banyak makannya?
“Soal lowongan kerja aku nggak tau ya Jeng, aku aja masuk kerja di sana dibantuin temen kok.” Ungkap Via jujur.
“Oww gitu ya? Emang Jeng Via kerjanya di bagian apa? Terus gajinya berapa?”
Waduh! Kalo ngomongin soal gaji, sensitif nih! Via tak langsung menjawab, kepo bener si Bujel nanya-nanya soal gaji segala.
“Eh, maaf ya Jeng.” Bujel sepertinya langsung menyadari karena Via tak kunjung menjawab. “Aku cuman pingin tau aja, soalnya kan tempat Jeng Via kerja itu perusahaan yang cukup ternama di kota ini? Pasti gajinya tinggi tuh.”
Via hanya tersenyum.
“Jeng Via masuk kerja di situ pasti atas bantuan Mas Danar ya? Kan itu perusahaan orang tua angkatnya Mas Danar?” Bujel nampaknya belum menyerah untuk terus mengorek keterangan dari Via.
“Nggak kok, aku justru baru tahu kalo Danar juga kerja di sana.” Via lempeng aja.
“Masa sih? Terus siapa yang ngajakin Jeng Via kerja di sana?”
“Ada deh, aku sebutin juga pasti nggak tau.”
__ADS_1
Bujel cuman manggut-manggut sambil terus berpikir keterangan apalagi yang bakal dikoreknya dari Via. Untungnya meski dia kerjaannya nggak jauh-jauh cuman muter-muter komplek perumahannya doang, dia tau kalo PT Adhikarya itu perusahaan orang tua angkatnya Danar.
“Berarti Jeng Via satu kantor dong ya sama Mas Danar? Pasti sering ketemu kan sama dia? Seneng ya Jeng sekantor sama laki-laki cakep kayak gitu, bikin mata adem dan jiwa tentram.” Bujel merem melek membayangkan wajah Danar.
Haish! Kenapa si Bujel tiba-tiba bahas soal Danar sih? Via jadi sebel.
“Aku perhatiin, Jeng Via sama Pak Hadi akrab banget ya? Udah kayak keluarga gitu, padahal kan belum lama kenal ya?” Bujel mulai lagi tanpa mempedulikan raut wajah Via yang masam.
“Biasa aja, Jeng.” Sahut Via datar.
“Mas Chicko Jerico udah tau kan kalo Jeng Via sekarang kerja? Jeng Via pastinya ijin dulu kan sama Mas Chicko?” Bujel kembali bertanya disela-sela kegiatannya memamah biak.
“Udah.” Via menjawab pendek saja.
“Apa Mas Chicko nggak keberatan Jeng Via kerja? Kan dunia kerja pasti menyita waktu, terus juga Jeng Via kalo diluar digodain sama laki-laki usil gimana? Apa nggak khawatir tuh Mas Chicko, secara kan kalian jauh-jauhan?”
Sumpah, Via makin sebel sama Bujel karena semakin masuk ke ranah pribadinya.
“Nggak,” Sahut Via cuek tak mengalihkan pandangannya dari aneka tanaman di depannya.
Bersyukur, akhirnya Bujel sadar diri juga karena merasa Via mulai bête padanya. Dengan berat hati dia pamit sambil berjanji dalam hati akan berusaha melanjutkan misinya kembali.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sejak berhasil membuat Arumi kembali perhatian padanya, Hanson tak ingin menyia-nyiakan lagi kebaikan Arumi, terlebih lagi setelah kunjungannya ke rumah Mak Epot untuk kedua kalinya beberapa hari yang lalu itu. Hanson selalu menyempatkan diri menelpon Rumi jika malam menjelang meski hanya untuk sekedar mengucapkan selamat tidur, dan Arumi pun membalasnya dengan mengingatkan agar Hanson tak lupa mengoleskan ramuan Mak Epot ke pisang tanduknya.
“Besok kamu ke aparteman aku ya?” Hanson berbicara d telpon dengan Arumi.
“Ng, gimana ya? Kayaknya aku mau pergi sama Jane.”
“Ayolah Rumi, aku mau kasih kamu kejutan.”
Mendengar kata kejutan sontak saja mata Arumi membola. “Kamu mau ngasih aku cincin berlian ya?”
“Nggak, bukan.”
“Yaah ..” Arumi terdengar kecewa.
“Pokoknya kamu datang aja ya.” Hanson sedikit memaksa.
“Iya deh. Jane ikut boleh ya?”
“Ada apaan sih? Jangan bikin penasaran dong!”
Hanson tergelak. “Tunggu besok saja. "Okay, gute Nacht mein Liebe." (Selamat malam cintaku).
Hanson mengakhiri sambungannya dan sukses bikin arumi penasaran.
Keesokkan harinya Arumi menuju apartemen Hanson dan terpaksa membatalkan janjinya dengan Jane. Meski Jane kecewa tapi Arumi tak peduli, baginya kini Hanson yang lebih penting, jahat banget kan emang si Rumi itu, udah nggak butuh aja lupa sama Jane! Kemaren waktu nangis-nangis siapa yang nolongin kalo bukan Jane? Dasar Rumi lagi mabuk bule!
Rumi sudah memarkir mobilnya dan bergegas menuju lantai 5 dengan tak sabaran, gegera perkataan Hanson semalam dia sampe nggak nyenyak tidur.
Awas aja kalo kejutannya nggak penting! aku bejek-bejek tuh pisang tanduknya! Omel Arumi dalam hati.
Arumi baru keluar dari lift dan menyusuri lorong menuju kamar Hanson ketika satu suara memanggilnya. Suara yang sangat familiar di telinganya.
“Hanson?” Arumi menoleh sedikit kaget. “Dari mana kamu?”
“Buying something.” Hanson menunjukkan plastik bertuliskan logo minimarket yang dibawanya.
“Kok kita nggak ketemu tadi ya di bawah?”
Hanson hanya tersenyum, ia memandangi penampilan Arumi. “Du siehst so wunderschön aus.(Dia terlihat sangat cantik)" Gumam Hanson.
“Apaan?” Kening Arumi mengernyit.
“Kamu cantik banget.”
“Oh iya dong, emang udah dari sononya cantik!” Arumi pede lantas segera menarik lengan Hanson. “Udah ah, ayok! Aku nggak sabaran pingin lihat kejutannya dari kamu apaan.”
Mereka berdua pun segera menuju apartemen Hanson. Arumi seperti biasa duduk di sofa ruang tengah menontn TV udah kayak rumahnya sendiri karena saking seringnya dia kesana. Hanson menyiapkan dua gelas minuman dingin dan memberikannya pada Aumi.
“Thanks ya. Tau aja kalo aku lagi aus.” Arumi langsung menikmatinya, Hanson memperhatikan wajah Arumi yang jarang sekali ia perhatikan dengan detail.
Sie ist schön (Dia memang cantik). Batin Hanson yang juga menyeruput minumannya namun matanya tak lepas dari sosok Arumi. Und auch sexy (dan sangat seksi).
“Terus kejutannya mana?” Arumi banar-benar tak sabar, ia sama sekali tak sadar dengan tatapan Hanson yang terus memperhatikaknnya dengan intens.
“Kamu udah nggak sabar ya?”
“Iya, kamu jangan ngerjain!” kesal Arumi.
__ADS_1
“Ayok ke kamar.”
Arumi melotot. “Harus ke kamar ya?”
“Iya, kenapa emangnya?”
“Kejutannya ada di kamar gitu?”
Hanson hanya tersenyum dan menarik pelan Arumi untuk ikut dengannya masuk ke kamarnya.
Ceklek ceklek
Hanson mengunci pintu setelah mereka berada di dalam kamar.
“Eh, kok di kunci sih?”
Bukannya menjawab, Hanson justru meraih pinggang Rumi ke dekatnya dan menangkup wajah rumi dengan kedua telapak tangannya. “Inilah saatnya.”
Arumi yang kaget reflek mundur melepaskan diri. “Kamu mau apa?”
Hanson merangsek sambil nyengir. “Mau test drive.”
“Hah? Apa?” Arumi makin kaget. “M – maksud kamu …?”
Hanson tersenyum seraya mengangguk. “Iya, aku mau kita melakukannya sekarang.”
Arumi mundur lagi, tubuhnya mentok mepet tembok.
“Kamu kenapa?” Hanson heran dengan ekspresi Arumi yang seperti ingin menghindar darinya. “Don’t worry. We’re gonna do it savety.” Hanson meraih sesuatu dari plastik mini market di atas nakas samping Arumi.
OMEGOT!!! Arumi melotot, itu kan balon eh … k****m??
“No, Hanson!” Arumi menolak seraya menggeleng tegas.
“Kenapa? Bukankah kamu selalu ingin melakukannya denganku?” Hanson keheranan.
“Heum, iya … sih. Tapi … “
“No tapi tapi.” Hanson tak mau dibantah. Dia kembali mendekati Arumi. “Aku sudah sembuh, kamu boleh liat sekarang!” Hanson mau melorotin celananya.
“Jangan ….!” Teriak Arumi.
“Kamu mau kita pemanasan dulu? Okey.” Hanson memepet Arumi, bibirnya menyosor tak sabaran. Dari pepetan Hanson, arumi dapat merasakan seseuatu yang keras dari bagian bawah Hanson menempel padanya.
“Jangan sekarang, Hanson.” Arumi mengelak, menjauh dari laki-laki bule yang nampaknya sudah naik itu.
“Why? Kamu nggak percaya aku sudah sembuh? Arumi, ramuan itu benar-benar sangan ampuh, belum satu minggu aku sudah bisa berdiri. Aku yakin sudah boleh dipakai, dan aku mau melakukannya sama kamu.”
“Tapi nggak sekarang. Aku belum siap.”
“Hey, kamu bilang apa? Belum siap?” Hanson tak percaya. “Bukannya kamu yang selama ini maksa pingin aku melakukannya sama kamu? Bukannya kamu juga yang gencar nyuruh aku berobat alternative biar kamu bisa melakukan itu sama aku? Kamu lupa waktu kita bermalam bersama di pulau, kamu semalaman merayuku dan memaksaku? “ Hanson mulai emosi. "Sekarang kamu malah menolakku? What the hell? Ayo kita bersenang-senang!”
“Nggak!” Arumi mendorong Hanson yang kembali memburunya.
“Dasar perempuan aneh! Aku nggak terima kamu menolakkau begini, kamu yang udah bikin aku kayak gini. Kamu harus tanggung jawab!” Hanson menarik paksa Arumi dan meringkusnya. Hanya dengan satu gerakan Hanson mengangkat tubuh Arumi kemudian menghempaskannya ke atas kasur.
Dalam hitungan detik Hanson melucuti pakaiannya, Arumi tak hilang akal dia langsung menghadiahkan tendangan penalty tepat mengenai pisang tanduk yang mencuat mengarah pada dirinya.
DUG ....!
“Aarrrrgh…….!!!!” Hanson menjerit mengempi pisangnya yang mules tak karu-karuan, tubuhnya jatuh berguling-guling di atas kasur dengan wajah memerah.
Arumi meski sempat terkejut dan khawatir dengan aksinya itu apakah akan membuat Hanson terluka memilih untuk segara melarikan diri tak menyia-nyiakan kesempatan itu. segara dibukanya kunci kamar dan berlari keluar dari apartemen Hanson dengan ngos-ngosan kayak abis ngeliat hantu di siang bolong.
Pkirian arumi sangat kacau. Hanson benar, ia memang sudah lama mendambakan pisang tanduk si bule itu. Namun entah mengapa kewarasannya tiba-tiba datang. Dia teringat perkataan Jane agar jangan mudah menyerahkan diri pada laki-laki manapun sebelum resmi menikah jika tak ingin mengalami nasib serupa dengannya.
Arumi sudah di dalam mobil kini, ia mengemudikan mobilnya menuju rumah Jane. Semoga saja saudaranya itu memaafkannya yang telah mengabaikannya hanya gara-gara penasaran dengan kejutan si bule itu.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hai akak semua, terima kasih sudah membaca 🙏🙏🙏❤️❤️😘😘
Berhubung ini menjelang Ramadhan, othor nggak bakalan nulis yang menjurus ke pirni-pirni lagi yee. Ini terakhir deh, hehe ….🙏🙏😂😂 Takut ntar mengurangi pahala yang lagi puasa 🤭🤭🤭
Gitu deh, Rumi sedang berusaha insyaf. Kira-kira si babang bule gimana ya nanti itu nasibnya 😅😅😅
Heum, yang kangen Sofi sabar ya? Bentar lagi nongol kok😆😆
Jangan lupa tinggalkan jejak selalu ya Kak🤩🤩🤩
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1