
Mirza sgera menuju pintu.
“Iya, seben …” Mirza tak melanjutkan kalimatnya ketika melihat siapa tamu yang datang.
“Halo, Za.” Sapa sang tamu diiringi senyum manisnya
Sofi?
Mirza hanya mampu mengucapkan kata itu dalam hatinya karena tiba-tiba tenggorokannya tercekat, matanya nyaris tak berkedip menatap sosok yang berdiri tepat di depannya.
Langit siang menjelang sore itu seolah runtuh menimpa kepalanya yang terasa begitu berat, tubuhnya seolah kaku tak bisa digerakkan.
“Siapa yang datang, Za?" Tanya Om Jaka.
Mirza masih mematung, Sofi dengan tangan kanan mendorong daun pintu yang belum sepenuhnya terbuka itu sehingga Om Jaka dan Via bisa melihat wajah sang tamu.
“Sofi?” Tanya Om Jaka tanpa sempat menyembunyikan keterkejutannya.
Melihat Om Jaka dan suaminya sangat kaget dengan kedatangan wanita itu, Via disergap rasa penasaran. Dia segera beranjak ke depan.
“Siapa dia, Mas? Kok kamu kayak shock begitu?” Tanya Via menatap suaminya dan Sofi bergantian.
Degup jantung Mirza kencang tak beraturan, pikirannya kacau.
“Kenalkan, saya Sofi Alta Husein.” Sofi mengulurkan tangannya pada Via seraya menyunggingkan senyum.
Via menerimanya dengan ragu disertai tatapan penuh tanda Tanya. “Livia.”
“Boleh saya masuk?” Tanya Sofi tanpa bas basi.
Via mengangguk sementara Mirza masih mematung.
“Kau pulanglah, jangan khawatirkan kakak.” Ujar Sofi pada Azad yang berdiri di belakangnya.
Mirza dan Via sama-sama baru tersadar bahwa ada orang lain di sana selain Sofi.
“Tapi Kak …”
“Kakak akan hubungi kamu nanti.” Potong Sofi.
Mau tak mau Azad pergi meninggalkan rumah Mirza dan Sofi dengan santai melenggang masuk ke dalam ruang tamu. Via menatap tajam suaminya yang sangat jelas terlihat frustasi.
“Halo, Om Jaka.” Sapa Sofi tenang.
Om Jaka hanya mengangguk coba mengulas senyum walau agak dipaksakan.
Perempuan ini sepertinya juga mengenal baik Om Jaka. Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Kedatangannya terlihat sangat membuat Mas Mirza dan Om Jaka kaget. Apa jangan-jangan perempuan ini …
“Livia, boleh aku meminta segelas air? Aku tamu kan di rumah ini?” Ujar Sofi tanpa rasa canggung pada Via.
Lagi-lagi Via hanya mengangguk. Dia melangkah menuju dapur untuk mengambil minum setelah sempat berbalik menatap mereka bertiga di ruang tamu.
“Apa maksud kedatangan mu kesini, hah?” Mirza tiba-tiba mencengkeram lengan kanan Sofi dengan suara tertahan.
“Aww!” Sofi meringis kesakitan.
“Za, lepasin!” Perintah Om Jaka juga dengan suara agak tertahan.
“Tapi dia sudah melanggar kesepakatan, Om. Bukankah kamu udah janji akan menunggu sampai anakmu lahir baru kita ketemu lagi?” Mirza geram tapi tak mampu berteriak karena takut Via mendengarnya.
“Aku terpaksa, Za. Aku akan dinikahkan bulan depan.”
“Itu bukan urusanku! Harusnya kamu bersyukur karena bayimu akan mempunyai ayah!”
“Tapi ayah dari bayi ini kamu, Za!”
PRANG!
Gelas berisi air yang dipegang Via sontak jatuh membentur lantai. Tiga pasang mata di ruang tamu tak menyadari kehadiran Via yang sudah mendekat membawa segelas air.
“Sayang!” Mirza langsung berlari menghampiri Via yang sudah tak bisa menahan amarahnya lagi. Segala kecurigaannya dari awal ternyata benar. Sofi adalah wanita selingkuhan suaminya.
“Katakan, apa yang barusan aku dengar itu benar, Mas?” Tanya Via dengan suara bergetar dan menatap Mirza tajam.
“Sayang, dengar …”
“Jawab! Benar atau tidak!” Teriak Via dengan air mata berurai.
“Itu semua benar.” Sahut Sofi cepat. “Mirza dan aku memang punya hubungan tanpa sepengetahuan mu, dan sekarang aku sedang hamil anaknya.”
Mirza mendekati Sofi dan mencengkeram kedua pipi Sofi dengan telapak tangannya yang kuat. “Jaga bicaramu! Dasar wanita ja**ng!” Mirza mendorong Sofi hingga terhempas.
“Sayang, kamu jangan percaya dia. Dia itu jahat, dia licik!” Mirza berusaha meyakinkan Via.
__ADS_1
“Apa katamu? Aku jahat dan licik?” Sofi berdiri menantang Mirza. “Apa aku menjebak mu untuk tidur denganku? Kita melakukannya sama-sama dalam kesadaran penuh!”
PLAK!
Mirza menampar pipi mulus Sofi telak.
“Mirza! Hentikan!” Bentak Om jaka yang sedari tadi hanya diam.
Sofi memegang pipinya yang memerah. “Sakit karena tamparan mu ini tak seberapa dibandingkan dengan penolakan mu yang terus menghindar untuk bertanggung jawab atas bayi dalam kandunganku ini.” Sinis Sofi sambil memegang perutnya dengaan tangan satunya.
“Oh, jelas saja aku menghindar untuk bertanggung jawab, anak itu belum tentu anakku! Kau sudah tidur ratusan kali dengan pacarmu, lalu kau sebut aku ayah dari bayimu itu setelah pacarmu pergi meninggalkanmu? Iya?” Emosi mirza tak terkendali mendengar perkataan Sofi.
“Kamu betul-betul jahat, Za! Jahat!”
“Kamu yang jahat! Kamu wanita paling jahat dan licik yang pernah aku temui. Andai tahu akan seperti ini jadinya aku sama sekali tak akan bersimpati padamu! Cih, dasar wanita murahan tak punya harga diri!”
“Tega kamu bilang begitu padaku?” Geram Sofi dengan mata penuh amarah.
“Sudahlah, kita sudah pernah bahas ini dan kau tetap tidak akan pernah bisa memaksaku untuk menikahimu sebelum kau bisa membuktikan bahwa bayi itu benar-benar anakku!”
“Cukup!” Tegas Via yang lelah mendengar pertengkaran Mirza dan Sofi.
“Sayang, kau tentu mempercayaiku kan?” Mirza meraih tangan Via. “ Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Via menepis tangan Mirza. “Kamu nggak perlu terus menerus mebela diri kalo memang nggak bersalah, Mas.” Sarkas Via lantas melangkah duduk ke tempatnya semula. “Aku ingin dengar semuanya dari awal.” Ucap Via tenang dengan tatapan lurus pada Mirza.
Mirza duduk seperti seorang terdakwa, kini ia tak akan bisa menghindar lagi.
Sementara itu dalam hati Sofi bersorak penuh kemenangan, bagaimana pun juga kini Livia istri sah Mirza akan mengetaui semuanya dan itu menjadi harapan baru untuknya. Jika Livia meminta cerai, maka ia akan bepeluang untuk menjadi istri baru Mirza.
“Seperti itu kenyatannya yang terjadi, sayang. Dan tak ada satu hal pun yang aku tutupi, aku bersumpah.” Tutup Mirza begitu selesai menceritakan pertemuannya dengan Sofi dari awal sampai akhir.
Hati Via tersa sangat sakit dan hancur sekali mendengar pengakuan suaminya sendiri yang sudah bermain api dengan perempuan lain. Air mata Via kembali mengalir, tubuhnya terasa gemetar kini. Sofi seolah tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya melihat Via yang hancur.
“Apa kamu mencintai suamiku?” Tanya Via tiba-tiba yang langsung membuat Sofi sadar dari halunya.
“Em, kenapa kamu bertanya seperti itu?” Sofi heran.
“Jawab saja.”
“Iya, aku mncintai Mirza.” Sahut Sofi pelan sambil melirik Mirza yang tampak tak berdaya.
“Berarti kau mencintai orang yang salah.”
“Kamu sudah jelas-jelas tahu Mas Mirza sudah punya istri kenapa masih merayunya dan berharap dia mau menikahimu?” Sinis Via dengan mata tajamnya.
“Aku nggak merayu suamimu, dia sendiri yang datang ke kamarku waktu di Delta Cruise.” Bantah Sofi masih dengan nada tak habis pikir kenapa Via bisa menyudutkannya, seharusnya Via marah pada Mirza dan minta cerai darinya.
“Karena sumaiku kasihan padamu yang pura-pura sakit kan?” Sindir Via.
“Aku nggak pura-pura! Aku memang sakit.” Sofi mulai emosi. “Dia merawatku di kamar, lalu kami bercinta dan tidur sampai pagi di sana. Kamu harus tahu, sumimu begitu hangat dan melakukannya dengan sadar bersamaku semalaman!”
“Cukup!” bentak Mirza.
“Kenpa? Kamu malu istrimu mengetahuinya, hah?” Tantang Sofi dengan pandagan mengejek. “Satu lagi yang harus kamu ketahui.” Lanjut Sofi pada Via. “Suamimu ini menyuruhku untuk melupakan kejadian malam itu setelah kami bangun pada keesokan harinya. Rupanya dia malu reputasinya yang baik akan tercoreng. Jika aku mau aku bisa saja melaporkannya dan …”
“Lalu kenapa kamu tidak melakukannya? Laporkan saja jika itu maumu!” Tantang Mirza.
“Apa aku gila melaporkan ayah dari calon bayiku sendiri?”
“Jangan kau sebut-sebut lagi kalo aku ini calon ayah dari bayimu itu!” Hardik Mirza geram.
“Memangnya kenapa? Aku nggak ragu sedikitpun. Karena kita melakukannya dengan penuh kenikmatan tanpa alat pengaman, sedangkan aku dengan Hanson tak pernah sekali pun melakukannya tanpa alat pengaman. Apa itu tak cukup untuk menjadikanmu yakin bahwa anak ini adalah benar anakmu?” Tegas Sofi berapi-api.
“Tidak! Sama sekali tidak!” Mirza menggeleng kuat.
“Mas, apa benar kau hanya melakukannya sekali dengannya?” Tanya Via dengan sorot mata mengintrogasi.
“Sayang, kau harus percaya. Aku bersumpah, aku hanya melakukannya sekali.”
“Memang hanya sekali. Tapi seperti yang aku bilang, suamimu begitu hangat dan menggairahkan. Dia yang mencium aku duluan, mencumbuku dan mebuka bajuku lalu menarikku ke tempat tidur kemudian kami bercinta sampai kelelahan dan tertidur.”
“Sofi, kamu nggak pantas berbicara seperti itu.” Om Jaka buka suara.
Om Jaka melihat kilatan kebencian di mata Via pada Mirza yang barusan dikuliti.
Tangan Via mengepal kuat, emosinya hampir meledak sempurna, tapi dia masih berusaha menjaga kewarasannya. Dia tak ingin melihat Sofi menang di hadapannya. Walau bagaimanapun wanita itu sudah jelas-jelas sangat menginginkan dirinya hancur dan Mirza menikahinya.
“Mungkin yang kamu katakan itu benar, tapi seperti yang kamu ketahui suamiku tidak yakin kalau dia ayah dari bayi yang ada di kandunganmu karena kamu sudah pernah berhubungan dengan laki-laki lain sebelum dengan suamiku. Kehidupanmu sangat bebas, jadi aku pun meragukannya.”
“Kau merendahkanku!” Geram Sofi.
“Tidak sama sekali. Kamu wanita, aku pun wanita. Sedikit banyak kita punya perasaan yana sama. Lalu wanita mana yang rela suaminya diambil oleh wanita lain?”
__ADS_1
“Makasih, sayang. Akhirnya kamu mempercayaiku.” Mirza kembali meraih jemari Via dan mencimnya dengan air mata yang hampir tumpah.
“Kamu lihat, kan. Mas Mirza sangat mencintaiku, dia telah jujur mengakui kesalahnnya. Apa menurutmu aku akan minta berpisah darinya?”
“Kau …” Sofi bangkit merih cangkir kopi Om Jaka.
“Sofi!”
PLAK!
PRANG!
Untung saja dengan cepat Om Jaka memukul
tangan Sofi sehingga cangkir kopi itu jatuh ke lantai.
“Kurang ajar kau!” Mirza kembali mencengkeram lengan Sofi, kali ini lebih keras dan tanpa ampun. “Berani kamu sentuh istriku, akan aku buat kamu menyesal seumur hidupmu! Ingat itu baik-baik!”
BRUK!
Mirza mendorong Sofi terduduk di kursi tamu.
“Om, cepat bawa pergi dia dari sini! Aku nggak mau liat tampangnya lagi!”
Sofi mendesis sambil memegangi pelipisnya.
“Pergi dari sini, atau aku akan membuat kamu kehilangan bayimu!” Usir Mirza seraya menunjuk pada Sofi geram.
“Sofi, sebaiknya Om antar kamu pulang saja.” Om Jaka mendekati Sofi .
Mirza yang tak sabar menunggu, melangkah untuk membuka pintu.
“Pintu rumah ini terbuka lebar, Jangan sampai aku menyeretmu untuk keluar. Cepat pergi!”
“Za, sepertinya Sofi sakit.” Om Jaka meraba kening Sofi yang mulai berkeringat dingin.
“Aku ngga peduli.”
“Kita harus bawa dia ke rumah sakit.” Ujar Om Jaka mulai khawatir.
“Om saja. Om kan sudah pernah melakukannya. Aku tidak mau menyentuhnya!”
“Kamu benar-benar jahat, Za.” Lirih Sofi sambil mendesis merasakan tengkuknya yang mulai tegang. “Apa segitu tidak pedulinya kamu sama aku?”
“Iya, lalu kamu mau apa? Aku nggak akan terpedaya dua kali olehmu!”
“Jika sampai terjadi apa-apa dengan bayiku aku nggak akan memafkanmu!”
“Ak nggak peduli! Aku sama sekali nggak peduli denganmu atau dengan bayimu, terserah! Kamu sudah cukup membuat hidup aku kacau berantakan. Semuanya gara-gara kamu!
“Apa kamu pikir hidupmu saja yang berantakan, hah? Hidupku juga!” Sofi masih terus berjuang mendapatkan perhatian Mirza di tengah sakit yang mendera kepala dan tengkuknya.
“Silahkan kamu bermimpi ingin aku nikahi! Setelah kejadian ini, kesepakatan kita batal! Aku tidak akan pernah menikahimu walau sampai bayi itu lahir dan terbukti anakku pun aku tetap tidak akan menikah denganmu!”
“Apa katamu? Apa kamu tega membiarkan anak ini tak punya ayah?”
“Kamu sendiri yang melanggar kesepakatan! Jadi aku putuskan aku nggak akan menikahimu walau apapun yang terjadi! ingat itu baik-baik!”
“Nggak! Aku nggak terima ini!
“Sofi, sudahlah.” Om Jaka berusaha menenangkan Sofi yang mulai histeris. “Kita ke rumah sakit dulu, kesehatanmu lebih penting.”
“Nggak, aku belum selesai , Om!” Tolak Sofi dengan berurai air mata.
Tok tok tok …
“Assalamuaikum.”
Suara ketukan pintu dan salam membuat ketegangan di ruang tamu itu terhenti. Semuanya menoleh pada sumber suara.
Si empunya suara malah nyengir memperlihatkan tampang setengah polos setengah kepo setelah memperhatikan ruang tamu yang agak berantakan bekas pecahan gelas dan cangkir kopi berserakan di lantai ditambah lagi dengan suasana kaku dan mencekam yang jelas terasa di sana.
“Eh, ini lagi pada bikin adegan kayak di TV ikan terbang apa gimana ya? Kok pada tegang begitu mukanya?”
DOENG!
_____
_____
______ bersambung ☺️
Terima kasih sudah setia hadir di sini ya akak-akak author tersayang dan akak-akak pembaca tercinta🙏🙏🙏❤️🌹❤️❤️❤️
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu like, komen, rate 5 dan vote ya 🙏❤️❤️❤️❤️❤️😘😘😘🤗🤗🤗😍😍😍😍🤩