TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
145 #WHAT'S WRONG?


__ADS_3

Hanson terus berteriak-teriak dari kamar mandi seperti orang gila. Lalu setelah kesadarannya terkumpul, dia keluar dari kamar mandi mencari ponselnya.


Hanson mengacak-acak kasurnya namun tak menemukan ponselnya. Hanson berlari ke ruang tengah.


“Oh, I got it!” Hanson segera mencari nomor Arumi dengan sangat tak sabaran.


Terdegar nada sambung sampai beberapa kali namun sepertinya Arumi belum juga menerima panggilan telpon Hanson. Hanson yang semakin tak sabar, mengulang sekali lagi panggilannya.


“Halo! Apaan lo nelponin gue!” Jawab Arumi ketus nggak ada manis-manisnya seperti biasanya, panggilannya pun sekarang ganti dari aku kamu jadi elo gue.


“Hey, Rumi. Kamu dimana? Bisa kamu ke apartemenku sekarang?” Hanson masih dengan kegembiraannya tak mempedulikan Arumi yang jutek.


“Sorry, gue sibuk!”


NUT … NUT … NUT …


Arumi mematikan sambungan teleponnya membuat Hanson melongo, ia tak percaya Arumi yang biasanya selalu antusias padanya kini berubah cuek. Tak ingin patah semangat, Hanson mencoba menghubungi Arumi sekali lagi.


Kembali terdengar nada sambung untuk beberapa kali, namun kemudian yang terdengar justru suara operator.


Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah be …


KLIK!


Hanson langsung memutus suara si operator itu sebelum sempat melanjutkan kalimatnya.


“Apa Arumi marah padaku?” Gumam Hanson. “Kemarin memang sikapku keterlaluan banget sih udah ngusir dia dengan kasar begitu.” Hanson menyesali perbuatanya.


Tanpa buang waktu, Hanson segera mandi dan berpakaian kemudian menuju rumah Arumi. Namun pembantunya bilang Arumi sedang tak di rumah, dia belum pulang dari kemarin.


“Oh, Rumi. Where are you?” Lirih Hanson dengan wajah sendu melajukan kembali mobilnya meninggalkan rumah Arumi.


❤️❤️❤️❤️❤️


Mirza


Sayang, apa kamu salah kirim pesan?


“Astaghfirullah!” Via terpekik kecil begitu membaca chat dari Mirza. “Ya Allah, kenapa bisa salah kirim? Mas Mirza pasti salah paham.”


Via berjalan mondar-mandir dalam kamarnya. Dari semalam dia tak membuka ponselnya karena sangat lelah pulang dari rumah ibunya langsung tidur. Pagi ini ia baru memeriksa ponselnya.


“Aku harus jelasin sama Mas Mirza.” Via coba menghubungi Mirza namun tak juga kunjung diangkat. Waktu hampir menujukan pukul 8 pagi membuat Via sedikit panik. Cepat-cepat dia bersiap berangkat kerja.


“Biarin deh, nanti aku telpon lagi agak siangan.” Putus Via kemudian menyambar tas dan kunci motornya.


Sepanjang perjalanan menuju kantor pikiran Via diliputi kecemasan. Ia menyesali kebodohannya kenapa sampai bisa salah kirim pesan? Harusnya Danar yang baca pesan itu. Pantas saja Danar masih anteng, rupanya suaminya sendiri yang membaca pesan balasan untuk Danar.

__ADS_1


Sementara itu kesibukan mulai terlihat di rungan kerja, para karyawan nampak serius di meja keranya msing-masing. Siang nanti akan ada rapat evaluasi karyawan bersama Ibu Bos, mereka harus memastikan pekerjaan mereka sempurna jika tak ingin kena SP.


Tap tap tap ….


Suara langkah sepatu Bu Elin memasuki ruangan kerja karyawan di lantai 4. Beberapa karyawan menganggukkan kepala sopan untuk menyapanya.


“Via belum datang?” Tanya Bu Elin ketika melihat meja Via masih kosong.


“Belum, Bu. Dia memang biasa terlambat.” Sahut Milen, ia merasa inilah saat yang tepat untuk menjatuhkan Via.


Bu Elin menatap Milen sejurus. “Biasa terlambat?”


“Eh, emh maksudnya … kadang-kadang terlambat.” Ralat Milen menjadi gugup karena ditatap Bu Elin seperti itu.


Bu Elin melanjutkan langkahnya menuju ruangan kerja Danar.


Vony dan Cila segera menghampiri Milen.


“Kenapa tadi kamu bilang begitu?” Tegur Vony setengah berbisik.


“Iya, kenapa nggak seklaian aja kamu bilangin ibu bos kalo Via itu emang sering datang terlambat. Biar habis dia!” Timpal Cila.


Milen memandang dua temannya tak habis pikir. “Kalian lupa sama ancaman Pak Danar tempo hari?”


“Kamu takut?” Vony malah balik nanya.


“Satu lawan tiga, dia nggak mungkin menang lawan kita!” Cila kembali mengompori.


“Kamu lihat kan, tuh orang ampe jam segini masih belum juga nongol? Dia pasti enak-enakan santai kerena merasa diperhatikan oleh Pak Bos.” Cila mulai kesal.


“Aku yakin mereka ada hubungan spesial.” Celetuk Vony.


“Bener banget tuh. Pak Danar pasti tergoda sama si Via yang kecentilan. Kalian liat kan gimana cara Pak Danar mandangin Via? Terus juga waktu kita makan siang itu, usaha banget kan si Via pingin deket sama Pak Danar.” Cila terus nyerosos.


“Kamu bener, Cil. Kita nggak boleh ngebiarin ini, aku nggak rela Kalo Pak Danar sampe jadian sama Via.” Sahut Milen.


“Jangan bilang kalo kamu naksir sama Pak Danar?” Selidik Vony.


“Lho kenapa emangnya?” Milen cuek.


“Ekhem!” Satu deheman kecil berhasil membuat Milen cs menoleh dan kalang kabut.


Ketiganya langsung berdiri dengan ekspresi tak karuan, mereka sudah pasti berebutan minta maaf dan mencari alibi yang tepat atas tingkah mereka itu.


“Saya membayar kalian bukan untuk melihat kalian bergosip di kantor saya!” Tegas Bu Elin dengan wajah dingin lantas melangkah pergi membuat ketiganya tak berani mengangkat wajah mereka.


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Sofi masih tergolek lemah diatas ranjangnya, tubuhnya seperti tak bertenaga, mual dan pusingnya kembali terasa dan kali ini lebih hebat ia rasakan. Dengan terhuyung sofi berjalan menuju kamar mandi, ditumpahkannya semua cairan yang ada diperutnya. Dengan mengumpulkan kekuatan yang tersisa ia kembali ke atas ranjang.


Tok tok tok …


Satu ketukan halus terdengar dari puntu kamar Sofi.


“Masuk.” Sahut Sofi lemah.


Seorang pelayan wanita membawakan baki makanan.


“Maaf Nyonya. Tuan Ram meminta saya mengantarkan makanan untuk Anda.” Ucap pelayan itu sopan.


“Apa dia sudah pergi?”


“Sudah, Nyonya. Tuan Ram dan Tuan Besar sudah pergi dari pagi. Dan beliau berpesan pada saya jika menjelang siang Nyonya belum keluar kamar maka saya harus mengantarkan makanan ini untuk Anda.” Ungkap si pelayan itu panjang lebar.


Sofi mengangguk, “letakkan saja di sana.” Sofi menunjuk meja si dekat jendela balkon kamar dengan dagunya.


Pagi tadi Ramzi memang berusaha membangunkannya dengan sentuhan-sentuhan kecil yang mebuatnya terganggu, namun Sofi dengan kasar menepis tangan suaminya itu sehingga membuat Ramzi mengerti bahwa istrinya sedang tak mau diganggu.


“Apa ada yang Anda perlukan lagi, Nyonya?” Tanya pelayan itu setelah meletakkan bakinya.


Sofi menggeleng. “Kau boleh pergi.”


Pelayan itu pun keluar kamar. Perut Sofi yang memang belum terisi makanan dari semalam memang terasa lapar, namun entah mengapa ia seperti kehilangan nafsu makannya.


“Sial! Gara-gara aku kepikiran dengan surat-surat berharga yang menghilang itu, aku sampai bisa seperti ini!” Sofi menggerutu sendiri. “Aku nggak boleh sakit, harus segera kudapatkan semua surat berharga itu.” Sofi bangkit perlahan menuju walk in closet untuk beganti pakaian.


Dengan tekad sekuat baja, Sofi mendekati balkon membuka jendelanya dan duduk di kursi melihat menu makanan yang dibawakan pelayan tadi. Sofi melirik melihat jam dinding. Hampir jam 11 siang, memang belum waktunya makan siang dan sudah sangat terlambat untuk sarapan.


Sofi membuka mangkuk di depannya yang ternyata berisi sup asparagus.



Wangi aromanya yang khas pasti menimbulkan selera maka bagi siapa saja, namun tidak dengan Sofi, rasa mualnya kembali menyeruak.


Hoeek….!


Sofi tak dapat menahannya, dengan tergesa dia menuju wastafel. Tak ada yang keluar, karena perutnya memang sudah kosong. Kedua pelipisnya berdenyut, pikirannya seketika dilanda kekhawatiran manakala ia mengingat kapan terakhir kali dirinya mendapatkan menstruasi. Sudah seminggu lebih memang ia belum datang bulan.


“Astaga!” Sofi tercekat. Matanya mendadak berkunang-kunang. Dengan mencengkeram kuat pinggiran wastafel, Sofi mencoba untuk tetap berdiri ditempatnya. Setelah ia berhasil mengusai dirinya, Sofi tertatih meraih ponsel di atas nakas. Satu panggilan untuk pelayan di tekan, kemudia tubuhnya ambruk ke atas kasur.


❤️❤️❤️❤️❤️


Maaf, baru up lagi ya Kak 🙏🙏


like dan komen dulu yuk sebelum lanjut ke bab berikutnya 😊😊

__ADS_1


Terima kasih selalu setia dukung othor ya😍😍


Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2