TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
127 #MELAMAR KERJA


__ADS_3

Bujel barusan aja diomelin Bu Een ditelpon. Niat baiknya mau menyampaikan informasi perihal kejadian yang dilihatnya kemarin di rumah Via malah membuatnya kena semrot habis-habisan.


“Dasar mata-mata nggak guna kamu! Nyesel saya pake ngasih duit segala kalo info yang kamu dapetin cuman kayak ginian!” Omel Bu Een bikin kuping Bujel pedes mendengarnya.


“Lho kan katanya aku suruh ngasih tau apa pun yang aku liat di rumah Jeng Via? Kok malah diomelin sih?” Protes Bujel nggak terima.


“Yang dateng ke rumah si Via itu palingan ibunya yang norak itu, ngapain juga pake kamu kasih tau ke saya?” Kesal Bu Een. “Maksud saya kalo ada hal yang mencurigakan! Kayak misalnya dia jalan sama laki-laki lain, atau ada tamu orang yang sekiranya mencurigakan. Kamu ngerti nggak sih? Dasar otak remahan rengginang, nggak cerdas banget kamu jadi orang!”


Bujel manggut-manggut. “Oke, oke …”


“Jangan cuma oke oke aja! Awas kalo nggak penting lagi, saya datengin rumah kamu buat minta balikin duit saya 10x lipat!” Ancam Bu Een lantas segera menutup sambungannya sepihak.


Udin yang sedari tadi mencuri dengar dari balik etalase menaruh curiga pada majikannya itu.


Pasti Ibu punya maksud buruk nih sama Mbak Via. Batin Udin.


“Udin …!” Panggil Bu Een nyaring yang langsung membuat Udin menjingkat kaget.


“Iya Bu, hadir …!” Jawab Udin persis kayak anak SD lagi diabsen gurunya.


“Ini orang-orang pada kemana sih? Kok sepi banget toko saya? Biasanya kalo pagi-pagi pada beli beras, telor, ini nggak ada pembeli sepotong pun!” Bu Een bangkit berdiri di samping Udin.


“Mungkin lagi pada bokek Bu, jadi pada puasa semua deh.” Sahut Udin sekenanya lantas melanjutkan aktivitasnya menata barang-barang.


Bu Een berjalan ke depan, melongok ke jalanan yang nampak lengang di pagi itu. Ia mendengus kesal lantas membuka showcase dan mengambil sebotol minuman dingin karena tiba-tiba merasa panas padahal matahari belum juga seperempat naik.


“Bu, beli rokok!” Ujar satu suara mengagetkan Bu Een.


“Uhuuk … uhuuk …” Bu Een yang lagi menenggak minumannya sampe tersedak karena kaget. “Dasar Saprol!” Omel Bu Een pada si pembeli yang tak lain adalah Saprol. “Kamu nggak liat apa kalo saya lagi minum? Ngagetin aja!”


“Yah, kalo usia udah uzur emang gitu Bu, gampang kagetan!” Sahut Saprol cuek.


Bu Een mendelik sebal. “Mau beli rokok apa? Awas aja kalo belinya ketengan!”


Saprol mencibir. “Sorry ya, saya nggak level!”


“Huh, sombong! Pasti mau pamer lagi kan kamu, mentang-mentang ngojeknya lagi laris?”


Saprol merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang ratusan ribu. “Abis dapet rejeki nomplok.” Saprol nyengir. “Nih, minta rokok jarum pentul yang kalengan!”


Bukannya langsung mengambilkan rokok yang diminta Saprol, Bu Een malah menatap Saprol curiga. “Habis maling ayam kamu ya? Kok tumben amat beli rokoknya kalengan?”


“Eh, jangan fitnah ya bu!” Saprol tersinggung. “Dibilang baru dapet rejeki nomplok malah nuduh saya maling ayam, dasar Ibu ini nggak ada bagus-bagusnya pikirannya sama orang lain!” Omel Saprol jengkel. “Sini balikin duitnya kalo nggak mau saya beli!”


“Din! Ambilin rokok jarum pentul satu kaleng!” Perintah Bu Een pada Udin tak menghiraukan Saprol yang jengkel.


“Ini Mas, rokoknya.” Udin memberikan rokok si Saprol.


“Heh, Saprol! Kalo uang kamu dibelikan rokok semua anak istri kamu makan apa?” Celetuk Bu Een lagi seraya ngasih uang kembalian.


“Ya urusan saya dong Bu, mereka mau makan apa.” Sahut Saprol ngeloyor cuek.


Bu Een memandang kesal kepergian Saprol.


“Baru jadi tukang ojek aja blagu!” Gerutu Bu Een seraya menghempaskan bokongnya di kursi singgasananya.


Bu Een baru saja hendak meraih kipas lipat motif bunga sakura miliknya ketika melihat dua orang perempuan yang sepertinya dia kenal melintas di depan tokonya bersama beberapa orang yang lain sambil mmebawa dua kantong plastik besar yang kayaknya isinya cukup berat.


Karena penasaran, Bu een langsung beranjak ke depan dan melihat pada mereka yang belum terlalu jauh dari tokonya.


“Hoy …2R!! Berhenti kalian …!” Teriak Bu Een nyaring pada dua orang yang sangat dikenalnya meskipun hanya nampak dari belakang.


Yang dipanggil 2R tak langsung menoleh, mereka hanya menghentikan langkahnya sambil saling berbisik, sementara para ibu yang lain berjalan mendahului mereka.


“Mampus kita!”


“Kamu sih, dibilang jangan lewat sini!”


“Heh, ngapain kalian bisik-bisik?” Bu Een menghampiri mereka dengan langkah cepat.


2R alias Rokayah dan Rodiyah pun berbalik dengan senyum kecut di wajah mereka.


“Oh, bagus ya kalian 2R! Kalo ngutang sama saya, tapi giliran punya duit belanjanya sama orang lain!” Bu Een berkacak pinggang memandang mereka dengan tatapan seolah siap menguliti mereka hingga ke tulang sumsum.


“Emh, Bu…bukan begitu Bu …” Sahut Rodiyah taku-takut.


“Bukan begitu gimana? Itu nyatanya kalian bawa belanjaan banyak banget begitu?” Bu Een melihat pada dua plastik besar yang dibawa mereka.


“Ini…, Ini ….”


“In ini apa? Ini ibu Budi?” Semprot Bu Een jengkel. “Udah lebih dari 7 purnama utang kalian ngak bayar-bayar! Masih bagus nggak saya kasih bunga! Cepet sekarang bayar!”


“Iya, Bu. Nanti saya bayar …” Sahut Rokayah.

__ADS_1


“Nggak bisa nanti-nanti, pokonya sekarang! Kalo nggak saya sita belajaan kalian!” Ancam Bu Een.


“Jangan Bu. Ini kan pemberian dari Haji Barkah!” Jawab Rokayah.


Mendengar nama Haji Barkah kontan saja Bu Een kaget. “Dari Haji Barkah? Maksudnya?”


“Iya, Ini sembako gratsis pemberian Haji Barkah. Kami dapat jatah 3 kilo beras, 1 kilo telor, 2 keleng sarden, 1 kilo gula, 1 liter minyak goreng, sama uang seratus ribu.” Ungkap Rokayah jujur.


“Ap-apa? Sebanyak itu?” Bu Een sampe tergagap menanggapinya. “Kenapa Pak Haji bagi-bagi sembako segala?”


“Lho, emang Bu Een nggak tau?” Heran Rokayah. “Ini kan gantinya perayaan resepsi pernikahannya Mas Jaka sama Mbak Denaya.”


“Maksudnya?” Bu Een semakin tak mengerti.


“Katanya sih rencana resepsi pernikahannya nggak jadi Bu. Lantaran Mas Jaka sama Mbak Dena lebih milih buat ngamalin uang yang harusnya buat biaya resepsi itu buat dibelin sembako dan dibagikan ke warga yang kurang mampu macam kita-kita ini.” Papar Rokayah.


“Iya, betul itu, Bu.” Timpal Rodiyah. “Dari abis subuh tadi lho kami ngantri di balai desa. Semua warga yang kurang mampu sekecamatan kebagian semua kok. Baik bener kan Mas Jaka sama Mbak Denaya itu?” Puji Rodiyah semangat.


Bu Een cuman bisa melongo mendengarnya. Antara shock dan heran, itulah yang Bu Een rasakan saat ini. Dia sampe lupa akan emosinya barusan.


Rokayah menyenggol lengan Rodiyah dengan sikunya seraya melirik Bu Een yang masih melongo.


“Ya udah deh, Bu. Kalo gitu kita permisi dulu ya.” Pamit Rodiyah. Lantas 2R segera ngibrit sebelum Bu Een sadar dari kemelongoannya.


♥️♥️♥️♥️♥️


Gedung perkantoran berlantai empat di jalan Ahmad Yani 15C nampak mulai ramai. Via melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Pukul 08.05.


“Belum telat kok.” Via melangkah memasuki loby dan mengambil duduk di dekat pot besar di ruangan itu. “Khusni kayaknya belum nyampe sini deh.” Via mengeluarkan ponselnya bermaksud menghubungi Khusni.


“Hai, Vi.” Sapa Khusni menghampiri.


Via menoleh. “Baru aja mau aku telpon.”


“Emang kamu udah lama?”


“Nggak, baru aja nyampe kok.”


“Oh.” Khusni manggut-manggut. “Sebentar ya, aku tanya dulu bosnya udah nyampe apa belum?” Khusni menuju ke meja receptionist.


Via menunggu sambil mengamati ruangan. PT Adhiland Development, ia membaca tulisan besar di dinding belakang meja receptionist. Konyol sekali, dia tadi nggak sempet baca nama perusahan yang terpampang besar di depan gedung, ia baru mengetahuinya sekarang.


“Ayok, Vi!” Ajak Khusni yang sudah di samping Via. “Kita langsung ketemu sama bosnya.”


“Eh, bukannya kalo mau ngelamar kerja ke bagian HRD ya?” Tanya Via ragu.


Huh! Ini nggak dia sukai dari Khusni. Selalu tengil dan seenaknya sendiri kalo ngomong. Namun begitu Via mengikuti juga langkah Khusni yang menuju lift.


“Kamu tenang aja, Bosnya baik kok. Beliau pernah jadi mitra bisnis perusahaan tempat saya bekerja di Bandung.” Papar Khusni ketika mereka sudah di dalam lift.


“Kamu sendiri ngapain hari kerja malah balik ke sini? Emang kamu nggak masuk kerja?” Via malahan nanyain soal kerjaan Khusni.


“Semua ini kan demi kamu.” KHusni nyengir.


Huh! Tengil lagi. Via melengos sebal.


Beruntung ada orang lain selain mereka berdua di dalam lift, kalo nggak udah Via kaplok tuh mukanya si Khusni yang nyebelin!


Heran, kanapa juga si Yana malah mau nikah sama orang tengil macam dia?


Ting!


Pintu lift terbuka menghentikan monolog Via dalam hati.


Mereka sampai di lantai lantai 3 dan langsung menuju ruangan sang bos berada.


“Selamat Pagi, Bapak Khusni Kurniawan ya?” Sapa seorang wanita yang sepertinya Via kira sekertaris si bos menyambut kedatangan Khusni dan Via.


“Iya, Mbak. Saya udah buat janji ya kemarin.”


“Oh, iya, Ibu udah menunggu di dalam.”


Jadi bosnya seorang perempuan? Batin Via, ia sedikit merasa lega juga.


Tok tok tok…


Sekertaris mengetuk pintu ruangan.


“Masuk.” Sahut suara dari dalam.


Ceklek.


Mbak sekertaris membuka pintu lalu mempersilakan Khusni dan Via masuk.

__ADS_1


JENGJENG!!


Via terkejut begitu melihat siapa ibu bos yang dimaksud, begitu juga dengan ibu bos.


“Via…?” Ibu bos malah menyapa lebih dulu karena begitu surprise mengetahui siapa tamunya pagi itu.


“Bu Elin?” Ucap Via tak percaya.


“Kamu udah kenal Vi sama Bu Herlina?” Tanya Khusni heran.


Via mengangguk sambil tersenyum canggung. Bu Elin langsung mendekat.


“Wah, saya nggak nyangka kalo orang yang dimaksud Khusni itu kamu, Via. Apa kabar? Lama ya kita nggak ketemu?” Bu Elin menyalami Via lebih dulu membuat Via semakin gugup.


“Baik, Bu.” Sahut Via.


“Ayok kita duduk di sana aja.” Bu Elin mengajak mereka duduk di sofa ruangan. “Jadi gimana ceritanya, kamu kok bisa kenal sama Khusni?” Bu Elin sangat antusias sekali, pembicaraannya nggak formil sama sekali.


“Via sahabat tunangan saya, Bu.” Sahut Khusni.


“Oh, begitu?” Bu Elin bersemangat “Kanapa kamu tiba-tiba mau kerja? Coba mana berkas kamu, boleh saya lihat?”


Via memberikan mapnya dengan agak ragu.


Ya ampun! Mimpi apa aku dari kemarin kok dapat kejutan yang bikin jantungan kayak gini?


“Jadi kamu sarjana Ekonomi?” Tanya Bu Elin dengan senyuman kemudian melihat kembali lembar demi lembar berkas Via. “Hemm, kamu smart ya. Nilai IPK kamu luar biasa.” Puji Bu Elin.


“Emh, tapi … saya nggak yakin bisa kerja di perusahaan ibu. Saya kan bukan fresh graduate.” Ungkap Via lirih. “Udah kelamaan nganggur, saya mungkin lupa semua sama ilmunya…” Via nyengir demi mengatasi kegugupannya.


Bu Elin menutup map ditangannya dan melihat Via sejurus. “Sebenarnya kecerdasan saja tidak cukup untuk menjadi seorang karyawan di perusahaan kami. Karena bagi kami, selain smart, kriteria orang tersebut haruslah tekun dan bertanggung jawab. Selain itu, dia juga harus mempunya attitude yang baik, dan tentu saja loyal terhadap perusahaan.” Papar Bu Elin.


Via menyimak dengan baik.


Duh! Kok kayaknya ribet banget ya? Aku yakin aku nggak masuk kriteria deh. Aku kayaknya terlalu berat dengan semua itu, pasti itu semua bakalan menyita waktuku. Haduh! Salah langkah aku, ini. Dasar oon, harusnya aku nggak usah kerja kantoran! Tak henti-hentinya via merutuki kebodohannya dalam hati.


“Kamu kok kayaknya tegang banget sih?” Seloroh Bu Elin membuat Via agak kaget.


“Eeh, nggak Bu. Saya cuma …”


“Santai aja, Vi. Belum apa-apa udah tegang gitu.” Ledek Khusni.


“Karena saya lagi butuh SDM baru buat anak perusahaan yang akan kami kembangkan, maka saya terima kamu.” Ucap Bu Elin seraya meletakkan map Via di atas meja.


Kontan saja Via melongo mendengarnya.


“Apa, Bu? Saya …, saya diterima?” Via nggak yakin.


“Iya.” Bu Elin mengangguk mantap. “Kamu senang kan?”


“Tapi apa nggak ada interview atau ...”


“Anggap aja kamu sekarang agi saya interview .” Potong Bu Elin santai.


“Wah, emang benar-benar tiada duanya kan langsung diinterview sama bos perusahaannya?” Khusni tertawa lebar.


“Untuk jobdes kamu nanti saya akan diskusikan dengan suami saya. Karena kamu dan beberapa karyawan baru bukan ditempatkan di sini atau pun di perusahan suami saya.” Tutur Bu Elin.


Via hanya mengangguk pelan, dia masih belum bisa menerima kenyataan atas kabar baik namun sungguh sangat ingin ia hindari ini.


“Bagimana kalau saya kerja di tempat kursus ibu saja?” Permintaan konyol Via itu meluncur begitu saja.


“Kamu beanda? Memangnya kau bisa ngajar tata boga?” Celetuk Khusni.


Bu Elin malah terkekeh. “Saya mengajar hanya untuk sampingan. Karena awal mula kami memulai usaha dari bisnis catering beberapa puluh tahun silam di Jakarta. Selain mengajar, saya juga melatih yoga, ngurus bisnis catering dan juga hotel. Tapi sekarang itu semua udah di handle oleh masing-masing orang yang Insya Allah kompeten, karena suami saya melarang saya terlalu sibuk akhir-akhir ini.” Bu Elin bercerita. “Riri sangat membantu saya lho, Vi. Dia sangat bisa diandalkan untuk menghandle catering dan toko kue yang kemungkinan sebentar lagi juga akan buka cabang. Luar biasa memang adik kamu itu.” Lanjut Bu Elin memuji Riri. “Semoga kamu juga bisa membantu saya ya.”


Via malah semakin ragu akan kemampuannya sendiri.


“Suami Bu Herlina ini pemimpin perusahaan kontraktor PT Adhi Karya yang beberapa waktu lalu pernah bekerja sama dengan perusahaan bos saya di bandung, Vi. Dan sekarang Bu Herlina dan Pak Rian suaminya lagi membangun resort di kawasan pantai Tirta Maya itu lho.” Terang Khusni pada Via.


“Betul, makanya kami memerlukan SDM baru untuk membantu kami. Perusahaan kami ini Alhamdulillah sedang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Suami saya memegang perusahaan kontraktor dan saya di property, kami berkeinginan untuk ikut memajukan obyek wisata andalan di daerah, makanya membangun resort-resort itu selain meningkatkan pelayanan dan fasilitas di hotel milik kami tentunya. Karena menurut kami, para wisatawan lokal maupun dari luar daerah akan semakin tertarik untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di daerah ini jika kita punya fasiltas yang mendukung seperti hotel dan resort.”


Via dan Khusni manggut-manggut seperti sedang mendengarkan penjelasan dari seorang dosen. Bu Elin memang wanita yang tak hanya cantik, tapi juga cerdas dan pandai membaca peluang bisnis. Via betul-betul kagum pada sosok Bu Elin yang tak lain adalah ibu angkatnya Danar itu.


♥️♥️♥️♥️♥️


Nah…! Via langsung keterima kerja tuh? Enak banget ya, Kak…☺️☺️☺️


Kira-kira Via bakal nerusin nggak ya keputusannya untuk berkarir, atau malah lebih memilih untuk mundur teratur aja?🤔🤔🤔


Eehh, ada yang kangen Om Jaka sama Denaya nggak yaaa.... 😍😍😍


Ikuti terus kelanjutannya ya, Akak…🤩🤩

__ADS_1


Terima kasih pembaca setia karya othor awut-awutan ini, semoga jangan bosan untuk terus support ya…🙏🙏🙏❤️❤️❤️


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2