TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
207 #NASI KENDURI (PART 2)


__ADS_3

Hingga menjelang sore Mirza belum mendapatkan nasi kenduri seperti yang diidam-idamkan oleh sang istri. Mirza sudah bertanya pada semua teman dan keluarga, bahkan sampai keliling kompleks buat nyari adakah warga kompleks yang akan kendurian. Hasilnya nihil! Terakhir dia menghubungi Riri, si adik iparnya itu malah nyuruh Mirza bikin acara kendurian sendiri ngundang tetangga dekat biar Kakaknya itu kesampean ngidamnya.


“Ngaco kamu, Ri. Dalam rangka apa coba Masmu yang ganteng ini bikin acara kendurian di rumah?” Heran Mirza lewat sabungan telepon.


“Ya dalam rangka Mbak Via pingin nasi kenduri lah Mas.” Riri terkekeh di seberang. “Abis gimana dong, aku bikinin juga Mbak Via nggak bakal mau kan? Dia maunya nasi kenduri yang bener-bener real dari acara kendurian. Ya kenapa nggak bikin acara kendurian sendiri aja?”


Mirza mendengus. “Coba deh kamu inget-inget lagi, masa nggak ada yang pesen catering sama kamu buat acara kendurian?” Mirza agak memaksa.


“Ya ampun Mas, aku ini belum amnesia. Satu minggu ini aku lagi nggak ada orderan.”


“Heh…., ya udah deh.” Mirza pasrah lantas mengakhiri sambungan. Ditengoknya sang istri yang sedang berduaan dengan ponselnya di kamar, tampangnya masih masam karena Mirza belum berhasil memenuhi keinginannya yang terdengar sangat simpel namun tak mudah itu.


Mirza lantas kembali menarik diri, duduk di ruang tengah berpikir siapa lagi yang akan dia hubungi. Firman, Yanti, Riri, Om Jaka, Denaya, Udin, Tia, Arya, bahkan sampe Khusni dan Yana yang berada di Bandung juga dia tanyain, adakah tetangga atau kerabat mereka yang hari ini menyelenggarakan acara kendurian? Ya kali kalo ada si Mirza mau langsung nyusulin ke Bandung buat ambil nasi kendurinya! Kan ajaib banget kalo emang sampe beneran kayak gitu?


Oh iya, Danar! Cetus batin Mirza. Cuma Danar yang belum dia tanya. Mirza sudah meraih ponselnya hampir menghubungi Danar, namun segera diurungkannya.


Nggak! Aku nggak boleh melibatkan Danar lagi untuk hal apapun yang menyangkut Via. Tolak batin Mirza tegas. Beberapa lama berpikir, hari semakin sore. Kedua mata Mirza hampir terkatup ketika ia mendengar suara Via memanggilnya.


“Ya, ada apa Sayang?” Mirza bangkit menggeser posisinya untuk Via dapat duduk di sebelahnya.


“Udah dapet belum nasi kendurinya?” Tampang Via memelas.


“Belum Sayang. Kamu makan yang lain aja dulu ya?” Raut Mirza menunjukkan penyesalan.


“Tadi pagi aku udah makan nasi kuning, siang tadi nasi uduk, terus Mas mau nyuruh aku makan nasi apaan lagi? Jelas-jelas yang aku inginkan cuman nasi kenduri!” Via mulai kesal.


“Nasi kebuli gimana?” Usul Mirza dengan senyuman berharap istrinya setuju. “Atau nasi kucing, nasi jamblang?”


“Ogah!” Via bangkit ke belakang untuk mengambil gunting tanaman di lemari perkakas.


“Eh, kamu mau ngapain Sayang?” Kaget Mirza yang mengekor istrinya.


“Emangnya Mas pikir aku mau ngapain dengan gunting ini?” Ketus Via dengan tatapan juteknya.


Mirza diam, sekelebat hal buruk menyelinap di benaknya. “Bukan mau motong punya Mas gara-gara nggak bisa memenuhi permintaanmu kan, Sayang?” Ekspresi khawatir sangat kentara di raut wajah Mirza.


Via menyeringai dengan tatapan tajam, “sepertinya itu ide bagus.” Via maju perlahan.


“Oh, no ….! Jangan lakukan itu Sayang …., kalo punya suamimu ini kau potong nanti masa depan kita berdua suram.” Suara Mirza agak bergetar dengan kedua tangan sibuk melindungi harta kekayaannya yang paling berharga. Via sudah tepat berada di depannya.


“Lebay! Masa punya Mas tega aku potong, eman-eman!” Ucap Via dengan satu tepukan di pipi kiri suaminya lantas melenggang begitu saja menuju keluar.


Fiuuh…! Harusnya aku tau istriku nggak mungkin melakukan hal konyol seperti itu! Mirza menarik nafas lega. Baru saja dia hendak menyusul Via namun ponselnya di ruang tengah berbunyi.


“Ya, Om?” Sapa Mirza setelah menyambar gawainya.


“Eh Za, udah nemu belum lu nasi kendurinya?” Tanya Om Jaka.


“Belum, Via malah ngambek tuh seharian nyuekin aku.”


“Nah kebeneran nih, tetangganya karyawan toko matrial gue ada yang mau kendurian tuh ntar malem.” Ucap Om Jaka.


“Beneran? Ya udah ntar nasi kendurinya buat Via ya Om, tolong bilangin. Aku bayarin deh berapa aja mintanya.” Mirza bersemangat sekali, akhirnya dia mendapatkan kabar baik juga.


“Iya tapi masalahnya…. Karyawan gue itu sekarang lagi ngangkut pasir ke luar kota, kayaknya pulangnya agak maleman.” Om jaka agak ragu di seberang.


“Ya nggak papa Om, kalo pulang ntar suruh langsung ikut kendurian aja.”


“Masalahnya malemnya pulang jam berapa gue juga nggak tau, ntar kalo acaranya udah selese gimana?”


“Terus ngapain Om jaka ngasih tau aku kalo gitu?” Kesal Mirza.


“Ya kali elu mau pergi ke sana ikut acara kendurian? Kan lumayan tuh dapet nasi kenduri bakal Menuhin ngidamnya bini elu!”


“Kenapa nggak Om Jaka aja yang ikut acara kenduriannya? Kan yang punya acara tetangganya karyawan Om Jaka?” Mirza malah seenak judatnya nyuruh-nyuruh si Om.


“Masalahnya gue nggak kenal sama tetangganya, Mirza …..!” Suara Om Jaka juga mulai kesal di seberang..


“Huh, masalah-masalah terus dari tadi! Nggak kenal juga nggak papa lah, bukannya biasanya Om Jaka itu orangnya suka sok kenal?” Mirza memaksa. “Demi calon cucu keponakan Om Jaka … ya, mau ya?”


“Kok elu maksa sih? Tau kayak gini kagak bakal gue kasih tau elu, nyesel gue!” Sewot Om Jaka.


Mirza terdiam, berpikir sejenak. Keder juga kalo kayak gini. Nasi kenduri sudah di depan mata tapi masih belum pasti bisa diambil. “Aha! Aku punya ide Om.” Ujar Mirza kemudian. “Gimana kalo kita pergi sama-sama ke sana?” Usul Mirza.


“Udah dibilangin gue nggak kena sama orangnya ,Za …!”


“Ya apalagi aku, Om!”


“Ya udah, kagak usah kalo gitu. Bye!”

__ADS_1


“Eeeh…, sebentar Om!” Mirza berusaha menahan Omnya yang hendak mengakhiri sambunyan “Jangan marah dong. Dua orang sama-sama nggak kenal dengan yang punya acara tapi kalo pergi barengan kan keliatannya nggak bego-bego amat Om. Bisa aja kita pergi ke sana dengan alasan ngewakilin karyawannya Om yang lagi sibuk itu. ya akn? Gimana menurut Om? Ayolah…., plis om….!” Cerocos Mirza penuh permohonan.


Om Jaka menarik napas berat di seberang. “Terserah elu deh kalo gitu. Acaranya habis maghrib.”


“Ya udah, Om cuss kesini aja pulang dari toko ya, kita pergi bareng-bareng.”


“Gue udah lagi jalan pulang ini. Elu aja yang ke rumah gue!”


“Oke, deal ya? kita pergi bareng demi nasi kenduri.”


“Hem!”


KLIK!


“Yess!” Mirza bersorak kegirangan lantas segera melangkah cepat mencari istrinya. “Sayang …., Sayang ….!” Pangil Mirza mengedarkan pandanagn ke halaman depan. Via tak ada di sana. Di kebon sayuran halaman samping pun tak ada. Mirza lanjut ke halaman samping kiri tempat taman bunga mini milik istrinya. “Sayang, kamu disini ternayta?” Mirza tersenyum lebar menghampiri Via yang tengah sibuk memangkas batang-batang tanaman bunga bougenville-nya yang tumbuh tak karuan. Sejak dari beberapa hari lalu dia ingin merapikannya, namaun baru hari ini kesampean.


“Ada apa sih, Mas? Dari tadi teriak-teriak heboh sendiri?” Via masih dengan raut sebal tanpa melihat sang suami.


“Mas udah dapet nasi kendurinya, Sayang.”


Via meneoleh bersemangat. “Beneran, Mas?” Seketika wajahnya berubah ceria.


“Iya. Tetangganya karyawan toko Om Jaka ada yang mau kendurian mala ini. Mas mau kesana sama Om Jaka.” Tutur Mirza dengan raut bahagia.


“Berarti Mas mau ke tempat Om Jaka nanti?”


“Iya, Sayang.”


“Aku ikut ya. aku mau ketemu sama Denaya, kangen aku sama babynya. Boleh kan Mas?”


“Boleh, Sayang.”


Via segera merentangkan tangannya hendak menghambur memeluk sang suami, namun Mirza terlebih dulu menahannya.


“Tunggu Sayang, singkirkan dulu guntingmu itu. Mas ngeri.” Pinta Mirza.


“Ah, Ya!” Via pun melempar guntingnya ke sembarang tempat. “Makasih ya Mas, kamu udah mau mengabulkan keinginanku.” Ucap Via mendekap suaminya manja.


“Sama-sama Sayang. “Mirza mencium pucuk kepala istrinya. “Ya udah, kamu mandi dulu sana. Kita beragkat bentar lagi biar nggak kesorean.” Mirza melerai pelukan perlahan. “Biar ini Mas yang teruskan sambil nungguin kamu selesai mandi.”


Via mengangguk.


Satu kecupan singkat ia daratkan di pipi kanan suaminya. “I love you, Mas.” Via segera ngacir dengan senyuman membingkai di wajah cantiknya.


Ya ampun! Istriku semakin menggemaskan saja! Wanita hamil yang satu itu moodnya cepat sekali berubah, sebentar marah, ngomel-ngmoel, sebentar lagi langsung bersikap manis dan romantis. Mirza senyum-sendiri seraya meraih gunting tanaman dan mulai melanjutkan merapikan batang-batang tanaman bunga bougenville.


Pukul 5.10 sore mereka pergi ke rumah Om Jaka dengan mengendarai mobil. Via tak henti-hentinya tersenyum membayangkan sebentar lagi dia akan memakan nasi idamannya. Tanpa sepengetahuannya, perasaan khawatir ternyata mulai terselip di hati MIrza. Sesekali Mirza mencuri pandang pada istrinya yang menatap lurus ke jalanan dengan wajah cerah.


“Eum, Sayang.” Panggil Mirza.


“Ya, kenapa Mas?” Via menoleh.


“Saking senangnya, Mas baru kepikiran nih.” Mirza diam dulu untuk melihat ekspresi istrinya.


“Kepikiran soal apa, Mas?” Heran Via.


“Emh, gimana nanti kalo nasi kendurinya nggak seperti yang kamu bayangkan?” Tanya Mirza hati-hati.


Via terdiam beberapa saat membuat Mirza makin khawatir. “Kamu tau kan Sayang, nasi kenduri dalam gulungan daun pisang kayaknya sulit dijumpai di jaman yang sudah bertambah modern ini.” Terang Mirza perlahan, ia usahakan tetep fokus pada kemudinya meski hatinya mulai cemas akan respon istrinya yang bisa saja meledak seketika.


“Iya, kamu bener Mas. Tapi nggak papa kok!” Ternyata respon Via di luar dugaan. “Yang penting judulnya nasi kenduri, aku udah nggak mempermasalahkan seperti apa tampilannya.”


Lega sekali Mirza mendengarnya. Sungguh nasib baik tengah berpihak padanya. Mobil Mirza sudah memasuki halaman rumah Om Jaka yang sangat luas, Eh, rumah Pak Haji Barkah, maksudnya, heheee... Denaya segera menyambut mereka ketika Via mengetuk pintu mengucap salam.


“Si baby catik keponakanku mana? Aku kangen sama dia.” Hal yang pertama ditanyakan Via ketika melihat Denaya.


“Ada di dalam, masih tidur. Ayok, Masuk!” Denaya menggamit lengan Via membawanya menuju kamarnya. “Nanti bentar lagi juga dia bangun kok.”


“Iya aku pingin gendong dia.”


“Hem, dasar perempuan! Kalo udah ketemu pasti lupa sama suama sendiri!” Sungut Mirza yang merasa dicuekin.


“Eh, kenapa lu mrengut gitu?” Om Jaka menepuk pudak Mirza. “Mending kita siap-siap sholat maghrib dulu yuk, udah mau adzan nih. Abis itu ntar kita langsung berangkat.” Om Jaka melangkah mendahului Mirza ke dalam.


Selepas maghrib Om Jaka dan Mirza benar-benar pergi ke acar kendurian orang tak dikenal itu. Denaya tertawa tak percaya mendengarkan cerita Via, suaminya rela pergi sama Mirza demi memenuhi ngidamnya Via.


“Maafin aku ya, Dena. Jadi ngerepotin Om Jaka.” Via agak menyesal.


“Nggak papa, Vi. Kapan lagi kan bisa minta yang aneh-aneh kalo nggak lagi hamil?” Denaya tersenyum.

__ADS_1


Meraka lantas tenggelam dalam obrolan yang makin mengasyikkan setelah shalat magrib, hingga si baby lucu Denaya yang bernama Amara itu terbangun. Via langsung bahagia melihatnya, Ditimang-timangnya baby Amara dengan penuh kebahagiaan.


“Lucu banget sih dia? Gemes aku….” Via tak henti-hentinya mengelus lembut pipi baby Amara.


Denaya tersenyum menyaksikan kebahagiaan Via. “Sebentar lagi kamu juga akan merasakan bahagianya memiliki baby, Vi.”


“Iya, semoga saja babyku juga cantik, sehat imut lucu dan menggemaskan kayak baby Amara ya.”


“Eh, emangnya baby kamu cewek?” Heran Denaya.


“Oh iya ya, aku kan belum tau jenis kelaminnya.” Via tertawa renyah. “Nanti aku USG kalo udah masuk 7 bulan aja deh.”


“Iya, yang penting kamu sekarang tetep jaga kesehatan ya, nggak boleh stress dan kelelahan, biar baby kamu juga sehat dan persalinannya lancar.” Nasehat Denaya.


“Aamiin….”


Tak berapa lama dalam gendongan Via, baby Amara sudah nampak mengantuk lagi. Denaya segera mengambilnya dan membaringkannya perlahan. Dari luar terdengar suara Om Jaka dan Mirza sudah sampai. Via segera keluar untuk menyambut.


“Mas, udah pulang?”


“Udah, ini coba liat Sayang!” Ucap Mirza yang kerepotan banget membawa beberapa nasi kenduri di kiri kanan dalam jinjingan tangannya.


“Ya ampun, kok banyak banget sih Mas? Aku kan mintanya Cuma satu.” Heran Via.


“Kerjaan Om Jaka tuh!” Mirza mendongakkan dagunya pada Omnya.


Om Jaka tersenyum lebar. “Gue cerita sama yang punya hajatnya kalo ponakan gue lagi ngidam nasi kenduri, eh dikasih banyak, ya udah gue terima aja.”


“Tapi nasi sebanyak ini mau siapa yang makan?” keluh Via.


“Ya taroh aja di kulkas, simpen buat sampe taun depan.” Sahut Om Jaka asal.


“Bebeb! Ih, kamu tuh ya kebiasaan suka ngaco!” Semprot Denaya yang baru muncul. “Kira-kira dong, kalo nggak kemakan ya jangan dibawa semua. Kan mubadzir juga!”


Om Jaka menghela napas. “Jadi sebenarnya tadi gue juga ngasihin amplop tuh sama tetengganya si Jamil karyawan gue, gue bilang minta maaf karena si Jamil nggak bisa ikut kendurian lagi gue suruh ngangut pasir. Makanya gue dateng ikut kendurian buat ngewakilin dia. Itu gue lakuin sesuai usil laki elu, Vi." Om Jaka tak mau disalahkan sepenuhnya. "Eh tetangganya si Jamil itu malah nagsih nasi kendurinya banyak gitu, ya udah gua sekalian bilang ini buat ponakan gue yang lagi ngidam, eeh… malah ditambahin lagi. Masa mau gue tolak. Ya nggak enak kan Hani Bani Switi?” cerocos Om Jaka pada Denaya.


Denaya dan Via hanya bisa pasrah.


“Ya udah yok kita makan nasi kendurinya sama-sama.” Ajak Om Jaka memimpin ke ruang makan.


Tadaaaa…..! via membuka bungkusan nasi kendurinya dengan senyuman lebar. Meski wadah nasinya mengguakan wadah keranjang plastik, tapi Via sangat senang. Pun dengan menu kendurinya yang tampak sederhana dan biasa saja, Via juga tak mempermasalahkannya. Ia segera makan dengan lahap. Hatinya sudah terlanjur bahagia, makanya dia tak memeberikan komentar apapun. Mirza, Om jaka dan Denaya hanya saling pandang dengan bertukar senyum melihat Via sangat menikmatai nasi kendurinya.


Mirza belum sampai mengahbiskan nasi kendurinya, ponselnya tiba-tiba berdering.


“Ibu?” Gumama Mirza memperhatikan layar ponselnya.


“Emak elu telpon tuh!” Ucap Om jaa yang juga ikut melirik pada ponsel Mirza yang tergeletak di atas meja makan.


“Angkat Mas, siapa tau ibu ada perlu.” Via membawa bekas keranjang nasi kendurinya ke belakang.


“Biar akau aja, Vi!” Denaya menyusul.


“Buruan angkat! Ngapa diem aja lu? Kayaknya sinyalnya emak elu kuat banget ya, tau aja kalo elu ada di rumah gue?” Ledek Om Jaka.


Mirza segera meraih ponselnya meski agak ragu.


“Ya, halo Bu. Asalamualaikum ….”


___________________________ ❤️❤️❤️❤️❤️


Nah, mau apa ya Bu Een nelponin Mirza?


a. Mau ngajakin bikin sate


b. Mau ngajakin bikin gule


c. Mau ngajakin ribut


d. Mau ngajakin ribut sambil bikin sate dan gule


Hi, Kaaak….. maaf ya, up nya masih belum bisa maksimal.😊


Terima kasih sudah membaca.🙏🙏🙏


Likenya mana…..?😄


Komen jangan lupa ya…..🤩


Vote? Buruan ntar nyesel kalo novelnya udah end, wkwkwk….😁😁

__ADS_1


Maafkan juga kalo banyak typo. Seamat lebaran, I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2