TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
93 #PENGUNTIT DAN MAMANG TUKANG ONDE-ONDE


__ADS_3

Tap tap tap


Langkah kaki Ramzi tergesa menuju ruang perawatan sofi. Pikirannya dipenuhi dengan Sofi sejak bangun tidur sampai siang tadi ketika menghadiri pertemuan penting dengan beberapa rekan bisnisnya. Ramzi tak mengindahkan perkataan ayahnya untuk menahan diri tak terlalu menampakkan kekhawatirannya di depan sofi.


Ceklek


Pintu ruang perawatan dibuka Ramzi.


Pelayan wanita yang menjaga Sofi sedari malam tadi menoleh dan lekas berdiri ketika mengetahui Tuannya datang.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya Ramzi sambil matanya tertuju pada wajah Sofi yang pulas terbaring di ranjangnya.


“Demamnya sudah turun, Tuan. Tapi Nyonya masih belum bangun, sepertinya Nyonya kelelahan setelah mengeluarkan banyak darah. Nyonya terus mengigau tidak jelas dari semalam.” Tutur sang pelayan pada Ramzi.


Ramzi mendekati ranjang, semakin lekat ditatapnya wajah Sofi yang pucat.


“Kau pulanglah, aku sudah meminta seorang pelayan untuk menggantikan mu.” Ucap Ramzi tanpa menoleh.


“Baik, Tuan.” Pelayan itu hanya mengangguk patuh.


Pelayan pun pergi, Ramzi duduk di kursi. Disentuhnya lembut punggung tangan Sofi yang terasa dingin.


Sofi menggerakkan kepalanya perlahan sambil mulutnya menggumam tak jelas berulang kali.


“Sofi …” Ramzi menggenggam tangan Sofi.


Sofi tak menyahut, matanya masih terpejam dan mulutnya menggumam seperti mengigau. Ramzi merasa khawatir  dan segera memijit tombol darurat. Tak lama seorang perawat masuk untuk melihat keadaan Sofi.


“Suster, dia terus mengigau. Apa yang terjadi padanya?” Tanya Ramzi penuh kekhawatiran.


“Hal ini terjadi karena pasien baru saja kehilangan janinnya, Pak. Ia sedikit mengalami gangguan pada fungsi otaknya karena belum bisa menerima hal yang baru aja dialaminya.” Terang suster.


“Maksudnya dia terkena depresi?” Ramzi kaget.


“Tidak separah itu, Pak. Gangguan ini disebut delium, dan akan segera hilang dalam waktu beberapa hari seiring pulihnya pasien.”


Ramzi mencerna kata-kata suster di depannya.


“Apa dokter Wirawan ada?” Tanya Ramzi kemudian.


“Ada di ruangannya.”


Tanpa berkata apa-apa lagi Ramzi langsung keluar dan menuju ruangan dokter Wirawan yang letaknya agak jauh dari kamar Sofi.  Ia harus segera meminta dokter itu menjelaskan apa yang terjadi pada Sofi karena ia tak ingin sesuatu yang serius terjadi pada istrinya.


Ramzi berbelok melewati ruang praktek poli ortopedi, dan tanpa ia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan pandangan sangat serius bahkan mengikutinya sampai masuk ke dalam ruangan dokter Wirawan.


Dokter Wirawan sedikit kaget mendapat kunjungan dari Ramzi. Beruntung waktu prakteknya baru saja usai karena masuk jam makan siang.


“Maaf saya mengganggu Anda, dokter.” Ramzi langsung duduk tanpa menunggu disuruh. “Saya ingin tahu apa yang terjadi pada istri saya? Kenapa dia terus mengigau seperti orang depresi?” Tanya Ramzi langsung pada permasalahan.


Dokter kandungan setengah baya itu melepas kacamatanya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya yang empuk.


“Tuan Ram, Anda tak perlu khawatir berlebihan. Istri Anda akan baik-baik saja dan akan segera pulih dalam beberapa hari ke depan.” Tutur dokter dengan nada santai.


“Tapi kenapa dia seperti itu?” Kejar Ramzi tak puas.


Dokter menghela nafas sebelum memulai kalimatnya.


“Sedari awal kan saya sudah bilang, bahwa tindakan ini akan sedikit beresiko karena kandungan istri Anda sudah diatas 12 minggu, ditambah lagi ia mengidap syndrome.”


“Tapi Anda sendiri yang mengatakannya bisa menangani semua itu.” Potong Ramzi cepat.


Dokter mengangguk pelan. “Oleh sebab itu Anda tak perlu khawatir, Tuan. Kondisi yang dialami istri Anda disebut delium. Kondisi pasien seperti itu mungkin saja terjadi akibat penggunaan obat-obatan dan penyakit bawaan yang dideritanya. Dan istri Anda mempunyai keduanya.” Jelas dokter Wirawan.


“Tapi Anda juga mengatakan kalau obat yang dikonsumsi istri saya aman.” Ramzi masih tak mau terima begitu saja dengan penjelasan dokter karena rasa kekhawatirannya yang berlebihan.


“Betul, Tuan. Obat itu bekerja dengan sangat lambat bukan? Jika saya menggunakan jenis obat-obatan yang bersifat keras, pasti istri Anda sudah mengalami pendarahan pada hari pertama setelah mengkonsumsi obat itu.”


Ramzi nampak berpikir. Meski ia sendiri yang menginginkan hilangnya janin Sofi, namun ia sungguh tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang serius terjadi pada Sofi.


“Beberapa saat setelah kami mengambil tindakan semalam, istri Anda sempat tersadar jika baru saja kehilangan janinnya, dan itu membuatnya histeris hingga kami terpaksa harus memberikannya suntikan penenang.” Ungkap dokter membuat Ramzi memperhatikannya lagi.


“Apa dia stress?”


“Hal itu wajar, Tuan. Terus damping dia dan berikan motivasi, perlahan kondisinya akan berangsur pulih.”


Ramzi keluar dari ruangan dokter setelah mendapatkan semua penjelasan tentang kondisi Sofi. Kini dalam pikirannya ia harus bisa membuat Sofi seperti semula lagi atau ia akan menyesal.


Ramzi melangkah menuju ruang perawatan Sofi dengan sepasang mata yang sudah menunggunya sedari tadi di luar dan tentu saja kembali mengikuti Ramzi.


Ramzi tiba di depan ruang perawatan hampir bersamaan dengan sorang pelayan wanita yang datang untuk menggantikan pelayan wanita yang sebelumnya.


“Tuan.” Sapa pelayan wanita itu.


“Masuklah, temani dia dan beritahu saya apapun yang terjadi padanya.” Ucap Ramzi pada pelayan itu dan ia sendiri urung masuk.


Ramzi memutar langkahnya membuat pemilik sepasang mata yang mengintainya buru-buru menyembunyikan dirinya di balik pilar rumah sakit di dekatnya.


Ramzi menuju parkiran, dan pelayan itu masuk ke dalam ruang perawatan. Setalah situasi aman, si pengintai tadi pun menuju kamar Sofi.

__ADS_1


Ceklek


 ____________


“Za, abis ini kita kemana?” Tanya Om Jaka begitu mereka berdua keluar dari dealer motor setelah selesai mendapatkan satu unit sepeda motor yang Mirza inginkan.


“Cari onde-onde mini bulat sempurna yang jumlah wijennya ganjil.” Ucap Mirza tanpa menoleh dan terus berjalan menuju mobil Om Jaka.


“Apa?” Om Jaka kaget campur heran.


“Kaget kan, Om?” Tanya Mirza menghentikan langkahnya. “Itu permintaan ibu hamil, dan aku nggak bisa pulang sebelum dapet pesanan Via itu.”


Om Jaka nyengir.


“Gue sampe terharu mendengar permintaan istri lu itu.” Kekeh Om Jaka. "Niat bener ya dia ngerjain elu?”


“Nggak usah ngeledek deh, Om.” Mirza jalan lagi dan langsung membuka pintu mobil begitu sampai di parkiran.


“Sini, gue aja yang bawa mobilnya.” Om Jaka mengambil kunci mobil dari tangan Mirza. “Biar elu bisa bebas tengah-tengok cari si tukang onde-onde mini yang … yang apa tadi …?” Tanya Om Jaka mengingat kalimat Mirza sebelumnya.


“Tau ah!” Ketus Mirza sambil berjalan memutar menuju sisi mobil ke jok penumpang.


Mobil Om Jaka pun melaju pelan. Mirza nampak serius dengan ponselnya.


“Eh, kok malah mainan hp sih lu?” Semprot Om Jaka. “Ini kemana kita cari si tukang onde-ondenya?”


“Bentar. Aku lagi pesen ayam geprek pake gofood, kalo nunguin aku pasti lama, kasian Via belum makan dari pagi.” Sahut Mirza tanpa beralih dari layar ponselnya.


“Enak juga ya tinggal di kota? Coba kalo elu masih di kampung, palingan elu nyuruh si Udin buat nyariin ayam geprek, hehe….”


Mirza cuek tak menanggapi Om Jaka. Setelah selesai memesan ayam geprek, Mirza melemparkan pandangannya ke luar jendela.


‘“Om, kita ke pasar pagi. Kayaknya di sana ada tukang jual kue deh.” Ucap Mirza.


“Tapi kan ini udah siang, Za? Pasar pagi bukannya buka pagi doang ya?”


“Hadeh, itu kan cuman nama Om!” Mirza keki. “Cepetan puter balik! Kita ke pasar pagi sekarang dan Om nggak usah banyak tanya, tinggal ikutin aja apa yang aku bilang!” Perintah Mirza.


“Sabar dong, ini kan satu arah! Main nyuruh-nyuruh aja, bini elu yang ngidam kok gue yang jadi ikut repot sih?” Om jaka sebel juga karena Mirza ngomel-ngomel.


“Ye, itu kan calon cucu Om Jaka juga.”


“Wah! Iya ya, gue bakalan punya cucu keponakan? Waduh, gue udah tua dong?” Oceh Om Jaka. “Gue bakalan dipanggil Engkong dong ya, haduh… kagak keren amat.”


Om Jaka terus ngomong walau Mirza sudah memperingatkannya, sementara Mirza fokus pada jajaran toko dan pedagang yang dilewatinya.


“Berhenti, Om!” Seru Mirza ketika melewati sebuah toko kue dan seketika Om Jaka keget langsung menginjak pedal rem.


“Itu tadi ada ada toko kue, Om. Cepetan puter balik!”


“Ya elah, pan tadi gue bilang ini satu arah, Bambang!” Kesal Om Jaka. “Udah, lu aja cepetan turun sono! Gue tungguin di sini!”


Akhirnya Mirza turun dan berjalan menuju toko kue yang tadi dlihatnya. Namun tak sampai lama dia udah balik lagi.


“Ada onde-ondenya?” Tanya Om Jaka.


“Nggak ada, itu cuman jualan roti sama bolu.” Sahut Mirza dengan tampang lemes.


“Ya iya lah, Kardun! Onde-onde biasanya di tukang jualan kaki lima.”


“Udah ah, cepetan jalan lagi!” Perintah Mirza.


Setelah hampir setengah jam mereka mutar-muter dari pasar pagi sampai pasar sore kagak nemu juga tuh tukang onde-onde, Mirza baru ingat sesuatu. Dia pun langsung mengambil ponselnya.


“Halo, Ri. Kamu tau nggak dimana yang jual onde-onde?” Tanya Mirza pada Riri.


“Hah? Onde-onde, buat apaan Mas?” Riri malah balik nanya.


“Buat Mbak kamu, dia lagi ngidam pingin onde-onde.”


“Ya ampun, kenapa nggak bilang dari kemarin Mas? Tau gitu kan bisa aku bikinin?”


“Dia maunya sekarang, Ri. Udah gitu mauna yang mini, bulat sempurna dan jumlah wijennya ganjil.” Terang Mirza yang langsung membuat Riri terbahak mendengarnya.


“Aduh, demi apa kamu setia banget sih Mas nyariin itu onde-onde kayak begitu bentuknya?" Ucap Riri masih sambil terkekeh.


“Udah deh, nggak usah ngetawain. Kamu tau nggak dimana tukang jualnya? Kamu kan sering bolak balik kota, siapa tau aja pernah liat si mamang onde-onde.”


“Dimana ya … “


Riri coba mengingat-ingat di seberang, Mirza menunggu dengan sabar, sementara Om jaka terus melajukan mobilnya perlahan sambil sesekali tengok kanan kiri.


“O iya! Coba di taman dekat perempatan tugu pahlawan itu Mas!” Cetus Riri akhirnya.


“Tugu pahlawan?” Tanya Mirza tak yakin.


“Iya, yang sebelum jembatan arah mau ke kantor Bupati itu lho Mas.”


“Oh, iya … iya .. tau.” Mirza senang karena mendapatkan petunjuk dari Riri. “Makasih ya, Ri.”

__ADS_1


“Oke, sama-sama. Salam ya buat Mbak Via, Mas.”


“Siap!”


KLIK!


“Ayok Om kita kemon ke sana!” Ucap Mirza.


“Kesana kemana?” Om Jaka heran karena dari tadi nggak dengerin Mirza ngobrol, dia sibuk tengok kanan kiri ikut cari si tukang onde-onde.


“Lurus, lampu merah depan belok kanan.” Mirza memberi instruksi.


Om Jaka pun manut dan langsung tancap gas. Tak lama mereka sampai di sebuah taman kota dekat perempatan tugu pahlawan yang dimaksud Riri. Om Jaka menepikan mobilnya di bawah sebuah pohon akasia. Mereka  berdua keluar dari mobil dan langsung menyapu semua tukang jualan yang ada disana.


Di pinggiran taman kota yang rindang dan asri itu tampak berjejer gerobak beberapa penjual makanan dan minuman. Mulai dari gerobak es cendol, es dawet, es campur, es cincau campur cendol dawet, bakso, siomay batogor, cilok, mpek-mpek, dan ….. Tadaa……!! Gerobak tukang jualan onde-onde pun turut berjejer manis di sana.


“Itu dia, Om!” Seru Mirza dengan mata berlope-lope melihat sebuah gerobak bertuliskan “molen, piscok, lumpia & onde-onde.”


“Wah, iya!” Om Jaka ikut berseru senang.


 Tanpa pikir panjang mereka berdua pun segera menghampiri gerobak mamang penjualnya. Dan ternyata keberuntungan memang sedang berpihak pada Mirza, semua kue yang dijual disitu bentuknya memang mini alias kecil-kecil persis sesuai keinginan Via.


“Mang, saya nyari onde-one yang jumlah wijennya ganjil. Ada, Mang?” Ucap Mirza pada si penjualnya.


Mamang penjual yang lagi menggiling adonan molen mini itu kontan saja melongo kaget demi mendengar pertanyaan pembelinya yang aneh itu.


“Maksud Mas?” Mamangnya bertanya bingung.


Mirza lalu menjelaskan keinginan Via yang lagi ngidam, tak lupa pula ia katakan perjuangannya demi mencari onde-onde yang diinginkan Via agar si mamang kasian padanya.


“Mamang bisa hitungin jumlah wijennya kan? Saya bener-bener minta tolong, Mang. Saya bayar deh, berapa pun.” Ucap Mirza memohon.


Si mamang tersenyum lebar.


“Ngapain pake repot-repot ngitungin, Mas? Saya bikinin lagi aja ya? Saya masih ada adonannya kok.”


Sontak saja perkataan si mamang membuat Mirza makin lope-lope.


“Beneran, Mang?” Mirza senang.


“Iya.” Mamang mengeluarkan wadah adonan onde-onde dari lemari kecil di bagian bawah gerobaknya.  "Ini, masih ada.” Ucap Mamang.


“Waaah, iya beneran! Kalo gitu cepetan bikinin ya, Mang. Harus bulat sempurna dan harus ganjil wijennya.” Ucap Mirza.


“Siap!”


Sementara Mirza lagi kegirangan, Om Jaka mencomot lumpia mini yang masih hangat dan memakannya.


Kriyuk … kriyuk … krauk… krauk….


Om Jaka cuek asyik mengunyah lumpia, lalu ganti pada piscok dan molen.


“Sori, gue laper, Za. Hehe….” Om Jaka malah cengengesan ketika Mirza memelototinya yang udah seenak udel mencomot kue-kue itu dari gerobaknya.


“Begini bisa kan, Mas? Tanya mamang penjual sambil memperlihatkan onde-onde hasil buatannya. “Yang ini wijennya ada 5, yang ini ada 7, yang ini 9, yang ini 11 …”


“Iya iya, betul begitu, Mang!” Ucap Mirza kegirangan. "Sip, buatkan yang banyak lagi ya, Mang. Bila perlu habiskan semua itu adonannya.”


“Siap, Mas.” Si mamang pun semakin bersemangat.


Mirza tersenyum puas melihat hasil karya si mamang onde-onde.


Lega kini hatinya karena bisa memenuhi permintaan sang istri tercinta. Namun ternyata kegembiraannya itu tak berlangsung lama karena ponselnya berbunyi dan layarnya memperlihatkan nama dan wajah ibunya terpampang disana.


“Ibu telpon, Om.” Ucap Mirza memperlihatkan ponselnya pada Om Jaka


“Ya udah, angkat aja.” Ucap Om Jaka santai masih dengan keasyikannya berkriyuk-kriyuk ria.


Dengan ragu Mirza menjawab panggilan telepon ibunya.


“Assalamualaikum, Bu…”


“Mirza! Kamu dimana sekarang? Apa-apaan kamu nyuruh Udin ngambil mobil sama motor kamu bawa ke rumah ibu? Dan kunci rumah ini kenapa kamu juga kasihin ibu? Kamu mau beneran pergi ninggalin ibu? Kamu pikir tindakan kamu ini benar? Kamu udah bikin ibu kecewa, Mirza. Ibu sangat kecewa!” Cerocos Bu Een dari seberang tanpa memberikan kesempatan pada Mirza untuk menjelaskan maksudnya.


 


_______________


Naaah... kena semprot Bu Een lagi deh si Mirza 😂😂😂🤭🤭🤭


Eits, itu yang nguntit Pak Ramzi siapa yaa... 🤔🤔🤔🤔


Halo akak, terima kasih udah setia nungguin up kisah Via ❤️ Mirza ya 🙏🙏😘😘


Jangan lupa tinggalkan jejak Kak 😍😍


Buat akak silent readers yang selalu kasih jempol, boleh dong sesekali muncul di kolom komentar, kenalan 😊😊


Yang udah kasih vote juga makasih banget 🌹🌹🌹

__ADS_1


Semoga semuanya selalu dalam keberkahan 😇😇😇😇


luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2