
Malam merambat perlahan, Via merasakan kantuk mulai menyerangnya. Beberapa kali ia menguap seraya meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Lantas ia melangkah hendak menutup jendela namun urung dilakukan, ia berdiri menatap keluar. Udara malam terasa basah, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Via memperhatikan taman kecilnya di luar jendela. Bunga-bunga bougenvillenya tak lagi bermekaran, dahan-dahannya mulai tumbuh tak beraturan. Week end nanti ia akan merapikannya, sudah cukup lama ia tak menata tanaman bunganya itu.
“Lho, belum tidur Sayang?” Mirza masuk kamar melihat istrinya tengah berdiri di depan jendela kamar.
“Baru mau tidur Mas.”
Mirza mendekat, melingkarkan lengannya di perut istri cantiknya. “Mau Mas kelonin?” Goda Mirza.
Via berbalik seraya mencebik. “Ish, emang aku anak bayi?”
“Ya udah kalo nggak mau, biar Mas kelonin anak kita aja.” Mirza membungkuk mendekatkan wajahnya pada perut Via yang masih datar. “Anak ayah sayang, kamu mau ayah kelonin nggak? Kamu pasti capek kan abis ikut Bunda ke Bogor? Yok, bobok sama ayah.” Mirza berbicara seolah janin dalam Rahim istrinya benar-benar bisa mendengarnya.
“Hem, ayah nggak usah modus ya?” Sahut Via seraya menangkupkan kedua telapak tangannya mengangkat wajah Mirza untuk menghadapnya. “Mas pasti mau modusin aku kan?” Tuduh Via dengan senyuman.
“Kok modus sih? Nggak Sayang, beneran kok.” Mirza bersungguh-sungguh. “Tapi kalo kamu lagi kepingin, ya ayok! Hehe….” Imbuh MIrza nyengir.
“Tuuh kaaan….. issh….!” Via mendaratkan cubitan maut di pinggang suaminya.
“Aww… aww….” Mirza meringis.
“Aku tuh udah hafal maunya Mas tau! Jangan coba-coba modusin aku ya, wlek…!” Via menjulurkan lidah meledek suaminya lantas menuju kamar mandi.
“Eh Sayang, kamu mau ngapain? Jangan tidur di kamar mandi dong!” Mirza mengikuti langkah Via.
“Mau pipis. Kenapa? Mau ikut?” Tanya Via sebelum menutup pintu kamar mandinya.
“Hmm, abis ini nanti Mas pipisin kamu ya?” Mirza mengerling genit.
“Dasar mesuuum….!!” Pekik Via melototkan matanya, Mirza malah terbahak-bahak melihat tingkah jengkel istrinya.
BRAAK!!
Tawa Mirza baru berhenti ketika Via membanting pintu.
“Waduh! Hati- Sayang, nanti kalo pintunya copot gimana?” Seloroh Mirza lantas ia pergi untuk menutup jendela dan menyalakan AC kemudian duduk manis menunggu sang istri di bibir ranjang.
Ceklek.
Via muncul dari kamar mandi.
“Bobo sini Sayang, mas elus-elusin sambil nyanyiin lagu nina bobo.” Mirza menepuk kasur dengan senyum lebar ke arah istrinya.
“Mas nggak usah aneh-aneh deh. Aku lagi males becandaan, badanku capek banget.” Sungut Via dengan tampang sebel.
“Atutu…. Istri Mas capek ya? Ya udah sini Mas pijitin.” Mirza menggandeng lengan istrinya. “Rebahan sini ya, Mas pijitin kaki kamu Sayang.” Mirza membaringkan tubuh Via di atas kasur.
“Tapi beneran kan cuman mijitin aja?” Via melempar tatapan curiga.
“Ya ampun Sayang, kamu nggak percayaan banget sama suamimu yang ganteng ini?” Mirza mencubit gemas hidung Via. ““Mas tau kok kamu capek banget, nggak mungkin Mas maksain jikapun Mas lagi kepingin.” Ucap Mirza dengan senyuman.
Cup!
Mirza mengecup sekilas kening istrinya lantas mulai memijat lembut kaki sang istri. Via pun nampak relax dan mulai menikmati pijatan tangan suaminya yang paling baik dan penyayang itu. perlahan matanya terpejam. Dalam hatinya ia mengucap syukur akan karunia Tuhan yang memberinya suami yang super baik dan perhatian seperti Mirza Mahendra. Suaminya memang multimedia, ehh… multi talenta maksudnya. Selain pinter masak dan terampil beberes rumah, ternyata pinter mijit juga.
“Mas?” panggil Via lirih masih dengan terpejam.
“Ya, Sayang.”
“Kamu tutup jendelanya ya?”
“Iya. Kenapa emangnya?”
“Aku suka udaranya Mas, seger. Kayak bau ampo.” Gumam Via.
“Mungkin di tempat lain udah turun hujan, Sayang.” Sahut Mirza sambil terus memijit kaki istrinya.
“Iya. Dibuka lagi dong Mas. Aku mau hirup aromanya.”
“Tapi nanti nyamuknya masuk, Sayang.”
“Mas, ini permintaan dede bayi lho.” Via membuka matanya dan menatap sang suami yang langsung jiper.
“Baiklah, istriku.” Mirza berjalan untuk membuka jendela, kemudian meraih remote AC menekan off.
“Duduk sini Mas.” Via mengelus kasur disebelahnya.
“Kan Mas lagi mijitin kamu, Sayang?”
“Pijitnya udahan, kakiku udah nggak pegel lagi kok Mas.”
“Beneran?”
“Iya. Sekarang aku pingin melukin kamu.” Rajuk Via manja.
Mirza pun duduk di samping istrinya bersandar pada headboard kasurnya yang empuk. “Apa ini juga permintaan dede bayi, hm?” Mirza mengusap lembut kepala istrinya yang sudah tiduran di pahanya.
“Permintaan emaknya kalo ini.” Via tersenyum seraya membelitkan tangannya pada pinggang sang suami. “Aku mau tidur sambil melukin kamu Mas. Kamu jangan pergi ya, kayak gini aja sampe pagi.”
“Hm, bisa-bisa encok dong Sayang suamimu ini tiduran sambil duduk kayak gini sampe pagi?”
“Ish, Mas nih nggak ada romantis-romantisnya jadi suami. Masa mau peluk aja nggak boleh?”
“Eh, bukan gitu Sayang. Iya deh …. Boleh, terserah kamu aja Sayang. Mau peluk sambil tiduran sampe taun depan juga boleh kok. Mas rela kok kalo cuman encok mah.” Mirza segera menenangkan istrinya yang sejak pulang dari Bogor ini kayaknya baperan banget.
“Gitu dong.” Via membenahi posisinya.
Mirza kembali membelai rambut istrinya yang sehalus sutra.
“Mas, kayaknya mulai besok kamu jangan pake parfum deh.” Ucap Via tiba-tiba.
“Kenapa emangnya Sayang?” Mirza heran.
“Aku nggak suka kamu bau wangi nanti kecium sama perempuan lain jadi naksir sama kamu lagi.” Jawab Via sungguh di luar dugaan.
“Wah, istri Mas sekarang cemburuan ya?” Goda Mirza.
__ADS_1
“Nggak usah banyak protes ya! pokoknya mulai besok jangan peke parfum!”
“Iya Sayang, apapun yang kamu minta Mas turutin.”
“Bagus.” Via tersenyum senang seraya mendusel-duselkan wajahnya pada perut suaminya yang kaya roti jabrik. (haahaa, roti sobek kan uda biasa ya?)😂😂
Mirza gemas dengan kelakuan istrinya yang ntah kenapa selain baperan juga kok jadi manja gitu ya?
“Sayang, ada baiknya kamu terima saran Bu Elin tadi siang.” Tukas Mirza yang teringat saran Bu Elin pada istrinya siang tadi saat dirinya menjemput Via di kantornya ketika baru tiba dari Bogor. “Besok kamu nggak usah masuk kerja dulu, Mas khawatir kamu kecapekan nanti.”
“Aku baik-bak aja kok, Mas.” Tolak Via. “Bu Elin itu terlalu baik jadi pimpinan, masa cuman gitu aja aku suruh nggak masuk kerja?”
“Itu berarti dia Bos yang perhatian. Mendingan kamu nurut, besok Mas manja-manjain kamu seharian deh biar kamu puas istirahat di rumah. Nanti kamu boleh minta apa aja, pasti Mas turutin.”
“Nggak mau, aku akan tetep masuk kerja Mas.” Via kekeh.
“Ayolah Sayang. Mas khawatir sama kamu. Lagian selama kehamilan ini, kamu belum pernah minta apa-apa kan? Nggak kayak waktu hamil yang pertama, Mas ingin kamu minta makan apa gitu. Nanti Mas masakin atau Mas bisa beliin.” Bujuk Mirza.
“Nggak Mas, aku emang lagi nggak mau apa-apa.”
“Emang kamu nggak ngidam gitu?” Mirza agak aneh campur penasaran.
“Ya nggak tau, aku biasa aja kok.”
“Padahal Mas berharap kamu minta yang unik-unik kayak waktu hamil pertama itu.” Mirza
Sedikit kecewa.
“Permintaanku cuman besok pingin masuk kerja.” Via tetap ngotot.
“Hem, terserah kamu aja deh sayang. Kamu yang lebih ngerti dengan kondisi kamu sendiri.” Mirza akhirnya mengalah.
“Ya udah, makanya nggak usah lebay!” Cebik Via.
Heh… perasaan dari tadi ngomong salah terus ya? kayaknya kehamilin Via yang ke dua ini hormonnya lebih sensitive deh. Orang niat baik malah dibilang lebay!
“Mas, kamu ngedumel dalam hati ya?” Tanya Via mengejutkan Mirza yang emang lagi bermonolog dalam hati.
“Ah… nggak kok Sayang.”
Lho, kok dia bisa tau ya?
“Jangan bohong Mas.” Via memiringkan kepalanya menatap manik mata sang suami. “Kamu pasti ngomongin aku kan? Ngatain aku sensitive, baperan…”
“Nggak Sayang, nggak….” Mirza berusaha meyakinkan.
“Awas kalo ngatain aku ya, nanti bulu hidungnya tambah panjang lho!”
“Hem, bagus dong biar kayak Samson jadi sakti suamimu ini.”
“Itu bulu ketek Mas!”
“Yang penting sama-sama bulu ah!”
“Ish, kamu kok ngeyel sih Mas? Nggak boleh debat wanita hamil!”
“Ya Mas yang mulai duluan?” Via udah mau nyolot lagi.
“Iya iya… maafin Mas ya? Maafin sumimu yang ganteng ini.”
Via manyun lantas pindah posisi meraih bantal dan gulingnya tidur membelakangi Mirza.
“Sayang, katanya mau tidur melukin Mas ampe pagi?” Mirza merebahkan tubuhnya di samping Via.
“Nggak jadi. Mas resek!”
Mirza tak bicara lagi, ia raih tubuh istrinya memeluknya dari belakang. Via pun tak mengelak, menikmati pelukan hangat suaminya. Perlahan mata mereka mulai terpejam, sang dewi mimpi menayapa keduanya. Mereka tertidur untuk beberapa jam sampai Mirza merasakan sesuatu mengigit pipinya.
PLOK!
Mirza memukul pipi kanannya sendiri, rupanya seekor nyamuk baru saja menciumnya tanpa permisi.
Mirza melepaskan pelukannya perlahan memutar pandangan ke arah jendela yang terbuka lebar. Dengan menyeret langkahnya Mirza menuju jendela bermaksud menutupnya.
“Mas?” Panggil Via dengan suara serak.
“Ya Sayang.”
“Mau kemana?”
“Mau nutup jendela, sayang. Nyamuknya gigit nih bikin gatal.” MIrza menggaruk pipinya yang memerah.
“Aku laper Mas.”
“Laper?” Mirza melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam lewat beberapa menit. “Mas liat dulu ya di kulkas ada bahan makanan apa.”
“Aku mau makan tumis kangkung pake kecambah, pake cabe yang banyak biar pedes. Kayaknya enak banget deh.”
“Tumis kangkung?” Mirza melotot setengah tak percaya.
Via mengangguk.
“Tengah malam begini? Mana ada tukang sayur yang buka, Sayang.”
"Ya cari dong!"
"Cari dimana, Sayang? Udah nggak ada yang jual sayuran jam segini."
“Ya udah, aku tidr aja. Tapi besok pagi aku bangun harus udah ada!” Via kembali membalikkan badannya memunggungi suaminya.
“Sayang, kamu makan yang lain dulu ya kalo gitu?” Bujuk Mirza.
Via menggelang.
“Mas bikinin roti selai kacang ya?”
__ADS_1
Via menggelang lagi.
“sayang, maafin Mas …”
Via mengambil batal dan menutup telinganya pertanda tak mau mendengarkan suaminya lagi. Mirza pun hanya bisa menghela nafas panjang.
Ya ampun! Istriku ngidamnya receh banget sih, cuman minta tumis kangkung? Tapi mintanya jam segini? Ya kali ada Mbak Kunti jualan sayur jam segini. Hiyy! 😱😱😱
Mirza menatap punggung sang istri. Lantas menyetel waker, ia tak mau kesiangan dan mengecewakan istrinya
Sementara itu di tempat berbeda, nampak seorang lai-laki duduk sendirian di bawah sinar lampu yang temaram. Udara malam yang kian dingin menusuk tulang seperti tak dihiraukannya. Secangkir kopi hitam di mejanya hanya meninggalkan ampas. Ia lantas menyapu pandangan ke sekeliling dan maraup kasar wajahnya seiring desahan berat yang lolos dari bibirnya.
Kedai kopi Nostalgia sudah nampak sepi, para pengunjung sudah beranjak dari beberapa menit yang lalu. Mungkin karena udara yang dingin sehingga tempat yang biasanya masih ramai sampai tengah malam begini sudah terasa sepi.
“Mas, Mas Danar mau tidur di kedai atau ….”
“Aku tidur di sini. Kalo kamu mau pulang, pulang aja.” Potng Danar pada Ari yang menghampirinya.
Ari tak langsung pergi, ia melihat raut berbeda pada bosnya yang sudah seperti kakaknya sendiri itu.
“Ngapain kamu masih disini?” Danar pasang tapang jutek.
“Emh, ya udah aku bantu yang lain beras-beras dulu abis itu aku pulang Mas.” Ucap Ari lantas meninggalkan Danar bergabung dengan karyawan kedai lainnya yang lagi beberes. Ari merasa heran dengan bosnya itu, benak Ari kini dipenuhi pertanyaan.
Mas Danar kayaknya lagi ada masalah deh. Biasanya kan dia emang gitu, selalu tidur di kedai kalo lagi ada masalah. Udah lama banget aku nggak liat tampangnya bermuram durja seperti itu. biasanya dia nggak pernah sesemrawut itu. aku yakin kalo bukan masalah kerjaan, pasti masalah cinta yang lagi dialami Mas Danar. Apa Mas danar lagi patah hati lagi ya, kayak dulu itu? pikirannya kayaknya kacau begitu. Tapi patah hati sama siapa?
“Heh, kalo kerja jangan sambil ngelamun!” Danar tau-tau udah di belakan Ari yang sedang membersihkan meja dengan gerakan tak beraturan sambil bengong.
“Eh! Mas danar?” Ari kaget.
“Udah, pulang sana! Kunci aja dari luar, aku ada kunci cadangan!” Danar ngeloyor menuju kamar di bagian belakang kedai yang memang diperuntukkan bagi dirinya jika bermalam di kedai.
Ari dan bebrapa temannya saling melempar pandangan seolah bertanya si Mas Danar lagi kenapa? Lantas mereka sama-sama saling emnggeleng sambil mengangkat bahu. Tanpa banyak buang waktu mereka pun akhirnya memilih pergi saja.
Ceklek ceklek
Danar mengunci pintu kamar dari dalam dan membanting tubuhnya ke atas kasur. Sekali lagi ia mendesah berat. Ia menjadikan kedua lengannya sebagai bantal, pandangannya lurus menuju langit-langit kamar.
FLASH BACK ON
“Grace?” Gumam Danar.
Tenggorokannya mendadak tercekat, kakinya terasa berat. Ia menghentikan langkah dengan tatapan sulit diartikan.
“Hai, Danar.” Sapa Grace. “Apa kabar?” Ia bangkit menghampiri.
Danar terdiam, wajahnya datar nyaris tanpa ekspresi. Grace paham apa yang kini tengah dirasakan laki-laki yang berada di hadapannya itu. ia beranikan diri berjalan mendekat.
“Danar, aku mau minta maaf.” Lirih Grace dengan menahan semua getaran yang ia rasakan dalam dadanya. Lelakinya kini terlihat begitu mapan dan makin menawan.
Danar Hadi Pramana, sosok pemuda sederhana yang sangat bersahaja memang telah mencuri hatinya sejak lama. Kepribadiannya yang baik dan tulus membuat Grace sangat kagum,
Grace menyadari dirinya jatuh cinta pada pemuda tampan itu ketika usianya menginjak remaja. Saat itu ia baru saja pindah dari Australi bersama kedua orang tuanya. Ayah Grace adalah kakak kandung dari Bu Elin, sehingga tak heran jika mereka cepat sekali akrab karena sering bertemu di rumah Bu elin, ditambah lagi mereka sekolah di sekolah yang sama dan kuliah pun di kampus yang sama. Gayung bersambut, ternyata Danar pun mempunyai perasaan yang sama dengannya. Danar baru berani menyatakan cintanya ketika mereka menginjak semester akhir. Mereka pun semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan kuliah karena sama-sama punya impian ingin menikah setelah lulus nanti.
“Danar, apa kamu masih belum memaafkanku?” Ucap Grace kembali karena melihat Danar masih terdiam tanpa kata. “Danar aku ….”
“Aku sudah memaafkanmu.” Danar mengangkat tangannya memberi isyarat pada Grace untuk tak semakin mendekat.
Grace pun berhenti, jaraknya hanya beberapa langkah lagi. Senyum simpul tebit di wajahnya. “Makasih. Aku tau aku sangat bersalah padamu.”
“Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku sudah melupakannya.” Ucap Danar masih dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.
Mereka berdiaman. Grace sibuk menata hatinya, ia berusaha agar tak terlihat gugup walau ia begitu menggebu ingin seklai memeluk laki-laki yang sangat dirindukannya itu. ia juga berpikir keras bagamana menyampaikan maksud hatinya pada orang yang sudah sangat dikecewakannya itu.
sementara Danar merutuki siasat ibunya yang terang-terangan membohonginya. Ia sama sekali tak menyangka akan dipertemukan kembali dengan orang yang telah merusak semua impian dan harapan terbesar dalam hidupnya itu.
“Kamu nggak tanya gimana kabarku? Bukankah kita lama nggak ketemu?” Akhirnya Grace berusaha mencairkan kebekuan diantara mereka.
“Kalau kabarmu nggak baik, nggak mungkin kamu sampai sini kan?” Danar menarik sebelah sudut bibirnya.
Ah! Senyuman itu, senyuman sinis tapi manis. Sejak dulu Danar memang begitu, ia terkesan cuek. Grace sungguh rindu dengan senyuman cuek macam itu.
“Danar, aku bahagia bisa ketemu kamu lagi.” Grace meluapkan perasaan yang sedari tadi ditahannya. “Kamu terlihat semakin mapan dan …. Handsome.” Grace agak tertunduk di akhir kalimatnya.
“Aku sedang tak ingin dipuji.” Sahut Danar acuh. “kalau kamu datang kesini hanya untuk bas basi sebaiknya datang lagi saja esok hari karena aku lagi capek mau istirahat.” Danar memutar langkahnya.
“Danar, tunggu!” Grace mengejarnya. Ia berdiri tepat di depan Danar. Netra meraka saling menatap dalam dan sangat dekat. “Apa benar kamu sudah memaafkan aku?” Lirih Grace seraya meraih tangan Danar, pandangannya mencari kesungguhan dalam tatapan laki-laki pujaan hatinya yang sekarang berada di depannya.
Danar terpaku, ia tenggelam pada kenangan masa lalunya. Gracia Amarta, gadis cantik yang supel dan cerdas. Kepribadiannya yang periang dan ramah membuatnya selalu terbawa jadi ikut ceria walau sebenarnya Danar bukan orang yang terlalu ekspresif. Grace sosok gadis yang nyaris sempurna dimata Danar, nyaris tanpa cela. Tapi itu dulu sebelum ia torehkan luka yang sangat dalam pada hatinya.
“Aku tadi udah bilang kan? Aku sudah meaafkanmu.” Danar melepaskan tangannya dari genggaman Grace dan membuang pandangan ke sembarang arah. “Apa tadi kamu nggak denger?”
“Kalau begitu aku punya satu permintaan.” Ucap Grace.
“Apa?”
“Lihat sini dulu.” Grace menggoyang lengan Danar.
Mau tak mau Danar melihat kembali pada wajah cantik yang sempat menjadi kekasih hatinya itu. “Apa permintaanmu?”
“Apa bisa kita memulai lagi semuanya dari awal?”
FLASH BACK OFF
❤️❤️❤️❤️❤️
Yang setuju Danar balikan sama Grace mana suaranya….?😂😂😂
Hehe….😁😁
Sabar ya readers semuanya, alurnya memang lambat. Tapi tenang aja, othor pasti selesein ceritanya kok.
Terima kasih yang udah setia support othor. Mohon maaf jika banyak kekurangan ya.🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa kasih jempol dan tinggalkan komentar selalu 😍😍😍😍
Tetap jaga kesehatan. I love you all🤗🤗🤗😘😘😘